• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci: kedudukan, pelaku, usaha, konsumen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci: kedudukan, pelaku, usaha, konsumen"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Kedudukan Pelaku Usaha dan Konsumen dalam Hukum Perlindungan Konsumen

Oleh: Iswantoro* Abstrak

Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengacu pada filosofi pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah negara Republik Indonesia. Substansi pokok undang-undang ini terdiri dari tiga asas meliputi: (1) asas kemanfaatan, (2) asas keadilan yang di dalamnya meliputi asas keseimbangan, dan (3) asas kepastian hukum.

Secara umum, hubungan-hubungan hukum baik yang bersifat publik maupun privat dilandaskan pada prinsip-prinsip atau asas kebebasan, persamaan dan solidaritas. Dengan prinsip atau asas kebebasan, subyek hukum bebas melakukan apa yang diinginkannya dengan dibatasi oleh keinginan orang lain dan memelihara akan ketertiban sosial. Dengan prinsip atau asas kesamaan, setiap individu mempunyai kedudukan yang sama di dalam hukum untuk melaksanakan dan meneguhkan hak-haknya. Dalam hal ini hukum memberikan perlakuan yang sama terhadap individu. Sedangkan prinsip atau asas solidaritas sebenarnya merupakan sisi balik dari asas kebebasan. Apabila dalam prinsip atau asas kebebasan yang menonjol adalah hak, maka di dalam prinsip atau asas solidaritas yang menonjol adalah kewajiban, dan seakan-akan setiap individu sepakat untuk tetap mempertahankan kehidupan masyarakat yang merupakan modus survival bagi manusia. Melalui prinsip atau asas solidaritas dikembangkan kemungkinan negara mencampuri urusan yang sebenarnya bersifat privat dengan alasan tetap terpeliharanya kehidupan bersama.

Keseimbangan perlindungan antara pelaku usaha dan konsumen menampakkan fungsi hukum sebagai sarana pengendalian hidup bermasyarakat dengan menyeimbangkan kepentingan-kepentingan yang ada dalam masyarakat atau dengan kata lain sebagai sarana kontrol social. Keseimbangan perlindungan hukum terhadap pelaku usaha dan konsumen tidak terlepas dari adanya pengaturan tentang hubungan-hubungan hukum yang terjadi antara para pihak.

Kata kunci: kedudukan, pelaku, usaha, konsumen A. Pendahuluan

Pembangunan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara meliputi seluruh kehidupan

(2)

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keberhasilannya mensyaratkan adanya partisipasi segenap warga masyarakat yang harus didukung oleh sikap, mental, tekad serta semangat pengabdian dan disiplin yang tinggi dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan/atau golongan.

Titik berat pembangunan nasional diletakkan pada bidang ekonomi, yang merupakan penggerak utama pembangunan. Untuk menyukseskan pembangunan nasional yang menekankan pada bidang ekonomi tersebut, diperlukan tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu di samping berwatak dan berwawasan kebangsaan, harus pula menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian diharapkan sektor industri dan peningkatan sumber daya manusia dapat saling mendukung, sehingga dapat saling memperkuat, saling terkait serta terpadu dengan pembangunan di bidang lainnya yang dilaksanakan seirama, selaras, dan serasi dengan keberhasilan pembangunan bidang ekonomi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional.

Hukum merupakan salah satu bidang yang perlu dibangun untuk memperkokoh bangsa Indonesia di dalam menghadapi kemajuan serta perkembangan ilmu, teknologi, dan seni yang sangat pesat. Masalah hukum bukanlah masalah yang berdiri sendiri, akan tetapi berkaitan erat dengan masalah-masalah kemasyarakatan lainnya. Hal ini senada dengan pernyataan Ismail Saleh bahwa “ekonomi merupakan tulang yang perlu dibangun untuk masyarakat, dan memang benar bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tiang-tiang penopang kemajuan suatu bangsa, namun tidak dapat disangkal bahwa hukum merupakan pranata yang pada akhirnya menentukan bagaimana kesejahteraan yang dicapai tersebut dapat dinikmati secara merata, bagaimana keadilan sosial dapat diwujudkan dalam kehidupan masyarakat, dan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan

dan teknologi dapat membawa kebahagiaan bagi rakyat banyak”.1

Pembangunan perekonomian yang dibina serta dikembangkan tanpa memperhatikan keseimbangan serta ketertiban akan menciptakan ketidakseimbangan. Oleh karena itu, perekonomian harus dibangun serta dibina dengan baik sehingga dapat memberikan sumbangan positif bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat serta kompleks melahirkan berbagai bentuk kerjasama bisnis. Kerjasama bisnis yang terjadi sangat beraneka ragam tergantung pada bidang bisnis apa yang sedang dijalankan. Keanekaragaman kerjasama bisnis ini tentu saja

1 Ismail Saleh, Hukum dan Ekonomi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1990),

(3)

melahirkan masalah serta tantangan baru, karena hukum harus siap untuk

dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang muncul.2

Aturan-aturan hukum itu dibutuhkan karena:

1. Pihak-pihak yang terlihat dalam persetujuan bisnis itu membutuhkan sesuatu yang lebih kuat daripada sekedar janji serta itikad baik saja; 2. Adanya kebutuhan untuk menciptakan upaya-upaya hukum yang

dapat digunakan seandainya salah satu pihak tidak melaksanakan

kewajibannya tidak memenuhi janjinya.3

Dalam konteks sistem hukum perlindungan konsumen

penyelenggaraan perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama dalam konteks pembangunan nasional. Sementara itu, Rancangan Akademik RUU tentang Perdagangan dinyatakan bahwa untuk mewujudkan sistem hukum perlindungan konsumen yang baik, diperlukan beberapa prinsip perlindungan konsumen, yaitu:

1. Hukum perlindungan konsumen harus adil bagi konsumen maupun produsen, jadi tidak hanya membebani produsen dengan tanggung jawab, tetapi juga melindungi hak-haknya untuk melakukan usaha dengan jujur,

2. Aparat pelaksanaan hukumnya harus dibekali dengan sarana yang memadai dan disertai dengan tanggung jawab,

3. Peningkatan kesadaran konsumen akan hak-haknya, dan

4. Mengubah sistem nilai dalam masyarakat ke arah sikap tindak yang

mendukung perlindungan konsumen. 4

Sistem perekonomian yang sehat seringkali bergantung pada sistem perdagangan yang sehat, sehingga masyarakat membutuhkan seperangkat aturan yang dengan pasti dapat diberlakukan untuk menjamin terjadinya sistem perdagangan tersebut. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengkaji kedudukan pelaku usaha dan konsumen dalam hukum perlindungan konsumen.

2 P. Lindawaty S Sewu, "Prospek Pengaturan Hukum Mengenai Franchise di

Indonesia dihubungakan dengan Perlindungan Hukum Bagi Pengusaha Kecil Berdasarkan UU No.9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil", Tesis, Program Studi Magister Hukum Program Pascasarjana-Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 1997, p. 6.

3 Johannes Ibrahim dan Lindawati Sewu, Hukum Bisnis: Dalam Persepsi Manusia

Modern, (Bandng: PT Refika Aditama, 2004), p. 27.

4 Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI dan Pusat Penelitian Sains dan

Teknologi Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Rancangan Akademik (Minimal) Rancangan Undang-undang tentang Perdagangan (Laporan Kelima, 24 Juli 1997), p.63-64.

(4)

B. Pembahasan

1. Sekilas tentang Perikatan

Menurut pasal 1313 KUH Perdata perjanjian didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang terdiri antara satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap orang lain atau lebih.5 Definisi yang diberikan pasal 1313 KUH Perdata tersebut kurang memuaskan karena terdapat kelemahan-kelemahan. Adapun mengenai kelemahan tersebut antara lain sebagai berikut :

a. Dari kata “mengikatkan” sifatnya hanya datang dari satu pihak saja, tidak dari kedua belah pihak. Sebenarnya perumusan itu “saling mengikatkan diri”, jadi ada konsensus sama antara pihak-pihak yang bersangkutan.

b. Dalam pengertian “perjanjian” termasuk tindakan melaksanakan tugas tanpa kuasa, perbuatan yang tidak mengandung konsensus. c. Pengertian “perjanjian” dalam merumuskan pasal ini terlalu luas, hal

ini karena mencakup juga janji kawin adalah hubungan antara suami dan istri dalam lapangan hukum harta kekayaan saja.

d. Dalam perumusan pasal ini tidak disebutkan tujuan mengadakan perjanjian, sehingga pihak-pihak yang mengikatkan diri itu tidak jelas untuk apa.6

Berdasarkan alasan tersebut di atas dapat dirumuskan perjanjian sebagai persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melakukan suatu hal.

Sementara itu, Subekti mendefinisikan perjanjian sebagai suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada orang lain atau dua orang yang

saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.7 Lebih jauh beliau

menerangkan bahwa dalam bentuknya perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.

Pengertian lain yang disampaikan oleh Mertokusumo

mendefinisikan perjanjian sebagai “suatu hubungan hukum antara kedua belah pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan

akibat hukum”.8

Berdasarkan definisi-definisi perjanjian di atas, dapat diketahui

bahwa hukum-hukum perjanjian mempuyai unsur-unsur sebagai berikut:9

5 KUH Perdata pasal 1313.

6 Muhammad, Hukum Perjanjian, (Yogyakarta: Liberty, 1988), p.79. 7 Subekti, Hukum Perjanjian, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1988), p. 1. 8 Mertokusumo, Penemuan Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1992), p. 98. 9 J. Satrio, Hukum Perjanjian, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1992), p. 13-32.

(5)

a. Hubungan Hukum

Unsur ini dimaksudkan untuk membedakan Perikatan sebagai yang dimaksud oleh pembuat undang-undang dengan hubungan yang timbul dalam lapangan moraal dan kebiasaan, yang memang juga menimbulkan adanya kewajiban (kewajiban moreel atau sosial) untuk dipenuhi, tetapi tidak dapat dipaksakan pemenuhannya melalui sarana ban-tuan hukum. Jadi di sana memang ada timbul semacam perikatan, tetapi lain dengan yang kita maksud. Sanksi pelang-garannya didasarkan atas “rasa penyesalan” atau “pengucilan dari pergaulan sosial.”

