• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan & Prospek Perekonomian Indonesia Oktober 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perkembangan & Prospek Perekonomian Indonesia Oktober 2015"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

Danareksa Research Institute

∂R

Perkembangan & Prospek

Perekonomian Indonesia 2015 - 2016

Economic Research – PT Danareksa (Persero)

Jl. Medan Merdeka Selatan No. 14 Jakarta 10110 Tel. (6221) 350 9777 ext: 3602 Fax: (6221) 3501709

http://www.danareksa-research.com

(2)

Danareksa Research Institute

∂R

A. Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global

• Amerika Serikat

• Uni Eropa

• Asia: Jepang, Tiongkok dan India

B. Prospek Perekonomian Indonesia 2015 - 2016

• Inflasi, suku bunga dan nilai tukar

• Early economic indicators

• IKK, BSI, BPI dan pertumbuhan ekonomi

• Prospek pasar modal

C. Kesimpulan

(3)

Danareksa Research Institute

∂R

Perekonomian AS: kondisi terkini & prospeknya masih baik

 Perekonomian Amerika masih dalam masa ekspansi (terus bertumbuh). Ekspansi ini menciptakan lapangan kerja, sehingga tingkat pengangguran pun terus menurun dari 10.0% (Okt 2009) menjadi 5.1% (Sep 2015).

 Perbaikan ekonomi ini  mendorong the Fed akan melakukan normalisasi kebijakan (menaikkan bunga) setelah pd thn 2014 mengakhiri QE3-nya. Rencana ini menyebabkan volatilitas psr.  Namun rencana normalisasi kebijakan tsb masih diliputi

ketidakpastian krn data terkini menunjukkan bahwa ekspansi di AS masih relatif rapuh, inflasi masih rendah serta kondisi ekonomi negara2 besar lainnya juga masih rapuh.

25 35 45 55 65 Ja n-08 Jun -0 8 N ov-08 Ap r-09 Se p-0 9 Fe b-1 0 Jul -1 0 De c-10 M ay -1 1 O ct -11 M ar -12 Au g-12 Ja n-13 Jun -1 3 N ov-13 Ap r-14 Se p-1 4 Fe b-1 5 Jul -1 5 PMI-Mfg PMI-Serv Index -20 -15 -10 -5 0 5 10 Ja n-09 M ay -0 9 Se p-0 9 Ja n-10 M ay -1 0 Se p-1 0 Ja n-11 M ay -1 1 Se p-1 1 Ja n-12 M ay -1 2 Se p-1 2 Ja n-13 M ay -1 3 Se p-1 3 Ja n-14 M ay -1 4 Se p-1 4 Ja n-15 M ay -1 5 Se p-1 5 Industrial Production Retail Sales YoY% -6 -3 0 3 6 9 12 -6 -3 0 3 6 9 12 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 GDP Growth (YoY) Unemployment rate Inflation Rate FFR percent

(4)

Danareksa Research Institute

∂R

Siklus Bisnis Ekonomi AS: masih dalam fase ekspansi

 CEI yang menggambarkan kondisi ekonomi terkini dan LEI yang menggambarkan prospek ekonomi kedepan masih dalam tren

meningkat yang mengindikasikan bahwa perekonomian AS saat ini dan prospeknya 6 – 12 bulan kedepan masih dalam masa ekspansi dalam siklus bisnisnya.

 Secara historis rata-rata lamanya ekspansi perekonomian AS adalah 7 – 10 tahun. Artinya ekspansi yang dimulai sejak tahun 2009 berpotensi berlanjut sampai dengan 2016 – 2019 mendatang.

 Data terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan CEI dan LEI Amerika Serikat sedikit melambat, yang mengindikasikan bahwa pemulihan ekonominya juga sedikit melambat.

Siklus Bisnis Ekonomi AS

Leading Economic Index Naik

76 83 90 97 104 111 96 99 102 105 108 111 114 J an -07 A p r-0 7 J u l-0 7 O ct -0 7 J an -08 A p r-0 8 J u l-0 8 O ct -0 8 J an -09 A p r-0 9 J u l-0 9 O ct -0 9 J an -10 A p r-1 0 J u l-1 0 O ct -1 0 J an -11 A p r-1 1 J u l-1 1 O ct -1 1 J an -12 A p r-1 2 J u l-1 2 O ct -1 2 J an -13 A p r-1 3 J u l-1 3 O ct -1 3 J an -14 A p r-1 4 J u l-1 4 O ct -1 4 J an -15 A p r-1 5 J u l-1 5

