BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masyarakat Simalungun memiliki suatu pertunjukan seni yang dikenal dengan istilah toping-toping.Toping-toping merupakan suatu seni pertunjukan yang menggunakan topeng wajah manusia dan topeng burung enggang dengan iringan musik tradisional Simalungun.Dalam penyajian toping-toping, penari yang memakai topeng burung enggang bergerak sebagaimana layaknya seekor kuda yang dalam bahasa Simalungun disebut dengan huda. Sehingga tari inisering juga disebut dengan tari huda-huda.
Tari toping-toping adalah salah satu bentuk kesenian yang telah diwarisi dari masa lampau. Kebudayaan khususnya kesenian tari toping-toping ini merupakan tradisi yang secara turun-temurun diwarisi oleh masyarakat Simalungun. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan1, hal ini disebabkan untuk memenuhi kebutuhan upacarasayurmatua2
1Wawancara dengan beberapa grup pemain toping-toping pada saat pesta rondang
bittang.
2 Jenis-jenis kematian usia lanjut yang dikenal dalam masyarakat Simalungun yaitu (1)
namatei sayurmatuah, (2) namatei sayurmatua, dan (3) namatei matua. Namatei sayur matuah
adalah seseorang yang meninggal dalam usia lanjut, mempunyai anal laki-laki dan perempuan. Telah mempunyai cucu dari anak laki-laki dan dari anak perempuan, serta tidak ada lagi anaknya yang belum berkeluarga. Namatei sayur matua adalah seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut yang mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, namun masih ada yang selum berumah tangga. Namatei matua adalah seseorang yang meninggal dalam usia lanjut, telah mempunyai cucu, namun masih ada anaknya yang belum menikah.
di daerah kecamatan setempat. Upacara kematian pada masyarakat Simalungun terbagi menjadi dua bagian, yaitu mandingguri dan mangiliki. Mandingguri adalah suatu acara yang
▸ Baca selengkapnya: topeng merupakan tiruan wajah untuk memerankan suatu karakter atau
(2)ditampilkan pada malam hari dengan memberikan penghormatan melalui penabuhan musik dan tari yang disajikan kepada keluarga yang berduka dengan menari mengelilingi jenazah. Sedangkan mangiliki adalah suatu acara yang dilakukan pada siang hari untuk menyambut para pelayat dengan menampilkan tarian toping-toping. Begitulah pada dasarnya bahwa tarian toping-toping digunakan untuk upacara kematian.
Pada zaman kerajaan Simalungunyaitu zaman kerajaan Nagur3, tari
toping-toping ini pertama kali digunakan pada konteks upacara kemalangan. Hal
ini diawali ketika istri raja yang terus-menerus menangis karena puteranya yang meninggal dunia. Dalam hal ini, penyajian tari toping-toping pada awalnya hanya digunakan untuk menghibur istri raja saja dan hal ini dilakukan oleh beberapa
paragat4tanpa sebuah konsep yang jelas, dan pada dasarnya para penari
toping-toping menggunakan gerakan yang lucu-lucu. Pada masa zaman pecahnya
kerajaan Nagur, terbagilah kerajaan Simalungun menjadi empat bagian yang disebut dengan kerajaan Maropat5. Seiring berjalannya waktu, setelah terjadi pemekaran kerajaan pada masa itu yaitu pada masa kerajaan Napitu6
3Kerajaan Nagur merupakan pemerintahan tradisional tertua yang pernah dikenal dalam masyarakat Simalungun. Menurut sumber Tiongkok pada tahun 1416 kerajaan Nagur teletak di daerah Pidie dekat pantai barat Aceh. (Buku Tole Den Timorlan Das Evangelium 2003:30-34 )
4Paragat dalam masyarakat Simalungun merupakan sebutan orang atau petani yang mengambil tuak di ladang. Kata par (orang) di sini berupa imbuhan untuk kata dasar agat (pohon agat).
