11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Pajak
Definisi pajak menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1: “Pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” (Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, 2007).
Definsi pajak menurut Soemitro (Resmi;2013;1)
“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.
Definisi pajak menurut Djajadiningrat (Sari;2013;34)
“Pajak adalah kewajiban untuk menyerahkan sebagian kekayaan Negara karena suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu. Pungutan tersebut bukan sebagai hukuman, tetapi menurut peraturan-peraturan yang ditetapka pemerintah serta dapayt dipaksakan untuk itu, tidak ada jasa balik dari Negara secara langsung, misalnya untuk memelihara kesejahteraan umum”.
Definisi pajak menurut Feldmann (Resmi;2013;2)
“Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada pengusaha (menurut norma-norma yang ditetapkanya secara umum), tanpa adanya kontraprestasi dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum”.
Dari definisi-definisi yang telah dikemukakan tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan tentang ciri-ciri pajak sebagai berikut:
1. Pajak dapat dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berdasarkan undang-undang beserta peraturan pelaksanaannya.
2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
3. Pajak dipungut karena adanya suatu kedaaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu pada seseorang.
4. Pajak diperuntukan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, digunakan untuk mebiayai public investment.
2.1.1.1 Fungsi Pajak
Berdasarkan pada ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak yang telah di jelaskan, dapat disimpulkan bahwa fungsi dari pajak adalah sebagai sumber pendapatan negara yang dipergunakan untuk membiayai pengeluaran pengeluaran negara yang bertujuan untuk mensejahterakan dan memakmurkan rakyat secara umum.
Terdapat dua fungsi pajak yang dikemukakan oleh (Mardiasmo, 2011) yaitu:
1. Fungsi budgetair/Financial
Fungsi budgetair/Financial yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya.
2. Fungsi regulerend/Mengatur
Fungsi regulerend/Mengatur yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
2.1.1.2 Tata Cara Pemungutan Pajak
Tata cara pemungutan pajak menurut Mardiasmo (2011:4) terdiri dari:
1. Stelsel Pajak
a. Stelsel Nyata (Real Stelsel)
Pengenaan pajak didsasarkan pada objek (penghasilan yang nyata), sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Kebaikan stelsel ini adalah pajak yang dikenakan lebih realistis. Sehingga kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode (setelah penghasilan riil diketahui).
b. Stelsel Anggapan (Fictive Stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada suatau anggapan yang diatur oleh Undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun dianggap sama
dengan tahun sebelumnya, sehingga awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutng untuk tahun berjalan. Kebaikan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa tahun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Sedangkan kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan keadaan yang sesungguhnya.
c. Stelsel Campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarnya pajak dihitung berdasarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyaraan lebih besar dari pada pajak menurut anggapan, maka Wajib Pajak harus menambah, sebaliknya, jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.
2. Sistem Pemungutan Pajak
Terdapat beberapa sistem dalam pemungutan pajak, menurut Mardiasmo, (2011:7-8), yaitu:
a. Official Assessment System
Official Assessment System adalah sistem pemungutan yang memberi
wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
Ciri-cirinya :
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus. 2) Wajib Pajak bersifat pasif.
3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.
b. Self Assessment System
Self Assessment System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang
memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang harus terutang.
Ciri-cirinya :
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib
Pajak sendiri.
2) Wajib Pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan
sendiri pajak yang terutang.
3) Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi. c. With Holding System
With Holding System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi
wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
Ciri-cirinya : wewenang menentukan besarnya pajak terutang ada pada pihak ketiga, pihak selain fiskus dan Wajib Pajak.
3. Asas-asas Pemungutan Pajak
1) Asas Domisili (asas tempat tinggal)
Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
2) Asas Sumber
Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.
3) Asas Kebangsaan
Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara. Misalnya pajak bangsa asing di Indonesia dikenakan pada setiap orang yang bukan berkebangsaan Indonesia yang bertempat tinggal di Indonesia.
2.1.1.3 Pengelompokan Pajak
Pajak dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok menurut (Waluyo:2013:12) adalah sebagai berikut:
1. Menurut golongan atau pembebanan, dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Pajak langsung, adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan kepada pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung Wajib Pajak yang bersangkutan.
Contoh : Pajak Penghasilan.
dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh :Pajak Pertambahan Nilai 2. Menurut Sifat
1) Pajak Subjektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya yang selanjutnya dicari syarat objektifnya, dalam arti memperhatikan keadaan dari Wajib Pajaknya.
Contoh : Pajak Penghasilan
2) Pajak Objektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan dari Wajib Pajaknya.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak atas Penjualan Barang Mewah.
3. Menurut pemungut dan pengelolaannya, dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara.
Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta Bea Materai.
2) Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Daerah.
Contoh ; Pajak Parkir, Pajak Reklame, Pajak Hiburan, Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan, Pajak Bumi dan Bangunan.
