• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya guru dalam meningkatkan pendidikan agama Islam pada anak usia dini di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU 5 Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Upaya guru dalam meningkatkan pendidikan agama Islam pada anak usia dini di Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU 5 Malang"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI di Taman Kanak-kanak (TK) MUSLIMAT NU 5 MALANG. SKRIPSI. Oleh: Umma Hanik 04110211. JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG Oktober, 2008.

(2) UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI di Taman Kanak-kanak (TK) MUSLIMAT NU 5 MALANG Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). Oleh: Umma Hanik 04110211. JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG Oktober, 2008.

(3) HALAMAN PERSETUJUAN UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM di TK MUSLIMAT NU 5 MALANG. SKRIPSI. Oleh:. Umma Hanik NIM: 04110211. Telah Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing. Drs. H. Asmaun Sahlan M.Ag NIP. 150 215 372 Tanggal, 19 September 2008. Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. Drs. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 150 267 235.

(4) HALAMAN PENGESAHAN UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI di Taman Kanak-kanak (TK) MUSLIMAT NU 5 MALANG SKRIPSI OLEH: UMMA HANIK NIM: 04110211 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji dan dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pdi) Tanda Tangan. Ketua Sidang. Sekretaris. Penguji Utama. Drs. H. Asmaun Sahlan M.Ag NIP. 150 215 372. ____________________. Drs. H. Asmaun Sahlan M.Ag NIP. 150 215 372. ____________________. Drs. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 150 267 235. ____________________. Mengetahui dan Mengesahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah. Prof. Dr. H. Muhammad Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031.

(5) SURAT PERNYATAAN. Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.. Malang, 19 September 2008. Umma Hanik NIM: 04110211.

(6) MOTTO. } ]‫ر=م‬L‫ =لك‬L‫ك= ا‬a‫ و=ر=ب‬L‫ر=أ‬L‫{ اق‬٢} S‫عل=ق‬ = L‫ن‬B‫نس=ان= م‬B‫{ خ=ل=ق= ال‬١} =‫خل=ق‬ = ‫ي‬B‫لذ‬D‫ك= ا‬H‫ ر=ب‬B‫م‬L‫اس‬B‫ ب‬L‫ر=أ‬L‫اق‬ {٥} L‫عل=م‬L =‫ ي‬L‫ن م=ال=م‬ = ‫نس=ا‬B‫ل‬L‫لم= ا‬D=‫{ ع‬٤} B‫ق= =لم‬L‫ال‬B‫لم= اب‬D=‫ي ع‬B‫لذ‬D‫{ ا‬٣ ( ٥ -١ : ‫)ســـــــــــــــــــــورة العلق‬ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.(3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahui (5). (Surat Al-Alaq, Ayat 1-5 ).

(7) PERSEMBAHAN SYUKUR ku kepada Tuhan Yang Maha ESA, Dzat Yang Maha agung dan Maha pengasih, Tuhan semesta alam, berkali kusebut Engkau dengan suara yang mengguncang bersaf cinta dihatiku, aku ingin lebur dalam satu cintaMu, HABIBALLAH, Baginda Rasulullah SAW, yang telah mengenalkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai Kebenaran Sejati yang membawa hamba ini menuju kebenaran dan mengalir keberkatan dalam diriku untuk mengikut jejak langkamu. CINTA dan BAKTI untuk Ibunda (I’ Annah) yang tak mengenal lelah berdoa untuk Ananda, alm Abah (Muhaimin Imam) yang menjadi panutan keluarga, dalam tarikan nafas dan pandangan mataku, aku menemukanmu abadi di hatiku, kakak-kakak ku yang senantiasa memberi semangat dan doanya; juga segenap keluarga tanpa terkecuali; guru-guruku yang dengan ikhlas banyak meluangkan waktu dan keringat untuk membimbingku; sahabat ku vita yang selalu bersama berproses dalam mencari Kebenaran yang juga teman sepejuangan, mamu’, je2k, khosi’ teman2 yang selalu menjadi motivasi, Segenap guru2 di TK Teman- teman PKLI karna kalian juga ku dapat pengalaman dan pelajaran yang baru. Muslimat NU 5 Bu Nur, Bu Rosy, Bu Lu2k, Bu Umroh dan Bu Astri yang tidak ada capek2nya mendengarkan dan meluangkan waktunya demi terselesainya skripsi ini dan yang tak terlupakan bapak Asmaun Sahlan yang selalu tak LELAH tuk membimbing dan memberi pengarahan yang baik. Dan teman yang selalu setia sederet buku, kertas-kertas, komputer yang setia menemani perjalanan hidup dan menunggu tanganku menyentuhnya untuk mengantarkan pada dharma SUKRON KASTIRON UNTUK SEMUA YANG TELAH MEMBERI SPIRIT, DOA DAN MATERI I LOVE U ALL.

(8) KATA PENGANTAR Dengan segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang maha pengasi yang kasihnya tiada pilih kasih. Maha penyayang yang sayangnya tiada terbilang. Pencipta langit tampa tiang dan bumi sebagai tikar insani kamil yang tidak luput dari dosa dan kekhilafan. Atas Rahmat dan Hidayah-NYA lah akhirnya saya dapat menyelesaikan skipsi dengan judul. “UPAYAH GURU. DALAM. ISLAM. MENINGKATKAN. PENDIDIKAN. AGAM. DI. TK. MUSLIMAT NU 5 MALANG “. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada sang sinar dari timur baginda Rosulullah SAW, sebagai nabi akhir zaman yang senantiasa menjadi panutan serta petunjuk bagi umat islam dari zaman jahiliyah sampai zaman islamiyah yaitu Dinul Islam. Seiring dengan terselesaikannya penyusunan skripsi ini, tak lupa penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan tanpa batas kepada semua pihak yang telah membantu memberikan arahan, bimbingan dan petunjuk serta motivasi dalam proses penyusunannya, antara lain : 1. Ibunda (I’Annah) dan Alm Abah ()Muhaimin Imam tercinta, yang telah memberikan motivasi baik berupa moril, do’a restu, mau’izhah khasanah yang diberikan dengan penuh cinta dan kasih sayang, lebih-lebih materil, sehingga ananda dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan baik. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. 2. Bapak Prof. Dr. H.M Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. 3. Bapak Drs. Padil, M.Pd.I dan Drs. Tryo Supriyatno, M.Pd. selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. 4. Bapak Drs. Asmaun Sahlan M.Ag selaku dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan di tengah-tengah kesibukannya meluangkan waktu memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat tersusun dengan baik dan rapi..

(9) 5. Kepala perpustakaan dan seluruh stafnya yang telah memberikan pengarahan dan membantu menyediakan buku-buku literatur yang penulis butuhkan. 6. Kakak serta kakak iparku ku (May, Iza, Fahri, Mamat, Aji, Mustain, Lia) yang selalu memberi motivasi dan materil. 7. Teman-teman seperjuangan Vita, Mamu’, Je2k, May , khosi’ dan yang tak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan dukungan moral maupun kritik yang membangun dan berdiskusi dengan penulis tentang skripsi yang penulis susun. Tiada kata yang pantas penulis ucapkan selain dari do’a jazakumullah kashiron, semoga apa yang telah diberikan menjadi amal yang diterima di sisi Allah swt. Akhirnya, penulis hanya dapat berdo’a semoga amal mereka diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai amalan sholehah serta mendapatkan imbalan yang semestinya. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya. Amien ya robbal ‘alamin!. Malang, 19 September 2008. Umma Hanik.

(10) DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL HALAMAN JUDUL.................................................................................. i HALAMAN PENGAJUAN....................................................................... ii HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................. iii HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... iv SURAT PERNYATAAN ........................................................................... v HALAMAN MOTTO................................................................................ vi HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................ vii KATA PENGANTAR................................................................................ viii DAFTAR ISI............................................................................................... x DAFTAR TABEL...................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. xv HALAMAN ABSTRAK............................................................................ xvi BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang...............................................................................1 B. Rumusan Masalah..........................................................................7 C. Tujuan Penelitian...........................................................................7 D. Manfaat Penelitian.........................................................................8 E. Ruang Lingkup Penelitian.............................................................8 F. Sistematika Pembahasan................................................................9.

