A.
A. JUDUL PENELITIANJUDUL PENELITIAN
Pengaruh Usia Terhadap Kecerdasan Majemuk Siswa SMPN 24 Banjarmasin. Pengaruh Usia Terhadap Kecerdasan Majemuk Siswa SMPN 24 Banjarmasin.
B.
B. PENDAHULUANPENDAHULUAN 1.
1. Latar Belakang MasalahLatar Belakang Masalah
Teori Inteligensi berkembang cukup pesat, sekarang inteligensi tidak Teori Inteligensi berkembang cukup pesat, sekarang inteligensi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan lain hanya dipandang sebagai kemampuan kognitif, tetapi juga kemampuan lain yang terkait bagi seseorang untuk memecahkan masalah. Muncullah yang terkait bagi seseorang untuk memecahkan masalah. Muncullah teori-teori emosional inteligensi, moral inteligensi, sosial inteligensi, dan spiritual teori emosional inteligensi, moral inteligensi, sosial inteligensi, dan spiritual inteligensi. Pada tahun 1983 Howard Gardner mengembangkan teori yang inteligensi. Pada tahun 1983 Howard Gardner mengembangkan teori yang dikenal dengan
dikenal dengan multiplemultiple intelligenceintelligence (Gardner, 1993, Amstrong, 2002.(Gardner, 1993, Amstrong, 2002.
Teorinya tersebut berdasar pada pendapatnya bahwa setiap manusia Teorinya tersebut berdasar pada pendapatnya bahwa setiap manusia mengembangkan keterampilan penting untuk cara hidupnya. Baik itu seorang mengembangkan keterampilan penting untuk cara hidupnya. Baik itu seorang pedagang,
pedagang, pelaut, penpelaut, penari, olah ari, olah ragawan, dragawan, dokter, gokter, guru dll. uru dll. Mereka semuMereka semua aka akanan menggunakan caranya masing-masing untuk menyelesaikan masalah dan menggunakan caranya masing-masing untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kemampuan dirinya untuk menciptakan produk-produk mengembangkan kemampuan dirinya untuk menciptakan produk-produk tertentu. Semua peran yang ada pada semua manusia diperhitungkan dalam tertentu. Semua peran yang ada pada semua manusia diperhitungkan dalam mendefinisikan kata inteligensi. Ia mendefinisikan inteligensi sebagai mendefinisikan kata inteligensi. Ia mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan produk yang kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan produk yang berharga
berharga dalam dalam lingkungan lingkungan budaya budaya dan dan masyarakat. masyarakat. Berdasar Berdasar hasil hasil analisisanalisis tersebut Gardner (1993) menemukan ada delapan bentuk inteligensi yang tersebut Gardner (1993) menemukan ada delapan bentuk inteligensi yang mampu menggambarkan keanekaragaman bentuk inteligensi manusia, yaitu mampu menggambarkan keanekaragaman bentuk inteligensi manusia, yaitu adalah : 1) inteligensi linguistik, 2) inteligensi matematik-logika, 3) adalah : 1) inteligensi linguistik, 2) inteligensi matematik-logika, 3) inteligensi spasial, 4) inteligensi kinestetik-jasmani, 5) inteligensi musikal, 6). inteligensi spasial, 4) inteligensi kinestetik-jasmani, 5) inteligensi musikal, 6). inteligensi interpersonal, 7) inteligensi intrapersonal dan 8) inteligensi inteligensi interpersonal, 7) inteligensi intrapersonal dan 8) inteligensi naturalistik.
naturalistik.
