Danareksa Research Institute
∂R
Perkembangan & Prospek
Perekonomian Indonesia 2015 - 2016
Economic Research – PT Danareksa (Persero)
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 14 Jakarta 10110 Tel. (6221) 350 9777 ext: 3602 Fax: (6221) 3501709
http://www.danareksa-research.com
Danareksa Research Institute
∂R
A. Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global
• Amerika Serikat
• Uni Eropa
• Asia: Jepang, Tiongkok dan India
B. Prospek Perekonomian Indonesia 2015 - 2016
• Inflasi, suku bunga dan nilai tukar
• Early economic indicators
• IKK, BSI, BPI dan pertumbuhan ekonomi
• Prospek pasar modal
C. Kesimpulan
Danareksa Research Institute
∂R
Perekonomian AS: kondisi terkini & prospeknya masih baik
Perekonomian Amerika masih dalam masa ekspansi (terus bertumbuh). Ekspansi ini menciptakan lapangan kerja, sehingga tingkat pengangguran pun terus menurun dari 10.0% (Okt 2009) menjadi 5.1% (Sep 2015).
Perbaikan ekonomi ini mendorong the Fed akan melakukan normalisasi kebijakan (menaikkan bunga) setelah pd thn 2014 mengakhiri QE3-nya. Rencana ini menyebabkan volatilitas psr. Namun rencana normalisasi kebijakan tsb masih diliputi
ketidakpastian krn data terkini menunjukkan bahwa ekspansi di AS masih relatif rapuh, inflasi masih rendah serta kondisi ekonomi negara2 besar lainnya juga masih rapuh.
25 35 45 55 65 Ja n-08 Jun -0 8 N ov-08 Ap r-09 Se p-0 9 Fe b-1 0 Jul -1 0 De c-10 M ay -1 1 O ct -11 M ar -12 Au g-12 Ja n-13 Jun -1 3 N ov-13 Ap r-14 Se p-1 4 Fe b-1 5 Jul -1 5 PMI-Mfg PMI-Serv Index -20 -15 -10 -5 0 5 10 Ja n-09 M ay -0 9 Se p-0 9 Ja n-10 M ay -1 0 Se p-1 0 Ja n-11 M ay -1 1 Se p-1 1 Ja n-12 M ay -1 2 Se p-1 2 Ja n-13 M ay -1 3 Se p-1 3 Ja n-14 M ay -1 4 Se p-1 4 Ja n-15 M ay -1 5 Se p-1 5 Industrial Production Retail Sales YoY% -6 -3 0 3 6 9 12 -6 -3 0 3 6 9 12 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 GDP Growth (YoY) Unemployment rate Inflation Rate FFR percent
Danareksa Research Institute
∂R
Siklus Bisnis Ekonomi AS: masih dalam fase ekspansi
CEI yang menggambarkan kondisi ekonomi terkini dan LEI yang menggambarkan prospek ekonomi kedepan masih dalam tren
meningkat yang mengindikasikan bahwa perekonomian AS saat ini dan prospeknya 6 – 12 bulan kedepan masih dalam masa ekspansi dalam siklus bisnisnya.
Secara historis rata-rata lamanya ekspansi perekonomian AS adalah 7 – 10 tahun. Artinya ekspansi yang dimulai sejak tahun 2009 berpotensi berlanjut sampai dengan 2016 – 2019 mendatang.
Data terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan CEI dan LEI Amerika Serikat sedikit melambat, yang mengindikasikan bahwa pemulihan ekonominya juga sedikit melambat.
Siklus Bisnis Ekonomi AS
Leading Economic Index Naik
76 83 90 97 104 111 96 99 102 105 108 111 114 J an -07 A p r-0 7 J u l-0 7 O ct -0 7 J an -08 A p r-0 8 J u l-0 8 O ct -0 8 J an -09 A p r-0 9 J u l-0 9 O ct -0 9 J an -10 A p r-1 0 J u l-1 0 O ct -1 0 J an -11 A p r-1 1 J u l-1 1 O ct -1 1 J an -12 A p r-1 2 J u l-1 2 O ct -1 2 J an -13 A p r-1 3 J u l-1 3 O ct -1 3 J an -14 A p r-1 4 J u l-1 4 O ct -1 4 J an -15 A p r-1 5 J u l-1 5
USA: Coincident & Leading Economic Index CEI LEI 8 bulan 3 bulan Fase ekspansi Fase ekspansi Fase resesi 40 53 66 79 92 105 118 50 60 70 80 90 100 110 120 J a n-80 J a n-81 J a n-82 J a n-83 J a n-84 J a n-85 J a n-86 J a n-87 J a n-88 J a n-89 J a n-90 J a n-91 J a n-92 J a n-93 J a n-94 J a n-95 J a n-96 J a n-97 J a n-98 J a n-99 J a n-00 J a n-01 J a n-02 J a n-03 J a n-04 J a n-05 J a n-06 J a n-07 J a n-08 J a n-09 J a n-10 J a n-11 J a n-12 J a n-13 J a n-14 J a n-15
Siklus Bisnis Perekonomian Amerika Serikat
CEI LEI
Resesi
Fase ekspansi
Danareksa Research Institute
∂R
Perekonomian Jepang: pemulihan melambat, namun prospeknya msh baik
Pada triwulan I 2014 pemerintah Jepang menaikkan pajak penjualan 3% (lebih tinggi dari kenaikan income masyarakat), sehingga daya beli masyarakatnya menurun. Akibatnya pemulihan ekonomi yang terlihat sejak awal tahun 2013 langsung mengalami penurunan yang tajam.
Sesudah itu perekonomian Jepang kembali mulai membaik, namun data terkini menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Konsensus memperkirakan tahun 2015 ekonomi Jepang akan tumbuh 0.7% (lbh tinggi dari thn lalu -0.1%, namun lbh rendah dari prediksi awal tahun 1.1%). Dengan kondisi seperti itu, maka kebijakan moneter longgar
(berupa suku bunga rendah & stimulus) masih berlanjut.