5 Pada tahun 1883 daerah Simalungun dibagi menjadi 4 kerajaan yang terdiri dari kerajaan Siantar (Damanik), Kerajaan Panei (Purba Dasuha), Kerajaan Dolok Silou (Purba Tambak), dan Tanah Jawa (Sinaga).
6Setelah datangnya pemerintahan Belanda, keempat kerajaan Simalungun sebelumnya berkembang menjadi 7 kerajaan dari perkembangan kerajaan Silou yaitu kerajaan Siantar (Damanik), Kerajaan Panei (Purba Dasuha), Kerajaan Dolok Silou (Purba Tambak), Tanah Jawa (Sinaga), Kerajaan Purba (Purba), Raya (Garingging), Kerajaan Silima Kuta (Purba Girsang)
tari toping-toping ini hanya disajikan kepada orang yang sudah berusia uzur dan masih keturunan raja.
Kemudian sesuai dengan perkembangan zaman, penyajian tari
toping-toping dapat dimainkan oleh siapapun. Jika ada salah satu dari anggota keluarga
dalam masyarakat Simalungun, saat dia sudah sayurmatuamaka pertunjukan tari
toping-toping boleh dilaksanakan sebagai hiburan bagi keluarga yang
ditinggalkan.
Istilah toping-toping berasal dari kata toping yang berarti topeng. Pada penyajiannya semua penari memakai topeng sebagai penutup muka. Topeng yang dipakai terdiri dari beberapa bentuk yaitu topeng laki-laki (topingdalahi), topeng perempuan (toping daboru) dan topeng burung enggang (huda-huda).
Toping-toping dalam konteks upacara sayurmatuamemiliki beberapa unsur
yang tidak dipisahkan, yaitu tor-tor, gual dan upacara sayurmatuaitu sendiri.
Tor-tor dalam tradisi Simalungun diartikan sebagai seni gerak yang dapat memberikan
arti, dapat melayani kebutuhan adat juga dapat memenuhi kebutuhan religi serta kebutuhan hiburan. Tor-tor yang dipakai dalam penyajian toping-toping sebagai konteks hiburan adalah tor-tor sombah dan tor-tor huda-huda. Tor-tor sombah merupakan tarian yang berfungsi sebagai penyambut tamu pada awal pertunjukan. Sedangkan tor-tor huda-huda merupakan tarian utama dalam pertunjukan tersebut.
Penyajian tari toping-toping sekarang ini sudah jarang digunakan oleh masyarakat Simalungun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya tari
toping-toping ini hanya digunakan pada upacara sayurmatua, jadi intensitasnya
sedikit sekali. Di samping itu, sudah jarang yang dapat memainkan tari
toping-toping ini. Oleh karena itu, seniman-seniman Simalungun mengangkat tari toping-toping menjadi suatu bentuk seni pertunjukan.
Seperti yang ditradisikan oleh masyarakat Simalungun, tari toping-toping pada dasarnya disajikan pada upacarasayurmatua. Bagi masyarakat Simalungun kematian seseorang layak untuk dihormati dengan mengadakan acara adat-istiadat. Pada saat itulah ada kalanya kematian menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga yang ditinggalkan, di mana orang yang meninggal tersebut sudah memiliki anak yang sudah berkeluarga dan juga memiliki cucu dari setiap anaknya. Orang yang meninggal dalam keadaan sayurmatua dianggap sempurna dalam tradisi Simalungun.
Untuk melengkapi kegiatan upacara sayurmatua maka disajikanlah tari
toping-toping pada siang harinya yang dilakukan pada acara mangiliki tersebut.
Tari toping-toping dalam upacara ini digunakan untuk menyambut kedatangan pihak tamu (tondong) dengan persiapan oleh pihak keluarga mendiang (suhut). Dan sebalik itu masih ada norma-norma yang dilakukan untuk melengkapi dan mendukung kegiatan ini. Untuk pertunjukan maupun penyajian tari ini, penari
toping-toping datang ke rumah duka untuk menghibur para pelayat terkhusus bagi
keluarga yang berduka. Para penari toping-toping ini mengawali aksi mereka dengan menjenguk keluarga yang berduka kemudian beraksi dengan bertingkah lucu untuk menghibur orang-orang yang datang ataupun orang yang berada di sekitar lokasi acara tersebut. Dalam acara ini juga tari toping-toping ini juga
digunakan untuk mengiring sampai ke tempat penguburan yang disajikan sambil menari-nari yang diiringi dengan musiknya.
