Model Immediacy dalam Komunikasi Elektronik: Studi Pada Mahasiswa
Ruddy J. Suhatril
Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma Abstract
To that extent which Computer Mediated Communication (CMC) has become communal
communication channel, the notion of E-immediacy is emerge. E-Immediacy as positive
involvement behavior has widening the array of discourse regarding behavior executed in
socio-virtual environment. As a consequence of widespread adoption of Information
Communication Technology (ICT) in academic scheme, CMC particularly social media has
extensively used to facilitate student-lecture interaction. Elaborating psychological,
communication and ICT in this proposed model, several factors are considerable to predict
e-immediacy among Indonesian college student. Thus this research is aimed to analyze proposed
theoretical model of student e-mediacy toward lecturer. The E-immediacy model proposed in
this study is predicted by Social Intelligence, Digital Literacy, Machiavellianism as well as
Social Media Engagement as a mediator. Using Structural Equation Model, the primary data
collected from 625 college student across Indonesia, by using 5-point likert self-reported
questionnaire, are being analyzed. From the result, relative chi-square of fit model with
CMIN/DF 2,198 shows goodness of fit of the proposed model. Furthermore, hypotheses test
shows that Social Media Engagement is significantly influenced by Social Intelligence, Digital
Literacy as well as Machiavellianism. As a mediator, Social Media Engagement, also shows
significant influence to E-Immediacy
Keywords: E-Immediacy, Social Intelligence, Digital Literacy, Machiavellianism, Social
Media Engagement
PENDAHULUAN
Kedekatan (immediacy) nonverbal relevan dalam semua lapisan masyarakat dan organisasi (Limbu et al., 2016). Dalam konteks pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi telah mengilhami praktik pedagogis baru yang mendefinisikan kembali metode pengajaran dan pembelajaran konvensional (Al-Qallaf & Al-Mutairi, 2016). Perilaku e-immediacy adalah penting untuk lingkungan belajar yang efektif (Alharbi & Dimitriadi, 2017). Pemahaman tentang interaksi dan dinamika immediacy akan mempengaruhi sifat dan kualitas komunikasi di lingkungan pembelajaran online (Woods & Baker, 2004). Komunitas online adalah struktur sosial baru yang bergantung pada teknologi informasi modern (Ray, Kim & Morris, 2014). Domain kecerdasan sosial dan emosional merupakan pendekatan yang berguna dan valid untuk pengelolaan modal manusia (Emmerling & Boyatzis, 2012). Literasi digital penting untuk dimasukkan ke dalam pendidikan di semua tingkatan, terutama di pendidikan tinggi (Tuamsuk & Subramaniam, 2017). (UNESCO (2011) menyatakan bahwa literasi digital tidak sebatas kemampuan untuk menangani komputer saja. Keterampilan dan kompetensi literasi digital memungkinkan mahasiswa untuk menggunakan alat digital untuk memperkaya pengalaman
pendidikan mereka dan meningkatkannya untuk masyarakat dan pembelajaran seumur hidup (Ukwomaand, Iwundu & Iwundu, 2016).
TINJAUAN PUSTAKA E-Immediacy
Thweatt & McCroskey (1996) mengutip definisi immediacy dari Mehrabian yaitu “the extent to which selected communicative behaviors enhance physical or psychological closeness in interpersonal communication. In other words, immediacy can be understood as “those communication behaviors that reduce perceived distance between people”.
Digital Literacy
Digital literacy is “the ability to access, manage, understand, integrate, communicate, evaluate and create information safely and appropriately through digital technologies for employment, decent jobs and entrepreneurship” (Law et al., 2018). Ini mencakup kompetensi yang beragam disebut sebagai literasi komputer, literasi TIK, literasi informasi dan literasi media. Literasi digital mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku dalam penggunaan teknologi digital untuk komunikasi, pembelajaran, bekerja, dan menjalani kehidupan (Tuamsuk & Subramaniam, 2017). Literasi digital sangat penting yang berdampak positif pada peningkatan efektivitas pelajar atau peningkatan kinerja, peningkatan efisiensi pembelajar, keterlibatan atau kepuasan pembelajar yang lebih besar, dan sikap mahasiswa yang lebih positif terhadap pembelajaran (Ukwomaand, Iwundu & Iwundu, 2016).
