• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Rumah Tinggal yang Sehat dan Responsif Terhadap Covid-19

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Desain Rumah Tinggal yang Sehat dan Responsif Terhadap Covid-19"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Desain Rumah Tinggal yang Sehat dan Responsif

Terhadap Covid-19

Mohammad Imran

STITEK Bina Taruna, Indonesia

Pos-el: [email protected]

Rahmi Budi As’adiyah

Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Bone Bolango, Indonesia

Pos-el: [email protected]

Abstrak

Pada era milenial ini, dunia dikejutkan dengan kemunculan virus yang dikenal dengan sebutan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), kondisi ini mengakibatkan seluruh aktivitas manusia harus dibatasi agar mampu mengurangi penularan Covid-19, salah satu yakni dengan Work From Home (WFH). Hal tersebut secara tidak langsung mengharuskan adanya suasana dan kondisi rumah yang ideal dan kondusif untuk bisa melakukan semua aktivitas yang ada.

Arsitektur merupakan ilmu yang mempelajari mengenai rancang bangunan pada suatu lingkungan binaan dan fungsi rumah tinggal yakni sebagai ‖bunker‖ yang sehat dan

mampu responsif terhadap virus yang ada di sekitar kita. Implementasi terhadap prinsip desain ideal rumah tinggal yang diharapkan mampu menjadikan rumah sebagai tempat tinggal yang sehat, bersih, nyaman (pencahayaan dan penghawaaan), aman dan memenuhi persyaratan minimal besaran ruang yang bisa responsive terhadap Covid-19. Keterbatasan kondisi yang ada pada rumah tinggal memerlukan modifikasi terhadap desain rumah tinggal (design engineering) dan juga memerlukan modifikasi terhadap perilaku manusia (social engineering) sebagai subjek pengguna dan pemanfaat rumah tinggal tersebut sebagai upaya adaptasi dan hubungan sinergis manusia dan rumah tinggal.

Kata kunci: WFH, Covid-19, rumah sehat dan responsive, design engineering, dan social engineering.

A. Pendahuluan

Pada era milenial ini, dunia dikejutkan dengan kemunculan virus di akhir tahun 2019 yang ditengarai berasal dari negara Republik Rakyat China (RRC) tepatnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Virus tersebut dikenal dengan sebutan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Penyebaran virus ini sangat cepat dan mengkhawatirkan seluruh umat manusia, hal ini karena virus menyebar melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat batuk atau bersin. Droplet tersebut kemudian jatuh pada benda di sekitarnya. Kemudian jika ada orang lain menyentuh benda yang sudah terkontaminasi dengan droplet tersebut, lalu orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut (segitiga wajah), maka orang itu dapat terinfeksi Covid-19. Akibat penyebaran yang sangat pesat inilah, keadaan tersebut memberikan dampak negatif bukan hanya kesehatan, namun juga berdampak terhadap seluruh sendi kehidupan umat manusia, ekonomi, sosial masyarakat, perilaku hidup, pola

(2)

aktivitas dan lainnya. Tidak terlepas di Indonesia, hal ini juga ternyata memiliki dampak yang sangat besar dalam bagi kehidupan sosial bermasyarakat.

Kondisi ini mengakibatkan seluruh aktivitas manusia harus dibatasi agar mampu mengurangi penularan Covid-19 tersebut, salah satu yang sangat dirasakan oleh manusia saat ini yakni kebijakan mengenai Work From Home (WFH) yang berarti aktivitas bekerja yang biasa dilakukan di tempat kerja, kini dilakukan di rumah atau dengan media virtual. Sistem kerja WFH memang memiliki fleksibilitas yang tinggi, hal ini guna mendukung keseimbangan karyawan antara pekerjaan dan kehidupan. Hal tersebut secara tidak langsung mengharuskan adanya suasana dan kondisi rumah yang ideal dan kondusif untuk bisa melakukan semua aktivitas yang ada.