Masih dalam konteks seni pertunjukan bahwa tari ini sudah disajikan dengan pertunjukan yang berbeda seperti dalam upacarasayur matua. Pada tahun 1980, tari toping-toping sudah digunakan untuk hiburan dan bahkan dipertandingkan. Hal ini dilakukan dalam acara tahunan Simalungun yaitu pesta
Rondang Bittang7
7Rondang Bittang adalah bentuk rutinitas tahunan masyarakat Simalungun untuk tujuan mempererat persatuan dan kesatuan masyarakat Simalungun, dan pada dasarnya ditujukan untuk kegiatan kawula muda masyarakat Simalungun, di mana dulunya acara ini digunakan untuk ajang mencari jodoh oleh para pemuda-pemudi Simalungun. Dalam kesempatan pesta Rondang
Bittang telah dibudayakan bentuk kesenian Simalungun baik itu permainan rakyat, tari
tradisioanl, musik tradisional, umpasa (pantun/puisi Simalungun), lagu rakyat Simalungun, dihar (seni bela diri Simalungun), dan kesenian lainnya. Dengan kegiatan Rondang Bittang ini pula segala jenis bentuk kesenian ini dipertunjukkan dan dipertandingkan antar kecamatan yang ada di kabupaten Simalungun.
. Pesta Rondang Bittang ini pada dasarnya merupakan acara
pesta untuk para muda-mudi di seluruh kecamatan yang berada di seluruh kecamatan yang berada di kabupaten Simalungun. Di samping itu dalam acara tahunan Rondang Bittang telah diatur oleh pemerintah setempat dalam kabupaten Simalungun di setiap kecamatannya untuk menyediakan seni budaya Simalungun. Dan dalam acara itu dipertandingkan seni budaya Simalungun untuk memeriahkan acara tersebut yang termasuk di dalamnya tari toping-toping. Namun, hanya beberapa kecamatan saja yang menampilkan tari
toping-topingdikarenakan hanya sedikit yang dapat memainkan tari toping-toping dan
keterbatasan perlengkapan, seperti pakaian (kostum) dan properti-properti lainnya untuk mendukung tari toping-toping ini.
Terkait dengan pertunjukan tari toping-toping dalam pesta rondang bittang tersebut, tari ini disajikan dengan menyerupai kegiatan sayurmatua juga. Dalam hal ini ada sejumlah norma-norma tradisi yang dilewatkan seperti upacara
sayurmatua yang biasa dilakukan. Kegiatan toping-toping di sini didukung oleh
objek-objek yang membuatnya terasa nyata dipertunjukan. Dalam pesta rondang
bittang tersebut mempertunjukkan beberapa tari toping-toping dari berbagai
kecamatan untuk diperlombakan sebagai salah satu bentuk kreativitas masyarakat Simalungun.
Dari hasil pengamatan di lapangan8
Tidak hanya dalam seni pertunjukannya saja, keberadaan musik iringan dalam tari toping-toping merupakan hal yang berkaitan juga. Dimana musik menjadi pembentuk suasana, dan juga untuk memperjelas tekanan gerakan. Adapun ensambel musik dalam masyarakat Simalungun yang umum digunakan sebagai musik pengiring diantaranya gonrang sidua-dua dan gonrang sipitu-pitu. penulis melihat bentuk koreografi yang tersusun dengan tarian toping-toping yang diiringi oleh gonrang sipitu-pitu. Dari penampilan tersebut saya juga mengamati beberapa gerakan yang diadaptasi dari beberapa gerakan khas Simalungun yang memiliki makna tersendiri seperti
manerser, marsombah, mangondak, lakkah sitolu-tolu, dan lakkah huda-huda.
