• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM BUDIDAYA PADI GOGO RANCAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SISTEM BUDIDAYA PADI GOGO RANCAH"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM BUDIDAYA PADI GOGO RANCAH

11:33 PM MASPARY

Selain ditanam pada lahan sawah tanaman padi juga bisa dibudidayakan pada lahan kering atau sering kita sebut dengan budidaya padi gogo rancah. Pada sistem budidaya padi gogo rancah seolah-olah kita anggap tanaman padi seperti tanaman palawija. Sehingga kebutuhan air dalam sistem ini sangatlah minim. Sistem budidaya padi gogo biasanya dilakukan pada tanah-tanah yang kering atau tanah tadah hujan. Kelebihan sistem tanam gogo rancah dibanding sistem sawah diantaranya adalah penghematan tenaga kerja tanam, penghematan tenaga kerja pemeliharaan dan tentunya lebih menghemat waktu. Adapun kekurangan cara tanam gogo rancah adalah produksi yang dihasilkan tidak sebesar dengan sistem tanah sawah.

A. Penyiapan lahan

1. Tanah diolah pada kondisi kering sebelum musim hujan.

2. Peningkatan produktivitas, tanah perlu diberi bahan organik (pupuk hijau, pupuk kandang, kompos) sebanyak 5-10 t/ha.

3. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara olah tanah sempurna (OTS), olah tanah minimum (OTM), dan atau tanpa olah tanah (TOT).

B. Penanaman

1. Waktu tanam secara tepat dengan memperhitungkan hujan karena akan

menentukan keberhasilan padi gogo. • Penanaman dilakukan dengan cara tugal (4-5 biji/lubang).

2. Benih yang dibutuhkan adalah 40 kg/ha untuk monokultur. 3. Jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 30 cm.

4. Lokasi baru yang banyak terdapat ulat grayak, uret, dan lalat bibit, benih perlu dicampur dengan insektisida butiran Furadan atau Dharmafur dengan takaran 2 kg/20 kg benih.

5. Penanaman padi gogo dapat dilakukan bersama tanaman lain.

C. Pemupukan

1. Urea, SP36, dan KCl sesuai kesuburan tanah setempat.

2. Urea diberikan ½ bagian pada saat tanaman berumur 14 hari setelah tugal bersama dengan keseluruhan takaran SP36 dan KCl.

3. Sisa urea diberikan saat tanaman berumur + 40 hari setelah tugal. 4. Pemberian pupuk disertai dengan penyiangan.

(2)

5. Seluruh pupuk diisikan dalam larikan yang dibuat sepanjang baris tanaman pada saat tanah dalam kondisi lembab, kemudian tutupkembali dengan tanah atau dengan cara tugal pada jarak + 5 cm dari lubang tanam sedalam 7 cm.

D. Pengendalian gulma

1. Pada saat pengolahan tanah.

2. Penyiangan manual secara rutin menggunakan sabit, parak. 3. Penggunaan herbisida.

E. Pengendalian hama dan penyakit

 Hama: Lundi/uret, lalat bibit, penggerek batang, wereng coklat, walang sangit, dan tikus.

 Penyakit: Blast dan bercak coklat.

F. Panen

1. Dilakukan sebaiknya pada fase masak panen dengan ciri kenampakan 90% gabah sudah menguning.

2. Panen pada fase masak lewat panen, yaitu saat jerami mulai mengering, pangkal malai mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah rontok saat panen. 3. Sebaiknya panen dilakukan dengan sabit bergerigi dan perontokan dengan pedal

tresher.

4. Perontokan dengan memukul-mukul batang padi pada papan sebaiknya

dihindari, karena menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar sampai 3,4%.