44 47 50 53 56 59 J an -10 M a r-1 0 M a y-10 J u l-1 0 S ep -10 N o v -1 0 J an -11 M a r-1 1 M a y-1 1 J u l-1 1 S ep -11 N o v -1 1 J an -12 M a r-1 2 M a y-12 J u l-1 2 S ep -12 N o v -1 2 J an -13 M a r-1 3 M a y-1 3 J u l-1 3 S ep -13 N o v -1 3 J an -14 M a r-1 4 M a y-14 J u l-1 4 S ep -14 N o v -1 4 J an -15 M a r-1 5 M a y-1 5 J u l-1 5 S ep -15
Japan: Purchasing Manager Index
95 100 105 110 115 120 J -1 0 M-1 0 M-1 0 J -1 0 S -1 0 N -10 J-1 1 M-1 1 M-1 1 J -1 1 S -1 1 N -11 J-1 2 M-1 2 M-1 2 J -1 2 S -1 2 N -12 J-1 3 M-1 3 M-1 3 J -1 3 S -1 3 N -13 J-1 4 M-1 4 M-1 4 J -1 4 S -1 4 N -14 J-1 5 M-1 5 M-1 5 J -1 5 S -1 5
Japan: Composite coincident & leading economic index
LEI CEI -16.0 -8.0 0.0 8.0 16.0 24.0 32.0 40.0 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 J -10 M-1 0 M-1 0 J -10 S-1 0 N-1 0 J -11 M-1 1 M-1 1 J -11 S-1 1 N-1 1 J -12 M-1 2 M-1 2 J -12 S-1 2 N-1 2 J -13 M-1 3 M-1 3 J -13 S-1 3 N-1 3 J -14 M-1 4 M-1 4 J -14 S-1 4 N-1 4 J -15 M-1 5 M-1 5 J -15 S-1 5
Japan: New Orders for Machinery
Danareksa Research Institute
∂R
Ekonomi Euro: pemulihan kembali membaik
Setelah keluar dari krisis ekonomi tahun 2012, pemulihan ekonomi Eropa kembali melambat sejak Q2 2014, akibat krisis geopolitik di Ukraina dan kecenderungan deflasi di kawasan Eropa.
Untuk itu bank sentral Eropa (ECB) melonggarkan kebijakan moneter (berupa bunga rendah dan QE bonds korporasi dan pemerintah). Hal ini akan berdampak positif terhadap pasar modal emerging market termasuk Indonesia.
Data makroekonomi terkini (LEI, IKK, EPE, dll)
mengindikasikan adanya perbaikan pemulihan ekonomi di kawasan Euro, meskipun sempat tertahan ketika terjadi gejolak politik di Yunani pada bulan Juli 2015 yang lalu.
30 35 40 45 50 55 60 -6 -3 0 3 6 9 Ja n-11 Ap r-11 Jul -1 1 O ct -11 Ja n-12 Ap r-12 Jul -1 2 O ct -12 Ja n-13 Ap r-13 Jul -1 3 O ct -13 Ja n-14 Ap r-14 Jul -1 4 O ct -14 Ja n-15 Ap r-15 Jul -1 5
PMI dan Pertumbuhan IPI (%YoY)
IPI PMI
IPI (YoY%) PMI
-6 -3 0 3 6 9 12 15 Ja n-09 M ay -0 9 Se p-0 9 Ja n-10 M ay -1 0 Se p-1 0 Ja n-11 M ay -1 1 Se p-1 1 Ja n-12 M ay -1 2 Se p-1 2 Ja n-13 M ay -1 3 Se p-1 3 Ja n-14 M ay -1 4 Se p-1 4 Ja n-15 M ay -1 5 Se p-1 5
Pertumbuhan M1, M2 dan Kredit
M1 M2 Credit YoY% -6 -4 -2 0 2 4 6 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbuhan Ekonomi Tingkat Inflasi Suku Bunga
Danareksa Research Institute
∂R
Pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih Melambat
Perekonomian Tiongkok terus melambat, sesuai disain pemerintahnya menuju ke 7%. Beberapa indikator makroekonominya (CEI, LEI, PMI, IKK) menunjukkan pertumbuhan perekonomian Tiongkok cenderung masih lemah.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonominya kembali ke level yang diinginkan, otoritas moneter Tiongkok makin melonggarkan kebijakan moneter nya berupa penurunan bunga dan GWM.
-3.0 -1.5 0.0 1.5 3.0 4.5 6.0 7.5 9.0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
GDP Growth CN: Lending Rate Inflation Rate
Danareksa Research Institute
∂R
Devaluasi Yuan
QE yang dilakukan oleh Eropa dan Jepang menyebabkan nilai tukar kedua mata uang
tersebut melemah terhadap US$. Sementara itu otortitas moneter China (PBoC) berupaya
melakukan stabilisasi nilai tukar nya utk mencegah capital outflow, sehingga China Yuan
cenderung menguat.
Apresiasi Yuan menyebabkan penurunan daya saing produk Tiongkok di pasar global,
sehingga ekspor nya menurun melampaui perkiraan (data terakhir bulan Juli dan Agustus
2015 turun -8.5% vs -1.5%) yang juga berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonominya.
Untuk mendorong peningkatan ekspor nya Bank Sentral China (PBoC) mendevaluasi Yuan
agar produk China lebih kompetitif di pasar global. Dengan demikian ekspor diharapkan akan
kembali membaik dan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap pertumbuhan
ekonomi nya (ekspor China elastis terhadap nilai tukarnya).
Devaluasi ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi masuknya Yuan sebagai salah satu
mata uang official reserve IMF (mengurangi tekanan depresiasi yg ditahan semala ini).
Devaluasi ini menyebabkan mata uang negara lain turut “terdepresiasi”, termasuk Rupiah.
Disamping itu kebijakan ini juga akan mempengaruhi rencana the Fed yang akan melakukan
normalisasi kebijakan (berpeluang semakin mundur memperpanjang ketidakpastian).
Danareksa Research Institute
∂R
Perekonomian India: ada indikasi mulai membaik
Perekonomian India cenderung membaik seperti tercermin pada GDP growth, PMI manufaktur dan jasa2 yg meningkat, dll. Kedepan diperkirakan juga membaik sejalan inflasi yang menurun yang akan diikuti oleh penurunan bunga. Hal ini akan
mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi kedepan seperti terlihat pada pertumbuhan LEI yang semakin meningkat.
0 3 6 9 12 15 18 0 3 6 9 12 15 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pertumbuhan Ekonomi Policy Rate Inflation Rate
Danareksa Research Institute
∂R
Pertumbuhan Ekonomi Global: 2015 dan 2016 lebih prospektif
Pertumbuhan ekonomi sebagian besar mitra dagang utama Indonesia sedikit membaik
pada thn 2015 dan 2016 mendatang akan berdampak positif terhadap ekspor kita.
Danareksa Research Institute
∂R
Neraca Perdagangan: ada indikasi semakin membaik
YTD (Jan-Aug)
Sepanjang tahun 2012 – 2014, permintaan domestik yang kuat telah memicu kenaikan impor,
sedangkan kondisi global yang lesu membuat ekspor Indonesia tertekan. Akibatnya, Indonesia
mengalami defisit neraca perdagangan. Kondisi terkini neraca perdagangan cenderung surplus.
