Ekonomi Pembangunan Islam (EPI)
Sesi 8: Paradigma Pembangunan: Pembangunan Konvensional Menuju Pembangunan Islami
✓ HARAPAN vs KENYATAAN Pembangunan di Indonesia - SISTEMATIKA & TUJUAN PAPARAN
SISTEMATIKA:
1. Harapan vs Kenyataan Pembangunan di Indonesia 2. Pembangunan dan Peradaban di Dunia dan Indonesia 3. Peran Pendidikan untuk Membangun Peradaban
4. Paradigm Shifts dalam Makna Pembangunan dan Makna Penanggulangan Kemiskinan
TUJUAN: Mendiskusikan makna pembangunan dan peran pendidikan dalam pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia, menuju pembangunan peradaban demi kemanusiaan.
- HARAPAN: Pemerintahan SBY
Pemerintah dan Komite Ekonomi Nasional memperkirakan “Indonesia Maju Tahun 2030”: Indonesia menjadi negara maju (developed nation) dengan pendapatan (PDB) perkapita US$18,000 (PPP).
McKinsey, “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia's Potential” menyatakan: Tahun 2030 Indonesia ranking no 7 dunia dalam hal total PDB (di bwh China, AS, India, Jepang, Brazil, Rusia); saat ini ranking 16. Diperkirakan jmlh kelas menengah naik dari 45 mjd 135 jt, dan pekerja berpendidikan naik dari 55 mjd 113jt. - HARAPAN: Pemerintahan Jokowi
Indonesia Keluar dari jebakan Pendapatan Kelas Menengah, Pendapatan Rp 320 Juta per Kapita per tahun (Rp 27 Juta/Bulan), RI masuk 5 Besar Ekonomi Dunia, Tingkat kemiskinan mendekati 0%, PDB Indonesia mencapai US$ 7 Triliun. - HARAPAN Menuju Negara Maju 2045
- HARAPAN: Pemanfaatan Bonus Demografi (Demographic Devidend)
- Tema Pembangunan Masing-Masing Koridor Ekonomi dalam Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
- Pembangunan Nasional Sering Diartikan
Pembangunan Nasional (PN) sering diasosiasikan dengan pembangunan gedung, jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, dan pengadaan serta penyediaan barang kebutuhan masyarakat ➔ materialistik.
Kenyataannya, PN memarjinalkan masyarakat setempat dan mencerabutnya dari akar sosial- budaya serta tanah dimana selama ini ia hidup.
Enclaves yang coraknya sama sekali berbeda terbentuk dari pendatang yang melakukan aktifitas bisnis/ekonomi, hidup berdampingan.
- Pembangunan Nasional Tanpa Nilai
Pembangunan Nasional (PN) di Indonesia selama hampir dari 75 thn merdeka, tanpa nilai yg jelas.
Bahkan PN yang terjadi telah menggerus nilai-nilai luhur perjuangan
kemerdekaan dan cita-cita berbangsa seperti yang tersirat dalam Pancasila dan UUD-45.
Pembangunan ekonomi dilaksanakan dg corak teknokrasi (direncanakan oleh teknokrat secara top-down dimana rakyat diposisikan sebagai objek pembangunan).
Pembangunan sosial-budaya pun bukan memperkuat nilai-nilai Pancasila & UUD-45, tetapi mrpk pembangunan yg bersifat materi dari sektor Pendidikan, kesehatan, dan kesenian dll.
Kenyataannya kita tidak makin maju sebagai bangsa, tdk makin terjalin kooperasi, tdk berkurang kemelaratan, malah makin tdk peduli dan maunya maju sendiri-sendiri.
- Kenyataan Hasil Pembangunan 1. Kemiskinan yang masif:
World Bank: 49% atau 110 juta jiwa hidup tidak layak (konsumsi perkapita perhari di bawah $2PPP atau Rp7ribu tahun 2006 atau Rp12ribu di tahun 2014);
BKKBN 2011: 44% atau 28 juta keluarga pra sejahtera dan sejahtera-I. BPS 2013: 11% atau 29 jt penduduk hidup di bwh GK-Nas.
2. Ketimpangan yang tinggi:
Susenas: Koefisien Gini konsumsi naik 0,33 (‘02) 0,41 (‘11)
Sensus Pertanian: Koefisien Gini pemilikan lahan 0,64 tahun 1993 naik menjadi 0,72 tahun 2003. Tahun 2013?
Pembangunan yang tidak merata antara IBB & IBT, Kota-Desa, Pertanian/Perikanan-Industri/Jasa, dsbnya.
3. Pengangguran terbuka 6%, tetapi 70% pekerja di sektor non-formal dgn pendapatan umumnya di bawah standar kehidupan layak.
4. Kedaulatan ekonomi yg dipertanyakan:
Peningkatan selisih antara PDB dan PNB (pendapatan faktor produksi asing di DN jauh melebihi dan meningkat vs pendapatan faktor produksi Nasional di LN),
Dominasi pemilikan aset oleh asing: Bank (CIMB-Niaga, Danamon, BCA, Bumiputra-ICB; dsbnya); Ritel (Carefour, Alfamart, dsbnya); Telekomunikasi (Indosat, Telkomsel, XL, dsbnya); Makanan-minuman (Aqua-Danone, Teh Sariwangi, Sampoerna Phillip Moris, dll), dlsbnya.
5. Penguasaan lahan oleh korporat & asing (MNC).
- KENYATAAN HASIL PEMBANGUNAN: PENGUASAAN ASING thdp ASET NASIONAL
- Kenyataan Pembangunan Nasional (PN) telah….
PN dehumanizes manusia dan masyarakat menjadi angka2 indikator seperti pertumbuhan (growth), GDP/cap, poverty head count index, dll. Tidak tergambar wajah kemanusiaan dari manusia dan masyarakat yang mestinya dibangun.
Angka2 ini menyesatkan kita semua akan makna sebenarnya dari Pembangunan Nasional.
PN lebih jauh lagi memperlakukan masyarakat sebagai objek bukan subjek pembangunan.
Berbagai program dan kebijakan yang bersifat generalisasi, makro, top-down, dan deduktif sering menyengsarakan masyarakat.
- Beberapa Indikator Makro Indonesia
- Pembangunan Nasional
PN telah menggerus nilai-nilai luhur yang merupakan modal sosial dan modal spiritual.
Nilai nasionalisme dan kebangsaan dianggap using di era globalisasi dengan pasar bebasnya.
Nilai kemerdekaan dan kedaulatan pudar dihantam oleh pemenuhan Hasrat konsumerisme dan insting dagang menjual asset nasional.
Nilai kebersamaan dan kegotoroyongan lenyap digantikan dengan persaingan bebas untuk memuaskan ketamakan dan kepentingan orang-perorangan.
- Masalah Ekonomi: Puncak gunung es
Masalah yg tampak di permukaan (g↓, inflasi↑, IHSaham↓, Rp↓, dsbnya) hanya lah akibat dan belum tentu merupakan masalah.
Masalah yg sebenarnya dan akar permasalahan ada di bawah iceberg → perlu penelitian.
- HARAPAN vs KENYATAAN
Setelah hampir 70 tahun merdeka (scr politik) dan melaksanakan pembangunan, ternyata:
1. Neokolonialisme: penjajahan ekonomi terjadi, 2. Kedaulatan tidak sepenuhnya di tangan rakyat, 3. Rakyat masih banyak hidup melarat,
4. Ketimpangan semakin parah,
Ini mrpk makna pemb. dgn konsensus Washington
Kemiskinan dan ketimpangan adalah masalah berat yg harus dicarikan jalan keluarnya
Mahatma Gandhi: “Poverty is the worst violence [against humanity]”
Soekarno: “Selama masih ada ratap tangis di gubuk- gubuk, pekerjaan kita (belum) selesai !”
✓ Pembangunan dan Peradaban di Dunia dan Indonesia - Peradaban Dunia
• Sejarah peradaban (civilization):
– 3100 SM: Mesir kuno dan Mesopotamia (sepanjang sungai Nil)
– 2500 SM: Indus (Mohenjo Daro & Harappa di sepanjang sungai Indus dan Gangga di India) – 2000 SM: Aegean
– 1600 SM: China
– 1200 SM: Amerika (Maya & Aztec) – 1000 SM: Mediterania (Phoenix) – 400-1500 M: Yunani & Roman – 600-1700 M: Islam
– 1800-now : Global/Western civilization • Keruntuhan dan konflik antar peradaban
- Siklus Peradaban Manusia (Timur & Barat)
- Siklus Peradaban Nusantara (700 tahunan)
✓ Peran Pendidikan dalam Membangun Peradaban - Dunia Ini Lebih dari Cukup
Mahatma Gandhi: “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed”
Soekarno: "Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara- saudara. Berjiwa besarlah, berimagination. Gali ! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia"
- Pendidikan: Konsep Membangun
Perubahan paradigma pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan (1950-2010):
➢ Pembangunan: dari growth oriented (‘50-an)→ basic needs (‘60-an) → growth w/ equity (‘70-an) → welfare (‘80-an) → sustainable dev’t (‘90-an) → pro-poor dev’t (‘00-an) → inclusive dev’t (‘10-an) → spiritual development (‘20-an)??? ➢ Social protection: dari commodity subsidies ke direct transfers.
➢ Pemberdayaan masyarakat: menuju ke community driven development (CDD) yg bersifat participatory.
- Hakikat Pembangunan Nasional
• PN selayaknya memanusiakan manusia; mengembalikan kefitrahnya manusia sebagai abdi Tuhan (worshipping God → kalifatullah fil-ardh) dan selanjutnya menjadikannya manusia yang seutuhnya (whole rounded person → sejahtera lahir-batin).
• PN seharusnya mempertahankan bahkan memperkuat nilai-nilai luhur bangsa (spiritualitas /berketuhanan, nasionalisme & kerakyatan, kemerdekaan,
kedaulatan, keadilan, kebersamaan, kemaritiman, dll) sebagai modal sosial dan modal spiritual yang menjadi modal dasar membangun bangsa dan negara. - Definisi Ulang Pembangunan Nasional
Oleh sebab itu, PN mesti didefinisikan ulang, bahwa: Pembangunan Nasional adalah pembangunan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD-45 menuju masyarakat yang lebih beradab, dengan memperkuat nilai-nilai luhur tsb sebagai modal dasar pembangunan.