(11) BAB II : KAJIAN TEORI A. Guru 1.. Pengertian Guru...................................................................11. 2.. Peran dan Fungsi Guru........................................................12. 3.. Tugas Guru..........................................................................19. 4.. Tanggung Jawab Guru ........................................................22. B. Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan agama islam ......................................26 2. Fungsi Pendidikan Agama Islam.......................................… 29 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam……………………………30 4. Kurikulum Pendidikan Agama Islam ……………………… 35 5. Metode Pendidikan agama islam ……………………………45 6. Evaluasi Pendidikan Agama Islam ………………………… 49 C. Anak Usia Dini 1. Pengertian Anak Usia Dini…………………………………. 52 2. Pendidikan Anak Usia Dini ………………………………... 53 3. Mengenal Pendidikan anak prasekolah ……………………..55 D. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK...................................................................66 BAB III : METODELOGI PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian................................................78 B. Kehadiran Penelitian.................................................................79 C. Sumber Data...............................................................................79.

(12) D. Prosedur Pengumpulan Data......................................................80 E. Analisa Data..............................................................................82 F. Keabsaan Data..........................................................................83 G. Tahap-tahap Penelitian...............................................................85 BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA A. Latar Belakang Obyek Penelitian 1.. letak Geografis..................................................................87. 2.. Sejarah Berdirinya............................................................87. 3.. Visi Misi …………………………………………………..88. 4.. Struktur organisasi............................................................89. 5.. keadaan Guru dan Karyawan............................................90. 6.. keadaan Siswa …………………………………………… 92. 7.. Sarana dan Prasaran……………………………………….95. B. Penyajiaan Data 1. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 Malang ....... 97 2. Kendala Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 Malang........ 102 3 Solusi Yang dilakukan Guru Untuk Mengatasi Kendala Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 ......................................................105.

(13) BAB V : PEMBAHASAN HASIl PENELITAN 1. Upaya Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama islam di TK Muslimat NU 5 …………………………………….……….. 110 2. Kendala Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 …………..…………. 113 3. Solusi Yang dilakukan Guru Untuk Mengatasi Kendala Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 ……………………………………………... 117 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................. ..................................................................................................124 B. Saran ........................................................................................... ..................................................................................................126 ..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN.

(14) TABEL TABEL. I. : Profil Sekolah. TABEL. II. : Data Guru dan Karyawan. TABEL. III : Data Uraian Tugas Guru dan Karyawan. TABEL. IV : Data Siswa. TABEL. V. : Sarana dan Prasarana.

(15) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I. : Nota Diknas. Lampiran II. : Bukti konsultasi. Lampiran III : Surat penelitian Lampiran IV : Surat bukti penelitian Lampiran V : Pedoman Wawancara Lampiran VI : Dokumentasi Lampiran VII : Kalender Pendidikan Lampiran VIII : Program Supervisi Kelas Lampiran IX : Program Kerja Tahunan.

(16) ABSTRAK Hanik, Umma, 2008, Upaya Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 Malang, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dosen Pembimbing : Drs. Asmaun Sahlan M.Ag Kata Kunci : Guru, Pendidikan Agama Islam, Anak Usia Dini Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer masyarakat sejak dulu. Setiap orang memerlukan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya. Pengenalan dunia pendidikan pada usia dini bagi anak-anak yang didapatkan melalui jenjang Taman Kanak-kanak (TK) maupun sejenisnya seperti play group atau kelompok bermain, telah memberikan andil yang cukup besar. Melalui pendidikan di usia dini baik di TK maupun Play Group, setidaknya tidak akan membuat para anak tidak merasa canggung guna mengikuti ke jenjang berikut khusus tingkat Sekolah Dasar (SD). Berdasarkan dari permasalahan tersebut diatas maka penulis mencoba mengkaji tentang “Upaya Guru Dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini di TK Muslimat NU 5 Malang” yang meliputi: (1)Bagaimana upaya guru dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang (2)Apa saja kendala guru dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang (3)Solusi apa saja yang didilakukan guru untuk mengatasi kendalakendala dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1)Untuk mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan pendidikan pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang, (2)Untuk mengetahui kendala guru dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat Nu 5 Malang, (3)Untuk mengetahui solusi yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala-kendala dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskriptif, sedangkan untuk mengumpulkan data peneliti menggunakan beberapa metode antara lain adalah metode observasi, metode interview dan metode dokumentasi, Dari penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti dapat menyimpulkan pertama upaya guru dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang adalah adanya suatu pembiasaan untuk membaca doa dan ayat-ayat pendek, Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, Mengajak anak untuk bernyanyi agar anak didik tidak jenuh sehingga pendidikan agama islam dapat diterima, bercerita, karya wisata, shlat jama’ah dan beramal. Kedua kendala guru dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat Nu 5 Malang adalah anak didik.

(17) belum mengetahui agama sama sekali, anak didik yang bandel dan tidak semagat untuk belajar, guru kesulitan dalam mmengatur anak didik dan mencari kata-kata yang mudah di mengerti dan keluarga yang kurang mendukung dalam pendidikan anak didik itu sendiri. Ketiga solusi yang dilakukan guru untuk mengatasi kendala-kendala dalam meningkatkan pendidikan agama islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang Guru dalam menyampaikan pendidikan agama islam dimulai dari nol, Untuk mengatasi anak yang bandel atau ramai, biasanya tempat duduknya dipindah dekat anak yang diam dan pintar yang diharapkan anak akan termotivasi oleh temanya.dan diajak bicara, guru sering berkonsultasi dengan orang yang lebih faham, guru sering berkonsultasi dengan orang tua anak didik dan orang tua harus dapat mengajar anaknya di rumah..

(18) BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer masyarakat sejak dulu. Setiap orang memerlukan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya. Tujuan pendidikan sering dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang dewasa anggota masyarakat yang mandiri dan produktif. Fungsi sekolah erat hubungannya dengan masyarakat Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali maka suatu kelompok manusia tidak dapat hidup berkembang mengikuti zaman. Untuk memajukan kehidupan mereka itulah maka pendidikan menjadi sarana utama yang pelu dikelola secara sistematis dan konsisten. Awal pendidikan itu di mulai sejak lahir atau sejak anak usia dini yang berpusat pada kebutuhan anak itu sendiri yang berdasarkan pada minat, bakat dan kebutuhan sang anak. Oleh karena itu, peran pendidikan sangatlah penting dan pendidikan itu sendiri harus mampu memfasilitasi aktivitas anak dengan material yang bermacam-macam. Berdasarkan (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional) UUSPN pengertian pendidikan. usia dini adalah “suatu upaya pembinaan yang. ditujukan kepada anak sejak lahir sampendidikan agama Islam dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk.

(19) membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani & rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.1 Pengenalan dunia pendidikan pada usia dini bagi anak-anak yang didapatkan melalui jenjang Taman Kanak-kanak ( yang selanjutnya akan disebutkan dengan nama TK) maupun sejenisnya seperti play group atau kelompok bermain, telah memberikan andil yang cukup besar. Melalui pendidikan di usia dini baik di TK maupun Play Group, setidaknya tidak akan membuat para anak merasa canggung guna mengikuti ke jenjang berikut khusus tingkat Sekolah Dasar (SD). Dengan demikian pendidikan anak itu merupakan modal terbasar yang dimiliki bangsa untuk mewujudkan cita-cita bangsa kelak. Oleh karena itu, kita seharusnya mengupayakan agar generasi penerus ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga meraka akan mampu mewujudkan cita-cita bangsa dengan baik bahkan lebih dari apa yang kita harapkan dan karena itulah anak sejak kecil sudah harus diberi pendidikan. Dalam Islam pendidikan mempunyai makna sebagai proses investasi kemanusiaan yang mengandung nilai ibadah. Oleh karena itu setiap muslim wajib menjadi subjek sekaligus objek pendidikan sepanjang hayatnya. Menjadi subjek dalam arti seorang muslim ikut berperan aktif dalam pendidikan itu sendiri yaitu dalam proses pendidikan anaknya. Sebagai objek pendidikan, seorang muslim merupakan bagian dari proses pendidikan itu. 1. Undang-undang RI no 20 thn 2003 tentang system pendidikan nasional, bandung, citra unibra, hlm 4.