Social Intelligence
Secara historis, istilah 'kecerdasan sosial' digunakan oleh E. L. Thorndike pada tahun 1920 untuk kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola orang lain, dan untuk terlibat dalam interaksi sosial yang adaptif (Yusuf, Din, & Jusoh, 2017). Kecerdasan Sosial dapat terdiri dari dua kategori: Kesadaran sosial yaitu apa yang kita rasakan tentang orang lain, dan fasilitas sosial yaitu apa yang kemudian kita lakukan dengan sikap terhadap orang lain tersebut (Goleman, 2006). Kecerdasan sosial dibedakan dari kecerdasan umum, emosional dan budaya, namun ada yang tumpang tindih di antara konstruksi ini karena kecerdasan sosial juga memiliki komponen kognitif dan perilaku (Rahim, Civelek & Liang, 2018). A social intelligence competency is “the ability to recognize, understand and use emotional information about others that leads to or causes effective or superior performance” (Boyatzis, 2009) dan pengertian tersebut mencakup kesadaran sosial dan kompetensi dalam mengelola hubungan, seperti empati dan kerja tim.
Macheavialism
Machiavellianism didefinisikan sebagai strategi perilaku sosial yang melibatkan manipulasi orang lain untuk keuntungan pribadi (Wilson, Near, & Miller, 1996). Seseorang yang tinggi dalam Machiavellianisme akan cenderung memandang orang lain sebagai alat, atau sebagai alat untuk mencapai tujuan (Matt & Krawczyk, 2017). Machiaveallianism adalah sifat kepribadian yang ditandai oleh sinisme, pelepasan emosi dan kemauan untuk memanipulasi orang lain (Abell & Brewer, 2014).
Keterlibatan (engagement) merupakan konsep multidimensi yang terdiri dari tidak hanya perilaku tetapi juga kognitif (Hollebeek, 2011). Khan (2017) melihat keterlibatan sebagai perilaku atau interaksi berbasis click (partisipasi) serta melihat dan membaca konten (konsumsi). Engagement is “a holistic psychological state in which one is cognitively and emotionally energized to socially behave in ways that exemplify the positive ways in which group members prefer to think of themselves” (Kahn, 1990). Keterlibatan merupakan kunci untuk partisipasi aktif dalam lingkungan sosioteknik yang unik (Ray, Kim & Morris, 2014). Teori Keterlibatan Media Sosial berperan sebagai landasan yang dibutuhkan untuk memfasilitasi interaksi sosial di antara pengguna media sosial yang didistribusikan secara global atau temporal (Di Gangi & Wasko, 2016).
METODE
Dengan menggunakan simple random sampling, pengambilan data dilakukan selama 2 minggu. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa yang bersedia menjadi responden penelitian. Tidak dilakukan kriteria spesifik terkait dengan penentuan eligibilitas subjek. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner online yang berisi item-item dari skala Social Intelligence, Machiavelianism, Immediacy, Social Media Engagement, digital literacy serta beberapa pertanyaan menyangkut demografis responden.
HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pengukuran
Model pengukuran ini menggunakan butir-butir yang sudah diuji pada penelitian pendahuluan sehingga beberapa didrop untuk penelitian utama. Beberapa item yang didrop pada saat uji pendahuluan tersebut adalah SI1, SI4, SI11, dan SI12 untuk variabel Social Influence; MA2, MA3, dan MA6 untuk Macheavialism; SM1, SM2, dan SM13 untuk Social Media Engagement; dan EI1, EI4, EI5, EI7, EI9 dan EI14 untuk E-Immediacy. Penghilangan butir tersebut didasarkan pada nilai Cronbach Alpha if deleted dan nilai loading factor yang relatif kecil sehingga butir-butir tersebut tidak dalam satu faktor dengan butir lainnya berdasarkan hasil analisis faktor. Butir-butir tersebut tidak dimasukan dalam analisis model pengukuran dengan menggunakan Confirmatory Factor Analysis, yang hasilnya disajikan pada Gambar berikut ini.