USA: Coincident & Leading Economic Index CEI LEI 8 bulan 3 bulan Fase ekspansi Fase ekspansi Fase resesi 40 53 66 79 92 105 118 50 60 70 80 90 100 110 120 J a n-80 J a n-81 J a n-82 J a n-83 J a n-84 J a n-85 J a n-86 J a n-87 J a n-88 J a n-89 J a n-90 J a n-91 J a n-92 J a n-93 J a n-94 J a n-95 J a n-96 J a n-97 J a n-98 J a n-99 J a n-00 J a n-01 J a n-02 J a n-03 J a n-04 J a n-05 J a n-06 J a n-07 J a n-08 J a n-09 J a n-10 J a n-11 J a n-12 J a n-13 J a n-14 J a n-15

Siklus Bisnis Perekonomian Amerika Serikat

CEI LEI

Resesi

Fase ekspansi

(5)

Danareksa Research Institute

∂R

Perekonomian Jepang: pemulihan melambat, namun prospeknya msh baik

 Pada triwulan I 2014 pemerintah Jepang menaikkan pajak penjualan 3% (lebih tinggi dari kenaikan income masyarakat), sehingga daya beli masyarakatnya menurun. Akibatnya pemulihan ekonomi yang terlihat sejak awal tahun 2013 langsung mengalami penurunan yang tajam.

 Sesudah itu perekonomian Jepang kembali mulai membaik, namun data terkini menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Konsensus memperkirakan tahun 2015 ekonomi Jepang akan tumbuh 0.7% (lbh tinggi dari thn lalu -0.1%, namun lbh rendah dari prediksi awal tahun 1.1%).  Dengan kondisi seperti itu, maka kebijakan moneter longgar

(berupa suku bunga rendah & stimulus) masih berlanjut.

44 47 50 53 56 59 J an -10 M a r-1 0 M a y-10 J u l-1 0 S ep -10 N o v -1 0 J an -11 M a r-1 1 M a y-1 1 J u l-1 1 S ep -11 N o v -1 1 J an -12 M a r-1 2 M a y-12 J u l-1 2 S ep -12 N o v -1 2 J an -13 M a r-1 3 M a y-1 3 J u l-1 3 S ep -13 N o v -1 3 J an -14 M a r-1 4 M a y-14 J u l-1 4 S ep -14 N o v -1 4 J an -15 M a r-1 5 M a y-1 5 J u l-1 5 S ep -15

Japan: Purchasing Manager Index

95 100 105 110 115 120 J -1 0 M-1 0 M-1 0 J -1 0 S -1 0 N -10 J-1 1 M-1 1 M-1 1 J -1 1 S -1 1 N -11 J-1 2 M-1 2 M-1 2 J -1 2 S -1 2 N -12 J-1 3 M-1 3 M-1 3 J -1 3 S -1 3 N -13 J-1 4 M-1 4 M-1 4 J -1 4 S -1 4 N -14 J-1 5 M-1 5 M-1 5 J -1 5 S -1 5

Japan: Composite coincident & leading economic index

LEI CEI -16.0 -8.0 0.0 8.0 16.0 24.0 32.0 40.0 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 J -10 M-1 0 M-1 0 J -10 S-1 0 N-1 0 J -11 M-1 1 M-1 1 J -11 S-1 1 N-1 1 J -12 M-1 2 M-1 2 J -12 S-1 2 N-1 2 J -13 M-1 3 M-1 3 J -13 S-1 3 N-1 3 J -14 M-1 4 M-1 4 J -14 S-1 4 N-1 4 J -15 M-1 5 M-1 5 J -15 S-1 5

Japan: New Orders for Machinery

(6)

Danareksa Research Institute

∂R

Ekonomi Euro: pemulihan kembali membaik

 Setelah keluar dari krisis ekonomi tahun 2012, pemulihan ekonomi Eropa kembali melambat sejak Q2 2014, akibat krisis geopolitik di Ukraina dan kecenderungan deflasi di kawasan Eropa.

 Untuk itu bank sentral Eropa (ECB) melonggarkan kebijakan moneter (berupa bunga rendah dan QE  bonds korporasi dan pemerintah). Hal ini akan berdampak positif terhadap pasar modal emerging market termasuk Indonesia.

 Data makroekonomi terkini (LEI, IKK, EPE, dll)

mengindikasikan adanya perbaikan pemulihan ekonomi di kawasan Euro, meskipun sempat tertahan ketika terjadi gejolak politik di Yunani pada bulan Juli 2015 yang lalu.

