STUDI TENTANG SIKAP PROFESIONAL PERAWAT SEBAGAI PELAKSANA ASUHAN KEPERAWATAN (CARE GIVER) DI RUMAH
SAKIT UMUM DAERAH H. DAMANHURI BARABAI Wahidah1, La Ode Jumadi Gafar2,Adijani al-Alabij3
1,2,3STIkes Muhammadiyah Banjarmasin
ABSTRAK
Profil perawat adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan akitivitas keperawatan yang meliptui peran dan fungsi asuhan atau pelayanan keperawatan maupun praktik keperawatan, untuk membentuk profil perawat profesional tersebut dibutuhkan sikap profesional perawat: keterlibatan, respek, empati dan kesungguhan, karena sikap profesional perawat mempengaruhi kualitas dan pelayanan seorang perawat yang utama baik pada waktu sekarang mapun masa yang akan datang.
Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, sampel penelitian yang diambil adalah perawat yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan besar sampel sebesar 30 responden. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan baik di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai adalah baik : 37,5%, cuku 25%, kurang 37,5%, sedangkan keterlibatan cukup : 13,6%, cukup 54,5%, krang 42,9%, aspek cukup : baik12,5%, cukup 62,5%, kurang 25%. Empati perawat terhadap asuhan keperawatan baik : 33,3%, cukup 21,4%, kurang 20,0%. Empati cukup: baik 66,7%, cukup 78,6%, kurang 80,0%. Sedangkan kesungguhan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 37,5%, cukup 50%, kurang 28,6%.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap profesional perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai menunjukkan sikap yang cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan. Berdasarkan hasil tersebut, disarnkan pihak rumah sakit melakukan supervisi terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan untuk melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan untuk melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kata Kunci: Sikap perawat yang profesional, penerapan
PENDAHULUAN
Profil keperawatan profesional adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai dengan kode etik keperawatan. Aktifitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberian asuhan/pelayanan
keperawatan, praktirk
keperawatan, pengelolaan institusi keperawatan, pendidikan klien (individu, keluarga dan masyarakat) dan juga keperawatan sebagai profesi dituntut semakin sadar akan kedudukan, peran dan tanggung jawabnya sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa melalui upaya peningkatan kualitas pelayanan keperawatan. Pembentukan sikap profesional
ini dapat dibina dan
ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sumber daya manusia, yaitu melalui pendidikan keperawatan berkelanjutan baik pada tingkat pendidikan profesional pemula maupun pada tingkat sarjana, melakukan studi banding ke berbagai rumah sakit model, dan meningkatkan frekuensi kegiatan pembahasan kasus yang diharapkan secara langsung dapat mempengaruhi sikap, menambah pengetahuan dan keterampilan professional (Gafar, 1997)
“Selain pembentukan sikap profesional untuk
meningkatkan kualitas
pelayanan standar praktik dalam memberikan asuhan keperawatan juga merupakan komitmen profesi keperawatan dalam melindungi masyarakat
terhadap praktik yang
dilakukan oleh anggota profesi. Standar praktik keperawatan ini khusus untuk perawat profesional” (DPP PPNI, 1999:4). “Pada proses hubungan perawat-klien mempercayakan dirinya terhadap asuhan keperawatan yang diberikan, untuk itu perawat mempunyai
kewajiban menghargai
kepercayaan klien dengan memberikan asuhan secara kompeten, melindungi harkat klien, dan menjaga kerahasiaan klien” (Mimin Emi Suhaimi, 2003:16).
Keperawatan sebagai bagian integral dari pelaynan kesehatan merupakan profesi pemegang kunci keberhasilan utama dalam sistem pemberian pelayanan kesehatan yang secara signifikan dan serius harus menyikapi pandangan
yang positif, tenaga
keperawatan dituntut untuk
terus berbenah kearah
profesionalisme.