Pembangunan ekonomi menjadi bagian dari PN.
Pembangunan melibatkan masyarakat secara aktif dan keseluruhan (inklusif) sehingga tidak hanya sebagai objek tapi juga sekaligus subjek pembangunan.
Kebijakan pembangunan dilakukan secara induktif, bottom-up, mengikutkan kearifan lokal, dan memanfaatkan masyarakat adat dalam proses pembangunan.
FEUI yang dibangun untuk berpartisipasi dalam pembangunan nasional Indonesia baik dalam pemikiran maupun secara aktif dalam perumusan kebijakan perlu melakukan pendefinisian ulang Pembangunan Nasional.
- Kenyataan Pendidikan
• Pendidikan formal dengan berbagai konsep, teori, model, dan hipotesanya termasuk ilmu ekonomi telah terjadi:
1. Proses dehumanisasi: mereduksi manusia dengan berbagai dinamikanya kedalam angka-angka,
2. Proses generalisasi: mereduksi berbagai fenomena yg bersifat kontekstual ke dalam generalisasi.
3. Proses yg sangat deduktif: mengaplikasikan konsep/teori/model ke realitas yg ada,
4. Proses menyekat-nyekat ilmu menurut disiplin ilmunya, padahal semua masalah memiliki interdisplinary aspect.
• Pendidikan formal menjauhkan peserta didik dan lulusan dari:
1. Masyarakatnya: Peserta didik dan lulusan semakin asing dengan masalah yg dihadapi masyarakat,
2. Alam lingkungannya: Peserta didik dan lulusan semakin tidak mengetahui berbagai gejala alam,
3. Jati dirinya: Peserta didik dan lulusan tidak diarahkan untuk memahami jati dirinya yg sebenarnya,
4. Tuhannya: Peserta didik dan lulusan semakin tidak spiritual dan jauh dari Tuhannya. Nische menyatakan “Tuhan sudah mati”.
➔ Elit-elit yg terasing dari masyarakatnya, lingkungannya, dirinya, dan Tuhan.
1. Pendidikan Menjauhkan Cendekia dari Masyarakatnya
Peserta didik tidak memahami dan menghayati apa yg dirasakan, dibutuhkan, dan diinginkan masyarakat luas.
2. Pendidikan Menjauhkan Cendekia dari Alam Lingkungan
Alam lingkungan dimaknai hanya sebagai sumberdaya alam dan faktor produksi yg perlu dimanfaatkan dan dieksploitasi.
3. Pendidikan Mengasingkan Cendekia dari Jati Dirinya yg Sebenarnya
- Self knowledge penting (Plato, Aristotle, Socrates, YM Jesus, Muhammad SAW, Adam Smith, Benjamin Franklin, Lao Tzu, dll).
- Lao Tzu (570-470BCE): “He who knows others is wise; he who knows himself is enlightened.” [Yang mengenali orang lain bijaksana; yang mengenali dirinya tercerahkan]
- Plato (427-347BCE): “The essence of knowledge is self knowledge” [Intisari pengetahuan adalah pengetahuan mengenai diri].
- YM Jesus (7BCE–27CE): “One who knows everything but lacks oneself, lacks - everything” [Yang mengetahui segalanya tetapi tidak mengenal dirinya, berarti
tidak tahu apa-apa]
- Muhammad SAW (570-632 CE): “One who knows him/herself, knows his/her Lord Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu [Yang mengenali dirinya, mengenali Tuhan nya]
- Adam Smith: “The first thing you have to know is yourself. A man who knows himself can step outside himself and watch his own reactions like an observer.” - ...dan banyak lagi yg lain... Biology Lesson for Enlightenment
4. Pendidikan Mengasingkan Cendekia dari Tuhan YME
- Mendekatkan diri atau Mengenal Tuhan merupakan anjuran semua agama. Arahannya disampaikan oleh para perisalah dari Tuhan (nabi dan rasul). - Dengan mengikutkan Tuhan dalam setiap Langkah dan dengan mengharapkan
keridhaan Nya, kita dapat membangun peradaban yg menjamin kesejahteraan lahir-batin bagi semua
- Sekali lagi: dengan mengenali jati diri yang sebenarnya kita dapat kenal dan mendekati Tuhan YMK.
- Pendidikan Perlu di Revitalisasi
❑ Beberapa aspek pendidikan perlu diperkuat:
➢ Pendidikan karakter/Budi Pekerti penting di berikan,
➢ Pembelajaran mengenali masyarakat dengan metode induktif dan pendekatan lintas disiplin,
➢ Pembelajaran mengenali alam lingkungan agar menjadikannya sebagai bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan,
➢ Pembelajaran untuk mengenali diri dalam rangka mengenali Sang Pencipta →journey to the true self
- Metoda Ilmiah / Metoda Riset
• Metode riset adalah: "The way one gets at the truth“
• Inductive reasoning: Dari kejadian yg spesifik yg menjadiperhatian menghasilkan hipotesa yg bersifat umum
• Deductive reasoning: Dari hipotesa/teori yg bersifat umum diuji menggunakan data yg spesifik.
- Kuantitatif + Kualitatif
❑ Kecenderungan ilmu sosial (juga ilmu ek&bis) saat ini untuk sangat kuantitatif: ➢ Ketersediaan model dan data ➢ Namun, mereduksi aspek kemanusiaan, generalisasi, sangat deduktif, separasi keilmuan, kebij top-down
❑ Perlunya menyeimbangkan penel. Kuantitatif dengan penel. kualitatif dlm ilmu sosial:
➢ Memunculkan aspek kemanusiaan dari phenomena sosial yg diteliti, yg sarat dg aspek interdisiplin ➢ Mengikutkan kearifan lokal dan kebij bottom-up ➢ Lebih jauh lagi: memungkinkan terjadinya proses knowledge creation. - Pentingnya Knowledge Creation
❑ Penelitian merupakan proses yang komplit: ➢ Knowledge creation ➢ Knowledge management ➢ Knowledge dissemination
❑ Dalam pendidikan diyakini bahwa knowledge (terutama tacit knowledge) diciptakan bukan ditransfer
❑ Knowledge creation dari penel. kualitatif: ➢ Penyatuan antara subjek dan objek → kebenaran ➢ Humanisasi ➢ Local wisdom
✓ Paradigm Shifts: Pembangunan yg Mengatasi Kemiskinan dan Ketimpangan - Perubahan Paradigma
❑ Masalah kemiskinan tetap ada dan orang miskin tetap banyak, bukan karena orang miskin tidak mau/bisa berubah, tetapi karena orang non- miskin enggan mengubah paradigmanya dalam melihat kemiskinan.
❑ Perlu paradigma baru dalam melihat kemiskinan yaitu dengan berbasis HAK, pendekatan induktif, sehingga kemiskinan dilihat sebagai phenomena yg multi-aspek, kontekstual, mengikutkan kearifan lokal, dan kental dengan aspek kemanusiaannya.
➢ Neo-classical approach: kemiskinan terjadi akibat distorsi pasar dan
diskriminasi. ▪ Akses yg luas terhadap kebutuhan dan infrastruktur dasar cukup untuk mengatasi kemiskinan bahkan yg bersifat kronis/struktural. ▪ Pemerintah diarahkan untuk sekedar memberdayakan pasar.
➢ Yang terjadi justru proses pemiskinan. System dan kebijakan ekonomi, sosial, hukum, politik justru memarjinalkan banyak masyarakat di lapisan menengah dan bawah.
❑ Right-Based Poverty (kemiskinan berbasis Hak)
➢ Orang miskin memiliki hak-hak dasar: ▪ Hak terhadap makanan yg bergizi ▪ Hak terhadap pendidikan dasar ▪ Hak terhadap pekerjaan yang layak ▪ dsbnya ➢ Kemiskinan terjadi karena hak dasar ini tidak diberikan atau malah dilanggar. - Perubahan paradigma dalam mendefinisikan kemiskinan dan penanggulangannya
- Kemiskinan dari berbasis kebutuhan menuju hak dasar
- Dua kasus pemberdayaan untuk mengatasi kemiskinan dan kedaulatan pangan: • Kasus 1: Program Keluarga Harapan (PKH/CCT): Pemberdayaan yg
❑ PKH adalah program kompensasi sosial yang sifatnya top-down, dan targeted.
❑ Memerlukan akurasi data agar terhindar dari inclusion&exclusion errors.
❑ Tetap, ada masalah:
❑ Tidak mudah menentukan penerima dan non.
❑ Menggerus social capital (keguyuban dan saling asah-asuh) yg ada di masyarakat.
❑ PKH adalah kompensasi/proteksi sosial berupa uang/cash yg bersifat top-down dan targeted.
❑ Diperlukan akurasi data yg luar biasa dgn dana besar utk menghindari inclusion dan exclusion errors.
❑ Namun, tetap saja ada masalah: ➢ Kenyataannya di lapangan tidak mudah mengidentifikasi yg berhak dan yg tidak berhak → data tetap tidak bisa akurat, ➢ Karena yg diberikan uang, berpotensi disalahgunakan dan manipulasi, ➢ Mengikis modal sosial (gotong-royong, kesatuan,
ketenteraman) dan melupakan modal spiritual (oneness, etika, dll) masyarakat di akar rumput
- SK-1: Mistargeting bbg top-down Targeted Subsidy Program
• KASUS 2: Pemberdayaan Keluarga Tani di Garut-Ciamis-Tasik(pemberdayaan yg bottom-up)
➢ Buruh tani / petani penggarap bukan pemilik tanah diberikan penyadaran tentang haknya akan tanah dan hak dasar lain (pendidikan, kesehatan) ➢ Memperjuangkan haknya secara bersama. ➢ Bermula dari tanah, banyak masalah bisa ➢ Buruh tani dan petani lahan sempit
disadarkan oleh LSM (Serikat Petani Pasundan) akan hak dasarnya (tanah, pekerjaan yg layak, pendidikan dan pelayanan Kesehatan dasar) ➢
Mereka secara ber kooperasi memperjuangkan hak dasar tersebut. ➢ Dimulai dengan akses terhadap lahan utk Bertani menghidupi keluarga dengan menanam tanaman yang menguntungkan (harga pasar jadi acuan). ➢ Kehidupan mereka terangkat (anak bs ke sekolah, wanita tdk perlu jd
TKW, rumah direnov, dsbnya). Government and others suppose to support these self efforts in eradicating poverty. ➢ Pemerintah dan pihak terkait lainnya (PTP, Perhutani, Swasta, Akademisi, dll) sudah selayaknya mendukung upaya perjuangan pemenuhan HAK dasar ini demi mengatasi kemelaratan yang kronis dari generasi ke generasi.