Gerakan-gerakan tersebut sangat menonjol dalam kebudayaan tradisi Simalungun. Setiap gerakan yang ditunjukkan disesuaikan dengan penyajian pertunjukan tersebut dengan suasana yang dibentuk oleh objek yang ada di lokasi pertunjukan dan juga oleh musik pengiringnya sendiri.
Untuk mengiringi pertunjukan toping-toping, ensambel yang digunakan awalnya adalah gonrang sidua-dua. Namun, sekarang ini sudah mengalami perubahan. Ensambel yang digunakan adalah gonrang pitu. Ensambel gonrang
sipitu-pitu terdiri dari satu buah sarune bolon (serunai, double reeds aerophone) sebagai
pembawa melodi, tujuh buah gonrang (gendang, double head membranophone) sebagai pembawa ritem, dua buah mongmongan (sejenis gong ukuran kecil,
idiofon), dan dua buah ogung (sejenis gong berukuran besar, idiofon) sebagai
pembawa tempo. Repertoar yang digunakan adalah gual9
Melihat hal-hal di atas, maka penulis tertarik dan juga layak mengkaji pertunjukan toping-toping ini untuk menjadi bahan ilmiah. Perihal tulisan ini penulis akan melihat tiga kelompok pemain toping-toping yang disajikan dalam pesta rondang bittang tersebut. Dalam hal ini disebabkan karena penulis melihat beberapa perbedaan dan persamaan yang diperagakan oleh setiap kelompoknya. Setiap kelompoknya menampilkan bentuk kreativitas yang berbeda untuk menarik perhatian penontonnya. Dari pertunjukan tersebut juga dapat dilihat bagaimana pengadaptasian yang dilakukan seperti upacara sayurmatua sehingga dapat dilihat makna-makna yang berbeda dalam konteks pertunjukan tersebut. Dan didukung oleh pendapat Barbara Krader
huda-huda.
10
9 Repertoar tradisional Simalungun
10 Barbara Krader dalam tulisannya berjudul Ethnomusicology dari buku terjemahan
Etnomusikologi: Definisi dan Perkembangannya oleh Rizaldi Siagian.
bahwa etnomusikologi pada dasarnya berurusan dengan budaya yang masih hidup yang termasuk di dalamnya musik dan tari. Sehingga tulisan ini dimaksudkan untuk melihat semua komponen-komponen yang terdapat dalam pertunjukan tari toping-toping yang termasuk di dalamnya
tari, musik, properti yang digunakan, dan juga persiapan yang dilakukan oleh tiga kelompok pemain toping-toping tersebut. Untuk itu penulis akan meneliti dan mengkaji tulisan ini untuk dijadikan skripsi dengan judul “ANALISIS
PERTUNJUKAN TOPING OLEH TIGA KELOMPOK
TOPING-TOPING PADA PESTA RONDANG BITTANGXXVIII DI DESA SARIBU
DOLOK KECAMATAN SILIMAKUTA KABUPATEN SIMALUNGUN”
1.2Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam tulisan ini adalah
1. Bagaimana pertunjukan tiga kelompoktoping-topingyang disajikan pada pesta Rondang BittangXXVIII di Saribu Dolok?
2. Perlengkapan apa saja yang diperlukan dalam mendukung pertunjukan oleh tiga kelompok toping-topingtersebut pada pesta Rondang BittangXXVIII di Saribu Dolok?