Import
Export
-5 0 5 10 15 20 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 b il li o n s o f U S $ Trade Balance Total Export Total Import Migas 12.6% Pertanian 3.6% Industri 70.4% Pertamb. & Lain 13.3% 7.5% 75.5% 17.0%Barang Konsumsi Bahan Baku/Penolong
Danareksa Research Institute
∂R
Defisit Neraca Transaksi Berjalan Akan Membaik
Current account deficit memicu kekhawatiran apakah ekspansi ekonomi Indonesia berkesinambungan? Ekspansi ekonomi global & perlambatan ekonomi dom ekspor berpotensi membaik, impor turun, neraca perdagangan akan membaik shg defisit transaksi berjalan akan makin terkendali.
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 I. Transaksi Berjalan 5.14 1.69 -24.42 -29.11 -27.49 -4.91 -9.59 -7.04 -5.95 -4.10 -4.48 A. Barang 31.00 33.83 8.68 5.83 6.98 3.35 -0.38 1.56 2.45 3.06 4.12 B. Jasa - jasa -9.79 -9.80 -10.56 -12.07 -10.01 -2.13 -2.83 -2.49 -2.56 -1.86 -2.65 C. Pendapatan Primer -20.70 -26.55 -26.63 -27.05 -29.68 -7.21 -7.92 -7.31 -7.24 -6.72 -7.37 D. Pendapatan Sekunder 4.63 4.21 4.09 4.18 5.22 1.09 1.53 1.20 1.40 1.42 1.42
II. Transaksi Modal 0.05 0.03 0.05 0.05 0.03 0.00 0.01 0.00 0.02 0.00 0.00 III. Transaksi Finansial ² 26.48 13.60 24.86 21.93 44.62 7.06 13.92 14.72 8.92 6.31 2.48
- Aset -7.29 -16.45 -17.97 -15.47 -11.94 -6.25 -2.96 -3.93 1.20 -7.77 -7.83 - Kewajiban 33.77 30.06 42.83 37.39 56.56 13.31 16.88 18.66 7.72 14.09 10.31 1. Investasi Langsung 11.11 11.53 13.72 12.17 15.96 3.23 3.71 5.99 3.03 2.31 3.63 2. Investasi Portofolio 13.20 3.81 9.21 10.87 26.06 8.73 8.05 7.41 1.87 8.80 5.77 a. Aset -2.51 -1.19 -5.47 -1.27 2.59 0.47 -0.99 1.30 1.81 0.37 -0.50 b. Kewajiban 15.71 5.00 14.67 12.15 23.47 8.27 9.04 6.11 0.06 8.42 6.28 3. Derivatif Finansial -0.09 0.07 0.01 -0.33 -0.21 -0.14 0.05 -0.06 -0.06 0.09 0.02 4. Investasi Lainnya 2.26 -1.80 1.92 -0.78 2.82 -4.76 2.12 1.38 4.08 -4.88 -6.94 a. Aset -1.73 -6.75 -5.35 -3.43 -4.30 -4.07 0.38 -2.89 2.28 -4.90 -4.48 b. Kewajiban 3.99 4.95 7.28 2.64 7.11 -0.69 1.74 4.26 1.80 0.02 -2.46
IV. Total (I + II + III) 31.67 15.32 0.49 -7.14 17.17 2.15 4.33 7.69 2.99 2.22 -1.99 V. Selisih Perhitungan Bersih -1.33 -3.46 -0.28 -0.19 -1.92 -0.09 -0.04 -1.22 -0.58 -0.91 -0.93 VI. Neraca Keseluruhan (IV + V) 30.34 11.86 0.22 -7.32 15.25 2.07 4.30 6.48 2.41 1.30 -2.93 VII. Cadangan Devisa dan yang terka -30.34 -11.86 -0.22 7.32 -15.25 -2.07 -4.30 -6.48 -2.41 -1.30 2.93 Memorandum:
- Posisi Cadangan Devisa 96.21 110.12 112.78 99.39 111.86 102.59 107.68 111.16 111.86 111.55 108.03
Dalam Bulan Impor dan Pembayara 7.56 6.74 6.15 5.47 6.40 5.70 6.10 6.30 6.40 6.60 6.80 - Transaksi Berjalan (% PDB) 0.72 0.20 -2.78 -3.19 -3.09 -2.33 -4.26 -3.02 -2.71 -1.92 -2.05
2014 2015
Danareksa Research Institute
∂R
Defisit neraca berjalan memicu pelemahan nilai tukar
Defisit neraca berjalan memicu sentimen negatif terhadap rupiah. Karena itu perbaikan defisit
neraca transaksi berjalan akan mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
8,500 9,500 10,500 11,500 12,500 13,500 14,500 -12,000 -10,000 -8,000 -6,000 -4,000 -2,000 0 2,000 4,000 6,000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Transaksi Berjalan
IDR ep
Danareksa Research Institute
∂R
13Realisasi FDI Menurut Sektor
Realisasi FDI and DDI
Peringkat ‘investment grade’ mendorong aliran FDI Meningkat
Aktivitas investasi (domestik and asing) meningkat dengan signifikan. Foreign Direct
Investment (FDI) menunjukkan trend naik , dan mencapai US$ 6.8 miliar pada triwulan
IV 2014. Sepanjang 4 tw 2014, FDI didominasi oleh sektor sekunder sekitar 46%,
khususnya industri. Gejala ini menunjukkan prospek meningkatnya produktivitas.
Meningkatnya produktivitas akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar
lokal maupun global.
Investment grade
Danareksa Research Institute
∂R
14Defisit Neraca Transaksi Berjalan Tidak Selalu Buruk
Pada periode 1981-1996, ketika ekonomi Indonesia tumbuh dengan laju yang tinggi, Indonesia selalu mengalami defisit neraca transaksi berjalan. Indonesia mengalami surplus neraca transaksi berjalan ketika ekonominya jatuh ke resei yang dalam. Jadi, defisit neraca transaksi berjalan justru memberi sinyal bahwa ekonomi Indonesia mulai memasuki fasa pertumbuhan yg lebih cepat. Banyak ekonom yang meyakini bahwa defisit neraca transaksi berjalan adalah fenomena umum yg dialami oleh negara berkembang spt Indonesia.
