• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUMAH SAKIT KHUSUS ANAK DENGAN PENERAPAN TAMAN TERAPI DI JAGAKARSA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RUMAH SAKIT KHUSUS ANAK DENGAN PENERAPAN TAMAN TERAPI DI JAGAKARSA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

RUMAH SAKIT KHUSUS ANAK DENGAN

PENERAPAN TAMAN TERAPI DI

JAGAKARSA

Yolanda Demetrius, Albertus Galih Prawata, Michael Isnaeni

Djimantoro

Fakultas sains dan teknonologi universitas Bina Nusantara JL.KH.Syahdan No.9,Jakarta Barat 11480 Telp (62-21)5345830,[email protected]

ABSTRACT

A healing garden in hospital could give some positive effect especially to children. A healing garden was designed by following several guidelines. Some of the guideline’s include facility, materials that are related to texture that stimulates the user’s senses and variety of plants that are related to colours and fragrance, in which colour and fragrance will affect the user’s psychologically. Those guidelines will be the focus of this research. The purpose of this research is to make sure that those guidelines can be applied into the healing garden to support the users’ activity. In this research, therapy activity will be analyzed to obtain the negative effects of the activities which will determine colour and fragrance of the plants used to reduce those negative effects. Therapy characteristic will also determine the healing garden’s facility and material. Colour and fragrance will determine the variety of plants that will be used in several areas that was used to perform certain type of therapy in healing garden. Colours that are applied on plants will also be placed in several room according to room function and the atmosphere needed in the room with the purpose that the plants placement will support the users activities.(Y)

Keywords: children hospital, theraphy, colour, healing garden

ABSTRAK

Keberadaan taman terapi dalam bangunan rumah sakit dapat membawa dampak yang positif khususnya bagi pasien anak. Taman terapi dirancang dengan memperhatikan berbagai kriteria design dan kriteria design yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah fasilitas untuk kegiatan terapi, material yang berkaitan dengan tekstur untuk menstimulasi panca indera pengguna dan jenis tanaman yang berkaitan dengan warna dan aroma yang memberikan dampak psikologis tertentu pada manusia. Penelitian ini bertujuan agar kriteria design yang menjadi fokus dapat dihadirkan untuk mendukung kegiatan para pengguna taman dimana semua kriteria tersebut akan disesuikan dengan kebutuhan pengguna. Dalam penelitian ini, kegiatan terapi akan dianalisis untuk mendapatkan karakteristik terapi berupa efek negatif yang akan menentukan warna dan aroma tanaman yang dibutuhkan untuk meredam efek negatif tersebut. Karakteristik terapi juga akan menentukan fasilitas yang dibutuhkan serta karakteristik materia taman. Warna dan aroma akan menentukan jenis tanaman yang dapat digunakan dan dihadirkan pada area tempat dilaksakannya terapi tertentu pada taman terapi. Warna yang diterapkan pada tanaman juga akan dihadirkan dalam ruang-ruang tertentu sesuai dengan kebutuhan suasana ruang yang diketahui dari fungsi ruang agar penempatan tanaman dapat mendukung kegiatan pengguna ruang. Hasil penelitian ini adalah berupa fasilitas yang akan dihadirkan pada taman terapi, kerakteristik material dan jenis tanaman yang akan diterapkan pada taman terapi serta lokasi penempatan tanaman yang telah disesuaikan dengan kebutuhan terapi dan kebutuhan tanaman akan lama penyinaran. (Y)

(2)

2

PENDAHULUAN

Anak dikategorikan berdasarkan usia dimana remaja merupakan salah satu kategori usia anak. Anak juga merupakan bagian dari masyarakat yang menghadapi masalah kesehatan yang kompleks, walaupun selama ini diasumsikan sebagai kelompok yang sehat. Kegiatan rawat inap dirumah sakit, mengakibatkan stress bagi anak-anak. Sebagai akibatnya, anak-anak sering kali mengalami ketakutan, gelisah, bosan dan lebih rewel serta bergantung pada orang tua. Namun, dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan di taman baik secara aktif ataupun pasif dapat mengurangi stress sebagai akibatnya, anak-anak akan lebih tenang, ceria, penurut dan lebih kooperatif pada tindakan medis. (Said, 2009:1) Salah satu pelayanan dalam rumah sakit untuk mendukung kesembuhan pasien adalah pelayanan rehabilitasi medik yang terdiri dari sedikitnya 3 jenis terapi yaitu fisioterapi, terapi okupasi dan terapi wicara dimana berbagai jenis terapi tersebut dilakukan dengan berbagai kegiatan fisik yang membutuhkan fasilitas-fasilitas tertentu dan dapat dilakukan baik didalam ruangan maupun diluar ruangan yaitu pada taman terapi. Namun, agar bisa dilaksanakan di taman, taman terapi harus bisa memenuhi fasilitas-fasilitas untuk mendukung kegiatan dalam terapi tersebut. Taman sebagai salah satu elemen ruang pada rumah sakit dapat dimanfaat sebagai suatu ruang terapi untuk mendukung kesembuhan pasien.