30 35 40 45 50 55 60 -6 -3 0 3 6 9 Ja n-11 Ap r-11 Jul -1 1 O ct -11 Ja n-12 Ap r-12 Jul -1 2 O ct -12 Ja n-13 Ap r-13 Jul -1 3 O ct -13 Ja n-14 Ap r-14 Jul -1 4 O ct -14 Ja n-15 Ap r-15 Jul -1 5

PMI dan Pertumbuhan IPI (%YoY)

IPI PMI

IPI (YoY%) PMI

-6 -3 0 3 6 9 12 15 Ja n-09 M ay -0 9 Se p-0 9 Ja n-10 M ay -1 0 Se p-1 0 Ja n-11 M ay -1 1 Se p-1 1 Ja n-12 M ay -1 2 Se p-1 2 Ja n-13 M ay -1 3 Se p-1 3 Ja n-14 M ay -1 4 Se p-1 4 Ja n-15 M ay -1 5 Se p-1 5

Pertumbuhan M1, M2 dan Kredit

M1 M2 Credit YoY% -6 -4 -2 0 2 4 6 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbuhan Ekonomi Tingkat Inflasi Suku Bunga

(7)

Danareksa Research Institute

∂R

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok masih Melambat

 Perekonomian Tiongkok terus melambat, sesuai disain pemerintahnya menuju ke 7%. Beberapa indikator makroekonominya (CEI, LEI, PMI, IKK) menunjukkan pertumbuhan perekonomian Tiongkok cenderung masih lemah.

 Untuk mendorong pertumbuhan ekonominya kembali ke level yang diinginkan, otoritas moneter Tiongkok makin melonggarkan kebijakan moneter nya berupa penurunan bunga dan GWM.

-3.0 -1.5 0.0 1.5 3.0 4.5 6.0 7.5 9.0 0 2 4 6 8 10 12 14 16 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

GDP Growth CN: Lending Rate Inflation Rate

(8)

Danareksa Research Institute

∂R

Devaluasi Yuan

 QE yang dilakukan oleh Eropa dan Jepang menyebabkan nilai tukar kedua mata uang

tersebut melemah terhadap US$. Sementara itu otortitas moneter China (PBoC) berupaya

melakukan stabilisasi nilai tukar nya utk mencegah capital outflow, sehingga China Yuan

cenderung menguat.

 Apresiasi Yuan menyebabkan penurunan daya saing produk Tiongkok di pasar global,

sehingga ekspor nya menurun melampaui perkiraan (data terakhir bulan Juli dan Agustus

2015 turun -8.5% vs -1.5%) yang juga berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonominya.

 Untuk mendorong peningkatan ekspor nya Bank Sentral China (PBoC) mendevaluasi Yuan

agar produk China lebih kompetitif di pasar global. Dengan demikian ekspor diharapkan akan

kembali membaik dan memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap pertumbuhan

ekonomi nya (ekspor China elastis terhadap nilai tukarnya).

 Devaluasi ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi masuknya Yuan sebagai salah satu

mata uang official reserve IMF (mengurangi tekanan depresiasi yg ditahan semala ini).

 Devaluasi ini menyebabkan mata uang negara lain turut “terdepresiasi”, termasuk Rupiah.

Disamping itu kebijakan ini juga akan mempengaruhi rencana the Fed yang akan melakukan

normalisasi kebijakan (berpeluang semakin mundur  memperpanjang ketidakpastian).

(9)

Danareksa Research Institute

∂R

Perekonomian India: ada indikasi mulai membaik

 Perekonomian India cenderung membaik  seperti tercermin pada GDP growth, PMI manufaktur dan jasa2 yg meningkat, dll.  Kedepan diperkirakan juga membaik sejalan inflasi yang menurun yang akan diikuti oleh penurunan bunga. Hal ini akan

mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi kedepan seperti terlihat pada pertumbuhan LEI yang semakin meningkat.

0 3 6 9 12 15 18 0 3 6 9 12 15 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Pertumbuhan Ekonomi Policy Rate Inflation Rate

(10)

Danareksa Research Institute

∂R

Pertumbuhan Ekonomi Global: 2015 dan 2016 lebih prospektif

Pertumbuhan ekonomi sebagian besar mitra dagang utama Indonesia sedikit membaik

pada thn 2015 dan 2016 mendatang  akan berdampak positif terhadap ekspor kita.