2.1.2 Pajak Daerah
Pengertian pajak daerah menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009 pasal 1 angka 10 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah sebagai berikut:
“pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak memdapatkan imbalan secara besarnya kemakmuran rakyat.” (Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah, 2009).
2.1.2.1 Ciri-ciri Pajak Daerah
Ciri-ciri pajak daerah menurut Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai berikut:
1. Pajak daerah dapat berasal dari pajak asli daerah maupun pajak pusat yang diserahkan kepada daerah sebagai pajak daerah.
2. Pajak daerah dipungut oleh daerah hanya di wilayah administrasi yang dikuasainya.
3. Pajak daerah digunakan untuk membiayai urusan rumah tangga daerah dan atau untuk membiayai pengeluaran daerah.
4. Dipungut oleh daerah berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA), sehingga pajak daerah bersifat memaksa dan dapat dipaksakan kepada masyarakat yang wajib membayar. Perda mengenai pajak daerah paling sedikit mengatur mengenai :
b. Dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak. c. Wilayah pemungutan.
d. Masa Pajak. e. Penetapan.
f. Tata cara pembayaran dan penagihan. g. Kedaluwarsa.
h. Sanksi administrative. i. Tanggal mulai berlakunya
2.1.2.2 Jenis-Jenis Pajak Daerah
Berdasarkan pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, jenis pajak daerah terdiri atas:
1. Jenis Pajak Provinsi terdiri atas:
1) Pajak Kendaraan Bermotor.
2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
4) Pajak Air Permukaan.
5) Pajak Rokok.
2. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:
1) Pajak Hotel
3) Pajak Hiburan.
4) Pajak Reklame.
5) Pajak Penerangan Jalan,
6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batu.
7) Pajak Parkir
8) Pajak Air Tanah.
9) Pajak Sarang Burung Walat.
10) Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan
11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
Daerah dilarang memungut pajak selain jenis pajak sebagai mana ayat (1) dan ayat (2) dapat tidak dipungut apabila potensinya kurang memadai dan/atau disesuaikan dengan kebijakan daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
2.1.2.3 Tarif Pajak Daerah
Tarif Pajak Daerah yang dapat dipungut oleh pemerintah daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 yang ditetapkan dengan pembatasan tarif paling tinggi, yang berbeda untuk setiap jenis pajak daerah, yaitu:
1. Tarif Pajak Provinsi:
b. Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi 20%;
c. Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan paling tinggi 10%;
d. Tarif Pajak Air Permukaan ditetapkan paling tinggi 10%; dan e. Tarif Pajak Rokok ditetapkan paling tinggi10%.
2. Tarif Pajak Kota/Kabupaten:
a. Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi 10%; b. Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi 10%; c. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi 35% d. Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi 25%;
e. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi 10%;
f. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batu ditetapkan paling tinggi 25%;
g. Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi 30%; h. Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi 20%;
i. Tarif Pajak Sarang Burung Walat ditetapkan paling tinggi 10%;
j. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan ditetapkan paling tinggi 0,3%;
k. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi 5%;
2.1.3 Pajak Reklame
2.1.3.1 Pengertian Pajak Reklame
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 pasal 1 angka 26 dan 27 bahwa:
“Pajak reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. Reklame adalah benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, dan untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan atau dinikmati oleh umum.”
Pengenaan pajak reklame tidak mutlak ada pada seluruh daerah kabupaten atau kota yang ada di indonesia. Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan kepada pemerintah kabupaten atau kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota. Untuk dapat dipungut pada suatu daerah kabupaten atau kota, pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pajak Reklame yang akan menjadi landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan pajak reklame daerah kabupaten atau kota yang bersangkutan. Keberadaan pajak reklame sebagai salah satu jenis pajak kabupaten/kota diatur juga dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009, yang mulai tanggal 1 januari 2010 menjadi dasar hukum pajak daerah di Indonesia.
2.1.3.2 Dasar Hukum Pajak Reklame
Pemungutan Pajak Reklame dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Dasar hukum pemungutan pajak reklame khususnya di Kota Bandung adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah.
2. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
4. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.
5. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame.
2.1.3.3 Subjek dan Objek Pajak Reklame
Pajak Reklame yang menjadi subjek pajak adalah pribadi atau badan yang menggunakan reklame. Sementara itu, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame. Jika reklame diselenggarakan langsung oleh orang pribadi atau badan, Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau badan tersebut. Apabila reklame diselenggarakan melalui pihak ketiga, misalnya perusahaan jasa periklanan, pihak ketiga tersebut yang menjadi Wajib Pajak (Siahaan, 2010)
Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame pasal 2 ayat (1), bahwa yang dimaksud dengan objek pajak adalah semua penyelenggaraan reklame. Sedangkan yang dimaksud dengan penyelenggaraan reklame sesuai (Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame) pasal 1 adalah :
1. Reklame papan atau billboard
Reklame yang terbuat dari papan kayu,colibrite, vynil, termasuk seng atau bahan lain yang sejenis, dipasang atau digantungkan termasuk yang digambar pada bangunan, halaman, di bahu jalan/berm, median jalan, bando jalan, jembatan penyebrangan orang (JPO) dan titik lokasi yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Walikota.