3. Bagaimana pola gerak yang dibawakan oleh tiga
1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan
1. Untuk melihat pertunjukan toping-toping pada pesta Rondang Bittang di Saribu Dolok
2. Untuk mengetahui hal-hal yang mendukung dalam pertunjukan
toping-toping
3. Untuk menganalisis pola gerak toping-toping dan musik pengiringnya
1.3.2 Manfaat
1. Dapat menjadi dokumentasi untuk eksistensi pertunjukan tradisi
toping-toping dalam masyarakat Simalungun
2. Dapat digunakan sebagai bahan perbandingan untuk studi berikutnya sehingga dikaji lebih dalam tentang objek tulisan ini
3. Sebagai sarana untuk memperkenalkan seni tari masyarakat Simalungun kepada masyarakat lainnya, terutama masyarakat di luar Simalungun
1.4 Konsep dan Teori 1.4.1 Konsep
Konsep merupakan kesatuan pengertian tentang suatu hal yang perlu dirumuskan. Untuk memperjelas konsep yang saya gunakan mengenai pertunjukan toping-toping. Dalam penelitian dan penulisan ini yang dimaksud
dengan kata analisis, yaitu penyelidikan dan penguraian terhadap satu masalah untuk mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya serta proses pemecahan masalah yang dimulai dengan dugaan akan sebenarnya (Kamus Umum Bahasa Indonesia:1991).
Pertunjukan juga merupakan sesuatu yang selalu memiliki waktu pertunjukan yang terbatas, awal dan akhir, acara kegiatan yang terorganisir, sekelompok pemain, sekelompok penonton, tempat pertunjukan, dan kesempatan untuk mempertunjukkannya (Siger, 1996:165). Penulis juga menggunakan pendapat Mugiarto (1996:165), yaitu seni pertunjukan yang merupakan tontonan bernilai seni drama, tari, musik yang disajikan sebagai pertunjukan di depan penonton. Dan pertunjukan toping-toping termasuk sebagai seni pertunjukan. Dalam hal ini seni yang terdapat dalam pertunjukan
toping-toping adalah seni musik, properti, dan tari. Musik di sini maksudnya
adalah musik yang digunakan untuk mengiringi setiap grup pemain
toping-toping tersebut dengan instrumen musik yang digunakan. Properti dalam hal ini
merupakan apa saja alat-alat maupun komponen-komponen yang dikenakan oleh penari maupun pemusik untuk mendukung penyajian tari toping-toping tersebut. Sedangkan garis utamanya adalah tari yang digunakan untuk menyajikan tari
toping-toping ini, di mana terdapat pola yang digunakan untuk menampilkannya
dalam bentuk pertunjukan.
Toping-toping adalah salah satu bentuk kesenian tradisional Simalungun
yang memakai media topeng. Dalam hal ini topeng yang digunakan adalah
dipakai oleh tiga orang penari, dimana gerak yang digunakan diadaptasi dari gerakan khas Simalungun dan gerakan burung enggang dan gerakan seekor kuda. Serta menggunakan musik pengiring dari alat musik tradisional Simalungun, yang terdiri dari gonrang sipitu-pitu, sarune bolon, mongmongan dan ogung.
Dalam tulisan ini saya akan menganalisis pertunjukan yang disajikan oleh tiga kelompok pemain toping-toping pada acara rondang bittang. Dari setiap kelompoknya akan menunjukkan beberapa bentuk penyajian yang berbeda, sehingga saya dapat melihat dan menyimpulkan beberapa aspek yang turut berkembang dengan patokan pertunjukan yang selayaknya dilakukan dalam pertunjukan upacara namatei sayur matua.
Rondang Bittang adalah pesta kebudayaan masyarakat Simalungun yang
biasa dilaksanakan setelah panen raya. Pada zaman dahulu masyarakat Simalungun dalam setiap melaksanakan panen hasil-hasil pertanian selalu dilakukan dengan cara bergotong royong, dan selesai panen mereka mengadakan pesta sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam pelaksanaan pesta Rondang Bittang dilaksanakan menari bersama dengan mengenakan pakaian adat Simalungun, serta melaksanakan pertandingan olahraga tradisional dan kesenian Simalungun, diantaranya toping-toping,
hagualon, tor-tor sombah, taur-taur dan urdou-urdou, sordam, tulila, sulim, ilah, tor usihan, cipta lagu Simalungun, margalah, marjelengkat dan marlittun.
