1
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Krisis yang terjadi di Suriah sejak tahun 2011 telah berujung pada pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan. United Nations High Commissioner for Human Rights (UNHCR) melaporkan 93.000 orang tewas hingga bulan Juni
2013.1 UNHCR juga melaporkan lebih dari 1,4 juta orang mengungsi ke wilayah
Irak, Lebanon, Turki dan Yordania untuk mencari perlindungan.2 Permasalahan
ini diperburuk dengan keputusan pemerintah Suriah untuk menutup akses bantuan
kemanusian dari lembaga internasional kepada penduduk sipil.3 Pada
kenyataannya akses pangan, obat-obatan dan air bersih sangat terbatas.
Pemerintah Suriah dibawah presiden Bashar al-Assad dianggap bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan ini. Presiden Bashar al-Assad yang telah berkuasa sejak tahun 2000 mendapat kecaman dari masyarat internasional atas keputusannya untuk melakukan konfrontasi militer melawan rakyatnya. Berbagai upaya politik dan ekonomi telah dilakukan oleh masyarakat internasional mulai dari Liga Arab hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membujuk presiden Bashar al-Assad menghentikan kekerasan kepada pendud uk sipil.
Diawali pada 16 Maret 2011, 50 demonstran yang terdiri dari aktivis hak asasi manusia dan keluarga tahanan politik melakukan aksi protes secara damai di
Damaskus.4 Para demonstran menuntut pemerintah Suriah melepaskan keluarga
mereka yang menjadi tahanan politik. Sejak presiden Bashar al-Assad berkuasa di
1
http://www.cbc.ca/news/world/story/2013/06/13/syria-death-toll.html. diakses 4 Juni 2013
2 “UNHCR Syria Regional Refugee Response,” UNHCR Syria Regional Refugee Response,
http://data.unhcr.org/syrianrefugees/regional.php. diakses 4 Juni 2013
3
“Crisis in Syria,” http://www.responsibilitytoprotect.org/index.php/crises/crisis-in-syria. diakses 4 Juni 2013
4
“Cageprisoners : Political Prisoners in Syria: An Urgent Crisis Now!,”
http://www.cageprisoners.com/our-work/opinion-editorial/item/1349-political-prisoners-in-syria-an-urgent-crisis-now. diakses 4 Juni 2013
2 tahun 2000 lebih dari 45.000 orang ditahan tanpa adanya proses pengadilan yang
terbuka dan sah.5
Pada saat itu juga seluruh demonstran ditangkap dengan alasan aksi provokasi menyerang reputasi negara. Hingga akhir keputusan pengadilan, delapan orang dinyatakan tidak bersalah kemudian dibebaskan sedangkan sisanya tetap ditahan. Tidak hanya itu, penangkapan sipil oleh aparat di kota Aleppo, Banias, Damaskus, Dera‘a, Douma, Hama, Homs, Latakia, Ma‘aratan Nu‘man
dan al-Malkiyah juga terjadi pada tanggal 8-23 Maret 2011.6
Bagan 1. Peta Konflik di Suriah
Sumber: Jeremy M. Sharp & Christopher M. Blanchard, Armed Conflict in Syria: U.S. and
International Response, Congressional Research Service,
http://fpc.state.gov/documents/organization/195385.pdf 5 Ibid. 6 Ibid.
3 Presiden Bashar al-Assad merespon gelombang demonstrasi dengan mengeluarkan dekrit presiden yang menyatakan bahwa Undang-undang Darurat 1962 tidak lagi diberlakukan di Suriah. Selama ini UU Darurat 1962 tidak memberikan kesempatan bagi individu untuk mengkritik pemerintah dengan
pembenaran menjaga stabilitas nasional.7 Namun sayang penghapusan
undang-undang tersebut tidak dibarengi dengan aksi nyata seperti pembebasan tahanan
politik.8 Pada April 2011, dilaporkan 72 warga sipil ditembak mati saat
melakukan aksi protes damai.9 Hal ini berimplikasi pada pecahnya konflik di
wilayah-wilayah seperti tergambar dalam bagan 1.