2. Reklame megatron, videotron dan Light Emitting Diode(LED)
Reklame yang menggunakan layar monitor besar berupa program reklame atau iklan bersinar dengan gambar dan/atau tulisan berwarna yang dapat diubah- ubah, terprogram dan difungsikan dengan tenaga listrik.
3. Reklame layar
Reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan bahan kain, termasuk kertas, plastik, karet, atau bahan lain yang sejenis dengan itu, seperti bandir, umbul-umbul dan spanduk.
4. Reklame melekat (Sticker)
Reklame yang berbentuk lembaran lepas, diselenggarakan dengan cara disebarkan, diberikan atau dapat diminta ditempelkan, dilekatkan, dipasang, digantungkan pada suatu benda.
5. Reklame selebaran/brosur
Reklame yang berbentuk lembaran lepas, diselenggarakan dengan cara disebarkan, diberikan atau dapat diminta dengan ketentuan tidak untuk ditempelkan, dilekatkan, dipasang, digantungkan pada suatu benda lain.
6. Reklame berjalan termasuk pada kendaraan Reklame yang ditempelkan pada kendaraan.
7. Reklame udara
Reklame yang diselenggarakan diudara dengan menggunakan gas, pesawat terbang atau alat lain yang sejenis.
8. Reklame film/slide
Reklame yang diselenggarakan dengan cara menggunakan klise berupa kaca atau film, atau bahan-bahan lain yang diproyeksikan dan/atau diperagakan pada layar atau benda lain atau dipancarkan dan/atau diperagakan melalui pesawat televisi.
9. Reklame Teks Berjalan (Running Text)
Reklame yang menayangkan naskah dan diatur secara elektronik.
10. Reklame Neon Box
Reklame yang diselenggarakan menggunakan kontruksi tertentu yang menggunakan lampu penerangan didalamnya dan memiliki rancangan atau
desain khusus dengan mengedepankan aspek estetika serta terintegrasi
dengan lingkungannya sebagai aksesoris kota.
11. Reklame Grafiti (Graffiti)
Reklame yang berupa tulisan atau gambar atau lukisan yang dibuat pada dinding bangunan.
2.1.3.4 Bukan Objek Pajak Reklame
Pada Pajak Reklame, tidak semua penyelenggaraan reklame dikenakan pajak. Ada beberapa pengecualian yang tidak termasuk objek pajak, menurut Perda Nomor 1 tahun 2011 pasal 18 ayat 4, pengecualian tersebut yaitu:
a. Penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta mingguan, warta bulanan, dan sejenisnya.
b. Label/merk yang melekat pada barang yang diperdagangkan, yang berfungsi untuk membedakan dari produk jenis lainnya.
c. Nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut.
d. Reklame yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah
2.1.3.5 Dasar Pengenaan Pajak Reklame
Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah nilai sewa reklame (NSR). Nilai sewa reklame yaitu nilai yang ditetapkan sebagai dasar perhitungan Pajak Reklame. Dalam hal Pajak Reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga, NSR ditetapkan berdasarkan nilai kontrak reklame. Apabila reklame diselenggarakan sendiri, NSR dihitung dengan memperhatikan faktor jenis, bahan yang digunakan, lokasi penempatan, waktu, jangka waktu penyelenggaraan, jumlah, dan ukuran media reklame (Siahaan, 2010:387).
Di dalam (Peraturan Walikota Bandung Nomor 1149 Tahun 2013 tentang Perhitungan Nilai Sewa Reklame, 2013), disebutkan bahwa NSR didasarkan atas NJOR dan NSPR, dengan rumus NSR = NJOR + NSPR.
Nilai Jual Objek Pajak Reklame (NJOR)
Sesuai dengan Peraturan Walikota Bandung Nomor 1149 Tahun 2013 tentang Perhitungan Nilai Sewa Reklame pasal 3 ayat (1), besarnya NJOR dihitung dengan rumus :
NJOR = (Ukuran Reklame x Harga Dasar Ukuran Reklame) +
(Ketinggian Reklame x Harga Dasar Ketinggian Reklame).
Pengenaan Harga Dasar Ketinggian dan Harga Dasar Ukuran untuk naskah reklame rokok dikenakan 3 (tiga) kali harga dasar ketinggian dan harga dasar ukuran naskah reklame lainnya.
