• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

1. Pengertian Sistem

Sistem berasal dari bahasa latin (Systema) dan bahasa Yunani (Sustema). Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, dimana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam suatu antar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan, Setyawan (2013).

Secara umum dalam arti sempit, sistem dapat diartikan sebagai suatu susunan atau sebagai suatu cara. Suatu sistem melingkupi struktur dan proses, dimana struktur membicarakan elemen-elemen atau unsur yang membentuk sistem itu sendiri sedangkan proses membicarakan cara kerja/prosedur dari setiap elemen secara berurutan, teratur dan sistematis. Suatu sistem dirancang dan diterapkan untuk melakukan aktivitas yang sifatnya berulang. Sistem terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan erat satu sama yang lainnya dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu, Amri (2010).

(2)

Sistem adalah gabungan berbagai elemen yang berinteraksi dan secara bersama berfungsi untuk mencapai tujuan. Sistem merupakan kumpulan elemen-elemen yang menimbulkan hubungan satu dengan yang lainnya Bondar (1995) dalam Susilatri, dkk (2010). Dari definisi yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kesatuan dari beberapa unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.

Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat tertentu, Jogiyanto (2001) dalam Setyawan (2013) yaitu sebagai berikut:

a. Komponen sistem

Sistem terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dan dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap subsistem memounyai sifat dari sistem yang menjalakan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.

b. Batas sistem

Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya.

c. Lingkungan luar sistem

Lingkungan luar dari sistem adalah apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem.

d. Penghubung sistem

Penghubung merupakan media penghubung antara suatu subsistem dengan subsistem lainnya.

(3)

e. Masukan dan keluaran sistem

Masukan adalah energi yang dimasukan ke dalam sistem. Sedangkan keluaran adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dari sisa pembuangan.

f. Pengolah sistem

Pengolah sistem mengelola masukan menjadi keluaran g. Sasaran sistem

Suatu sistem akan dikatakan berhasil jika mengenai sasaran atau tujuannya.

2. Pengertian Informasi

Informasi adalah data yang berguna yang diolah sehingga dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan yang tepat, Bodnar dan Hopwood (1996: 1) dalam Setyawan (2013). Sedangkan menurut Jogiyanto (2005) yang dikutip dalam Nurhayanti (2012) informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya.

Pengertian informasi yang dikemukakan oleh Chushing yang diterjemahkan oleh Midjan dan Susanto (2003: 7) menyatakan bahwa informasi diartikan sebagai keluaran (output) dari suatu pengolahan data (sistem informasi) yang telah terorganisir dan berguna bagi orang yang menerima. Pengertian informasi menurut Rommey dan Steinbart yang diterjemahkan oleh Fitrianasari dan Kwary (2004: 11) menyatakan bahwa informasi adalah data yang telah diatur dan diproses untuk

(4)

memberikan arti. Sedangkan menurut Laudon yang diterjemahkan oleh Sungkono dan Eka (2007: 13) mengungkapkan bahwa informasi adalah data yang telah dibentuk menjadi sesuatu yang memiliki arti dan berguna bagi manusia.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari data yang telah diolah dan diorganisasikan, sehingga memberikan arti bagi penerima yang dapat mempengaruhi tindakan dalam pengambilan keputusan yang dikutip dalam Nurhapsari (2013).

Calliueot dan Lapayre dalam Handayani (2007) menyatakan bahwa penciptaan suatu informasi yang efektif membutuhkan suatu pengorganisasian untuk mengembangkan sejumlah sistem-sistem pendukung. Penarikan staf yang kompeten dan layak adalah suatu tindakan yang sangat penting. Investasi yang besar dalam perangkat keras, perangkat lunak dan pendukung sistem yang lain adalah sesuatu yang penting, namun tanpa manusia bersumber daya yang tidak layak tidak tepat waktu atau tidak akurat. Sumber informasi adalah data dimana data merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal data item.

Kualitas suatu informasi tergantung dari beberapa hal, Mukhtar (2002: 4) dalam Setyawan (2013) yaitu sebagai berikut:

a. Akurat

Akurat berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak menyesatkan. Informasi harus akurat karena dari sumber

(5)

informasi sampai ke penerima informasi kemungkinan banyak terjadi gangguan yang dapat merubah atau merusak informasi tersebut.

b. Tepat waktu

Ini berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat. Jika pengambilan keputusan terlambat, maka dapat berakibat fatal untuk organisasi.

c. Relevan

Relevan berarti informasi tersebut harus mempunyai manfaat untuk pemakainya.

d. Lengkap

Informasi yang disajikan termasuk di dalamnya semua data-data yang relevan dan tidak mengabaikan kepentingan yang diharapkan oleh pembuat keputusan.

e. Dapat dimengrti

Informasi yang disajikan hendaknya dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pembuat keputusan. Nilai dari informasi ditentukan oleh dua hal yaitu manfaat dan biaya untuk mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya untuk mendapatkannya.

Formulasi pendapat ini:

(6)

3. Pengertian Sistem Informasi

Sistem informasi dapat diartikan sebagai suatu pengorganisasian peralatan untuk mengumpulkan, menginput, memproses, menyimpan, mengatur, mengontrol dan melaporkan informasi untuk pencapaian tujuan perusahaan, Setyawan (2013). Menurut James A Hall (2009) yang dikutip dalam Nurhayanti (2012) sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal dimana data dikumpulkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan ke para pengguna.

Menurut Mukhtar (2002), suatu sistem informasi dapat dibagi menurut keberadaannya di suatu perusahaan. Ada sistem informasi informal dan sistem informasi formal. Sistem informasi informal keberadaannya di suatu organisasi tidak diakui secara resmi dan informasi yang dihasilkan seringkali mendukung informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi formal. Sedangkan sistem informasi formal secara eksplisit diakui keberadaannya di perusahaan dan bertanggung jawab untuk menghasilkan informasi, yang dikutip dalam Setyawan (2013).