Dalam kenyataannya
sampai saat ini masih
terdengar adanya keluhan, kritik, sindiran dan bahkan tidak sedikit celaan yang kesemuanya berkonotasi ekstensi perawat masih belum mencapai keberadaan seperti yang diharapkan klien, keluarga, masyarakat dan
profesi lain didalam
melaksanakan peran
primernya. Sebagai pelaksana
asuhan keperawatan
(pengalaman lapangan
menemukan); di media massa contohnya sering diterbitkan seperti perawat kenes, cerewet, kaku, judes dan malas. Kecenderungan sikap yang
ditampilkan ini mungkin juga tidak disadari oleh perawat itu sendiri, akan tetapi dari kacamata masyarakat umum hal ini tetap merupakan suatu bukti konkrit tentang bagian dari sisi kelemahan sumber daya perawat. “Dipihak lain
dikatakan pula bahwa
penyelenggaraan keperawatan
belum sesuai dengan
kebutuhan masyarakat, karena
perawat belum dapat
melaksanakan peran primernya secara optimal, sehingga tidak mengherankan jika pada saat ini banyak ditemukan keluhan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan/keperawatan” (Azrul Azwar, 1999: Nursalam, 2002:23). Untuk mendapatkan
gambaran nyata dari fenomena tersebut maka penulis ingin meneliti sejauhmana perawat perawat telah bersikap
profesional dalam
melaksanakan peran primernya sebagai pelaksana asuhan keperawatan (care giver) pada Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai, dan penelitian ini merupakan salah
satu syarat untuk
mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan.
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian adalah penelitian deskriptif yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat gambaran/deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Berdasarkan tujuan penelitian ini, desain yang digunakan adalah Cross Sectional yaitu dimana peneliti
melakukan observasi atau pengukuran variabel sesaat.
“Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. Variabel tersebut bisa berupa orang, kejadian, prilaku, dan lain-lain. Populasi juga dapat diartikan target, yaitu populasi yang memenuhi sampling kriteria dan menjadi sasaran akhir penelitian” (Nursalam, 2000:64).
Sampel penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana asuhan keperawatan dengan latar belakang D-III Keperawatan di ruang Jamrud, Yaqud, Mutiara dan VIP sejumlah 30 orang yang berdinas pada pagi hari di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai.
Kriteria inklusi adalah karakteristik sampel yang dapat dimasukkan/layak untuk diteliti, sebagai berikut:
a. Perawat dengan latar
belakang pendidikan
minimal D-III Keperawatan, baik yang telah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun yang masih berstatus sebagai tenaga kontrak/honorer b. Perawat yang berdinas pada
pagi hari.
c. Tidak sedang mengalami gangguan jiwa.
d. Bersedia menjadi
responden.dalam penelitian yang dibuktikan dengan tanda tangan pernyataan bersedia tanpa tekanan atau paksaan.
Kriteria eksklusif a. Responden
b. Responden dalam keadaan sakit
c. Responden dalam keadaan cuti
d. Responden dalam keadaan sibuk dan sulit dihubungi.
“Pada penelitian ini menggunakan metode sampling penelitian dengan Purposive
Sampling yaitu teknik
penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti” (Nursalam dan Pariani, 2003:68).Penelitian dilaksanakan bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah H.
Damanhuri Barabai dan
diperkirakan waktu
pelaksanaannya dimuali pada minggu kedua bulan Juli yaitu pada tanggal 14 sampai dengan 9 tahun 2005.
Jenis instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas dua macam, yaitu dengan observasi dan kuesioner. Alas an peneliti menggunakan instrumen ini sebagai alat ukur, selain pertimbangan
dana dan waktu
pelaksanaannya terbatas, instrumen jenis ini sangat cocok digunakan penelitian
yang bersifat
observasional.Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: pertama melalui penyebaran kuesioner pada responden yang diteliti dan kedua dengan melakukan observasi atas pelaksanaan asuhan keperawatan dengan Chek List.
HASIL DAN BAHASAN
Rumah Sakit Umum H. Damanhuri adalah Rumah Sakit tipe C+ yang terletak di jalam Murakata No. Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan ketenagaan sebagai berikut: dokter spesialis obstetric dan genekologi, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis bedah, dokter spesialis mata, dokter spesialis THT, dokter gigi, 4 dokter umum PNS, 1 dokter umum PTT. Total kapasitas tempat tidur keseluruhan 87 buah. Terdiri atas ruangan dengan total kapasitas tempat tidur. Ruang VIP 19 buah, ruangan penyakit dalam 20 buah, ruang bedah 20 buah, ruang anak 16 buah dan ruang kebidanan 12 buah. Tenaga keperawatan berjumlah 119 orang yang terdiri dari: D III Keperawatan 52 orang PNS, TKS 33 orang, SPK 33 orang, TKS 13 orang, 1 orang S.Kep., 14 orang bidan serta dari tenaga pendidikan
umum 14 orang. Jumlah
pasien rawat inap pada tahun 2005 adalah sebesar 2.397 orang.
Keterlibatan perawat dengan pasien terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan.Dari tabel hasil evaluasi silang antara hasil kuesioner dan observasi (lihat lampiran) menggambarkan hubungan keterlibatan yang
baik terhadap asuhan
keperawatan: baik 37,5% (3 orang), cukup 25,0% (2 orang), kurang 37,5% (3 orang) dan keterlibatan perawat
dengan katagori cukup
keperawatan: Baik 13,6% (2 orang), cukup 54,5% (12 orang), kurang 31,8% (7 orang). Berdasarkan data di atas keterlibatan perawat terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU H. Damanhuri
cukup terhadap asuhan
keperawatan.
“Perawat orang sakit harus
terlibat dengan
kejadiankejadian yang terjadi berkenaan dengan pasien yang bersangkutan, ini merupakan suatu ketentuan yang logis, tapi ternyata dalam praktek seharihari adalah sujar sekali” (PJM., Steven et.al., 1999:15)
Grafik : Berdasarkan sikap keterlibatan perawat dengan pasien terhadap
pelaksanaan asuhan keperawatan.
Respek perawat dengan pasien terhadap asuhan keperawatan Hasil tabulasi silang antara kuesioner dan data observasi
(lihat lampiran)
menggambarkan hubungan respek perawat dengan kategori baik terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan: baik 28,6% (4 orang), cukup 28,6% (4 orang), kurang 42,9% (6 orang).
Respek perawat dengan
kategori cukup terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan: baik 12,5% (2 orang), cukup 62,5% (10 orang) dan kurang 25,0% (4 orang).
Berdasarkan data di atas respek perawat terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan menunjukkan bahwa respek perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU. H. Damanhuri Barabai
cukup terhadap asuhan
keperawatan.“Respek
digambarkan sebagai
kebutuhan manusia yang paling dalam” (Herre, 1980; Roger B. Ellis, 2000:192). “Mempunyai respek bagi yang terlibat dalam pelayanan untuk pasien yang dirawat merupakan suatu keharusn. Respek untuk sesama manusia harus menjadi dasar sikap seorang perawat, respek diperlukan agar pasien
dapat merasa dihargai
manusia” (PJM., Steven et.al., 1999:53) % % % % % %
Grafik : Berdasarkan sikap respek perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan.
Empati perawat dengan pasien terhadap asuhan keperawatan
Hasil tabulasi silang antara kuesioner dan data observasi
(lihat lampiran)
menggambarkan hubungan empati perawat dengan kategori baik terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan: baik 33,3% (2 orang), cukup 21,4% (3 orang), kurang 20,0% (2 orang). Empati perawat yang cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 66,7% (4 orang), cukup 78,6% (11 orang) dan kurang 80,0% (8 orang)
Berdasarkan data di atas empati perawat terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan menunjukkan bahwa empati perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU. H. Damanhuri Barabai
cukup terhadap asuhan
keperawatan. “Respek
digambarkan sebagai
kebutuhan manusia yang paling dalam” (Herre, 1980;
Roger B. Ellis,
2000:192).“empati atau ikut merasakan adalah suatu kemampuan untuk mengalami hidup pihak lain. Secara nyata dapat dikatakan untuk dapat sementara menjadi orang lain” (PJM., Steven et.al., 1999:55).