Nilai Strategis Pemasangan Reklame (NSPR)
Menurut Peraturan Walikota Bandung Nomor 1149 Tahun 2013 tentang Perhitungan Nilai Sewa Reklame pasal 3 ayat (2), bahwa Nilai Strategis Pemasangan Reklame yang selanjutnya disingkat (NSPR) dihitung dengan rumus:
NSPR = [{Fungsi Ruang (= Bobot x Skor)} + {Fungsi Jalan (= Bobot Skor)}+{Sudut Pandang ( = Bobot x Skor)}] x Harga Dasar Nilai Strategis.
Perhitungan tersebut hanya berlaku untuk 1 (satu) sisi saja, sedangkan apabila terdiri dari 2 (dua) sisi maka dikalikan dua.
2.1.3.6 Cara Perhitungan Pajak Reklame
Besarnya pokok Pajak Reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak (Siahaan 2010:390). Secara umum perhitungan Pajak Reklame adalah :
Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak (Nilai Sewa Reklame).
2.1.3.7 Masa Pajak, Terutang, dan Surat Pemberitahuan
1. Masa Pajak
Berdasarkan Peraturan Walikota Bandung Nomor 1149 Tahun 2013 pasal 6 tentang Perhitungan Nilai Sewa Reklame, bahwa yang dimaksud dengan masa pajak adalah jangka waktu tertentu yang lamanya sama dengan jangka waktu izin penyelenggaraan reklame dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun terdiri atas reklame Billboard/papan, megatron, videotron, Light Emitting Diode (LED), running text, neon box, graffiti, dan reklame berjalan termasuk pada kendaraan.
b. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan terdiri atas reklame melekat/sticker, dan reklame udara.
reklame layar (bandir, umbul-umbul, banner, baligho dan spanduk
d. Masa pajak yang lamanya 1 (satu) kali penyelenggaraan yang terdiri atas reklame selebaran (brosur) dan reklame film/slide.
2. Pajak Terutang
Berdasarkan Perda Kota Bandung No. 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame pasal 11 disebutkan bahwa pajak terutang terjadi pada saat penyelenggaraan reklame.
3. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah
Berdasarkan Perda Kota Bandung No. 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame pasal 12 ayat (1), Setiap wajib pajak, wajib mengisi SPTPD dengan benar, lengkap, dan jelas dalam bahasa Indonesia dan menandatangani serta menyampaikannya kepada Walikota atau pejabat yang ditunjuk paling lama 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak atau dikukuhkan paling lama 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak.
Sedangkan cara untuk mendapatkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, sesuai Perda Kota Bandung No. 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame pasal 12 ayat (2), Wajib Pajak dapat memperolehnya dengan cara sebagai berikut :
a. Mengambil sendiri di Satuan Kerja Perangkat Daerah.
b. Dikirimkan kepada wajib pajak oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah. c. Mengakses situs Satuan Kerja Perangkat Daerah
2.1.3.8 Penetapan Pajak Reklame
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame pasal 18 dan 20, penetapan Pajak Reklame adalah sebagai berikut:
1. Pajak dipungut berdasarkan penetapan Walikota atau dibayar sendiri oleh wajib pajak.
2. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun pajak, Walikota dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) dalam hal :
a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak
yang terutang tidak atau kurang dibayar;
b. Apabila SPTPD tidak disampaikan kepada Walikota dalam jangka
waktu tertentu setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran;
c. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak terpenuhi, sehingga tidak
dapat diketahui besarnya pajak yang terutang.
d. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah terutangnya pajak atau
berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak, atau tahun pajak, Walikota dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan perubahan jumlah pajak yang terutang.
3. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN) apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
2.1.3.9 Tata Cara Pembayaran Pajak Reklame
Berdasarkan (Peraturan Walikota Bandung Nomor 389 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemungutan Pajak Reklame, 2012), pasal 9 bahwa tata cara pembayaran Pajak Reklame adalah sebagai berikut :
1. Pembayaran pajak dilakukan pada Kas Daerah atau Bendahara Penerima atau tempat lain yang ditunjuk oleh Walikota sesuai waktu yang ditentukan dalam SKPD atau STPD.
2. Apabila pembayaran dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah paling lambat 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam.
3. Pembayaran pajak dilakukan dengan menggunakan SSPD atau dokumen lain yang dipersamakan, serta harus dibayar sekaligus atau lunas.
4. Pajak terutang dalam SKPD atau STPD wajib dibayar sekaligus dimuka paling lambat 15 (lima belas) hari kalender setelah tanggal diterbitkan SKPD.
5. Pajak terutang dalam SKPD atau STPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih dengan STPD.
pembayaran jatuh pada hari kerja berikutnya.