Table 1 . Confirmatory Factor Analysis
No. Variable Item Mean S.D. Loading Cronbach α KMO 1. . Digital Literacy DL1 4.37 0.936 0.571 0.942 0.947 DL2 4.17 1.013 0.658 DL3 3.54 0.973 0.699 DL4 3.97 0.971 0.746 DL5 3.92 0.941 0.796 DL6 3.85 0.967 0.807 DL7 3.54 0.934 0.729 DL8 3.45 0.949 0.788 DL9 3.50 1.048 0.736 DL10 3.40 1.056 0.734 DL11 3.37 0.894 0.719 DL12 3.47 0.970 0.761 DL13 3.14 1.058 0.694 DL14 3.32 0.930 0.734 DL15 3.49 0.962 0.678 2. Social Intelligence SI2 3.81 0.751 0.602 0.866 0.892 SI3 3.84 0.687 0.575 SI5 4.00 0.748 0.621 SI6 3.96 0.729 0.708 SI7 4.05 0.720 0.728
SI8 3.84 0.746 0.723 SI9 3.93 0.678 0.672 SI10 4.08 0.693 0.718 3. Macheavialism MA1 2.56 0.919 0.594 0,600 0.637 MA4 3.22 0.934 0.532 MA5 2.84 0.958 0.592 3. Social Media Engagement SM3 2.65 0.994 0.618 0.844 0.877 SM4 2.58 0.914 0.618 SM5 2.96 1.044 0.619 SM6 2.79 1.021 0.502 SM7 2.50 1.003 0.669 SM8 2.88 1.067 0.533 SM9 2.29 0.914 0.634 SM10 2.11 0.896 0.607 SM11 1.82 0.820 0.632 SM12 2.60 1.054 0.531 3. EImmediacy EI2 2.88 0.872 0.523 0.704 0.736 EI3 2.53 0.948 0.562 EI6 2.95 0.937 0.594 EI8 3.62 0.797 0.505 EI11 3.32 0.776 0.500 EI12 2.07 0.802 0.433 EI13 2.75 0.918 0.422
Hasil CFA tersebut menunjukkan bahwa model pengukuran mempunyai reliabilitas dan validitas yang cukup baik berdasarkan nilai Cronbach Alpha dan KMO.
Model Struktural dan Uji Hipotesis
Tabel 2. Model fit
No. Statistics of Model Fit Independence Model Default Model Saturated Model
1. ÷2/df 13.381 2.052 - 2 GFI 0.282 0.884 1 3. NFI 0 0.864 1 4. RFI 0 0.852 - 5. IFI 0 0.925 1 6. TLI 0 0.918 - 7. CFI 0 0.925 1 8. RMSEA 0.144 0.041 -
Tabel 3. Uji Hipotesis
Estimate S.E. C.R. P Note SM_Engagement <--- Digital_Literacy -0.253 0.064 -3.931 *** Supported SM_Engagement <--- Machevialism 0.610 0.088 6.904 *** Supported SM_Engagement <--- Social_Intelligence -0.122 0.057 -2.126 0.034 Supported eImmediacy <--- SM_Engagement 0.296 0.047 6.245 *** Supported Note: *** significant at α=0.001
Lebih lanjut dari data demografis didapatkan hasil bahwa Berdasarkan jenis kelamin, jumlah responden terbanyak adalah perempuan yaitu sebesar 69% sedangkan laki-laki sebesar 31% dari jumlah responden.