Pada perikatan (hukum), kalau debitur, tidak memenuhi kewajibannya secara sukarela -dengan baik dan sebagaimana mestinya- maka kreditur dapat minta bantuan hukum agar ada tekanan kepada debitur supaya ia memenuhi kewajibannya, sekalipun seringkali bukan merupakan executie riil.

b. Dalam Lapangan Hukum Kekayaan

Hubungan hukum, dimana disatu pihak ada hak dan dilain pihak ada kewajiban merupakan Perikatan (dalam arti luas). Karena hubungan seperti itu tersebar dalam lapangan yang luas, maka perikatan ada dalam berbagai bidang hukum.

Perikatan yang menjadi pokok pembicaraan dalam penulisan hukum ini adalah perikatan-perikatan dimana hak dan kewajiban yang muncul mempunyai nilai uang atau paling tidak pada akhirnya dapat dijabarkan dalam sejumlah uang tertentu atau yang oleh undang-undang ditentukan diatur dalam Buku III. Hal ini berarti bahwa debitur wanprestasi. Oleh karena itu kreditur harus dapat mengemukakan adanya kerugian finansial untuk menuntut debitur berdasarkan ketentuan-ketentuan Buku III. Dalam hal ini ketika perikatan tidak dipenuhi dengan baik, perikatannya akan mendapatkan penyelesaiannya (opgelost) dalam wujud penggantian biaya, kerugian dan bunga (meskipun bukan suatu keharusan), yang pada umumnya diwujudkan dalam sejumlah uang tertentu. Hal ini berarti bahwa ganti rugi merupakan pengganti prestasi yang terhutang.

Ciri "nilai uang" tersebut mula-mula memang tidak perlu, karena Hukum Perjanjian dalam Hukum Romawi dan pada zaman Abad Pertengahan menganut sistem yang tertutup. Perjanjian diluar yang dikenal dalam perundang-undangan (diluar Perjanjian Bernama) merupakan perikatan moral saja. Namun dengan meluasnya bidang hukum -apalagi dengan dianutnya sistem terbuka- maka orang merasakan adanya kebutuhah atau suatu "ciri" untuk membedakannya

(6)

dari perikatan yang lain, dan ciri itu kemudian ditemukan dalam wujud "nilai uang'' dari prestasi yang bersangkutan. Ciri “nilai uang” bukanlah unsur mutlak, karena di dalam hukum tidak ada yang mutlak.

c. Hubungan Kreditur dan Debitur

Unsur ini secara tegas menyebutkan adanya dua pihak yang saling berhubungan/terikat. Disebut sebagai “pihak” dan bukan “orang”, karena ada kemungkinan dalam suatu bentuk perikatan melibatkan dua orang atau lebih. Namun benar sekali kalau disebutkan bahwa dalam perikatan paling sedikit ada satu kreditur dan satu debitur, karena kreditur maupun debitur bisa saja berupa badan hukum. Hubungan tersebut diatur dalam Buku II, dimana ada hubungan antar person dengan benda atau hubungan person dengan person mengenai suatu benda.

d. Isi Perjanjian

Unsur ini ingin menyatakan bahwa dalam suatu perikatan, ada satu pihak yang disebut sebagai kreditur yang mempunyai tagihan dan ada pihak lain yang disebut sebagai debitur yang mempunyai hutang. Berbagai bentuk tagihan dan hutang tersebut tertuju pada suatu prestasi tertentu. Dengan demikian tagihan kreditur adalah tagihan prestasi dan kewajiban/hutang debitur adalah hutang suatu prestasi tertentu.

2. Hukum Perlindungan Konsumen

Dalam Pasal 2 UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa, “Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan, dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.”

Sementara itu, dalam Penjelasan Pasal 2 UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dijelaskan bahwa:

“Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 (lima) asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu:

a. Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.

b. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil.

(7)

c. Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil dan spritual.

d. Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atasa keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.

e. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen serta negara menjamin kepastian hukum.”

Memperhatikan substansi Pasal 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen beserta penjelasannya, tampak bahwa perumusannya mengacu pada filosofi pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah negara Republik Indonesia.

Kelima asas yang disebut dalam pasal tersebut, bila diperhatikan substansinya, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) asas yaitu:

a. Asas kemanfaatan yang di dalamnya meliputi asas keamanan dan keselamatan konsumen,

b. Asas keadilan yang di dalamnya meliputi asas keseimbangan, dan c. Asas kepastian hukum.

Di antara ketiga asas tersebut yang sering menjadi sorotan utama adalah masalah keadilan, di mana Friedman menyebutkan bahwa: “In terms of law, justice will be judged as how law treats people and how it distributes its benefits and cost”.10

Sebagai asas hukum, dengan sendirinya menempatkan asas ini yang menjadi rujukan pertama baik dalam pengaturan perundang-undangan maupun dalam berbagai aktivitas yang berhubungan dengan gerakan perlindungan konsumen oleh semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum juga oleh banyak jurist menyebut sebagai tujuan hukum. Dalam kenyataan seringkali antara tujuan yang satu dan lainnya terjadi benturan. Dalam kasus hukum tertentu bila hakim menginginkan putusannya “adil” menurut persepsinya, maka akibatnya sering merugikan kemanfaatan bagi masyarakat luas, demikian pula sebaliknya.11 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melalui asas

prioritas yang kasuistis, tujuan hukum untuk mencapai keadilan,

10 Peter Mahmud Marzuki, The Need for the Indonesian Economic Legal Framework,

dalam Jurnal Hukum Ekonomi, Edisi IX, Agustus, 1997, p.28.

