Pengolahan Rumput Laut Menjadi Agar

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Pengolahan Rumput Laut Menjadi

Pengolahan Rumput Laut Menjadi Agar-AgarAgar-Agar Produk agar-agar diperoleh dari ekstraksi satu jenis

Produk agar-agar diperoleh dari ekstraksi satu jenis rumputrumput laut

laut saja dan campuran berbagai macam rumput laut. Hasilsaja dan campuran berbagai macam rumput laut. Hasil agar-agar dari campuran ini bermutu, tidak kalah dengan agar-agar dari campuran ini bermutu, tidak kalah dengan agar-agar yang dihasilkan dari satu jenis saja. Keberhasilan agar-agar yang dihasilkan dari satu jenis saja. Keberhasilan itu dikarenakan komposisinya telah sesuai.

itu dikarenakan komposisinya telah sesuai.

Pembuatan agar-agar tidak sulit, peralatan dan bahan Pembuatan agar-agar tidak sulit, peralatan dan bahan mudah diperoleh. Oleh karena itu sangat berpeluang bila mudah diperoleh. Oleh karena itu sangat berpeluang bila petani rumput laut juga mengolah agar-agar. petani rumput laut juga mengolah agar-agar. Langkah-langkah pembuatan agar-agar diuraikan di bawah ini dan hasil akhirnya berupa tepung, langkah pembuatan agar-agar diuraikan di bawah ini dan hasil akhirnya berupa tepung, batangan, atau lembaran. Adapun cara

batangan, atau lembaran. Adapun cara pengolahan rumput laut menjadi agar-agarpengolahan rumput laut menjadi agar-agar sebagaisebagai berikut.

berikut.

A. Pencucian dan Pembersihan A. Pencucian dan Pembersihan Rumput laut dicuci dengan

Rumput laut dicuci dengan air tawarair tawar sampai bersih. Kotoran yang menempel seperti pasir,sampai bersih. Kotoran yang menempel seperti pasir, karang, lumpur dan rumput laut j

karang, lumpur dan rumput laut jenis lain dihilangkan.enis lain dihilangkan. B. Perendaman dan Pemucatan

B. Perendaman dan Pemucatan

Perendaman dilakukan agar rumput laut menjadi lunak, sehingga proses ekstraksi nantinya Perendaman dilakukan agar rumput laut menjadi lunak, sehingga proses ekstraksi nantinya dapat berjalan dengan baik. Caranya rumput laut direndam dalam air murni sebanyak 20 kali dapat berjalan dengan baik. Caranya rumput laut direndam dalam air murni sebanyak 20 kali berat rumput laut selama 3 hari. Setelah itu pemucatan dilakukan dengan direndam dalam berat rumput laut selama 3 hari. Setelah itu pemucatan dilakukan dengan direndam dalam larutan kaporit 0,25 % atau larutan kapur tohor 5 % sambil diaduk, setelah 4

larutan kaporit 0,25 % atau larutan kapur tohor 5 % sambil diaduk, setelah 4

 – 

 – 

6 jam, rumput6 jam, rumput laut dicuci kembali selama 3 jam untuk menghilangkan bau kaporit. Rumput laut yang telah laut dicuci kembali selama 3 jam untuk menghilangkan bau kaporit. Rumput laut yang telah bersih dan pucat dikeringkan selama 2 hari, sampai tahap ini rumput laut dapat disimpan bersih dan pucat dikeringkan selama 2 hari, sampai tahap ini rumput laut dapat disimpan lebih dulu bila t

lebih dulu bila tidak segera diolah.idak segera diolah. C. Pelembutan

C. Pelembutan

Untuk lebih memudahkan ekstrasi, dinding sel perlu dipecah dengan ditambah H2SO4 Untuk lebih memudahkan ekstrasi, dinding sel perlu dipecah dengan ditambah H2SO4 selama 15 menit. Banyaknya H2SO4 tergantung pada jenis rumput laut, yaitu Gracilaria 5 selama 15 menit. Banyaknya H2SO4 tergantung pada jenis rumput laut, yaitu Gracilaria 5