Dibeberapa negara penelitian tentang
Dibeberapa negara penelitian tentang multiple intelligencemultiple intelligence ini sudahini sudah banyak
banyak dilakukan. dilakukan. Phyllis Phyllis Reardon Reardon dan dan Isabell Isabell Dyke Dyke (1999) (1999) dari dari CanadaCanada membuat alat ukur untuk mengungkap kecenderuangan
membuat alat ukur untuk mengungkap kecenderuangan multiple intelligencemultiple intelligence yang dimiliki manusia. Dari Virginia, Thomas Amstrong (2002) dalam yang dimiliki manusia. Dari Virginia, Thomas Amstrong (2002) dalam
bukunya yang berjudul Multiple Intelligences in the Classroom membuat alat ukur untuk mengungkap profil multiple intelligence. Multiple intelligence ini ia kembangkan pada anak-anak hingga orang dewasa. Di Indonesia penelitian tentang pengembangan pengukuran multiple intelligence ini belum penulis jumpai. Sehingga, peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Usia Terhadap
Kecerdasan Majemuk Siswa SMPN 24 Banjarmasin”.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana kecerdasan majemuk siswa SMPN 24 Banjarmasin?
b. Bagaimana pengaruh usia terhadap kecerdasan majemuk siswa SMPN 24 Banjarmasin?
3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Untuk mengetahui kecerdasan majemuk siswa SMPN 24 Banjarmasin. b. Untuk mengetahui usia terhadap kecerdasan majemuk siswa SMPN 24
Banjarmasin.
4. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut: a. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi dan pengaruh status sosial ekonomi orang tua mahasiswa sosiologi angkatan 2008 Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar.
b. Secara Praktis
Sebagai bahan acuan bagi mahasiswa yang berminat mengadakan penelitian lebih lanjut dan sebagai data dasar bagi perkembangan sistem pendidikan guna terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas.
C. TINJAUAN PUSTAKA Kecerdasan Majemuk
Teori Multiple Intelligencesbertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola pikirnya yang unik. Howard Gardner (1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang.
Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Secara rinci masing-masing kecerdasaan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Kecerdasan matematika-logika
Kecerdasan matematika-logika menunjukkan kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu.
Ia menyenangi berpikir secara konseptual, misalnya menyusun hipotesis dan mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Peserta didik semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut.
Peserta didik ini juga sangat menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur dan bermain teka-teki.
2. Kecerdasan bahasa
Kecerdasan bahasa menunjukkan kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya.
Peserta didik seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, peserta didik ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik lainnya.
3. Kecerdasan musikal
Kecerdasan musikal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama.
Peserta didik jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, entah melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan tape recorder , radio, pertunjukan orkestra, atau alat musik dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila
dikaitkan dengan musik.
4. Kecerdasan visual-spasial
Kecerdasan visual-spasial menunjukkan kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Peserta didik ini memiliki kemampuan, misalnya, untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitek suatu bangunan.
Kemampuan membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual-spasial ini. Peserta didik demikian akan unggul,
misalnya dalam permainan mencari jejak pada suatu kegiatan di kepramukaan.
5. Kecerdasan kinestetik
Kecerdasan kinestetik menunjukkan kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah.
Hal ini dapat dijumpai pada peserta didik yang unggul pada salah satu cabang olahraga, seperti bulu tangkis, sepakbola, tenis, renang, dan sebagainya, atau bisa pula dijumpai pada peserta didik yang pandai menari, terampil bermain akrobat, atau
unggul dalam bermain sulap.
6. Kecerdasan interpersonal
Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya.
Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganisir, menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan sebagainya.
7. Kecerdasan intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri. Peserta didik semacam ini senang melakukan instropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya
cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri.
8. Kecerdasan naturalis
Kecerdasan naturalis menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan.
Peserta didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya. Melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau kecerdasan ganda ini Gardner mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak.
Kecerdasan tidak terbatas pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan beberapa tes inteligensi yang sempit saja, atau sekadar melihat prestasi yang ditampilkan seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka, tetapi kecerdasan juga menggambarkan kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi, da n cinta akan lingkungan.
D. PERUMUSAN HIPOTESA
Berdasakan tinjauan pustaka atau kerangka pemikiran diatas, maka penulis mencoba untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji kebenarannya, apakah hasil penelitian akan menerima atau menolak hipotesis tersebut, sebagai berikut: H0: Tidak ada pengaruh usia terhadap kecerdasan majemuk
H1: Terdapat pengaruh usia terhadap kecerdasan majemuk
E. METODOLOGI PENILITIAN 1. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda yang ada di sekitar kita (Sugiyono, 2009:80).