(8)

kemanfaatan, atau kepastian hukum semuanya tergantung dari kondisi yang ada atau dihadapi di dalam setiap kasus.

Asas keseimbangan yang dikelompokkan ke dalam asas keadilan, mengingat hakikat keseimbangan yang di maksud adalah juga keadilan bagi kepentingan masing-masing pihak, yaitu konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah. Kepentingan pemerintah dalam hubungan ini tidak dapat dilihat dalam hubungan transaksi dagang secara langsung menyertai pelaku usaha dalam konsumen. Kepentingan pemerintah dalam rangka mewakili kepentingan publik yang kehadirannya tidak secara langsung di antara para pihak tetapi melalui berbagai pembatasan dalam bentuk kebijakan yang dituangkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan.

Keseimbangan perlindungan antara pelaku usaha dan konsumen menampakkan fungsi hukum merupakan sarana pengendalian hidup bermasyarakat dengan menyeimbangkan kepentingan-kepentingan yang ada dalam masyarakat atau dengan kata lain sebagai sarana kontrol sosial.12

Keseimbangan perlindungan hukum terhadap pelaku usaha dan konsumen tidak terlepas dari adanya pengaturan tentang hubungan hukum yang terjadi antara para pihak. Secara umum, hubungan-hubungan hukum baik yang bersifat publik maupun privat dilandaskan pada prinsip-prinsip atau asas kebebasan, persamaan dan solidaritas.

Dalam prinsip kebebasan, subyek hukum bebas melakukan apa yang diinginkannya dengan dibatasi oleh keinginan orang lain dan memelihara akan ketertiban sosial. Dalam prinsip kesamaan, setiap individu mempunyai kedudukan yang sama di dalam hukum untuk melaksanakan dan meneguhkan hak-haknya. Dalam hal ini hukum memberikan perlakuan yang sama terhadap individu. Sedangkan prinsip atau asas solidaritas sebenarnya merupakan sisi balik dari asas kebebasan. Apabila dalam prinsip atau asas kebebasan yang menonjol adalah hak, maka di dalam prinsip atau asas solidaritas yang menonjol adalah kewajiban, dan seakan-akan setiap individu sepakat untuk tetap mempertahankan kehidupan masyarakat yang merupakan modus survival bagi manusia. Melalui prinsip atau asas solidaritas dikembangkan kemungkinan negara mencampuri urusan yang sebenarnya bersifat privat dengan alasan tetap

terpeliharanya kehidupan bersama.13 Dalam hubungan inilah kepentingan

12 Edgar Bodenheimer, Jurisprudence, The Method and Philosophy of Law, Harvard

University, Cambridge, 1962, hlm 111, dikutip dari Peter Mahmud Marzuki, Pembaharuan Hukum Ekonomi Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya, tanpa tahun, p. 3.

13 J. H. P. Bellefroid, Inleiding tot de Rechtswenschap in Nederland, Dekker & Van de

Vegt, Utrecht-Nederland, 1952, hlm. 13, dikutip dari Peter Mahmud Marzuki, Eksistensi Hukum Ekonomi, Makalah, Universitas Airlangga Surabaya, tanpa tahun, p. 3-4.

(9)

pemerintah sebagaimana dimaksudkan dalam asas keseimbangan di atas, yang sekaligus sebagai karakteristik dari apa yang dikenal dalam kajian hukum ekonomi.

Menyangkut asas keamanan dan keselamatan konsumen yang dikelompokkan ke dalam asas manfaat oleh karena keamanan dan keselamatan konsumen itu sendiri merupakan bagian dari manfaat penyelenggaraan perlindungan yang diberikan kepada konsumen di samping kepentingan pelaku usaha secara keseluruhan.

Sebagai bagian dari sistem hukum nasional, salah satu ketentuan UUPK dalam hal ini Pasal 64 (Bab XIV Ketentuan Peralihan), dapat dipahami sebagai penegasan secara implicit bahwa UUPK merupakan ketentuan khusus (lex specialis) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang sudah ada sebelum UUPK, sesuai asas lex specialis deragat legi generali. Artinya, ketentuan-ketentuan UUPK dan/atau tidak bertentangan dengan UUPK. Sebagai suatu sistem, struktur hukum perlindungan konsumen terdiri dari.14

a. Hukum Perdata dalam arti luas terdiri atas hukum dagang

b. Hukum Publik terdiri atas hukum administrasi, hukum pidana, hukum perdata internasional, dan hukum acara perdata/pidana. Dalam Pasal 3 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dijelaskan bahwa:

“Perlindungan konsumen bertujuan:

a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri;

b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;

c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih,

menentukan, dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen;

d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;

e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;

f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin

kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.”

14 Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, (Jakarta: Daya

(10)

Keenam tujuan khusus perlindungan konsumen yang disebutkan di atas bila dikelompokkan ke dalam tiga tujuan hukum secara umum, maka tujuan hukum untuk mendapatkan keadilan terlihat dalam rumusan huruf c, dan huruf e. Sementara tujuan untuk memberikan kemanfaatan dapat terlihat dalam rumusan a, dan b, termasuk huruf c, dan d, serta huruf f. Terakhir tujuan khusus yang diarahkan untuk tujuan kepastian hukum terlihat dalam rumusan huruf d. Pengelompokan ini tidak berlaku mutlak, oleh karena seperti yang dapat kita lihat dalam rumusan pada huruf a sampai dengan huruf f terdapat tujuan yang dapat dikualifikasi sebagai tujuan ganda.

