Penerapan Tema Konservasi pada Perancangan Taman
Wisata Arboretum Bambu Parahyangan
Dwi Nurhayati
Jurusan Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain, Itenas, Bandung
Email:
[email protected]
ABSTRAK
Taman wisata atau tempat rekreasi adalah salah satu kebutuhan masyarakat sebagai tempat yang berfungsi untuk kegiatan edukasi, pariwisata, bisnis, maupun sebagai pelepas penat dari kesibukan sehari-hari. Wisata alam menjadi bentuk konservasi terhadap lingkungan. Bambu merupakan tumbuhan yang dapat mengkonservasi air dan tanah. Beberapa jenis bambu di Indonesia saat ini sudah mulai langka akibat penggunaan terus-menerus tanpa adanya penanaman kembali. Padalarang merupakan kota satelit bagi Kota Bandung yang menjadi pusat sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata yang dapat menambah perekonomian warga sekitar. Lokasi Kota Baru Parahyangan adalah kawasan yang cocok untuk diadakannya taman wisata alam karena merupakan kawasan baru yang sedang dikembangkan dan memiliki visi pendidikan. Kota Baru Parahyangan terletak pada kawasan yang cukup strategis untuk dikunjungi para wisatawan dari berbagai kota dan manca negara. Tujuan dari perencanaan ini adalah merencanakan taman wisata yang dapat memenuhi kebutuhan pariwisata namun tetap menjaga alam yang ada serta memberikan pengetahuan tentang macam-macam atau jenis-jenis bambu yang ada di dunia. Prinsip desain merupakan solusi yang mendukung keberlangsungan visual yang alami dan berkesan membaur dengan alam yang ada. Pengunaan material bambu banyak digunakan sebagai struktur utama dan sebagai elemen interior bangunan. Bambu menjadi material konservasi terhadap kayu. Material bambu diolah menjadi bambu lamina sebagai alternatif pengganti penggunaan material kayu.
Kata kunci: alam, desain bambu, pengetahuan, taman wisata.
ABSTRACT
A tourist park or a recreation area is one of the needs of the community as a place that functions for educational, tourism, business activities, as well as to relieve fatigue from daily activities. Nature tourism is a form of environmental conservation. Bamboo is a plant that can conserve water and soil. Several types of bamboo in Indonesia are now becoming scarce due to continuous use without replanting. Padalarang is a satellite city for the city of Bandung which is a secondary center that can be used as a tourist spot that can increase the economy of the surrounding residents. The location of Kota Baru Parahyangan is an area suitable for holding a natural tourism park because it is a new area that is being developed and has an educational vision. Kota Baru Parahyangan is located in an area that is strategic enough to be visited by tourists from various cities and abroad. The purpose of this planning is to plan a tourist park that can meet the needs of tourism while maintaining the existing nature and providing knowledge about the kinds or types of bamboo that exist in the world. The design principle is a solution that supports natural visual continuity and blends with the existing nature. The use of bamboo material is widely used as the main structure and as an element of the interior of the building. Bamboo is a conservation material for wood. Bamboo material is processed into bamboo lamina as an alternative to using
1. PENDAHULUAN
Daerah perkotaan kini telah menjadi kawasan yang semakin kesulitan mendapatkan air bersih, terutama pada saat kemarau. Dan pada saat musim hujan kawasan perkotaan menjadi kawasan yang terendam banjir. Hal ini terjadi akibat air dari kawasan sub urban/kawasan resapan sudah tidak lagi berfungsi sebagai area serapan sehingga pada saat hujan air terus mengalir hingga meluap dan tergenang di area perkotaan yang sudah padat dengan pembangunan dan perkerasan.
Dengan adanya kawasan konservasi ini diharapkan dapat mengurangi bencana di kawasan sub urban dan perkotaan. Sarana rekreasi bertujuan untuk menarik perhatian masyarakat terhadap lingkungan, mengenalkan masyarakat tentang pengetahuan tentang tanaman yang dapat mengurangi potensi bencana yang dapat dihindari.
Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan menjadi salah satu tempat sebagai kawasan konservasi terhadap tanaman bambu dan lingkungan sehingga selain sebagai sarana rekreasi Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, mengenalkan pengetahuan tentang bambu dan pengetahuan tentang konservasi lingkungan.