(11)

Danareksa Research Institute

∂R

Neraca Perdagangan: ada indikasi semakin membaik

YTD (Jan-Aug)

Sepanjang tahun 2012 – 2014, permintaan domestik yang kuat telah memicu kenaikan impor,

sedangkan kondisi global yang lesu membuat ekspor Indonesia tertekan. Akibatnya, Indonesia

mengalami defisit neraca perdagangan. Kondisi terkini neraca perdagangan cenderung surplus.

Import

Export

-5 0 5 10 15 20 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 b il li o n s o f U S $ Trade Balance Total Export Total Import Migas 12.6% Pertanian 3.6% Industri 70.4% Pertamb. & Lain 13.3% 7.5% 75.5% 17.0%

Barang Konsumsi Bahan Baku/Penolong

(12)

Danareksa Research Institute

∂R

Defisit Neraca Transaksi Berjalan Akan Membaik

Current account deficit memicu kekhawatiran apakah ekspansi ekonomi Indonesia berkesinambungan? Ekspansi ekonomi global & perlambatan ekonomi dom  ekspor berpotensi membaik, impor turun, neraca perdagangan akan membaik shg defisit transaksi berjalan akan makin terkendali.

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 I. Transaksi Berjalan 5.14 1.69 -24.42 -29.11 -27.49 -4.91 -9.59 -7.04 -5.95 -4.10 -4.48 A. Barang 31.00 33.83 8.68 5.83 6.98 3.35 -0.38 1.56 2.45 3.06 4.12 B. Jasa - jasa -9.79 -9.80 -10.56 -12.07 -10.01 -2.13 -2.83 -2.49 -2.56 -1.86 -2.65 C. Pendapatan Primer -20.70 -26.55 -26.63 -27.05 -29.68 -7.21 -7.92 -7.31 -7.24 -6.72 -7.37 D. Pendapatan Sekunder 4.63 4.21 4.09 4.18 5.22 1.09 1.53 1.20 1.40 1.42 1.42

II. Transaksi Modal 0.05 0.03 0.05 0.05 0.03 0.00 0.01 0.00 0.02 0.00 0.00 III. Transaksi Finansial ² 26.48 13.60 24.86 21.93 44.62 7.06 13.92 14.72 8.92 6.31 2.48

- Aset -7.29 -16.45 -17.97 -15.47 -11.94 -6.25 -2.96 -3.93 1.20 -7.77 -7.83 - Kewajiban 33.77 30.06 42.83 37.39 56.56 13.31 16.88 18.66 7.72 14.09 10.31 1. Investasi Langsung 11.11 11.53 13.72 12.17 15.96 3.23 3.71 5.99 3.03 2.31 3.63 2. Investasi Portofolio 13.20 3.81 9.21 10.87 26.06 8.73 8.05 7.41 1.87 8.80 5.77 a. Aset -2.51 -1.19 -5.47 -1.27 2.59 0.47 -0.99 1.30 1.81 0.37 -0.50 b. Kewajiban 15.71 5.00 14.67 12.15 23.47 8.27 9.04 6.11 0.06 8.42 6.28 3. Derivatif Finansial -0.09 0.07 0.01 -0.33 -0.21 -0.14 0.05 -0.06 -0.06 0.09 0.02 4. Investasi Lainnya 2.26 -1.80 1.92 -0.78 2.82 -4.76 2.12 1.38 4.08 -4.88 -6.94 a. Aset -1.73 -6.75 -5.35 -3.43 -4.30 -4.07 0.38 -2.89 2.28 -4.90 -4.48 b. Kewajiban 3.99 4.95 7.28 2.64 7.11 -0.69 1.74 4.26 1.80 0.02 -2.46

IV. Total (I + II + III) 31.67 15.32 0.49 -7.14 17.17 2.15 4.33 7.69 2.99 2.22 -1.99 V. Selisih Perhitungan Bersih -1.33 -3.46 -0.28 -0.19 -1.92 -0.09 -0.04 -1.22 -0.58 -0.91 -0.93 VI. Neraca Keseluruhan (IV + V) 30.34 11.86 0.22 -7.32 15.25 2.07 4.30 6.48 2.41 1.30 -2.93 VII. Cadangan Devisa dan yang terka -30.34 -11.86 -0.22 7.32 -15.25 -2.07 -4.30 -6.48 -2.41 -1.30 2.93 Memorandum:

- Posisi Cadangan Devisa 96.21 110.12 112.78 99.39 111.86 102.59 107.68 111.16 111.86 111.55 108.03

Dalam Bulan Impor dan Pembayara 7.56 6.74 6.15 5.47 6.40 5.70 6.10 6.30 6.40 6.60 6.80 - Transaksi Berjalan (% PDB) 0.72 0.20 -2.78 -3.19 -3.09 -2.33 -4.26 -3.02 -2.71 -1.92 -2.05

2014 2015

(13)

Danareksa Research Institute

∂R

Defisit neraca berjalan memicu pelemahan nilai tukar

Defisit neraca berjalan memicu sentimen negatif terhadap rupiah. Karena itu perbaikan defisit

neraca transaksi berjalan akan mendorong penguatan nilai tukar rupiah.