(20) sendiri dalam arti seorang muslim adalah anak didik atau peserta dari pendidik. Pendidikan anak usia dini yang dilakukan sejak lahir perlu ditanamkan nilai-nilai Islam, sebab ajaran-ajaran Islam sangatlah peting dan hurus dipelajari. Karena di dalam Islam telah memberikan dasar-dasar dari konsep pendidikan dan pembinaan anak bahkan sejak anak dalam kandungan. Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang mencintai Allah SWT dan Rosul-Nya serat berbakti kepada kedua orang tua. Karena itulah pentingya pendidikan usia dini ditanamkan agar anak ketika besar dapat mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 78:            .     . “Dan. Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak. mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.2 Pengertian pendidikan anak usia dini Hj. Maryam Halim adalah “ suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai pendidikan agama Islam usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsaan 2. Depertemen agama RI, Al-qur’an dan terjwmahan (|Bandung: Jumanatul Ali-Art 2004), hlm 275.

(21) pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan yang memasuki pendidikan lebih lanjut3”. Imam Ghazali perna memberikan nasehat kepada seorang guru agar berlaku sebagai seorang ayah terhadap muridnya, bahkan beliau berpendapat bahwa hak seorang guru terhadap muridnya lebih besar ketimbang haknya seorang ayah kepada anaknya. Sebab seorang ayah sebagai perantara eksistensi anak di dunia fana ini. Sedangkan sang gurulah yang menunjukkan murid kepada jalan yang mendekatkan diri kepada Allah ta’alah4. Begitu besar pengaruh guru terhadap jiwa anak sehingga segalah perbuatan dan tingkah laku guru lebih mewarnai kehidupan sehari-hari anak, biasanya anak lebih menurut apabilah yang memberi nasehat gurunya daripada kepada orang tuanya sendiri, lebih-lebih anak di bawah usia 5 tahun. Seorang anak akan selalu memperhatikan gerak-gerik seorang guru, baik yang dilakukan oleh guru itu layak untuk dicontoh maupun tidak, maka apa yang dilakukan oleh guru tersebut akan ditiru setiap ada kesempatan. Karena sosok seorang guru menjadi idola bagi anak taman kank-kanak. Untuk itulah peranann guru sangat penting dalam mengembangkan mental anak terutama dalam pendidikan agama Islam. Karena itulah seorang guru taman kanak-kanak harus memiliki keterampilan dan menguasai ilmu penggetahuan dalam segala bidang terutama dalam bidang agama.. 3. Halim, Maryam dkk, materi pelatihan pamong pendidikan anak usia dini ( jawa timur 2004 ) hlm 123 4 Ibid, hlm 3.

(22) Berdasarkan tingkat pertumbuhan dan pengembangan pendidikan di mulai sejak anak usia dini yang terbagai menjadi empat tahapan, sebagai berikut 1. masa bayi usia 0-12 bulan 2. masa todder (balita) usia 3-4 tahun 3. masa pra sekolah usia 3-4 tahun 4. masa kelas awl usia 6-8 tahun 5 Dan di taman kanak-kanak Muslimat NU 5 lah seorang guru yang mengajar di TK tersebut telah memperhatikan perkembangan pendidikan agama Islam pada anak usia dini. Karena pendidikan agama Islam merupakan segalah usaha berupa pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak, sehingga anak tersebut dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya serta menjadikannya sebagai jalan kehidupan seharihari, baik kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan social-kemasyarakatan. Anak usia dini di beri bekal tentang pendidikan agama Islam karena pendidikan agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan orang dewasa terhadap anak didik menuju tercapainya manusia beragama6. Memang pada dasarnya agaam Islam ditanamkan bagi anak-anak usia dini sampai ketika besar nanti agartersebut mengetahui tentang ajaran-ajaran Islam. Karena itulah di zaman globalisasi ini di mana informasi-imformasi negative dari barat yang mempengaruhi anak-anak yang akan menjahukan kita dari Islam. Karena itu untuk menjaga generasi Islam pada anak usia dini maka 5 6. Ibid, hlm 3 Amin muh, pengantar ilmu pendidikan (Pasuruan: PT Goroeda Buana Indah 1992) hlm 4.

(23) anak-anak tersebut kita arahkan. menjadi anak yang sholeh yang akan. menolong kedua orang tuanya ketika sudah meninggal dunia. Oleh karena itu pendidikan pra sekolah kini mendapatkan perhatian besar, tidak saja dari masyarakat luas, tetapi juga dari kalangan akademisi. Pendidikan pra sekolah dinilai menjadi pendidikan yang menjadi dasar bagi pendidikan sesudahnya. Mendidik anak tidak dapat secara asal-asalan, dikarenakan nilai penting pendidikan usia dini. Hal ini mengingat pendidikan tidak dapat dilaksanakan secara mendadak langsung ketika anak sudah besar. Justru ketika masih kecil itulah pendidikan perlu direncanakan sebaik mungkin, karena meletakkan dasar dan pondasi. Pendidikan lanjutan tinggal meneruskan apa yang telah diperoleh ketika kecil. Pendidikan dalam bentuk pembiasaan, penanaman nilai-nilai, serta aspek-aspek dasar terjadi ketika anak-anak masih kecil. Untuk itulah setiap lembaga pendidikan pra sekolah harus memiliki dasar-dasar seperti itu secara kokoh dan komprehensif. Untuk itulah taman kanak-kanak perlu dikembangkan dengan maksud merebut fitrah anak sebelum dikotori oleh informasi-informasi negative yang hendak menjahukan anak-anak dari Islam, karena informasi-informasi dari luar sedikit demi sedikit mempengruhi anak usia dini contonya saja film-film dari budaya barat yang tidak layak ditonton oleh anak kecil. Untuk itu orang tua dapat memberi bimbingan dan mendampingi pada saat anak menonton televise dan bagi guru dapat memberikan pendidikan agama Islam pada anak usia dini agar anak tersebut dapat mengetahui ajaran-ajaran Islam secara baik dan benar..

(24) Dengan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk menggunkan judul “UPAYA. GURU. DALAM. MENINGKATKAN. PENDIDIKAN. AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA DINI DI TK MUSLIMAT NU 5 MALANG”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti merumuskan permasalahannya sebagai berikut 1. Bagaimana upaya guru dalam meningkatkan Pendidikan Agama Islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang ? 2. Apa saja kendala guru dalam meningkatkan Pendidikan Agama Islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang ! 3. Solusi apa saja yang didilakukan guru untuk mengatasi kendala-kendala dalam meningkatkan Pendidikan Agama Islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang! C. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan pendidikan pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang. 2. Untuk mengetahui kendala guru dalam meningkatkan pendidikan agama Islam pada anak usia dini di TK Muslimat Nu 5 Malang..

(25) 3. Untuk mengetahui solusi yang dilakukan guru untuk mengatasi kendalakendala dalam meningkatkan pendidikan agama Islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang. D. Manfaat penelitian 1. Bagi peneliti,. untuk mengetahui pentingnya pendidikan usia dini dan. pengembangan pengetahuan tentang pendidikan usia dini di TK Muslimat NU 5. 2. Bagi seorang guru, sebagai bahan koreksi diri dan upaya dalam meningkatkan profesionalnya. E. Ruang Lingkup Penelitian Agar pembahasan ini dapat difahami dengan mudah sesuai dengan arah dan tujuan, maka ruang lingkup pembahasan ini terfokus pada : 1. Pembahasan tentang guru, guru di sini adalah guru yang mengajar anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang yang berjumlah 5 orang diantaranya adalah 1 kepala sekolah, 2 guru yang bertugas menjadi pengajar dan wali kelas dan 2 guru ekstra yang bertugas mengajar baca tulis al-qur’an. 2. Pembahasan pendidikan agama Islam, pendidikan agama Islam disini adalah pendidikan yang diberikan oleh guru kepada anak usia dini di TK Muslimat 5 Malang yang meliputi tentang aqidah ,Ibadah dan Akhlak. 3. Pembahasan tentang anak usia dini, yang dimaksud dengan anak usia dini di sini adalah anak yang bersekolah di TK Muslimat 5 yang batasan usianya adalah antara 4-6 tahun..

