• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI TENTANG SIKAP PROFESIONAL PERAWAT SEBAGAI PELAKSANA ASUHAN KEPERAWATAN (CARE GIVER) DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI TENTANG SIKAP PROFESIONAL PERAWAT SEBAGAI PELAKSANA ASUHAN KEPERAWATAN (CARE GIVER) DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI TENTANG SIKAP PROFESIONAL PERAWAT SEBAGAI PELAKSANA ASUHAN KEPERAWATAN (CARE GIVER) DI RUMAH

SAKIT UMUM DAERAH H. DAMANHURI BARABAI Wahidah1, La Ode Jumadi Gafar2,Adijani al-Alabij3

1,2,3STIkes Muhammadiyah Banjarmasin

ABSTRAK

Profil perawat adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan akitivitas keperawatan yang meliptui peran dan fungsi asuhan atau pelayanan keperawatan maupun praktik keperawatan, untuk membentuk profil perawat profesional tersebut dibutuhkan sikap profesional perawat: keterlibatan, respek, empati dan kesungguhan, karena sikap profesional perawat mempengaruhi kualitas dan pelayanan seorang perawat yang utama baik pada waktu sekarang mapun masa yang akan datang.

Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, sampel penelitian yang diambil adalah perawat yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan besar sampel sebesar 30 responden. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan baik di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai adalah baik : 37,5%, cuku 25%, kurang 37,5%, sedangkan keterlibatan cukup : 13,6%, cukup 54,5%, krang 42,9%, aspek cukup : baik12,5%, cukup 62,5%, kurang 25%. Empati perawat terhadap asuhan keperawatan baik : 33,3%, cukup 21,4%, kurang 20,0%. Empati cukup: baik 66,7%, cukup 78,6%, kurang 80,0%. Sedangkan kesungguhan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 37,5%, cukup 50%, kurang 28,6%.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap profesional perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai menunjukkan sikap yang cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan. Berdasarkan hasil tersebut, disarnkan pihak rumah sakit melakukan supervisi terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan untuk melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan untuk melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kata Kunci: Sikap perawat yang profesional, penerapan

(2)

PENDAHULUAN

Profil keperawatan profesional adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai dengan kode etik keperawatan. Aktifitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberian asuhan/pelayanan

keperawatan, praktirk

keperawatan, pengelolaan institusi keperawatan, pendidikan klien (individu, keluarga dan masyarakat) dan juga keperawatan sebagai profesi dituntut semakin sadar akan kedudukan, peran dan tanggung jawabnya sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa melalui upaya peningkatan kualitas pelayanan keperawatan. Pembentukan sikap profesional

ini dapat dibina dan

ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sumber daya manusia, yaitu melalui pendidikan keperawatan berkelanjutan baik pada tingkat pendidikan profesional pemula maupun pada tingkat sarjana, melakukan studi banding ke berbagai rumah sakit model, dan meningkatkan frekuensi kegiatan pembahasan kasus yang diharapkan secara langsung dapat mempengaruhi sikap, menambah pengetahuan dan keterampilan professional (Gafar, 1997)

“Selain pembentukan sikap profesional untuk

meningkatkan kualitas

pelayanan standar praktik dalam memberikan asuhan keperawatan juga merupakan komitmen profesi keperawatan dalam melindungi masyarakat

terhadap praktik yang

dilakukan oleh anggota profesi. Standar praktik keperawatan ini khusus untuk perawat profesional” (DPP PPNI, 1999:4). “Pada proses hubungan perawat-klien mempercayakan dirinya terhadap asuhan keperawatan yang diberikan, untuk itu perawat mempunyai

kewajiban menghargai

kepercayaan klien dengan memberikan asuhan secara kompeten, melindungi harkat klien, dan menjaga kerahasiaan klien” (Mimin Emi Suhaimi, 2003:16).

Keperawatan sebagai bagian integral dari pelaynan kesehatan merupakan profesi pemegang kunci keberhasilan utama dalam sistem pemberian pelayanan kesehatan yang secara signifikan dan serius harus menyikapi pandangan

yang positif, tenaga

keperawatan dituntut untuk

terus berbenah kearah

profesionalisme.