Dalam jurnal Garden as An environmental Intervention in Healing Process of holpitalised Children, Ismail Said (2003:6-7) melaporkan hasil studi mengenai respon anak-anak terhadap keberadaan taman terapi dirumah sakit dan anak-anak menunjukkan respon yang positif diantaranya yaitu lebih jarang menangis karena diizinkan untuk bermain, lebih aktif secara fisik, lebih bekerja sama dan lebih penurut dalam proses penyembuhan.

Beberapa Kriteria design suatu taman terapi yang perlu diperhatikan diantaranya adalah fasilitas, material taman, warna serta pemilihan jenis tanaman dengan mempertimbangkan warna dan aroma tanaman. fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan pengguna taman sedangkan warna dan material serta aroma berkaitan dengan efek stimulasinya pada panca indera pengguna taman.

Pemilihan jenis tanaman merupakan kriteria perancangan taman terapi yang dipertimbangkan dari warna, aroma dan kondisi fisik tanaman (duri, getah, ketinggian dan lain-lain). Aneka ragam warna dan aroma yang dimiliki oleh berbagai jenis tanaman dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang baik secara positif ataupun negatif.

Warna adalah faktor lingkungan dan faktor lingkungan mempengaruhi proses penyembuhan sebesar 40%. Warna dapat diterapkan salah satunya pada elemen estetis dimana salah satu elemen estetis adalah tanaman. (Wandira dan B.Pribadi, 2011:75). Penggunaan warna pada ruangan dalam rumah sakit dan pada taman terapi yang diterapkan lewat tanaman juga harus diperhatikan berkaitan dengan efek positif dan negatif yang diberikan warna terhadap kondisi psikologis manusia sebagai contoh warna biru mengurangi rasa cemas dan warna ungu mengakibatkan depresi (S.Azeemi, 2007:40-55) sehingga, pemilihan jenis tanaman dan penempatannya baik pada ruangan dalam bangunan ataupun pada taman terapi harus diperhatikan dan disesuaikan dengan kegiatan dan fungsi dalam taman terapi ataupun ruangan tertentu.

Maksud dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta menghadirkan material dan jenis tanaman yang sesuai, dipertimbangkan dari efek stimulasinya pada panca indera serta efek psikologis yang diberikan khususnya lewat warna dan aroma sehingga pemilihan dan penempatan jenis tanaman tersebut baik di taman terapi ataupun di dalam ruangan dari rumah sakit yang akan dirancang dapat mendukung kegiatan pengguna.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan Jenis penelitian adalah penelitian terapan/ applied reasearch karena hasil dari penelitian ini sendiri akan langsung diterapkan dalam rumah sakit anak yang akan dirancang.

Dalam penelitian ini, semua data bersumber dari studi pustaka serta observasi. Data berupa kegiatan terapi didapat dari hasil studi pustaka dan observasi dianalisa untuk mengetahui karakteristik terapi dan karakteristik terapi dianalisa lebih lanjut untuk mengetahui efek negatif kegiatan terapi, serta fasilitas dan tekstur material yang dapat mendukung kegiatan terapi. Data berupa fungsi ruang, didapat dari hasil studi pustaka dan dianalisa untuk mengetahui kebutuhan suasana ruang. Data berupa pengaruh warna terhadap kondisi psikologis manusia didapat dari hasil studi pustaka dimana dampak psikologis dari warna-warna tadi akan dianalisa kaitannya dengan dampak negatif terapi dan kebutuhan suasana ruang sehingga dampak psikologis warna dapat digunakan untuk meredam efek negatif dari terapi serta

(3)

3 dapat memenuhi kebutuhan suasana ruang. Warna tanaman akan menentukan jenis tanaman yang digunakan dimana semua jenis tanaman yang dipilih merupakan tanaman yang aman bagi anak-anak, memiliki aroma tertentu untuk mendukung kegiatan terapi dan meredam efek negatif kegiatan terapi, memenuhi kebutuhan suasana ruang dan untuk beberapa tanaman dipilih karena dapat dikonsumsi. Semua jenis tanaman tersebut akan diletakkan pada ruang-ruang dan lokasi tertentu dalam taman terapi sehingga tanaman tersebut dapat mendukung kegiatan para penghuni rumah sakit.