8,500 9,500 10,500 11,500 12,500 13,500 14,500 -12,000 -10,000 -8,000 -6,000 -4,000 -2,000 0 2,000 4,000 6,000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Transaksi Berjalan

IDR ep

(14)

Danareksa Research Institute

∂R

13

Realisasi FDI Menurut Sektor

Realisasi FDI and DDI

Peringkat ‘investment grade’ mendorong aliran FDI Meningkat

Aktivitas investasi (domestik and asing) meningkat dengan signifikan. Foreign Direct

Investment (FDI) menunjukkan trend naik , dan mencapai US$ 6.8 miliar pada triwulan

IV 2014. Sepanjang 4 tw 2014, FDI didominasi oleh sektor sekunder sekitar 46%,

khususnya industri. Gejala ini menunjukkan prospek meningkatnya produktivitas.

Meningkatnya produktivitas akan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar

lokal maupun global.

Investment grade

(15)

Danareksa Research Institute

∂R

14

Defisit Neraca Transaksi Berjalan Tidak Selalu Buruk

Pada periode 1981-1996, ketika ekonomi Indonesia tumbuh dengan laju yang tinggi, Indonesia selalu mengalami defisit neraca transaksi berjalan. Indonesia mengalami surplus neraca transaksi berjalan ketika ekonominya jatuh ke resei yang dalam. Jadi, defisit neraca transaksi berjalan justru memberi sinyal bahwa ekonomi Indonesia mulai memasuki fasa pertumbuhan yg lebih cepat. Banyak ekonom yang meyakini bahwa defisit neraca transaksi berjalan adalah fenomena umum yg dialami oleh negara berkembang spt Indonesia.

-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 -30 -25 -20 -15 -10 -5 0 5 10 15 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

Current Account (US$ BN) Current Account (%GDP)

(16)

Danareksa Research Institute

∂R

Prospek Perekonomian Global dan Ekonomi DN

 Dari diskusi di atas, perekonomian global masih ekspansi dan prospeknya masih

baik. Implikasinya terhadap perekonomian domestik adalah:

o

Ketidakpastian normalisasi kebijakan moneter the Fed, menimbulkan ketidakpastian di

pasar keuangan global, termasuk Indonesia. IDR dan pasar modal masih berpotensi

mengalami volatilitas.

o

Peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia  berpotensi mendorong kenaikan volume

permintaan dan harga terhadap produk Indonesia, meskipun kenaikannya tidak tajam.

o

Dengan demikian ekspor masih berpotensi tumbuh (meskipun tidak tajam)  sehingga

kontribusi net-eskpor akan positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

o

Trade balance akan membaik  CAD akan lebih terjaga  positif utk IDR/US$.

o

QE di Euro dan Jepang akan berdampak pada meningkatnya inflow dari kedua negara

tersebut, yang akan berdampak positif terhadap pasar modal dan nilai tukar rupiah.

(17)

Danareksa Research Institute

∂R

A. Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global

• Amerika Serikat

• Uni Eropa

• Asia: Jepang, Tiongkok dan India

B. Prospek Perekonomian Indonesia 2015 - 2016

• Inflasi, suku bunga dan nilai tukar

• Early economic indicators

• IKK, BSI, BPI dan pertumbuhan ekonomi

• Prospek pasar modal

C. Kesimpulan

(18)

Danareksa Research Institute

∂R

Suku Bunga (BI rate) dan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi

Indonesia sangat

dipengaruhi oleh tingkat

suku bunga (berkorelasi

negatif).

Suku bunga yang relatif

rendah akan mendorong

pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya kenaikan

suku bunga, cenderung

memperlambat

pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi Suku Bunga/Inflasi

Sementara itu tingkat bunga sangat tergantung pada laju inflasi di dalam negeri, karena

BI menganut inflation targeting framework, dimana BI akan menaikkan bunga bila

ekspektasi inflasi cenderung meningkat, dan sebaliknya.