Dalam kenyataannya

sampai saat ini masih

terdengar adanya keluhan, kritik, sindiran dan bahkan tidak sedikit celaan yang kesemuanya berkonotasi ekstensi perawat masih belum mencapai keberadaan seperti yang diharapkan klien, keluarga, masyarakat dan

profesi lain didalam

melaksanakan peran

primernya. Sebagai pelaksana

asuhan keperawatan

(pengalaman lapangan

menemukan); di media massa contohnya sering diterbitkan seperti perawat kenes, cerewet, kaku, judes dan malas. Kecenderungan sikap yang

(3)

ditampilkan ini mungkin juga tidak disadari oleh perawat itu sendiri, akan tetapi dari kacamata masyarakat umum hal ini tetap merupakan suatu bukti konkrit tentang bagian dari sisi kelemahan sumber daya perawat. “Dipihak lain

dikatakan pula bahwa

penyelenggaraan keperawatan

belum sesuai dengan

kebutuhan masyarakat, karena

perawat belum dapat

melaksanakan peran primernya secara optimal, sehingga tidak mengherankan jika pada saat ini banyak ditemukan keluhan

masyarakat terhadap pelayanan kesehatan/keperawatan” (Azrul Azwar, 1999: Nursalam, 2002:23). Untuk mendapatkan

gambaran nyata dari fenomena tersebut maka penulis ingin meneliti sejauhmana perawat perawat telah bersikap

profesional dalam

melaksanakan peran primernya sebagai pelaksana asuhan keperawatan (care giver) pada Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai, dan penelitian ini merupakan salah

satu syarat untuk

mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian adalah penelitian deskriptif yang dilakukan dengan tujuan untuk membuat gambaran/deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Berdasarkan tujuan penelitian ini, desain yang digunakan adalah Cross Sectional yaitu dimana peneliti

melakukan observasi atau pengukuran variabel sesaat.

“Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti. Variabel tersebut bisa berupa orang, kejadian, prilaku, dan lain-lain. Populasi juga dapat diartikan target, yaitu populasi yang memenuhi sampling kriteria dan menjadi sasaran akhir penelitian” (Nursalam, 2000:64).

Sampel penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana asuhan keperawatan dengan latar belakang D-III Keperawatan di ruang Jamrud, Yaqud, Mutiara dan VIP sejumlah 30 orang yang berdinas pada pagi hari di ruang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai.

Kriteria inklusi adalah karakteristik sampel yang dapat dimasukkan/layak untuk diteliti, sebagai berikut:

a. Perawat dengan latar

belakang pendidikan

minimal D-III Keperawatan, baik yang telah berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun yang masih berstatus sebagai tenaga kontrak/honorer b. Perawat yang berdinas pada

pagi hari.

c. Tidak sedang mengalami gangguan jiwa.

d. Bersedia menjadi

responden.dalam penelitian yang dibuktikan dengan tanda tangan pernyataan bersedia tanpa tekanan atau paksaan.

Kriteria eksklusif a. Responden

(4)

b. Responden dalam keadaan sakit

c. Responden dalam keadaan cuti

d. Responden dalam keadaan sibuk dan sulit dihubungi.

“Pada penelitian ini menggunakan metode sampling penelitian dengan Purposive

Sampling yaitu teknik

penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti” (Nursalam dan Pariani, 2003:68).Penelitian dilaksanakan bertempat di Rumah Sakit Umum Daerah H.

Damanhuri Barabai dan

diperkirakan waktu

pelaksanaannya dimuali pada minggu kedua bulan Juli yaitu pada tanggal 14 sampai dengan 9 tahun 2005.

Jenis instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas dua macam, yaitu dengan observasi dan kuesioner. Alas an peneliti menggunakan instrumen ini sebagai alat ukur, selain pertimbangan

dana dan waktu

pelaksanaannya terbatas, instrumen jenis ini sangat cocok digunakan penelitian

yang bersifat

observasional.Teknik

pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam dua tahap: pertama melalui penyebaran kuesioner pada responden yang diteliti dan kedua dengan melakukan observasi atas pelaksanaan asuhan keperawatan dengan Chek List.