Grafik : Berdasarkan sikap empati perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan.
Hasil tabulasi silang antara kuesioner dan data observasi
(lihat lampiran)
menggambarkan hubungan kesungguhan perawat dengan kategori baik terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan: baik 37,5% (3 orang), cukup 37,5% (3 orang), kurang 25,0% (2 orang). Kesungguhan perawat yang cukup terhadap pelaksanaan % % % % % % % % % % % %
asuhan keperawatan : baik 13,6% (3 orang), cukup 50,0% (11 orang) dan kurang 36,4% (8 orang). Berdasarkan data di atas kesungguhan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan menunjukkan bahwa empati perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU. H. Damanhuri Barabai
cukup terhadap asuhan
keperawatan.
“Kesungguhan dalam sikap adalah memperlihatkan sebagaimana adanya. Sekarang perawat (pengasuh) kadang-kadang harus memerankan sikap profesional, sikap apa yang disebut ‘perawat dengan senyum’ yang mencari pasien-pasien dengan dingin dan profesional, yang memberi kesenangan pada pasien-pasien yang beku/kritis” (PJM., Steven et.al., 1999:56).
Grafik : Berdasarkan sikap kesungguhan perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan. SIMPULAN DAN SARAN
Tingkat keterlibatan yang
baik terhadap asuhan
keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai: baik 37,5% (3 orang), cukup 25,0% (2 orang), kurang
37,5% (3 orang) dan
keterlibatan perawat dengan katagori cukup terhadap
pelaksanaan asuhan
keperawatan: Baik 13,6% (2 orang), cukup 54,5% (12 orang), kurang 31,8% (7 orang).
Tingkat respek yang
baik terhadap asuhan
keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai: baik 28,6% (4 orang), cukup 28,6% (4 orang), kurang 42,9% (6 orang). Respek perawat dengan katagori cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan: Baik 12,5% (2
orang), cukup 62,5% (10 orang), kurang 25,0% (4 orang). Tingkat empati perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum H. Damanhuri Barabai: baik 33,3% (2 orang), cukup 21,4% (3 orang), kurang 20,0% (2 orang). Empati perawat yang cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 66,7% (4 orang), cukup 78,6% (11 orang) dan kurang 80,0% (8 orang).
Tingkat kesungguhan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum H. Damanhuri Barabai: baik 37,5% (3 orang), cukup 37,5% (3 orang), kurang 25,0% (2 orang). Kesungguhan perawat dengan kategori cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 13,6% (3 % % % % % %
orang), cukup 50,0% (11 orang) dan kurang 36,4% (8 orang).
Untuk mempertahankan
dan meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan, hendaknya pihak rumah sakit
dan pihak-pihak yang
berkompeten lainnya
memberikan kesempatan
kepada perawat untuk
mengikuti pelatihan-pelatihan khususnya yang berhubungan dengan pelaksanan praktik asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dapat dipertahankan secara terus
menerus dan
berkesinambungan.
Meningkatkan frekuensi pembahasan kasus, baik ditingkat ruangan maupun
kompensasi kasus yang
dilaksanakan antar ruangan secara terus menerus dan berkesinambungan.