Selain itu sistem informasi juga dibagi berdasarkan proses yang dijalankan untuk mendapatkan informasi, yaitu sistem informasi manual, semua proses untuk memproduksi informasi tidak menggunakan mesin atau komputer, maka sistem informasi otomatis melibatkan mesin atau komputer dalam memproduksi informasi.

(7)

Sistem informasi mempunyai komponen yang terdiri dari blok maasukan, blok model, blok keluaran, blok teknologi, blok basis data dan blok kendali. Tujuan sistem informasi, Jogiyanto (2001) dalam Setyawan (2013):

a. Sistem informasi bisa meningkatkan produk dan jasa. b. Sistem informasi bisa meningkatkan efisiensi.

c. Sistem informasi bisa meningkatkan proses kerja manajemen. 4. Pengertian Sistem Informasi Akuntansi

Dalam melaksanakan suatu sistem informasi akuntansi unsur-unsur yang terlibat adalah manusia sebagai pelaksana dari sistem, organisasi atau perusahaan sebagai objek yang membutuhkan sistem dan pengolahan data transaksi untuk menghasilkan informasi. Unsur-unsur tersebut merupakan rangkaian yang terpadu dan saling berkaitan dalam melaksanakan suatu sistem Amri (2010).

Dalam Nugerahmawati (2013) terdapat beberapa definisi sistem informasi akuntansi yang telah dikemukakan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut :

Menurut Bodnar dan Hopwood (2010:1) sistem informasi akuntansi adalah:

An accounting information system is a collection of resources, such as people and equipment, design tranform financial and other data into information”.

(8)

Pernyataan Bodnar dan Hopwood menjelaskan bahwa sistem informasi akuntansi merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi.

Menurut Romney dan Steinbart (2009: 28) sistem informasi akuntansi adalah:

An accounting information system is a system that collect, records, stores and processes data to prodece information for decision makers”.

Pernyataan yang dikemukakan oleh Romney dan Steinbart menjelaskan bahwa sistem informasi akuntansi merupakan sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan dan memproses data sehingga menghasilkan informasi untuk pengambilan keputusan.

Menurut Wilkinson (2000:7), bahwa sistem informasi adalah: “Unified structure within an entity such as business firm that employes phsycal resources and other components to transform economics data into accounting information with purpose if satisfying the information needs of variety of users”.

Definisi yang dijelaskan oleh Wilkinson menjelaskan bahwa sistem informasi akuntansi adalah bersatunya sebuah struktur dalam entitas seperti bisnis perusahaan yang memperkerjakan sumber daya dan komponen lainnya untuk merubah data ekonomi ke informasi akuntansi dengan tujuan memuaskan kebutuhan informasi para pengguna.

(9)

Menurut Jogiyanto (2008:227), bahwa sistem informasi akuntansi adalah sebagai sistem informasi yang merubah data transaksi bisnis menjadi informasi keuangan yang berguna bagi pemakainya. Menurut Azhar Susanto (2008:72) sistem informasi akuntansi adalah kumpulan (integrasi) dari sub-sub sistem/komponen baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan dan bekerja sama satu sama lain secara harmonis untuk mengolah data transaksi yang berkaitan dengan masalah keuangan menjadi informasi keuangan. Definisi sistem informasi akuntansi yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut dikutip dalam Nugerahmawati (2013).

5. Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Menurut Mahsun, Sulistiyowati, dan Purwanugraha (2006) dalam Nurhayanti (2012) mengemukakan kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang terutang dalam strategic planning suatu organisasi. Menurut Wibowo (2007: 67) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) kinrja dapat dipandang sebagai berikut:

“Proses maupun hasil pekerjaan. Kinerja merupakan suatu proses tentang bagaimana pekerjaan berlangsung untuk mencapai hasil kerja. Namun hasil pekerjaan itu juga merupakan kinerja”.

Kinerja mengandung pengertian gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam periode tertentu. Kinerja

(10)

dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Secara umum istilah kinerja juga digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau diproyeksikan, dengan dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.

Tujuan kinerja sistem informasi akuntansi adalah untuk memberikan gambaran apakah suatu kinerja sistem yang ada sudah sesuai dengan yang dibutuhkan serta sesuai dengan tujuan. Selain itu kinerja bertujuan untuk evaluasi yang menekankan pada perbandingan untuk pengembangan yang menekankan perubahan-perubahan pada periode tertentu, pemeliharaan sistem, serta untuk dokumentasi keputusan-keputusan bila terjadi peningkatan, yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013).

Untuk menilai kinerja sistem informasi akuntansi dapat dinilai dari PIECES yaitu kerangka yang dikemukakan oleh Wetherbe (1994) dalam Susanto (2008: 322) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013). PIECES dapat digunakan sebagai dasar analisis tingkat kepentingan suatu masalah atau efektifitas suatu solusi, yang terdiri dari beberapa kerangka kerja, yaitu sebagai berikut:

a. Peformance b. Information

(11)

d. Control e. Efficiency f. Service

Persoalan kinerja sistem informasi akuntansi tersebut dijelaskan sebagai berikut :

a. Kinerja (performance)

Kebutuhan untuk meningkatkan kinerja (performance). b. Informasi (information)

Kebutuhan untuk meningkatkan kualitas informasi atau data (information).

c. Ekonomis (economy)

Kebutuhan untuk meningkatkan bidang ekonomi (economy). d. Control atau pengendalian (control)

Kebutuhan untuk meningkatkan pengendalian (control) dan keamanan.

e. Efisiensi (efficiency)

Kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi (efficiancy) sumber daya manusia dan mesin.

f. Pelayanan (service)

Kebutuhan untuk meningkatkan jasa/pelayanan (service) pada pelanggan, rekanan, pegawai dan pihak-pihak lainnya.