Melihat pemerintah Suriah yang terus melakukan tindak kekerasan maka pada Oktober 2011 dibentuklah Syrian National Council (SNC). SNC merupakan kelompok oposisi terbesar yang terdiri dari teknokrat, politikus dan aktivis HAM. Kelompok oposisi ini dibentuk dan bermarkas di Istanbul, Turki. Tujuan utama SNC adalah menggulingkan rezim Bashar al-Assad secara legal dan mengganti
sistem pemerintahan menjadi terbuka dan demokratis.10 SNC terdiri dari 425
anggota yang berasal dari berbagai kelompok oposisi yaitu Grassroots Movement, National Bloc, Damascus Declaration, Muslim Brotherhood Alliance, Kurdish Bloc, Independents, Assyrians Organization, Damascus Spring, National Figures. Intensitas konflik di Suriah semakin meningkat hingga menewaskan
setidaknya 2.600 orang di berbagai kota pada September 2011.11 Di awal tahun
2012 diadakan International Humanitarian Pledging Conference for Syria di Kuwait. Konferensi ini diadakan oleh United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Action (UNOCHA). Dalam laporannya dijelaskan bahwa lebih
7
“BBC News - Syria Protests: Bashar al-Assad Lifts Emergency Law,”
http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-13161329. diakses 14 Juni 2013
8
Amnesty International, Urgent Action (online), 7 Juli 2011,
<http://www.amnestyusa.org/actioncenter/actions/uaa08711.pdf>, diakses pada 19 Desember 2012.
9
“‘Bloodiest Day’ in Syrian Unrest,” BBC, April 22, 2011, sec. Middle East,
http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-13167433. diakses pada 14 Juni 2013
10 “SNC Objectives,” http://www.syriancouncil.org/en/objectives.html. diakses 14 Juni 2013 11
Khaled Yacoub Oweis, “Syrian Forces Kill 20 in anti-Assad Protests,” Reuters, September 16, 2011, http://www.reuters.com/article/2011/09/16/us-syria-idUSTRE78F1GG20110916. diakses 14 Juni 2013
4 dari empat juta penduduk sipil di Suriah sangat membutuhkan bantuan
kemanusian.12 Valerie Amos, pimpinan UNOCHA menyampaikan
kekecewaannya atas penolakan presiden Bashar al-Assad untuk membuka akses kemanusiaan di Suriah.
Melihat kondisi tersebut, kekerasan yang terjadi di Suriah dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap norma hukum internasional. Dijelaskan dalam Statuta Roma bahwa segala tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah secara sistematik kepada sipil dapat dikategorikan sebagai
kejahatan terhadap kemanusiaan. Tindak kekerasan tersebut meliputi
pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pemerkosaan, penyiksaan, pemenjaraan
dan eksekusi kepada kelompok politik, ras, etnis, agama dan gender.13
The International Coalition of Responsibility to Protect menilai bahwa kondisi di Suriah telah masuk dalam jangkauan penerapan Responsibility to Protect (RtoP). Ide besar dalam RtoP adalah setiap negara memiliki kewajiban untuk melindungi penduduknya dari kekejaman massa seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan pembersihan etnis. RtoP telah diadopsi oleh negara-negara anggota majelis umum PBB dalam World Summit ke-60 Resolusi A/RES/ke-60/1 (October 24, 2005) sebagai legitimasi tertinggi
kedaulatan negara sejak tahun 2005.14 Hal ini menegaskan bahwa RtoP telah
menjadi norma yang dijunjung oleh sebagain besar masyarakat internasional. Tidak hanya berdiri sebagai nilai yang sifatnya subjektif bagi sebagian kecil kelompok masyarakat internasional.
Terdapat dua norma utama dalam RtoP yaitu (1) kedaulatan negara dimaknai sebagai kewajiban mutlak untuk melindungi seluruh penduduk yang berada dalam batas wilayah negaranya dan (2) ketika penduduk hidup dalam penderitaan yang berimplikasi pada kerugian permanen akibat konflik, pemberontakan atau penindasan hingga akhirnya kesanggupan dan kemampuan
12
“International Humanitarian Pledging Conference for Syria | OCHA,”
http://www.unocha.org/syria-humanitarian-pledging-conference. diakses 14 Juni 2013
13
Gareth J Evans, The Responsibility to Protect: Ending Mass Atrocity Crimes Once and for All (Washington, D.C.: Brookings Institution Press, 2008).pp.244
14
5 negara untuk mencegah atau menghentikan hal tersebut dipertanyakan, maka prinsip non-intervensi akan ditangguhkan menjadi RtoP.