2. EKSPLORASI DAN PROSES RANCANGAN
2.1 Definisi Proyek
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Taman adalah kebun yang ditanami dengan bunga-bunga dan sebagainya, tempat bersenang-senang dan tempat yang menyenangkan [1]. Sedangkan wisata ialah bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, bertamasya, piknik, perjalanan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan tata lingkungannya sebagai objek tujuan wisata [2].
Pengertian Taman Wisata Alam menurut peraturan Undang-undang no. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya adalah Kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk pariwasata dan rekreasi alam [3].
Arboretum merupakan kebun yang mengkoleksi berbagai jenis pepohonan yang ditanam mengikuti habitat aslinya sebagai area pelestarian keanekaragaman hayati dan sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan pengembangan [4].
Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan adalah sarana rekreasi dan edukasi yang direncanakan terletak dikawasan Sub Urban tepatnya di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sarana rekreasi ini di desain dengan pendekatan “Konservasi” di mana kawasan ini mengenalkan budaya Nusantara dan bambu sebagai koleksi tanaman utama, selain bambu juga diterapkan pada fasilitas wisata dan bangunan di dalamnya.
2.2 Lokasi Proyek
Lokasi proyek berada di jalan Bujanggamanik, Padalarang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tapak berada di kawasan Kota Baru Parahyangan yang termasuk ke dalam wilayah sub urban dengan iklim tropis dan kondisi topografi yang berkontur, didominasi oleh hunian dan komersil. Lokasi proyek dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Lokasi Site
Sumber : Google Earth, diakses pada tanggal 27-01-2020
Kota Baru Parahyangan adalah kawasan baru, berada dekat dengan perbatasan kota dan pintu tol sehingga akses menuju site mudah diakses bagi pengunjung dari Kota Bandung dan berbagai kota lainnya.
2.3 Definisi Tema
Konservasi merupakan upaya pelestarian lingkungan untuk mencegah kerusakan dan musnah dengan mempertahan adanya setiap komponen-komponen lingkungan agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang hingga pada masa mendatang [5]. Terdapat dua cara yang dapat dilakukan dalam upaya melestarikan bambu yaitu konservasi insitu dan eksitu. Pada perancangan taman wisata arboretum bambu ini terfokus pada konservasi eksitu yaitu upaya pelestarian keanekaragaman bambu yang dilakukan di luar habitat aslinya [6].
2.4 Elaborasi Tema
Tema yang diangkat pada taman wisata ini yaitu Konservasi dan Arsitektur Nusantara. Pendekatan tema konservasi diterapkan pada bangunan dengan mengaplikasikan bambu sebagai struktur dan konstruksi. Bentuk–bentuk bangunan tropis dan tradisional pada perancangan taman wisata ini mengangkat Arsitektur Nusantara yg diterapkan berdasarkan lokasi taman wisata yang berada di kawasan Nusantara, seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Elaborasi Tema
Arboretum Bambu Konservasi Arsitektur Nusantara
1 2 3 4
Mean
Sebuah taman besar tempat banyak jenis pohon bambu ditanam, untuk dilihat orang dan dipelajari sebagai tujuan ilmiah
Upaya pelestarian lingkungan.
Memperhatikan manfaat yang bisa didapatkan pada saat itu dengan cara tetap mempertahankan suatu keberadaan setiap Arsitektur budaya Indonesia yang memanfaatkan sumberdaya alam sebagai bahan materialnya. Memiliki bentuk bangunan beriklim tropis.
pemanfaatan di masa yang akan datang.
Problem
Menjadikan arboretum bambu yang tidak hanya sekedar hutan bambu yang tidak
beraturan tanpa
pemanfaatan
berkelanjutan pada pohon dan juga daun
yang sudah
berguguran.
Mengganti
penggunaan kayu
pohon dengan bambu yang dapat tumbuh dengan cepat juga
sebagai tanaman
konservasi air dan tanah.
Merancang bangunan budaya Indonesia yang menarik sehingga dapat bersaing dengan bangunan arsitektur modern.
Fact
Arboretum bambu
yang ada di Indonesia saat ini biasanya hanya berupa hutan tanpa adanya pengolahan lebih lanjut agar lebih menarik dan cenderung terabaikan.
