• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami Altar Buddhis melalui Semiologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Memahami Altar Buddhis melalui Semiologi"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Memahami Altar Buddhis melalui Semiologi

Listya Dharani SR dan Moh. Nanda Widyarta

Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Jawa Barat, Indonesia

E-mail: [email protected]

Abstrak

Altar Buddhis merupakan salah satu produk arsitektur yang membantu umat Buddha dalam praktik spiritual. Keberadaan altar ini dapat menambah nilai sakral suatu ruang. Altar ini memiliki bentuk khusus yang disusun dalam suatu ruang dengan memperhatikan pengaruhnya terhadap pengguna ruang. Penyusunan yang dilakukan dalam arsitektur sakral tidak hanya terpengaruh oleh aspek kegunaan atau keindahan saja, melainkan berusaha menggambarkan Tuhan di dalamnya berdasarkan kepercayaannya. Altar Buddhis pun juga berusaha menggambarkan alam semesta. Sehingga untuk memahami altar Buddhis, perlu juga melihat altar dari aspek kepercayaannya. Dengan menggunakan Semiologi, altar Buddhis dapat dipahami secara denotasi dan konotasi. Denotasi disini merupakan pemahaman penyusunan altar berdasarkan fungsi kegunaannya yang dirasakan sama oleh setiap orang. Sedangkan konotasi disini merupakan pemahaman penyusunan berdasarkan kepercayaan yang ada. Altar Buddhis ini kemudian dapat dipahami sebagai sebuah vocal point dalam ruang dan ruang kediaman bagi Buddha.

Understanding Buddhist Altar through Semiology Abstract

Buddhist Altar is one of architectural products that supports Buddhist spiritual practice. The existence of this altar can add sacred value to space. It has special shape that are arranged in special arrangement considering effects on the space user. Arrangement for Sacred Architecture is not based on function or beauty aspects only, but also based on re-creating the realms of gods in their beliefs. To understand Buddhist Altar also has to understand the belief itself. Buddhist Altar can be defined by its denotation and connotation meaning through Semiology. Denotation is understanding the meaning of altar arrangement that has the same influences for each person. Meanwhile, Conotation is understanding the meaning of altar arrangement by understanding the belief. In the end, Buddhis Altar can be understood as a vocal point in space and a home for Buddha.

Keywords: Architecture, Buddhist Altar, Sacred Object, Semiology Pendahuluan

Arsitektur pada umumnya merupakan ilmu merancang bentuk dan ruang sebagai wadah kegiatan manusia untuk menyelesaikan masalah yang dimiliki manusia. Permasalahan yang dihadapi manusia ini dapat bersifat fungsional semata-mata atau mungkin juga refleksi dari berbagai derajat sosial, ekonomi, politik, bahkan kelakuan atau tujuan-tujuan simbolis.

(2)

(Ching, 2000, hlm. 10-11) Ruang dibentuk oleh elemen-elemen pembentuk ruang berupa unsur-unsur horisontal dan vertikal yang memiliki bentuk dan susunan tertentu. Bentuk dan susunan tertentu dapat menciptakan kualitas ruang tertentu. (Ching, 2000, hlm. 98 & Caudill, 1981, hlm. 10) Sebuah ruang yang memiliki kualitas ruang tertentu untuk menyelesaikan masalah manusia ini merupakan produk arsitektur.

Manusia memiliki konsep pemikiran bahwa ada kekuatan besar di luar manusia yang mengendalikan alam semesta. Perasaan cemas dan takut terhadap kekuatan tersebut merupakan sebuah masalah yang mendorong manusia untuk menciptakan suatu arsitektur sakral, yang mencoba mendekatkan diri mereka kepada Tuhan dengan menciptakan ruang khusus yang dapat melangsungkan kontak yang kuat dan berharga. Manusia berusaha menciptakan keberadaan Tuhan dalam ruang tiga-dimensi yang dapat dinikmati oleh para umat melalui bentuk dan konstruksinya. (Humphrey & Vitebsky, 1997, hlm. 8-10)

Altar Buddhis merupakan salah satu produk arsitektur yang membantu umat Buddha mendekatkan diri mereka dengan Buddha, pelindung mereka. Altar ini biasanya disusun dalam sebuah ruang dan digunakan umat Buddha untuk aktivitas beribadah mereka.