 – 

 – 

10 %. Gelidium 15 % dan Hypnea 25 %. Bila tidak ada asam sulfat dapat digunakan asam 10 %. Gelidium 15 % dan Hypnea 25 %. Bila tidak ada asam sulfat dapat digunakan asam asetat, asam sitrat, buah asam atau daun asam. Oleh karena asam sulfat ini berbahaya, maka asetat, asam sitrat, buah asam atau daun asam. Oleh karena asam sulfat ini berbahaya, maka diperlukan pencucian dengan cara rumput laut direndam dalam air bersih selama 15 menit diperlukan pencucian dengan cara rumput laut direndam dalam air bersih selama 15 menit kemudian ditiriskan.

kemudian ditiriskan. D. Pemasakan D. Pemasakan

Rumput laut dimasak dalam air sebanyak 40 kali berat rumput laut. Setelah mendidih ( 90 Rumput laut dimasak dalam air sebanyak 40 kali berat rumput laut. Setelah mendidih ( 90

 – 

 – 

100 C ), kita tambahkan asam cuka 05 % untuk memperoleh pH 6

100 C ), kita tambahkan asam cuka 05 % untuk memperoleh pH 6

 – 

 – 

7. Bila > 7, pH nya7. Bila > 7, pH nya diturunkan dengan penambahan asam cuka dan bila < 6, ditambahkan NaOH. Pemeriksaan diturunkan dengan penambahan asam cuka dan bila < 6, ditambahkan NaOH. Pemeriksaan pH dapat dilakukan dengan memakai kertas pH. Pemanasan ini dilakukan kira-kira 45 menit pH dapat dilakukan dengan memakai kertas pH. Pemanasan ini dilakukan kira-kira 45 menit tetapi dapat juga selama 2

tetapi dapat juga selama 2

 – 

 – 

4 jam 4 jam tergantung cara pengadukannyatergantung cara pengadukannya. Proses . Proses setelah pemasakansetelah pemasakan tergantung dari bentuk akhir agar-agar yang diinginkan, yakni berupa batangan, lembaran tergantung dari bentuk akhir agar-agar yang diinginkan, yakni berupa batangan, lembaran atau pun tepung.

atau pun tepung.

E. Proses Pengolahan Agar-agar Batangan /

E. Proses Pengolahan Agar-agar Batangan / LembaranLembaran 1. Pengepresan dan Pencetakan

1. Pengepresan dan Pencetakan

Hasil dari pemasakan kemudian disaring dengan kain belacu dan dipres. Cairan yang keluar Hasil dari pemasakan kemudian disaring dengan kain belacu dan dipres. Cairan yang keluar ditampung dalam bejana dan dinetralkan dengan penambahan air soda sehingga pHnya ditampung dalam bejana dan dinetralkan dengan penambahan air soda sehingga pHnya menjadi 7

menjadi 7

 – 

 – 

7,5. Bila pH sudah tercapai, cairan kemudian dimasak kembali sambil diaduk.7,5. Bila pH sudah tercapai, cairan kemudian dimasak kembali sambil diaduk. Setelah mendidih, hasilnya dituangkan kedalam cetakan, kira-kira 6 jam agar-agar sudah Setelah mendidih, hasilnya dituangkan kedalam cetakan, kira-kira 6 jam agar-agar sudah

(2)

dingin dan membeku. Ampas hasil pengepresan dapat digunakan lagi dengan cara ditambahkan air sebanyak 75 % dari jumlah air semula, kemudian ampas itu dipanaskan dan disaring. Cairan yang keluar dapat digunakan sebagai campuran dalam proses selanjutnya, sehingga pada akhirnya ada ampas yang tidak bisa dipakai lagi. Ampas ini dapat digunakan sebagai makanan ternak.

2. Pendinginan

Cairan yang telah beku didinginkan dalam ruangan pendingin pada suhu

 – 

20 C selama 4

 – 

5 hari. Pendinginan ini dilakukan agar pemadatan benar-benar terjadi dengan sempurna.

3. Pengeringan

Agar-agar dikeluarkan dari cetakan. Hasil yang diperoleh adalah agar-agar batangan. Bila didinginkan agar-agar berbentuk lembaran, agar-agar batangan dipotong setebal 0,5 cm. Sebagai alat pemotong dapat digunakan kawat halus dari baja, agar-agar batangan atau lembaran kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari.