-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 -30 -25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Current Account (US$ BN) Current Account (%GDP)
Danareksa Research Institute
∂R
Prospek Perekonomian Global dan Ekonomi DN
Dari diskusi di atas, perekonomian global masih ekspansi dan prospeknya masih
baik. Implikasinya terhadap perekonomian domestik adalah:
o
Ketidakpastian normalisasi kebijakan moneter the Fed, menimbulkan ketidakpastian di
pasar keuangan global, termasuk Indonesia. IDR dan pasar modal masih berpotensi
mengalami volatilitas.
o
Peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia berpotensi mendorong kenaikan volume
permintaan dan harga terhadap produk Indonesia, meskipun kenaikannya tidak tajam.
o
Dengan demikian ekspor masih berpotensi tumbuh (meskipun tidak tajam) sehingga
kontribusi net-eskpor akan positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
o
Trade balance akan membaik CAD akan lebih terjaga positif utk IDR/US$.
o
QE di Euro dan Jepang akan berdampak pada meningkatnya inflow dari kedua negara
tersebut, yang akan berdampak positif terhadap pasar modal dan nilai tukar rupiah.
Danareksa Research Institute
∂R
A. Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global
• Amerika Serikat
• Uni Eropa
• Asia: Jepang, Tiongkok dan India
B. Prospek Perekonomian Indonesia 2015 - 2016
• Inflasi, suku bunga dan nilai tukar
• Early economic indicators
• IKK, BSI, BPI dan pertumbuhan ekonomi
• Prospek pasar modal
C. Kesimpulan
Danareksa Research Institute
∂R
Suku Bunga (BI rate) dan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi
Indonesia sangat
dipengaruhi oleh tingkat
suku bunga (berkorelasi
negatif).
Suku bunga yang relatif
rendah akan mendorong
pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya kenaikan
suku bunga, cenderung
memperlambat
pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan Ekonomi Suku Bunga/Inflasi
Sementara itu tingkat bunga sangat tergantung pada laju inflasi di dalam negeri, karena
BI menganut inflation targeting framework, dimana BI akan menaikkan bunga bila
ekspektasi inflasi cenderung meningkat, dan sebaliknya.
0 5 10 15 20 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Danareksa Research Institute
∂R
Perkembangan Inflasi Dalam Negeri, %
Laju inflasi cenderung terjaga menyusul harga komoditas yang relatif stabil di pasar global. Dampak kenaikan harga BBM pada bulan Nopember 2014 akan hilang pada bulan Nopember 2015 ini (inflasi akan menurun tajam)
Weight
2012 Jul-15 Aug-15 Sep-15 Jul-15 Aug-15 Sep-15 Jul-15 Aug-15 Sep-15 2013 2014 2015
FOODSTUFFS 18.9 2.02 0.91 -1.07 8.66 9.26 8.26 0.40 0.19 -0.230 11.73 4.61 2.42 PREPARED FOOD 16.2 0.51 0.71 0.39 8.19 8.39 8.26 0.09 0.11 0.070 5.50 4.83 4.97 HOUSING 25.4 0.13 0.16 0.20 6.99 6.38 5.78 0.03 0.04 0.050 4.80 4.22 2.68 CLOTHING 7.3 0.39 0.01 0.83 3.29 3.06 4.10 0.02 0.00 0.060 0.74 2.29 3.31 MEDICAL CARE 4.7 0.36 0.70 0.44 5.60 5.99 6.15 0.02 0.03 0.020 2.88 3.88 4.31 EDUCATION 8.5 0.34 1.72 0.89 4.02 4.17 4.39 0.02 0.13 0.070 2.80 3.74 3.69 TRANSPORTATION 19.2 1.74 -0.58 -0.40 8.67 8.17 8.00 0.35 -0.11 -0.090 11.60 1.72 -2.04 GENERAL 100.0 0.93 0.39 -0.05 7.26 7.18 6.83 0.93 0.39 -0.050 7.22 3.71 2.24 Food and Non-Food
FOOD 35.0 1.34 0.82 -0.42 8.45 8.87 8.26 0.49 0.30 -0.16 8.85 4.71 3.56 NON-FOOD 65.0 0.70 0.14 0.18 6.64 6.27 6.12 0.44 0.09 0.11 5.94 3.16 1.47 Core Inflation Core 0.34 0.52 0.44 4.86 4.92 5.07 0.19 0.31 0.26 3.10 3.18 3.32 Administered Price 1.67 -0.45 -0.40 13.53 12.32 11.26 0.35 -0.09 -0.08 15.55 4.94 -0.69 Volatile Food 2.13 0.95 -1.25 8.97 9.65 8.52 0.39 0.17 -0.23 12.56 4.37 2.16 Source : BPS
Danareksa Research Institute
∂R
Prospek Inflasi
Untuk bulan Oktober laju inflasi bulanan akan relatif rendah setelah tahun ajaran baru untuk SD s/d PT berakhir, sehingga inflasi tahunan kita pun akan semakin menurun. Penurunan tersebut akan semakin tajam pada bulan Nopember mendatang karena dampak kenaikan harga BBM pada bulan Nopember 2014 akan hilang.
Paket stimulus ekonomi ke-3 yang menurunkan harga solar, LPG serta diskon tarif listrik untuk golongan I3 dan I4 akan semakin memperbesar peluang rendahnya inflasi pada bulan Oktober ini, bahkan berpeluang kembali terjadi deflasi. Dengan demikian inflasi tahunan pun akan mengalami penurunan yang tajam pada bulan ini.
Dari sisi eksternal tekanan inflasi diperkirakan relatif terjaga, karena harga komoditas di pasar global diprediksikan akan relatif stabil sampai akhir tahun 2015. EIA memperkirakan harga minyak tahun 2015 (WTI): US$ 50 - 60 per barel, bahkan saat ini tren-nya masih menurun. Untuk tahun 2016, harga minyak diperkirakan sekitar US$ 60 per barel, bahkan berpotensi lebih rendah.
Jadi baik dari sisi domestik maupun global tampaknya kecil peluang adanya faktor yang mendorong kenaikan inflasi yang signifikan.
Dengan perkembangan seperti itu, maka inflasi sepanjang tahun 2015 akan relatif stabil di sekitar 7.0% dan akan menurun tajam pada bulan Nopember 2015 serta turun lebih jauh menjadi sekitar 4% pada akhir tahun 2015 ini. Untuk tahun 2016, laju inflasi diperkirakan stabil sekitar 4.5%.
Danareksa Research Institute
∂R
Perkiraan laju inflasi
Kenaikan harga BBM bersubsidi pd bln Nopember 2014 mendorong kenaikan inflasi. Sepanjang tahun 2015 laju inflasi diprediksikan akan stabil sekitar 7.0% & turun signifikan pd bln Nop-Des menjadi sekitar 4% dan 4.5% tahun 2016.