Kehadiran sistem informasi telah memberikan begitu banyak pengaruh terhadap sebuah organisasi, bukan hanya organisasi secara luas

(12)

namun pengaruh tersebut masuk hingga proses bisnis dan transaksi yang dilakukan oleh organisasi. Penentu kepuasan dari pengguna adalah mutu dari sistem dan informasi serta ketergantungan sistem tersebut didasarkan pada kebutuhan dan harapan pengguna. Apabila harapan dan kebutuhan dari pengguna sudah dipenuhi mutu informasi dan sistem yang disediakan bernilai baik pada akhirnya akan mendukung kesuksesan dari suatu suatu sistem informasi. Kesuksesan suatu sistem informasi akan berdampak kepada organisasi, dimana beberapa faktor penentunya adalah mutu sistem dan mutu informasi, Nugerahmawati (2013).

Menurut Almilia dan Briliantien (2006) dan Komara (2005) dalam penelitiannya tentang kinerja sistem informasi akuntansi dapat diukur dari kepuasan dan pemakaian sistem yaitu sebagai berikut :

a. Kepuasan Pemakai Sistem

Kepuasan pemakai sistem informasi Jen (2002) dalam Almilia dan Briliantien (2006) mengatakan kepuasan pemakai sistem informasi akuntansi dapat diukur dari kepastian dalam mengembangkan apa yang mereka perlukan. Delone dan McLean (1992) seperti yang dikutip oleh Soegiharto (2001) mengemukakan ketika sebuah sistem diperlukan, penggunaan sistem akan menjadi kurang dan kesuksesan manajemen dengan sistem informasi dapat menentukan kepuasan pemakai.

Kebutuhan manusia sangat beraneka ragam, baik jenis maupun tingkatnya, bukan manusia memiliki kebutuhan yang baik jenis

(13)

maupun tingkatnya, bahkan manusia memiliki kebutuhan yang cenderung tak terbatas. Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya.

Menurut Rival (2005) dalam Nugerahmawati (2013) kepuasan kerja diartikan sebagai berikut:

“Segala sesuatu yang ingin dimilikinya, dicapai dan dinikmati”.

Prajitno (2006) menyebutkan bahwa kepuasan pemakai seperti berikut:

“Kepuasan pemakai yaitu seberapa jauh pemakai merasa puas dan percaya pada sistem informasi yang diselesaikan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan informasinya, serta kesesuaian antara yang diharapkan dengan yang diperoleh”.

Kehadiran sistem informasi telah memberikan begitu banyak pengaruh terhadap sebuah organisasi, bukan hanya organisasi secara luas namun pengaruh tersebut masuk hingga proses bisnis dan transaksi yang dilakukan oleh organisasi. Penentu kepuasan dari pengguna adalah mutu dari sistem dan informasi serta ketergantungan sistem tersebut didasarkan pada kebutuhan dan harapan pengguna. Apabila harapan dan kebutuhan dari pengguna sudah dipenuhi serta mutu informasi dan sistem yang disediakan

(14)

bernilai baik pada akhirnya akan mendukung kesuksesan dari suatu sistem informasi. Kesuksesan suatu sistem informasi akan berdampak kepada organisasi, dimana beberapa faktor penentunya adalah mutu sistem dan mutu informasi.

Menurut Istianingsih (2009) dalam Wahyudin (2012) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) kepuasan pemakai terdiri dari komponen sebagai berikut:

1. Content

Content yaitu mengukur kepuasan pemakai sistem dari sisi apakah sistem menghasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan serta ditunjang dengan adanya kelengkapan modul yang digunakan.

2. Accuracy

Accuracy adalah kepuasan pengguna dari sisi keakuratan data ketika sistem mengolahnya menjadi sebuah informasi, keakuratan itu diukur dari seberapa sering sistem tersebut menghasilkan output yang salah ketika mengolah data.

3. Format

Format adalah mengukur kepuasan pemakai dari sisi tampilan sistem. Apakah tampilan itu memudahkan pemakai ketika menggunakan sistem tersebut serta tampilan keluaran yang dihasilkan apakah sesuai dengan kebutuhan para pemakai.

(15)

4. Ease of use

Ease of use adalah mengukur kepuasan pemakai dari sisi kemudahan pemakai dalam menggunakan sistem seperti proses memasukan data dan mudah dalam mengoperasikan.

5. Timeliness

Timeliness adalah mengukur kepuasan pengguna dari sisi ketepatan waktu sistem dalam menyajikan atau menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pemakai.

Menurut Veithzal Rival (2005: 477) dalam Nugerahmawati (2013) konteks kepuasan dapat ditinjau dari tiga sisi yaitu individu akan merasa puas apabila dia mengalami:

1. Apabila hasil atau imbalan yang didapat atau diperoleh individu tersebut lebih dari yang diharapkan. Masing-masing individu memiliki target pribadi. Apabila mereka termotivasi untuk mendapatkan target tersebut mereka akan bekerja keras. Pencapaian hasil dari kerja tersebut akan membuat individu merasa puas.

2. Apabila hasil yang dicapai lebih besar dari standar yang ditetapkan. Apabila individu memperoleh hasil yang lebih besar dari standar yang ditetapkan oleh perusahaan, maka individu tersebut memiliki produktivitas yang tinggi dan layak mendapatkan penghargaan dan perusahaan.