- Pendidikan Ilmu Ekonomi & Bisnis
➢ Mengikutkan aspek etika dan moral yg bersifat universal dalam body of knowledge nya, ➢ Tidak ada dikotomi antara subjek dan objek dalam penelitian dan pembelajaran utk memahami masyarakat, ➢ Kontekstual dimana ilmu tersebut dibangun dan diterapkan dgn memperhatikan aspek sosial, budaya,
lingkungan alam, dan kearifan lokal, ➢ Pendidikan yg menghasilkan peserta didik yg tercerahkan dengan bangunnya consciousness shg mengenali jati dirinya shg mengenali Tuhan (Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu) ➔ Lihat PPT “Apa Hakekat ...”
- Perguruan Tinggi sebagai Pusat Membangun Kebudayaan dan Peradaban ➢ Landasan nilai Pancasila: Ketuhanan-Kemanusiaan- Kesatuan-Kerakyatan-Keadilan
➢ Tiga pilar utama:
1. Karakter/Akhlak Mulia: → Melalui pembelajaran, learning experience, dan pelatihan dilakukan internalisasi nilai-nilai mulia sehingga terjadi perubahan perilaku (from the inside out).
2. Knowledge creation: → Bahwa ilmu belum jadi tapi harus diciptakan oleh peserta didik bersama fasilitator, secara induktif dan kontekstual dari kondisi di lapangan mengembangkan konsep/teori/model yg dpt diterapkan utk
kemaslahatan bagi orang banyak.
3. Awakened individuals:→ Peserta didik terbangun consciousness nya untuk memahami realita dan kebenaran sehingga mengerti akan tujuan hidup dan tanggung jawabnya, untuk selanjutnya mengenali Tuhan (awaluddin ma’rifatullah)
- PT Membangun Peradaban
❑ Memanfaatkan seluruh modal yg ada (fisik, uang, manusia, sosial, dan
spiritual) secara bijak dan tepat dengan sistem pendidikan, pembangunan nasional diarahkan untuk membangun manusia dan masyarakat seutuhnya untuk berbudaya luhur dengan peradaban tinggi.
❑ Pendidikan diarahkan agar proses pembelajaran menghasilkan lulusan yg secara: ➢ Kognitif: memahami permasalahan ekonomi-sosial-ekologi di masyarakat, ➢ Afektif: berempati merasakan penderitaan masyarakat banyak sehingga punya keberpihakan yang jelas, serta ➢ Psikomotor: mau bertindak untuk memajukan kesejahteraan umum yang berkeadilan dan yang
berkesinambungan.
Sesi 9: Islamic Development Economics: An Inquiry Into Scientific and Truthful Meaning of Development
✓ Pondasi Maqashid Sharia dan Pembangunan yang Spiritual - Spriritual Development
➢ Perbedaan utama antara ilmu ekonomi pembangunan Islam dan konvensional terletak pada aspek spiritualitas. ➢ Spiritualitas artinya ihsan, yang merupakan aspek pertama dari maqhasid saria ➢Ihsan dalam pembangunan berarti dalam proses pembangunan (mulai dari pendefinisian tujuan, hingga monitoring dan evaluasi) kita semua bersama Tuhan Yang Maha Esa.
Al-Quran:91/Asy-Syams:7-10
Dan jiwa serta penyempurnaannya (7). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaannya (8). Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (9). Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10).
➢ Spiritualitas (kita selalu bersama Tuhan Yang Maha Esa) dapat dicapai melalui tazkiyatun nafs. ➢Pertumbuhan: Pertumbuhan spiritualitas yang dapat mendorong pemeliharaan bumi (“pemakmuran bumi”). ➢ Kemiskinan: Al-Ghazali di Ihya menyatakan bahwa ada dua jenis kemiskinan: 1. Kurangnya hak materialistik manusia (“kebutuhan dasar”). 2. Kurangnya hak
spiritualitas manusia. ➢ Ketidaksamaan: Spiritualitas melalui moral dan etika distribusi langsung pendapatan dan produksi untuk keadilan sosial. ➢ Dalam praktik, spiritualitas, sehingga keadilan, moral, dan etika penting dalam ekonomi pembangunan Islam.
- SPIRITUALITAS: Oneness/Tauhid/...
• Keesaan (Kristen) / tauhid (Islam) / tat-twam-asi (Hindu) / esho-funi (Budha) / ... semua agama mengajarkan spiritualitas.
- Tauhid: Tuhan adalah realitas tertinggi.
- Tat-tvam-asi: Anda adalah itu atau itu Anda (diri tidak terpisahkan atau identik dengan Realitas Tertinggi)
- Esho-funi: kesatuan diri dan lingkungan
- ... • “Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia, tetapi selama ini kita salah memperlakukan diri kita sendiri sebagai manusia yang memiliki pengalaman spiritual”.
- SPIRITUALITAS: Manusia (Mind-Body- Spirit) • Mind-Body-Spirit:
➢ Hakekatnya : AIR ➔ RUH → tdk punya bentuk ➢ Botolnya ➔ JASMANI → punya bentuk fisik ➢ Rasa&warna air ➔ JIWA → perasaan & pikiran
Mind & Body inilah yg mengungkung manusia sehingga tdk memiliki kesadaran ruhiyah yg memadai.
Pemenuhan kebutuhan Mind&Body yg tak henti2nya ingin dipuaskan telah mengakibatkan manusia tdk menemukan kebahagiaan dan kedamaian dlm hidupnya
Makanya perlu diupayakan awakening diri yg sejati yaitu kesadaraan ruhiyah. - SPIRITUALITAS: HOW can we be?
➔ Self Knowledge
• Semua orang saleh dan bijak menyarankan pengetahuan diri sebagai
pengetahuan penting bagi setiap orang • Tanpa pengetahuan yang benar tentang satu diri, dia akan rugi dalam hidupnya, tidak tahu arti hidup dan dengan demikian tidak dapat memimpin dirinya hidup untuk tujuan akhir hidup. • Tanpa
mengetahui jati diri kita, kita tidak dapat menggunakan semua dan pemberian yang berlimpah dari Tuhan untuk mencapai tujuan kita dalam hidup ini. • Dengan mengetahui jati diri kita, kita tahu: - Dari mana kita datang, - Siapa kita
sebenarnya, - Mengapa kita ada di dunia ini, dan - Ke mana kita akan pergi. - SPIRITUALITAS: Spiritual Thinking
• = Budaya pemikiran kita dalam kaitannya dengan spiritualitas. • Pandangan dunia spiritual (non-sekuler), • Rasionalitas = berpikir + perasaan + kontemplasi • Inklusif, empati, dan cinta • Kebebasan = bebas dari banyak keterikatan dunia • Kebahagiaan = lebih dekat dengan Yang Maha Bahagia (Tuhan).
- Spiritualitas = Ihsan dalam Islam
• Spiritualitas dalam Islam tak lain adalah ihsan (An-ta'bu dullaaha kaannaka taraahu, fain-lam taraahu fa-innahu Yaraaka = “Engkau mengabdi/ibadah kepada Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu”) [HR. Bukhari]. • Ilmunya adalah Tasawuf dan dipraktekkan dg ber tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). • Spiritualitas Islam tergambar dari akhlak nabi Muhammad SAW: ➢ Secara vertikal: selalu beserta dan bergantung segala sesuatu kepada kehendak Allah SWT, lahir dan batin; ➢ Secara horizontal:
❖Sikap diri yg selalu hidup secara zuhud (tdk hanyut dengan dunia); qonaah (merasa cukup dengan nikmat Allah); sabar (menerima segala ketentuan Allah); dan tawakkal (berserah diri pada Allah).
❖Sikap sosial yg selalu berupaya membangun, mencerdaskan, danmensejahterakan umatnya.
- Spiritualitas vs Religiusitas
• Perlu dibedakan antara religiusitas dan spiritualitas.
➢ RELIGIUSITAS mengacu kepada kepatuhan pada aturan agama, menjalankan perintah dan menghindari larangan (➔ aspek syariah).
➢ SPIRITUALITAS mengacu kepada kesadaran ruhiyah seseorang tentang siapa dirinya yg sebenarnya, dari mana asalnya, apa tujuan hidupnya di dunia, dan kemana ia akan berlabuh (➔ aspek tasawuf)
- Syarat Amal Diterima, (a) Amal Saleh (Aspek Syariah) & (b) Ikhlas (Aspek Tasawuf)
- IKHLAS: KEUTAMAANNYA (HR)
- Nabi SAW ber Akhlak Mulia
➢ Muhammad SAW berakhlak sngt mulia: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah orang yang berakhlak sangat mulia”. (QS. Al-Qalam/68:4).
➢ Misi utama Nabi SAW menyempurnakan akhlak “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Ahmad 2/381)
➢ Tujuan perbuatan/akhlak manusia adalah mendapatkan ridha Allah SWT, sehingga akhlakul karimah bukanlah tujuan, tetapi justru jalan/alat mencari ridha Allah.
➢ Berakhlak baik harus diupayakan dan dilatih melalui proses penyucian jiwa (dzikir kalbi) yaitu bermujahadah dan riyaddah.
➢ Pelaksanaan ekonomi haruslah dg akhlak mulia dari para pelakunya dan sistem dibuat agar merealisir hal tsb
- Necessary & Sufficient Conditions untuk IEI
• Berekonomi hakekatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridho Nya (Illahi anta maqsudi wa ridhaka mathlubi = Hanya Allah yg aku tuju dan ridho Nya yg kuharap).
• Ilmu ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi non riba sesuai ketentuan syariah (necessary condition) + – Diniatkan semata-mata karena Allah (ikhlas), dan – Dilaksanakan dengan akhlak mulia (good conduct).
• Ikhlas dan akhlak mulia adalah sufficient condition, dan dipelajari dalam ilmu tasawuf untuk mencapainya.