HASIL DAN BAHASAN

Rumah Sakit Umum H. Damanhuri adalah Rumah Sakit tipe C+ yang terletak di jalam Murakata No. Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan ketenagaan sebagai berikut: dokter spesialis obstetric dan genekologi, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis bedah, dokter spesialis mata, dokter spesialis THT, dokter gigi, 4 dokter umum PNS, 1 dokter umum PTT. Total kapasitas tempat tidur keseluruhan 87 buah. Terdiri atas ruangan dengan total kapasitas tempat tidur. Ruang VIP 19 buah, ruangan penyakit dalam 20 buah, ruang bedah 20 buah, ruang anak 16 buah dan ruang kebidanan 12 buah. Tenaga keperawatan berjumlah 119 orang yang terdiri dari: D III Keperawatan 52 orang PNS, TKS 33 orang, SPK 33 orang, TKS 13 orang, 1 orang S.Kep., 14 orang bidan serta dari tenaga pendidikan

umum 14 orang. Jumlah

pasien rawat inap pada tahun 2005 adalah sebesar 2.397 orang.

Keterlibatan perawat dengan pasien terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan.Dari tabel hasil evaluasi silang antara hasil kuesioner dan observasi (lihat lampiran) menggambarkan hubungan keterlibatan yang

baik terhadap asuhan

keperawatan: baik 37,5% (3 orang), cukup 25,0% (2 orang), kurang 37,5% (3 orang) dan keterlibatan perawat

dengan katagori cukup

(5)

keperawatan: Baik 13,6% (2 orang), cukup 54,5% (12 orang), kurang 31,8% (7 orang). Berdasarkan data di atas keterlibatan perawat terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan menunjukkan bahwa tingkat keterlibatan perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU H. Damanhuri

cukup terhadap asuhan

keperawatan.

“Perawat orang sakit harus

terlibat dengan

kejadiankejadian yang terjadi berkenaan dengan pasien yang bersangkutan, ini merupakan suatu ketentuan yang logis, tapi ternyata dalam praktek seharihari adalah sujar sekali” (PJM., Steven et.al., 1999:15)

Grafik : Berdasarkan sikap keterlibatan perawat dengan pasien terhadap

pelaksanaan asuhan keperawatan.

Respek perawat dengan pasien terhadap asuhan keperawatan Hasil tabulasi silang antara kuesioner dan data observasi

(lihat lampiran)

menggambarkan hubungan respek perawat dengan kategori baik terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan: baik 28,6% (4 orang), cukup 28,6% (4 orang), kurang 42,9% (6 orang).

Respek perawat dengan

kategori cukup terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan: baik 12,5% (2 orang), cukup 62,5% (10 orang) dan kurang 25,0% (4 orang).

Berdasarkan data di atas respek perawat terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan menunjukkan bahwa respek perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU. H. Damanhuri Barabai

cukup terhadap asuhan

keperawatan.“Respek

digambarkan sebagai

kebutuhan manusia yang paling dalam” (Herre, 1980; Roger B. Ellis, 2000:192). “Mempunyai respek bagi yang terlibat dalam pelayanan untuk pasien yang dirawat merupakan suatu keharusn. Respek untuk sesama manusia harus menjadi dasar sikap seorang perawat, respek diperlukan agar pasien

dapat merasa dihargai

manusia” (PJM., Steven et.al., 1999:53) % % % % % %

(6)

Grafik : Berdasarkan sikap respek perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan.

Empati perawat dengan pasien terhadap asuhan keperawatan

Hasil tabulasi silang antara kuesioner dan data observasi

(lihat lampiran)

menggambarkan hubungan empati perawat dengan kategori baik terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan: baik 33,3% (2 orang), cukup 21,4% (3 orang), kurang 20,0% (2 orang). Empati perawat yang cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 66,7% (4 orang), cukup 78,6% (11 orang) dan kurang 80,0% (8 orang)

Berdasarkan data di atas empati perawat terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan menunjukkan bahwa empati perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU. H. Damanhuri Barabai

cukup terhadap asuhan

keperawatan. “Respek

digambarkan sebagai

kebutuhan manusia yang paling dalam” (Herre, 1980;

Roger B. Ellis,

2000:192).“empati atau ikut merasakan adalah suatu kemampuan untuk mengalami hidup pihak lain. Secara nyata dapat dikatakan untuk dapat sementara menjadi orang lain” (PJM., Steven et.al., 1999:55).

Grafik : Berdasarkan sikap empati perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan.