2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 -0.6 0.0 0.6 1.2 1.8 2.4 3.0 3.6 Ja n -12 M ar -12 M ay-12 Ju l-12 Se p -1 2 N o v -12 Ja n -13 M ar -13 M ay-13 Ju l-13 Se p -1 3 N o v -13 Ja n -14 M ar -14 M ay-14 Ju l-14 Se p -1 4 N o v -14 Ja n -15 M ar -15 M ay-15 Ju l-15 Se p -1 5 N o v -15
Laju Inflasi dan Suku Bunga BI rate
MoM, %
YoY, %
BI Rate
Fore cast
Danareksa Research Institute
∂R
Perkiraan harga minyak mentah dunia
EIA memperkirakan harga minyak mentah dunia tahun 2015 akan cenderung stabil dalam kisaran 50 s/d 60 US$ per barel dan sekitar US$ 60 per barel pada tahun 2016.
30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 2012 2013 2014 2015 2016
Brent crude oil spot price
Danareksa Research Institute
∂R
Prospek Suku Bunga
Seperti kita ketahui bersama, bank sentral kita menerapkan kebijakan moneter yg cenderung
ketat utk menstabilkan makroekonomi Indonesia (stability over growth), khususnya laju inflasi,
defisit neraca transaksi berjalan nilai nilai tukar rupiah. Melihat perkembangan yang terjadi
belakangan ini, maka peluang BI menurunkan suku bunga BI rate semakin terbuka lebar krn:
o Laju inflasi semakin terjaga
o Defisit neraca transaksi berjalan semakin membaik, yang pada gilirannya berpotensi mendorong penguatan rupiah yang selama ini menjadi kekhawatiran Bank Indonesia.
o Pemerintah menghendaki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi
o Interest rate differential kita dengan negara2 tetangga semakin menurun.
Namun demikian peluang BI tidak menurunkan suku bunga juga tetap ada, mengingat BI akan
nyaman bila real-rate kita sekitar 1.5%, dimana suku bunga yang digunakan adalah O/N
(dalam hal ini suku bunga Fasbi) yang saat ini berada di level 5.5%. Dengan demikian jika
ekspektasi inflasi adalah sekitar 4%, maka real rate kita nanti akan sekitar 1.5% (sesuai level
yang dikehendaki). Disamping itu penundaan kenaikan suku bunga the Fed, masih menjadi
faktor yang dikhawatirkan dapat menimbulkan volatilitas nantinya.
Danareksa Research Institute
∂R
Kenaikan BI rate tidak mampu menahan pelemahan rupiah
Kenaikan suku bunga BI rate tidak mampu menahan pelemahan rupiah, bahkan ada kecenderungan kenaikan suku bunga justru semakin menekan nilai tukar rupiah.
Danareksa Research Institute
∂R
Pertumbuhan ekonomi AS vs capital flow
Perbaikan kinerja perekonomian AS berkorelasi positif dengan arus modal masuk ke Indonesia baik dalam bentuk portfolio maupun investasi langsung (FDI) return di emerging market tetap lebih menarik (long-run).
Danareksa Research Institute
∂R
Perbaikan kinerja pasar modal di AS berdampak positif pd IHSG
Perbaikan kinerja perekonomian AS akan berdampak positif terhadap pasar modalnya. Sementara itu perbaikan kinerja pasar modal AS akan berdampak positif terhadap pasar modal Indonesia.
0 1 2 3 4 5 6 6 8 10 12 14 16 18 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
INDU (LHS)
JCI (RHS)
Danareksa Research Institute
∂R
Indeks Nilai Tukar Nominal
Pada awalnya IDR bergerak seiring dengan mata uang regional. Namun sentimen negatif terhadap CAD membuat IDR bergerak melemah sendiri, termasuk pd saat AS melakukan QE3. Perlambatan pertumbuhan ekonomi saat ini menjadi faktor pelemahan IDR
60 70 80 90 100 110 120 Ja n -10 M ar -10 M ay-10 Ju l-10 Se p -1 0 N o v -10 Ja n -11 M ar -11 M ay-11 Ju l-11 Se p -1 1 N o v -11 Ja n -12 M ar -12 M ay-12 Ju l-12 Se p -1 2 N o v -12 Ja n -13 M ar -13 M ay-13 Ju l-13 Se p -1 3 N o v -13 Ja n -14 M ar -14 M ay-14 Ju l-14 Se p -1 4 N o v -14 Ja n -15 M ar -15 M ay-15 Ju l-15 Se p -1 5
Indeks Nilai Tukar, 2010 = 100
Danareksa Research Institute
∂R
Nilai Tukar Rupiah: Aktual vs Fundamental
Dengan menggunakan beberapa metode, nilai fundamental rupiah terhadap US$ adalah sekitar Rp 11800 per US$. Dengan demikian nilai spot rate rupiah yang saat ini (September 2015) sekitar Rp 14657 per US$ adalah undervalued sekitar -20.0%. Artinya secara fundamental nilai tukar rupiah seharusnya lebih kuat.