(26) F. Sistematika Pembahasan Untuk mendapat gambaran yang jelas tentang skripsi ini secara lengkap dijelaskan dalam sistematika pembahasan. Skripsi ini disisipkan dalam 5 bab yang rinciannya sebagai berikut: Bab I, berisi pendahuluan yang membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika pembahasan. Bab II, berisi kajian teori yang akan diungkap dalam penelitian yang meliputi: A) kajian tentang guru yang meliputi: pengertian guru, Peran dan fungsi guru, tugas guru, tanggung jawab guru, B) kajian tentang pendidikan agama Islam yang meliputi: pengertian pendidikan agama Islam, fungsi pendidikan agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam, kurikulum pendidikan agama Islam, metide pendidikan agama Islam dan evaluasi pendidikan agama Islam, C) kajian tentang Anak usia dini yang meliputi: pengertian anak usia dini, pendidikan anak usia dini, mengenal pendidikan anak prasekolah dan berbagai kompetensi anak usia dini. Bab III, yaitu metodelogi penelitian, pada bab ini berisikan tentang: lokasi penelitian, jenis penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknis analisis data, pengecekan keabsahan temuan dan tahap-tahap penelitian. BaB IV, berisi tentang laporan penelitian, pada bab ini merupakan penjelasan secara singkat mengenai laporan hasil penelitian..

(27) BAB V, pembahasan hasil penelitian tentang upaya guru dalam meningkatkan pendidikan agama Islam pada anak usia dini di TK Muslimat NU 5 Malang. Bab VI yaitu bab terakhir yang memuat tentang kesimpulan dan saran..

(28) BAB II KAJIAN TEORI. A. Kajian Tentang Guru 1. Pengertian Guru Secara etimologis, istilah guru berasal dari bahasa india yang berarti orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara. Dalam bahasa arab, guru dikenal dengan al-mu’alim atau al-ustadz yang bertugas memberi ilmu dalam majlis taklim7. Pengertian guru kemudian menjadi luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, tetapi juga menyangkut kecerdasan jasmani seperti gueu tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosi, intelektual maupun aspek lain 8. Dari aspek lain, beberapa pakar pendidikan. telah mencoba. merumuskan pengertian guru dengan definisi tertentu. Menurut Zakariyah Derajat guru adalah pendidik professional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak 9. Dalam hal ini guru, oaring tua harus tetap sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sedangkan guru adalah tenaga professional yang 7. Suparlan, menjadi guru efektif (yogyakarta: Hikayat Publising, 2005), hlm11 Ibid, hlm 12 9 Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), hlm 39 8.

(29) membantu orang tua untuk mendidik anak-anak pada jenjang pendidikan sekolah. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru dihormati, sehingga masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia 10. Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka dipundak guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Mengemban tugas memang berat. Tapi lebih berat lagi mengemban tanggung jawab. Sebab tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus guru berikanpun tidak hanya secara kelompok (klasikal), tetapi juga secara individual. Hal ini mau tidak mau menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didiknya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi di luar sekolah sekalipun. 2. Peran dan fungsi guru Status guru memiliki implementasi terhadap peran dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi. yang. tidak. terpisahkan,. antara. lain. kempuan. mendidik,. membimbing mengajar dan melatih. Keempat kemampuan tersebut merupakan kemampuan integrative, antara satu denagn lainnya tidak dapat 10. Syiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Intraksi Edukatif (Jakarta : PT Rineka Cipta), hlm 31.

(30) terpisahkan. Seseorang yang dapat mendidik, tetapi tidak memiliki kemampuan membimbing, mengajar dan melatih, maka tidak dapat disebut sebagai guru sebenarnya 11. Banyak peranan yang diperlukan sebagai pendidik atau siapa saja yang menerjukan diri menjadi guru. Semua peranan yang diharapkan dari guru telah diuraikan di bawah ini : a. Korektor Sebagai korektor, guru harus bias membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan dari jiwa dan watak anak didiknya. Bila guru membiarkannya berarti guru telah mengabaikan perananya sebagai korektor, yang menilai dan mengoreksi semua sikap, tingkah laku dan perbuatan ank didik 12. b. Inspirator Sebagai insipirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar dalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun bias digunakan sebagai petunjuk bagaimana cara belajar yang baik 13. 11. Suparlan, op.cit , hlm 27 Syaiful Bahri Djamarah, op.cit, hlm 43 13 Ibid, hlm 44 12.

(31) c. Informator Sebabgi informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari seorang guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah yang menjadi kuncinya, ditopang dengan penguasaan bahan yang diberikan kepada anak didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik. d. Organisator Sebagai organisator, adalah sisi yang lain dari peranan yang diperlukan. guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan. pengelolahan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik dan sebagainya. Semua diorganisasikan agar dapat mencapai efektifitas dan efisiensi dalam belajar pada diri anak didik. e. Motivator Sebagai motifator hendaknya guru dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisa motif-motif yang melatar belakangi anak didik malas belajar. Setiap saat guru harus bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif tiodak mustahil ada di antara anak.

(32) didik yang malas belajar dan sebagainya. Motivasi dapat efektif jika dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik 14. f. Inisiator Dalam perananya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan. g. Fasilitator Sebagai fasilator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan dalam kegiatan belajar bagi anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenagkan, suasana ruang kelas yang pengap dan fasilitas belajar yang kurang tersedia dapat menyebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu, menjadi tugas guru bagaimana menyediakan fasilitas, sehingga akan tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan anak didik. h. Pembimbing Peranan guru yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami. kesulitan. dalam. menghadapi. perkembangandirinya.. Kekurang mampuan anak didik dapat menyebabkan ketergantungan terhadap guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantunagan anak didik 14. Ibid, hlm 45.

(33) dapat berkurang. Jadi, bagaimanapun juga bimbingan dari guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum mampu berdiri sendiri atau mandiri 15 i. Pengelola kelas Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat terhimpun semua nak didik dan guru dalam rangkah menerima bahan pelajaran dari guru. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya proses belajar yang baik pula. Jadi maksud dari pengelolahan kelas adalah agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motifasi yang tinggi untuk sentangtiasa belajar di dalamnya. j. Mediator Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenis, baik media nonmaterial maupun material. Media berfungsi sebagai alat kominikasi guna mengefektifkan proses belajar yang baik. Sebagi mediator, guru dapat diartikan sebagai penengah dalam proses belajar anak didik. k. Supervisor Sebagai. supervisor,. guru. hendaknya. dapat. membantu,. memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran, teknik-teknik supervise harus guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih 15. Ibid, hlm 46.

(34) baik. Untuk itu kelebihan yang dimilikisupervisor bukan hanya kerena posisi atau kedudukan yang ditempatinya, akan tetapi juga karena pengalamannya, pendidikannya, kecakapannya atau keterampilanketerampilan yang dimilikinya 16. l. Evaluator Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsik. Penilaian terhadap interinsik lebih menyentuh pada kepribadian anak didik. Sebagai seorang evaluator, guru tidak hanya menilai produk (hasil pengajaran) tetapi juga menilai proses jalannya pengajaran. Dari kedua kegiatan ini akan mendapatkan umpan balik tentang pelaksanaan interaksi edukatif yang telah dilakukan 17. Dari sisi lain guru sering dicitrakan memiliki peran ganda yang dikenal sebagai EMASLIMDEF (educator, meneger, admistrator, superfisor, leader, innovator, dinamisator, evaluator dan facilitator). Memang EMASLIM merupakan peran kepalah sekolah. Akan tetapi, dalam skala mikro di kelas, peran tersebut juga harus dimiliki oleh para guru 18. Peran Guru EMASLIMDEF19 Akronim Peran E Educator 16. Ibid, hlm 48 Ibid, hlm48 18 Suparlan, op.cit, hlm 29 19 Ibid, hlm 31 17. Fungsi  Mengembangkan kepribadian.