✓ Ilmu Ekonomi Islam Untuk Pembangunan - IEIuP: Riba adalah Akar Masalah
➢Sistem keuangan dunia yg ribawi telah mengokohkan perekonomian berutang bagi semua negara tak terkecuali dan juga bagi individu2 di dalam negara. ➢Sistem perdagangan dunia yg tidak adil, menciptakan ketergantungan bagi NM&NSB shg dikondisikan tetap miskin dan ttp berkembang. ➢Kedua hal ini telah menciptakan berbagai malapetaka kemanusiaan, krisis utang global berkali-kali, dan pengrusakan lingkungan alam.
- IEIuP: Paradigma pembangunan mengatasi kemiskinan
• Pembangunan sejatinya adalah membangun manusia selanjutnya komunitas dan masyarakat, serta Bangsa. – Manusianya di manusiakan menjadi bermartabat dan diperkuat nilai-nilai luhurnya → spiritual beings – Komunitas dan masyarakat yang kuat bergotongroyong berbudaya – Bangsa yang beradab.
• Kemiskinan berbasis hak (poverty right based). ➔ Pembangunan perdesaan adalah membangun warga, keluarga dan masyarakat (komunitas) desa yg terutama adalah petani dan nelayan dengan pengembalian hak.
- IEIuP: Kemiskinan di Pedesaan
• Kemiskinan yg ada di perdesaan juga akibat imbas masuknya ekonomi ribawi dari luar desa. • Perlu dipahami betul penyebab kemiskinan di perdesaan yang terutama tjd pada kelumpok buruh tani-nelayan dan petani-nelayan gurem. • Pembangunan bersifat urban-bias, merugikan desa. • Kemiskinan terjadi karena hak dasar petani-nelayan dirampas atau tidak dikembalikan. • Perjuangan pengembalian hak, sebagai solusi.
- IEIuP: Kurangnya pemahaman tentang siapa yang miskin di desa
• Pemahaman tentang petani-nelayan gurem dan buruh tani-nelayan perlu diseriusi, tidak sekedar dari angka/jumlahnya yg besar, namun wajah dan nature nya harus lebih dihayati. • Kemiskinan buruh tani/nelayan dan gurem inilah yg merupakan kunci penyebab upaya penanggulangan kemiskinan melambat bahkan ketimpangan meningkat.
- Solusinya: Pengembalian hak dasar petani/nelayan miskin
• Mewujudkan Reforma agraria sesuai UU Pokok Agraria no.60 thn.1960 → hak lahan bagi petani. • Penyediaan sarana produksi dan pemasaran secara kolektif (kelompok/kooperasi). • Sekolah dan pendidikan untuk anak-anak petani- nelayan. Misal, SMK-Pertanian di perdesaan. • Pelayanan kesehatan dasar terutama bagi ibu&anak.
- Pemberdayaan Berbasis Komunitas: Perjuangan hak demi keadilan
• Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangadaran: Priangan/Parahiyangan yg subur. • Thn 2000 awal Serikat Petani Pasundan (SPP) bersama eks buruh kebun mlkkn reclaiming lahan PTPN dan Perhutani (HGU expd) sbg perjuangan hak. • Dgn lahan < 1⁄4ha, cukup utk menghidupi keluarga, anak2 bisa sekolah tdk ikut ke kebun, wanita tdk perlu TKW, rumah bs direnov. • Stlh ada hasil, jeratan utang ke bandar shg ijon. • Sekolah >SD jauh dan tdk terjangkau. ➔ Perjuangan keadilan dan hak pendidikan
- Pemberdayaan Berbasis Komunitas: Pendidikan
• Hak pendidikan bagi anak2 petani di desa hingga jenjang SMK Pertanian • Kurikulum yg dibutuhkan untuk memakmurkan desa: – Pengetahuan bertani yg semi-moderen dg teknologi tepat- guna dan mengolah hasil menjadi setengah jadi; – Pengetahuan administrasi dan keuangan moderen untuk mengelola
pemerintahan desa yg lebih efisien dan – Pengetahuan lainnya yang dapat membuka lapangan usaha dan kerja di desa (menjahit, reparasi motor &
elektronik, tata boga, dll) • Sesuai dg peruntukan Dana Desa utk vocational ed’n. - Pemberdayaan Berbasis Komunitas: Kooperasi
• Kooperasi penyediaan sarana produksi pertanian (bibit, pupuk, pengairan, dll) dan pengolahan hasil pertanian (penggilingan padi, dodol&gula aren, dll). • Kooperasi pemasaran hasil pertanian dan hasil olahannya → menjual lgsg ke konsumen (?blockchain?). • Kooperasi mengelola lumbung padi untuk ketahanan pangan lokal. • Sesuai peruntukan Dana Desa utk “Lumbung Ekonomi Desa”.
Sesi 10: Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pertumbuhan Ekonomi - Pengertian Umum Kemiskinan
• World Bank:
– World Dev’t Report (1990): Ketidakmampuan mencapai taraf hidup minimal [Ketidakmampuan memenuhi standar hidup minimal]
- World Dev’t Report (2000/2001): Perampasan kesejahteraan [Kesenjangan dari hidup yang sejahtera]
- World Bank (2004): “Kemiskinan adalah kelaparan. Kemiskinan adalah kurangnya tempat tinggal. Kemiskinan adalah sakit dan tidak bisa ke dokter. Kemiskinan adalah tidak memiliki akses ke sekolah dan tidak tahu cara membaca. Kemiskinan bukanlah memiliki pekerjaan, adalah ketakutan akan masa depan, hidup sehari demi hari. Kemiskinan adalah kehilangan seorang anak karena penyakit yang disebabkan oleh air yang tidak bersih. Kemiskinan adalah ketidakberdayaan, kurangnya representasi dan kebebasan. "
• United Nation (2001): Kurangnya kemampuan dasar untuk hidup bermartabat [Ketiadaan kemampuan yang mendasar untuk hidup layak]
• BPS (2000): Pendekatan kebutuhan dasar, kecukupan kalori (2100 kcal/cap/hari) dan non-makanan
• BKKBN (1999): Pendekatan kesejahteraan keluarga (ibadah,makan 2x, pakaian, rumah, sarkes), kel prasejahtera dan sejahtera I.
- Kemiskinan Absolut & Relatif
• Semua definisi di atas merujuk ke kemiskinan absolut, – yaitu status
kesejahteraan seseorang yang secara materi berada di bawah suatu batas minimal tertentu. Batas minimal tsb disebut garis kemiskinan (GK) yaitu nilai uang dari semua barang dan jasa (excl. public goods) sebagai standar hidup
• Garis kemiskinan berguna untuk mengkla sifikasikan individu atau RT miskin dan tidak miskin – Dengan diketahui tingkat kesejahteraannya (Y), maka bila Y<GK→ miskin, sebaliknya bila Y>=GK→ tidak miskin
• Bila status ekonomi/kesejahteraan seseorang dibandingkan dgn orang lain, Ini dinamakan Analisa kemiskinan relatif atau distribusi pendapatan atau pemerataan • Ada beberapa analisa distribusi pendapatan: – “Functional distribution of income”: based on factor shares – “Size distribution of income”: based on the size/level of income
- Kemiskinan Multidimensi
• Kemiskinan dan pemerataan memiliki pengertian yang bersifat multidimensi (ekonomi, sosial, politik, budaya, dsb)
– Ekonomi: insufficient of income, nutrition, home, cloth – Sosial: lack of soc. relation/keterasingan, insecurity – Politik: powerlessness, tiada perwakilan politik – Budaya: low self esteem, low literacy/education
• Indikator kesejahteraan: moneter dan non-moneter – Indikator moneter: pendapatan vs konsumsi
– Indikator non-moneter: morbidity, rasio pddk/dokter, literacy rate, school enrollment, mallnutrition, dan aspek non-ekonomi lain yg tidak mudah dikuantifisir
– Indeks komposit: kombinasi indikator non dan moneter (misal: Indeks Pembangunan Manusia/HDI)
- Indeks pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) • Komponen IPM:
• Rumus :
- Ukuran Kemiskinan
• Setelah ukuran kesejahteraan dipilih dan GK ditetapkan, ukuran kemiskinan dengan mudah dihitung. • Perlu diketahui beberapa ukuran kemiskinan yg lazim digunakan • Dalam setiap tahapan perencanaan (planning, documenting,
implementing, dan monitoring) diperlukan besaran kuantitatif • Diperlukan ukuran yg operasional dengan ketersediaan data yg dapat mengambarkan poverty
incidence, poverty deficit dan poverty severity
• Ukuran poverty incidence: – Menggambarkan prevalensi kemiskinan dalam suatu masyarakat – Namun: independen dari jurang/degree kemiskinan, secara implisit mengasumsikan distribusi yang merata antar si miskin, antar waktu tdk terdeteksi transfer dari si miskin si kaya
• Ukuran poverty gap: – Mengukur seberapa jauh jurang pendapatan si miskin dari GK. Sehingga bisa di hitung jumlah subsidi yg dibutuhkan untuk mengentaskan si miskin – Namun: tidak tergambar jumlah si miskin, dan tidak terdeteksi distribusi antar si miskin yang lebih timpang.
• Ukuran poverty severity: – Mengukur seberapa parah kemiskinan yang terjadi dengan memberi bobot yg lebih tinggi bagi poverty gap yg lebih miskin
dibandingkan yg kurang miskin. – Namun: tidak tergambar jumlah si miskin. - Indeks Foster-Greer-Thorbecke (FGT)
• Rumus umum:
- Contoh Perhitungan Indeks FGT
- Garis Kemiskinan Internasional
Untuk membandingkan antar negara, WB dan bbrp organisasi internasional menggunakan garis kemiskinan $1 PPP per-capita per-day
(extreme/ultra poor). Juga digunakan $2 dan $4 PPP untuk menangkap near-poor. Walaupun sederhana dan mudah digunakan one dollar poverty line yg didasarkan pada kondisi di tahun 1993, sebenarnya tidak memiliki dasar teori yg kuat.