4. Pengepakan

Agar-agar yang betul-betul kering dimasukkan dalam kantong plastik dengan berat masing-masing 10 gram. Bahan yang dipakai untuk membuat agar-agar kertas berupa rumput laut dari jenis Grasilaria sp. Dalam proses pembuatannya, rumput laut ini dicuci dengan air tawar sampai bersih, kemudian direndam dalam air kapur. Setelah 20 menit, dijemur memakai alas dari kain kasa. Lama penjemuran dapat hanya satu hari, tetapi dapat juga sampai 3 hari, tergantung dari intensitas matahari. Prinsipnya rumput laut benar-benar kering.

F. Proses Pengolahan Agar-agar Tepung 1. Penyaringan dan Penggilingan

Agar-agar yang telah masak disaring dengan fillet press filtrate. Cairan yang keluar ditampung dan didinginkan selama 7 jam. Agar-agar beku dihancurkan dan dipres dengan kain. Hasilnya berupa lembaran-lembaran yang kemudian diangin-anginkan. Lembaran-lembaran kering dipotong kira-kira 3 x 5 mm, kemudian dimasukkan dalam alat penggiling atau grinder. Hasil penggilingan adalah agar-agar tepung.

2. Pengepakan

Agar-agar tepung dimasukkan dalam kertas glasin yang dilapisi lilin atau dapat juga dimasukkan plastik kemudian dibungkus dengan kertas.

3. PENGOLAHAN AGAR.

Agar-agar merupakan senyawa ester asam sulfat dari senyawa galaktan, tidak larut dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas dengan membentuk gel. Rumus bangun agar-agar :

Rumus molekul : (C12H14O5(OH)4)n Beberapa sifat dari agar-agar :

 Pada suhu 25°C dengan kemurnian tinggi tidak larut dalam air dingin tetapi larut dalam air panas.

 Pada suhu 32

 – 

39°C berbentuk padat dan mencair pada suhu 60

 – 

97°C pada konsetrasi 1,5%.

 Dalam keadaan kering agar sangat stabil, pada suhu tinggi dan pH rendah agar-agar mengalami degradasi.

(3)

 Viskositas agar-agar pada suhu 45°C, pH # 4,5

 – 

9 dengan konsentrasi larutan 1% adalah 2

 – 

10 cp.

Sebelum dilakukan proses pengolahan, untuk mendapatkan bahan baku yang bersih perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut : Rumput laut hasil pemetikan dari alam dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel seperti pasir, karang, garam dan kotoran lainnya. Setelah bersih dicuci dengan iar tawar sampai berwarna putih kemudian dikeringkan. Pencucian dan pengeringan dilakukan beberapa kali sampai diperoleh rumput laut kering yang bersih dan putih. Pengeringan dilakukan dengan penjemuran sinar matahari. Hasil pengeringan rumput laut mempunyai kandungan air berkisar 15

 – 

25%.

3.1. Pengolahan secara tradisionil di Pameungpeuk Garut

Pada pengolahan secara tradisionil/sederhana diperlukan peralatan yang cukup sederharna yaitu :

 drum besar (tangki pemasak) dengan volume 200 l;  tungku pemasak (kompor minyak);

 loyang ( tempat penampung dan cetakan ) dengan ukuran 30×20×10 cm;  rak penyimpanan loyang;

 alat tempat pengepres;

 lembaran kain berukuran 30×20×10 cm;  tempat penjemuran / pengeringan.

Rumput laut yang akan diolah adalah jenis Gracilaria sp (agar merah) dan Hypnea sp (bulu kambing). Rumput laut yang sudah kering dan bersih (3Kg), sebelum dimasak dalam drum yang berisi air 150 1 ditambahkan asam sulfat encer 2 sendok dan asam cuka 2 sendok, diaduk sampai merata, selanjutnya dimasak. Dalam satu hari dapat dilakukan dua kali pemasakan (2×4 jam). Pemasakan dilakukan sampai mendidih dan rumput laut hancur serta larut menjadi suatu masa yang berbentuk bubur encer, kemudian dilakukan pemisahan antara larutan dan residu. Hasil pemisahan (larutan) dituangkan pada loyang kemudian didinginkan selama satu malam sampai membeku.