Kehidupan manusia tidak terlepas dari dunia arsitektur karena dari bangun hingga tidur manusia berada di dalam rumah, oleh karenanya dengan adanya wabah Covid-19 ini menyadarkan kembali manusia akan pentingnya fungsi rumah tinggal yakni sebagai ‖bunker‖ yang sehat dan mampu responsif terhadap virus yang ada di sekitar kita.

B. Tinjauan Pustaka

Mengenal Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)

Corona virus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Corona virus Disease 2019 (Covid-19) https://stoppneumonia.id/informasi-tentang-virus-corona-novel-coronavirus/ (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

Gejala umum berupa demam ≥380

C, batuk kering, dan sesak napas. Jika ada orang yang dalam 14 hari sebelum muncul gejala tersebut pernah melakukan perjalanan ke negara terjangkit, atau pernah merawat/kontak erat dengan penderita COVID-19, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya. Bisa bertahan selama beberapa hari di permukaan benda yang datar dan licin. https://who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses/ (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

Mengantisipasi diri dan mencegah dari penularan Covid-19 sangat penting dilakukan, sesuai dengan anjuran WHO yakni :

1. Sering mencuci tangan dengan air bersih mengair dengan sabun atau cairan antiseptik berbahan dasar alkohol.

2. Jaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin, agar tidak menghirup percikan (droplet).

3. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut yang merupakan titik masuk Covid-19 ke tubuh. 4. Melakukan etika batuk dan bersin dengan cara menutup mulut dan hidung dengan siku terlipat

atau dengan tisu dan segera membuang tisu tersebut.

5. Tetaplah tinggal di rumah, beraktivitas di rumah, hindari kerumunan massal yang memungkinkan penularan Covid-19.

https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

(3)

Arsitektur Rumah Tinggal Sehat

1. Mengenal Arsitektur

Mangunwijaya (1995) mengungkapkan bahwa arsitektur berasal dari bahasa Yunani ―archee‖ dan ―tectoon‖. Archee berarti yang asli, yang utama, yang awal. Sementara Tectoon berarti kokoh, tidak roboh atau stabil. Maka archeetectoon berarti orisinal dan kokoh. Sementara menurut Vitruvius (31 SM – 14 M) seorang old master arsitek dalam buku Ten Books of Architecture mengatakan hal senada, bahwa ada tiga kriteria yang harus dipenuhi sebuah bangunan, yaitu: Firmitas (kekuatan), venustas (keindahan) dan utilitas (fungsi).

Unsur-unsur arsitektur terdiri dari tiga penggolongan utama, yaitu unsur fisik, penerimaan, dan konsepsual. Dibawah ini adalah penjabaran masing-masing unsur tersebut. a. Unsur Fisik. Unsur fisik arsitektur berupa bentuk dan ruang, disini harus diperhatikan

bagaimana sistem dan struktur yang diterapkan, apa saja teknologi yang dipakai.

b. Unsur Penerimaan. Berlawanan dengan unsur fisik, ini adalah unsur psikologis dari suatu arsitektur. Apakah manusia akan nyaman menghuni bangunan ini. Apakah jalan masuk dan keluar seseorang mengalir dan mudah untuk ditebak.

c. Apakah selain dapat diterima dengan baik bangunan/lingkungan ini juga ingin menyampaikan suatu makna. Atau ingin membuat simbol tertentu.

Sementara itu untuk mencapai keindahan atau estetika yang diinginkan, suatu bentuk bangunan tetap bertumpu pada unsur dan prinsip dasar rupa/desain. Karena sejatinya yang dirancang dan dibangun adalah tetap sebuah objek visual.