(35)  Membimbing  Membina budi pengerti M. Manager.  Memberikan pengarahan  Mengawal pelaksanaan tugas dan fungsi berdasarkan ketentuan dan perundang-. A. Administrator. undangan yang berlaku  Membuat daftar presensi  Membuat daftar penilaian. S. Supervisor.  Melaksanakan teknis adminitrasi sekolah  Memantau  Menilai. L. Leader.  Memberikan bimbingan teknis  Mengawal melaksanakan tugas pokok dan fungsi tanpa harus mengikuti secara kaku ketentuan dan perundang-undangan yang. I. Innovator. berlaku  Melakukan kegiatan kreatif  Menemukan strategi, metode, cara-cara atau konsep-konsep yang baru dalam. M. Motivator. pengajaran  Memberikan. dorongan. kepada. siswa. untuk dapat belajar lebih giat  Memberikan tugas kepada siswa sesuai dengan D. Dinamisator. kemampuan. individual anak didik  Memberikan dorongan dengan. cara. dan. perbedaan. kepada. menciptakan. siswa suasana.

(36) E. lingkungan pembelajaran yang kondusif  Menyusun instrument penilaian. Evaluator.  Melaksanakan penilaian dalam berbagai bentuk dan jenis penilain F.  Menilai pekerjaan siswa  Memberikan bantuan teknis, arahan atau. Fasilitator. petunjuk kepada anak didik 3. Tugas Guru Guru adalah figur seorang pemimpin. Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusia susila yang cakap yang dapat diharapkan membangun dirinya dan membangun bangsa dan Negara. Jabatan guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas dalam bentuk pengabdian. Tugas guru tidak hanya sebagai suatu profesi, tetapi juga sebagai suatu tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan. Tugas guru sebagai suatu profesi menuntut kepada guru untuk mengembangkan. profesionalitas. diri. sesuai. perkembangan. llmu. pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik.. Tugas. guru. sebagai. pengajar. berarti. meneruskan. dan.

(37) mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan ketrampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik. Tugas kemanusiaan salah satu segi dari tugas guru. Sisi ini tidak bisa guru abaikan, karena guru harus terlibat dengan kehidupan di masyarakat dengan interaksi sosial. Guru harus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan begitu anak didik dididik agar mempunyai sifat kesetiakawanan sosial. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 58 berbunyi:              .              . Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat 20. Guru harus dapat menempatkan diri sebagai orang tua kedua, dengan mengemban tugas yang dipercayakan orang tua kandung atau wali anak didik dalam jangka waktu tertentu. Untuk itu pemahaman terhadap jiwa dan watak anak didik diperlukan agar dapat dengan mudah memahami 20. Departemen Agama, op.cit, hlm 87.

(38) jiwa dan watak anak didik. Begitulah tugas guru sebagai orang tua kedua, setelah orang tua anak didik di dalam keluarga di rumah. Di bidang kemasyarakatan, merupakan tugas guru yang juga tidak kalah pentingnya. Pada bidang ini guru mempunyai tugas mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warganegara Indonesia yang bermoral pancasila. Memang tidak dapat dipungkiri bila guru mendidik anak didik sama halnya guru mencerdaskan bangsa Indonesia. Dengan meneliti poin-poin tersebut, tahulah bahwa tugas guru tidak ringan. Profesi guru harus berdasarkan panggilan jiwa, sehingga dapat menunaikan tugas dengan baik, dan ikhlas. Guru harus mendapatkan haknya secara proporsional dengan gaji yang patut diperjuangkan melebihi profesi-profesi lainnya, sehingga keinginan peningkatan kompetensi guru dan kualitas belajar anak didik bukan hanya sebuah slogan di atas kertas 4. Tanggung Jawab Guru Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan ada pada diri setiap anak didik. Tidak ada seorang gurupun yang mengharapkan anak didiknya menjadi sampah masyarakat. Untuk itulah guru dengan penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak didik agar dimasa mendatang menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Setiap hari guru meluangkan waktu demi kepentingan anak didik. Bila suatu ketika ada anak didik yang tidak hadir di sekolah, guru menanyakan kepada anak-anak yang hadir, apa sebabnya.

(39) dia tidak hadir ke sekolah. Anak didik yang sakit, tidak bergairah belajar, terlambat masuk sekolah, belum menguasai bahan pelajaran, berpakaian sembarangan, berbuat yang tidak baik, terlambat membayar uang sekolah, tak punya pakaian seragam, dan sebagainya, semuanya menjadi perhatian guru. Karena besarnya tanggung jawab guru terhadap anak didiknya, hujan dan panas bukanlah menjadi penghalang bagi guru untuk selalu hadir di tengah-tengah anak didiknya. Guru tidak pernah memusuhi anak didiknya meskipun suatu ketika ada anak didiknya yang berbuat kurang sopan pada orang lain. Bahkan dengan sabar dan bijaksana guru memberikan nasehat bagaimana cara bertingkah laku yang sopan pada orang lain. Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa, maka bila guru melihat anak didiknya senang berkelahi, meminum minuman keras, mengisap ganja, datang ke rumah-rumah bordil dan sebagainya, guru merasa sakit hati. Siang dan malam selalu memikirkan bagaimana caranya agar anak didiknya itu dapat dicegah dari perbuatan yang kurang baik, asusila, dan amoral. Guru seperti itulah yang diharapkan untuk mengabdikan diri di lembaga pendidikan. Bahkan guru yang hanya menuangkan ilmu pengetahuan ke dalam otak anak didik. Sementara jiwa dan wataknya tidak dibina. Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak.

(40) anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah makhluk hidup yang memiliki otak dan potensi yang perlu dipengaruhi dengan sejumlah norma hidup sesuai dengan ideologi, falsafah dan bahkan agama. Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma itu kepada anak didik agar mereka tahu mana perbuatan yang susila dan asusila, mana perbuatan yang bermoral dan amoral. Semua norma itu tidak mesti harus guru berikan ketika dikelas, di luar kelaspun sebaiknya guru contohkan melalui sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Pendidikan dilakukan tidak semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Anak didik lebih banyak menilai apa yang guru tampilkan dalam pergaulan di sekolah dan di masyarakat daripada apa yang guru katakan, tetapi baik perbuatan maupun apa yang guru tampilkan, keduanya menjadi penilaian anak didik. Jadi, apa yang guru katakan harus guru praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya guru memerintahkan kepada anak didik agar hadir tepat pada waktunya. Bagaimana anak didik mematuhinya sementara guru sendiri tidak disiplin dengan apa yang pernah dikatakan. Perbuatan guru yang demikian mendapat protes dari anak didik. Guru tidak bertanggung jawab atas perkataannya. Anak didik akhirnya tidak percaya lagi kepada guru dan anak didik cenderung menentang perintahnya. Inilah sikap dan perbuatan yang ditunujukkan oleh anak didik..

(41) Sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat, yang menurut Wens Tanlain dkk, dalam Saiful Bahri Djamarah, ialah: a. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan; b. Memikul tugas pendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya); c. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati); d. Menghargai orang lain, termasuk anak didik. e. Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, tidak sembrono, tidak singkat akal); dan f. Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.21 Kalau kita melihat pada perubahan-perubahan tradisional dalam pengajaran maka sudah tentumenimbulkan dan menambah tanggung jawab guru menjadi lebih besar. Tanggung jawab itu adalah sebagai berikut: a. Guru harus menuntut para anak didik untuk belajar b. Turut serta membina kurikulum sekolah c. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmani) d. Memberikan bimbingan terhadap anak didik e. Melakukan dignosa atas kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemampuan belajar 21. Syaiful Bahri Djamarah, op.cit, hlm. 36.

(42) f. Menyelenggarakan penelitian g. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif h. Menghayati, mengamalkan dan mengamankan pancasila i. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamain dunia j. Turut menyukseskan pembangunan k. Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru22 Jadi, guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik. Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak didik agar menjadi orang yang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan mendatang. B. Kajian Tentang Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada istilah al-tarbiyah, al-ta'dib, dan al-ta'lim. Dari ketiga istilah tersebut istilah yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah al-tarbiyah. Sedangkan kata al-ta'dib dan al-ta'lim jarang sekali digunakan. Padahal kedua iatilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam. Kendatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga istilah tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap istilah memiliki 22. Departemen agama, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan (Jakarta :Diktorat Jedral Kelembagaan Agama Islam 2005) hlm 76.