Indikator Dec-08 Dec-09 Dec-10 Dec-11 Dec-12 Dec-13 Dec-14 Mar-15 Jun-15 Sep-15
AKTUAL 10,950 9,400 8,991 9,068 9,670 12,189 12,440 13,084 13,332 14,657 1. PPP 8,815 8,812 9,293 9,362 9,593 10,240 11,021 10,998 11,056 11,162 2. REER 8,999 8,332 8,937 9,107 9,396 11,922 12,167 13,261 11,881 11,322 3. Tren PPP 8,539 8,873 9,143 9,395 9,736 10,208 10,760 10,904 11,049 11,193 4. Trend REER 9,252 8,870 8,881 9,328 10,222 11,188 11,849 11,973 12,087 12,197 5. Econometric 11,058 10,532 9,749 9,965 10,397 10,935 12,472 12,759 12,645 12,888 6. Competing Currency 10,563 8,595 8,706 9,575 8,412 10,259 10,807 11,195 10,918 11,595 Fundamental Value 9,538 9,002 9,118 9,456 9,626 10,792 11,513 11,848 11,606 11,726 Deviasi, % -12.9 -4.2 1.4 4.3 -0.5 -11.5 -7.5 -9.4 -12.9 -20.0
Danareksa Research Institute
∂R
…Nilai Tukar Rupiah: Aktual vs Fundamental
Saat ini spot rate IDR undervalued sekitar 20.0%, dan dalam jangka panjang biasanya akan kembali ke fundamental value-nya. Selanjutnya perbaikan kinerja perekonomian dunia akan mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan serta meningkatkan arus masuk investasi portfolio maupun FDI ke Indonesia. Dengan latar belakang seperti itu, maka dalam jangka menengah dan panjang IDR diprediksikan berpotensi lebih kuat dari level yang ada saat ini. Namun perlambatan pertumbuhan ekonomi yg makin dalam saat ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
-32.0 -26.5 -21.0 -15.5 -10.0 -4.5 1.0 6.5 12.0 7500 8500 9500 10500 11500 12500 13500 14500 15500 J a n-08 Ap r-0 8 J ul -0 8 O c t-08 J a n-09 Ap r-0 9 J ul -0 9 O c t-09 J a n-10 Ap r-1 0 J ul -1 0 O c t-10 J a n-11 Ap r-1 1 J ul -1 1 O c t-11 J a n-12 Ap r-1 2 J ul -1 2 O c t-12 J a n-13 Ap r-1 3 J ul -1 3 O c t-13 J a n-14 Ap r-1 4 J ul -1 4 O c t-14 J a n-15 Ap r-1 5 J ul -1 5
Nilai Tukar Rupiah: Aktual vs Fundamental
Aktual Spot Rate Fundamental Value Deviasi dari Fundamental
Danareksa Research Institute
∂R
Faktor yang mempengaruhi kurs Rupiah
Saat ini nilai tukar rupiah terhadap US$ berada pada level sekitar Rp 13500-an per US$, yang berarti terdepresiasi sekitar 7.5% dari penutupan akhir tahun lalu. Pada level ini rupiah terlalu murah (undervalued) sekitar 13%. Sebagaimana yang telah didiskusikan sebelumnya, pelemahan rupiah disebabkan oleh:
o Rencana normalisasi kebijakan moneter oleh the Fed o Adanya sentimen negatif karena CAD
o Kebijakan ‘nilai tukar lemah’ untuk mengurangi impor dan mendorong ekspor o Perlambatan pertumbuhan ekonomi
Kedepan IDR berpotensi menguat, karena:
o Saat ini masih undervalued
o Perbaikan neraca perdagangan yang akan berdampak positif terhadap perbaikan defisit neraca transaksi berjalan. Hal ini berpotensi mengembalikan sentimen positif terhadap rupiah.
o Ada indikasi pemulihan pertumbuhan ekonomi yang biasanya diikuti oleh peningkatan kinerja emiten, yang pada gilirannya mendorong masuknya investor asing. Pemulihan pertumbuhan ekonomi juga berpotensi meningkatkan peringkat Indonesia (oleh S&P).
Namun perlu diwaspadai bahwa jika ada perbaikan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat, maka isu normalisasi kebijakan the Fed akan muncul kembali yang dapat menyebabkan volatilitas nilai tukar rupiah. Hanya saja dengan kinerja pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang lebih baik, maka potensi pelemahan akan lebih terbatas.
Danareksa Research Institute
∂R
Coincident Economic Index: … flat dengan tren pertumbuhan melambat
Dalam periode Juli 2008 –
Februari 2009 CEI cenderung
menurun. Hal ini
mengindikasikan adanya
perlambatan yang signifikan
dalam pertumbuhan ekonomi
Indonesia.
Namun dalam periode Maret
2009 – Q2 2013, tren CEI
masih meningkat, yang
mengindikasikan perekonomian
masih bertumbuh.
CEI yang relatif flat sejak 2012,
mengindikasikan pertumbuhan
ekonomi yang cenderung
melambat masih terus berlanjut
sampai saat ini.
-6.4 -4.4 -2.4 -0.4 1.6 3.6 5.6 7.6 95 99 104 108 113 117 121 126 J -0 8 A-0 8 J -0 8 O -0 8 J -0 9 A-0 9 J -0 9 O -0 9 J -1 0 A-1 0 J -1 0 O -1 0 J -1 1 A-1 1 J -1 1 O -1 1 J -1 2 A-1 2 J -1 2 O -1 2 J -1 3 A-1 3 J -1 3 O -1 3 J -1 4 A-1 4 J -1 4 O -1 4 J -1 5 A-1 5 J -1 5
Composite Coincident Index Index (LHS) SM6,% (RHS)
Danareksa Research Institute
∂R
Leading Economic Index: …masih dalam tren menurun
Resesi mini yang terjadi dlm
periode Jul 2008 - Feb 2009
sdh terdeteksi oleh LEI sejak
bln Nop 2007. Demikian pula
fase ekspansi yg mulai terjadi
sejak Mar 2009 terdeteksi oleh
LEI sejak Nop 2008.
Data terkini menunjukkan level
LEI yang cenderung flat
bahkan menurun dan dengan
tren pertumbuhan menurun.
Artinya, dalam beberapa bulan
mendatang pertumbuhan
ekonomi kita masih berpotensi
lambat.
Tanpa kebijakan yg
counter-cyclical perlambatan ini
berpotensi makin memburuk.
-7.5 -5.0 -2.5 0.0 2.5 5.0 7.5 10.0 94 101 108 115 122 129 136 143 J -0 8 A-0 8 J -0 8 O -… J -0 9 A-0 9 J -0 9 O -… J -1 0 A-1 0 J -1 0 O -… J -1 1 A-1 1 J -1 1 O -… J -1 2 A-1 2 J -1 2 O -… J -1 3 A-1 3 J -1 3 O -… J -1 4 A-1 4 J -1 4 O -… J -1 5 A-1 5 J -1 5
COMPOSITE LEADING INDEX
Danareksa Research Institute
∂R
Siklus Bisnis
ekspansi
kontraksi
ekspansi
P3
P2
P1
T1
T2
T3
Semua
negara
di
dunia memiliki siklus
bisnis,
dimana
ekonomi ada kalanya
bertumbuh (ekspansi)
dan kontraksi (resesi).
Pada
saat
ekonomi
ekspansi
dan
terdeteksi
titik
P1
berarti ekonomi akan
melambat.
Jika
terdeteksi P2 berarti
ekonomi
akan
melambat
signifikan.
Dan bila terdeteksi P3
berarti ekonomi akan
memasuki resesi.
Sebaliknya pada saat ekonomi resesi, maka deteksi T1 berarti ekonomi akan segera ekspansi.
Deteksi T2 dan T3 berarti ekspansinya akan lebih pesat atau full capacity.
Danareksa Research Institute
∂R
Deteksi Titik Puncak (Peak)
Titik puncak P1 terdeteksi pada bulan Juni 2008 dan kemudian P2 serta P3 masing-masing terdeteksi pd bulan Oktober dan Nopember 2008. P1 kembali terdeteksi pada Maret 2015. Tanpa kebijakan yang counter-cyclical perlambatan yang terjadi saat ini berpotensi untuk munculnya P2 dan P3.