(16)

3. Apabila yang didapatkan oleh karyawan sesuai dengan persyaratan yang diminta dan ditambah dengan ekstra yang menyenangkan konsisten untuk setiap saat serta dapat ditingkatkan setiap waktu.

b. Pemakaian Sistem Informasi

Dalam Almilia dan Briliantien (2006) penelitian yang dilakukan oleh Hamilton dan Chervany (1981), Ives dan Olson (1984) dalam Jen (2002) menunjukan sistem informasi yang banyak digunakan menunjukan keberhasilan sebuah sistem informasi manajemen. Sedangkan penelitian yang dilakukan Jahangir et al (2000) dalam Jen (2002) menunjukan perbedaan penentuan keberhasilan komputer adalah tidak berdiri sendiri sehingga pemakaian sistem digunakan untuk melakukan penelitian mengenai sistem informasi. Penggunaan dari sistem dan produk informasinya kemudian mempunyai dampak atau pengaruh dipemakai individual di dalam melakukan pekerjaannya dan dampak-dampak individu ini secara kolektif akan berakibat pada dampak-dampak organisasional. Penggunaan sistem informasi menunjukan frekuensi penggunaan dan kesediaan menggunakan sistem (Choe, 1996) dalam Komara (2005).

Menurut Jogiyanto (2007: 19) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) pemakaian sistem informasi adalah penggunaan keluaran suatu sistem informasi oleh penerima. Banyak penelitian yang menggunakan proksi penggunaan laporan dari sistem

(17)

informasi sebagai pengukur kesuksesan sistem informasi. Dalam Jogiyanto (2007: 39) mengungkapkan banyak sekali pengukuran yang digunakan untuk mengukur keberhasilan sistem informasi. Tidak ada satu pengukuran yang lebih baik dari pengukuran lainnya. Pemilihan pengukuran harus mempertimbangkan beberapa aspek misalnya sasaran dari penelitian, kontek organisasi yang menggunakan, dan tingkat analisisnya apakah pada tingkat individual, organisasi atau masyarakat. Dalam jogiyanto (2007: 41) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) terdapat pengukuran-pengukuran dari pemakaian sistem yaitu terdiri dari :

1. Banyaknya penggunaan/durasi penggunaan 2. Kerutinan penggunaan

3. Sifat dari penggunaan:

- Digunakan untuk maksud yang diinginkan - Ketepatan penggunaan

- Tipe informasi

Adapun penjelasan mengenai pengukuran di atas adalah sebagai berikut :

1. Banyaknya penggunaan/durasi penggunaan

Untuk mengukur banyaknya penggunaan sistem dalam waktu tertentu atau lama tidaknya menggunakannya sistem yang disediakan.

(18)

2. Kerutinan penggunaan

Untuk mengetahui seberapa sering pemakai menggunakan sistem informasi yang disediakan.

3. Sifat dari penggunaan

- Digunakan untuk maksud yang diinginkan

Untuk mengetahui apakah sistem yang sedang digunakan memang benar sesuai dengan yang pemakai harapkan. - Ketepatan penggunaan

Suatu sistem harus digunakan oleh user yang berwenang sesuai dengan otoritas yang telah diberikan oleh perusahaan sehingga user tidak melanggar batasan akses yang ditetapkan.

- Tipe informasi

Apakah sistem menyediakan informasi yang berkualitas artinya informasi membantu dalam memecahkan masalah, terformat, dan akurat.

6. Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

Agar tercipta suatu sistem informasi akuntansi yang baik artinya sistem dapat berjalan seefektif mungkin dalam suatu perusahaan maka terdapat beberapa prinsip diantaranya, mengenai costawareness, maksudnya suatu sistem haruslah sesuai pengguna dan biaya yang dikeluarkannya; usefull output, yaitu informasinya yang digunakan

(19)

haruslah dapat dimengerti, relevan dan akurat; flexible, suatu sistem informasi akuntansi haruslah dapat mengakomodasikan keinginan dari pengguna dan perubahan dari kebutuhan informasi yang diperlukan, yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013).

Menurut komara (2005) banyak faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi yaitu sebagai berikut:

a. Keterlibatan pengguna dalam pengembangan sistem informasi akuntansi

b. Kapabilitas personal sistem informasi c. Ukuran organisasi

d. Dukungan manajemen puncak e. Formalisasi pengembangan sistem f. Pelatihan dan pendidikan pengguna g. Komite pengendalian sistem informasi h. Lokasi departemen sistem informasi

Dalam penelitian ini hanya 4 faktor yang akan diteliti oleh penulis, diantaranya sebagai berikut:

a. Keterlibatan pemakai

b. Kemampuan teknik personal sistem informasi c. Formalisasi pengembangan sistem informasi d. Program pelatihan dan pendidikan pemakai

(20)

Adapun penjelasan mengenai ke-5 faktor tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterlibatan Pemakai

Keterlibatan pemakai yaitu digunakan untuk menunjukan intervensi personal yang nyata dari pemakai dalam pengembangan sistem informasi, mulai dari tahap perencanaan, pengembangan, sampai tahap implementasi sistem informasi. Keterlibatan pemakai dapat meningkatkan kualitas sistem dan dapat meningkatkan dukungan pemakai, Ermawati (2012).

Dalam Nugerahmawati (2013) menurut Susanto (2008: 254) para pemakai sistem informasi sebagian besar merupakan orang-orang yang hanya akan menggunakan sistem informasi yang telah dikembangkan seperti operator dan manajer (end user). Para pemakai akhir sistem informasi biasanya kurang begitu perhatian dengan biaya yang dikeluarkan serta manfaat yang diperoleh dibandingkan dengan pemilik sistem informasi. Perhatian utama dari pemakai akhir sistem informasi tersebut adalah bagaimana agar sistem informasi dapat membantu menyelesaikan pekerjaannya.

Menurut Soegiharto (2001) dalam Almilia dan Briliantien (2006) bahwa keterlibatan pemakai secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Ketika sebuah sistem informasi diperlukan, penggunaan sistem akan menjadi kurang dan

(21)

kesuksesan manajemen dengan sistem informasi dapat menentukan kinerja sistem informasi.