2.1.3.10 Ketentuan Sanksi Pajak
Ketentuan sanksi berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame dibagi dua, yaitu :
1. Sanksi Administrasi
a. Bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak kurang
bayar, apabila Wajib Pajak atau penanggung pajak membetulkan sendiri SPTPD yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar.
b. Bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan, apabila berdasarkan hasil
pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar dan SPTPD tidak disampaikan kepada Walikota dalam jangka waktu tertentu setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran.
c. Bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan sampai dengan
diterbitkannya Surat Tagihan Pajak, apabila pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar dan dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung.
d. Bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan, apabila pembayaran pajak
yang terutang dilakukan setelah melewati batas waktu tempo.
e. Kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak,
apabila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan perubahan jumlah pajak yang terutang.
f. Kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan, apabila kewajiban mengisi SPTPD tidak terpenuhi, sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang.
g. Denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang
kurang bayar, apabila wajib pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan jumlah pajak yang sebenarnya terutang sebelum dilakukan tindakan penyidikan.
h. Kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang
bayar, apabila Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan tentang ketidakbenaran pengisian SPTPD yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya setelah dilakukan pemeriksaan tetapi belum diterbitkan SKPD.
2. Sanksi Pidana
Sanksi pidana berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2010 tentang Pajak Reklame pasal 64 adalah sebagai berikut :
a. Wajib pajak karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi SPTPD dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak yang terutang.
mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang.
2.1.4 Ekstensifikasi Pajak
Pengertian ekstensifikasi pajak berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jendral Pajak No SE-06/PJ.9/2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Pajak dan Intensifikasi Pajak adalah sebagai berikut:
“Ekstensifikasi pajak adalah kegiatan yang berkaitan dengan penambahan jumlah Wajib Pajak terdaftar dan perluasan objek pajak dalam administrasi Direktorat Jendral Pajak (DJP)”.
Wajib Pajak, sering di singkat dengan sebutan WP adalah orang pribadi atau badan (subjek pajak) yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungutan pajak atau pemotongan pajak tertentu. Wajib pajak bisa berupa wajib pajak orang pribadi atau wajib pajak badan.
Wajib pajak pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan di atas penghasilan tidak kena pajak. Di indonesia setiap orang wajib mendaftarkan diri dan mempunyai nomor pokok wajib pajak (NPWP), kecuali ditentukan dalam undang-undang. Wajib Pajak Badan adalah wajib pajak yang memiliki kewajiban perpajakan sebagai pembayar pajak, pemotong dan pemungut pajak, termasuk bentuk usaha tetap dan kontraktor.
2.1.4.1 Kegiatan Ekstensifikasi Pajak
Berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jendaral Pajak Nomor SE-6/PJ.9/2001 Seorang petugas pajak dalam melaksanakan kegiatan ekstensifikasi harus berdasarkan norma-norma dan kaidah-kaidah yang harus dipenuhi. Norma dan kaidah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tujuan dan kegiatan ekstensifikasi
b. Ruang lingkup kegiatan ekstensifikasi
c. Unit organisasi dan petugas pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi
d. Data dan pencarian data yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi
e. Tata cara pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi
Berdasarkan Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor PER-35/PJ/2013 Kegiatan ekstensifikasi dapat dilakukan terhadap wajib pajak, seperti: pemberi kerja, bendaharawan pemerintah dan non karyawan berdasarkan property base sasarannya pertokoan, mall, pusat perdagangan, perumahan, apartemen, dan lainnya serta professional based sasarannya dokter, notaris/PPAT, pengacara, artis dan sebagainya. Petugas pajak akan mencari, mendata, mencermati dan meneliti setiap tempat apakah masyarakat sekitar telah terdaftar sebagai Wajib Pajak serta memberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada Wajib Pajak.
Sedangkan kegiatan ekstensifikasi pajak menurut Soemitro (1988:384) Ekstesifikasi merupakan suatu kondisi yang menekankan pada upaya penjangkauan sesuatu secara lebih luas daripada yang telah ada. Perluasan pemungutan pajak dalam arti:
1. Penambahan pajak baru dengan menemukan wajib objek pajak baru 2. Menciptakan pajak-pajak baru, atau memperluas ruang lingkup pajak yang
ada.
2.1.4.2 Tujuan dan Sasaran Kegiatan ekstensifikasi Pajak
Bersarkan surat Edaran Direktorat Jendaral Pajak Nomor SE-6/PJ.9/2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Pajak dan Intensifikasi Pajak, Tujuan ekstensifikasi pajak adalah:
1. Meningkatkan jumlah wajib pajak perorangan dan menyempurnakan data serta subyek dan objek pajak.
2. Meningkatkan penerimaan pajak dan menyempurnakan administrasi pajak.
3. Meningkatkan Low enforcement serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak.
4. Sebagai upaya menerapkan equal treatment (perlakuan yang sama dalam perpajakan) bagi masyarakat karena prinsip dasar perpajakan tidak boleh ada diskriminasi.
Bersarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor SE-13/PJ/2007 tentang Penjelasan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor: PER-175/PJ/2006
tentang Tata cara pemutakhiran data Objek Pajak dan Ekstensifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan atau tempat usaha di pusat perdagangan dan atau pertokoan, angka 1, dan 2 yaitu:
1. Tujuan kegiatan ekstensifikasi adalah untuk:
Pemberian NPWP dengan memperhatikan asas domosili, sedangkan pemenuhan kewajiban perpajakan timbul sebagai akibat pemberian NPWP tetap mengacu pada prinsip self assessment.