5. PENAMPILAN PAD1 GOGORANCAH VARIETAS SINGKIL DAN

6. CIHERANG MELALUI MODEL TEKNOLOGI PENGELOLAAN

(3)

Padi Gogo Sistem Rancah

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di Daerah Jawa, Khususnya Ngambarsari, dan daerah luar Jawa seperti Sulawesi Selatan tercatat sebagian lahannya sawah tadah hujan yang hanya dapat ditanami sekali setahun. Pertanaman padi di areal tersebut sering kali gagal panen karena mengalami kekurangan air, baik untuk pengolahan tanah maupun untuk pertumbuhan tanaman. Petani pada umumnya menunggu sekitar dua bulan sejak turunnya hujan untuk melakukan pengolahan tanah karena pada waktu tersebut air sudah menggenangi sawah. Akibatnya waktu tanam tertunda, sehingga pada fase

pertumbuhan generatif, tanaman sering mengalami kekeringan dan gagal panen.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi ancaman kekeringan pada lahan sawah tadah hujan adalah dengan sistem bertanam padi gogorancah. Sistem ini berarti bercocok tanam padi di sawah pada musim hujan, dengan menerapkan gabungan antara sistem gogo dan padi sawah. Sistem ini juga cocok untuk lahan beririgasi yang mendapat pengairan terlambat.

B. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan makalah ini yaitu untuk mengetahui teknik budidaya tanaman padi gogo rancah. Sedangkan manfaatnya yaitu sebagai bahan referensi bagi mahasiswa ataupun masyarakat tentang budidaya tanaman padi gogo rancah.

II. PEMBAHASAN

Sebelum membudidayakan padi gogo rancah kita harus mengetahui varietas yang akan digunakan disesuaikan dengan kondisi iklim dan organisme pengganggu setempat.

• Daerah beriklim basah menggunakan varietas umur sedang, seperti cisadane, IR 42, IR 48 dan bahbolan.

• Daerah beriklim kering menggunkan varietas berumur genjah, yaitu IR 64, IR 66, IR 74, dan ciliwung.

Untuk kebutuhan benih berkisar antara 40-60 kg/ hektar. Benih tidak perlu direndam kedalam air yang penting lebih bernas dan daya tumbuhnya masih diatas 80%.

A. Penyiapan lahan 1. Tanpa olah tanah :

Tanpa olah tanah adalah suatu sistem olah tanah untuk budidaya pertanian dimana solum tanah dibiarkan seperti semula tanpa disentuh alat olah tanah. Dalam sisten ini tanah dibiarkan tidak terganggu kecuali untuk sekedar membuat alur kecil atau lobang tegalan untuk menempatkan benih.

2. Pengolahan tanah sempurna:

• Waktu mengolah tanah sebaiknya dilakukan sebelum hujan turun atau segera setelah tanaman padi gadu atau palawija.

• Tanah diolah dengan menggunakan bajak dan cangkul, dengan kedalaman 15-20 cm. • Setelah hujan turun satu sampai dua kali tanah segera dihaluskan dan kemudian diratakan • Di buat saluran pembuangan air setiap jarak 5 m atau menurut kebutuhan memanjang sesuai dengan petakan sawah.

(4)

B. Penanaman : 1. Waktu tanam

• Waktu penugalan benih yaitu pada awal musim hujan, kira- kira setelah turun hujan 2-3 kali, atau apabila kelembaban tanah telah memungkinkan

• Apabila sebelumnya masih ada tanaman palawija, penugalan benih dapat dilakukan yaitu 1-1.5 bulan menjelang palawija di panen.

2. Cara tanam

• Dapat dilakukan secara tugal ataupun larikan

• Agar penugalan / larikan lurus gunakanlah bantuan tali

• Jarak tanam : Cara tugal 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm sedangkan cara larik, jarak antar barisan 20-30 cm

• Setelah benih dimasukkan lobang egera ditutup dengan tanah yang gembur. C. Penyiangan

• Penyiangan dilakukan seawal mungkin sesuaikan dengan keadaan gulma • Penyiangan secara kering dapat dilakukan pada umur 15 dan 30 hst.

• Penyiangan secara basah dilakukan pada minggu pertama dan minggu ketiga setelah penggenangan.

• Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan herbisida yang sesuai rekomendasi setempat.

D. Pemupukan

• Pemupukan pertama 50 kg urea, 50 kg ZA, 50 kg SP-36 dan 50 kg KCI diberikan pada saat tanaman berumur 7 hari setelah tumbuh.

• Sisa dosis (50 kg urea) diberikan pada saat primordia bunga, yaitu umur 40-45 hari untuk umur genjah dan umur 55-65 hari untuk umr sedang

• Cara pemupukan yaitu disebarkan kedalam alur atau larikan yang dibuat diantara barisan tanaman padi

• Setelah pupuk ditabur kedalam larikan, segera ditutup dengan tanah dan diusahakan pemupukan pada keadaan tanah cukup lembab.

• Jika air telah cukup untuk menggenangi pertanaman, pemupukan dapat dilakukan dengan cara ditebar merata.

E. Penggenangan atau perancahan

Pada tahap permulaan selama 35-45 hari tanaman padi dipelihara dengan sistem gogo. Apabila curah hujan diperkirakan telah mencukupi untuk penggenangan sawah secara terus- menerus, pertanaman digenangi setinggi 5-10 cm atau disesuaikan dengan tinggi tanaman dan padi dipelihara dengan sistem padi sawah.

F. Pengendalian organisme pengganggu

Tanda-tanda serangan organisme pengganggu sama dengan tanda-tanda serangan pada padi sawah. Demikian pula cara-cara pengendaliannya mengikuti anjuran setempat.

G. Panen

• Dilakukan sebaiknya pada fase masak panen dengan ciri kenampakan 90% gabah sudah menguning.

• Panen pada fase masak lewat panen, yaitu saat jerami mulai mengering, pangkal malai mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah rontok saat panen.

• Sebaiknya panen dilakukan dengan sabit bergerigi dan perontokan dengan pedal tresher. • Perontokan dengan memukul-mukul batang padi pada papan sebaiknya dihindari, karena

(5)

menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar sampai 3,4%. III. PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan makalah ini yaitu:

1. Padi gogorancah adalah padi yang ditanam dengan menerapkan gogo dan sawah.

2. Teknik budidaya padi gogo rancah yaitu: penyiapan lahan/pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, penyiangan, penggenangan/perancahan, pengendalian organisme pengganggu dan pemanenan.

B. Saran

Sebagai penulis makalah ini, saya menyarankan agar penelitian tentang teknik budidaya padi gogo rancah lebih digiatkan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

BPTP Sulawesi Selatan Thn : 2003

http://sulsel.litbang.deptan.go.id.temp.clisent.org

Referensi

Dokumen terkait

Untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan tadah hujan disarankan menerapkan sistem tanam 2 (S 2 ) yaitu sistem tanam dengan : umur pindah bibit lebih muda (10 hari),

Dari tiga Varietas padi sawah tadah hujan bila dilihat dari nilai t Sig ketiga varietas padi sawah tadah hujan, ternyata persamaan yang memiliki garis peduga yang

Judul : Uji Perbedaan Sistem Jajar Legowo Terhadap Beberapa Varietas Padi (Oryza sativa L.) Pada Lahan Sawah Tadah Hujan.. Lisa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sistem jajar legowo dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi pada beberapa varietas tanaman padi di lahan sawah

dan produksi pada beberapa varietas tanaman padi ( Oryza sativaL .) pada lahan. sawah

Pola rotasi tanaman padi gogo dilakukan oleh petani dengan pola padi- padi-(padi-karet) dan padi-(padi-sawit)-padi (Tabel 2). Pola tanam padi-sawit terdiri dari: a)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan uasahtani padi sawah sistem irigasi dengan sistem tadah hujan, untuk mengetahui apakah ada perbedaan

PTT gogo rancah adalah cara tanam padi yang dilakukan pada saat lahan sawah dalam keadaan kering/belum diairi dan menggunakan benih secara langsung tanpa