Sejak tahun 1996 digunakan $1.075, $2.15, & $4.30 Sejak tahun 2005 digunakan $1.25, $2.50, & $5.00
- Ukuran Ketimpangan (Distribusi Pendapatan) Kurva Lorenz:
Rumus indeks Gini:
Range 0≤GI≤1, Distribusi timpang bila GI>0,5; distribusi moderat 0,3≤GI≤0,5 - CONTOH PERHITUNGAN
Indeks Gini:
GI = 1 – 0,684 = 0,316 Indeks Gini:
Kurva Lorenz:
GI = 1 – 0,5881 = 0,4119 - Hubungan Poverty-Growth-Inequality
• Sementara penanggulangan kemiskinan telah menjadi agenda utama
pembangunan di NSB, perdebatan tajam masih berlangsung perihal elemen yg sebaiknya ada dalam strategi penanggulangan kemiskinan
• Penanggulangan kemiskinan dalam suatu negara didefinisikan sebagai fungsi dari perubahan2 dalam income rata-rata dan dalam distribusi pendapatan.
• Ada beberapa kesepakatan umum (ttg hubungan poverty-growth- inequality): – Pertumbuhan merupakan syarat dasar bagi penanggulangan kemiskinan dan secara prinsipil pertumbuhan ini tidak mempengaruhi pemerataan – Pertumbuhan yang diikuti dengan perubahan progresif dalam distribusi pendapatan lebih baik dari pada pertumbuhan tanpa ini – Ketidakmerataan yang tinggi pada saat awal akan menahan penurunan tingkat kemiskinan – Kemiskinan itu sendiri menciptakan
barier bagi pengurangan kemiskinan dan ketidakmerataan pemilikan asset menghalangi pengurangan tingkat kemiskinan di masa depan
- Pertumbuhan yang Pro-Poor
• Ada dua jenis pendefinisian pro-poor growth:
– Secara relatif: Klasen (2004), Kakwani &Pernia (2000) mendefinisikan pro- poor growth bila pertumbuhan pendapatan yg miskin lebih besar dari pada yang tidak miskin. • Secara tidak langsung pertumbuhan yg seperti ini memperbaiki distribusi pendapatan • Namun mungkin pertumbuhan ekonomi tidak optimal (sub-optimal), karena masyarakat yg ingin mencapai pro-poor growth akan memilih pertumbuhan rata-rata 5% dimana income yg miskin tumbuh 4% ketimbang pertumbuhan rata-rata 7% dan yg miskin incomenya tumbuh 2%. • Bahkan kontraksi (growth negatif) bisa diartikan pro-poor, dimana yg miskin incomenya tumbuh -2% sedangkan yg tidak miskin -4%
– Secara absolut: Ravallion & Chen (2003), Kraay (2003). mendefinisikan pro- poor growth sebagai pertumbuhan yang mengurangi jumlah kemiskinan atau growth dikatakan pro-poor jika dan hanya jika orang miskin memperoleh keuntungan secara absolut, seperti terlihat dari penurunan tingkat kemiskinan - Pengukuran Pro-Poor Growth
• Ukuran Agregat: – Growth incidence curve (GIC) – Dekomposisi growth dan inequality
• Ukuran Absolut: – Growth elasticity of poverty rate – Rate of pro-poor growth • Ukuran Relatif: – Povery Bias of Growth (PBG) – Pro-Poor Growth Index (PPGI) – Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR) – Poverty Growth Curve (PGC)
• Growth Incidence Curve: – Kurva yg menghubungkan growth (vertical) dan kelompok penduduk menurut persentil (horizontal) dengan garis mean/median growth rate sebagai patokan rata-rata – Dengan memperhatikan apakah kurvanya memotong garis rata-rata dan naik dari kiri bawah ke kanan atas atau turun dari kiri atas ke kanan bawah dapat disimpulkan apakah pertumbuhan sepanjang periode tsb pro-poor atau tidak – Untuk membuat kurva ini diperlukan dua time period, misalnya untuk Indonesia bisa digunakan data konsumsi tahun 1990 dan 1999 – Lalu penduduk diurut berdasarkan konsumsi perkapita dan dikelompokkan menjadi 100 group (persentil)
Sumber: Making the New Indonesia Work for the Poor (Worldbank 2006)
- Semakin Tdk Pro-poor: Growth GIC Indonesia 1994-1999, 1999-2004, 2004-2009, dan 2009-2014
Sumber: BPS, Susenas berbagai tahun (dihitung sendiri) - Pengukuran Pro-Poor Growth
• Growth Elasticity of Poverty: – Dapat pula dihitung elastisitas pertumbuhan total dari kemiskinan (𝜀)
(𝜀) adalah % perubahan poverty head count (H) antara dua periode waktu akibat perubahan 1% mean income μ (pertumbuhan). Total growth elasticity ini akan rendah pada negara-negara. dengan tingkat kesenjangan tinggi dan tingkat pertumbuhan rendah
- Kebijakan Pembangunan untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Ketimpangan Dist. Pendapatan
• Sejarah pembangunan di Indonesia menunjukkan: – 1960-1965: Orla melalui Perencanaan Nasional Berencana Delapan tahun (Penasbede) memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan pokok (sandang-pangan-papan) rakyat – 1970-1997: Orba melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita):
• Repelita I-IV: Program sektoral dan regional untuk penanggulangan kemiskinan dan pemerataan
• Repelita V-VI: Sinergi program reguler (sektoral-regional) dan akhirnya muncul dengan Inpres Desa Tertinggal (Inpres 3/1993) – 1998-sekarang: Jaring pengaman sosial (raskin, kartu miskin) melalui Keppres no.190/1998 – 2006 (terakhir) Pemerintah mencanangkan program pemberdayaan masyarakat secara Nasional - PEMBANGUNAN
• Pembangunan Nasional dan Daerah sering diartikan sebagai pembangunan infrasruktur, gedung, jembatan, jalan, pasar, pengadaan barang dan berbagai kebutuhan masyarakat.
• Pemb cenderung memarjinalisasi penduduk, terutama pddk lokal, menggusur mereka dari lahannya, dan menciptakan berbagai enclave yg berbeda jauh dari kondisi lokal.
• Pemb spt ini dehumanizes manusia mjd angka2 spt PDRB/kap, pertumbuhan, penurunan angka kemiskinan, dsbnya. Angka2 ini menyesatkan kita dari makna hakiki pembangunan.
- Pendidikan: Konsep Membangun
❑ Perubahan paradigma pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan (’50s-’10s): ➢ Pembangunan: dari growth oriented → basic needs → growth w/ equity → welfare → sustainable dev’t → pro-poor growth → inclusive growth ➢ Bantuan sosial: dari commodity subsidy ke direct transfer ➢ Pemberdayaan masyarakat: lebih bersifat partisipatori: community driven development (CDD).
- PEMBANGUNAN NASIONAL & DAERAH
• Pembangunan mrpk proses pembudayaan menuju masyarakat yang lebih beradab (civilized society)
• Pembangunan mestinya inklusif: seluruh elemen masyarakat berpartisipasi dlm pembangunan dan memperoleh manfaat dari pemb tsb.
• Pemb mengikutkan kearifan okal (local wisdoms)
• Pemb memanfaatkan tidak hanya physical capital (land, labor, machine), financial capital, dan human capital (skill, education), tp jg social capital (networks, cooperation, gotong-royong) dan spiritual capital (oneness/tauhid, etika, moral)
• In simple words: “ ND is to humanize the society” - PENTINGNYA KNOWLEDGE CREATION
❑ Penelitian merupakan proses yang komplit: ➢ Knowledge creation ➢ Knowledge management ➢ Knowledge dissemination
❑ Dalam pendidikan diyakini bahwa knowledge (terutama tacit knowledge) diciptakan bukan ditransfer
❑ Knowledge creation dari penel. kualitatif: ➢ Penyatuan antara subjek dan objek → kebenaran ➢ Humanisasi ➢ Local wisdom
✓ Kita tidak bisa mengubah orang lain. Yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.
- PERUBAHAN PARADIGMA
❑ Masalah kemiskinan tetap ada dan orang miskin tetap banyak, bukan karena orang miskin tidak mau/bisa berubah, tetapi karena orang non- miskin enggan mengubah paradigmanya dalam melihat kemiskinan.
❑ Perlu paradigma baru dalam melihat kemiskinan yaitu dengan berbasis HAK, pendekatan induktif, sehingga kemiskinan dilihat sebagai phenomena yg multi-aspek, kontekstual, mengikutkan kearifan lokal, dan kental dengan aspek kemanusiaannya.
❑ Beyond neo-classical approach on poverty
➢ Neo-classical approach: kemiskinan terjadi akibat distorsi pasar dan
diskriminasi. ▪ Akses yg luas terhadap kebutuhan dan infrastruktur dasar cukup untuk mengatasi kemiskinan bahkan yg bersifat kronis/struktural. ▪ Pemerintah diarahkan untuk sekedar memberdayakan pasar.
➢ Yang terjadi justru proses pemiskinan. System dan kebijakan ekonomi, sosial, hukum, politik justru memarjinalkan banyak masyarakat di lapisan menengah dan bawah.
❑ Right-Based Poverty (kemiskinan berbasis Hak)
➢ Orang miskin memiliki hak-hak dasar: ▪ Hak terhadap makanan yg bergizi ▪ Hak terhadap pendidikan dasar ▪ Hak terhadap pekerjaan yang layak ▪ dsbnya ➢ Kemiskinan terjadi karena hak dasar ini tidak diberikan atau malah dilanggar. - DIPERLUKAN PERUBAHAN PARADIGMA
Sumber: Boesen dan Martin (2007). - KASUS1 PKH/CCT: Pemberdayaan yg top-down
❑ PKH adalah program kompensasi sosial yang sifatnya top-down, dan targeted. ❑ Memerlukan akurasi data agar terhindar dari inclusion&exclusion errors. ❑ Tetap, ada masalah:
❑ Tidak mudah menentukan penerima dan non.
❑ Mengurangi social capital (keguyuban dan saling asah-asuh)yg ada di masy.arakat.
Source: Computed using Susenas-Core-Panel March 2008 and 2009. - Kasus I: Mistargeting bbg top-down Targeted Subsidy Program
Source: Computed using Susenas-Core-Panel March 2008 and 2009.10 - Case 1: PKH vs Self Targeted Subsidy Program
❑ Income and own-price elasticities of demand for education and health care (Susenas Panel 2008 & Podes 2008):
Source: Moeis (forthcoming)
- KASUS 2: Pemberdayaan Keluarga Tani di Garut-Ciamis-Tasik (pemberdayaan yg bottom-up)
➢ Buruh tani / petani penggarap bukan pemilik tanah diberikan penyadaran tentang haknya akan tanah dan hak dasar lain (pendidikan, kesehatan) ➢ Memperjuangkan haknya secara bersama.