Tidak hanya untuk membangun suatu konstruksi bangunan yang fungsional, estetis dan kokoh. Arsitektur secara umum berfungsi sebagai suatu tata bina yang ikut menyeimbangkan lingkungan disekitar, termasuk pada alam, manusia dan faktor sosialnya. Dibawah ini adalah penjabaran fungsinya :

a. Arsitektur sebagai kebutuhan tuntutan fungsional badani, rohani, emosional (spiritual & intelektual).

b. Ssebagai jawaban atas tantangan: Iklim, teknologi, masyarakat, kebudayaan.

c. Sebagai penyeimbang biologis dan psikologis dalam artian berfungsi sebagai pembatas (filter) antara tubuhnya dengan lingkungan alamnya.

d. Penyeimbang biologis dan psikologis yang merupakan kelanjutan perilaku adaptasi manusia terhadap dunia.

e. Ruang tempat manusia hidup dengan berbagi. Ruang, manusia, hidup, dan bahagia, kaitannya dengan pengalaman kehidupan sehari-hari secara sederhana dapat diwujudkan pula oleh arsitektur.

f. Sebagai binaan lingkungan secara keseluruhan, bukan hanya sebagai obyek/produk, tapi juga sebagai institusi/proses.

g. Objek dan proses budaya. Monumen-monumen kuno dunia yang diagungkan hingga sekarang adalah produk dari Arsitektur.

Oleh karena itu, arsitektur bukan hanya benda yang dirancang saja, melainkan suatu kesatuan tata bina lingkungan termasuk 7nsure psikologisnya

2. Mengenal Rumah Sehat yang Responsif

Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya (Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman). Sedangkan rumah sehat adalah rumah yang memungkinkan para penghuninya dapat mengembangkan dan membina fisik mental maupun sosial keluarga.

(4)

Prinsip rumah sehat sesuai dengan edaran Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, yakni: 1. Memiliki Elemen Bangunan, yakni terdiri dari Kepala, Badan dan Kaki

Gambar 1 Elemen Bangunan Sumber: Kementerian PUPR, 2007 2. Memenuhi syarat kesehatan,

a. Lantai dan dinding harus kering (tidak lembab) dan mudah dibersihkan. Agar tetap kering, maka lantai harus:

1) Terbuat dari bahan bangunan yang tidak menghantar air tanah ke permukaan lantai (kedap air).

2) Berada lebih tinggi dari halaman luar dengan ketinggian lantai minimal sebagai berikut :

- 10 cm dari pekarangan - 25 cm dari permukaan jalan

Gambar 2. Lantai Rumah Sumber: Kementerian PUPR, 2007

(5)

b. Ventilasi/jendela yang cukup agar udara dalam ruangan dapat selalu mengalir. Luas bukaan jendela minima 1/9 luas ruang lantai.

Gambar 3. Sirkulasi Udara di Rumah Sumber : Kementerian PUPR, 2007 c. Lubang bukaan/jendela harus dapat ditembus sinar matahari.

Gambar 4. Sirkulasi Sinar Matahari di Rumah Sumber : Kementerian PUPR, 2007

d. Letak rumah yang baik adalah sesuai dengan arah matahari (timur-barat) agar penyinaran sinar matahari dapat merata dari jam 08.00 – 16.00.

Gambar 5. Orientasi Rumah Sumber: Kementerian PUPR, 2007 3. Memenuhi rasa nyaman,

1) Pengaturan ruang-ruang :

a) Pemenuhan minimum kebutuhan ruang dalam rumah sebagai berikut : - Ruang tidur

(6)

- Ruang tamu - Dapur

- Kamar mandi dan - Kakus

b) Ruang-ruang diatur sesuai dengan fungsinya. Ruang dengan fungsi yang berhubungan erat diletakan berdekatan agar pencapaiannya lebih mudah dan kegiatan dapat berjalan lancar

c) Jika ruangan terbatas, suatu ruangan dapat dimanfaatkan untuk beberapa fungsi. Misalnya ruang makan dapat juga dimanfaatkan sebagai ruang keluarga dan ruang belajar.

Tabel 1. Standar Luas Minimum Hunian

Sumber: Kementerian PUPR, 2007

Tabel 2. Standar Luas Minimum Ruangan untuk Keluarga

Sumber: Kementerian PUPR, 2007 2) Penataan ruang:

a) Kamar tidur

Sinar matahari pagi bisa masuk, maka luas jendela minimal 1/9 luas ruangan. Jangan terlalu banyak perabot dalam ruangan tidur, agar udara dapat mengalir dengan baik.

b) Ruang makan

Selain digunakan untuk kegiatan makan, biasanya juga berfungsi sebagai tempat dan ruang keluarga. Harus mempunyai penerangan alami dan penerangan buatan yang cukup dengan memberi bukaan jendela yang menghadap ke arah luar.

c) Dapur

Dapur berhubungan dengan api, maka harus :

 Mendapat sirkulasi udara yang bagus, cahaya yang bagus, efisien juga, sebaiknya berada pada sisi yang mendapatkan cahaya dan udara secara langsung dari luar.