(43) perbedaan, baik secara tektual maupun kontekstual. Untuk itu perlu dikemukakan uraian dan analisis terhadap ketiga istilah pendidikan Islam tersebut dengan beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam. a. Istilah al-tarbiyah Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ii memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya. Dalam penjelasan lain, kata altarbiyah berasal dari tiga kata yaitu rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh dan berkembang. Rabiya-yarba berarti menjadi besar. Rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai, urusan, menuntun, dan memelihara23. Uraian di atas, secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai pendidik seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. dalam konteks yang luas, pengertian pendidikan Islam yang dikandung dalam istilah al-Tarbiyah terdiri atas empat unsure pendekatan, yaitu : (1) memelihara dan menjaga fithrah anak didik menjelang dewasa, (2) mengembangkan. seluruh. potensi. menuju. kesempurnaan,. (3). mengarahkan seluruh fithrah menuju kesempurnaan, (4) melaksanakan pendidikan secara bertahap. b. Istilah al-ta'lim 23. Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam ; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), hlm. 26.

(44) Istilah al-ta'lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli kata ini lebih bersifat umum dibanding dengan al-tarbiyah maupun al-ta'dib. Rasyid Rodha misalnya mengartikan al-ta'lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. c. Istilah al-Ta'dib Kata al-ta'dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secra berangsurangsur ditanamkan kedalam diri manusia (anak didik) tentang tempattempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan. Dengan. pendekatan. ini,. pendidikan. akan. berfungsi. sebagai. pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya24. Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga istilah di atas, secara terminology, para ahli pendidikan Islam telah mencoba menformulasikan pengertian pendidikan Islam, diantaranya adalah : Menurut al-Syaibani mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu anak didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi diantara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat. Muhammad Fadhil al-Jamaly mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak anak didik 24. Ibid., hlm.27.

(45) hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi anak didik yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatanya. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan. atau. pimpinan. secara. sadar. oleh. pendidik. terhadap. perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya keprinadian yang utama (insan kamil). Sedangkan Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai ajaran Islam25. Apabila urian di atas diperhatikan maka akan terlihat perbedaan dari ketiga istilah tersebut. At-ta’dim lebih tepat ditunjukan untuk istilah pendidikan akhlaq, jadi sesarannya hanyalah pada hati dan tingkah laku. At-ta’lim tepat digunskan untuk istilah pengajaran yang hanya terbatas pada kegiatan. penyampaian dan pemasukan ilmu pengetahuan.. Sedangkan ta-Tarbiyah mempunyai pengertian yang lebih luas dari Atta’lim dan At-ta’dim. At-tarbiyah adalah mempersiapkan seseorang dengan segala sarana yang bermacam-macam agar ia dapat hidup dan bermafaat dalam masyarakat26. 2. Fungsi Pendidikan Agama Islam Fungsi pendidikan agama Islam secara makro adalah memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya insani yang ada pada subyek 25 26. Ibid., hlm.31 Asnelly Ilyas, Mendambakan Anak Saleh (Bandung: Al-Bayan 1995) hlm 21.

(46) didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya (Insan Kamil) sesuai dengan norma Islam, atau dengan istilah lain adalah menuju terbentuknya kepribadian muslim. Fungsi pendidikan Islam dapat ditinjau dari fenomena yang muncul dalam perkembangan peradapan manusia dengan asumsi bahwa peradapan manusia senantisa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan. Dengan demikian ada beberapa fungsi pendidikan agama Islam sebagai berikut: a. Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitar dan mengenal kebesaran illahi, sehingga tumbuh kreativitas yang benar. b.. Mensucikan diri manusia dari syirik dan berbagai sikap hidup dan prilaku yang dapat menyemari fitrah kemanusiaannya dengan menginternalisasikan nilai-nilai insani dan ilahi pada subjek didik.. c. Mengembangkan. ilmu. pengetahuan. untuk. menompang. dan. memajukan kehidupan baik individu maupun social. Dapat dikatakan bahwa fungsi pendidikan agama Islam adalah memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya insani yang ada pada anak didik menuju kepada terbentuknya manusia seutuhnya (Insan Kamil) sesuia dengan norma Islam yang diridzoi Allah. Yaitu yang dapat mengembangkan. wawasanya,. jati. dirinya,. kreativitasnya,. menginternalisasikan nilai-nilai insani dan ilahiyah yang dapat menopang dan menunjukan kehidupannya baik individu maupun social di dunia maupun di akhirat. Demikian juga peradapan manusia terhadap.

(47) manyarakat dari masa kemasa semakin berkembang kea rah satu kemajuan dan kemajuan ini diperoleh melalui interaksi komunikasi social yang intensif. Semakin intens dalam berinteraksi social alam maka semakin cepat pula berkembangan peradapan untuk kemajuan27. 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam a. Tujuan Umum Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan umum ini berbeda dengan pola taswa harus dapat tergambar pada pribadi seseorang yang sudah didik, walaupun dalam ukuran dna mutu yang rendah, sesuai dengan tingkat-tingkat tersebut Tujuan umum pendidikan agama Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional Negara tempat pendididkan agama Islam itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu. Tujuan umum itu tidak dapat dicapai kecuali setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan keyakinan akan kebenaran. b. Tujuan Akhir Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia berakhir pula. Tujuan 27. Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam (Yokyakarta: Pustaka Pelajar 2005) hlm 333.

(48) umum yang terbentuk insan kamil dengan pola taqwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mepertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang sudah taqwa dalam bentuk insan kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalkam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurangkurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal. Tujuan akhir pendidikan agama Islam dapat dipahami dalam firman Allah surat Ali-Imron: 102.             . Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam28. Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari taqwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat dianggap sebagai tujuan akhirnya. Insan kamil yang mati dan. 28. Departemen Agama, op.cit, hlm 63.

(49) aakn menghadap Tuhanya merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan Islam29. c. Tujuan Sementara Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan oprasional dalam bentuk tujuan instruksional yang dikembangkan menjadi tujuan uinstruksional umum dan khusus, dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda. Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola taqwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurangkurangnya beberapa ciri pokok merupakan suatu lingkaran yang pada tingkat paling rendah mungkin merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkatan pendidikanya, lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak dari tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk lingkaranya sudah harus kelihatan. Bentuk lingkaran inilah yang menggambarkan insan kamil itu. Disinilah barangkali perbedaan mendasar bentuk tujuan pendidikan Islam dibandingkan dengan pendidikan lainya30. d. Tujuan Operasional Tujuan oprasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejulah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan 29 30. Zakariya darajat, op.cit, hlm 31 Ibid., hlm. 31.

(50) dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan oprasional. Dalam tujuan oprasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan ketrampilan tertentu. Sifat oprasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribasian. Untuk tingkat yang paling rendah, tingkat yang berisi kemampuan dan ketrampilanlah yang ditonjolkan31. e. Tujuan Pendidikan agama Islam di Taman Kanak-kanak Tujuan pendidikan agama Islam di taman kanak-kanak yaitu untuk membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis maupun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, social emosional, kognitif bahasa, fisik atau motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Selain tujuan-tujuan pendidikan Islam di atas tujuan pendidikan Islam juga harus dapat mengupayakan kebahagian di dunia dan di akhirat, menghambah diri kepada Allah, memperkuat keIslamannya, melayani kepentingan masyarakat Islam dan akhlak mulia. Teunku Amirudin, menyatakan pendidikan Islam bertujuan untuk: 1) Mewujudkan cendikiawan muslim yang bertakwa dan berakhlak mulia, cerdas, cakap, trampil dan bertanggung jawab terhadap kemaslahatan umat. 2) Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau professional untuk menyelesaikan tugas-tugas dan kewajibanya sehari-hari, yaitu 31. Ibid., hlm. 32.