Eksploitasi SDA kayu pohon secara besar-besaran dan menerus
tanpa melakukan penanaman kembali. Arsitektur Nusantara sudah mulai ditinggalkan akibat munculnya gaya arsitektur baru mengikuti arsitektur luar negeri Needs Rancangan Arboretum Bambu yang dapat mengakomodir
kawasannya menjadi kawasan wisata yang
dapat memberi
pengetahuan dan indah secara visual.
Menerapkan tema
konservasi pada
penataan kawasan, penyediaan fasilitas wisata, dan bangunan.
Menggunakan material sumber daya alam Indonesia dengan pengolahan khusus dan menjaga keberlajutan tersedianya SDA material. Goals Menciptakan kawasan wisata arboretum bambu yang terolah dengan baik. Memiliki alur mem-perbaharui kembali (renew), memanfaatkan kembali (reuse), menguragi (reduce), men-daurulang kembali (recycle), dan menguang-kan
kembali (refund) SDA pada kawasan.
Menjadikan kawasan yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan dan memberi banyak manfaat.
Mengenalkan
masyarakat untuk melestarikan budaya Indonesia, peduli dengan kondisi iklim Indonesia.
Concept
Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan
Rancangan Ekowisata yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan dengan cara membudidayakan tanaman konservasi, menerapkan material bambu lamina sebagai alternatif ramah lingkungan penggati kayu, menjaga nilai budaya nusantara pada bangunan dan fasilitas kawasan,
3. HASIL RANCANGAN
3.1 Konsep dan Rancangan Tapak
Zonasi dibagi menjadi tiga bagian yaitu publik (hijau), privat (merah), dan servis (kuning). Area publik berupa zona penerima, zona edukasi, dan zona rekreasi. Area privat yaitu area untuk pengelola kawasan wisata. Sedangkan di area servis berupa bangunan utilitas dan lahan parkir pengelola. Zoning pada tapak dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2.Zoning Pada Tapak
Pada zona penerima terdapat parkir pengunjung, toko souvenir, plaza dan visitor center. Zona penglola berada di lantai 1 dan lantai 2 bangunan visitor center. Kegiatan servis dan fasilitasnya berada di zona servis yang letaknya disebelah utara kawasan. Zona servis memiliki akses jalan yang dibuat terpisah dari akses masuk pengunjung. Zona publik yang berada di dalam kawasan dibagi menjadi dua zona yaitu zona edukasi dan zona rekreasi. Di dalam zona edukasi terdapat fasilitas untuk kegiatan yang dapat menambah wawasan bagi pengunjungnya. Sedangkan pada zona rekreasi dibuat fasilitas yang lebih dominan untuk kegiatan outdoor.
3.2 Konsep Gubahan Massa dan Rancangan Bangunan
Konsep gubahan massa bangunan utama dirancang dengan bentuk dasar circle atau lengkung. Bentuk ini dibuat menyesuaikan dengan bentuk dan kondisi tapak yang dominan dengan lahan berkontur. Transformasi bentuk-bentuk dasar bangunan terbentuk dari hasil analisis dan kebutuhan fungsi bangunan.
Gambar 3.Gubahan Massa Visitor Center
Bangunan visitor center dengan bentuk lengkungan yang linier. Bentuk dasar didesain set back karena bangunan merupakan bangunan penerima bentuk set back ini juga difungsikan sebagai penanda letak main entrance. Bentuk gubahan massa bangunan visitor center dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 4.Gubahan Massa Gedung Serba Guna
Bangunan Gedung Serba Guna terbentuk dari gabungan 2 lingkaran yang berbeda ukuran, kemudian di subtraktif pada dua sisi sebagai sirkulasi masuk dan keluar bangunan. Bentuk gubahan massa bangunan Gedung Serba Gunadapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 5. Gubahan Massa Restoran
Bentuk massa bangunan restoran dibentuk dengan betuk dinamis karena letaknya yang berada di atas kontur yang melengkung. Bentuk set back ke arah utara karena merupakan area yang terlihat dari jalan utama (jembatan). Bentuk massa bangunan restorandapat dilihat pada Gambar 5.