Kesulitan memenuhi ketiga tujuan hukum (umum) sekaligus sebagaimana dikemukakan sebelumnya, menjadikan sejumlah tujuan khusus dalam huruf a sampai huruf f dari Pasal 3 tersebut hanya dapat tercapai secara maksimal, apalagi didukung oleh keseluruhan subsistem perlindungan yang diatur dalam undang-undang ini, tanpa mengabaikan fasilitas penunjang dan kondisi masyarakat. Termasuk dalam hal ini substansi ketentuan pasal demi pasal yang akan diuraikan dikemukakan berhubungan dengan persoalan kesadaran hukum dan ketaatan hukum, yang seterusnya menentukan efektivitas Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sebagaimana dikemukakan oleh achmad Ali bahwa kesadaran hukum, ketaatan hukum, dan efektivitas perundang-undangan adalah tiga

unsur yang saling berhubungan.15

Dalam kerangka hukum-hukum sektoral, UUPK dapat dipandang sebagai suatu sistem perlindungan (hukum) terhadap konsumen. Sebagai suatu bidang hukum baru, UUPK merupakan hukum yang dibutuhkan di bidang ekuin (ekonomi, keuangan dan industri) dan kesra (kesejahteraan rakyat).

Sementara itu, sendi-sendi pokok pengaturan perlindungan konsumen, meliputi:16

a. Kesederajatan antara konsumen dan pengusaha. b. Konsumen mempunyai hak.

c. Pengusaha mempunyai kewajiban.

d. Pengaturan mengenai perlindungan konsumen menyumbang pada pembangunan nasional.

e. Peraturan tidak merupakan syarat.

f. Perlindungan konsumen dalam iklim hubungan bisnis yang sehat.

15 Achmad Ali, Menjelajahi Kajian Empiris terhadap Hukum, (Jakarta: Yarsif

Watampone, 1998), p. 191.

16 A. Zen Umar Purba, “Perlindungan Konsumen: Sendi-sendi Pokok

(11)

g. Keterbukaan dalam promosi produk. h. Pemerintah berperan aktif.

i. Peran serta masyarakat.

j. Implementasi asas kesadaran hukum.

k. Perlindungan Konsumen memerlukan penerobosan konsep-konsep hukum tradisional.

l. Konsep perlindungan konsumen memerlukan pembinaan sikap.

3. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha a. Hak Pelaku Usaha

Menurut Pasal 6 UUPK pelaku usaha memiliki hak-hak sebagai berikut:

1). Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

2). Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;

3). Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;

4). Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

5). Hak-hak yang diatur ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Hak pelaku usaha untuk menerima pembayaran sesuai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan, menunjukkan bahwa pelaku usaha tidak dapat menuntut lebih banyak jika kondisi barang dan/atau jasa yang diberikannya kepada konsumen tidak kurang memadai menurut harga yang berlaku pada umumnya atas barang dan/atau jasa yang sama. Dalam praktek yang biasa terjadi, suatu barang dan/atau jasa yang kualitasnya lebih rendah daripada barang yang serupa, maka para pihak menyepakati harga yang lebih murah. Dengan demikian yang dipentingkan dalam hal ini adalah harga yang wajar.

Menyangkut hak pelaku usaha yang tersebut pada huruf b, c, dan d, sesungguhnya merupakan hak-hak yang lebih banyak berhubungan dengan pihak aparat pemerintah dan/atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen/pengadilan dalam tugasnya melakukan penyelesaian sengketa. Melalui hak-hak tersebut diharapkan perlindungan konsumen secara berlebihan hingga mengabaikan kepentingan pelaku usaha dapat dihindari. Satu-satunya yang berhubungan dengan kewajiban konsumen atas hak-hak pelaku usaha yang disebutkan pada huruf b, c, dan d tersebut adalah

(12)

kewajiban konsumen mengikuti upaya penyelesaian sengketa sebagaimana diuraikan sebelumnya.

Terakhir tentang hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya, seperti hak-hak yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang-Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Undang-Undang Pangan, dan undang-undang lainnya. Berkenaan dengan berbagai undang-undang-undang-undang tersebut, maka harus diingat bahwa Undang-Undang perlindungan Konsumen adalah payung bagi semua aturan lainnya berkenaan dengan perlindungan konsumen.

b. Kewajiban Pelaku Usaha

Selain hak, pelaku usaha juga memiliki kewajiban yang diatur dalam Pasal 7 UUPK, meliputi:

1). beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahnya;

2). memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengnai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbikan, dan pemeliharaan;

3). memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

4). menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

5). memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan; 6). memberi kompensasi ganti rugi, dan/atau pergantian apabila

barang/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan konsumen tidak sesuai dengan perjanjian.

Kewajiban pelaku usaha beritikad baik dalam melakukan kegiatan usaha merupakan salah satu asas yang dikenal dalam dalam hukum perjanjian. Ketentuan tentang itikad baik ini diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) yang menyatakan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Sedangkan Arrest H.R. di Negeri Belanda memberikan peranan tertinggi terhadap iktikad baik dalam tahap pra perjanjian, bahkan kesesatan ditempatkan di bawah asas iktikad baik, bukan lagi pada teori kehendak.