Agar yang sudah membeku dipotong dengan ketebalan 1 cm dan diletakkan diantara kain yang berukuran sama dengan cetakan/loyang, kemudian disusun dalam alat pengepres sampai ketinggian kira-kira 0,5 m dan dipres dengan cara memberi beban (batu) di atas tumpukan agar-agar. Hasil pengepresan berupa lembaran agar-agar tipis, kemudian dianginkan dan dijemur 1 sampai 2 hari hingga kering. Dalam 3 kg rumput laut kering dapat menghasilkan 780 gram agar-agar atau 78 lembar agar-agar dengan berat pelembar 10 gram.

Untuk menghasilkan agar-agar dalam bentuk batangan pada prinsipnya hampir sama dengan pengolahan agar-agar dalam bentuk lembaran, tapi tidak dilakukan pengepresan, hanya penyaringan biasa dan dicetak dengan ukuran 10×4×3 cm. Hasil cetakan didinginkan dan dibekukan semalam, kemudian dikeringkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari. 3.2. Pengolahan secara semi tradisionil

Pada pengolahan secara semi tradisionil, rumput laut diolah menjadi agar-agar berbentuk  bubuk ataupun bentuk lain yaitu agar batangan dan agar lembaran.

Adapun peralatan yang diperlukan yaitu :  alat pencuci;

 tangki pemasak;

(4)

 ruang pendingin (freezing room)  alat pengepres (kain);

 alat cetakan;

 alat penghancur/mesin pembuat bubuk;  bak perendam

Bahan yang digunakan antara lain :

 rumput laut Gracilaria sp. Hypnea sp.  asam sulfat encer 10%

 asam cuka 0,5%  kaporit.

Proses pengolahan :

 Rumput laut yang telah melewati proses pembersihan awal dicuci lagi supaya lebih

bersih. Pencucian dilakukan dalam drum-drum berisi air yang mengalir secara over flow atau pencucian dengan mengalirkan air tawar ke dalam drum berlubang arah horizontal yang berisi rumput laut. Drum berputar mengikuti porosnya.

 Setelah dicuci bersih direndam dalam kaporit 0,25% selama 4

 – 

6 jam sambil diaduk,

sehingga diperoleh rumput laut berwarna putih dan bersih. Setelah direndam dicuci kembali untuk menghilangkan bau kaporit, kamudian direndam dalam asam sulfat encer 10% sampai lunak.

 Rumput laut hasil rendaman dengan asam sulfat dimasak dengan menambahkan air

dalam suatu tangki pemasak. Pemanasan dilakukan sampai suhu operasi 90

 – 

100°C, pH = 5

 – 

6 (dalam suasana asam), dimana pH diatur dengan jalan menambahkan asam cuka 0,5%. Di samping untuk mempertahankan pH, asam cuka juga berfungsi sebagai stabilizer sehingga diperoleh tekstur molekul yang konsisten. Pemasakan dilakukan selama 4

 – 

8 jam sambil diaduk sampai merata.

 Setelah rumput laut hancur semua, dilakukan pemisahan melalui penyaringan dengan

filter press. Filtrat ditampung, kemudian didinginkan selama lebih kurang 7 jam (sampai membeku).

 Hasil pembekuan dihancurkan dan dipress dengan menggunakan kain. Hasil

pengepresan adalah agar-agar dalam bentuk lembaran dengan ukuran sekitar 40× 30 cm.

 Lembaran agar-agar diangin-anginkan kemudian dijemur di bawah sinar matahari

sampai kering. Lembaran agar-agar yang sudah kering dihancurkan dangan mesin penghancur sehingga berbentuk agar-agar dengan ukuran 5×5 mm. Agar-agar hancur dimasukkan ke mesin pembuat bubuk (mill) sehingga diperoleh agar-agar powder yang berwarna putih. Dapat ditambahkan vanili untuk menambah aroma.