HASIL DAN BAHASAN

Kegiatan terapi yang dianalisa memiliki beberapa efek negatif tertentu dimana efek-efek negatif tersebut dapat diredam dengan warna-warna tertentu. Beberapa dampak psikologis dari warna dapat diuraikan sebagai berikut:

Tabel 1. Dampak psikologis warna terhadap manusia

NO Warna Efek

1 Merah 1. Meningkatkan tekanan darah dan kecepatan pernafasan

2. Dampak negatif warna merah adalah gangguan emosional, mempercepat detak jantung dan pernafasan serta hipertensi

2 Orange 1. Warna orange dapat meredakan penyakit yang berhubungan dengan sistem

pernafasan

2. Warna orange digunakan untuk meningkatkan fokus/ konsenterasi

3. Terpapar warna orange secara berlebihan mengakibatkan rasa gugup dan gelisah dan insomnia

3 Kuning 1. Warna kuning memberikan efek ceria dan menstimulasi kreativitas dan

membantu konsentrasi

2. Warna kuning diminati oleh anak-anak dengan penyakit asthma dan gangguan pernafasan lainnya.

3. Terpapar warna kuning secara berlebihan menyebabkan mudah tersinggung

4 Hijau 1. Warna hijau membantu mengurangi ketegangan serta rasa gugup, mengurangi

tekanan darah serta membantu proses penyembuhan

2. Penyakit yang dapat diringankan oleh warna hijau diantaranya adalah insomnia

5 Biru 1. Warna biru dapat menurunkan tekanan darah, meredakan sakit kepala dan

mengatasi insomnia

2. Warna biru memberikan efek menenangkan pada detak jantung dan sistem pernafasan

3. Mereduksi stress, rasa cemas, tegang dan depresi.

4. Terpapar warna biru secara berlebihan dapat mengakibatkan depresi dan kelelahan

6 Ungu 1. Warna ungu digunakan untuk meredakan berbagai penyakit seperti cramp.

2. Terpapar warna ungu secara berlebihan pada anak-anak dapat menyebabkan depresi dan terlalu banyak berpikir

7 Pink 1. Identik dengan rasa takut pada anak laki-laki usia 9-10 tahun

2. Warna pink memberikan efek menenangkan dan mengurangi rasa takut dan cemas pada anak-anak karena memberikan kesan dicintai

3. Memberikan emosi negative pada perempuan dibandingkan laki-laki Sumber: Gaines et al, 2011:50-51 dan S.Azeemi, 2007:40-55

Efek-efek negatif dari terapi serta warna yang digunakan untuk meredam efek negatif tersebut berdasarkan dampak psikologis dari warna yang telah diuraikan adalah:

(4)

4 Tabel 2. Fisioterapi cardiovaskular&pulmonary

Efek negatif terapi Warna

1. kegiatan olahraga mengakibatkan kelelahan.

2. Kegiatan terapi tahap pertama mengakibatkan sesak nafas khususnya pada pasien dengan gangguan paru-paru dan kelelahan serta rasa tegang, cemas, ketakutan dan stress.

Biru Biru, pink, kuning dan orange Sumber: Hasil olahan data

Kegiatan utama dari fisioterapi cardiovaskular&pulmonary adalah olahraga sehingga, untuk fasilitas, dibutuhkan alat-alat olahraga serta jalur jogging dengan tekstur materaial yang tidak terlalu kasar untuk mencegah cedera

Tabel 3. Fisioterapi Orthopedic

Efek negatif terapi Warna

1. kegiatan fisik akan menyebabkan rasa lelah terutama bagi pasien pasca operasi. 2. Kegiatan terapi dapat menyakitkan karena cedera yang masih diderita pasien dan

rasa sakit, stress dan putus asa menyebabkan pasien sulit berkonsenterasi pada dalam kegiatan terapi.