Saya melihat keberadaan altar Buddhis ini sendiri sangat penting dalam suatu ruangan, karena keberadaan altar Buddhis ini dapat mengubah nilai suatu ruang biasa menjadi ruang yang sakral. Dalam ruang ibadah yang memang dirancang khusus untuk keperluan ibadah, elemen-elemen pembentuk ruang tersebut memang khusus dirancang untuk menimbulkan nilai sakral. Sehingga keberadaan altar ini hanya merupakan salah satu elemen pembentuk ruang sakral. Namun dalam ruang ibadah dalam rumah, elemen-elemen pembentuk ruang tersebut tidak dirancang khusus untuk keperluan ibadah. Tetapi ruang tersebut tetap memiliki nilai sakral. Keberadaan altar ini sendiri dapat mengubah ruang biasa menjadi memiliki nilai sakral.

Altar Buddhis disusun berdasarkan aturan-aturan tertentu yang dapat memberikan nilai sakral tersebut. Aturan-aturan ini dapat diartikan sebagai suatu tanda dalam ilmu semiologi. Tanda ini telah mengalami proses pemaknaan oleh manusia sehingga dapat memberikan nilai sakral. Barthes menjelaskan ada dua pemaknaan pada tanda, yaitu konotasi dan denotasi. Pemaknaan denotasi merupakan makna sebenarnya yang disampaikan oleh suatu tanda. Sedangkan pemaknaan konotasi adalah pemaknaan yang dipengaruhi kepercayaan, pengetahuan dan budaya. (Barthes, 1986, hlm. 42 & 89)

Pemaknaan pada altar Buddhis juga dapat dibagi menjadi pemaknaan denotasi dan konotasi. Pemaknaan denotasinya dihasilkan dari kesamaan pengaruh penyusunan altar terhadap manusia yang mengalami ruang. Pemaknaan ini dapat dilihat secara kasat mata. Sedangkan

(3)

pemaknaan secara konotasi dihasilkan dari pemahaman penyusunan altar berdasarkan kepercayaan dan pengetahuan dari penyusunan tersebut.

Dengan mengetahui proses pemaknaan denotasi dan konotasi dari penyusunan altar Buddhis tersebut, diharapkan saya dapat memahami maksud dari keberadaan altar itu. Dan kemudian dapat menjawab pertanyaan utama dari skripsi saya, yaitu apa itu altar Buddhis?

Tinjauan Teoritis 1. Ruang

Ruang dibentuk oleh unsur-unsur vertikal dan horisontal suatu bentuk. Unsur-unsur tersebut akan menghasilkan ruang yang berbeda-beda jenisnya. Setiap bentuk tiga-dimensi bersifat menegaskan menegaskan volume ruang di sekitarnya dan menimbulkan medan pengaruh atau kawasan yang dianggap sebagai miliknya. (Ching, 2000, hlm. 98)

Terdapat empat unsur horisontal pembentuk ruang, yaitu bidang dasar yang datar, bidang dasar yang dinaikkan, bidang dasar yang diturunkan, dan bidang atas. (Ching, 2000, hlm. 100) Terdapat enam unsur vertikal pembentuk ruang, yaitu unsur-unsur linear vertikal, bidang vertikal tunggal, bidang berbentuk-L, bidang-bidang sejajar, bidang berbentuk-U dan empat bidang tertutup. Sama seperti unsur-unsur horisontal, unsur-unsur vertikal ini dapat memberikan kualitas ruang yang berbeda pada masing-masing penggunaannya. (Ching, 2000, hlm. 121)

2. Bentuk

Bentuk merupakan penggabungan dari wujud, dimensi, warna, dan tekstur. Wujud merupakan hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi suatu bentuk. Wujud memperlihatkan sisi luar karakteristik suatu bidang atau konfigurasi suatu bentuk ruang. Dimensi adalah panjang, lebar dan tinggi dimensi ini menentukan proporsinya dan skala yang menentukan perbandingan ukuran relatif terhadap-bentuk-bentuk di sekelilingnya. Warna adalah corak, intensitas dan nada pada suatu permukaan bentuk yang merupakan atribut paling mencolok yang membedakan suatu bentuk terhadap lingkungannya. Tekstur adalah karakter permukaan suatu bentuk pada saat disentuh dan pemantulan cahaya yang terjadi. (Ching, 2000, hlm. 34-37)