4. PENGELOLAAN KARAGINAN

Karaginan sampai saat ini belum diolah di Indonesia walaupun bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat karaginan banyak terdapat di Indonesia antara lain Eucheuma spinosum. Karaginan adalah suatu campuran yang kompleks dari beberapa polisacharida. Lambda dan Kappa karaginan secara bersama-sama dapat diekstrak dari rumput laut jenis

Chondrus crispus dan beberapa species dari Gigartina, sedangkan lota karaginan diekstrak  dari Eucheuma spinsosum.

(5)

Beberapa sifat dari karaginan antara lain :

 Dalam air dingin seluruh garam dari Lambda karaginan larut sedangkan Kappa dan lota karaginan hanya garam Natriumnya saja yang larut.

 Lambda karaginan larut dalam air panas, Kappa dan lota karaginan larut pada temperatur 70°C ke atas.

 Kappa, Lambda dan lota karaginan larut dalam susu panas, dalam susu dingin Kappa dan lota tidak larut, sedangkan Lambda karaginan membentuk dispersi.

 Kappa karaginan membentuk gel dengan ion Kalium, lota karaginan dengan ion Calsium dan Lambda karaginan tidak membentuk gel.

 Semua type karaginan stabil pada pH netral dan alkali, pada pH asam akan terhidrolisa.

Pengolahan pasca panen :

Pengolahan pasca panen atau pengolahan awal dilakukan untuk pembersihan/ menghilangkan pasir, garam dan kotoran - kotoran lain yang melekat dengan cara mencuci dengan air tawar (pencucian dilakukan dua sampai tiga kali). Hasil pencucian dikeringkan hingga diperoleh rumput laut yang bersih dengan kandungan air 10

 – 

25 %. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering. Hasil pengeringan dapat langsung diproses atau dapat juga digunakan untuk kebutuhan ekspor rumput laut kering.

Alat-alat yang diperlukan :  peralatan ekstraksi  peralatan pencucian

 peralatan pemekatan (evaporator)  peralatan pemisah (filtrasi centrifuge)  tangki pengendapan (precipitator)  alat pengering (roll drum dryer)  Grinder (mill)

 peralatan pengepakan. Bahan-bahan yang diperlukan :

 rumput laut jenisEucheuma sp.  air

 NaOH / Ca (OH)2  Isopropil alkohol  Carbon aktif.

Proses pengolahan karaginan :

 Bahan baku pembuatan karaginan adalah rumput laut Eucheuma sp. yang telah mengalami pengolahan awal (pencucian dan pengeringan). Rumput laut dalam bentuk  kering merupakan stock untuk kebutuhan ekspor atau keperluan pengolahan dengan kadar air berkisar antara 15

 – 

25%.

 Rumput laut yang sudah bersih dan kering sebelum diolah perlu dilakukan pencucian lagi. Pencucian dengan air tawar dapat dilakukan dengan drum berputar yang berlubang dan kedalamnya disemprotkan air sehingga kotoran-kotoran akan lepas.  Rumput laut yang telah mengalami pencucian tadi dibuat alkalis dengan

menambahkan suatu basa berupa larutan NaOH, Ca(OH)2 atau KOH, sehingga pH mencapai sekitar 9

 – 

9,6.

(6)

 Setelah dibuat alkalis dilakukan ekstraksi dengan air dalam suatu tangki dengan perbandingan di mana jumlah air 20 kali berat rumput laut yang akan diekstraksi. Ekstraksi dilakukan selama 2

 – 

24 jam pada suhu 90

 – 

95°C. Supaya sempurna ekstraksi dilakukan selama satu hari (24 jam).

 Dari hasil ekstraksi dipisahkan antara larutan (ekstrak) dan residu (kotoran-kotoran yang terdiri dari rumput laut yang tidak larut).

Pemisahan dilakukan dengan penyaringan yang menggunakan filter aid. Filtrat yang keluar berupa larutan yang mengandung 1% karaginan, dan residunya di buang.

 Larutan yang mengandung 1% karaginan dipekatkan menjadi 3% dengan jalan menguapkan airnya dalam suatu Evaporator pada suhu 100°C dan tekanan 1 atmospher.