 Dinding sekitar kompor/tungku dilapisi seng atau bahan tahan api, terutama untuk dinding kay atau bambu.

(7)

 Sediakan karung yang mudah dibasahi dan ember berisi air didekat kompor/tungku sebagai salah satu upaya penanggulangan pertama bila kompor/tungku terbakar.

d) Kamar mandi/WC.

Kamar mandi/WC merupakan area basah, maka harus :

 Harus mempunyai lubang angin dan penerangan yang cukup, agar sinar matahari dapat masuk dan peredaran udara dapat terjadi dengan baik.

 Dinding kamar mandi/kakus harus apat kedap air agar percikan air tidak merusak komponen bangunan.

 Sebaiknya ada pada sisi yang ruang terbuka, maksudnya pada sisi halaman yang bisa dapat matahari secara langsung, dapat udara dari luar secara langsung.

Gambar 6 Ilustrasi KM/WC Sumber: Kementerian PUPR, 2007 3) Kenyamanan Pencahayaan dan Kenyamanan Penghawaan

Rumah dengan konsep menyatu dengan lingkungan akan sangat baik untuk perolehan cahaya matahari dan udara segar secara maksimal. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan terlebih dahulu space untuk tanaman dan area terbuka sebelum merancang ruang-ruang yang ada di dalam rumah.

Konsep rumah dengan viod di tengah lahan atau taman perantara area publik dan privat dapat menjadi solusi dalam memaksimalkan perolehan cahaya dan udara segar. Pemisahan area publik dan privat juga dapat mengantisipasi penyebaran virus berbahaya yang dibawa oleh tamu agar tidak menyebar ke seluruh penghuni rumah, khusunya anak-anak dan lansia.

Lahan yang kecil pun dapat dirancang dengan memiliki taman di tengah lahan sehingga tidak ada kendala bagi yang memiliki lahan sempit untuk dapat menikmati udara dan cahaya secara maksimal.

Pencahayaan alami juga dapat diperoleh dengan membuat void serta menambahkan tanaman yang ditanam secara vertikal di dinding. Meskipun void yang dibuat tidak besar tetapi memberikan efek yang cukup terasa dalam perolehan cahaya serta penghawaan alami ke dalam ruangan yang ada dalam sebuah rumah.

(8)

Gambar 7. Pencahayaan Alami Taman Rumah Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2020

Prinsip lingkungan rumah sehat sesuai dengan edaran Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, yakni:

1. Pengaturan luas bangunan dan luas lahan adalah 40% luas bangunan berbanding minimal 60% luas lahan.

2. Pengaturan sanitasi:

a) Pada masa pandemi Covid-19 ini, sangat diharapkan sering mencuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir, oleh karena itu pada pekarangan rumah disediakan wadah untuk mencuci tangan sebelum memasuki rumah. b) Air bersih harus tersedia sumber air bersih yang menjadi sumber air minum bagi

masyarakat di lingkungan permukiman. Jika sumber air di sekitar lingkungan permukiman tidak memenuhi syarat untuk diminum, harus dilakukan penjernihan air terlebih dahulu.

c) Air kotor Saluran untuk air buangan dibedakan menjadi: a) Saluran air hujan.

b) Terbuka, terletak dibawah saluran atap dan harus dapat mengalirkan air hujan ke saluran air hujan lingkungan dengan kemiringan minimal 2%.

c) Saluran air bekas mandi dan cuci Terbuka dan dialirkan menuju ke saluran lingkungan.

d) Saluran air kotor dari kakus tertutup, disalurkan menuju cubluk atau tangki septic untuk kemudian cairannya dialirkan ke sumur peresapan atau penyaringan yang selanjutnya dapat dibuang ke badan air yang ada (sungai dan lain-lain).