3. Pada awal kegiatan terapi umumnya pasien akan merasa tegang dan terapi ini menimbulkan perasaan cemas dan ketakutan pada pasien khususnya pasien anak. 4. Terjatuh, ketika terapi dapat menyebabkan stress, depresi dan putus asa.

Biru

Biru dan pink Biru dan pink Biru

Sumber: Hasil olahan data

Kegiatan utama dari fisioterapi orthopedic adalah latihan-latihan fisik untuk mengembalikan fungsi otot dan tulang yang mengalami penurunan sehingga untuk fasilitas, dibutuhkan ramp, tangga, railing paralel dan papan keseimbangan sebagai sarana latihan dengan area berumput dengan tekstur empuk dan tidak kasar pada taman sebagai lokasi latihan berjalan untuk mencegah terjadinya cedera saat jatuh.

Terapi okupasi:

Pada terapi okupasi, efek negatif hampir tidak ada, yang terpenting adalah anak tidak merasa bosan dan elemen-elemen taman dapat menjadi sarana pembelajaran bagi anak sehingga dalam terapi ini, dituntut adanya variasi dari segi tekstur material, alat-alat bermain dimana bermain merupakan kegiatan utama terapi serta berbagai warna dan aroma untuk menstimulasi indera penglihatan dan penciuman anak. Terapi wicara:

Terapi wicara membutuhkan konsentrasi yang tinggi karena pasien harus bisa mengikuti semua arahan dari terapis. Sehingga, terapi wicara dapat menyebabkan stress, cemas dan kelelahan bagi pasien karena mereka dituntut untuk berkonsentrasi. Sehingga warna yang dapat digunakan adalah orange dan kuning untuk meningkatkan konsentrasi. Efek stress dapat diredam dengan menggunakan aroma tanaman tertentu. Fasilitas untuk terapi wicara berupa tempat duduk serta meja.

Ruang-ruang dalam rumah sakit digunakan baik oleh pasien, staff rumah sakit dan pengantar pasien (pengunjung) dengan kebutuhan beragam. Dalam satu lingkungan rumah sakit, ada beberapa ruang tertentu yang membutuhkan perhatian lebih karena aktivitas yang ditampung dalam ruang tersebut memberikan dampak psikologis tertentu bagi penggunanya dan membutuhkan manfaat terapi tertentu untuk mengurangi dampak psikologis yang bersifat negatif seperti tegang, cemas, ketakutan dan lain-lain. Ruag-ruang yang menjadi fokus penelitian serta kebutuhan suasana dari ruang tersebut berdasarkan fungsi adalah sebagai berikut:

1. Ruang tidur/ kamar pasien: tenang, dapat membantu pasien untuk istirahat.

2. Ruang tunggu perawatan intensif dan penanganan gawat darurat:kegiatan menunggu kabar dari staff rumah sakit mengenai kondisi keluarga yang dirawat mengakibatkan rasa cemas, stress serta lelah, sehingga dibutuhkan suasana yang lebih relaks dan tenang.

3. Ruang tunggu jenazah/ ruang duka: Kebutuhan suasana: keluarga pasien dalam kondisi berduka, stress dan depresi karena kehilangan anggota keluarga sehingga dibutuhkan warna cerah dan aroma yang dapat membantu mengatasi emosi negatif tersebut.

(5)

5 4. Corridor menuju ruang operasi dan Ruang persiapan (untuk dokter dan pasien sebelum operasi): Kebutuhan suasana: melakukan operasi berhubungan dengan menyelamatkan nyawa pasien dapat menyebabkan rasa gugup dan cemas serta stress pada dokter, perawat dan staff lainnya, pasien juga akan merasa gugup dan cemas sehingga dibutuhkan warna dan aroma yang mengatasi emosi negatif tersebut namun, tetap meningkatkan konsentrasi dan fokus dokter serta staff lainnya.

5. Lobby-administrasi: Kebutuhan suasana: nyaman, memberi kesan santai/ relaks namun tidak membosankan sehingga dibutuhkan banyak variasi jenis tanaman yang berbeda warna, bentuk dan ketinggian.