Asas sikap berhati-hati merupakan perkembangan asas iktikad baik. Berdasarkan asas sikap hati-hati dalam perjanjian tersebut dapat disimpulkan adanya beberapa kewajiban seperti kewajiban meneliti, kewajiban untuk memberi keterangan, kewajibn untuk membatasi

(13)

kerugian, kewajiban untuk membantu perubahan-perubahan dalam pelaksanaan perjanjian kewajiban untuk menjauhkan diri dari persaingan, kewajiban untuk memelihara mesin-mesin yang dipakai dan sebagainya. Rumusan tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan hubungannya dengan kewajiban berhati-hati di luar perjanjian serta untuk mencegah kesalahpahaman tentang pengertian iktikad baik.17

Dalam UUPK tampak bahwa iktikad baik lebih ditekankan pada pelaku usaha, karena meliputi semua tahapan dalam melakukan kegiatan usahanya, sehingga dapat diartikan bahwa kewajiban pelaku usaha untuk beriktikad baik dimulai sejak barang dirancang/diproduksi sampai pada tahap purna penjualan, sebaiknya konsumen hanya diwajibkan beriktikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa. Hal ini tentu saja disebabkan karena kemungkinan terjadinya kerugian bagi konsumen dimulai sejak barang dirancang/diproduksi oleh produsen (pelaku usaha), sedangkan bagi konsumen, kemungkinan untuk dapat merugikan produsen mulai pada saat melakukan transaksi dengan produsen.

Berkaitan dengan pemberian informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan, pelaku usaha harus menyampaikan informasi secara benar terhadap konsumen mengenai suatu produk. Hal ini untuk mencegah agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai suatu produk tertentu. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut dapat berupa representasi,

peringatan, maupun yang berupa instruksi.18 Penyampaian informasi yang

benar merupakan hak konsumen, karena ketiadaan informasi atau informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan salah satu jenis cacat produk (cacat informasi), yang akan sangat merugikan konsumen.

4. Hak dan Kewajiban Konsumen a. Hak Konsumen

Pembangunan dan perkembangan perekonomian di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah menghasilkan berbagai variasi barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Ditambah dengan globalisasi dan perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan

17 Ahmadi Miru, "Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum bagi Konsumen di

Indonesia", Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Airlannga, Surabaya, 2000, p. 20-21.

(14)

teknologi telekomunikasi kiranya memperluas ruang gerak arus transaksi barang dan/atau jasa. Akibatnya barang dan/atau jasa yang ditawarkan bervariasi baik produksi luar negeri maupun produksi dalam negeri. Kondisi seperti ini di satu pihak mempunyai manfaat bagi konsumen karena kebutuhan akan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar, karena adanya kebebasan untuk memilih aneka jenis dan kualitas barang dan/atau jasa sesuai dengan keinginan dan kemampuan konsumen. Tetapi di sisi lain, dapat mengakibatkan kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen berada pada posisi yang lemah, yang menjadi objek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya oleh pelaku usaha melalui berbagai promosi, cara penjualan, serta penerapan perjanjian baku yang merugikan konsumen. Berkenaan dengan pertimbangan tersebut, maka perlu juga diketengahkan apa yang menjadi hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha yang tercantum dalam Pasal 4 UUPK sebagai berikut:

“Hak konsumen, adalah:

1). Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

2). Hak untuk memilih dan mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

3). Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

4). Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

5). Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

6). Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

7). Hak untuk diperlukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

8). Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau pergantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

8). Hak-hak diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.”

Hak-hak konsumen sebagaimana disebutkan tersebut lebih luas daripada hak-hak dasar konsumen yang tercantum dalam Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia, meliputi:19

19 Lihat Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta:

(15)

1). Hak memperoleh keamanan; 2). Hak memilih;

3). Hak mendapat informasi; 4). Hak untuk didengar.

Dari keempat hak tersebut, Organisasi Konsumen Sedunia

menambahkan empat hak dasar konsumen lainnya, yaitu:20

1). Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup; 2). Hak untuk memperoleh ganti rugi;

3). Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen;

4). Hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Dalam Rancangan Akademik Undang-Undang tentang

Perlindungan Konsumen yang dikeluarkan oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Departemen Perdagangan dikemukakan enam hak konsumen, yaitu empat hak dasar yang disebut pertama, ditambah dengan hak untuk mendapatkan barang sesuai dengan nilai tukar yang diberikannya, dan hak untuk mendapatkan penyelesaian hukum yang patut.

Memperhatikan hak-hak yang disebutkan di atas, maka secara keseluruhan pada dasarnya dikenal 10 macam hak konsumen, yaitu sebagai berikut:

1). Hak atas keamanan dan keselamatan;

Hak atas keamanan dan keselamatan ini dimaksudkan untuk menjamin keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan barang atau jasa yang diperolehnya, sehingga konsumen dapat terhindar dari kerugian (fisik maupun psikis) apabila mengonsumsi suatu produk.

2). Hak untuk memperoleh informasi;

Hak atas informasi ini sangat penting, karena tidak memadainya informasi yang disampaikan kepada konsumen ini dapat juga merupakan salah satu bentuk cacat produk, yaitu yang dikenal dengan cacat instruksi atau cacat karena informasi yang tidak memadai. Hak atas informasi yang jelas dan benar dimaksudkan agar konsumen dapat memperoleh gambaran yang benar tentang suatu produk, karena dengan informasi tersebut, konsumen dapat memilih produk yang diinginkan/sesuai kebutuhannya serta terhindar dari kerugian akibat kesalahan dalam penggunaan produk.