➢ Bermula dari tanah, banyak masalah bisa terselesaikan.
✓ Peran Pendidikan dalam Pembangunan dengan Memanfaatkan Kearifan Lokal - Perguruan Tinggi sebagai Pusat Membangun Peradaban
➢ Landasan nilai UI: Kebenaran-Kejujuran-Keadilan (veritas-probitas-iustitia) ➢ Tiga pilar utama:
1. Karakter/Akhlak Mulia: → Melalui pembelajaran, learning experience, dan pelatihan dilakukan internalisasi nilai-nilai mulia sehingga terjadi perubahan perilaku (from the inside out).
2. Knowledge creation: → Bahwa ilmu belum jadi tapi harus diciptakan oleh peserta didik bersama fasilitator, secara induktif dan kontekstual dari kondisi di lapangan mengembangkan konsep/teori/model yg dpt diterapkan utk
kemaslahatan bagi orang banyak.
3. Awakened individuals: → Peserta didik terbangun consciousness nya untuk memahami realita dan kebenaran sehingga mengerti akan tujuan hidup dan tanggung jawabnya, untuk selanjutnya mengenali Tuhan (awaluddin ma’rifatullah)
- Pendidikan Ekonomi & Keuangan
➢ Mengikutkan aspek etika dan moral yg bersifat universal dalam body of knowledge nya,
➢ Tidak ada dikotomi antara subjek dan objek dalam penelitian dan pembelajaran utk memahami masyarakat,
➢ Kontekstual dimana ilmu tersebut dibangun dan diterapkan dgn memperhatikan aspek sosial, budaya, lingkungan alam, dan kearifan lokal,
➢ Pendidikan yg menghasilkan peserta didik yg tercerahkan dengan bangunnya consciousness shg mengenali jati dirinya shg mengenali Tuhan (Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu)
- PT Membangun Peradaban
- Stand-point dalam Pembangunan dan Penanggulangan Kemiskinan
❑ Menyadari perlunya mengantisipasi dan memanfaatkankan Bonus Demografi secara tepat dengan sistem pendidikan yg benar agar jumlah pddk usia produktif yg besar tdk mjd bumerang,
❑ Pendidikan diarahkan agar proses pembelajaran menghasilkan lulusan yg secara: ➢ Kognitif: memahami permasalahan ekonomi-sosial- ekologi di masyarakat, ➢ Afektif: berempati merasakan penderitaan masyarakat banyak sehingga punya keberpihakan yang jelas, serta ➢ Psikomotor: mau bertindak untuk memajukan kesejahteraan umum yang berkeadilan dan yang
berkesinambungan. - Memaknai Pembangunan
• Pembangunan dimaknai sebagai pembangunan manusia yang seutuhnya dengan “memanusiakan manusia”
Pembangunan kebudayaan dengan memperkuat dan menanamkan nilai-nilai keIndonesiaan (nasionalisme, kebangsaan, persatuan, kedaulatan,
kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, kebebasan, dan kerakyatan.
• Pembangunan tidak hanya memanfaatkan secara benar dan berkesinambungan modal fisik (lahan, TK, mesin), modal finansial, dan modal manusia (keahlian, pendidikan, dan kewirausahaan), tetapi juga modal sosial (jejaring, gotong-royong, tenggang- rasa, keterikatan, dll) dan modal spiritual (oneness/ketauhidan, nilai moral dan etika yg baik).
- Pendidikan Ekon & Keu
• Pendidikan yang menanamkan makna pembangunan dan nilai-nilai ke Indonesiaan melalui pembelajaran yang kontekstual dan induktif.
• Ungkapan China: – Jika siswa diajari materi pelajaran , dia pasti akan lupa – Jika siswa belajar sendiri materi tsb, dia pasti ingat – Jika siswa melakukan aktifitas sesuai dengan materi tsb, dia akan paham
• Perlu digali ilmu dari para leluhur yang tetap dan semakin relevan hingga saat ini. Ilmu ini yang sebenarnya dikaruniakan dan diridhai Tuhan YME bagi kita, bukan ilmu moderen yang kita “oper” dari luar (Barat).
Sesi 11: Analisa Kemiskinan, Ketimpangan, dan Pertumbuhan (LAB-1: Penelitian Pengolahan dan Analisis Data)
- Ukuran Kemiskinan
• Ukuran poverty incidence (P0): – Menggambarkan prevalensi kemiskinan dalam suatu masyarakat – Namun: independen dari jurang/degree kemiskinan, secara implisit mengasumsikan distribusi yang merata antar si miskin, antar waktu tdk terdeteksi transfer dari si miskin si kaya
• Ukuran poverty gap (P1): – Mengukur seberapa jauh jurang pendapatan si miskin dari GK. Sehingga bisa di hitung jumlah subsidi yg dibutuhkan untuk mengentaskan si miskin – Namun: tidak tergambar jumlah si miskin, dan tidak terdeteksi distribusi antar si miskin yang lebih timpang.
• Ukuran poverty severity (P2): – Mengukur seberapa parah kemiskinan yang terjadi dengan memberi bobot yg lebih tinggi bagi poverty gap yg lebih miskin dibandingkan yg kurang miskin. – Namun: tidak tergambar jumlah si miskin. - Indeks Foster-Greer-Thorbecke (FGT)
- Contoh Perhitungan Indeks FGT
- Garis Kemiskinan Internasional
Untuk membandingkan antar negara, WB dan bbrp organisasi internasional menggunakan garis kemiskinan $1 PPP per-capita per-day
(extreme/ultra poor). Juga digunakan $2 dan $4 PPP untuk menangkap near-poor. Walaupun sederhana dan mudah digunakan one dollar poverty line yg didasarkan pada kondisi di tahun 1993, sebenarnya tidak memiliki dasar teori yg kuat.
Untuk tahun 1996 digunakan $1.075, $2.15, & $4.30 Untuk tahun 2005 digunakan $1.25, $2.50, & $5.00 Untuk tahun 2011 digunakan $1.90; $3.20; & $5.50 - UKURAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Kurva Lorenz:
Range 0≤GI≤1, Distribusi timpang bila GI>0,5; distribusi moderat 0,3≤GI≤0,5 - CONTOH PERHITUNGAN
- Hubungan Poverty-Growth-Inequality
• Pertumbuhan-Kemiskinan-Pemerataan merupakan trilogi pembangunan yang dari awal diperhatikan, diperbincangkan hubungannya, dan menjadi acuan. • Pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi harapannya akan mengurangi kemiskinan dan sekaligus memeratakan distribusi pendapatan. • Orientasi awal pembangunan yg “growth oriented” selain mengejar ketinggalan, juga diharapkan ada proses trickle down effect sehingga mengurangi kemiskinan dan mengurangi ketimpangan. • Selanjutnya diyakini bahwa necessary condition untuk poverty eradication adalah growth.
Sumber: Making the New Indonesia Work for the Poor (Worldbank 2006) - Semakin Tdk Pro-poor: Growth GIC Indonesia 1994-1999, 1999-2004,
2004-2009, dan 2009-2014
Sumber: BPS, Susenas berbagai tahun (dihitung sendiri)
- Pendahuluan: Research
• Apa yg dimaksud dengan “Penelitian”? –Penelitian bukanlah sekedar pengumpulan informasi, missal dari berbagai buku atau majalah, karena tidak menyumbang bagi pengetahuan baru –Penelitian juga bukan sekedar mentransfer fakta-fakta dari satu sumber ke sumber yg lain, karena tidak memiliki kontribusi thdp ilmu
• Penelitian adalah: “...the systematic process of collecting and analyzing information (data) in order to increase our understanding of the phenomenon about which we are concerned or interested.” [...proses yg sistematis dalam pengumpulan dan penganalisaan data/info untuk tujuan meningkatkan pemahaman tentang phenomena yang menjadi perhatian]
- Karakteristik Penelitian
1. Berawal dari pertanyaan atau masalah Mengapa terjadi kemiskinan? Penelitian ttg kandungan kimia air minum karena banyak kasus keracunan
2. Memerlukan artikulasi yg jelas ttg tujuan Mencari faktor penyebab kemiskinan di komunitas A
3. Mengikuti suatu rencana dan prosedur tertentu Menggunakan metode kuantitatif, kualitatif atau kombinasi
4. 4.Biasanya main problem dijabarkan dalam beberapa sub problems Mengapa mereka tidak mendapat pekerjaan yg baik? Mengapa mereka meminjam ke rentenir dgn syarat pinjaman berat? Mengapa mereka tidak menggunakan jasa pelayanan sosial (sekolah, puskesmas, dsbnya)?
5. Penelitan diarahkan oleh suatu pertanyaan, problem atau hipotesa tertentu Hipotesa1: Mereka miskin karena terjerat oleh rentenir
Hipotesa2: Mereka miskin karena tanah yg kering dan tdk subur 6. Menggunakan asumsi-asumsi tertentu
Asumsi: Kemiskinan diartikan secara absolut dengan patokan kesejahteraan secara ekonomi
7. Memerlukan pengumpulan fakta/data dan menginterpretasikannya Pengumpulan data sekunder maupun primer dan mengolah serta menganalisanya.
8. Pada dasarnya bersifat cyclical (helical) Pengujian hipotesa dilakukan berulang-ulang hingga mendapatkan jawaban yg memuaskan tentang penyebab kemiskinan
- Research & Scientific Method
• Metode riset adalah: The process of sciences - "The way one gets at the truth.“ • Inductive reasoning: Dari kejadian yg spesifik yg menjadi perhatian
menghasilkan hipotesa yg bersifat umum
• Deductive reasoning: Dari hipotesa yg bersifat umum diuji
• Dalam implementasinya, penelitian merupakan keseluruhan dari scientific method mulai dari perumusan masalah dgn melakukan observasi hingga membangun teori dan hukum baru.