Warna-warna yang dibutuhkan dalam ruangan-ruangan tersebut tersebut berdasarkan dampak psikologis dari warna yang telah diuraikan adalah:

Tabel 4. Ruang dan Warna yang dibutuhkan

Ruang Warna

Ruang tidur Biru

Ruang tunggu ICU dan UGD Biru dan pink

Ruang tunggu jenazah Biru, pink, orange dan kuning

Corridor menuju ruang operasi dan ruang persiapan operasi Biru, orange dan kuning

Lobby-administrasi Hampir semua warna

Sumber: Hasil olahan data

Jenis tanaman merupakan salah satu kriteria design taman terapi. Dari semua uraian mengenai warna-warna yang dibutuhkan oleh terapi tertentu dan ruang-ruang tertentu dalam rumah sakit maka, tanaman-tanaman yang mewakili warna-warna tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Jenis tanaman berdasarkan warna

Warna Jenis tanaman

Biru Iris Reticulata, Geranium Pratense, Hydrangea Macropylla, Agapanthus

Africanus

orange Marigold, Cosmos sulphureus, Spathodea campanulata, kembang sepatu

Kuning Alamanda Cathartica, chrysanthemum, Cosmos Caudatus, bunga matahari

Pink Carnation, teratai, Hollyhock, kembang sepatu

merah Asoka, dahlia ‘bishop of landalf’, kembang sepatu, peony

Ungu Rosemary, lavender, geranium incanum, bougenvillea

Putih (untuk aroma) Orange blossom, gardenia, melati, chamomile

Sumber: Hasil olahan data

Dengan diketahuinya warna serta tanaman yang mewakili warna-warna tersebut maka, keberadaan tanaman tersebut pada jenis terapi tertentu untuk mengurangi efek negatif terapi dan ruang dalam rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan suasana ruang adalah:

Tabel 6 Tabel bunga warna biru dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Geranium Pratense Iris Reticulata Agapanthus Africanus

Area pada taman terapi tempat fisioterapi, dan terapi okupasi, kamar pasien, ruang tunggu UGD/ ICU, ruang persiapan operasi, ruang tunggu jenazah dan ruang duka serta lobby rumah sakit. Hydrangea Macropylla Hanya pada area taman terapi tempat fisioterapi dan terapi okupasi

(6)

6 Tabel 7 Tabel bunga warna orange dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Celendula Officinalis Cosmos Sulphureus

Area pada taman terapi tempat fisioterapi, terapi okupasi dan terapi wicara, corridor menuju ruang operasi, ruang tunggu jenazah dan ruang duka serta lobby rumah sakit.

Spathodea Campanulata Kembang sepatu

Hanya pada area taman terapi tempat fisioterapi, terapi okupasi dan terapi wicara

Sumber: Hasil olahan data

Tabel 8 Tabel bunga warna kuning dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Chrysanthemum Cosmos Caudatus Alamanda Cathartica

Area pada taman terapi tempat fisioterapi cardiovaskular dan pulmonary, terapi okupasi dan terapi wicara, kamar pasien (hanya untuk chrysanthemum),corridor menuju ruang operasi, ruang tunggu jenazah dan ruang duka serta lobby rumah sakit

Bunga Matahari Hanya pada area taman terapi tempat fisioterapi cardiovaskular dan pulmonary, terapi okupasi dan terapi wicara

Sumber: Hasil olahan data

Tabel 9 Tabel bunga warna pink dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Carnation Hollyhock

Area pada taman terapi tempat fisioterapi orthopedic dan terapi okupasi, ruang tunggu UGD dan ICU, ruang tunggu jenazah dan ruang duka serta lobby rumah sakit

Kembang sepatu Bunga Teratai

Hanya pada area taman terapi tempat fisioterapi orthopedic dan terapi okupasi

Sumber: Hasil olahan data

Tabel 9 Tabel bunga warna merah dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Paeonia cv Shima-nishiki Dahlia‘Bishop of llandalff’

Area pada taman terapi tempat fisioterapi orthopedic dan terapi okupasi, serta lobby rumah sakit

Kembang sepatu Asoka

Hanya pada area taman terapi tempat fisioterapi orthopedic dan terapi okupasi

Sumber: Hasil olahan data

Tabel 10 Tabel bunga warna ungu dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Geranium Incanum Rosemary

Lavender

Area pada taman terapi tempat terapi okupasi, kamar pasien serta lobby rumah sakit

Bugenvillea Hanya pada area taman terapi tempat terapi okupasi

(7)

7 Tabel 11 Tabel bunga warna putih dan lokasinya

Nama bunga Lokasi

Chamomile Area pada taman terapi tempat terapi okupasi dan fisioterapi,

kamar pasien, ruang tunggu UGD/ICU, ruang persiapan operasi, corridor menuju ruang operasi, ruang tunggu jenazah/ ruang duka dan lobby rumah sakit