(51) dengan jalan menerapkan dan mengembangkan ilmu dan keterampilan dan teknilogi yang ada pada dirinya masing-masing di lingkungannya. 3) Mengembangkan. dan. menyebarkan. ilmu. pengetahuan. dan. teknologi di lingkungan kerjanya sehari-hari sehingga menemukan teknologi baru yang lebih bermanfaat bagi manusia. Jadi pendidikan Islam harus berupaya membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan menyeluru (insan kamil) dalam aspek kehidupan yang berbudaya dan beradaban yang tercemin dalam kehidupan manusia bertakwa edan betiman, berdemokrasi dan merdeka,. berpengetahuan,. berketerampilan,. beretos. kerja. dan. professional, beramal saleh, berkepribadian, bermoral agung dan berakhlakul. karimah,. berkemampuan. inovasi. dan. mengakses. berubanhan serta berkemampuan kompetitif dan kooperatif dalam era global dan berfikir local dalam rangkah memperoleh kesejahteran, kebahagian dan keselamatan dunia dan akhirat32. 4. Kurikulum Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Kurikulum Pada mulanya istilah kurikulum dijumpai dalam dunia statistic pada zaman yunani kuno, yang berasal dari kata curir yang berarti pelari dan curere tempat berpacu atau tempat berlombah. Sedangkan curriculum memiliki arti jarak yang harus ditempuh oel pelari. 32. Hujair AH Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta:Safiria Insani Press 2003) hlm 157.

(52) Perkembangan. selanjutnya. kurikulum. digunakan. dalam. dunia. pendidikan dan pengajaran, dan pada devinisi ini terkandung makna bahwa makna kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran di sekolah yang atau diakademik yang harus ditempuh oleh siswa untuk memperoleh suatu degree (tingkatan) atau ijazah33. Berdasarkan konsepsi baru kurikulum dapat diartikan sebagai semua pengetahuan, kegiatan-kegiatan belajar yang diatur secara sistematis metodis yang diterma anak untuk mencapai suatu tujuan34. b. Pengertian Kurikulum Pendidikan Agama Islam Bahan-bahan pendidikan agama berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama. Atau dengan kalimat sederhana kurikulum pendidikan agama adalah semua pengetahuan, aktifitas atau kegiatan-kegiatan dan juga pengalamanpengalaman yang denagn sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka mencapai pendidikan agama. c. Pengertian Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Taman Kanak-kanak Kurikulum bukanlah sekedar kumpulan materi yang diberikan dalam jangka waktu tertentu kepada anak didik, namun kurikulum disini meliputi material dan pengalaman belajar di sekolah, jadi 33. Syafrudin Nurdin dkk, Guru Profesional & implementasi kurikulum (Jakarta: ciputat pers 2003) hlm33 34 Zuharini, dkk, Metodelogi Pendidikan Agama Islam (Solo: Ramadhani 1993) hlm 53.

(53) seluruh aktivitas dan apa saja yang dapat diindera oleh anak adalah kurikulum. Kurikulum Taman Kanak-kanak dikembangkan berdasarkan integrated curriculum (kurikulum terintegrasi) dengan pendekatan tematik. Kurikulum diorganisasikan melalui suatu topik atau tema. Untuk memilih tema yaitu: ada keterkaitannya, kesempatan untuk menerapkan keterampilan, kemungkinan adanya sumber, minat guru. d. Bentuk-bentuk Kurikulum Ada berbagai bentuk organisasi kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli dalam pendidikan yakni35: 1) Kurikulum terpisah-pisah Artinya adalah amata pelaharan mempunyai kurikulum tersendiri dan satu dengan lainnya tidak ada kaitannya, karena masingmasing mata pelajaran mempunyai organisasi yang terintegrasikan. 2) Kurikulum saling berkaitan Antara masing-masing mata pelajaran ada keterkaitan antara dua mata pelajaran masih ada kaitannya. Dengan demikian anak mendapatkan kesempatan untuk melihat keterkaitan antara mata pelajaran, sehingga anak masih dapat belajar mengintegerasikan walupun hanya antara dua mata pelajaran saja. 3) Kurikulum terintegerasikan Dalam kurikulum ini anak mendapatkan pengalaman luas karena antara mata pelajaran dengan mata pelajaran saling berkaitan. 35. Mansur, op.cit, hlm 114.

(54) Dengan demikian seluru mata pelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh. Adapun pokok-pokok pendidikan yang harus diberikan kepada anak tiada lain adalah ajaran Islam itu sendiri. Ajaran Islam secara garis besar dapat dikelompokan menjadi tiga yakni akidah, ibadah dan akhlak. Maka pokok-pokok pendidikan yang harus diberikan kepada anak meliputi: a) Pendidikan akidah Islam mendapatkan pendidikan akidah pada posisi yang paling mendasar, yakni terposisikan dalam rukun yang pertama dari rukun Islam yang pertama, sekaligus sebagai kunci yang membedakan orang Islam dengan non Islam. Lamanya waktu dakwa rosul dalam rangaka mengajak ummat agar bersedia mentahuidkan. Allah. menunjukkan. betapa. penting. dan. mendasarnya pendidikan akidah Islamiyah bagi ummat muslim pada umumnya. Terlebih pada kehidupan anak, maka dasar-dasar akidah harus terus menerus ditanamkan pada diri anak agar setiap perkembangan dan pertumbuhannya senantiasa dilandasi oleh akidah yang benar. Akidah merupakan suatu keyakinan yang harus ditanamkan kepada anak. Akidah adalah keimanan yang menjadi landasan seseorang menjadi yakin dalam beragama. Cara yang perluh.

(55) ditempuh guna menumbuh suburkan akidah yang ada dalam diri seseorang anak adalah melalui tiga tahapan: (1).Melalui pemahaman dan pengertian. Caranya adalah dengan membangkitkan pemikiran serta pendapat yang dapat diterima oleh sang anak, menjelaskan berbagai nilai lebih di tengah kehidupan masyarakat bila orang itu memiliki aqidah serta menunjukan berbagai dampak bila orang itu tidak beraqidah. Kemudian mengarahkan pendangan dan pemikiran anak agar dia dapat merenungkan kejadian alam ini dan membimbingnya kea rah iman kepada Allah sang pencipta yang telah menciptakan segalah yang maujud di alam raya ini. (2).Melalui anjuran dan imbauan. Adapun caranaya adalah dengan jalan membangkitkan kecenderungan serta rasa cinta sang anak serta membangkitkan perasaannya tertuju pada aqidah. Tidak sulit membimbing anak-anak yang masih kecil untuk cinta kepada Allah yang telah membemberikannya kenikmatan yang tidak terbilang. (3).Melalui latihan membiasakan diri serta berulang-ulang. Caranya adalah dengan membangkitkan rasa keberagamaan pada diri anak melalui berbagai ujian dan kebiasaan yang dikaitkan dengan akidah36.. 36. Samsul Munir Amin, Menyiapkan Masa Depan Anak Secara Islam (Jakarta: Amzah 2007) hlm 119.

(56) Dan materi yang diajarkan pada anak usia dini atau taman kanak-kanak pada bidang aqidah atau keimanan adalah sebagai berikut: (a) Mengenal Allah melalui ciptaannya.  Dari jenis manusia.  Dari jenis hewan.  Dari jenis tanaman.  Dari jenis alam. (b) Mengenal Allah melalui sifatnya.  Allah maha esa.  Allah maha kuasa.  Allah maha melihat.  Allah maha mendengar. (c) Mengenal kitab Al-qur’an dan arti yang terkandung di dalamnya.  Surat Al-fatihah.  Surat Al-ikhlas.  Surat Al-kausar.  Surat An-nas (d) Mengenal rosul sebagai utusan Allah.  Nabi Muhammad.  Nabi Ismail.  Nabi Musa..

(57)  Nabi Yunus. (e) Mengenal nama malaikat dan tugasnya.  Malaikat Rokib.  Malikat Atit.  Malaikat Ridwan.  Malaikat Jibril37. b) Pendidikan ibadah Tata peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqih Islam itu hendaknaya diperkenalkan sedini mungkin agar kelak mereka tumbuh menjadi insan yang benar-benar takwa, yakni insan yang taat melaksanakan segala perintah dan taat pula dalam menjahui segala larangannya. Ibadah sebagai realisasi dari akidah Islaminya harus tetap terpancar dan teramalkan dengan baik oleh setiap anak. Materi ibadah yang diajarkan pada usia dini atau taman kanak-kanak adalah sebagai berikut: (a) Mengenal sholat lima waktu.  Gerekan-gerakan sholat.  Waktu sholat.  Tempat sholat.  Alat sholat. (b) Mengenal bersuci.  Suci dari hadas kecil. 37. Hindun Rahmawati, materi pembelajaran agama islam PADU (Jakarta: departemen pendidikan nasional 2004) hlm 1.