87 93 99 105 111 117 123 129 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 CEI P1 P2 P3
Danareksa Research Institute
∂R
Deteksi Titik Lembah (Trough)
Titik T1 terdeteksi pada bulan Maret 2009 dan titik T2 dan T3 terdeteksi pada bulan Oktober. Artinya setelah mengalami resesi mini dalam periode Juli 2008 – Maret 2009, maka perekonomian Indonesia kembali memasuki fase ekspansi.
87 93 99 105 111 117 123 129 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 CEI T1 T2 T3
Danareksa Research Institute
∂R
Siklus Bisnis Indonesia: Rata-rata Periode Ekspansi 7 tahun
80 86 91 97 102 108 113 119 124 130 72 80 88 96 104 112 120 128 136 144 Jan -9 0 O ct -9 0 Ju l-9 1 A p r-92 Jan -9 3 O ct -9 3 Ju l-9 4 A p r-95 Jan -9 6 O ct -9 6 Ju l-9 7 A p r-98 Jan -9 9 O ct -9 9 Ju l-0 0 A p r-01 Jan -0 2 O ct -0 2 Ju l-0 3 A p r-04 Jan -0 5 O ct -0 5 Ju l-0 6 A p r-07 Jan -0 8 O ct -0 8 Ju l-0 9 A p r-10 Jan -1 1 O ct -1 1 Ju l-1 2 A p r-13 Jan -1 4 O ct -1 4 Ju l-1 5 LEI (LHS) CEI (RHS)
Periode Resesi
Periode ekspansi
Periode
ekspansi
Periode ekspansi
Periode ekspansi
Danareksa Research Institute
∂R
IKK: Menurun, namun masih di level yang relatif tinggi
IKK memberikan indikasi tentang tingkat keyakinan konsumen thdp kondisi perekonomian secara keseluruhan.
73.3 91.6 65.3 60 70 80 90 100 110 J -0 4 A-0 4 J -0 4 O -0 4 J -0 5 A-0 5 J -0 5 O -0 5 J -0 6 A-0 6 J -0 6 O -0 6 J -0 7 A-0 7 J -0 7 O -0 7 J -0 8 A-0 8 J -0 8 O -0 8 J -0 9 A-0 9 J -0 9 O -0 9 J -1 0 A-1 0 J -1 0 O -1 0 J -1 1 A-1 1 J -1 1 O -1 1 J -1 2 A-1 2 J -1 2 O -1 2 J -1 3 A-1 3 J -1 3 O -1 3 J -1 4 A-1 4 J -1 4 O -1 4 J -1 5 A-1 5 J -1 5
Indeks Kepercayaan Konsumen
Kenaikan BBM I Kenaikan BBM II Harga bahan pokok naik Inflasi meningkat Kenaikan BBM III Penurunan harga BBM Kenaikan BBM IV Kenaikan BBM V
Danareksa Research Institute
∂R
Persepsi masyarakat terhadap pemerintah masih baik
Persepsi masyarakat terhadap kemampuan pemerintah menjalankan tugas2nya masih baik
129.9 108.8 119.7 85 100 115 130 145 160 N-0 2 M-0 3 J -0 3 N-0 3 M-0 4 J -0 4 N-0 4 M-0 5 J -0 5 N-0 5 M-0 6 J -0 6 N-0 6 M-0 7 J -0 7 N-0 7 M-0 8 J -0 8 N-0 8 M-0 9 J -0 9 N-0 9 M-1 0 J -1 0 N-1 0 M-1 1 J -1 1 N-1 1 M-1 2 J -1 2 N-1 2 M-1 3 J -1 3 N-1 3 M-1 4 J -1 4 N-1 4 M-1 5 J -1 5Indeks Kepercayaan Konsumen Kepada Pemerintah
Mega-Hamzah SBY-JK Kenaikan BBM I Kenaikan BBM II Harga bahan pokok naik Inflasi meningkat Kenaikan BBM III Penurunan harga BBM SBY-BOED Isu Kenaikan BBM Kenaikan BBM IV JW - JK Kenaikan BBM IV
Danareksa Research Institute
∂R
Optimisme pebisnis turun, namun masih optimis
Meskipun ISB menurun, namun porsi pebisnis yang optimis masih dominan
90.0 105.0 120.0 135.0 150.0 165.0 180.0 J a n-08 Ap r-0 8 J u l-08 Oc t-0 8 J a n-09 Ap r-0 9 J u l-09 Oc t-0 9 J a n-10 Ap r-1 0 J u l-10 Oc t-1 0 J a n-11 Ap r-1 1 J u l-11 Oc t-1 1 J a n-12 Ap r-1 2 J u l-12 Oc t-1 2 J a n-13 Ap r-1 3 J u l-13 Oc t-1 3 J a n-14 Ap r-1 4 J u l-14 Oc t-1 4 J a n-15 Ap r-1 5 J u l-15Business Sentiment Index
Danareksa Research Institute
∂R
BPI: Sistem Perbankan Masih Baik
Sistem perbankan masih relatif baik,
namun tekanan di perbankan cenderung
meningkat.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi
mulai meningkatkan NPL, meskipun
masih dalam batas yang dapat diterima.
-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15Banking Pressure Index - Indonesia
Component Aug-15 Sep-15
REER index - deviation from LT trend 105.8 97.5
Stock prices growth (Inverted) 13.4 22.2
Money multiplier growth 0.4 4.6
LEI growth (Inverted) 1.2 0.2
Export growth (Inverted) 21.7 10.0
Interbank call money 1 day rate 5.6 5.7
Danareksa Research Institute
∂R
Proyeksi indikator makroekonomi utama 2015 - 2016
Pertumbuhan ekonomi tahun 2015 diperkirakan akan sedikit lebih lambat dibandingkan
dengan tahun 2014 yang lalu. Perlambatan ini disebabkan kebijakan moneter yang ketat
berupa suku bunga yang relatif tinggi dan likuiditas yang ketat ditambah dengan
keterlambatan pembelanjaan APBN (karena ada beberapa hambatan). Disamping itu
menurunnya harga komoditas menyebabkan sumbangan ekspor terhadap pertumbuhan
ekonomi menjadi kecil.
Untuk tahun 2016, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan rebound menjadi sekitar 5.4%.
Perbaikan ini ditopang oleh inflasi yang semakin terjaga sehingga suku bunga diperkirakan
akan menurun, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan konsumsi dan investasi.