Orange Blossom Melati Gardenia

Area pada taman terapi tempat terapi okupasi dan fisioterapi (kecuali gardenia untuk fisioterapi cardiovaskular dan pulmonary) kamar pasien, ruang tunggu UGD/ICU, ruang persiapan operasi, corridor menuju ruang operasi, ruang tunggu jenazah/ ruang duka dan lobby rumah sakit kecuali melati

Sumber: Hasil olahan data

Selain disesuaikan dengan kebutuhan terapi, lokasi peletakan tanaman juga disesuaikan dengan kebutuhan tanaman akan lama penyinaran, Setelah melalui proses perancangan, taman terapi diputuskan terletak pada lantai 3 bangunan dengan memanfaatkan roof garden sebagai area tanam.

Gambar 1. Letak taman terapi pada model dan taman terapi pada denah

Area terluar taman terapi dimanfaatkan sebagai area tanam tanaman-tanaman peneduh dan memiliki level permukaan tanah yang lebih tinggi dari area yang ada di belakangnya.

Beberapa tanaman yang akan digunakan pada taman terapi terbagi menjadi 2 kategori yaitu jenis tanaman full sun dan partial shade yang memiliki kebutuhan lama penyinaran yang berbeda yaitu minimal 6 jam penyinaran untuk jenis full sun dan minimal 3 jam penyinaran untuk jenis partial shade. Data-data mengenai kebutuhan lama penyinaran jenis-jenis tanaman yang digunakan yaitu:

Tabel 12 Kebutuhan lama penyinaran tanaman

Tanaman Pencahayaan Lokasi

Geranium pratense Full sun/ partial shade-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Agapanthus africanus Full sun-sheltered Indoor-outdoor

Hydragea macropylla Full sun/partial shade- Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Celendula officinalis Full sun/partial shade-Exposed/sheltered Outdoor

Cosmos sulphureus Full sun-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Kembang sepatu (orange) Full sun- sheltered Indoor-outdoor

Chrysanthemum Full sun/partial shade-Sheltered Indoor-outdoor

Cosmos Caudatus Full sun-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Alamanda Cathartica Full sun-sheltered outdoor

Bunga Matahari Full sun-Exposed outdoor

Carnation Full sun-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Taman Terapi Taman Terapi +10.00 +11.80

Area terluar taman terapi yang dimanfaatkan sebagai area tanam pohon peneduh

(8)

8

Tanaman Pencahayaan Lokasi

Hollyhock Full sun-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Kembang sepatu (pink) Full sun-sheltered Indoor-outdoor

Asoka Full sun/partial shade-Exposed outdoor

Kembang Sepatu (merah) Full sun-sheltered Indoor-outdoor

Paeonia cv Shima-nishiki Full sun/ partial shade-sheltered Indoor-outdoor

Dahlia‘Bishop of llandalff’ Full sun-sheltered outdoor

Geranium Incanum Full sun/partial shade- Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Rosemary Full sun-sheltered Indoor-outdoor

Lavender Full sun/partial shade-Exposed Indoor-outdoor

Bugenvillea Full sun-sheltered Indoor-outdoor

Chamomile Full sun/partial shade-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Gardenia partial shade- sheltered outdoor

Orange Blossom Full sun-Exposed/sheltered Indoor-outdoor

Melati Full sun/partial shade- sheltered Indoor-outdoor

Sumber: RHS (Royal Horticultural Society)

Letak taman terapi pada model disimulasikan dengan menggunakan software eco-tect untuk mengetahui lama penyinaran matahari pada beberapa area tertentu. Sehingga, penempatan tanaman tidak hanya disesuaikan dengan kebutuhan terapi namun juga disesuaikan dengan kebutuhan tanaman akan lama penyinaran. Simulasi lama penyinaran dilakukan mulai dari jam 6 pagi sampai dengan jam 6 sore dengan hasil penzoningan tanaman berdasarkan kriteria jenis tanaman full sun dan partial shade adalah sebagai berikut:

Gambar 2 Hasil penzoningan jenis tanaman full sun dan partial shade pada denah taman terapi.