Beberapa alasan pentingnya keterlibatan user dalam perencanaan dan pengembangan sistem informasi menurut Susanto (2008: 369) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan user

2. Pengetahuan akan kondisi lokal 3. Keengganan untuk berubah 4. User merasa terancam

5. Meningkatkan alam demokrasi

Lebih lengkap Susanto menerangkan pentingnya keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem informasi sebagai berikut: 1. Kebutuhan pemakai

Pemakai adalah orang dalam perusahaan. Analisis sistem adalah orang di luar perusahaan. Sistem informasi dikembangkan bukan untuk pembuat sistem tapi untuk pemakai agar sistem bisa diterapkan, sistem tersebut harus bisa menyerap kebutuhan pemakai dan yang tahu kebutuhan pemakai adalah pemakai sendiri, sehingga keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem akan meningkatkan tingkat keberhasilan walaupun tidak memberikan jaminan berhasil.

(22)

2. Pengetahuan akan kondisi lokal

Pemahaman terhadap lingkungan di mana sistem informasi akuntansi akan ditetapkan perlu dimiliki oleh perancangan sistem informasi, dan untuk memperoleh pengetahuan tersebut perancang sistem harus meminta bantuan pemakai yang sangat memahami lingkungan tempatnya bekerja.

3. Keengganan untuk berubah

Seringkali pemakai merasa bahwa sistem informasi disusun tidak dapat dipergunakan dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Untuk mengurangi keengganan untuk berubah itu dapat dikurangi bila pemakai terlibat dalam proses perancangan dan pengembangan sistem informasi.

4. Pemakai merasa terancam

Banyak pemakai menyadari bahwa penerapan sistem informasi komputer dalam organisasi mungkin saja mengancam pekerjaannya, atau menjadikan kemampuan yang dimilikinya tidak lagi relevan dengan kebutuhan organisasi. Keterlibatan pemakai dalam proses perancangan dan pengembangan sistem informasi merupakan salah satu cara menghindari kondisi yang tidak diharapkan dari dampak penerapan sistem informasi akuntansi dengan komputer.

(23)

5. Meningkatkan alam demokrasi

Makna dari demokrasi di sini adalah bahwa pemakai dapat terlibat secara langsung dalam mengambil keputusan yang akan berdampak kepada mereka. Penerapan sistem informasi berbasis komputer tentu akan berdampak kepada para pegawai, oleh karenanya diperlukan keterlibatan pemakai secara langsung dalam proses perancangan sistem informasi akuntansi ini.

Teknik pada umumnya berhubungan dengan data dan prosesnya, tetapi dalam kaitannya dengan pengembangan sistem informasi, teknik Joint Application Development (JAD) adalah suatu teknik baru yang berhubungan dengan manusia. JAD adalah suatu kerja sama yang terstruktur antara pemakai sistem informasi, manajer dan ahli sistem informasi untuk menentukan dan menjabarkan permintaan pemakai, teknik-teknik yang dibutuhkan dan unsur rancangan eksternal (input, output, tampilan). Tujuan dari JAD adalah memberikan kesempatan pada user dan manajemen untuk berpartisipasi secara luas dalam siklus pengembangan sistem informasi.

Dalam hal ini partisipasi pemakai sistem informasi seperti yang dikemukakan oleh Susanto (2008: 367) dapat dilihat dari: 1. Hubungan

2. Wawasan 3. Tanggungjawab

(24)

4. Waktu

5. Keinginan User

6. Nilai, kepuasan dan dukungan 7. Biaya

Berikut penjelasan mengenai indikator-indikator yang ada sebagai berikut:

1. Meningkatkan hubungan antara user, manajemen dan ahli sistem informasi

2. Memperluas wawasan user dan manajemen dalam bidang komputer, disisi lain memperluas wawasan bisnis dan aplikasinya bagi ahli sistem informasi

3. Meringankan beban tanggungjawab user dan manajemen bila terjadi konflik

4. JAD umumnya juga mempersingkat waktu pengembangan sistem informasi yang biasanya diperlukan untuk melakukan berbagai wawancara, melalui satu pola kerja yang lebih terstruktur

5. Melalui penentuan keinginan user yang lebih tepat dan penentuan prioritas utama, maka pengguna JAD ini akan lebih menghemat biaya.

6. JAD seringkali menghasilkan sistem informasi yang lebih bernilai dan memberikan kepuasan yang lebih baik bagi user maupun pihan manajemen, sehingga meningkatkan kepercayaan

(25)

dan dukungan user dan manajemen terhadap projek pengembangan sistem informasi yang dilakukan.

7. Mengurangi biaya pemeliharaan, karena sejak versi pertama dihasilkan, telah mampu memenuhi kebutuhan organisasi umumnya.

Tidak semua keterlibatan pemakai ini membawa keberhasilan, ada beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya kegagalan menurut Susanto (2008: 370) yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Tidak tepatnya pengetahuan yang dimiliki pemakai sehingga tidak bersedia membuat keputusan atau memberikan pandangannya, karena pemakai kurang memahami dampak dari keputusan yang diambil.

2. Kurangnya pengalaman dalam menentukan keputusan karena kultur lingkungan yang tidak mendukung dan kurangnya dukungan dari organisasi dalam berpartisipasi untuk mengambil keputusan.

3. Pengambilan keputusan tersebut terbatas pada tahan-tahapan yang memungkinkan pemakai atau karyawan terlibat dalam pengambilan keputusan.