3). Hak untuk memilih;

Hak untuk memilih dimaksudkan untuk memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk-produk tertentu sesuai

(16)

dengan kebutuhannya, tanpa ada tekanan dari pihak luar. Berdasarkan hak untuk memilih ini konsumen berhak memutuskan untuk membeli atau tidak terhadap suatu produk, demikian pula keputusan untuk memilih baik kualitas maupun kuantitas jenis produk yang dipilihnya. 4). Hak untuk didengar;

Hak untuk didengar ini merupakan hak dari konsumen agar tidak dirugikan lebih lanjut, atau hak untuk menghindarkan diri dari kerugian. Hak ini dapat berupa pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan produk-produk tertentu apabila informasi yang diperoleh tentang produk tersebut kurang memadai, ataukah berupa pengaduan atas adanya kerugian yang telah dialami akibat penggunaan suatu produk, atau yang berupa pernyataan/pendapat tentang suatu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan konsumen. Hak ini dapat disampaikan baik secara perorangan, maupun secara kolektif, baik yang disampaikan secara langsung maupun diwakili oleh suatu lembaga tertentu, misalnya melalui YLKI.

5). Hak untuk memperoleh kebutuhan hidup;

Hak ini merupakan hak yang sangat mendasar, karena menyangkut hak untuk hidup. Dengan demikian, setiap orang (konsumen) berhak untuk memperoleh kebutuhan dasar (barang atau jasa) untuk mempertahankan hidupnya (secara layak). Hak-hak ini terutama yang berupa hak atas pangan, sandang, papan, serta hak-hak lainnya yang berupa hak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. 6). Hak untuk memperoleh ganti rugi;

Hak atas ganti kerugian ini dimaksudkan untuk memulihkan keadaan yang telah menjadi rusak (tidak seimbang akibat adanya penggunaan barang atau jasa yang tidak memenuhi harapan konsumen. Hak ini sangat terkait dengan penggunaan produk yang telah merugikan konsumen baik yang berupa kerugian materi, maupun kerugian yang menyangkut diri (sakit, cacat, bahkan kematian) konsumen. Untuk merealisasikan hak ini tentu saja harus melalui prosedur tertentu, baik yang diselenggarakan secara damai (di luar pengadilan) maupun yang diselenggarakan melalui pengadilan.

7). Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen;

Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen ini dimaksudkan agar konsumen memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan agar dapat terhindar dan kerugian akibat penggunaan produk, karena dengan pendidikan konsumen tersebut, konsumen akan dapat menjadi lebih kritis dan teliti dalam memilih suatu produk yang dibutuhkan.

(17)

8). Hak memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat;

Hak atas lingkungan yang bersih dan sehat ini sangat penting bagi setiap konsumen dan lingkungan. Hak untuk memperoleh lingkungan bersih dan sehat serta hak untuk untuk memperoleh informasi tentang lingkungan ini diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997.

9). Hak untuk mendapatkan barang sesuai dengan nilai tukar yang diberikan;

Hak ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari kerugian akibat permaian harga secara tidak wajar. Karena dalam keadaan tertentu konsumen dapat saja membayar harga suatu barang yang jauh lebih tinggi daripada kegunaan atau kualitas dan kuantitas barang atau jasa yang diperolehnya. Penegakan hak konsumen ini didukung pula oleh ketentuan dalam Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

10). Hak untuk mendapatkan upaya penyelesaian hukum yang patut. Hak ini tentu saja dimaksudkan untuk memulihkan keadaan konsumen yang telah dirugikan akibat penggunaan produk, dengan melalui jalur hukum.

Sepuluh hak konsumen, yang merupakan himpunan dari berbagai pendapat tersebut di atas hempir semuanya dama dengan hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sebagaimana dikutip sebelumnya.

Hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut, terhadap suatu hak yang tidak terdapat pada 10 hak konsumen yang diuraikan sebelumnya, yaitu “hak untuk diperlakukan atas dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif, namun sebaliknya Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen tidak mencantumkan secara khusus tentang “hak untuk memperoleh kebutuhan hidup” dan “hak memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat”, tapi hak tersebut dapat dimasukkan ke dalam hak yang disebutkan terakhir dalam Pasal 4 UUPK tersebut, yaitu “hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya”. Sementara itu, hak-hak lainnya hanya perumusannya yang lebih dirinci. Meskipun demikian, pada dasarnya hak-hak tersebut sama dengan hak-hak yang telah disebutkan sebelumnya.