1.4.2 Teori
Teori merupakan prinsip-prinsip umum yang ditarik dari fakta-fakta dan mungkin juga dugaan untuk menerangkan sesuatu. Sebagai landasan cara berpikir dalam membahas permasalahan penelitian ini. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat ( 1977:30 ), bahwa pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku, dokumen-dokumen, serta pengalaman kita sendiri merupakan landasan dari pemikiran umtuk memperoleh pengertian tentang teori-teori yang bersangkutan. Teori yang digunakan akan bermanfaat bagi penelitian untuk mengumpulkan data-data dan informasi yang diharapkan.
Dalam menganalisis pertunjukan toping-toping, maka penulis menggunakan teori yang dikatakan Milton Siger (dalam MSPI, 1996:164-165) juga menjelaskan bahwa pertunjukan selalu memiliki: (1) waktu pertunjukan yang terbatas, (2) awal dan akhir, (3) acara kegiatan yang terorganisir, (4) sekelompok pemain, (5) sekelompok penonton, (6) tempat pertunjukan, dan (7) kesempatan untuk mempertunjukkannya.
Edi Sediawaty (1981:48-66) juga mengemukakan bahwa suatu analisis pertunjukan sebaiknya selalu dikaitkan dengan kondisi lingkungan di mana seni pertunjukan tersebut dilaksanakan atau didukung masyarakatnya, pergeseran-pergeseran yang terdapat di dalam pertunjukan, dan kemungkinan yang muncul dari interaksi setiap orang (penyaji dan penyaji), (penyaji dan penonton) diantara variabel-variabel wilayah yang berbeda. Menurut Qurensi (1988:135-136) bahwa analisis proses pertunjukan yang mana dalam proses pertunjukan aspek
yang mendasar terdiri dari ketegasan perilaku dari semua partisipan, musisi, dan penonton, yang semua berinteraksi dalam pertunjukan.
Melihat adanya tiga kelompok tari toping-toping yang akan diteliti, maka saya menggunakan teori komparatif untuk melihat persamaan maupun perbedaan dengan melihat fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang diteliti. Menurut Nazir (2005:58), teori ini akan mengamati secara mendasar objek yang diteliti dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya suatu fenomena tertentu. Maka dari itu dengan melihat aspek-aspek yang mempengaruhi objek tersebut akan dapat membandingkan beberapa sampel yang berbeda. Sehingga dalam mengkaji pola geraknyaakan dibuat dalam bentuk pendeskripsian terhadap tari tersebut yang akan melihat bentuk dan pola yang disajikan oleh ketiga kelompok tersebut. Begitu juga dengan properti-properti yang digunakan oleh setiap kelompoknya.
Untuk mentranskripsi musik pengiringnya, penulis menggunakan teori Nettl (1964:98) yang memberikan dua pendekatan, yaitu: (1) menganalisa dan mendeskripsikan apa yang didengar, dan (2) mendeskripsikan apa yang dilihat dan menulisnya di atas kertas dengan suatu cara penulisan tertentu. Dengan teori ini akan dapat melihat secara konseptual pertunjukan yang dibawakan oleh ketiga kelompok tari toping-toping tersebut dengan musik pengiringnya masing-masing. Mengingat musik yang dibawakan mempengaruhi suasana pertunjukan yang sedang berlangsung.
1.5Metode Penelitian
Untuk memperoleh data secara sistematis, maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu suatu penelitian yang menghasilkan data dengan menggambarkan ataupun memaparkan secara detail berupa ungkapan-ungkapan, suatu data ataupun suatu tingkah laku masyarakat. Di dalamnya juga dilihat penyajian tari toping-toping untuk melihat karakteristik dari tari tersebut. Data yang diperoleh berdasarkan dari sumber data yang tepat melalui kata-kata dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen ataupun bahan lainnya, sumber data tertulis, foto, dan rekaman.
Dalam mengumpulkan data-data yang nantinya dapat digunakan untuk menjawab segala permasalahan yang ada, Nettl (1963:62-64) menawarkan dua kerja lapangan yaitu field work dan desk work. Dalam penelitian lapangan saya berinteraksi langsung dengan penyaji tari toping-toping. Kegiatan ini dilakukan dengan melihat dan mengamati pertunjukan tari tersebut.