Gambar 8. Pengaturan Sanitasi Rumah Sumber: Kementerian PUPR, 2007

(9)

3. Penanganan Sampah

Sampah harus dibuang pada tempatnya karena jika dibuang sembarangan dapat merusak lingkungan, menyumbat saluran air yang dapat menyebabkan banjir. Selain itu dapat dengan melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik setelah itu dilakukan pengolahan sampah sesuai keperluan.

4. Manfaat Pekarangan

Halaman rumah sebaiknya ditanami tanaman yang bermanfaat, seperti sayursayuran, tanaman untuk obat-obatan (apotik hidup), pohon rindang sebagai peneduh, dan lain-lain.

Gambar 9 Pemanfaatan Pekarangan Rumah Sumber: Kementerian PUPR, 2007

Pada saat Indonesia dilanda pandemi Covid-19 seperti sekarang, rumah modern yang sehat dan ekonomis dapat membantu mengurangi risiko penyebaran virus, kuncinya adalah pada pengendalian tata cahaya dan tata udara. Konsep rumah modern yang sehat dan ekonomis adalah sebuah rumah tinggal yang memenuhi syarat, yaitu bisa melindungi penghuninya dari cuaca hujan, panas terik matahari, tempat dia berlindung. Mempunyai kenyamanan pencahayaan yang baik, kenyamanan sirkulasi udara yang baik.

Implementasi terhadap prinsip desain rumah tinggal yang sehat dan responsif diharapkan mampu menjadikan rumah sebagai tempat tinggal yang sehat, bersih, nyaman (pencahayaan dan penghawaaan), aman dan memenuhi persyaratan minimal besaran ruang yang bisa responsive terhadap Covid-19.

Modifikasi Desain (Design Engineering) dan Modifikasi Perilaku (Social Engineering)

1) Modifikasi desain (Design Engineering)

Modifikasi desain terhadap rumah tinggal perlu dilakukan jika rumah tersebut belum memiliki prinsip desain rumah sehat yang telah diuraikan di atas, modifikasi tersebut dilakukan khususnya bertujuan agar rumah tinggal memiliki responsif terhadap virus dan sebagai sustainable design hunian.

Modifikasi desain meliputi:

a) Menyediakan ruang (area) untuk mencuci tangan pada halaman/pekarangan depan rumah sebelum tamu atau pemilik rumah masuk.

b) Menyediakan lahan (pekarangan) ukuran yang tidak terlalu luas di bagian depan dan belakang rumah, untuk sirkulasi udara dan cahaya yang baik dan sehat.

c) Menambahkan exhaustfan pada KM/WC yang tidak memiliki sirkulasi penghawaan yang baik.

d) Memastikan ruangan utama dan beberapa ruangan lainnya mendapatkan sinar matahari dan udara yang segar

(10)

e) Mengadakan minimal 2 kamar tidur dan 2 KM/WC.

f) Mengadakan ruang kerja yang efektif guna pelaksanaan aktivitas pekerjaan secara virtual atau Work From Home (WFH).

2) Modifikasi perilaku (Social Engineering)

Social engineering merupakan suatu teknik merubah, mempengaruhi sikap pandangan, persepsi ataupun perilaku manusia melalui langkah-langkah pengambilan data atau informasi penting dan diolah untuk menjadi aksi tujuan pembangunan ( Popper, K.R., & Gombrich, E. H., 2013).

Modifikasi perilaku dapat dilakukan secara sederhana di dalam rumah meliputi : a) Rajin membuka jendela rumah agar penghawaan dan pencahayaan alami masuk. b) Rajin membersihkan rumah, menjemur kasur dan bantal serta membuang sampah. c) Membiasakan hidup sehat dan teratur, jaga pola hidup selalu minum vitamin.

d) Membiasakan olahraga dan berjemur (sunbathing), memanfaatkan RTH dan public space. e) Tidak menimbun barang yang tidak dibutuhkan dan lain sebagainya.

f) Utamakan memenuhi kebutuhan pokok/kebutuhan harian dalam rumah.