3.3 Konsep dan Rancangan Fasad
Konsep fasad bangunan dikaitkan dengan tema bambu. Bambu menjadi material yang diterapkan pada fasad bangunan utama. Bambu yang digunakan adalah bambu yang telah diolah menjadi balok yang dinamakan bambu lamina. Pengaplikasian bambu lamina ke seluruh bangunan yang disusun seperti kisi-kisi menjadikan bangunan yang satu kesatuan dalam area Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan.
Gambar 6.Fasad Main Entrance Visitor Center
Fasad visitor center didesain dengan elemen garis vertikal yang dominan. Elemen garis–garis pada fasad ini dibuat sebagai petunjuk arah letak main entrance bangunan. Pada bangunan visitor center bambu lamina diterapkan sebagai secondary skin. Fasad bangunan visitor center dapat dilihat pada Gambar 6.
Elemen vertikal yang dominan dibuat dengan bentuk berbeda fasad belakang bangunan visitor center. Elemen elemen garis ini terbentuk dari kebutuhan bukaan bangunan. Kisi bambu lamina pada belakang visitor center ini dimanfaatkan sebagai sirkulasi penghawaan dan pencahayaan alami kedalam bangunan sehingga dapat mengurangi penggunaan penghawaan buatan dan penggunaan lampu pada siang hari. Fasad belakang visitor center dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 8.Fasad Vertikal Gedung Serba Guna
Fasad bangunan Gedung Serba Guna di desain semi transparan dengan mengaplikasikan kisi–kisi vertikal bambu lamina pada dinding fasadnya. Fasad transparan dibuat sebagai penghawan dan pencahayaan alami. Selain itu dimanfaatkan juga agar view dari luar bangunan dapat terlihat dari dalam dan tidak terhalang oleh dinding. Fasad Gedung Serba Guna dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 9.Fasad Motif Batik Kawung Gedung Serba Guna
Pendekatan konsep arsitektur nusantara diterapkan pada fasad bangunan Gedung Serba Guna. Fasad bangunan ini terbuat dari bambu lamina yang dibentuk dengan motif batik kawung. Secondary skin bangunan Gedung Serba Guna dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 10. Fasad Restoran
Bambu lamina diterapkan sebagai fasad dan dinding transparan pada bangunan restoran. Pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan alami juga diterapkan pada bangunan restoran. Lokasi restoran berada diantara taman arboretum bambu sehingga fasad bangunan di buat semi transparan agar pengunjung restoran dapat menyantap hidangan restoran sambil menikmati pemandangan dari taman disekelilingnya Fasad bangunan restoran dapat dilihat pada Gambar 10.
Secara keseluruhan bangunan pada kawasan Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan ini didesain dengan elemen yang sama. View diarahkan ke dalam kawasan yang konturnya lebih rendah yaitu area arboretum bambu. Perspektif Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Perspektif Mata Burung Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan
4. SIMPULAN
Perancangan sarana rekreasi Taman Wisata Arboretum Bambu Parahyangan bertema konservasi dengan pendekatan konsep arsitektur nusantara diterapkan pada pendekatan bentuk dan penggunaan material bangunan yang memanfaatkan material lokal dan ramah lingkungan seperti bambu lamina sebagai pengganti kayu. Taman bambu dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi, edukasi dan konservasi terhadap
DAFTAR PUSTAKA
[1] KBBI, (2020). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) [Online]. Avaiable at : https://kbbi.web.id/taman. [Diakses 4 September 2020].
[2] KBBI, (2020). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) [Online]. Avaiable at : http://kbbi.we.id/wisata. [Diakses 4 September 2020].
[3] Undang – undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
[4] Napolion, H., Sribudiani, E., Arlita, T., (2015). “Pemahaman Pengunjung Terhadap Arti dan Fungsi Arboretum Universitas Riau”, Jom Faperta, Vol.2.
[5] Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai. (2017). Pengertian, Tujuan, Manfaat dan Jenis Macam Konservasi. Diakses pada tanggal 7 Oktober 2020.
https://dlhkotabinjai.wordpress.com/2017/06/29/pengertiantujuanmanfaat-dan-jenis-macam-konservasi/
[6] Soekotjo, (2001). “Konservasi Eksitu Cendana (Santalum album L.) Aplikasi dan Tantangannya”, Universitas Gajah Mada.