Hasil tabulasi silang antara kuesioner dan data observasi

(lihat lampiran)

menggambarkan hubungan kesungguhan perawat dengan kategori baik terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan: baik 37,5% (3 orang), cukup 37,5% (3 orang), kurang 25,0% (2 orang). Kesungguhan perawat yang cukup terhadap pelaksanaan % % % % % % % % % % % %

(7)

asuhan keperawatan : baik 13,6% (3 orang), cukup 50,0% (11 orang) dan kurang 36,4% (8 orang). Berdasarkan data di atas kesungguhan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan menunjukkan bahwa empati perawat dengan pasien di ruang perawatan RSU. H. Damanhuri Barabai

cukup terhadap asuhan

keperawatan.

“Kesungguhan dalam sikap adalah memperlihatkan sebagaimana adanya. Sekarang perawat (pengasuh) kadang-kadang harus memerankan sikap profesional, sikap apa yang disebut ‘perawat dengan senyum’ yang mencari pasien-pasien dengan dingin dan profesional, yang memberi kesenangan pada pasien-pasien yang beku/kritis” (PJM., Steven et.al., 1999:56).

Grafik : Berdasarkan sikap kesungguhan perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan. SIMPULAN DAN SARAN

Tingkat keterlibatan yang

baik terhadap asuhan

keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai: baik 37,5% (3 orang), cukup 25,0% (2 orang), kurang

37,5% (3 orang) dan

keterlibatan perawat dengan katagori cukup terhadap

pelaksanaan asuhan

keperawatan: Baik 13,6% (2 orang), cukup 54,5% (12 orang), kurang 31,8% (7 orang).

Tingkat respek yang

baik terhadap asuhan

keperawatan di Rumah Sakit Umum Daerah H. Damanhuri Barabai: baik 28,6% (4 orang), cukup 28,6% (4 orang), kurang 42,9% (6 orang). Respek perawat dengan katagori cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan: Baik 12,5% (2

orang), cukup 62,5% (10 orang), kurang 25,0% (4 orang). Tingkat empati perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum H. Damanhuri Barabai: baik 33,3% (2 orang), cukup 21,4% (3 orang), kurang 20,0% (2 orang). Empati perawat yang cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 66,7% (4 orang), cukup 78,6% (11 orang) dan kurang 80,0% (8 orang).

Tingkat kesungguhan perawat terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum H. Damanhuri Barabai: baik 37,5% (3 orang), cukup 37,5% (3 orang), kurang 25,0% (2 orang). Kesungguhan perawat dengan kategori cukup terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan : baik 13,6% (3 % % % % % %

(8)

orang), cukup 50,0% (11 orang) dan kurang 36,4% (8 orang).

Untuk mempertahankan

dan meningkatkan mutu

pelayanan keperawatan, hendaknya pihak rumah sakit

dan pihak-pihak yang

berkompeten lainnya

memberikan kesempatan

kepada perawat untuk

mengikuti pelatihan-pelatihan khususnya yang berhubungan dengan pelaksanan praktik asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dapat dipertahankan secara terus

menerus dan

berkesinambungan.

Meningkatkan frekuensi pembahasan kasus, baik ditingkat ruangan maupun

kompensasi kasus yang

dilaksanakan antar ruangan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Pihak rumah sakit yang dalam hal ini kewenangan untuk melakukan supervisi terhadap pelaksanaan hendaknya benar-benar secara sadar dan penuh

tanggung jawab untuk

melakukan pemantauan dan

pembinaan terhadap

pelaksanaan pelayanan

keperawatan.Pihak rumah sakit

kiranya perlu membuat

batasan tugas yang jelas

terhadap perawat guna

meningkatkan efektifitas pelayaan keperawatan serta mengurangi overlapping beban kerja yang selama ini hampir seluruhna dibebankan kepada perawat, sehingga justru berakibat terbengkalaina

tugas-tugas keperawatan yang seharusnya menjadi prioritas.

Terciptanya lingkungan

yang kondusif dengan

ketersediaan fasilitas atau sarana yang mennjang dalam

pelaksanaan pelayanan

keperawatan.Perlu

dikembangkan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap profesional perawat dalam melaksanakan peran primernya sebagai pelaksana asuhan keperawatan, sehingga setiap upaya yang berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan keperawatan senantiasa berhasil dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin, H.(2001) .

Dasar-dasar Keperawatan Profesional. Jakarta: Widya Medica. Andrew McGhie (1996). Psikologi Dalam Perawatan. Yogyakarta:

Yayasan Essentia Medica dan Andi.

Baron, RA. & Byrne D, (1991).

Social Psychology,

Understanding Human

Interaction,6th Edition, Boston, MA.