2. Sasaran kegiatan ekstensifikasi adalah untuk:
Kegiatan ini harus dilaksanakan secara menyeluruh terhadap setiap gerai/tempat usaha yang dimiliki, dikuasai, dan atau dimanfaatkan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi baik yang telah memiliki NPWP maupun belum memiliki NPWP. Bagi wajib Pajak Orang Pribadi yang telah memiliki NPWP, data dan identitasnya dimutakhirkan sesuai dengan ketentuan.
Bersarkan Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor PER-35/PJ/2013 tentang Tata Cara Ekstensifikasi, Pengertian Ekstensifikasi pajak yaitu upaya proaktif yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pajak dalam rangka pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan/atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Ekstensifikasi pajak memfokuskan pada peningkatan kesadaran Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dan memfokuskan pada penambahan jumlah Wajib Pajak
terdaftar dan perluasan objek pajak adapun sasaran kegiatan ekstensifikasi (Rahmany, 2013):
1. Sasaran kegiatan ekstensifikasi pajak
KPP menentukan Wajib Pajak sasaran ekstensifikasi berdasarkan informasi yang memiliki dan/diperoleh berdasarkan hasil mapping,
profling, feeding, maupun data yang di peroleh dari pihak kanwil DJP.
Kemudian dari data tersebut seksi Esktensifikasi perpajakan menyanding data Wajib Pajak yang telah memenuhi syarat subjektif dan objektif dengan master file Wajib Pajak untuk mengetahui apakah wajib pajak tersebut sudak terdaftar.
2. Tujuan kegiatan ekstensifikasi:
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak (WP) sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
2.1.5 Intensifikasi Pajak
Pengertian intensifikasi pajak menurut Surat Edaran Direktorat Jendral Pajak No SE-06/PJ.9/2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Pajak dan Intensifikasi Pajak adalah sebagai berikut:
“Intensifikasi Pajak adalah kegiatan optimalisasi penggalian penerimaan pajak terhadap objek serta subjek yang telah tercatat atau telah terdaftar dalam administrasi DJP, dan dari hasil pelaksanaan ekstensifikasi pajak”.
Ruang lingkup pelaksanaan kegiatan ekstensifikasi Wajib Pajak dan intensifikasi pajak, berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jendral Pajak No SE-06/PJ.9/2001 meliputi:
1. Pemberian NPWP dan atau pengukuhan sebagai PKP, termasuk pemberian NPWP secara jabatan terhadap Wajib Pajak PPh orang pribadi yang berstatus sebagai karyawan perusahaan, orang pribadi yang bertempat tinggal di wilayah atau lokasi pemukiman atau perumahan, dan orang pribadi lainnya (termasuk orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan), yang menerima atau memperoleh penghasilan melebihi batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP);
2. Pemberian NPWP dilokasi usaha, termasuk pengukuhan sebagai PKP, terhadap orang pribadi pengusaha tertentu yang mempunyai lokasi usaha di sentra perdagangan atau perbelanjaan atau pertokoan atau perkantoran atau mal atau plaza atau kawasan industri atau sentra ekonomi lainnya;
3. Pemberian NPWP dan atau pengukuhan sebagai PKP terhadap Wajib Pajak badan yang berdasarkan data yang dimiliki atau diperoleh ternyata belum terdaftar sebagai Wajib Pajak dan atau PKP baik di domisili atau lokasi;
4. Penentuan jumlah angsuran PPh Pasal 25 dan atau jumlah PPN yang harus disetor dalam tahun berjalan, dimulai sejak bulan Januari tahun yang bersangkutan;
5. Penentuan jumlah PPN yang terutang atas transaksi penjualan dalam tahun berjalan, khususnya untuk PKP Pedagang Eceran, yang mempunyai usaha di sentra perdagangan atau perbelanjaan atau pertokoan atau perkantoran atau mal atau plaza atau sentra ekonomi lainnya.
Definisi Objek pajak penghasilan menurut (Resmi;2011:79) adalah:
“Objek pajak penghasilan adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk komsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun”
Dilihat dari mengalirnya tambahan kemampuan ekonomi sebjek pajak, menurut (Resmi 2011:80), penghasilan dapat dikelompokkan menjadi:
1. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti gaji, honorarium, penghasilan dari praktik dokter, notaris, akuntan, dan sebagainya.
2. Penghasilan dari usaha atau kegiatan.
3. Penghasilan dari modal, yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerang seperti bunga, dividen, royalti,sewa, dan sebagainya.