Gambar 3 Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan data, sebagian besar responden yaitu sebanyak 42% dari total responden mengeluarkan uang 25 ribu – 100 ribu rupiah perbulan, diikuti oleh responden yang mengeluarkan
31%
69%
Jenis Kelamin
uang sebanyak 100-250 ribu dalam sebulan selanjutnya lebih besar dari 250 ribu, dan yang paling sedikit yaitu responden yang berlangganan kurang dari 25 ribu selama satu bulan.
Gambar 4 Deskripsi responden berdasarkan biaya langganan internet
Karakteristik responden berdasarkan cara mengakses layanan internet yaitu sebanyak 98% responden menggunakan mobile melalui smart phone/tablet/pad, sedangkan 2% melalui web-based melalui PC/Laptop.
Gambar 5 Deskripsi responden berdasarkan akses internet 1%
42%
31% 26%
Biaya Langganan Internet Perbulan
< 25 Rb 25 Rb - 100 Rb 100 Rb - 250 Rb > 250 Rb
98% 2%
Akses Internet
Model teoritis Immediacy pada pengguna media sosial ditinjau dari tipe kepribadian macheavelianism, keterampilan komunikasi interpersonal, social media engagement melalui mediasi digital literacy dan social intelligence memiliki kecocokan dengan data yang diperoleh. Hipotesis mayor dalam penelitian ini diterima karena mampu menunjukan indikator Goodness of Fit yang cukup baik. Artinya, tidak terdapat perbedaan antara model teoritis dengan model empiris yang diperoleh dalam penelitian ini.
Berdasarkan hasil analisi mengenai besaran pengaruh masing-masing variable yang dijabarkan dalam hypothesis minor didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh langsung yang sangat signifikan dari macheavelianism, komunikasi interpersonal dan social media engagement terhadap digital literacy. Pengaruh signifikan lain didapatkan dari komunikasi interpersonal dan macheavelianism terhadap social intelligence. Namun demikian pengaruh langsung signifikan dari kedua variable mediator yai\tu social intelligence dan digital literacy terhadap immediacy hanya diberikan oleh social intelligence.
Immediacy dalam penelitian ini merujuk kepada bagaimana seorang individu berperilaku dan bertindak sebagi digital citizen ayng baik dalam memanfaatkan TIK untuk memfasilitasi komunikasi dan berinteraksi serta menjalin hubungan dengan orang lain. Dalam penelitian ini immediacy dinilai berdasarkan bagaimana individu dapat saling menghormati individu lain ketika berinteraksi dalam media sosial. Selain itu individu yang dianggap sebagai orang yang memiliki immediacy yang baik adalah individu yang dapat dan telah memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki atau meningkatkan kehidupan bermasyarakat, berupaya untuk berkontribusi positif dalam masyarakat yang tentu saja harus diawali dengan adanya keterikatan terhadap lingkungan masyarakat secara luas maupun komunitas atau group maupun keterikatan personal pada individu lain yang menjadi bagian dalam komunitas tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
Model teoritis Immediacy pada pengguna media sosial ditinjau dari tipe kepribadian macheavelianism, keterampilan komunikasi interpersonal, social media engagement melalui mediasi digital literacy dan social intelligence memiliki kecocokan dengan data yang diperoleh. Semua kalangan pendidikan harus memahami istilah pedagogi digital dan menentukan metode pedagogis yang akan digunakan saat mempersiapkan lulusan dengan literasi digital (Tuamsuk & Subramaniam, 2017).
Refferences
Abell, L., & Brewer, G. (2014). Machiavellianism, self-monitoring, and relational aggression on Facebook. Computers in Human Behavior, 36(2014), 258-262.
Alharbi, S. & Yota Dimitriadi, Y. (2017). E-Immediacy in Saudi Higher Education Context: Female Students’ Perspectives. World Academy of Science, Engineering and Technology International Journal of Educational and Pedagogical Sciences, 11(5), 37.