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah keseluruhan siswa SMPN 24 Banjarmasin.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2009:81). Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling . Teknik ini digunakan karena peneliti menganggap populasi dalam penelitian ini adalah homogen yaitu keseluruhan populasi adalah siswa.
2. Variabel Penelitian
Hatch dan Farhady (1981) dalam Sugiyono (2009:38) mendefinisikan variabel sebagai atribut seseorang, atau subjek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain.
Dalam penelitian ini terdapat 2 (dua) variabel yaitu: a. Variabel Independen
Dalam penelitian ini variabel independen (variabel bebas) adalah usia siswa SMPN 24 Banjarmasin.
b. Variabel Dependen
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen (variabel terikat) adalah kecerdasan majemuk siswa SMPN 24 Banjarmasin.
3. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian (Sugiyono, 2009:202).
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan yaitu instrumen yang digunakan untuk mengetahui kecerdasan majemuk siswa SMPN 24 Banjarmasin.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dipakai adalah metode angket. Angket digunakan untuk mengetahui kecerdasan majemuk siswa SMPN 24 Banjarmasin.
5. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini teknik analisis data yang dipakai adalah statistik deskriptif untuk memberikan deskriptif atau gambaran data yang diperoleh. Untuk analisis data ini dilakukan pengumpulan data dengan menentukan skor responden sesuai penskoran yang ditentukan.
Data yang diperoleh dari angket dianalisis melalui tahapan yaitu: a. Mengelompokkan data sesuai dengan jenisnya.
b. Membuat tabulasi data.
c. Data yang telah ditabulasikan, diolah dalam bentuk komputerisasi.
Metode yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi akademik mahasiswa, data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi sederhana. Mencari persamaan garis regresi digunakan teknik analisis regresi linear satu variabel
dengan persamaan sebagai berikut: Y = a + bX
Ket:
Y : Variabel terikat (kecerdasan majemuk) a : Konstanta
b : koefisien regresi variabel X X : Variabel bebas (usia)
F. RENCANA BIAYA PENILITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian karya ilmiah untuk memenuhi tugas mata kuliah Penelitian Pendidikan Kimia, maka semua biaya penelitian ditanggung oleh penulis.
G. JADWAL WAKTU PENILITIAN 1. Minggu I: Persiapan.
2. Minggu II – IV: Pengumpulan data, pengolahan dan analisis data secara garis besar.
3. Minggu V – IX: Penyusunan laporan draf, mulai dari BAB I sampai dengan BAB V
4. Minggu X - XII: Laporan akhir
H. DAFTAR PUSTAKA Buku
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Internet
Hariyanto. 2010. Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk).
(Online).http://belajarpsikologi.com/multiple-intelligences-atau-kecerdasan-ganda/ . Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013.
Setiawati, Farida Agus, dkk. 2007. Artikel Penelitian Pengembangan MI tahap 2. (Online).http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ARTIKEL%20HB%20M I%20_Tahap%20II_.pdf . Diakses pada Kamis, 14 Maret 2013.
L. LAMPIRAN
Biodata Pelaksana dan Dosen Pembimbing a. Ketua Pelaksana
Nama Lengkap : Khalid Fadullah
Tempat dan Tanggal Lahir : Berangas Barat, 13 November 1992 Jenis Kelamin : Laki – Laki
Universitas : Universitas Lambung Mangkurat Fakultas/Jurusan/Program Studi : FKIP/PMIPA/Pendidikan Kimia
Alamat Rumah : Jalan Trans Kalimantan, Komplek Keruwing Indah Blok. D, No. 5, RT. 18, RW. 02, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kode Pos 70582.
No. Telp/HP : 05114311078/085751453614 Email : [email protected] Pengalaman dalam bidang penelitian :