3. Susunan Ruang

Ruang dibentuk untuk menyelesaikan masalah manusia. Sehingga dalam membentuk ruang, manusia mengakomodasi program yang dibutuhkan dan diinginkan manusia. Program-program ini kemudian disusun menjadi ruang-ruang yang saling berkaitan. Ruang tersebut

(4)

memiliki citra bentuk dan definisi ruang yang disusun dengan memperhatikan pola organisasi, relasi dan hirarki. (Ching, 2000, hlm. x-xi) Ruang yang luas umumnya tersusun atas sejumlah ruang yang berkaitan satu sama lain menurut fungsi, jarak dan alur gerak. Sebuah ruang yang luas dapat mencakup ruang lain yang lebih kecil di dalamnya. (Ching, 2000, hlm. 178-180)

4. Ruang Sakral

Melalui arsitektur sakral, manusia mencoba mendekatkan diri mereka kepada Tuhan dengan menciptakan ruang khusus yang dapat melangsungkan kontak yang kuat dan berharga. Manusia berusaha menciptakan keberadaan Tuhan dalam ruang tiga-dimensi yang dapat dinikmati oleh para umat melalui bentuk dan konstruksinya. (Humphrey & Vitebsky, 1997, hlm. 8-10)

Terdapat dua jenis ruang sakral yang diciptakan oleh manusia. Yang pertama adalah rumah sakral. Rumah sakral yang disebutkan di sini mengacu pada rumah tinggal yang dapat diubah menjadi ruang sakral dengan melakukan ritual-ritual. Yang kedua adalah tempat pertemuan sakral. Tempat ini merupakan ruang yang diciptakan secara khusus untuk kepentingan ibadah. (Humphrey & Vitebsky, 1997, hlm. 40-42)

Dalam menciptakan arsitektur sakral, bentuk, ruang dan susunan pada perancangannya dimaksudkan untuk menciptakan keberadaan Tuhan. Sehingga bentuk, ruang dan susunan pada arsitektur sakral ini biasanya tidak didasarkan pada nilai fungsionalnya saja, melainkan juga memiliki nilai kepercayaan.

5. Altar Buddhis

Menurut Kamus Oxford, altar adalah tempat yang dianggap suci karena kaitannya dengan Ketuhanan atau orang suci atau relikui, ditandai dengan bangunan atau konstruksi lainnya. Altar Buddhis sendiri dirancang untuk menaungi aktivitas manusia yaitu ritual puja. Puja sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti persembahan. (Chordon, 2001, hlm. 83) Puja merupakan persembahan yang dapat dilakukan dengan tiga macam cara, melalui pikiran, perbuatan dan ucapan. Memberikan persembahan melalui pikiran adalah dengan membayangkan, melalui ucapan adalah dengan mengucapkan pujian-pujian dan melalui perbuatan adalah dengan memberikan penghormatan berupa namaskara dan persembahan nyata pada Buddha. Persembahan-persembahan nyata tersebut dapat diletakkan di atas altar. Dalam tradisi Tibet, persembahan yang diberikan paling sedikit adalah Tujuh Mangkuk. Dapat juga memberikan persembahan berupa hiasan metal, perhiasan, instrumen musik, dan kotak jimat.

(5)

Metode Penelitian

Untuk memahami altar secara arsitektural dengan menggunakan semiologi, pertama-tama kita harus dapat memahami apa itu semiologi. Kemudian melihat keterkaitan bahwa altar merupakan suatu tanda yang berusaha mengkomunikasikan sesuatu. Di tahap ini, saya mencoba mencari tahu apa yang ingin dikomunikasikan oleh tanda tersebut. Kemudian saya berusaha memahami apa kaitan altar dengan arsitektur. Setelah memahami bahwa altar adalah salah satu unsur pembentuk dalam ruang, saya mencoba memahami penggunaan semiologi dalam memahami ruang. Bagian ini memudahkan dalam menganalisis altar di bagian kemudian. Kemudian saya dapat mendefinisikan altar berdasarkan makna denotasi dan konotasinya.

Semiologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari sistem tanda. Sistem tanda adalah suatu kumpulan tanda yang mengkomunikasikan suatu benda yang telah dimaknai oleh masyarakat. Barthes menjelaskan bahwa banyak sistem dalam kehidupan manusia seperti gambar, gestur, suara musik, objek dan hal kompleks lainnya merupakan tanda. Barthes menggolongkan elemen semiologi menjadi empat kategori, yaitu bahasa dan tuturan, penanda dan petanda, sintagma dan sistem, dan denotasi dan konotasi. (Barthes, 1964, hlm. 9-12)

Altar merupakan produk arsitektur berusaha mengkomunikasikan maksud keberadaannya. Ia merupakan sebuah elemen pembentuk ruang yang dalam dirancang untuk membantu umat Buddha dalam aktivitas ritual puja. Untuk memahami definisi altar, saya mengkategorikan keberadaan altar -sebagai elemen pembentuk ruang yang disusun dalam ruang sebagai penanda. Kemudian pengalaman ruang yang diciptakan oleh altar ini sebagai penandanya. Sama seperti ketika menganalisis ruang, dengan memahami pengalaman ruang yang dihasilkan dari altar ini, saya bisa memahami makna dari pembuatan altar ini.

Penanda:

Keberadaan altar dalam ruang yang disusun dengan susunan

tertentu.

Petanda:

Pengertian terhadap pengalaman yang dihasilkan dari keberadaan

altar dalam ruang

Maksud dan tujuan perancang dalam membuat altar.

Gambar 1. Proses Penggunaan Semiologi untuk Memahami Altar

menghasilkan

menyampaikan menghasilkan

(6)

Altar sebagai elemen pembentuk ruang memiliki bentuk yang kompleks. Bentuk kompleks ini disusun oleh bentuk-bentuk yang disusun satu sama lain dengan menggunakan prinsip-prinsip penyusunan di dalamnya. Masing-masing bentuk ini memiliki wujud, dimensi, warna dan tekstur tertentu yang memiliki maksud tertentu. Secara umum, bentuk-bentuk tersebut dapat dikenali sebagai meja altar, patung Buddha, gambar Buddha, teks Dharma, stupa, dan persembahan. Tiap bentuk ini masing-masing menggambarkan objek-objek penghormatan bagi umat Buddha.

Bentuk-bentuk tersebut kemudian disusun menjadi satu kesatuan dengan memperhatikan kaitannya satu sama lain. Dimensi, wujud, warna, dan tekstur yang masing-masing berbeda ini dapat berpengaruh satu sama lain. Jika suatu bentuk memiliki warna yang lebih menonjol dibandingkan bentuk lainnya, bentuk lainnya tidak akan menonjol. Ini menunjukkan adanya tingkat kepentingan yang ingin ditonjolkan. Selain itu posisi dan orientasi dari tiap bentuk yang terkait satu sama lain juga menunjukkan maksud tertentu. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa dalam penyusunan dari altar ini juga menunjukkan maksud dari kesatuan bentuk ini, yaitu maksud dari altar ini.

Altar kemudian disusun dalam ruang dengan susunan tertentu. Susunan ini juga menunjukkan maksud keberadaan altar ini dalam suatu ruang. Altar disusun dalam ruang dengan memperhatikan unsur dimensi, warna, tekstur, posisi, dan orientasi dari bentuk ini terhadap ruang di sekelilingnya. Selain itu terdapat prinsip-prinsip penyusunan ruang yang digunakan dalam menyusun altar, antara lain adalah: proporsi dan skala, sirkulasi (pencapaian dan konfigurasi jalur), sumbu, simetri, dan hirarki. Penyusunan tersebut ingin menyampaikan definisi dari altar. Pengalaman ruang kasat mata yang didapatkan dari penyusunan ruang di atas merupakan pemaknaan denotasi dari ruang ini.

Dalam pembentukkan ruang sakral, penggambaran Tuhan ke dalam ruang tersebut menjadi hal yang sangat penting. Sehingga makna dibalik ruang tersebut dapat berbeda dari apa yang dilihat secara kasat mata. Pengaruh kepercayaan dan kebudayaan akan sangat berperan dalam membentuk ruang tersebut. Altar yang dalam ruang sakral ini juga dibentuk dan disusun dengan pengaruh kepercayaan dan kebudayaan agama Buddha. Pada bab selanjutnya akan dijelaskan apa yang ingin disampaikan dari penyusunan altar ini akan dibahas pada bab selanjutnya.