• Permasalahan dapat timbul dari: – Observasi (kejadian, fenomena, dsbnya) – Teori yg ingin dibuktikan kebenarannya – Penelitian lain yg mengusulkan masalah yg perlu ditelaah
• Hipotesa diuji dengan melakukan: – Eksperimen – Observasi – Fakta-fakta • Contoh: Anda ingin pergi camping dan perlu senter. Anda hidupkan senter tapi tidak nyala (observasi). Kenapa senter tidak nyala? (pertanyaan). Senter tidak nyala bila tidak ada baterai (hipotesa). Lakukan pengecekan (test), ternyata baterai
ada. Ganti hipotesa: Senter tidak nyala bila baterai salah posisi kutub. Lakukan pengecekan lagi, ternyata kutub sudah benar. Ganti lagi hipotesa: Senter tidak nyala bila baterai swak. Lakukan test, ternyata benar baterai swak, berarti hipotesa diterima bahwa bila baterai swak, senter tidak akan nyala. Test yg dilakukan berulang-ulang yg menerima hipotesa ini akan menelurkan teori. Test yg berulang- ulang yg menerima teori ini akan menghasilkan hukum.
- Quantitative vs Qualitative Research
▪ Quantitative R.: Penjelasan & prediksi, Teori pengujian / hipot, Variabel yang diketahui, Sampel besar, Instrumen standar, Deduktif, Unik = Pencilan
▪ Qualitative R.: Penjelasan & deskripsi, Membangun teori, Variabel tidak diketahui, Sampel kecil, Pengamatan, wawancara, Induktif, Unik = penting - Quantitative Survey: Living Standard Measurement Surveys (LSMS)
• Untuk mengukur dan memahami masalah kemiskinan- pemerataan di NSB, divisi Policy Research dari Bank Dunia (sekarang DECRG) memperkenalkan LSMS pada tahun 1980
• Situsnya: http://www.worldbank.org/LSMS/
• Data LSMS berguna bagi pembuat kebijakan yg sebelumnya hanya sekedar mengukur tingkat pengangguran,kemiskinan, pemanfaatan fasilitas kesehatan dan pendidikan.
• Dengan data LSMS dimungkinkan analisa yg lebih mendalam dengan mengidentifikasi faktor penyebab kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya pemanfaatan fasilitas kesehatan- Pendidikan
• Bahkan analisa yang lebih luas dalam aspek sosial-budaya lain dari rumah tangga dan masyarakat dapat pula dilakukan
• Data LSMS yg multi-topik dan prosedur quality control yg sangat intensif sebelum dapat di rilis, dikumpulkan oleh badan statistik milik negara di hampir semua NSB
• Quesionernya multi-topik: – Kuesioner RT: modul roster (komposisi RT, umur ART, pendidikan, time use, dsbnya), modul konsumsi (food, non- food, housing, durables), modul pendapatan (pertanian, non- pertanian, tabungan dan kredit, transfer, aktivitas lain), modul sektoral (pendidikan, kesehatan, migrasi, fertility), dll – Kuesioner Komunitas: demografi (suku, populasi, leader, dll), ekonomi & infrastruktur (pasar, jalan, pub transp, pos, bank,dsb), pendidikan (sekolah, guru, dll), kesehatan (rumah sakit, klinik, pekerja kesehatan, endemi, dll), pertanian (aktifitas pertanian, dll) – Kuesioner Harga: harga-harga barang yg sering dibeli • Sampel LSMS cenderung tidak terlalu besar, biasanya kelipatan 1600, 3200 RT dan tidak lebih dari 5000 RT
• Team lapangannya juga tidak terlalu besar sehingga mudah di kontrol dan koordinasi serta dpt menekan biaya
• Dalam setahun dapat dilakukan beberapa round survey
• LSMS belum dapat diterapkan di Indonesia – Indonesia luas, penduduk banyak, dan majemuk sehingga memerlukan sampel besar – Dengan sampel besar tidak bisa dilakukan beberapa kali round survey
- Data Survey RT Indonesia
• Untuk level Nasional, Indonesia tidak memiliki data LSMS
• Namun, Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) dan Podes (Potensi Desa) yang dimerge dapat menyajikan sebagian besar variabel LSMS
• Yang tidak ada terutama tentang pendapatan dan aktifitas produksi RT • Demikian pula, tidak ditemui data harga barang- barang yg banyak dibeli dan time use anggota RT
• Yg tipe LSMS utk Indonesia: Indonesia Family Life Survey yg berupa
panel/longitudinal data dan sdh dlkkn 5 wave: 1993-’94; 1997-’98; 2000; 2007-’08; dan 2014-’15
• Data Susenas: – Modul (Module) ±65000 sampel RT (tiap 3 thn,
...1993,‘96,’99,’02,dan ’05): data pengeluaran/konsumsi secara detail – Kor (Core) (tiap thn sejak 1989 dimana sejak 1993 sdh merepresentasikan populasi RT dengan sampel ±200000 RT): lihat kuesioner – Panel ±10000 sampel RT dipilih dari sampel modul 2002 dan di survey tiap thn sejak 2002,’03,’04,’05,’06,’07). Semenjak 2008 sampel Ssp diperbesar menjadi 65000 RT
• Data Podes ±65000 desa (tiap ada kegiatan sensus penduduk, pertanian, dan ekonomi diawali setahun seblm sensus2 tersebut, sejak 1980, ’83, ’86, ’90, ’93, ’96, ’99, ’03, ’05, ’08, ‘11, ‘14, dan ‘18 )
– Kependudukan & ketenagakerjaan – Perumahan dan lingkungan hidup – Antisipasi dan kejadian bencana alam – Pendidikan dan Kesehatan – Sosial budaya – Rekreasi, hiburan dan olah raga – Angkutan, komunikasi, informasi – Penggunaan lahan – Ekonomi – Politik dan keamanan – Keterangan kepala desa – Karakteristik infrastruktur desa lainnya
• Untuk sub-Nasional, kita memiliki data Indonesian Family Living Standard Survey (IFLS) yg mensurvey sekitar 17 propinsi yg merupakan 85% populasi penduduk
• Ada juga Rural Investment Climate Survey (RICS) yg mensampel 6 kabupaten di Indonesia dan mengumpulkan informasi tentang usaha RT, dan usaha
menengah-besar
• Penggunaan Stata dimulai dengan menjalankannya dgn double-click icon Stata sehingga muncul layar:
• Ada 5 bagian dari layar tsb:
1. Menu (dapat digunakan untuk melakukan command secara interaktif) 2. List command yg telah dieksekusi
3. List variabel yg ada dalam memory saat ini 4. Tempat mengetik command yg akan dieksekusi 5. Tampilan hasil eksekusi command
• Penggunaan Stata dimulai dengan menjalankannya dgn double-click icon Stata sehingga muncul layar:
• Ada 5 bagian dari layar tsb:
1. Menu (dapat digunakan untuk melakukan command secara interaktif) 2. List command yg telah dieksekusi
3. List variabel yg ada dalam memory saat ini 4. Tempat mengetik command yg akan dieksekusi 5. Tampilan hasil eksekusi command
• Perintah/command Stata dapat dilakukan secara interaktif satu per-satu atau dengan membuat do-file yg berupa serangkaian perintah
• Berikut ini adalah contoh do file yg singkat:
• Dengan perintah interaktif kita perlu mengetik ke-19 perintah tersebut di layar 4 atau menggunakan menu (layar 1) dan mengeksekusinya satu per-satu (tekan ENTER) • Sedangkan dengan do-file kita cukup menjalankan nya sekaligus dengan meng-klik menu: File-Do dan menyebutkan file do yg akan kita jalankan
• Kelebihan lain, do-file ini dapat digunakan berulang-ulang dan untuk keperluan lainnya di masa depan dpt dimodifikasi
• Tambahan lagi, do-file akan sangat-sangat membantu untuk suatu routine yg panjang
• Pengajar sangat menganjurkan mahasiswa untuk membiasa kan diri untuk membuat do-file (krn akan ada dokumentasi yang pernah dikerjakan
- Beberapa Perintah Penting Stata
• gen dewasa=(umur>=18) akan menciptakan variabel dummy “dewasa” yg nilainya 1 bila umur>=18 dan 0 lainnya
• gen agegr=recode(umur, 5,15,30,50,999) akan menciptakan variabel agegr yg nilainya 1 bila umur 0-5, 2 bila umur 6-15, 3 bila umur 16-30, 4 bila umur 31-50, dan 5 bila umur 51-999
• xtile q=rkonsp [w=infart], nq(5) akan menghasilkan variabel q yg nilainya 1-5 yg merupakan quintile (q=1 untuk kelompok penduduk termiskin) berdasarkan konsumsi real percapita. Bila angka 5 diganti 10 maka akan diperoleh decile • bys desakota: table health quintile [iw=weight3], c(m wage) f(%8.2f) sc col row akan menciptakan cross-tab antara variable quintile dan health yg nilai di
matrixnya berupa rata-rata upah dgn total ke kanan dan bawah, dan formatnya 2 desimal di belakang koma
• collapse (sum) jart (mean) hage [iw=infrt], by (decile) mengagregasi data
menjadi 10 observasi dengan variabel sinc merupakan jumlah income setiap decile hasil penjumlahan income RT, variabel mhage merupakan umur rata-rata kepala RT untuk setiap decile.
• append using data2 akan menambah observasi (ke bawah) bagi data yg sedang dibuka sebanyak observasi data2
• merge prop kab kec desa using data2 akan menambah variabel (ke kanan) bagi data yg sedang dibuka sebanyak variabel data2 yg belum ada di data yg sedang dibuka, dengan kunci variabel prop kab kec dan desa. Merge ini dapat dilakukan setelah kedua data di sort berdasarkan key variables dengan perintah:
• sort prop kab kec desa mengurut data dari yg terkecil hingga terbesar berdasarkan variabel propinsi, kabupaten, kecamata, dan desa
• egen jmlh=rsum(a b c) akan menjumlahkan nilai a+b+c menjadi variabel jmlh tak perduli ada nilai missing bagi a, b, atau c. Bila dilakukan dengan gen
jmlh=a+b+c+d, maka bila ada nilai missing antara a, b, atau c maka nilai jmlh akan missing.
• egen n_empl=sum(empl), by(hhid) akan menghasilkan variable n_empl bagi data anggota RT ini yg nilainya sama untuk RT yg sama yaitu total anggota RT yg bekerja, bila nilai empl==1 bila bekerja dan 0 bila menganggur
• egen n_maks=rmax(x y z) akan menghasilkan variabel n_maks yg nilainya meruupakan nilai terbesar antara x, y, dan z bagi setiap observasi
• egen iida=rank(iid), by(hhid) akan menghasilkan variabel iida yg merupakan urutan ranking dari nilai 1 hingga nilai jumlah anggota RT bagi setiap anggota RT • rename namalama namabaru mengganti nama variabel dari namalama ke
namabaru.