(18)

Bagaimanapun ragamnya rumusan hak-hak konsumen yang telah dikemukakan, namun secara garis besar dapat dibagi dalam tiga hal yang menjadi prinsip dasar, yaitu:21

1). hak yang dimaksud untuk mencegah konsumen dari kerugian, baik kerugian personl maupun kerugian harta kekayaan;

2). hak untuk memperoleh barang dan/jasa atau jasa dengan harga yang wajar; dan

3). hak untuk memperoleh penyelesaian yang patut terhdap permasalahan yang dihapadi;

Oleh karena ketiga hak/prinsip dasar tersebut merupakan himpunan beberapa hak konsumen sebagaimana di atur dalam UUPK maka hal

tersebut sangat esensial bagi konsumen, sehingga dapat

dijadikan/merupakan prinsip perlindungan hukum bagi konsumen di Indonesia. Apabila konsumen benar-benar akan dilindungi, maka hak-hak konsumen yang disebutkan ai atas harus dipenuhi, baik oleh pemerintah maupun oleh produsen, karena pemenuhan hak-hak konsumen tersebut akan melindungi kerugian konsumen dari berbagai aspek.

C. Penutup

Berdasarkan uraian singkat di atas maka dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut:

1. Meskipun dinamakan Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen, tetapi penamaan tersebut bukan dimaksudkan memberikan perlindungan kepada konsumen dengan mengabaikan kepentingan pelaku usaha, termasuk kepentingan pemerintah dalam pembangunan ekonomi secara berencana.

2. Keseimbangan perlindungan antara pelaku usaha dan konsumen menampakkan fungsi hukum sebagai sarana pengendalian hidup bermasyarakat dengan menyeimbangkan kepentingan-kepentingan yang ada dalam masyarakat atau dengan kata lain sebagai sarana kontrol sosial.

(19)

Daftar Pustaka

Ali, Achmad, Menjelajahi Kajian Empiris terhadap Hukum, Jakarta: Yarsif Watampone, 1998.

____, Menguak Tabir Hukum, Jakarta: Chandra Pratama, 1996.

Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI dan Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Rancangan

Akademik (Minimal) Rancangan Undang-undang tentang Perdagangan,

Laporan Kelima, 24 Juli 1997.

Ibrahim, Johannes, & Sewu, Lindawati, Hukum Bisnis: Dalam Persepsi Manusia Modern, Bandung: PT Refika Aditama, 2004.

Keraf, A. Sonny, Etika Bisnis: membangun Citra Bisnis sebagai Profesi Luhur, Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Komalawati, Veronika, hukum dan Etika dalam Praktek Dokter, Jakarta: Sinar Harapan, 1989.

Marzuki, Peter Mahmud, The Need for the Indonesian Economic Legal Framework, dalam Jurnal Hukum Ekonomi, Edisi IX, Agustus 1997. ____, Eksistensi Hukum Ekonomi, Makalah, Surabaya: Universitas

Airlangga, t.th..

____, Pembaharuan Hukum Ekonomi Indonesia, Surabaya: Universitas Airlangga, t.th.

Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta: Liberty, 1999.

Miru, Ahmadi, "Prinsip-prinsip Perlindungan Hukum bagi Konsumen di Indonesia", Disertasi, Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, 2000.

____, & Yodo, Sutarman, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Muhammad, Hukum Perjanjian, Yogyakarta: Liberty, 1988.

Nasution Az., Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, Jakarta: Daya Widya, 1999.

Purba, A. Zen Umar, “Perlindungan Konsumen: Sendi-sendi Pokok Pengaturan”, Hukum dan Pembangnan, Tahun XIII 1992

(20)

Saleh, Ismail, Hukum dan Ekonomi, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1990.

Satrio, J., Hukum Perjanjian (Perjanjian Pada Umumnya), Ctk. Pertama, Bandung: Citra AdityaBakti, 1992.

Sewu, P. Lindawaty, "Prospek Pengaturan Hukum Mengenai Franchise di Indonesia dihubungakan dengan Perlindungan Hukum Bagi Pengusaha Kecil Berdasarkan UU No.9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil", Tesis, Program Studi Magister Hukum Program Pascasarjana-Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 1997. Subekti, R., Hukum Perjanjian, Jakarta: Intermasa, 1996.

____, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT. Intermasa, 1983. Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Referensi

Dokumen terkait

Jembatan yang harus dapat dilalui oleh kendaraan darurat dan untuk kepentingan keamanan/pertahanan beberapa hari setelah mengalami gempa rencana dengan periode ulang 1000 tahun).

Pemikiran Hassan Hanafi , h.. kemauan dan daya manusia sendiri dan tak turut campur dalam kemauan daya Tuhan. Oleh karena itu, perbuatan manusia adalah perbuatan manusia bukan

Apakah ada pengaruh yang signifikan penerapan manajemen risiko dengan indikator rasio keuangan CAR, ROA, NPL, BOPO, dan LDR secara simultan terhadap kinerja laba

Manajemen Politeknik Negeri Batam melalui Pusat P2M yang telah memfasilitas kegiatan ini baik wadah, arahan, serta materi untuk mendukung pelaksanaan

Keberadaan selulosa yang cukup pada bonggol jagung serta kadar air yang cukup rendah dibandingkan dengan limbah sayur lainnya seperti sawi dan kol dapat membuat

a) Tingkat nasional : kuning. 2) Lapisan kedua berbentuk rantai melingkar, dengan 24 mata rantai bolat dan segi empat berselang seling, dengan gambar di tengah lingkaran

Metode yang diterapkan pada kedua kelompok ini adalah metode pemberdayaan masyarakat, melalui kegiatan pelatihan, penyuluhan, dan pendampingan dengan pengenalan teknologi

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode partisipatif on farms research, dengan lokasi penelitian dusun Sendowo Lor, Kedungkeris Nglipar Gunungkidul pada bulan Juni