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari seluruh kegiatan penelitian berkaitan dengan kriteria design taman terapi berupa warna, tekstur dan fasilitas adalah adalah:

1. Warna biru dapat digunakan hampir pada semua jenis terapi, warna orange digunakan pada semua jenis kegiatan terapi karena semua jenis kegiatan terapi membutuhkan warna untuk meningkatkan fokus, warna kuning dapat dihadirkan pada semua jenis terapi khususnya untuk fisioterapi cardiovaskular & pulmonary untuk meringankan sesak nafas namun tidak pada fisioterapi orthopedik karena dikhawatirkan akan memperparah amarah anak, warna merah tidak terlalu banyak digunakan khususnya untuk fisioterapi cardiovaskular & pulmonary karena dapat mempercepat detak jantung dan pernafasan. warna ungu tidak digunakan pada jenis terapi apapun kecuali terapi okupasi karena dapat mengakibatkan depresi pada anak. 2. Tektur material pada taman terapi khususnya padajalur jogging tidak boleh terlalu kasar untuk

mencegah cedera dan pada area tempat dilakukannya fisioterapi orthopedic, material tidak 3 jam (partial shade)

6 jam (full sun)

7 jam (full sun)

5 jam (partial shade) 8-9 jam (full sun)

(9)

9 boleh terlalu keras dan kasar untuk mencegah cedera. Pada area bermain untuk terapi okupasi material dengan tekstur terlalu kasar juga harus dihindari.

3. Fasilitas yang harus disediakan dalam taman terapi adalah jalur jogging dan alat fitness khusus untuk anak untuk mendukung fisioterapi cardiovaskular dan pulmonary serta railing paralel, tangga, ramp dan papan keseimbangan untuk mendukung fisioterapi orthopedic serta meja dan kursi untuk mendukung terapi wicara dan beragam alat bermain untuk mendukung terapi okupasi

4.Design taman terapi dan peletakan tanaman secara konseptual dengan memperhatikan warna-warna yang diperlukan oleh jenis terapi tertentu dan hasil penzoningan tanaman adalah sebagai berikut:

Gambar 3 Design konseptual denah taman terapi Keterangan:

A: Area A merupakan area yang disinari matahari selama 3 jam (partial shade) dan terletak didepan ruang fisioterapi sehingga, tanaman yang sesuai untuk area ini adalah:

1. Geranium Pratense

2. Hydragea Macropylla

3. Chamomile

4. Melati 5. Carnation

6. Kembang sepatu (warna pink)

7. Hollyhock

8. Orange blossom (sebagai tanaman

peneduh)

B: area B merupakan area yang disinari matahari selama 3 jam (partial shade) dan terletak didepan ruang tearpi wicara sehingga, tanaman yang sesuai untuk area ini adalah:

1. Celendula Oficinalis 2. Chrysanthemum 3. Cosmos sulphureus 4. Cosmos Caudatus 5. Alamanda Cathartica 6. Bunga Matahari

• Area C dan F: area C dan F merupakan area yang disinari matahari selama 5-7 jam dan merupakan area yang yang berada di depan ruang terapi okupasi dan lounge taman terapi serta dimanfaatkan untuk terapi okupasi sehingga tanaman yang ada pada area ini adalah:

1. Geranium pratense 2. Agapanthus africanus 3. Hydragea macropylla 4. Celendula officinalis 5. Cosmos sulphureus

6. Kembang sepatu (pink, orange dan merah) 7. Chrysanthemum 8. Cosmos Caudatus 9. Alamanda Cathartica 10. Bunga Matahari 11. Carnation 12. Hollyhock 13. Asoka 14. Paeonia cv Shima-nishiki 15. Dahlia‘Bishop of llandalff’ 16. Geranium Incanum 17. Rosemary 18. Lavender 19. Bugenvillea 20. Chamomile 21. Orange Blossom 22. Melati 23. Gardenia

(10)

10 • Area D: area D merupakan area yang disinari matahari selama 7 jam (full sun) serta dimanfaatkan sebagai area untuk latihan berjalan dalam fisioterapi orthopedic. sehingga, tanaman-tanaman yang ada pada area ini adalah:

1. Agapanthus africanus 2. Carnation 3. Hollyhock 4. Chamomile 5. Orange Blossom 6. Melati 7. Asoka 8. Paeonia cv Shima-nishiki 9. Dahlia‘Bishop of llandalff’ 10. Kembang sepatu (warna orange,

merah dan pink) 11. Celendula officinalis 12. Cosmos sulphureus

Area E: area E merupakan area flower bed dan disinari matahari selama 7 jam (full sun) dan 5 jam (partial shade) sehingga, tanaman yang ada pada area ini adalah:

1. Geranium pratense 2. Agapanthus africanus 3. Hydragea macropylla 4. Celendula officinalis 5. Cosmos sulphureus 6. Kembang sepatu 7. Chrysanthemum 8. Cosmos Caudatus 9. Alamanda Cathartica 10. Carnation 11. Hollyhock 12. Asoka 13. Paeonia cv Shima-nishiki 14. Dahlia‘Bishop of llandalff’ 15. Geranium Incanum 16. Rosemary 17. Lavender 18. Bugenvillea 19. Chamomile 20. Gardenia 21. Orange Blossom

22.