Burns, N & Grove, SK. (1991).

The Practice of Nursing

Research: Conducts

Crtiques and Utilisation.

2nd .WB. Saunders Co. Philadelphia.

Chandra YA., (2000).

Manajemen Administrasi

Rumah Sakit. Jakarta:

Universitas Indonesia Press.

(9)

Depkes RI. (1997). Standar

Asuhan Keperawatan.

Jakarta. Cetakan

Keenam. Sugeng Seto. DPP PPNI. (1999). Standar

Praktek Keperawatan

Perawat Profesional. Gd.

Akper Depkes RI.

Jakarta.

Depkes RI. (1994). Pedoman

Pelaksanaan Pelayanan

Keperawatan Dasar di

Rumah Sakit. Jakarta.

Cetakan Kedua. PPNI. Hurlock E. (1998). Psikologi

Perkembangan. Jakarta:

Penerbit Erlangga.

Imran M. (1989). Dasar-dasar

Sosial Budaya

Pendidikan. Dep. P dan K,

Ditjen.PT, P2LPKT. Jakarta.

Kusnanto. (2004). Pengantar

Profesi dan Praktik

Keperawatan Profesional.

Jakarta: EGC.

La Ode JG. (1999). Pengantar

Keperawatan Profesional.

Jakarta: EGC.

Made Pidarta. (1997). Landasan

Kependidikan. Jakarta:

PT. Rineka Cipta.

Notoatmojo, S. (1993). Metode

Penelitian Kesehatan.

Yogyakarta: Andi Offset. Notoatmojo, S. (1997).

Pengantar Pendidikan

Kesehatan dan Ilmu

perilaku Kesehatan.

Yogyakarta: Andi Offset. Notoatmojo, S. (2002).

Metodelogi Penelitian

Kesehatan. Jakarta: PT.

Rineka Cipta.

Nursalam & Siti Pariani. (2001).

Metodologi Riset

Keperawatan. Jakarta:

CV. Sagung Seto.

Nursalam. (2003). Konsep dan

Penerapan Metode

Penelitian Ilmu

Keperawatan; Pedoman

Skripsi, Tesis dan

Instrumen Penelitian

Keperawatan. Edisi

pertama. Jakarta:

Penerbit Salemba Medica. PJM. Stevens et.al (1999). Ilmu

Keperawatan. Jakarta: EGC. Purwanto, H.. (1995). Pengantar Statistik Keperawatan. Jakarta: EGC. Robert, P. (1995). Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC. Saifuddin, A. (2002). Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suhaimi, Mimin Emi, Hj.

(2003). Etika

Keperawatan. Jakarta:

EGC.

Sukandarrumidi, (2002).

Metodologi Penelitian.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Cetakan Pertama.

Sugiyono, (2002). Statistika Untuk Penelitian. Cetakan

keempat. Bandung: CV. Alfabeta. Suharsimi, A. (1998). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta. Sudjana. (199). Metode Statistika. Edisi 6: Bandung: Tarsito

Gambar

Grafik : Berdasarkan sikap respek perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan.
Grafik : Berdasarkan sikap kesungguhan perawat dengan pasien terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan pen-dokumentasian asuhan keperawatan di RSDM antara perawat yang beban kerjanya berat dan perawat yang beban kerjanya ringan..

Menambah wawasan dalam ilmu keperawatan mengenai peran perawat. dalam upaya memberikan asuhan keperawatan pada pasien

Adanya hubungan beban kerja dengan sikap pendokumentasian asuhan keperawatan ini dapat dimaknai bahwa semakin tinggi beban kerja perawat maka semakin baik

Dokumentasi keperawatan sangat penting bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan karena pelayanan keperawatan yang diberikan kepada klien membutuhkan

Menguji pengaruh pelatihan ronde keperawatan terhadap kinerja perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di Rumah Sakit Royal

Tujuan pertama yaitu Pengalaman penerapan peran dan fungsi perawat dalam pemberian asuhan keperawatan lansia hipertensi di komunitas mendapatkan 3 tema yaitu

Dengan demikian mutu asuhan keperawatan di Rumah Sakit Umum ‘Aisyiyah Ponorogo memberikan gambaran berkaitan dengan pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan

Dokumen ini membahas tentang pelatihan internal yang diadakan bagi para perawat yang bertanggung jawab atas asuhan di Workshop Metode Asuhan Keperawatan Profesional bagi para