• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembangunan yang berkesinambungan menuntut tersedianya kesempatan yang sama bagi generasi mendatang untuk menikmati seluruh sumberdaya yang dinikmati oleh generasi sekarang. Konsep pembangunan berkesinambungan menurut Muta’ali (2012: 5), memang mengimplikasikan batas atau daya dukung lingkungan. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah jumlah penduduk yang terus menerus bertambah sehingga meningkatkan eksploitasi sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tinggi permintaannya terkait dengan pemanfaatannya untuk permukiman. Tingginya permintaan lahan untuk permukiman dikhawatirkan dapat melampaui daya dukung lingkungan.

Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hulu memiliki fungsi sebagai daerah penyuplai air bagi keseluruhan wilayah DAS. Kualitas DAS secara keseluruhan sangat tergantung pada kualitas wilayah hulu suatu DAS. Fungsi yang sama dimiliki oleh DAS Samin Hulu yang terletak di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Mengingat fungsi strategis wilayah hulu sebagai penyuplai sekaligus pengatur tata air, berbagai usaha perlu diupayakan demi menjaga kondisi ekologis sehingga menjamin keberlanjutan ekosistem yang berada di wilayah DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu.

Sebagai wilayah yang terletak pada wilayah hulu sebuah DAS, secara fisik, DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu merupakan wilayah yang memiliki banyak faktor pembatas untuk permukiman. Dilihat dari topografi wilayahnya yang didominasi dengan kelerengan curam (di atas 25%) dengan dominasi perbukitan lereng vulkan Gunung Lawu, DAS Samin Hulu yang meliputi wilayah Kecamatan Tawangmangu diperkirakan memiliki daya dukung lingkungan untuk permukiman yang terbatas. Apabila kondisi ini diabaikan, maka

(2)

commit to user

akan memicu degradasi lingkungan yang secara langsung dapat menganggu kestabilan ekologis keseluruhan DAS.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan di wilayah DAS Samin secara keseluruhan, menunjukkan kecenderungan penurunan kualitas lingkungan. Secara umum, wilayah DAS Samin didominasi tingkat bahaya erosi berat (Hartono, 2008: 162). Erosi ini dipicu oleh faktor fisik berupa solum tanah yang dangkal, intensitas curah hujan yang tinggi serta lereng yang curam. Erosi juga dipercepat dengan tindakan konservasi yang buruk pada beberapa penggunaan lahan terbuka seperti kebun, tegalan dan hutan. Selain itu, wilayah DAS Samin Hulu merupakan wilayah yang memiliki resiko longsor tinggi di Kabupaten karanganyar (Naryanto, 2011: 31). Salah satu penyebab bencana adalah perkebunan yang dilakukan pada daerah dengan topografi curam sehingga sangat berpengaruh terhadap erosi dan longsor. Penurunan kualitas lingkungan juga dipicu oleh ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan fungsi kawasan lahan (Muryono, 2008: 89).

Kebijakan pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam mengembangkan Kecamatan Tawangmangu bertujuan mengoptimalkan wilayah bagian hulu DAS Samin ini sebagai kawasan pariwisata dan pertanian. Hal ini terlihat dengan rencana strategisnya yang berupa pembangunan infrastruktur pariwisata Tawangmangu-Sukuh, meningkatkan pembangunan jalan tembus dan penataan permukiman di sekitarnya serta mengembangkan budidaya tanaman jeruk Tawangmangu dan bunga hias serta sayuran. Kebijakan untuk menjadikan kawasan hulu DAS Samin sebagai pusat pengembangan pariwisata, pemerintahan, pendidikan dan perdagangan dan jasa (PKL) juga tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Karanganyar No.1 Tahun 2013 Tentang RTRW Kabupaten Karanganyar Tahun 2013-2032. Semakin berkembangnya infrastruktur di wilayah ini memungkinkan terjadinya urbanisasi, baik itu dalam konteks perubahan wilayah perdesaan menjadi perkotaan maupun dalam konteks bertambahnya jumlah penduduk akibat migrasi masuk. Tercatat dari tahun 2004–2012, jumlah penduduk di Kecamatan Tawangmangu terus mengalami peningkatan.

Peningkatan penduduk dapat diamati pada gambar 1.1.

(3)

commit to user

43000 43500 44000 44500 45000 45500 46000 2004

2006 2008 2010 2012

Jumlah Penduduk

Gambar 1.1. Diagram Jumlah Penduduk Tahun 2004-2012 di Kecamatan Tawangmangu (BPS, 2004-2012)

Pertambahan jumlah penduduk sejalan dengan pertambahan jumlah permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu. Berdasarkan hasil analisis citra IKONOS, luas permukiman bertambah 6,63 hektar dalam kurun waktu lima tahun (2006-2011). Desa/Kelurahan dengan pertambahan permukiman terbanyak adalah Kelurahan Tawangmangu yang dalam waktu lima tahun mengalami pertumbuhan permukiman sebesar 1,89 %. Dalam kurun waktu yang sama, jumlah penduduk di Kecamatan Tawangmangu mengalami peningkatan sebesar 2,53% (BPS, 2006 dan 2011). Dengan demikian, secara sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan jumlah penduduk dengan pertambahan luas permukiman di wilayah penelitian. Perubahan luas permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu disajikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Tabel Perubahan Luas Permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu Tahun 2006 dan 2011

No Desa/

Kelurahan

Luas dalam DAS (Ha)

Luas Permukiman (Ha)

2006 2011

1 Bandardawung 333,89 61,61 61,61

2 Gondosuli 793,94 50,72 51,22

3 Karanglo 203,19 33,91 33,91

4 Nglebak 270,03 63,74 63,90

(4)

commit to user No Desa/

Kelurahan

Luas dalam DAS (Ha)

Luas Permukiman (Ha)

2006 2011

5 Plumbon 348,39 46,51 46,51

6 Sepanjang 562,98 52,70 52,70

7 Tengklik 845,54 29,57 29,57

8 Blumbang 817,37 23,05 25,67

9 Kalisoro 393,85 73,31 73,41

10 Tawangmangu 624,62 171,62 174,87

Luas Total 5193,81 606,74 613,37 Sumber: Analisis citra dengan SIG (2013)

Kecenderungan perubahan DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu sebagai wilayah urban yang terus berkembang mensyaratkan evaluasi lahan untuk keperluan pengembangan di masa depan. Evaluasi kesesuaian lahan merupakan pekerjaan penting dalam perencanaan wilayah karena didalamnya mencakup implementasi perencanaan dan evaluasi perencanaan (Lingjun, et.al, 2008: 123).

Ketika suatu wilayah terus mengalami pertumbuhan, lebih banyak lagi permintaan lahan untuk memenuhi kebutuhan penduduk di masa depan. Dalam kasus DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu, evaluasi kesesuaian lahan perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kecocokan lahan untuk penggunaan permukiman.

Dengan demikian pengembangan permukiman dapat diarahkan pada wilayah yang cocok secara fisik sehingga tidak mengganggu daya dukung lahan. Indikator yang digunakan untuk arahan pengembangan permukiman dalam penelitian ini adalah kesesuaian lahan untuk permukiman dan fungsi kawasan lahan.

Melihat kondisi daerah penelitian yang rawan bencana, serta kenyataan bahwa telah terjadi penyimpangan lahan, maka perlu dilakukan evaluasi kawasan permukiman beserta arahan pengembangannya yang disusun berdasarkan fungsi kawasan dan tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman. Melalui arahan ini, diharapkan mampu memberikan masukan pengembangan permukiman di DAS Samin Hulu sehingga terwujud pembangunan yang selaras dengan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul

“Arahan Pengembangan Permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Tahun 2013”.

(5)

commit to user B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sebaran kawasan permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu tahun 2013?

2. Bagaimana kesesuaian lahan untuk permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu tahun 2013?

3. Bagaimana fungsi kawasan di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu tahun 2013?

4. Bagaimana arahan pengembangan permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara adalah untuk mengetahui:

1. Sebaran kawasan permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu Tahun 2013.

2. Kesesuaian lahan untuk permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu untuk permukiman Tahun 2013.

3. Fungsi kawasan lahan di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu Tahun 2013.

4. Arahan pengembangan permukiman di DAS Samin Hulu Kecamatan Tawangmangu.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif sebagai berikut:

a. Perkembangan ilmu geografi, khususnya yang berkaitan dengan geografi sumberdaya lahan.

(6)

commit to user

b. Sumber belajar sekolah Menengah, Standar Kompetensi Menganalisis Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup dan Memahami Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG).

c. Sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Adapaun manfaat praktis penelitian ini adalah sebagai:

a. Penyedia informasi sebaran wilayah kesesuaian permukiman di DAS Samin Hulu

b. Arahan pengembangan DAS Samin Hulu khususnya kawasan permukiman sehingga berbagai kebijakan pengembangan wilayah yang direncanakan oleh Pemerintah Daerah pada akhirnya selaras dengan konsep pembangunan beerkelanjutan.

c. Media pembelajaran geografi di sekolah menengah, Standar Kompetensi Menganalisis Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup dan Memahami Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG).

Gambar

Gambar 1.1. Diagram Jumlah Penduduk Tahun 2004-2012 di Kecamatan  Tawangmangu (BPS, 2004-2012)

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga dapat dilihat hasil penilaian rata – rata yang dicapai nilai dari kegiatan kondisi awal 64,77 dan pada silkus pertama nilai rata – rata yang dicapai 65,45

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Pola pengobatan pada terapi pasien hepatitis B non-komplikasi yang dirawat di R.S Panti Rapih Yogyakarta periode Januari – Juni 2007 berdasarkan kelas terapi,

Hasil survei menunjukkan bahwa setelah dilakukan sosialisasi dan aplikasi pelepasan jantan mandul ke rumah-rumah masyarakat di lokasi penelitian, sebagian besar masyarakat

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Pada tahap pertama ini kajian difokuskan pada kajian yang sifatnya linguistis antropologis untuk mengetahui : bentuk teks atau naskah yang memuat bentuk

Untuk mengetahui pengaruh penurunan luas tutupan lahan bervegtasi dalam menyerap emisi karbon dioksida sepuluh tahun kebelakang di Kota Pontianak, perlu dilakukan