(7)

Denotasi Konotasi 1. Keberadaan altar memiliki bentuk khusus, yang disusun dalam ruang dengan penyusunan khusus. 2. Elemen pembentuk ruang yang menyelesaikan masalah manusia yaitu menaungi aktivitas puja, yang

penyusunan memiliki pengaruh dalam menciptakan

kualitas ruang tertentu 3/I. Altar merupakan elemen pembentuk

ruang, memiliki bentuk khusus, yang disusun dalam ruang dengan

penyusunan khusus. II. Penggambaran terhadap kepercayaan dan kebudayaan. III. Altar dirancang untuk menaungi aktivitas puja tidak hanya

untuk menghasilkan kualitas ruang tertentu, tetapi juga menggambarkan kepercayaan dan kebudayaan.

Gambar 2. Pemaknaan dan Pembentukkan Tanda pada Altar Buddhis

Hasil Penelitian

Pada bagian ini, saya akan mempelajari empat contoh altar Mahayana Tibet. Altar yang pertama merupakan altar yang berasal dari sebuah biara di India. Altar yang kedua merupakan altar dari Dharma Center Kadam Choeling Indonesia dengan aliran Mahayana Tibet di Bandung. Altar yang ketiga merupakan cabang dari Dharma Center KCI yang bertempat di Jakarta. Dan yang terakhir adalah altar yang berada di kamar kos saya. Pada masing-masing studi kasus, saya akan menggunakan prinsip-prinsip dalam penyusunan ruang untuk memahami keberadaan altar dalam ruang. Dari pengalaman ruang yang didapatkan secara kasat mata ini, saya dapat memahami pemaknaan denotasi pada altar Buddhis.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ruang yang sakral biasanya dibentuk maksud tertentu yang menggambarkan alam semesta. Hal ini juga berlaku pada penyusunan ruang ibadah agama Buddha. Altar ini memiliki makna khusus dalam kepercayaan agama Buddha. Dengan melihat penyusunannya dalam ruang memiliki makna khusus, saya dapat memahami pemaknaan konotasi pada altar Buddhis.

(8)

1. Altar Biara Dragpo Shedrup Ling

Gambar 3. Denah Aula Biara Dragpo Shedrup Ling

Gambar 4. Pencapaian pada Altar Aula Biara Dragpo Shedrup Ling

Gambar 5. Penyusunan Simetris Aula Biara Dragpo Shedrup Ling

Gambar 6. Aktivitas di Aula Biara Dragpo Shedrup Ling

Gambar 7. Orientasi Arah Pandang Altar Aula Biara Dragpo Shedrup Ling

Arah jalan raya  

  Altar   Utama   Tahta   Guru   Lemari       Lemari  

(9)

Gambar 8. Orientasi Arah Mata Angin dan Jalur Matahari Aula Biara Dragpo Shedrup Ling

Gambar 9. Penyusunan Simetris Aula Biara

2. Altar Dharma Center KCI di Bandung

Gambar 12. Denah Aula Biara Dharma Center KCI Bandung

Gambar 13. Pencapaian pada Altar Aula Dharma Center KCI Bandung

Gambar 14. Sumbu pada Altar Aula Dharma Center KCI Bandung

TL     BD     5.0   8.0   24.0   1 Altar   Utama   Tahta  Guru   Lemari  Buku   Altar   Ladang   Kebajikan   Altar   Guru   Svarnadwipa   Altar   Pelindung   Dharma   Lemari   Peralatan  

(10)

Gambar 15. Aktivitas di Aula Dharma Center KCI Bandung

Gambar 16. Orientasi arah Pandang Altar di Aula Dharma Center KCI Bandung

Gambar 17. Orientasi Arah Mata Angin dan Jalur Matahari Altar Aula Dharma Center

KCI Bandung

Gambar 18. Pandangan Mata Manusia terhadap Altar Aula Dharma Center KCI

Bandung

3. Altar Dharma Center KCI di Jakarta

Gambar 19. Denah Dharma Center KCI Jakarta

Arah jalan raya  

  S     U   3.0   10.0   R.  Buku   Dapur   Kamar   Tidur   Kamar   Tidur   K.  Mandi   Teras   R.  Ibadah   Altar  

(11)