Belanja APBN pun diperkirakan akan lebih optimal mengingat hambatan2 yang terjadi tahun
2015 sudah dapat diatasi. Sementara itu ekspor juga diperkirakan akan memberikan
kontribusi yang lebih berarti seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia.
Laju inflasi sepanjang tahun 2015 diperkirakan akan relatif tinggi akibat kenaikan harga BBM
bersubsidi tahun 2014 yang lalu serta kenaikan harga beberapa barang dan jasa yang
harganya diatur pemerintah. Namun pada akhir tahun 2015 akan turun ke sekitar 4% dan
bertahan stabil pada level tersebut hingga tahun 2016 mendatang. Perkiraan ini didasarkan
pada proyeksi harga komoditas yang belum akan mengalami kenaikan yang tajam tahun
depan, sehingga dampaknya terhadap kenaikan harga di dalam negeri relatif kecil.
Danareksa Research Institute
∂R
Proyeksi indikator makroekonomi utama 2015 - 2016
Dengan prospek inflasi yang semakin menurun ditambah dengan kecenderungan
defisit neraca transaksi berjalan yang semakin terjaga serta perlambatan pertumbuhan
ekonomi dalam beberapa triwulan terakhir ini, maka suku bunga BI rate berpotensi
turun menjadi 7.25% pada akhir tahun 2015. Stabilitas indikator makroekonomi
diperkirakan akan semakin baik tahun 2016, dengan inflasi yang tetap rendah serta
CAD yang semakin menurun. Dengan prospek seperti itu, maka suku bunga BI rate
berpotensi turun lebih jauh menjadi sekitar 6.75% pada tahun 2016 mendatang.
Secara fundamental saat ini nilai tukar rupiah undervalued, sehingga dengan perbaikan
faktor2 yang membuat rupiah melemah (isu kenaikan bunga the Fed selesai, CAD dan
inflasi yang makin terjaga serta peningkatan pertumbuhan ekonomi) diharapkan ada
potensi penguatan rupiah kedepan, khususnya untuk tahun 2016 mendatang. Potensi
perbaikan rating juga dapat mendorong penguatan rupiah tahun depan. Untuk tahun
2015, rupiah tampaknya masih cenderung tertekan menyusul ketidakpastian rencana
normalisasi kebijakan the Fed, harga komoditas di pasar global yang belum pulih serta
tren perlambatan pertumbuhan ekonomi yang masih terus berlangsung.
Danareksa Research Institute
∂R
Proyeksi indikator makroekonomi utama, 2015 - 2016
Laju inflasi diperkirakan akan semakin menurun dan defisit neraca transaksi
berjalan akan semakin terjaga, sehingga potensi penurunan suku bunga BI rate
atau relaksasi makroprudential semakin besar. Hal ini akan berdampak positif
terhadap pertumbuhan konsumsi dan investasi, sehingga pertumbuhan ekonomi
juga akan semakin membaik.
Kinerja ekonomi yang semakin baik akan berdampak positif terhadap penguatan
nilai tukar rupiah.
Basic Economic Indicators
Indikator
2013
2014
2015F
2016F
1. Pertumbuhan PDB, %
5.78
5.02
4.90
5.40
2. Laju Inflasi, %YoY
7.72
8.36
4.00
4.50
3. BI rate, %pa
7.50
7.75
7.25
6.75
Danareksa Research Institute
∂R
Kenaikan IHSG selama ini didukung oleh fundamental ekonomi yang baik
Sepanjang perekonomian msh ekspansi, mk berinvestasi dipasar modal tetap menjanjikan.Thn 2014 IHSG membukukan return sekitar 22%. Utk tahun 2015 dan 2016, perbaikan indikator makroekonomi seperti inflasi yang semakin menurun dan defisit neraca transaksi berjalan yang
makin terjaga yang mungkin akan diikuti penurunan suku bunga dapat berdampak positif terhadap IHSG hingga akhir tahun.
350 1050 1750 2450 3150 3850 4550 5250 5950 90 94 98 102 106 110 114 118 122 126 Jan -00 S ep-00 M ay -01 Jan -02 S ep-02 M ay -03 Jan -04 S ep-04 M ay -05 Jan -06 S ep-06 M ay -07 Jan -08 S ep-08 M ay -09 Jan -10 S ep-10 M ay -11 Jan -12 S ep-12 M ay -13 Jan -14 S ep-14 M ay -15
Coincident Economic Index (sumbu kiri)
IHSG (sumbu kanan)
Periode Resesi
Danareksa Research Institute
∂R
A. Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global
• Amerika Serikat
• Uni Eropa
• Asia: Jepang, Tiongkok dan India
B. Prospek Perekonomian Indonesia 2015 - 2016
• Inflasi, suku bunga dan nilai tukar
• Early economic indicators
• IKK, BSI, BPI dan pertumbuhan ekonomi
• Prospek pasar modal
C. Kesimpulan
Danareksa Research Institute
∂R
Kesimpulan
Perekonomian global masih dalam masa ekspansi, dan diperkirakan masih akan terus berlanjut sampai dengan tahun 2016 mendatang. Hal ini akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia.
Untuk tahun 2015 pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan 4.9% atau sedikit lebih rendah
dibandingkan dengan tahun 2014 (5.0%). Untuk tahun 2016 pertumbuhan ekonomi kita akan lebih baik (5.4%) yang terutama ditopang oleh konsumsi dan investasi serta kontribusi ekspor yang lebih berarti.
Laju inflasi yang saat ini sekitar 7.26% akan turun menjadi sekitar 4.0% pada akhir tahun 2015 dan tetap stabil pada level sekitar 4.5% sampai akhir tahun 2016 mendatang.
Dengan inflasi dan CAD yang semakin terjaga serta pertumbuhan ekonomi yang masih lambat, terbuka peluang penurunan suku bunga BI rate menjadi 7.25% pada akhir tahun 2015 dan 6.75% pada akhir tahun 2016.
Dalam jangka pendek rupiah masih tertekan dengan rata-rata Rp 13433 sepanjang tahun 2015. Namun dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik dan indikator makroekonomi lainnya yang lebih terjaga, maka tahun depan nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat menjadi rata-rata
sekitar 13401 per dolar Amerika.
Resiko: Penurunan harga minyak dunia menyebabkan tekanan terhadap harga komoditas ekspor utama, sehingga dapat berdampak negatif terhadap neraca transaksi berjalan dan APBN, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pula terhadap IDR & pasar modal. Tekanan tsb dpt meningkat jika pemulihan ekonomi dunia lebih lambat dari yang diprediksikan.