Pihak rumah sakit yang dalam hal ini kewenangan untuk melakukan supervisi terhadap pelaksanaan hendaknya benar-benar secara sadar dan penuh
tanggung jawab untuk
melakukan pemantauan dan
pembinaan terhadap
pelaksanaan pelayanan
keperawatan.Pihak rumah sakit
kiranya perlu membuat
batasan tugas yang jelas
terhadap perawat guna
meningkatkan efektifitas pelayaan keperawatan serta mengurangi overlapping beban kerja yang selama ini hampir seluruhna dibebankan kepada perawat, sehingga justru berakibat terbengkalaina
tugas-tugas keperawatan yang seharusnya menjadi prioritas.
Terciptanya lingkungan
yang kondusif dengan
ketersediaan fasilitas atau sarana yang mennjang dalam
pelaksanaan pelayanan
keperawatan.Perlu
dikembangkan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap profesional perawat dalam melaksanakan peran primernya sebagai pelaksana asuhan keperawatan, sehingga setiap upaya yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan keperawatan senantiasa berhasil dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zaidin, H.(2001) .
Dasar-dasar Keperawatan Profesional. Jakarta: Widya Medica. Andrew McGhie (1996). Psikologi Dalam Perawatan. Yogyakarta:
Yayasan Essentia Medica dan Andi.
Baron, RA. & Byrne D, (1991).
Social Psychology,
Understanding Human
Interaction,6th Edition, Boston, MA.
Burns, N & Grove, SK. (1991).
The Practice of Nursing
Research: Conducts
Crtiques and Utilisation.
2nd .WB. Saunders Co. Philadelphia.
Chandra YA., (2000).
Manajemen Administrasi
Rumah Sakit. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Depkes RI. (1997). Standar
Asuhan Keperawatan.
Jakarta. Cetakan
Keenam. Sugeng Seto. DPP PPNI. (1999). Standar
Praktek Keperawatan
Perawat Profesional. Gd.
Akper Depkes RI.
Jakarta.
Depkes RI. (1994). Pedoman
Pelaksanaan Pelayanan
Keperawatan Dasar di
Rumah Sakit. Jakarta.
Cetakan Kedua. PPNI. Hurlock E. (1998). Psikologi
Perkembangan. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Imran M. (1989). Dasar-dasar
Sosial Budaya
Pendidikan. Dep. P dan K,
Ditjen.PT, P2LPKT. Jakarta.
Kusnanto. (2004). Pengantar
Profesi dan Praktik
Keperawatan Profesional.
Jakarta: EGC.
La Ode JG. (1999). Pengantar
Keperawatan Profesional.
Jakarta: EGC.
Made Pidarta. (1997). Landasan
Kependidikan. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Notoatmojo, S. (1993). Metode
Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta: Andi Offset. Notoatmojo, S. (1997).
Pengantar Pendidikan
Kesehatan dan Ilmu
perilaku Kesehatan.
Yogyakarta: Andi Offset. Notoatmojo, S. (2002).
Metodelogi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Nursalam & Siti Pariani. (2001).
Metodologi Riset
Keperawatan. Jakarta:
CV. Sagung Seto.
Nursalam. (2003). Konsep dan
Penerapan Metode
Penelitian Ilmu
Keperawatan; Pedoman
Skripsi, Tesis dan
Instrumen Penelitian
Keperawatan. Edisi
pertama. Jakarta:
Penerbit Salemba Medica. PJM. Stevens et.al (1999). Ilmu
Keperawatan. Jakarta: EGC. Purwanto, H.. (1995). Pengantar Statistik Keperawatan. Jakarta: EGC. Robert, P. (1995). Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC. Saifuddin, A. (2002). Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suhaimi, Mimin Emi, Hj.
(2003). Etika
Keperawatan. Jakarta:
EGC.
Sukandarrumidi, (2002).
Metodologi Penelitian.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Cetakan Pertama.
Sugiyono, (2002). Statistika Untuk Penelitian. Cetakan
keempat. Bandung: CV. Alfabeta. Suharsimi, A. (1998). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta. Sudjana. (199). Metode Statistika. Edisi 6: Bandung: Tarsito