4. Kurangnya kesempatan untuk melakukan uji coba dan kurangnya kesempatan untuk belajar. Hal ini muncul karena

(26)

ketakutan akan tingginya biaya yang perlu dikeluarkan untuk kegiatan tersebut.

b. Kemampuan Teknik Personal Sistem Informasi

Kemampuan merujuk ke kepastian individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam pekerjaan tertentu. Itulah penilaian tentang apa yang dapat dilakukan seseorang. Kemampuan untuk melakukan fungsi pekerjaan sambil menerapkan atau menggunakan pengetahuan penting. Kemampuan yang dibuktikan melalui kegiatan atau perilaku yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan.

Menurut Robbins dan Judge (2008: 57) yang dialih bahasakan oleh Angelica yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) menjelaskan mengenai kemampuan sebagai berikut:

1. Kemampuan intelektual

Kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan mental. Pekerjaan membebankan tuntutan-tuntutan berbeda kepada pelaku untuk menggunakan kemampuan intelektual. Singkat saja makin banyak tuntutan pemrosesan informasi dalam pekerjaan tertentu, makin banyak kecerdaasan dan kemampuan verbal umum yang dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan sukses.

(27)

2. Kemampuan fisik

Khususnya bermakna penting bagi keberhasilan menjalankan pekerjaan yang kurang menuntut keterampilan dan yang lebih standar. Misalnya pekerjaan yang keberhasilannya menuntut stamina.

Menurut Robbins (2008: 45) yang telah dialih bahasakan oleh Angelica yang dikutip dalam Nugerahmawati (2013) kemampuan pemakai sistem informasi dapat dilihat dari:

1. Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan sebagai pemakai sistem informasi dapat dilihat dari:

- Memiliki pengetahuan mengenai sistem informasi akuntansi - Memahami pengetahuan tugas dari pekerjaannya sebagai

pemakai sistem informasi. 2. Kemampuan (abilities)

Kemampuan senagai pemakai sistem informasi dapat dilihata dari:

- Kemampuan menjalankan sistem informasi akuntansi yang ada

- Kemampuan untuk mengekspresikan kebutuhan informasi - Kemampuan untuk mengekspresikan bagaimana sistem

(28)

- Kemampuan mengerjakan tugas dari pekerjaan yang menjadi tanggungjawab

- Kemapuan menyelaraskan pekerjaan dengan tugas 3. Keahlian (skills)

Keahlian sebagai pemakai sistem informasi dapat dilihat dari: - Keahlian dalam pekerjaan yang menjadi tanggungjawab - Keahlian dalam mengekspresikan kebutuhan-kebutuhannya

dalam pekerjaan.

Dalam hal melakukan pengembangan sistem informasi setiap orang tidak semua akan menghasilkan keberhasilan. Ada beberapa lasan mengapa pengembangan tidak berhasil seperti kurangnya pengetahuan yang dimiliki pemakai. Selain itu kemampuan pemakai dalam mengoperasikan sistem informasi yang baru sangat dibutuhkan, hal ini penting dalam pengoperasian sistem agar sistem dapat beroperasi secara maksimal, Nugerahmawati (2013).

c. Formalisaasi Pengembangan Sistem Informasi

Formalisasi pengembangan sistem informasi merupakan suatu organisasi yang cenderung untuk membentuk pengembangan sistem informasi karena hal itu dibutuhkan untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara pengembangan sistem dan pengguna atau antara pengembangan sistem khusus, Ermawati (2012). Setyawan (2013) menyatakan bahwa formalisasi pengembangan sistem

(29)

informasi berarti pemberitahuan akan tahap-tahap dari proses pengembangan sistem yang tercatat secara sistematik dan secara aktif melakukan penyesuaian terhadap catatan.

Menurut Almilia dan Briliantien (2006) faktor-faktor formalisasi pengembangan sistem informasi antara lain sebagai berikut:

- Laporan proyek pengembangan - Dokumentasi pengembangan sistem - Biaya pengembangan sistem

- Teknik

- Waktu pencatatan pengembangan dan pengenalan sistem baru. Formalisasi pengembangan sistem informasi sangat tergantung pada kesuksesan harapan antara sistem analis, pengguna, sponsor dan customer. Perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan tidak memperhatikan aspek organisasional. Perubahan perilaku dan organisasional ini dapat berupa pengembangan sistem, Davis (1998). Oleh karena itu pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perancanaan dan implementasi yang hati-hati untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan, Nurhayanti (2012).

(30)

d. Program Pelatihan dan Pendidikan Pemakai

Menurut Gomes (2001: 197) pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki prestasi kerja pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya. Idealnya, pelatihan harus dirancang untuk mewujudkan tujuan-tujuan organisasi, yang pada waktu bersamaan juga mewujudkan tujuan-tujuan para pekerja secara perorangan. Pelatihan sering dianggap sebagai aktivitas yang paling umum dan para pimpinan mendukung adanya pelatihan. Hal ini dikarenakan melalui pelatihan, para pekerja akan menjadi lebih terampil dan lebih produktif walaupun manfaat-manfaat tersebut harus diperhitungkan dengan waktu yang tersita ketika pekerja sedang dilatih, Handoko (2009).

Pelatihan menurut Garry Dessler (1997: 263) merupakan suatu proses mengajarkan karyawan baru atau yang ada sekarang, keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan mereka. Sedangkan menurut John R. Schermerhorn, Jr (1999:323) pelatihan merupakan serangkaian aktivitas yang memberikan kesempatan untuk mendapatkan dan meningkatkan keterampilan yang berkaitan pekerjaan, Handoko (2009).

Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa program pelatihan dan pendidikan pemakai adalah suatu proses pendidikan dalam jangka waktu tertentu yang mengajarkan kepada karyawan baru maupun karyawan saat ini. Suatu

(31)

keterampilan dasar yang akan digunakan untuk membantu melaksanakan pekerjaan mereka dan mencapai tujuan dari perusahaan atau organisasi. Melalui program pelatihan dan pendidikan, user diajarkan melaksanakan aktivitas atau pekerjaan tertentu, misalnya cara menggunakan komputer untuk menginput order masuk suatu barang atau lain sebagainya. Pelatihan terdidri dari program-program yang dirancang untuk meningkatkan kinerja pada level individu, kelompok, atau organisasi. Kinerja user yang meningkat pada gilirannya akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi keseluruhan, Handoko (2009).