Gambar 20. Pencapaian Altar di ruang Dharma Center KCI Jakarta

Gambar 21. Sirkulasi menuju Kamar dan Dapur

Gambar 22. Aktivitas di Dharma Center KCI Jakarta

Gambar 23. Posisi dan Orientasi Altar Dharma Center KCI Jakarta

Gambar 24. Orientasi Arah Mata Angin dan Jalur Matahari Dharma Center KCI

Jakarta

Gambar 25. Pandangan Mata ke Altar Dharma Center KCI Jakarta

Arah jalan   2   1   T     B   2.5   7.0  

(12)

4. Altar di Kamar Kos

Gambar 26. Denah Kamar Kos Saya

Gambar 27. Pencapaian ke Altar di Kamar Kos

Gambar 28. Posisi dan Orientasi Altar di Kos Saya

Gambar 29. Aktivitas di Kamar Kos Saya Gambar 30. Sirkulasi dalam Kamar Kos

Saya 2   1   3   Kasur   Lemari   Meja   WC   Altar  

(13)

Gambar 31. Pandangan Mata ke Altar di Kamar Kos Saya

Pembahasan

Dari studi kasus diatas dapat dilihat bahwa ruang ibadah khusus, altar tersusun oleh banyak elemen-elemen yang rumit. Sedangkan pada ruang yang dialihfungsikan, altar disusun dengan lebih sederhana. Namun pada kedua jenis ruang tersebut, terdapat kesamaan dalam pola penyusunannya. Altar terdiri dari elemen-elemen yang disusun dengan pola tertentu. Kemudian altar ini disusun dalam ruang dengan pola tertentu.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ruang yang sakral biasanya dibentuk maksud tertentu yang menggambarkan alam semesta. Hal ini juga berlaku pada penyusunan ruang ibadah agama Buddha. Altar ini memiliki makna khusus dalam kepercayaan agama Buddha. Penyusunannya dalam ruang juga memiliki makna khusus. Berikut adalah pemaknaan konotasi dari altar Buddhis.

Pemaknaan denotasi dan konotasi pada altar dapat disimpulkan pada tabel di bawah. Altar Buddhis ternyata memiliki makna yang cukup rumit di balik keberadaannya.

Tabel 1. Pemaknaan Konotasi dan Denotasi pada Altar Buddhis

Konotasi

Denotasi

Petanda Tanda Penanda Penanda Petanda Altar Buddhis

Bentuk kompleks untuk sebagai objek visualisasi

aktivitas ritual puja, penggambaran objek perlindungan umat Buddha

Ruang kediaman Buddha, gunung Meru, penggambaran kualitas yang ingin dicapai umat

Buddha

Meja Altar Bidang dasar yang ditinggikan Penggambaran elemen

3.0  

(14)

menyesuaikan dengan proporsi tubuh manusia duduk bersila

tanah, singgasana Buddha

Patung Buddha Bentuk yang menggambarkan Buddha

Bentuk tubuh Kenikmatan Buddha yang menggambarkan

kualitas Buddha Stupa

Bentuk dengan struktur lingkaran bertingkat dan kubah

untuk menyimpan relikui

Penggambaran Batin Buddha, tiap struktur memiliki makna tertentu Teks Dharma Buku bertuliskan ajaran Buddha (Dharma) Ucapan Buddha

Persembahan

Bermacam objek yang diberikan pada Buddha, biasanya Tujuh Persembahan

atau Tujuh Mangkuk

Tiap objek diberikan memiliki penggambaran

tertentu

Warna Mencolok dan kontras terhadap sekeliling, biasanya emas

Emas merupakan logam mulia yang berharga, warna dari tubuh yang dimiliki Buddha sendiri Tekstur

Tekstur sentuh tidak diperhatikan, visual memantulkan cahaya

-

Dimensi

Disesuaikan dengan skala ruangan dan proporsi terhadap

manusia, biasanya besar dan dapat terlihat jelas

-

Posisi Tengah Dapat terlihat dengan jelas dari seluruh ruang

Penggambaran axis

mundi

Simetris

Keteraturan, membantu dalam fokus mata manusia pada objek

yang berada di sumbu simetrisnya

Penyusunan yang paling indah, penggambaran

alam semesta Posisi di ujung

ruangan

Posisi paling efisien untuk

seluruh aktivitas dalam ruang -

Dinding di balik

altar Membatasi pandangan mata supaya fokus ke altar Langit, surga, atmosfir Arah Mata Angin