(58)  Tempat yang najis atau kotor. (c) Mengenal berwudhu.  Gerakan-gerakan wudhu.  Urutan wudhu. (d) Mengenal aurot.  Aurot laki-laki.  Aurot perempuan. (e) Mengenal puasa di bulan romadhon.  Waktu puasa.  Sunnah puasa.  Wajib puasa. (f) Mengenal zakat fitrah.  Yang mengeluarkan zakat.  Yang menerima zakat.  Waktunya zakat. (g) Mengenal haji.  Pakaian ihrom.  Tempat haji38. c) Pendidikan akhlak Dalam rangkah menyelamatkan dan memper kokoh akidah Islamiyah anak, pendidikan anak harus dilengkapi dengan pendidikan akhlaq yang memadahi. Dalam al-qur’an sendiri banyak 38. Ibid, hlm 2. sekali. ayat. yang. menyindir,. memerintahkan. atau.

(59) menekatkan pentingnaya akhlaq bagi setiap hambah Allah yang beriman. Maka dalam rangkah mendidikan akhlaq kepada anakanak, selain diberikan keteladanan yang tepat juga harus ditunjukan tentang bagaimana harus menghormati orang lain. Sedangkan materi akhlak yang diajarkan pada anak usia dini atau taman kanak-kanak adalah sebagai berikut: (a) Mengenal akhlak kepada Allah.  Doa makan dan sesudah makan.  Doa tidur dan bangun tidur. (b) Mengenal akhlak kepada sesama atau lingkungan.  Mengucap salam.  Mengucap terima kasih.  Tidak merusak tanaman. (c) Mengucap kalimat thoyyibah.  Hamdallah.  Astagfirallah.  Subhanallah39. e. Standar Kompetensi Lintas Kurikulum Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat, serta kecakapan hidup yang diperlukan anak untuk mencapai seluruh potensi dalam kehidupan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang dibakukan yang harus dicapai oleh anak melalui pengalaman belajarnya. Standar kompetensi 39. Ibid, hlm 2.

(60) ini meliputi: (1).Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban, saling menghargai dan memberi rasa aman, sesuai dengan ajaran agama Islam (2).Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan. gagasan. dan. informasi,. serta. untuk. berinteraksi dengan orang lain. (3).Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep dan teknikteknik, pola, struktur, dan hubungan. (4).Memilih, mencari dan menerapkan teknologi an informasi yang diperlukan dari berbagai sumber. (5).Memahami dan menghargai dunia fisik, makhluk hidup da teknologi, serta meggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilainilai untuk mengambil keputusan yang tepat. (6).Berpartisipasi, berinteraksi dan berperan aktif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya, geografis dan historis. (7).Berkreasi dan menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta. menerapkan. nilai-nilai. luhur. untuk. meningkatkan. kematangan pribadi menuju masyarakat yang beradab. (8).Berpikir logis, kritis, dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan. (9).Menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri.

(61) dan bekerja sama dengan orang lain40. 5. Metode Pendidikan Agama Islam a. Pengertian Metode Pendidikan Agama Islam Seorang guru taman kanak-kanak sebelum melaksanakan program kegiatan belajar terlebih dahulu perlu memperhatikan tujuan program kegiatan taman kanak-kanak dan ruang lingkup program kegiatan belajar taman kanak-kanak. Metode merupakan carayang dalam fungsinya alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidakl selamanyaberfungsi secara memadai. Oleh karena itu dalam memilih suatu metode yang akan dipergunakan dalam program kegiatan di taman kanak-kanak perlu memiliki alas an yang kuat. b. Penggunaan Metode di Taman Kanak-kanak Ada beberapa metode menurut moeslichatoen, sebagai berikut: 1) Metode bermain Bermain merupakn bentuk kegiatan yang memberikan yang memberikan kepuasan pada diri anak yang bersifat non serius, lentur dan bahn mainan tergantung dalam kegiatan dan yang secara imajinatif ditransformasi sepadan dengan dunia anak dewasa. Bermain memiliki makna penting bagi pertumbuhan anak.menurut Hildebrand ada enem belas nilai bermain bagi anak-anak: a) Bermain membantu pertumbuhan anak. b) Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara suka rela. 40. www.google.com.

(62) c) Bermain memberi kebebasan ank untuk bertindak. d) Bermain memberikan dunia khayal yang dapat dikuasai. e) Bermain memiliki unsure pertualangan di dalamnya. f) Bermain meletakkan dasar pengembangan bahasa. g) Bermain memberi kesempatan untuk menguasai diri secara fisik. h) Bermain memperluas minat dan pemusatan perhatian. i) Bermain merupakan cara anak untuk menyelidiki sesuatu. j) Bermain merupakan cara dinamis untuk belajar. k) Bermain menjernikan pertimbangan anak. l) Bermain dapat distuktur secara akademis. m) Bermain merupakan kekuatan hidup. n) Bermain merupakan sesuatu yang esensial bagi kelestarian hidup manusia41. Oleh karena itu besar nilai bermain dalam kehidupan anak, maka pemanfaatan kegiatan bermain dalam pelaksanaan program kegiatan anak TK merupakan syarat mutlak yang sama sekali tidak bias diabaikan. Bagi anak TK belajar adalah bermain dan bermain sambil belajar 42.. 2) Metode karya wisata 41. Hildebrand, introduction to early childhood education (new york: mac Milan publishing company 1984) hlm 55 42 Moeslihatoen, metode pengajaran di taman kanak-kanak(Jakarta: PT Rineka Cipta 1999) hlm25.

(63) Karya wisata merupakan salah satu metode melaksanakan kegiatan pengajaran di TK dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung yang meliputi manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Berkayawisata. mempunayi. makna. penting. bagi. perkembangan anak karena dapat membangkitkan minat anak kepada sesuatu hal, memperluas perolehan informasi. Juga memperkaya lingkungan program kegiatan belajar anak TK yang tidak mungkin dihadirkan di kelas, seperi melihat beraneka macam hewan, mengamati proses pertumbuhan, tempat-tempat khusus dan pengelolahannya, beraneka macam kegiatan transportasi,lembaga social dan budaya. Jadi karya wisata anak dapat belajat pengalaman. sendiri. dan. sekaligus. anak. dapat. melakukangeneralisasi berdasarkan sudut pandang mereka 43. Dengan mengamati secara langsung anak akan memiliki kesan yang sesuai dengan penagamatannya. Dan pengamatan ini diperoleh melalui panca indra yakni mata, telinga, lidah, hidung atau penglihatan pendengaran, pengecapan pembahuan dan perabaan. 3) Metode bercakap-cakap Bercakap-cakap merupakan salah saatu bentuk komunikasi antar pribadi. Berkomunikasi merupakan proses dua arah, untuk. 43. Ibid, hlm 26.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang dilakukan oleh Pamungkas tahun 2019 pada ikan zebra ( Danio rerio ) fase juvenille yang dipapar malathion secara

a. Kota Tarakan termasuk rawan bencana banjir, dan longsor, pohon tumbang, kecelakaan laut, gempa serta abrasi pantai. Terkait dengan shelter buat para pengungsi juga

Berdasarkan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk menganalisis senyawa fenolik pada

Memberikan rancangan regulasi atau konsep penerapan teknologi blockchain dalam pengamanan data dan informasi digital PT serta memberikan desain proses bisnis

Persamaan fungsi alih plant tersebut dikombinasikan dengan parameter lain pada Gambar 2 akan menghasilkan persamaan fungsi alih perangkat pengatur posisi sumber

Di atas atap kamar operasi, terangkai sistem ducting untuk mengalirkan udara bersih dan bertekanan yang disaring oleh sistem hepafilter utama (outlet tepat pada area

Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang: 2015.18 Penelitian pertama dilakukan oleh Lely Grace Damayani, yang berjudul mengenai Upaya

Dalam pemberian pelayanan yang berkulitas baik yang perlua diperhatikan adalah tiga aspek yakni SDM (pelatihan, pengalaman dan pendidikan) dan prasana dan sarana menunjukkan