Tujuan dari program pelatihan dan pendidikan umumnya dilakukan untuk kepentingan karyawan, perusahaan, dan konsumen. Menurut Moekijat (1991: 55) yang dikutip dalam Handoko (2009) tujuan umum dari pelatihan adalah:

1. Untuk mengembangkan keahlian sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif.

2. Untuk mengembangkan pengetahuan sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.

3. Untuk mengembangkan sikap, sehingga menimbulkan kerja sama dengan teman-teman pegawai dan pimpinan.

Beberapa tujuan di atas merupakan penerapan program pelatihan dan pendidikan untuk kepentingan karyawan dan untuk kepentingan perusahaan. Tujuan dilaksanakannya pelatihan yakni

(32)

untuk memenuhi kebutuhan PSDM, penghematan, mengurangi tingkat kerusakan dan kecelakaan, serta memperkuat komitmen karyawan. Sedangkan untuk kepentingan konsumen program pelatihan lebih diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen dan agar produk yang dihasilkan lebih baik.

Menurut Hariandja (2002: 168) dalam Handoko (2009) ada beberapa alasan penting untuk diadakannya pelatihan, yaitu sebagai berikut:

1. Karyawan yang baru direkrut sering kali belum memahami secara benar bagaimana melakukan suatu pekerjaan.

2. Perubahan-perubahan lingkungan kerja dan tenaga kerja. Perubahan disini meliputi perubahan dalam teknologi proses seperti munculnya teknologi baru atau munculnya metode kerja baru. Perubahan dalam tenaga kerja seperti semakin beragamnya tenaga kerja yang memiliki latar belakang keahlian, nilai, sikap yang berbeda memerlukan pelatihan untuk menyamakan sikap dan perilaku terhadap pekerjaan.

3. Meningkatkan daya saing perusahaan dan memperbaiki produktivitas. Saat ini daya saing perusahaan tidak hanya dengan mengandalkan aset berupa modal yang dimiliki, tetapi juga harus dengan sumber daya manusia yang menjadi elemen paling penting untuk meningkatkan daya saing. Hal ini

(33)

disebabkan sumber daya manusia merupakan aspek penentu utama daya saing yang baik.

4. Menyesuaikan dengan peraturan-peraturan yang ada, misalnya standar pelaksanaan pekerjaan yang dikeluarkan oleh asosiasi industri dan pemerintah, untuk menjamin kualitas produksi atau keselamatan dan kesehatan kerja.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penulis merujuk pada 4 penelitian terdahulu dalam melakukan penelitian, yaitu sebagai berikut:

No Nama dan tahun

penelitian Variabel Hasil Penelitian

1 Nugerahmawati (2013) 1. Partisipasi pemaakai sistem informasi 2. kemampuan pemakai sistem informasi 3. ukuran organisasi. 1. Berpengaruh 2. Berpengaruh 3. Tidak berpengaruh 2 Rasmadi (2011) 1. Keterlibatan pemakai

2. kemampuan teknik personal sistem informasi 3. dukungan manajemen

puncak

4. formalisasi pengembangan sistem informasi

5. program pelatihan dan pendidikan.

1. Berpengaruh signifikan 2. berpengaruh positif dan

signifikan 3. tidak berpengaruh signifikan 4. tidak berpengaruh signifikan 5. tidak berpengaruh signifikan.

(34)

3 Ermawati (2012)

1. Keterlibatan pengguna 2. kemampuan teknik

personal sistem informasi 3. ukuran organisasi

4. dukungan manajemen puncak

5. formalisasi pengembangan sistem informasi

6. program pelatihan dan pendidikan

7. keberadaan dewan

pengarah sistem informasi 8. lokasi departemen sistem

informasi. 1. berpengaruh positif 2. tidak berpengaruh signifikan 3. tidak berpengaruh signifikan 4. tidak berpengaruh signifikan 5. berpengaruh positif 6. tidak berpengaruh 7. tidak berpengaruh 8. berpengaruh positif. 4 Sulastrini, dkk (2014) 1. Partisipasi pemakai 2. kemampuan pemakai 3. ukuran organisasi 4. program pelatihan dan

pendidikan. 1. berpengaruh positif 2. berpengaruh positif 3. berpengaruh positif 4. berpengaruh 2.3 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka secara skematis dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:

H1 (+) H2 (+) H3 (+) H4 (+) Keterlibatan Pemakai (X1)

Kemampuan Teknik Personal Sistem Informasi (X2)

Formalisasi pengembangan sistem informasi (X5)

Kinerja Sistem Informasi Akuntansi

(35)

2.4 Hipotesis

Hipotesis merupakan kesimpulan sementara terhadap masalah yang diteliti yang masih dikaji kebenarannya dan perlu dibuktikan. Berdasarkan uraian teori dan kerangka konseptual yang telah dikemukakan, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Keterlibatan pemakai, kemampuan teknik personal sistem informasi, dukungan manajemen puncak, formalisasi pengembangan sistem informasi, program pelatihan dan pendidikan pemakai berpengaruh positif terhadap kinerja sistem informasi akuntansi yang dibentuk model kerangka pemikiran di atas maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:

Keterlibatan Pemakai

Keterlibatan pengguna merupakan keterlibatan dalam proses pengembangan sistem oleh anggota organisasi atau anggota dari kelompok pengguna target (Olson & Ives, 1981 dalam Choe, 1996). Jen (2002) berpendapat bahwa keterlibatan pemakai yang semakin sering akan meningkatkan kinerja SIA dikarenakan adanya hubungan yang positif antara keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem informasi terhadap kinerja SIA, yang dikutip dalam penelitian Nurhayanti (2012). Jika keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem semakin baik, maka kinerja sistem informasi akan semakin meningkat. Sebaliknya jika keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem semakin buruk akan menurunkan kinerja sistem informasi akuntansi.