C. Penutup

Rumah tinggal merupakan benteng pertahanan umat manusia sebagai ‖bunker‖ yang sehat

dan mampu responsif terhadap virus yang ada di sekitar kita. Himbauan pemerintah terkait Pembatasan Sosial Berskala Besara (PSBB) merupakan salah satu himbauan yang dilakukan pemerintah agar memutus rantai penyebaran Covid-19 yang mengakibatkan seluruh masyarakat melaksanakan aktivitas di rumah (bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan mengurangi aktivitas sosial).

Implementasi terhadap prinsip desain rumah tinggal yang sehat dan responsif diharapkan mampu menjadikan rumah sebagai tempat tinggal yang sehat, bersih, nyaman (pencahayaan dan penghawaaan), aman dan memenuhi persyaratan minimal besaran ruang yang bisa responsive terhadap Covid-19.

Keterbatasan kondisi yang ada pada rumah tinggal memerlukan modifikasi terhadap desain rumah tinggal (design engineering) dan juga memerlukan modifikasi terhadap perilaku manusia (social engineering) sebagai subjek pengguna dan pemanfaat rumah tinggal tersebut sebagai upaya adaptasi dan hubungan sinergis manusia dan rumah tinggal.

Daftar Pustaka

Kemnterian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2007). Dasar-dasar Rumah Sehat, Jakarta Mangunwijaya, Y.B. (1995). Wastu Citra. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Popper, K. R., & Gombrich, E. H. (2013). The open society and its enemies. Princeton University Press.

Undang-undang No. 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman

Vitruvius, M. P. (1960). The ten books on architecture, translated by morris hicky morgan.

https://www.jurnal.id/id/blog/wfh-pengertian-dan-tipsnya/ (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

https://stoppneumonia.id/informasi-tentang-virus-corona-novel-coronavirus/ (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

https://who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses/ (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

(11)

https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-for-public (diakses pada hari jumat, tanggal 29 mei 2020, pukul 14.00)

(12)

Gambar

Gambar 1 Elemen Bangunan  Sumber: Kementerian PUPR, 2007  2.  Memenuhi syarat kesehatan,
Gambar 3. Sirkulasi Udara di Rumah   Sumber : Kementerian PUPR, 2007  c.  Lubang bukaan/jendela harus dapat ditembus sinar matahari
Tabel 1. Standar Luas Minimum Hunian
Gambar 6 Ilustrasi KM/WC  Sumber: Kementerian PUPR, 2007  3)  Kenyamanan Pencahayaan dan Kenyamanan Penghawaan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan penelitian ini adalah ada pengaruh positif model pembelajaran social science inquiry terhadap civic skills siswa pada kompetensi dasar

Baik sinyal analog dan digital masing-masing memiliki kelemahan. Volume kedua sinyal makin berkurang terhadap jarak, rnakin lemah dan mudah menerima gangguan atau interferensi,

Keterangan : Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ahmad adi arifai (2018), variabel yang diteliti yaitu Kepemimpinan (X1) Motivasi (X2) Disiplin kerja (X3) Kinerja (Y)

pengembangan pendidikan di daerahnya, serta sekolah juga harus lebih aktif dan kreatif sehing- ga tidak hanya menunggu petunjuk dari atas. Pemberlakuan sistem desentralisasi akibat

Dengan sejarah konsumsi minuman beralkohol tidak tercatat yang sudah jauh lebih tinggi dibandingkan minuman beralkohol tercatat, dapat diasumsikan bahwa konsumen minuman

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi intelektual Skripsi saya yang berjudul “PENGARUH JARAK TABUNG SINAR-X DENGAN FILM TERHADAP KESESUAIAN BERKAS RADIASI PADA

Model teoritis Immediacy pada pengguna media sosial ditinjau dari tipe kepribadian macheavelianism, keterampilan komunikasi interpersonal, social media engagement

Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepercayaan (Trust) , kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction), dan pengalaman aliran