Melati

Jenis-jenis tanaman tersebut baru ditempatkan sesuai dengan efek psikologis yang diberikan lewat warna dan aroma yang dimiliki tanaman tersebut untuk mendukung kegiatan terapi dan kegiatan pada ruang tertentu, dan telah disesuaikan dengan kebutuhan akan lama penyinaran namun, jenis tanaman yang digunakan masih kurang variatif sehingga penelitian berikutnya dapat berfokus untuk untuk mencari tahu tanaman-tanaman lainnya yang dapat digunakan untuk suatu taman terapi.

REFERENSI

Azeemi, S Khwaha. (2007). Colour Therapy. Kurkhiya education foundation

Diamond, Denise. (1990). The Complete Book of Flowers. California : North atlantic books

Marcus dan Barnes. (1999). Healing Garden: Therapeutic Benefits and Design Recommendation. River street,Hoboken: John Willey & sons.

Robert, J Margareth. (2000). Edible and Medicinal Flower. Garfield Road Claremont: Spearhead Said, I. (2008) . Garden as Restorative Environment for Hospitalised Children. Johor

Darul Ta’zim

Hebert, BB. (2003). Design Guidelines of Therapeutic Garden for Autistic Children [Thesis]. Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College.

Vapaa, AG. (2002) . Healing Gardens: Creating Places for Restoration, Meditation,

and Sanctuary [Thesis]. College of Architecture and Urban Studies, Virginia Polytechnic Institute and State Unitversity, Virginia

Said,I. (2003). Garden an an Envirinmental Intervention in Healing Process of Hospitalised Children. Departement of Landscape Architecture, Faculty of Built environment,Universiti Teknologi Malaysia. Johor

(11)

11 Wandira,A dan B Pribadi, S. (2011). Kajian Aplikasi Warna Interior Rumah Sakit Ibu dan Anak Pada Psikologi Pasien Anak (Studi Kasus: RSIA Hermina Pandanaran). Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro: semarang, 11 (2), hal.72

RIWAYAT PENULIS

Penulis, Yolanda Demetrius lahir di Jakarta pada tanggal 3 september 1991. Penulis sedang menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang arsitektur pada tahun 2013. Saat ini bekerja sebagai arsitek junior di CV.Smart Design&Build.

Gambar

Tabel 1. Dampak psikologis warna terhadap manusia
Tabel 4. Ruang dan Warna yang dibutuhkan
Tabel 8 Tabel bunga warna kuning dan lokasinya
Gambar 1. Letak taman terapi pada model dan taman terapi pada denah
+3

Referensi

Dokumen terkait

Indikator Program dan Kinerja Program pada Th awal Unit Kerja SKPD.. Sasaran Kegiatan ( Outcome ) dan

Selain sebelum pembelajaran, Observasi juga dilakukan pada kelengkapan perangkat pembelajaran guru (silabus, RPP, soal evaluasi, media dan bahan ajar). Untuk RPP diutamakan

Besar PAD yang diperoleh daerah tergantung dari besar penerimaan komponennya (pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan

Ketidakbermaknaan korelasi tingkat gejala adiksi internet dengan aktivitas yang dilakukan jika tidak tersedia dana, dapat dijelaskan karena sebagian besar

10 Jawaban dari responden mengenai kondisi fasilitas safety guard di Objek Danau Wisata yang paling banyak adalah baik/sigap, karena responden merasa bahwa keamanan

Tahun 2003, PCV7 dapat mereduksi seluruh penyakit infeksi yang disebabkan oleh streptococcus pneumonia, sehingga bakteri ini dianggap sebagai penyebab utama CAP pada anak..

Gereja Katolik mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, yang artinya adalah: 1) manusia dapat mengenal dan mengasihi Penciptanya; 2) manusia

Kemampuan yang di miliki aplikasi ini adalah Dengan menggunakan sistem absensi yang menggunakan sidik jari, proses absensi menjadi lebih efisien sehingga pengolahan