(36)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugerahmawati (2013) menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara keterlibatan pemakai terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Maka hipotesis pertama pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 : Terdapat pengaruh positif keterlibatan pemakai terhadap kinerja sistem

informasi akuntansi.

Kemampuan Teknik Personal Sistem Informasi

Anderson dalam Soegiharto (2001) mengusulkan potensi kontribusi pengguna haruslah lebih tinggi selama tahap perencanaan dan implementasi pengembangan sistem. Para pengguna lebih memahami teknologi, tugas dan keputusan yang terlibat dan lingkungan sosial politik di mana sistem akan digunakan, semakin besar kemungkinan mereka dapat berkontribusi untuk pengembangan sistem. Pendidikan rata-rata atau tingkat pengalaman kelompok pengguna sistem informasi dapat digunakan untuk mengukur kemampuan personil sistem informasi Ives et al, dalam Sularso (2003). Kemampuan teknis personel sistem informasi memiliki pengaruh besar pada analisis informasi persyaratan dan desain sistem informasi. Sebagai contoh, analis sitem yang kompeten memiliki efek positif pada penilaian kebutuhan informasi, Huff dan Munro, 1985; McFarlan dan McKenncy 1983, dalam Soegiharto (2001). Bruwer 1984 dalam Soegiharto (2001) juga menyarankan bahwa kinerja sistem informasi terkait dengan kualitas teknis atau kualitas desain dari sistem, yang merupakan tanggung jawab personil sistem. Jen (2002) berpendapat bahwa semakin tinggi kemampuan teknik personal sistem

(37)

informasi akuntansi akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi dikarenakan adanya hubungan yang positif antara kemampuan teknik personal sistem informasi akuntansi dengan kinerja sistem informasi akuntansi yang dikutip dalam Nurhayanti (2012).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rasmadi (2011) menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kemampuan teknik personal sistem informasi terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Maka hipotesis kedua pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

H2 : Terdapat pengaruh positif kemampuan teknik personal sistem informasi

akuntansi terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Formalisasi Pengembangan Sistem Informasi

Dalam Nurhayanti (2012) kesuksesan pengembangan sistem informasi sangat tergantung pada kesuksesan harapan antara sistem analis, pengguna, sponsor dan customer. Perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan tidak memperhatikan aspek organisasional. Perubahan perilaku dan organisasional ini dapat berupa pengembangan sistem Davis (1998). Oleh karena itu pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan. Jen (2002) berpendapat bahwa semakin tinggi tingkat formalisasi pengembangan sistem informasi di perusahaan akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi dikarenakan adanya

(38)

hubungan yang positif antara formalisasi pengembangan sistem dengan kinerja sistem informasi akuntansi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ermawati (2012) menyatakan bahwa terdapat pengaruh positif antara formalisasi pengembangan sistem informasi terhadap kinerja sistem inforasi akuntansi. Maka hipotesis ke lima pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

H3 : Terdapat pengaruh positif formalisasi pengembangan sistem informasi

terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Program Pelatihan dan Pendidikan Pemakai

Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja sistem informasi akuntansi akan lebih tinggi apabila program pelatihan dan pendidikan pemakai diperkenalkan. Sedangkan Brady dalam Soegiharto (2001) menyarankan bahwa kurangnya pendidikan merupakan alasan utama kurangnya pemanfaatan sistem informasi. Sebuah penelitian tentang keutamaan dari sistem informasi yang dikemukakan oleh Forthe dalam Soegiharto (2001) yaitu “pendidikan pengguna” sangat mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi, yang dikutip dalam Nurhayanti (2012).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulastrini, dkk (2014) menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara program pelatihan dan pendidikan pemakai terhadap kinerja sistem informasi akuntansi. Maka hipotesis ke-enam pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

H4 : Terdapat pengaruh positif program pelatihan dan pendidikan pemakai

Referensi

Dokumen terkait

 bahwa keterlibatan pemakai dalam pengembangan SIA secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sistem informasi akuntansi karyawan pada PDAM Kota

Dari penelitian empiris ini juga diketahui bahwa keterlibatan pengguna berpengaruh positif terhadap kinerja SIA pada perusahaan pendanaan.User atau pemakai yang terlibat dalam

(2008) menunjukan bahwa terdapat hubungan yang searah (positif) antaravariabel bebas Keterlibatan Pemakai Dalam Proses Pengembangan Sistem, Kemampuan Teknik Personal Sistem

berpendapat bahwa semakin besar yang diberikan manajemen puncak akan meningkatkan kinerja SIA dikarenakan adanya hubungan yang positif antara dukungan menejemen puncak dalam

Simpulan dari penelitian ini adalah: 1) Keterlibatan pemakai berpengaruh positif pada kinerja SIA di LPD Kecamatan Gianyar. Hal ini berarti, karyawan yang secara

Hasil penelitian tersebut menemukan hubungan yang positif dan signifikan antara partisipasi pemakai dalam pengembangan sistem, pemakai sistem informasi akuntansi akan

Dari penelitian empiris ini juga diketahui bahwa keterlibatan pengguna berpengaruh positif terhadap kinerja SIA pada perusahaan pendanaan.User atau pemakai yang terlibat dalam

Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H₁: Keterlibatan pemakai berpengaruh positif pada kinerja SIA di Kecamatan Abiansemal