• recode var1 1=1 2=2 3=1 4=1 9=. mengganti kode nilai variable var1 yang tadinya nilainya 1, 3, dan 4 menjadi 1 sedangkan yg 9 jadi missing.
• keep prop kab kec desa hilangkan variabel lain selain prop, kab, kec, dan desa. • drop prop kab kec desa hilangkan variabel prop, kab, kec, dan desa.
• order prop kab kec desa urut letak dalam data mulai dari prop, kab, kec, desa, lalu variabel lainnya.
• gen iidb=substr(iid,2,3) buat variabel iidb yg nilainya mengambil nilai digit ke 2, 3, dan 4 dari variabel iid.
• egen kode=concat(prop kab kec desa) kebalikan substr di atas yaitu menggabung kode propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa yg merupakan string menjadi satu variabel bernama kode.
• sepov rkonsp [w=infind] if prop>=11 & prop<=18, p(gk) by(kotadesa) menghasilkan angka FGT (P0, P1, dan P2) berdasarkan variabel real percapita konsumsi (rkonsp) untuk individu (di inflate dengan infind). Angka FGT ini untuk pulau Sumatera (propinsi 11 hingga 18) di breakdown untuk kota-desa dengan garis kemiskinan yg nilainya sama dengan nilai variable gk..
• ineqerr rkonsp [fw=infind] if prop>=11 & prop<=18 akan menghasilkan nilai indeks Gini dan Theil berdasarkan real konsusmsi percapita, diweight dgn infind, untuk pulau Sumatera.
• lorenz rkonsp [w=infind] if if prop>=11 & prop<=18 akan menghasilkan kurva Lorenz berdasarkan real konsusmsi percapita, diweight dgn infind, untuk pulau Sumatera.
Sesi 12: Monitoring & Evaluasi: Program Pemberdayaan Berbasis Komunitas Untuk Menanggulangi Kemiskinan & Ketimpangan
✓ Sistem Monitoring
- Tiga tahapan dalam melakukan monitoring
1. Mengidentifikasi tujuan program; misal program didisain untuk mencapai “mengurangi kelaparan” atau “meningkatkan kecerdasan”
2. Menentukan indikator kunci dalam mengukur progres dari tujuan, misal “proporsi individu yg konsumsinya <2100 cal/day” atau “angka partisipasi sekolah”
3. Menetapkan target dengan menghitung tingkat capaian indikator pada waktu yg ditetapkan, misal target MDG, “mengurangi penduduk yg mengkonsumsi <$1PPP setengahnya dari tahun 1990 hingga 2015”
- 2. Menentukan indikator kunci
➢ Berbagai indikator dikelompokkan dalam 2 grup: A. Indikator-indikator final yg mengukur outcomes dari kebijakan penanggulangan kemiskinan: ↑school attendance → ↑literacy rates B. Indikator-indikator antara yg mengukur berbagai input ke dalam program: health care spending → clinic builts, doctors hired ➢ Indikator antara lebih mudah berubah dibandingkan indicator final. Juga lebih responsif thdp intervensi publik sehingga mudah dihitung perubahannya pada saat2 tertentu
➢ Indikator yang baik adalah:
▪ Ukuran langsung yg jelas dari suatu progress
▪ Relevan thdp tujuan, yg akhirnya bertujuan mengatasi kemiskinan ▪ Bervariasi antar daerah, kelompok, dan waktu
▪ Sensitif terhadap perubahan kebijakan, program, dan shocks ▪ Reliable dan sulit dimanipulasi
▪ Dapat ditelusuri setiap saat dengan biaya rendah - 3. Menetapkan Target
Ada 2 tujuan penetapan target dalam penangulangan kemiskinan: A. Memaksa pengambil keputusan untuk memperjelas prioritas2 dan menyesuaikan alokasi sumberdaya sesuai prioritas ini B. Memperkuat akuntabilitas
➢ Dianjurkan agar target jelas dan tidak memiliki banyak arti
yang membingungkan ➢ Target juga harus konsisten dengan tujuan nasional ➢ Target mungkin dicapai dengan tingkat pembangunan dan kapasitas
perekonomian yang ada ➢ Target harus realistis sesuai dengan sumber daya yg tersedia ➢ Hal yg krusial dalam pov monitoring adalah penyediaan data dan menyusupkannya kepada pembuat kebijakan ➢ Untuk itu diperlukan unit penangulangan kemiskinan di pemerintahan
✓ Evaluation: Kapan Menggunakan Evaluasi Dampak
▪ Digunakan untuk menelaah manfaat dari program atau melihat dampak perubahan besar dalam program pemerintah
o Menjawab pertanyaan: Apakah program itu bermanfaat? Apakah hasilnya sesuai dengan tujuan? Apakah biayanya efektif?
▪ Digunakan untuk advokasi
o Menelaah pendekatan inovatif; evaluasi membantu menentukan apakah pendekatan baru tersebut perlu diperluas
1. Randomization
2. Matching; Propensity Score Matching (PSM) 3. Difference-in-difference
4. Matched double difference 5. Regression Discontinuity Design 6. Instrumental variables
7. Comparison groups design B. Evaluasi Proses
C. Evaluasi Kualitatif
✓ II.A. IMPACT EVALUATION
- Meneliti perubahan tingkat kesejahteraan yang disebabkan intervensi tertentu • Apakah terjadi perubahan nilai indikator-indikator utama?
• Berapa banyak perubahannya?
• Apakah perubahan disebabkan oleh program? - Dapat juga meneliti
• Apakah dampaknya bervariasi diantara kelompok, wilayah atau jangka waktu yang berbeda?
• Bagaimana disain program dapat dimodifikasi untuk meningkatkan dampak?
• Seberapa efektifkah program dibandingkan dengan intervensi alternatif? - II.A IMPACTEVALUATION: Masalah utama dalam melakukan evaluasi
• Dampak adalah perbedaan indikator hasil yg relevan antara dengan program dan tanpa program
• Namun demikian, kita tidak mungkin secara simultan dapat melihat seseorang dalam keadaan yang berbeda pada waktu yang sama
• Jadi, ketika mengamati indikator paska intervensi, nilai tanpa program tidak teramati karena merupakan kebalikan fakta (counterfactual). - II.A. IMPACTEVALUATION: Kita amati indikator hasil
- II.A. IMPACTEVALUATION: Namun demikian, kita perlu mengidentifikasi counterfactual (apa yang terjadi kalau program tidak terjadi)…
- II.A. IMPACTEVALUATION: …karena hanya sesudahnyalah kita dapat menentukan dampak dari intervensi
- II.A. IMPACT EVALUATION: Masalah apabila evaluasi tidak dirumuskan sejak awal
▪ Diperlukan kelompok pembanding yang setara ▪ Sebelum/Setelah: Hal-hal lain dapat terjadi
▪ Unit-unit dengan/tanpa kebijakan: Dapat berbeda untuk alasan selain kebijakan (misalnya karena kebijakan diberlakukan di wilayah tertentu) - II.A. EVALUASI QUANTITATIF: Bagaimana kita mengisi data yang hilang?
1. Randomization (random experiment) 2. Quasi Experiment:
a. Matching ; Propensity-score matching b. Difference-in-difference
c. Matched double difference d. Regression Discontinuity Design
e. Instrumental variables f. Comparison group designs - IIA1. Randomisasi (experimental design)
▪ Juga dinamai:
• Randomized Assignment Study (RAS) • Randomized Field Trial (RFT) • Social Experiment (SE) • Controlled Random Experiment (CRE) •
Randomized controlled trial (RCT) • Random experiment (RE)
▪ Selama pemilihan dilakukan secara acak, dampak dapat terungkap dengan membandingkan rata-rata indikator antara kelompok treatment dan control. ▪ Randomisasi adalah cara yang paling ideal dan menjadi acuan utama.
Dalam RE masalah identifikasi lebih transparan dan dapat lebih dipertanggungjawabkan dibandingkan Teknik evaluasi lain. ▪ Langkah-langkahnya:
1. Sebelum intervensi, tetapkan siapa saja yg berhak mendapatkan manfaat program
2. Pilih sampel secara random dari yg berhak (kelompok treatment), lalu pilih pula sampel secara random dari yg tidak berhak (kelompok control), dan kumpulkan berbagai indikator dari kedua kelompok sebelum intervensi (baseline survey)
3. Setelah diintervensi program kumpulkan lagi nilai indikator yg sama dari ke-2 kelompok (follow-up survey)
4. Beda nilai rata-rata dari ke-2 kelompok dalam berbagai indikator tsb adalah sebagai dampak dari program. Selain pengujian beda 2 mean, juga digunakan regresi:
Y=indikator; X=karakteristik RT; V=karakteristik komunitas/desa; C=dummy(1=dpt program ; 0=tdk dpt); i=individu; j=desa
Maka: δ adalah dampak dari program - IIA1. Contoh-1 Randomisasi: PROGRESA di Meksiko
▪ Progresa (CCT): Hibah untuk keluarga miskin dengan prasyarat mereka mengikuti protokol perawatan kesehatan preventif dan menyekolahkan anaknya. Diberikan pada perempuan/ibu2.
▪ Pemerintah Meksiko menginginkan evaluasi; dipilih komunitas secara acak.
▪ Hasil Evaluasi: gangguan kesehatan anak-anak turun 23%; tinggi badan meningkat 1-4 cm; angka partisipasi sekolah naik 12 persen
▪ Setelah evaluasi: PROGRESA diterapkan diseluruh Meksiko, program yang serupa dilaksanakan di negara- negara Amerika Latin lainnya - IIA1. Contoh-2 Randomisasi: Pengalaman dari Kenya
▪ Pemberantasan cacing diberikan lewat sekolah: satu pil setiap enam bulan dengan biaya 49 sen per murid per tahun
▪ Hanya 27% dari murid yang mendapat perlakuan program menderita infeksi sedang sampai berat, bandingkan dengan 52% dari control group ▪ Perlakuan tsb menurunkan absensi sekolah sebanyak 25%