4. Penghasilan lain-lain seperti pembebasan utang, hadiah, dan lain sebagainya.
Intensifikasi Pajak adalah peningkatan intensitas pungutan terhadap suatu subyek dan obyek pajak yang potensial namun belum tergarap atau terjaring pajak serta memperbaiki kinerja pemungutan agar dapat mengurangi kebocoran-kebocoran yang ada (Sumitro;1990). Upaya intensifikasi dapat ditempuh melalui tiga cara yaitu:
a. Penyempurnaan administrasi pajak
b. Peningkatan mutu pegawai atau petugas pemungut c. Penyempurnaan Undang-Undang Pajak
Bersarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa intensifikasi pajak adalah kegiatan dilakukan untuk menambah jumlah penerimaan pajak dari wajib pajak yang sudah terdaftar sebagai wajib pajak, dan pelaksanaanya dimulai dengan pembinaan, sosialisasi, pengawasan, sekaligus melakukan pemeriksaan dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam melakukan kewajiban perpajakan seseuain dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan.
2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian terdahu
No. Penelitian/Pe nulis/Tahun Judul Kesimpulan 1. Ian Nugraha, 2015 Kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi pajak terhadap penerimaan pajak pada kpp pratama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstensifikasi dan intensifikasi pajak memiliki pengaruh positif terhadap
ISSN: 1410 - 9875 Vol. 17, no. 1a, november
2015
di Jakarta sawah besar satu penerimaan pajak 2. Selvia, 2015 ISSN 2356 – 4385 Volume 2 No.1 Februari 2015 Pelaksanaan Ekstensifikasi dan Intensifikasi Pajak dalam Rangka Meningkatkan
Penerimaan Pajak pda KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru” (2015).
Hasil penelitian menunjukan bahwa prosedur ekstensifikasi cukup baik dilihat dari kenaikan Wajib Pajak, demikian pula dengan kegiatan Intensifikasi pajak yang cukup baik dilihat dari kenaikan pencapaian target penerimaan pajak. 3. Arnold Putra Christover (2016) ISSN 2303-1174 Vol.4 No.1 Maret 2016 Pemahaman ekstensifikasi wajib pajak dan intensifikasi pajak terhadap persepsi fiskus tentang
penerimaan pajak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman
ekstensifikasi wajib pajak tidak berpengaruh signifikan dan pemahaman intensifikasi pajak berpengaruh signifikan terhadap persepsi fiskus tentang
4. Muhammad Hekmatyar (2017) Universitas: Widyatama Pengaruh Ekstensifikasi Dan Intensifikasi Pajak Reklame Terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Bandung (Studi Kasus Pada Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Kota Bandung)
Berdasarkan hasil penelitian secara parsial dan simultan menunjukan bahwa Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pajak
Reklame berpengaruh signifikan terhadap Penerimaan Pajak Kota Bandung. Semakin tinggi
penerimaan pajak dan jumlah wajib pajak, maka semakin tinggi tingkat penerimaan pajak. Sedangkan besarnya pengaruh Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pajak reklame Terhadap
Penerimaan Pajak Kota Bandung adalah sebesar 69,2%. 5. Rosalina Ginting (2017) International Journal of Humanities and Social Sciences. ISSN 2250-3226 Volume 7, Number 1 (2017) Intensification Analysis and Tax Extension Related Tax Amnesty Policies on the UKM in Semarang
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kepemilikan dan intensifikasi pajak NPWP. Tetapi memiliki pengaruh positif terhadap penerimaan pajak.
2.3 Kerangka Pemikiran
2.3.1 Pengaruh Program Entensifikasi Pajak Rekmale Terhadap Peningkatan pendapatan Pajak Daerah Kota Bandung
Pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarkan menurut peraturan- peraturan umum (Undang-Undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk mebiayai pengeluaran- pengeluaran umum berhubungan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan (sari;2013)
Berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jendral Pajak Nomor SE-06/PJ.9/2001 tentang Pelaksanaan Ekstensifikasi Pajak dan Intensifikasi Pajak, ekstensifikasi wajib pajak adalah kegiatan yang berkaitan dengan penambahan jumlah Wajib Pajak adalah kegiatan yang berkaitan dengan penambahan jumlah Wajib Pajak terdaftar dan perluasan Objek Pajak dalam administrasi Direktorat Jendral Pajak (DJP). Dengan banyaknya jumlah Wajib Pajak terdaftar, diharapkan dapat menambahkan jumlah penerimaan pajak penghasilan.
Berdasarkan Peraturan Direktorat Jendral Pajak Nomor PER-21/PJ/2015 tentang Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Seleksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan, Ekstensifikasi adalah upaya proaktif yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pajak dalam rangka pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan/atau pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat Program Ekstensifikasi pajak adalah untuk memperbanyak wajib pajak, baik wajib pajak
orang pribadi maupun wajib pajak badan usaha terutama khususnya Pajak reklame yang ada di Kota Bandung. Serta untuk menambah jumlah pembayaran pajak yang terutama memiliki nomor wajib pajak. Sehingga dapat membiayai pengeluaran Negara untuk kesejahteraan masyarakat.