Terdapat banyak pandangan skeptikal kepada RtoP karena kerap diasosiasikan dengan intervensi militer. RtoP tidak dilandasi pada semangat intervensi pada kedaulatan negara. RtoP sangat menekankan tindakan pencegahan sehingga aktor internasional diharapkan dapat menjadi sistem pendukung bagi
negara untuk menegakkan RtoP.15 Intervensi militer hanya dapat digunakan
sebagai pilihan terakhir ketika usaha pencegahan tidak lagi dapat diterapkan atau hanya memperburuk usaha untuk melindungi penduduk sipil. Begitu pula sebaliknya, apabila intervensi militer tidak dapat diberlakukan bukan berarti RtoP
gagal ditegakkan.16 Namun memerlukan pendekatan lain secara berkelanjutan agar
negara pelanggar norma mengingat pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.
Hingga penelitian ini diselesaikan, krisis kemanusiaan di Suriah belum berakhir. Oleh karena itu jangkauan penelitian ini akan difokuskan dalam rentan waktu 2011-2012.
B. Pertanyaan Penelitian
Penelitian ini akan menjawab tiga pertanyaan utama: pertama, ―Bagaimanakah penerapan RtoP di Suriah?‖ kedua, ―Sejauh apa penerapan RtoP di Suriah?‖ dan ketiga, ―Mengapa penerapan RtoP di Suriah tidak berjalan efektif?‖
C. Landasan Konseptual
Untuk menjawab ketiga pertanyaan penelitian di atas, peneliti akan menggunakan dua landasan konseptual yaitu Responsibility to Protect: the mass atrocity toolboxes dan Political Compliance Theories. Berdasarkan laporan International Commission on Intervention and State Sovereignty (ICISS) tahun
2001 terdapat tiga elemen dalam RtoP yaitu prevent, react dan rebuild.17
15
Ibid. pp. 57
16 Ibid. pp. 61 17
International Commission on Intervention and State Sovereignty and International
Development Research Centre (Canada), The Responsibility to Protect: Report of the International
6 RtoP berlaku dalam situasi kekejaman massa. Kekejaman massa tersebut adalah genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Konteks massa tidak hanya diartikan dalam skala yang luas dan jumlah korban yang besar namun juga adanya penindasan secara sistemik oleh
pemerintah kepada rakyatnya.18
Responsibility to prevent dimaknai kewajiban bagi negara untuk mencegah munculnya kejahatan dengan cara yang tepat dan dibutuhkan. Negara menerima kewajiban tersebut dan akan bereaksi berdasarkan hal tersebut. Masyarakat internasional secara tepat harus mendorong negara dalam melaksanakan kewajibannya dan mendukung upaya PBB untuk memberikan peringatan dini. Tidak hanya memberikan peringatan dini, responsibility to prevent juga dinilai dari kemauan politik pemerintah negara yang bersangkutan untuk mengikuti kebijakan-kebijakan yang disarankan oleh PBB atau organisasi internasional
lainnya.19 Masyarakat internasional melalui PBB juga memiliki kewajiban untuk
menggunakan diplomasi, cara kemanusiaan dan metode-metode damai lainnya dalam melaksanakan Piagam PBB chapter VI dan VII.
Ketika mekanisme pencegahan gagal dan kekejaman massa terjadi dalam sebuah negara maka bertindak diam dan tidak melakukan sesuatu bukanlah pilihan bagi masyarakat internasional. Berdasarkan World Summit 2005 dijelaskan bahwa responsibility to react dimaknai kesiapan masyarakat internasional untuk mengambil langkah kolektif secara tegas melalui Dewan Keamanan PBB sesuai dengan Piagam PBB chapter VII. Analisa secara bertahap serta bekerjasama
dengan organisasi regional secara tepat.20
Upaya membangun damai paska konflik bukanlah akhir dari RtoP namun harus dimulai kembali dengan pencegahan konflik secara struktural. Terdapat empat kewajiban dalam membangun kembali yaitu keamanan, good governance,
keadilan dan rekonsiliasi serta pembangunan ekonomi-sosial.21 Untuk
18 Evans, The Responsibility to Protect. pp. 46 19
Sovereignty and (Canada), The Responsibility to Protect. pp. 21
20
Ibid. pp. 30
21
7 mempermudah menganalisis RtoP, penulis akan bertumpu pada bagan 2 yang disampaikan oleh Gareth J. Evans seperti di bawah ini.
Bagan 2. The Mass Atrocity Toolboxes
PREVENTION REACTION REBUILDING
Political and Diplomatic 1.Promote good governance 2.Promote membership in international organizations 1.Rebuilding governance institutions 2.Maximizing local ownership 1.Preventive diplomacy 2.Threat of political sanctions 1.Diplomatic peacekeeping 2.Political sanctions and incentives
Economic and Social 1.Support economic
development
2.Support education for tolerance
3.Community peace building
1.Support economic development
2.Social programs for sustainable peace 1.Aid conditionally 2.Threat of economics sanctions 3.Economic incentives 1.Application of economic sanctions 2.Economic incentives Constitutional and Legal 1.Promote fair
constitutional structures 2.Promote human rights 3.Promote rule of law 4.Fight corruption 1.Rebuilding criminal justice 2.Managing transitional justice 3.Supporting traditional justice 4.Managing refugee returns 1.Legal dispute resolution 2.Threat of international criminal prosecution 1.Criminal prosecution Security Sector 1.Security sector reform
2.Military to civilian governance
3.Confidence-building measures
4.Small arms and light
1.Peacekeeping in support of nation building 2.Disarmament, demobilization and reintegration
8
weapons control 3.Security sector reform
1.Preventive deployment 2.Non-territorial show of force 3.Threat of arms embargo or end of military cooperation programs
1.Peacekeeping for civilian protection
2.Safe havens and no-fly zones
3.Arms embargoes 4.Jamming of radio frequencies
5.Threat or use of military forces
Sumber: Gareth J Evans, The Responsibility to Protect: Ending Mass Atrocity Crimes Once and
for All (Washington, D.C.: Brookings Institution Press, 2008). Pp 232-234
Political compliance theories berusaha untuk menjelaskan perilaku negara, mengapa mereka patuh atau tidak patuh kepada norma hukum internasional ataupun domestik. Kedua prinsip akan terbagi kedalam dua kategori yaitu:
1. Rasionalis, fokus pada stick and carrot mechanism sebagai cara untuk
mencegah atau menghukum mereka yang tidak patuh sehingga kalkulasi untung dan rugi sebuah negara berubah.
2. Normatif, kooperasi dan pendampingan sebagai upaya untuk membuat
negara patuh.
Selanjutnya James March dan Johan Olsen membagi logika dasar perilaku negara kedalam dua kelompok yatu logic of consequences dan logic of appropriateness.
Logic of consequences: rationalist theories
Dalam pendekatan ini negara dipersepsikan sebagai individu yang rasional, self-interested dan menilai kalkulasi untung-rugi berdasarkan kerangka tata dunia internasional yang anarkis. Setidaknya, apabila negara percaya pada hukum internasional, enforcement dan detterence adalah cara utama untuk membuat negara patuh pada hukum internasional. Kelompok Neorealis melihat bahwa kepatuhan hanya sebatas ketidaksengajaan atau hasil dari kekuatan
internasional yang dinamis.22 Patuh pada hukum internasional merupakan sebuah
22
Andrew T. Guzman, “A Compliance-Based Theory of International Law,” California Law Review 90, no. 6 (December 1, 2002): 1823–87, doi:10.2307/3481436. pp. 1838
9
strategi.23 Institusionalisme melihat enforcement theory dalam kerangka kalkukasi
untung dan rugi. Memberikan efek jera penting agar negara tetap patuh kepada hukum internasional. Kelompok liberalisme menilai kepatuhan akan muncul
apabila terdapat keuntungan bagi kepentingan domestik.24
Logic of appropriateness: normative theories
Pendekatan ini memfokuskan pada kekuatan normatif dan persuasi politik. Normative theories menyarankan pendekatan kooperatif untuk mencapai kepatuhan. Normative theories memperluas perspektifnya tidak hanya dalam konteks untung dan rugi tetapi juga mempertimbangkan pengaruh aktor lain dalam menentukan kalkulasi untung dan rugi. Teori legitimasi (Thomas Franck) menjelaskan dalam sebuah komunitas yang diorganisir oleh tata nilai maka
kepatuhan kemungkinan besar terjadi.25 Setidaknya individu-individu yang patuh
pada tata nilai tersebut menilai adanya legitimasi. Legitimasi adalah kepercayaan dari rakyat atas kekuatan yang dipegang oleh pemerintah berdaulat. Teori managerialisme yang disampaikan oleh Chayes melihat bahwa ketidakpatuhan kepada hukum internasional merupakan hasil dari ketidakhati-hatian negara karena kurangnya kapasitas sumber daya, komitmen. Kekurangan ini dapat diatasi
dengan proses pendampingan politik internasional secara rutin.26 Teori
transnational legal process (Harold Koh) menjelaskan, negara akan patuh pada hukum internasional ketika berhasil menginternalisasi norma dan mengadopsinya
kedalam sistem nilai domestik.27 Dalam usahanya untuk menginternalisasi norma
dan mengadopsinya kedalam sistem nilai domestik maka diperlukan bantuan dari NGO dan lembaga-lembaga lain.
Dalam mengukur kepatuhan pemerintah Suriah terhadap penerapan RtoP sebagai norma hukum internasional maka peneliti akan menganalisinya melalui segala kebijakan, program atau aksi yang dilakukan oleh pemerintah Suriah. 23 Ibid. pp. 1839 24 Ibid. pp. 1841 25 Ibid. pp. 1835 26 Ibid. pp. 1831 27 Ibid. pp. 1836
10 Kemudian elemen-elemen tersebut akan dikorelasikan dengan elemen-elemen dalam The Mass Atrocity Toolboxes, apakah sudah sesuai dengan RtoP.
D. Argumen Utama
Sebagai bagian dari norma hukum internasional yang mengakui pentingnya perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, maka RtoP dapat diaplikasikan dalam krisis kemanusiaan di Suriah. Kekerasan yang dilakukan pemerintah Suriah kepada penduduk sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Preventive measurement dilaksanakan dalam berbagai aksi dan kebijakan seperti bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa dan UNOCHA di pertengahan tahun 2012 kepada penduduk sipil di dalam Suriah maupun yang menjadi imigran di negara tetangga. Selain itu, negosiasi politik juga sudah diupayakan oleh Liga Arab dan PBB sejak tahun 2011 untuk mempengaruhi presiden Bashar al-Assad untuk menghentikan tindak kekerasan melawan sipil. Presiden Bashar al-Assad memberikan visa kepada sembilan
lembaga PBB dan tujuh non government organization (NGO).28 Presiden Bashar
al-Assad juga menunjukkan kemauannya untuk terlibat dalam proses negosiasi yang diusulkan oleh PBB dan Liga Arab. Kemauan presiden Bashar al-Assad untuk menerima keberadaan PBB dan NGO lainnya untuk melindungi penduduk sipil dianggap sebagai permulaan yang baik dalam menerapkan RtoP.
Namun sayangnya, penerapan norma ini tidak berjalan secara efektif karena tindak kekerasan tidak mereda bahkan angka korban jiwa semakin meningkat di akhir tahun 2012. Dengan menggunakan teori kepatuhan politik yaitu logic of consequences dan logic of appropriateness akan dijelaskan bahwa tidak terdapatnya konsekuensi yang memberikan efek jera, membuat kepatuhan politik Suriah sangat rendah. Selain itu, RtoP sebagai norma internasional belum melekat sebagai identitas Suriah yang juga penting untuk diperjuangkan. Sejauh
28
“Syria Agreement Eases Access for Humanitarian Aid - World - CBC News,”
http://www.cbc.ca/news/world/story/2012/06/05/syria-expels-western-diplomats.html. diakses 14 Juni 2013
11 ini pemerintah Suriah hanya melihat RtoP sebagai norma yang ada di dalam masyarakat internasional namun tidak menjadi bagian dari dirinya.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif merujuk pada proses pengumpulan dan pengolahan data yang tidak bergantung pada numerikal namun menekankan pada analisis sosial peneliti
berdasarkan teori-teori yang telah ada.29 Pengumpulan data dalam penelitian
kualitatif dilaksanakan melalui studi pustaka. Pertama kali peneliti akan melakukan sampling dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, artikel berita dan sumber lain yang terkait. Setelah melakukan sampling dari berbagai sumber, peneliti akan mengklasifikasikan data-data tersebut kedalam unit analisis yang relevan. Proses terakhir adalah menganlisis data-data yang sudah diklasifikasikan
tersebut dalam landasan konseptual yang dipilih peneliti.30
Begitu pula penelitian ‗Responsibility to Protect di Suriah‘ ini, peneliti akan mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, artikel berita cetak maupun online untuk mendapatkan informasi menyeluruh terkait krisis kemanusiaan di Suriah dalam kerangka waktu tahun 2011 hingga 2012. Kemudian peneliti akan mengklasifikasikan data-data tersebut kedalam beberapa hal seperti peran aktor internasional dalam kerangka RtoP yang meliputi sektor (1) ekonomi-sosial dan (2) politik-keamanan. Dalam sektor ekonomi-ekonomi-sosial akan dijelaskan berbagai kebijakan atau program yang diberikan oleh PBB atau NGO lainnya seperti bantuan kemanusiaan, pendampingan sosial dan hal lain. Sedangkan di sektor politik-keamanan akan digambarkan kerjasama politik apa saja yang sudah diupayakan oleh aktor internasional untuk menghentikan krisis kemanusiaan di Suriah. Analisis utama adalah mengukur kemauan politik pemerintah Suriah untuk patuh pada RtoP. Apakah pemerintah Suriah memiliki kemauan dan kemampuan politik untuk melaksakan norma RtoP.
29
Anol Bhattacherjee, Social Science Research: Principles, Methods, and Practices (Tampa, FL: A. Bhattacherjee, 2012). pp. 103
30
12 F. Sistematika Penulisan
Untuk menjawab ketiga pertanyaan riset di atas maka penelitian ini akan dibuat kedalam empat bab. Bab pertama akan menjelaskan latar belakang masalah yang terjadi Suriah. Lebih lanjut akan dijelaskan pula landasan konseptual sebagai alat analisis untuk menjelaskan penerapan serta kepatuhan pemerintah Suriah pada norma RtoP. Dalam bab dua akan dijelaskan secara deskriptif timeline krisis kemanusiaan di Suriah sejak awal tahun 2011 hingga akhir tahun 2012. Dalam penjelasan ini akan digambarkan apa saja yang terjadi di dalam Suriah ataupun konstelasi politik di level internasional. Segala informasi akan dikumpulkan dari berbagai media massa dan juga data-data yang relevan dari organisasi internasional seperti Amnesty International, Human Rights Watch dan PBB. Selain itu akan dijelaskan pula segala kebijakan, tindakan, program yang dilakukan ataupun ditawarkan oleh lembaga-lembaga internasional untuk mengatasi krisis kemanusiaan di Suriah. Secara garis besar kebijakan, tindakan dan program tersebut akan diklasifikasikan kedalam tiga bagian besar sesuai dengan the mass atrocity toolboxes yaitu ekonomi, politik dan keamanan. Kemudian hal tersebut akan dikaitan lebih dalam dengan responsibility to prevent. Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana pemerintah Suriah mematuhi penerapan norma RtoP. Bab ini sekaligus akan menjawab pertanyaan riset sejauh apa pemerintah Suriah patuh dalam norma RtoP dari tahun 2011 hingga tahun 2012. Parameter yang digunakan dengan melihat respon pemerintah Suriah atas upaya-upaya lembaga internasional. Bab tiga akan menganalisis mengapa penerapan RtoP di Suriah tidak berjalan efektif dan kemudian menghubungkannya kembali dengan penerapan RtoP yang ideal. Bab empat akan memberikan kesimpulan terkait penerapan RtoP di Suriah. Apakah dapat dikatan ideal atau belum. Penelitian ini tidak akan menjelaskan dinamika program atau kejadian sesudah tahun 2012.