1.5.1 Studi Kepustakaan
Dalam melakukan penelitian terhadap objek penelitian, saya melakukan studi kepustakaan agar mendapatkan bahan-bahan tentang kesenian Simalungun khususnya tradisional toping-toping ini. Dan selama studi di lapangan saya telah banyak mengumpulkan bahan-bahan berupa informasi yang berkaitan dengan tulisan ini dengan melakukan banyak wawancara dengan beberapa tokoh
masyarakat Simalungun, pemain toping-toping, hingga orang yang paling berpengalaman di bidang tradisi toping-toping ini.
Bahan tertulis yang berkaitan dengan objek tulisan ini saya cari dari tulisan ilmiah yang sudah pernah dibuat juga dalam skripsi sarjana Etnomusikologi USU dan juga beberapa buku-buku yang mendasar tentang kebudayaan Simalungun. Salah satu tulisan ilmiah yang penting mengenai seni pertunjukan toping-toping ini adalah skripsi sarjana yang ditulis oleh mahasiswa Etnomusikologi Rudi A S yang mendeskripsikan toping-toping pada masyarakat Simalungun.
1.5.2 Kerja Lapangan
Pengumpulan data di lapangan meliputi observasi, wawancara, dan merekam pertunjukan toping-toping, dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi. Sebelumnya saya memulai penelitian ini di bulan November tahun 2012 melaui observasi yang meliputi peninjauan dan pengamatan lokasi-lokasi serta serta melihat pertunjukan toping-toping di beberapa tempat yang berbeda.
Dalam wawancara yang penulis lakukan adalah wawancara terbuka dan tidak berstruktur. Penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak hanya pada satu pokok masalah dan jawaban responden akan dicatat atau direkam dengan menggunakan alat perekam. Dalam hal ini penulis menggunakan wawancara
terfokus dan wawancara bebas. Wawancara terfokus pada pokok permasalahan dari pertanyaan yang penulis ajukan yang berhubungan dengan kebutuhan penelitian.
Penulis juga mengumpulkan data dari beberapa pemain toping-toping, pemusik dan tokoh-tokoh adat Simalungun. Sebelum melakukan wawancara, penulis terlebih dahulu menetapkan informan yang dapat memberikan informasi yang mendukung tulisan.
Dalam penelitian terdapat dua jenis informan, yaitu informan pangkal dan informan kunci. Sebelum melakukan penelitian lapangan penulis melakukan wawancara dengan informan pangkal, yaitu bapak Setia Dermawan Purba selaku dosen Etnomusikologi. Melalui bapak Setia Dermawan Purba penulis mendapatkan informan yang dapat penulis jadikan sebagai informan kunci. Penulis melakukan wawancara dengan mendatangi rumah Bapak Riduan Purba sebagai pemain toping-toping. Penulis tidak terfokus pada satu informan saja, penulis juga melakukan wawancara dengan beberapa pemain toping-toping lain dan orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan toping-toping.
1.5.3 Kerja Laboratorium
Pada tahap akhir penulis melakukan kerja laboratorium, yaitu tahap penganalisisan data yang telah terkumpul dari hasil pengamatan dan wawancara untuk mendapat jawaban dari permasalahan yang ada. Semua data yang diperoleh dikumpulkan dalam kerja laboratorium untuk dianalisis. Penulis juga
melihat beberapa pertunjukan toping-toping di tempat lain sebagai data tambahan agar data yang diperoleh semakin baik. Semua data yang diperoleh diklasifikasikan sesuai dengan jenis dan kebutuhan penulis dengan melihat relevansi dari data tersebut. Pengklasifikasian bertujuan untuk menghindari data yang bertumpang tindih dan untuk mempermudah penulis dalam mengolah data.
Untuk mentranskrip musik, penulis mendengarkan secara detail dan berulang-ulang dari rekaman pertunjukan dan melihat hubungan musik dengan pola gerak tari, sehingga menghasilkan data yang akurat. Hasil dari data yang telah diolah tersebut penulis jadikan sebagai laporan dalam bentuk skripsi.