 Larutan hasil pemekatan ditambah dengan larutan centrifuge, larutan direcovery dan kedalamnya ditambahkan carbon aktif untuk menghilangkan warna dai larutan. Larutan dan carbon aktif dipisahkan dengan filtrasi. Larutan hasil filtrasi digunakan kembali untuk proses pembentukan endapan karaginan.

 Serat karaginan yang terbentuk sebagai endapan kemudian dikeringkan dalam suatu drum dryer pada suhu 250°C.

 Serat karaginan yang sudah kering dihancurkan dengan alat penghancur (mill) sehingga diperoleh karaginan powder.

 Karaginan powder ini siap untuk dikemas dalam drum plastik atau dalam kantong-kantong polyethylene.

5. PENGOLAHAN ALGINAT

Alginat diekstrak dari rumput laut coklat (Phaeophyceae), misalnya Laminaria dan Sargassum. Asam alginat adalah suatu polisacharida yang terdiri dari D-mannuronic acid dan L-guluronic acid yang merupakan asam-asam karbosiklik (R-COOH) dengan perbandingan mannuronic acid/guluronic acid antara 0,3

 – 

2,35.

Alginat biasanya digunakan dalam bentuk garam misalnya garam Sodium, Calsium, Potasium dan Amonium dan juga dalam bentuk ester seperti Propylene glycol alginat. Sodium alginat komersil mempunyai berat molekul antara 32.000

 – 

200.000 dengan derajat polimer 180

 – 

930. Asam alginat dan garam Calciumnya sangat sedikit larut dalam air, sedangkan garam Sodium, Potasium dan Amonium serta Propylene esternya larut dalam air panas dan air dingin.

Proses pengolahan :

 Sebelum diolah rumput laut dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti pasir dan pecahan-pecahan batu karang. Pencucian dilakukan dengan menyemprotkan air. Supaya bisa disimpan agak lama, rumput laut perlu dikeringkan. Pengeringan dapat menggunakan sinar matahari atau alat-alat pengering misalnya drum dryer, kemudian disimpan dalam gudang. Bila kontinuitasnya terjamin, rumput laut dapat langsung diolah tanpa dikeringkan dahulu.

 Rumput laut kering dari gudang penyimpanan sebelum diolah lebih lanjut dicuci kembali dangan air untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang mungkin terikut selama penyim-panan dan transportasi.

(7)

 Untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang larut dalam alkali, rumput laut direndam

dalam larutan 0,5% NaOH pada 50

 – 

60°C selama 30 menit.

 Kemudian direndam dalam 0,5% HCL pada temperatur ruang selama 30 menit untuk 

menghilangkan kotoran-kotoran yang larut dalam asam dan juga untuk merubah garam-garam alginat dalam rumput laut menjadi asam alginat.

 Setelah dicuci dengan air panas 45°C selama 30

 – 

60 menit, rumput laut

dipotong-potong untuk kemudian diekstraksi.

 Ekstraksi dilakukan pada 60

 – 

70°C selama 60 menit dengan larutan Na2CO3 12

 – 

13%.

Untuk mempermudah pemisahan larutan alginat dengan residu, biasanya ditambahkan air sebanyak empat kali volumenya.

 Larutan alginat dipisahkan dari residu dengan floating tank, kemudian untuk 

memisahkan kotoran-kotoran yang terikut larutan dimasukkan kedalam pemisah centrifugal.

 Larutan dibersihkan dalam Bleaching tank dengan menambahkan larutan 12% NaOH

e sebanyak 1/10 volume larutan.

 Pembentukan gel asam alginat dilakukan dengan menambahkan larutan 10% H2SO4

sebanyak 1/10 volume larutan alginat dan dimasukkan bersama-sama kedalam tangki coagulasi.

 Gel asam alginat dipisahkan dari larutan dengan filtrasi atau pemisah Centrifugal.  Asam alginat dirubah menjadi sodium alginat dengan menambahkan bubuk Na2CO3

dan metyl alkohol.

 Sodium alginat kemudian dipisahkan dari larutan dengan filtrasi. Metyl alkohol dalam

filtrat dapat diambil kembali dengan distilasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :