REFERAT DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN ATRESIA DUODENUM

33  26  Download (0)

Full text

(1)

REFERAT

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN ATRESIA DUODENUM

Pembimbing : dr. Djajaludin, Sp.B

Disusun Oleh:

Vemy Melinda G4A013041

SMF BEDAH

RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO 2013

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan serta disetujui referat dengan judul :

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN ATRESIA DUODENUM

Diajukan untuk memenuhi salah satu ujian kepanitraan klinik dokter muda SMF Bedah RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh:

Vemy Melinda G4A013041

Purwokerto, Desember 2013

Mengetahui, Dokter Pembimbing,

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usus manusia secara umum terdiri atas usus besar dan usus

halus. Segmen pada usus halus terdiri dari duodenum, jejunum, dan

ileum. Duodenum akan diikuti oleh bagian usus yang panjang yang

disebut jejunum. Jejunum diikuti oleh ileum yang merupakan bagian

terakhir dari usus halus yang akan menghubungkan usus halus dengan

usus besar. Apabila bagian dari usus ini gagal untuk berkembang pada

masa fetus, akan mengakibatkan terjadinya sumbatan pada usus yang

disebut dengan atresia intestinal (Tamer et al, 2011).

Atresia merupakan kondisi tidak ada atau tertutupnya lubang

pada tubuh atau organ yang berbentuk tubular secara congenital, 50%

kasus atresia intestinal terjadi pada duodenum, dan 46%kasus terjadi

pada jejunoileal.. Intestinum adalah bagian dari saluran pencernaan yang

dimulai dari struktur setelah pilorus gaster hingga anus dan terdiri dari

usus halus dan usus besar, yang fungsinya melengkapi proses

pencernaan, memberi air ke tubuh, elektrolit, zat gizi, dan menyimpan

(4)

Angka kejadian atresia intestinal di Amerika Serikat mencapai 1

dari 3000 kelahiran hidup, tetapi di Benua Afrika angka kejadian ini

bisa lebih banyak yaitu 1 dari 1000 kelahiran hidup. Kasus atresia

intestinal akan menunjukkan gejala beberapa jam setelah kelahiran,

tetapi pada beberapa kasus yang telah terjadi, sering tidak dilaporkan,

sehingga tidak mendapatkan pelayanan medis. Sebelum tahun 1952,

kematian akibat atresia jejuno ileal mencapai 90%. Di antara tahun 1952

dan 1955, kematian mencapai 80% ketika anastomosis primer terjadi

tanpa reseksi usus. Pada saat reseksi dan dilatasi usus bisa dilakukan,

angka kematian menurun hingga 22%. Kematian menurun kembali

hingga 10% pada tahun 1959 sampai 2000. Beberapa faktor yang

berkontribusi dalam kematian antara lain infark usus proksimal,

peritonitis, kelemahan anastomosis, atresia distal yang tidak diketahui,

dan sepsis (Millar et al., 2003).

B. Tujuan

Tujuan pembuatan referat ini adalah untuk memaparkan hal-hal yang

berkaitan dengan anatomi dan fisiologi usus serta kelainan yang berupa

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Embriogenesis

Secara embriologi, saluran pencernaan berasal dari foregut,

midgut dan hindgut. Foregut akan membentuk faring, sistem pernafasan

bagian bawah, esofagus, lambung sebagian duodenum, hati dan sistem

bilier serta pankreas. Midgut membentuk usus halus, sebagian

duodenum, sekum, appendik, kolon asenden sampai pertengahan kolon

transversum. Hindgut meluas dari midgut hingga ke membrana kloaka,

membrana ini tersusun dari endoderm kloaka, dan ektoderm dari

protoderm atau analpit. Usus terbentuk mulai minggu keempat disebut

sebagai primitif gut. Kegagalan perkembangan yang lengkap dari

septum urorektalis menghasilkan anomali letak tinggi atau supra levator.

Sedangkan anomali letak rendah atau infra levator berasal dari defek

perkembangan proktoderm dan lipatan genital. Pada anomali letak

tinggi, otot levator ani perkembangannya tidak normal. Sedangkan otot

sfingter eksternus dan internus dapat tidak ada atau rudimenter

(Langman, 2009).

Deodenum dibentuk dari bagian akhir usus depan dan bagian

sefalik dari usus tengah. Titik pertemuan kedua bagian ini terletak tepat

(6)

duodenum mengambil bentuk melengkung seperti huruf C dan memutar

ke kanan. Perputaran ini bersama-sama dengan tumbuhnya kaput

pankreas, menyebabkan duodenum membelok dari posisi tengahnya

yang semula ke arah sisi kiri rongga abdomen. Deodenum dan kaput

pankreas ditekan ke dinding dorsal badan, dan permukaan kanan

mesoduodenum dorsal menyatu dengan peritonium yang ada

didekatnya. Kedua lapisan tersebut selanjutnya menghilang dan

duodenum serta kaput pankreas menjadi terfikasasi di posisi

retroperitonial. Mesoduodenum dorsal menghilang sama sekali kecuali

di daerah pilorus lambung, dengan sebagian kecil duodenum ( tutup

duodenum) yang tetap intraperitonial. Selama bulan ke dua, lumen

duodenum tersumbat oleh ploriferasi sel di dindingnya. Akan tetapi,

lumen ini akan mengalami rekanalisasi sesudah bulan kedua. Usus

depan akan disuplai oleh pembuluh darah yang berasal dari arteri

sefalika dan usus tengah oleh arteri mesenterika superior, sehingga

(7)

B. Anatomi

Duodenum

Duodenum atau juga disebut dengan usus duabelas jari

merupakan usus yang berbentuk seperti huruf C yang menghubungkan

antara gaster dengan jejunum. Duodenum melengkung di sekitar caput

pancreas. Duodenum merupakan bagian terminal atau muara dari sistem

apparatus biliaris dari hepar maupun dari pancreas. Selain itu duodenum

juga merupakan batas akhir dari saluran cerna atas. Dimana saluran

cerna dipisahkan menjadi saluran cerna atas dan bawah oleh adanya

ligamentum Treitz (m. suspensorium duodeni) yang terletak pada

flexura duodenojejunales yg merupakan batas antara duodenum dan

jejunum. Di dalam lumen duodenum terdapat lekukan-lekukan kecil

yang disebut dengan plica sircularis. Duodenum terletak di cavum

abdomen pada regio epigastrium dan umbilikalis (Snell, 2006).

(8)

Gambar 1. Bagian – bagian usus

(9)

Duodenum terdiri atas beberapa bagian:

1. Duodenum pars superior

Bagian ini bermula dari pylorus dan berjalan ke sisi

kanan vertebrae lumbal I dan terletak di linea transpylorica.

Bagian ini terletak setinggi vertebrae lumbal I dan memiliki

sintopi:

a. Anterior : Lobus quadrates hepatis, vesica velea

b. Posterior : Bursa omentalis, a. gastroduodenalis,

ductus choledocus, v. portae hepatis, dan v. cava inferior

c. Superior : Foramen epiploica winslow

d. Inferior : Caput pankreas

2. Duodenum pars decendens

Bagian dari duodenum yang berjalan turun setinggi

vertebrae lumbal II-III. Pada duodenum bagian ini terdapat

papilla duodeni major dan minor yang merupakan muara dari

ductus pancreaticus major dan ductus choledocus serta

ductus pancreaticus minor yang merupakan organ apparatus

(10)

Duodenum bagian ini memiliki sintopi :

a. Anterior : Fundus vesica felea, colon transersum,

lobus hepatis dextra

b. Posterior : Ureter dextra, hilus renalis dextra

c. Medial : Caput pankreas

d. Lateral : Colon ascendens, fleksura coli dextra,

lobus hepatis dextra

3. Duodenum pars horizontal

Merupakan bagian dari duodenum yang berjalan

horizontal ke sinistra mengikuti pinggir bawah caput

pancreas dan memiliki skeletopi setinggi vertebrae lumbal II.

Duodenum bagian ini memiliki sintopi :

a. Anterior : Mesenterium usus halus, vasa

mesenterica superior, lekukan jejunum

b. Posterior : Ureter dextra, m. psoas dextra, aorta

c. Superior : Caput pancreas

(11)

4. Duodenum pars ascendens

Merupakan bagian terakhir dari duodenum yang bergerak

naik hingga pada flexura duodenujejunales yang merupakan

batas antara duodenum dan jejunum. Pada flexura

duodenojejunales ini terdapat ligamentum yang

menggantung yang merupakan lipatan peritoneum yang

disebut dengan ligamentum Treitz (m. suspensorium

duodeni) yang dimana ligamentum ini juga merupakan batas

yang membagi saluran cerna menjadi saluran cerna atas dan

saluran cerna bawah. Duodenum bagian ini memiliki

skeletopi setinggi Vertebrae Lumbal I atau II. Duodenum

bagian ini memiliki sintopi :

a. Anterior : Mesenterium, lekukan jejunum

b. Posterior : Pinggir kiri aorta, pinggir medial m.

psoas sinistra

(12)

Vaskularisasi duodenum

Vaskularisasi duodenum baik arteri maupun vena nya terbagi

menjadi 2. Untuk duodenum pars superior hingga duodenum pars

descendens diatas papilla duodeni major (muara ductus pancreticus

major), divaskularisasi oleh R. superior a. pancrearicoduodenalis cabang

dari a. gastroduodenalis, cabang dari a. hepatica communis, cabang dari

triple hallery yang dicabangkan dari aorta setinggi Vertebae Thoracal

XII – Vertebrae Lumbal I. dan aliran vena nya langsung bermuara ke

system portae. Sedangkan dibawah papilla duodeni major, duodenum

divaskularisasi oleh R. duodenalis a. mesenterica superior yg

dicabangkan dr aorta setinggi Vertebrae Lumbal I. Sedangkan aliran

vena nya bermuara ke v. mesenterica superior (Snell, 2006).

Inervasi duodenum

Duodenum di innervasi oleh persarafan simpatis oleh truncus

sympaticus segmen thoracal VI-XII, sdgkn persarafan parasimpatis nya

(13)

C. Atresia duodenum

1. Definisi

Atresia duodenum adalah suatu kondisi dimana duodenum

(bagian pertama dari usus halus) tidak berkembang dengan baik,

sehingga tidak berupa saluran terbuka dari lambung yang tidak

memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus. Pada

kondisi ini duodenum bisa mengalami penyempitan secara komplit

sehingga menghalangi jalannya makanan dari lambung menuju usus

untuk mengalami proses absorbs. Apabila penyempitan usus terjadi

secara parsial, maka kondisi ini disebut dengan duodenal stenosis

(Hayden et al, 2003).

2. Epidemiologi

Secara statistik insidensi atresia duodenum dilaporkan terdapat 1

diantara 5000-10000 kelahiran di Afrika. Atresia duodenum dan

jejunoileal peringkat kedua paling banyak penyebab obstruksi

intestinal pada populasi Afrika(Millar, 2005). Sekitar 20-30% bayi

dengan atresia duodenal memiliki sindrom down. Atresia duodenal

(14)

3. Etiologi

Penyebab atresia duodenum belum diketahui, tetapi diperkirakan

hasil dari permasalahan selama perkembangan embrio dimana

duodenum tidak berubah bentuk secara normal (Wyllie, 2007). Masa

kehamilan minggu ke 5 sampai ke 10, duodenum berupa chord

padat. Obstruksi instriksi hasil dari kegagalan vakuoliasasidan

rekanalisasi. Pancreas annular hasil dari fusi bagian anterior dan

posterior, pembentukkan cincin jaringan pankreas yang disekitar

duodenum. Obstruksi ekstrinsik hasil dari berbagai macam kelainan

perkembangan embriologi spesifik penyebab patologi (Millar,

2005).

Atresia duodenal sering ditemukan bersamaan dengan

malformasi pada neonates lainnya yang menunjukkan kemungkinan

bahwa anomaly ini disebabkan karena gangguan yang dialami pada

awal kehamilan. Pada beberapa penelitian, anomaly ini diduga

karena gangguan pembuluh darah mesenterika. Gangguan ini bisa

disebabkan karena volvulus, malrotasi, gastroskisis maupun

penyebab yang lain. Pada atresia duodenum, juga diduga disebabkan

karena kegagalan proses rekanalisasi. Disamping itu, beberapa

penelitian menyebutkan bahwa annular pancreas berhubungan

(15)

4. Klasifikasi

Atresia duodenum dapat diklasifikasikan ke dalam 3 morfologi,

yaitu :

a. Tipe 1

Atresia duodenum yang ditandai oleh adanya webs atau

membrane pada lumen duodenum.

b. Tipe 2

Atresia duodenum dengan segmen proksimal dan distal

dihubungkan dengan fibrous cord.

c. Tipe 3

Atresia dengan diskontinuitas komlit antar segmen proksimal

dan distal.

(16)

5. Patogenesis

Ada faktor ekstrinsik serta ekstrinsik yang diduga menyebabkan

terjadinya atresia duodenal. Faktor intrinsik yang diduga

menyebabkan terjadinya anomali ini karena kegagalan rekanalisasi

lumen usus. Duodenum dibentuk dari bagian akhir foregut dan

bagian sefalik midgut. Selama minggu ke 5-6 lumen tersumbat oleh

proliferasi sel dindingnya dan segera mengalami rekanalisasi pada

minggu ke 8- 10. Kegagalan rekanalisasi ini disebut dengan atresia

duodenum. Perkembangan duodenum terjadi karena proses

ploriferasi endoderm yang tidak adekuat (elongasi saluran cerna

melebihi ploriferasinya atau disebabkan kegagalan rekanalisasi

epitelial (kegagalan proses vakuolisasi) (Alan et al, 2001).

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa epitel duodenum

berploriferasi dalam usia kehamilan 30-60 hari ataupada kehamilan

minggu ke 5 atau minggu ke 6, kemudian akan menyumbat lumen

duodenum secara sempurna. Kemudian akan terjadi proses

vakuolisasi. Pada proses ini sel akan mengalami proses apoptosis

yang timbul pada lumen duodenum. Apoptosis akan menyebabkan

terjadinya degenerasi sel epitel, kejadian ini terjadi pada minggu ke

11 kehamilan. Proses ini mengakibatkan terjadinya rekanalisasi pada

lumen duodenum. Apabila proses ini mengalami kegagalan, maka

(17)

kondisi, atresia duodenum dapat disebabkan karena faktor

ekstrinsik. Kondisi ini disebabkan karena gangguan perkembangan

struktur organ sekitarnya, seperti pankreas. Atresia duodenum

berkaitan dengan pankreas anular. Pankreas anular merupakan

jaringan pankreatik yang mengelilingi sekeliling duodenum,

terutama deodenum bagian desenden. Kondisi ini akan

mengakibatkan gangguan perkembangan duodenum (Free et al,

2004).

6. Penegakkan diagnosis

a. Manifestasi klinis

Pasien dengan atresia duodenal memiliki gejala obstruksi

usus. Gejala akan nampak dalam 24 jam setelah kelahiran. Pada

beberapa pasien dapat timbul gejala dalam beberapa jam hingga

beberapa hari setelah kelahiran. Muntah yang terus menerus

merupakan gejala yang paling sering terjadi pada neonatus

dengan atresia duodenal. Muntah yang terus-menerus ditemukan

pada 85% pasien. Muntah akan berwarna kehijauan karena

muntah mengandung cairan empedu (biliosa). Akan tetapi pada

15% kasus, muntah yang timbul yaitu non-biliosaapabila atresia

terjadi pada proksimal dari ampula veteri. Muntah neonatus akan

semakin sering dan progresif setelah neonates mendapat ASI.

(18)

atresia diatas papila, maka jarang terjadi. Apabila obstruksi pada

bagian usus yang tinggi, maka muntah akan berwarna kuning

atau seperti susu yang mengental. Apabila pada usus yang lebih

distal, maka muntah akan berbau dan nampak adanya fekal.

Apabila anak terus menerus muntah pada hari pertama kelahiran

ketika diberikan susu dalam jumlah yang cukup sebaiknya

dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang lain seperti

roentgen dan harus dicurigai mengalami obstruksi usus. Ukuran

feses juga dapat digunakan sebagai gejala penting untuk

menegakkan diagnosis. Pada anak dengan atresia, biasanya akan

memiliki mekonium yang jumlahnya lebih sedikit,

konsistensinya lebih kering, dan berwarna lebih abu-abu

dibandingkan mekonium yang normal. Pada beberapa kasus,

anak memiliki mekonium yang nampak seperti normal (Kessel

et al, 2011)

Pengeluaran mekonium dalam 24 jam pertama biasanya

tidak terganggu. Akan tetapi, pada beberapa kasus dapat terjadi

gangguan. Apabila kondisi anak tidak ditangani dengan cepat,

maka anak akan mengalami dehidrasi, penurunan berat badan,

gangguan keseimbangan elektrolit. Jika dehidrasi tidak

ditangani, dapat terjadi alkalosis metabolik hipokalemia atau

(19)

cairan berwarna empedu (biliosa) dalam jumlah bermakna. Anak

dengan atresi duodenum juga akan mengalami aspirasi gastrik

dengan ukuran lebih dari 30 ml. Pada neonatus sehat, biasanya

aspirasi gastrik berukuran kurang dari 5 ml. Aspirasi gastrik ini

dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada jalan nafas anak.

Pada beberapa anak, mengalami demam. Kondisi ini disebabkan

karena pasien mengalami dehidrasi. Apabila temperatur diatas

103º F maka kemungkinan pasien mengalami ruptur intestinal

atau peritonitis (Kessel et al, 2011).

b. Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen.

Akan tetapi distensi ini tidak selalu ada, tergantung pada level

atresia dan lamaya pasien tidak dirawat. Jika obstruksi pada

duodenum, distensi terbatas pada epigastrium. Distensi dapat

tidak terlihat jika pasien terus menerus muntah. Pada beberapa

neonatus, distensi bisa sangat besar setelah hari ke tiga sampai

hari ke empat, kondisi ini terjadi karena ruptur lambung atau

usus sehingga cairan berpindah ke kavum peritoneal. Neonatus

dengan atresia duodenum memiliki gejala khas perut yang

(20)

Saat auskultasi, terdengar gelombang peristaltik gastrik

yang melewati epigastrium dari kiri ke kanan atau gelombang

peristaltik duodenum pada kuadran kanan atas. Apabila

obstruksi pada jejunum, ileum maupun kolon, maka gelombang

peristaltik akan terdapat pada semua bagian dinding perut

(Kessel et al, 2011).

c. Pemeriksaan penunjang

Pre natal

Secara general, atresia duodenum sulit untuk di diagnosis

selama kehamilan. Diagnosis prenatal selalu berdasarkan tanda

non spesifik pada fetal ultrasound seperti dilatasi lambung.

Karena cairan amnion ditelan dan dicerna secara normal oleh

fetus, atresia duodenum dapat menyebabkan peningkatan cairan

dalam sakus amnion, hidramnion. Ini mungkin merupakan tanda

awal atresia duodenum (Millar, 2005). Diagnosis saat masa

prenatal yakni dengan menggunakan prenatal ultrasonografi.

Sonografi dapat meng-evaluasi adanya polihidramnion dengan

melihat adanya struktur yang terisi dua cairan dengan gambaran

double bubble pada 44% kasus. Sebagian besar kasus atresia

duodenum dideteksi antara bulan ke 7 dan 8 kehamilan

(21)

Gambar 4. Gambaran USG prenatal pada atresia duodenal Post natal

Pemeriksaan yang dilakukan pada neonatus yang baru

lahir dengan kecurigaan atresia duodenum, yakni pemeriksaan

laboratorium dan pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan

laboratorium yang diperiksa yakni pemeriksaan serum, darah

lengkap, serta fungsi ginjal pasien. Pasien bisanya muntah yang

semakin progresive sehingga pasien akan mengalami gangguan

elektrolit. Biasanya mutah yang lama akan menyebabkan

terjadinya metabolik alkalosis dengan hipokalemia atau

hipokloremia dengan paradoksikal aciduria. Oleh karena itu,

gangguan elektrolit harus lebih dulu dikoreksi sebelum

melakukan operasi. Disamping itu, dilakukan pemeriksaan darah

(22)

karena peritonitis dan kondisi pasien secara umum (Hayden et

al, 2003).

Pemeriksaan roentgen yang pertama kali dilakukan yakni

plain abdominal x-ray. X-ray akan menujukkan gambaran

double-bubble sign tanpa gas pada distal dari usus. Pada sisi kiri

proksimal dari usus nampak gambaran gambaran lambung yang

terisi cairan dan udara dan terdapat dilatasi dari duodenum

proksimal pada garis tengah agak kekanan. Apabila pada x-ray

terdapat gas distal, kondisi tersebut tidak mengekslusi atresia

duodenum. Pada neonatus yang mengalami dekompresi

misalnya karena muntah, maka udara akan berangsur-angsur

masuk ke dalam lambung dan juga akan menyebabkan gambaran

(23)

Gambar 5. Gambaran double bubble pada atresia duodenum

7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan secara umum yaitu :

- Pemasangan tube orogastrik untuk mendekompresi lambung

- Memberikan cairan elektrolilt melalui intravena (mengkoreksi

dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit).

- Mengatasi sindrom down.

- Pembedahan untuk mengkoreksi kebuntuan duodenum perlu

dilakukan namun tidak darurat. Pembedahan ini tergantung pada

sifat abnormalitas. Prosedur operatif standar saat ini berupa

(24)

a. Pre operasi

Penatalaksanaan terdiri dari dekompresi nasogastrik dan

menyediakan penggantian cairan dan elektrolik. Banyak

penderita merupakan prematur dan umur kelahirannya rendah,

maka harus menjaga tubuh dari panas dan menghindari

hipoglikemia terutama pada kasus berat bayi lahir rendah,

penyakit jantung kongenital, sindroma distres respirasi (Millar,

2005).

Setelah diagnosis ditegakkan, maka resusitasi yang tepat

diperlukan dengan melakukan koreksi terhadap keseimbangan

cairan dan abnormalitas elektrolit serta melakukan kompresi

pada gastrik. Dilakukan pemasangan orogastrik tube dan

menjaga hidrasi IV. Managemen preoperatif ini dilakukan mulai

dari pasien lahir. Sebagian besar pasien dengan duodenal atresia

merupakan pasien premature dan kecil, sehingga perawatan

khusus diperlukan untuk menjaga panas tubuh bayi dan

mencegah terjadinya hipoglikemia, terutama pada kasus berat

badan lahir yang sangat rendah, CHD, dan penyakit pada

respirasi. Sebaiknya pesien dirawat dalam incubator (Tamer et

(25)

b. Intraoperasi

Tindakan ini memerlukan anestesi general dengan

intubasi endotrakeal. Yang sering banyak digunakan dengan

insisi pemotongan otot, transversal, insisi kuadran kanan atas.

Namun, beberapa menggunakan motode laparoskopi untuk

memperbaiki (Blanco-Rodríguez, 2008).

Sisi ke sisi duodenoduodenostomi merupakan standar

perbaikan untuk stenosis duodenal, atresia atau obstruksi yang

disebabkan vena porta preduodenal. Ketika pankreas annular

dihubungkan dengan obstruksi duodenal bertemu, pilihan

penyembuhan dengan duodenoduodenostomi antara segmen

duodenum yang diatas dan dibawah pada area cincin pankreas

(26)

Menurut Felicitass (2011), teknik pembedahan pada

atresia duodenum :

1) Side to side anastomosis

Dimulai dari bagian dorsal dari anastomosis, sebuah

duodenostomi melintang dibuat di segmen proksimal.

Bagian ujung dari lambung dan duodenum dilakukan

duodenotomi. Insisi pararel dibuat pada distal

duodenum kemudian lapisan posterior anastomosis

dijahitkan.

2) For diamond shape duodenostomi

Diperlukan mobilisasi untuk menempatkan dinding

duodenum proksimal terlihat dengan jelas. Kemudian

dibuat sayatan melintang di proksimal membujur ke

duodenum bagian distal.

3) For a duodenal web

Untuk web duodenum, membrane biasanya terletak

di kedua bagian duodenum, Lokasi membrane dapat

dibantu oleh pemasangan NGT ke dalam duodenum.

4) For membrane resection

Untuk reseksi membrane, sayatan dibuat memanjang.

Kemudian mengidentifikasi ampula vater. Eksisi

(27)

menutup duodenum secara melintang, patensi

duodenum bagian distal diuji terlebih dahulu dengan

menggunakan kateter silicon kecil.

Selain itu, tindakan bedah dapat dilakukan sesuai dengan

tipe dari atresia duodenum.

1) Tipe 1

Atresia duodenum yang ditandai oleh adanya webs

atau membrane pada lumen duodenum. Tindakan

bedah yang dilakukan adalah menginsisi dinding

duodenum kemudian mengeksisi membrane bagian

dalamnya, kemudian dijahit.

(28)

2) Tipe 2

Atresia duodenum dengan segmen proksimal dan

distal dihubungkan dengan fibrous cord. Tindakan

pembedahan yang dilakukan adalah

dudenoduodenostomi. Bagian yang mengalami

atresia dihilangkan, kemudian kedua ujung tersebut

digabungkan.

3) Tipe 3

Atresia dengan diskontinuitas komlit antar segmen

proksimal dan distal. Tindakan bedah yang dilakukan

(29)

utung jejunum langsung ke lambung.

Gambar 7. Tindakan operasi pada atresia duodenum

tipe 2 (atas) dan atresia duodenum tipe 3 (bawah)

c. Post operasi

Penggunaan selang transanastomik berada dalam di

jejunum, pemberian makan dapat diberikan setelah 48 jam paska

operasi. Nutrisi parenteral via central atau perifer dimasukan

(30)

lama jika transanastomik enteral tidak cukup atau tidak dapat

ditolenrasi oleh tubuh pasien (Millar, 2005).

8. Komplikasi

- Komplikasi yang dapat ditemukan ialah kelainan congenital

lainnya.

- Mudah terjadi dehidrasi

Komplikasi post operasi dilaporkan pada 14-18% pasien, dan

beberapa pasien memerlukan operasi kembali. Beberapa kondisi

yang sering terjadi dan menyebabkan pasien perlu dioperasi

kembali yaitu :

- Kebocoran anostomosis

- Obstruksi fungsional duodenum

- Adhesi

- Bengkak pada bagian pertama usus halus (megaduodenum)

- Permasalahan pergerakan usus

- Refluks gastroesofageal

- Sepsis intraabdomen

(31)

9. Prognosis

Angka harapan hidup untuk bayi dengan atresia duodenum

adalah 90 - 95%. Mortalitas yang tinggi disebabkan karena

prematuritas serta abnormalitas congenital yang menyertainya.

Morbiditas dan mortalitas telah membaik secara bermakna selama

50 tahun terakhir. Adanya kemajuan dibidang anestesi pediatric,

neonatologi, dan teknik pembedahan, angka kesembuhannya telah

meningkat hingga 90%. Menurut Milar (2005), walaupun prognosis

atresia duodenal secara general bagus namun angka kematian

sebesar 7%. Hubungan kelainan kongenital diindentifikasikan

sebagai faktor risiko independent. Berat lahir rendah dan permasalah

prematur lebih jauh meningkatkan resiko kematian (Richard et al,

(32)

BAB III

KESIMPULAN

1. Atresia duodenum merupakan kondisi dimana duodenum tidak

berkembang dengan baik.

2. Penyebab terjadinya atresia duodenum sampai saat ini belum

diketahui, namun sering ditemukan bersamaan dengan malformasi

pada neonates lainnya seperti sindrom down, maupun penyakit

jantung.

3. Penegakkan diagnosis yaitu dengan anamnesis didapatkan pasien

memiliki gejala obstruktif usus, yaitu muntah terus menerus. Pada

pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen. Pada pemeriksaan

penunjang ditemukan double bublle.

4. Tindakan bedah yang dilakukan ialah sesuai dengan tipe atresi

(33)

Daftar pustaka

Alan PL, James AM. Congenital Duodenal Abnormalies in a Adult. Arch Surgery.2001;136:578-561

Blanco-Rodríguez, G., Penchyna-Grub, J., Porras-Hernández, JD., Trujillo-Ponce A. 2008. Transluminal Endoscopic Electrosurgical Incision of Fenestrated Duodenal Membranes. Pediatric Surgery Int. Epub :711– 714.

Dorland, W. A. N. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC. Hal 206 dan 1113.

Free FA, Barry G. Duodenal Obstruction in the Newborn Due To Annular Pancreas. Surg.2004;103:321-325

Hayden CK, Marshall ZS, Michael D, Leonard ES. Combine Esophageal and Duodenal Atresia: Sonograpic Findings. Arch Surg.2003;140:225-230 Kessel D, Bruyn D, Drake F. Case report: Ultrasound Diagnosis Of Duodenal

Atresia Combined With Isolated Oesophageal Atresia. The British Journal of Radiology.2011;66: 86-88

Millar A. J. W., Gosche J. R., and Lakhoo K. 2003. Intestinal Atresia and Stenosis. Paediatric Surgery: A Comprehensive Text for Africa Chapter 63. p.385-388.

Richard FL, Benneth AL, Norman GB, Anthony JB, Brian RJ.

Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran.Jakarta : EGC.

Tamer S, Mustafa K, Ulas A, Ali SK, Duodenal Atresia and Hirchsprung Disease in a Patient with Down Syndrome. Eur J Gen Med.2011;8(2):157-9

Wyllie, R. 2007. Intestinal Atresia, Stenosis, and Malrotation: Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 327.

Figure

Gambar 2.  Bagian-bagian duodenum

Gambar 2.

Bagian-bagian duodenum p.8
Gambar 1. Bagian – bagian usus

Gambar 1.

Bagian – bagian usus p.8
Gambar 3. Tipe atresia duodenum

Gambar 3.

Tipe atresia duodenum p.15
Gambar 4. Gambaran USG prenatal pada atresia duodenal  Post natal

Gambar 4.

Gambaran USG prenatal pada atresia duodenal Post natal p.21
Gambar 5. Gambaran double bubble pada atresia duodenum

Gambar 5.

Gambaran double bubble pada atresia duodenum p.23
Gambar 6. Tindakan bedah pada atresia duodenum tipe 1

Gambar 6.

Tindakan bedah pada atresia duodenum tipe 1 p.27
Gambar  7.  Tindakan  operasi  pada  atresia  duodenum  tipe 2 (atas) dan atresia duodenum tipe 3 (bawah)  c

Gambar 7.

Tindakan operasi pada atresia duodenum tipe 2 (atas) dan atresia duodenum tipe 3 (bawah) c p.29

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in