Al-Qallaf, C. L., & Al-Mutairi, A. S. R. (2016). Digital literacy and digital content supports learning: The impact of blogs on teaching English as a foreign language. The Electronic Library, 34(3), 522-547. Boyatzis, R. E. (2009). Competencies as a behavioral approach to emotional intelligence. Journal of Management Development, 28(9), 749-770.
Di Gangi, P. M., & Wasko, M. (2016). Social Media Engagement Theory: Exploring the Influence of User Engagement on Social Media Usage. Journal of Organizational and End User Computing (JOEUC), 28(2), 53-73.
Emmerling, R. J., & Boyatzis, R. E. (2012). Emotional and social intelligence competencies: cross cultural implications. Cross Cultural Management: An International Journal, 19(1), 4-18.
Goleman, D. (2006). Social Intelligence: The new science of human relationships. Bantam Dell, A Division of Random House, Inc., New York.
Hollebeek, L. (2011). Exploring customer brand engagement: definition and themes. Journal of Strategic Marketing, 19(7), 555–573.
Kahn, W. A. (1990). Psychological Conditions of Personal Engagement and Disengagement at Work. The Academy of Management Journal, 33(4), 692-724.
Khan, M. L. (2017). Social Media Engagement: What motivates user participation and consumption on Youtube? Computers in Human Behavior, 66(2017), 236-247.
Law, N., Woo, D., Torre, J., & Wong, G. (2018). A Global Framework of Reference on Digital Literacy Skills for Indicator 4.4.2. Information Paper No. 51 June 2018, UNESCO Institute for Statistics. Limbu, Y. B., Jayachandran, C., Babin, B. J., & Peterson, R. T. (2016). Empathy, nonverbal immediacy, and salesperson performance: the mediating role of adaptive selling behavior. Journal of Business & Industrial Marketing, 31(5), 654-667.
Matt, A., & Krawczyk, R. (2017). Interaction between machiavellianism, hostility, and social media use in cyberbullying behavior. Journal of Integrated Social Sciences, 7(1), 33-44.
Rahim, A., Civelek, I., & Liang, F. H. (2018). A process model of social intelligence and problem-solving style for conflict management. International Journal of Conflict Management, 29(4), 487-499. Ray, S., Kim, S. S., & Morris, J. G. (2014). The Central Role of Engagement in Online Communities. Information Systems Research, 25(3), 528–546.
Thweatt, K. S., and McCroskey, J. C. (1996). Teacher Nonimmediacy and Misbehavior: Unintentional negative communication. Communication Research Reports, 13(2), 198 – 204.
Tuamsuk, K. & Subramaniam, M. (2017). The current state and influential factors in the development of digital literacy in Thailand’s higher education. Information and Learning Science, 118(5/6), 235-251.
Ukwoma, S. C., & Iwundu, N. E., & Iwundu, I. E. (2016). Digital literacy skills possessed by students of UNN, implications for effective learning and performance: A study of the MTN Universities Connect Library", New Library World, 117(11/12), 702-720.
UNESCO. (2011). Digital literacy in education. Institute for Information Technologies Education. http://iite.unesco.org/files/policy_briefs/pdf/en/digital_literacy.pdf, accessed 20 April 2019.
Wilson, D. S., Near, D., & Miller, R. R. (1996). Machiavellianism: A Synthesis of the Evolutionary and Psychological Literatures. Psychological Bulletin, 119(2), 285-299.
Woods, R. H. & Baker, J. D. (2004). Interaction and Immediacy in Online Learning. International Review of Research in Open and Distance Learning, 5(2), 1-13.
Yusuf, D. H. M., Din, M. S., & Jusoh, M. S. Negative Moderating Effect of Social Intelligence on the Relationship between Entrepreneurial Talent and Sustainable Performance among Technology-based SMEs in Malaysia. International Journal of Business and Technopreneurship, 3(2017), 237-250.