Memperhatikan pencahayaan, penyesuaian dengan pintu

masuk utama dan jalan

Mengarah ke tempat suci agama Buddha, salah satu

dari Lima Buddha, matahari terbit Arah pandang

manusia

menuju ke altar

Menunjukkan kepentingan altar, objek visualisasi saat

ritual

Mencoba untuk dekat dengan Buddha, mencapai kualitas seperti

(15)

Pencapaian Langsung

Menunjukkan kepentingan altar dalam ruang, memudahkan manusia dalam

ber-namaskara

Memudahkan untuk dekat dengan Buddha Mencolok dan

terlihat jelas

Elemen paling penting dalam ruang, menandai ruang sakral

Buddha dekat dengan manusia

Kesimpulan

Pada awalnya, saya berpendapat bahwa altar Buddhis adalah salah satu elemen pembentuk ruang yang paling penting dalam ruang ibadah agama Buddha. Keberadaan elemen ini dalam ruang begitu penting sehingga dapat mengubah ruang biasa menjadi memiliki nilai sakral. Dalam ruang ibadah yang memang dirancang khusus untuk keperluan ibadah, elemen-elemen pembentuk ruang tersebut memang khusus dirancang untuk menimbulkan nilai sakral. Sehingga keberadaan altar ini hanya merupakan salah satu elemen pembentuk ruang sakral. Namun dalam ruang ibadah dalam rumah, elemen-elemen pembentuk ruang tersebut tidak dirancang khusus untuk keperluan ibadah. Tetapi ruang tersebut tetap memiliki nilai sakral karena adanya keberadaan altar itu. Saya kemudian mempertanyakan, apa itu altar Buddhis sebenarnya, mengapa ia dapat memberikan pengaruh begitu besar dalam suatu ruang.

Saya kemudian mencoba menjabarkan altar Buddhis melalui metode semiologi. Dengan menjabarkan altar melalui pemaknaan denotasi dan konotasi, saya dapat mengerti pengaruh penyusunan altar ini terhadap manusia berdasarkan yang kasat mata dan berdasarkan nilai kepercayaan dan budaya di dalamnya. Setelah memahami penyusunan altar dan pengaruh dari penyusunan tersebut saya dapat memahami maksud perancang membuat altar ini.

Secara denotasi, altar Buddhis merupakan sebuah elemen pembentuk ruang yang memiliki bentuk yang kompleks. Bentuk kompleks ini merupakan meja altar yang diatasnya disusun bentuk-bentuk yang merupakan penggambaran objek-objek perlindungan umat Buddha, yaitu patung Buddha, thangka, stupa, teks Dharma dan berbagai macam persembahan lainnya. Sebetulnya, banyak elemen-elemen penyusun altar Buddhis yang memiliki bentuk yang lebih kompleks. Namun disini saya membahas bentuk sederhana yang dapat layak disebut sebagai altar Buddhis.

Bentuk-bentuk tersebut disusun dalam altar dengan pola simetris dan tengah sebagai pusat. Bentuk-bentuk tersebut memiliki wujud yang mudah dikenali, warna yang cukup menonjol dan dimensi yang besar ketika disusun dalam ruang dengan menyesuaikan ruang yang ditempatinya. Altar tersebut kemudian diposisikan di ujung tengah ruang. Hal ini

(16)

menyebabkan altar mudah dilihat dari sudut ruang mana pun. Posisi dan orientasi ini diperlukan jika dikaitkan dengan aktivitas manusia dalam ruang tersebut.

Secara denotasi, altar Buddhis dapat disimpulkan sebagai sebuah elemen pembentuk ruang yang sifatnya adalah menjadi vocal point dalam ruang tersebut. Altar Buddhis ini juga merupakan sebuah ruang tersendiri yang dapat menandai setiap ruang besar yang ditempatinya menjadi sebuah ruang sakral.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Humphrey dan Vitebsky, arsitektur sakral memiliki bentuk tertentu yang menggambarkan Tuhan. Hal ini menyebabkan, altar Buddhis tidak boleh hanya dapat dipahami secara yang kasat mata saja, namun juga perlu memahami altar Buddhis berdasarkan aspek kepercayaanya. Secara konotasi, altar Buddhis ini memiliki makna yang dalam. Elemen yang dirasa paling sederhana yaitu meja altar, ternyata mengandung makna yang dalam yaitu gunung, singgasana, dsb. Penyusunan altar Buddhis dalam ruangan pun ternyata juga mengandung makna yang dalam. Salah satun contohnya adalah orientasi pusat sebagai yang utama menggambarkan axis mundi. Dan bahkan gestur tubuh kecil yang dihasilkan dari bentuk altar yang tinggi, seperti mendongak dapat menggambarkan manusia yang melihat ke arah surga.