2.3.2 Pengaruh Program Intensifikasi Pajak Reklame Terhadap Peningkatan Pendapatan Pajak Daerah Kota Bandung
Pajak daerah merupakan sumber utama penerimaan negara yang potensial untuk membiayai kegiatan pemerintah dan pembangunan. Penerimaan dari sektor pajak yang mengalami kenaikan diharapkan dapat membayar pembelanjaan negara demi tercapainya kemakmuran rakyat. Penerimaan pajak berasal dari pemungutan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah dengan pengenaan terhadap objek pajak. Pemerintah berusaha meningkatkan penerimaan pajak dengan upaya ekstensifikasi dan intensifikasi.
Maka dari itu, Direktorat Jendral Pajak dibebani tugas agar target penerimaan negara tercapai. Salah satu upaya pemerintah daerah Kota Bandung untuk memaksimalkan penerimaan pajak yang telah di anggarkan yaitu melalui intensifikasi pajak. Menurut Surat Edaran Direktorat Jendral Pajak Nomor SE – 08/PJ.9/2001 tentang pelaksanaan intensifikasi pajak dan ekstensifikasi pajak, sehingga dapat meningkatkan pajak daerah khusunya pajak restoran yang merupakan salah satu sumber penerimaan daerah yang dapat diandalkan.
Pengertian intensifikasi pajak dan ekstensifikasi pajak menurut Surat Edaran Direktorat Jendral Pajak Nomor SE-06/PJ.9/2001 tentang Pelaksanaan
Ekstensifikasi Pajak dan Intensifikasi Pajak adalah intensifikasi pajak yaitu kegiatan optimalisasi penggalian penerimaan pajak terhadap objek serta subjek yang telah tercatat atau telah terdaftar dalam administarsi DJP, dan dari hasil pelaksanaan ekstensifikasi pajak.
Intensifikasi pajak menurut Suparmo dan Theresia (2010:2) adalah upaya yang dilakukan pemerintah untukmeningkatkan penerimaan daerah yang ditempuh melalui peningkatan kepatuhan subjek pajak yang telah ada.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat program Intentifikasi pajak adalah untuk memperbaiki sistem yang terbengkalai dan hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan memperbaiki administrasi juga pengawasan pegawai dan perbaikan pada undang-undang sehingga kegiatan optimalisasi penggalian pendapatan atau penerimaan pajak dapat tercapai.
2.3.3 Pengaruh Program Ekstensifikasi dan Intensifikasi Pajak Reklame Terhadap Peningkatan Pendapatan Pajak Daerah Kota Bandung
Berdasarkan Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 22 Tahun 2011 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 menyebutkan bahwa penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri atas pajak dalam negeri dan pajak perdagangan imternasional.
Direktoret jenderal pajak sebagai otoritas pajak di Indonesia masih mempunyai ruang untuk terus meningkatkan penerimaan pajaknya. Intensifikasi dapat di tingkatkan dengan memaksimalkan pemungutan kepada Wajib Pajak
yang ada di daftar wajib pajak Direktorat Jendral Pajak. Faktor lainnya dengan melakukan kegiatan ekstensifikasi, ekstensifikasi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan jumlah Wajib Pajak, tetapi penambahan jumlah Wajib Pajak tidak serta merta dapat meningkatkan penerimaan.
Penerimaan pajak saat ini merupakan salah satu penerimaan yang paling potensial bagi kelangsungan pembangunan di Kota Bandung. Hal ini menunjukan bahwa pengeluaran-pengeluaran pemerintah Kota Bandung sebagian besar dibiayai oleh pajak. Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah diuraikan oleh penulis diatas, kemudian digambarkan dalam kerangka teoritis yang disusun pada Gambar 2.1 sebagi berikut:
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran Eksentifikasi Pajak Reklame
(X1) Indikator :
Jumlah Objek atau Wajib PajakTerdaftar di Kota Bandung (Surat
Edaran DJP N0. SE-06/PJ.9/2001)
Peningkatan Pendapatan Pajak Daerah (Y)
Indikator :
Realisasi Penerimaan Pajak Daerah (Undang-undang N0.
28 tahun 2009) Intensifikasi Pajak Reklame
(X1)
Indikator :
Realisasi Penerimaan Pajak Reklame Kota Bandung (Surat Edaran DJP N0.
2.4 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum termasuk jawaban yang empirik (Sugiyono;2014)
Berdasarkan model kerangka penelitian di atas, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:.
H1: Ekstensifikasi (x1) pajak reklame berpengaruh terhadap peningkatan
pendapatan pajak daerah kota bandung
H2: Intensifikasi (x2) pajak reklame berpengaruh terhadap peningkatan
pendapatan pajak daerah kota bandung
H3: Ekstensifikasi (x1) dan Intensifikasi (x2) pajak reklame berpengaruh