Secara konotasi, altar Buddhis dapat disimpulkan sebagai sebuah ruang yang merupakan kediaman Buddha dan Bodhisatwa. Umat Buddha datang ke dalam ruang tersebut untuk mendekatkan diri dengan Buddha.

Saran

Diperlukan pembandingan antara altar Buddhis dengan altar non-Buddhis untuk memperjelas peranan altar Buddhis dalam suatu ruang. Dapat juga memberi pembandingan antara altar Buddhis aliran tertentu dengan aliran lain dan kemudian dapat dilihat esensinya secara lebih jelas. Diperlukan juga pendalaman terhadap makna konotasi dalam altar karena filosofis dalam penyusunan altar seringkali digambarkan dengan banyak simbol-simbol.

Kepustakaan

Amstrong, K. (2001). Buddha. United States: Penguin Books.

Barthes, R. (1986). Elements of Semiology (Annette Lavers & Colin Smith, Penerjemah). (Ed 11). New York: Hill and Wang.

(17)

Caudill, W. W. (1981). Architecture and You: How to Experience and Enjoy Building. New York: Whitney Library of Design.

Ching, F. D. K. (2000). Arsitektur: Bentuk, Ruang dan Tatanannya (Nurahma Tresani Harwadi, Penerjemah). (Ed 2). Jakarta: Erlangga.

Ching, F. D. K. (1995). Visual Dictionary of Architecture. United States:  John Wiley & Sons, Inc.

Chordon, T. (2001). Buddhism for Beginners. New York: Snow Lion Publications.

Dorjee, P. (2001). Stupa and Its Technology. New Delhi: Indira Gandhi National Centre of Arts.

Eliade, M., (1959). The Sacred and The Profane (Wilard W Trask, Penerjemah). Florida: Harcourt.

Gordon, A. K. (1952). Tibetan Religious Art. New York: Columbia University Press.

Humphrey, C. & Vitebsky, P. (2005). Sacred Architecture. London: Barnes & Noble Books. Lyndon, D. & Moore, C. W. (1999). Chambers for A Memory Palace. London: MIT Press. Macweeney, A. & Ness, C. (2002). Spaces for Silence. New York: Tuttle Publishing.

Rinpoche, P. (2008). Pembebasan di Tangan Kita Jilid 1 Pendahuluan. Bandung: Penerbit Kadam Choeling.

Rinpoche, P. (2008). Pembebasan di Tangan Kita Jilid 2 Fundamental. Bandung: Penerbit Kadam Choeling indonesia.

Gambar

Gambar 1. Proses Penggunaan Semiologi untuk Memahami Altar menghasilkan
Gambar 2. Pemaknaan dan Pembentukkan Tanda pada Altar Buddhis
Gambar 3.  Denah Aula Biara Dragpo Shedrup Ling
Gambar 8.  Orientasi Arah Mata Angin dan Jalur  Matahari Aula Biara Dragpo Shedrup Ling
+5

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH DESAIN, PROMOSI DAN BRAND IMAGE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PRODUK AIR MINERAL PADA MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA.. Disusun sebagai salah

Laporan ini disusun guna untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur dan sebagai salah satu syarat untuk menempuh gelar S-1

Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dapat diterapkan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika untuk membantu siswa

Salah satu produk susu pasteurisasi yang dihasilkan oleh CV. Cita Nasional memiliki varian rasa cokelat, dimana dalam memperoleh rasa dan membantu warna produk

Laporan Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan akademis bagi mahasiswa jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.. Manfaat

Tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan Program Diploma III Jurusan Ilmu Komunikasi minat Periklanan di Fakultas Ilmu Sosial

Tesis dengan judul “ Kebijakan Hukum Pidana Sebagai Upaya Penanggulangan Tindak Pidana Satwa yang Dilindungi Di Indonesia ” disusun untuk memenuhi salah satu

COBIT (Control Objective for Information and Related Technology) sebagai salah satu framework yang menyediakan kerangka kerja komprehensif yang membantu perusahaan