0 5 10 15 20 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2Q3Q4Q1Q2 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

(19)

Danareksa Research Institute

∂R

Perkembangan Inflasi Dalam Negeri, %

Laju inflasi cenderung terjaga menyusul harga komoditas yang relatif stabil di pasar global. Dampak kenaikan harga BBM pada bulan Nopember 2014 akan hilang pada bulan Nopember 2015 ini (inflasi akan menurun tajam)

Weight

2012 Jul-15 Aug-15 Sep-15 Jul-15 Aug-15 Sep-15 Jul-15 Aug-15 Sep-15 2013 2014 2015

FOODSTUFFS 18.9 2.02 0.91 -1.07 8.66 9.26 8.26 0.40 0.19 -0.230 11.73 4.61 2.42 PREPARED FOOD 16.2 0.51 0.71 0.39 8.19 8.39 8.26 0.09 0.11 0.070 5.50 4.83 4.97 HOUSING 25.4 0.13 0.16 0.20 6.99 6.38 5.78 0.03 0.04 0.050 4.80 4.22 2.68 CLOTHING 7.3 0.39 0.01 0.83 3.29 3.06 4.10 0.02 0.00 0.060 0.74 2.29 3.31 MEDICAL CARE 4.7 0.36 0.70 0.44 5.60 5.99 6.15 0.02 0.03 0.020 2.88 3.88 4.31 EDUCATION 8.5 0.34 1.72 0.89 4.02 4.17 4.39 0.02 0.13 0.070 2.80 3.74 3.69 TRANSPORTATION 19.2 1.74 -0.58 -0.40 8.67 8.17 8.00 0.35 -0.11 -0.090 11.60 1.72 -2.04 GENERAL 100.0 0.93 0.39 -0.05 7.26 7.18 6.83 0.93 0.39 -0.050 7.22 3.71 2.24 Food and Non-Food

FOOD 35.0 1.34 0.82 -0.42 8.45 8.87 8.26 0.49 0.30 -0.16 8.85 4.71 3.56 NON-FOOD 65.0 0.70 0.14 0.18 6.64 6.27 6.12 0.44 0.09 0.11 5.94 3.16 1.47 Core Inflation Core 0.34 0.52 0.44 4.86 4.92 5.07 0.19 0.31 0.26 3.10 3.18 3.32 Administered Price 1.67 -0.45 -0.40 13.53 12.32 11.26 0.35 -0.09 -0.08 15.55 4.94 -0.69 Volatile Food 2.13 0.95 -1.25 8.97 9.65 8.52 0.39 0.17 -0.23 12.56 4.37 2.16 Source : BPS

(20)

Danareksa Research Institute

∂R

Prospek Inflasi

 Untuk bulan Oktober laju inflasi bulanan akan relatif rendah setelah tahun ajaran baru untuk SD s/d PT berakhir, sehingga inflasi tahunan kita pun akan semakin menurun. Penurunan tersebut akan semakin tajam pada bulan Nopember mendatang karena dampak kenaikan harga BBM pada bulan Nopember 2014 akan hilang.

 Paket stimulus ekonomi ke-3 yang menurunkan harga solar, LPG serta diskon tarif listrik untuk golongan I3 dan I4 akan semakin memperbesar peluang rendahnya inflasi pada bulan Oktober ini, bahkan berpeluang kembali terjadi deflasi. Dengan demikian inflasi tahunan pun akan mengalami penurunan yang tajam pada bulan ini.

 Dari sisi eksternal tekanan inflasi diperkirakan relatif terjaga, karena harga komoditas di pasar global diprediksikan akan relatif stabil sampai akhir tahun 2015. EIA memperkirakan harga minyak tahun 2015 (WTI): US$ 50 - 60 per barel, bahkan saat ini tren-nya masih menurun. Untuk tahun 2016, harga minyak diperkirakan sekitar US$ 60 per barel, bahkan berpotensi lebih rendah.

 Jadi baik dari sisi domestik maupun global tampaknya kecil peluang adanya faktor yang mendorong kenaikan inflasi yang signifikan.

 Dengan perkembangan seperti itu, maka inflasi sepanjang tahun 2015 akan relatif stabil di sekitar 7.0% dan akan menurun tajam pada bulan Nopember 2015 serta turun lebih jauh menjadi sekitar 4% pada akhir tahun 2015 ini. Untuk tahun 2016, laju inflasi diperkirakan stabil sekitar 4.5%.

(21)

Danareksa Research Institute

∂R

Perkiraan laju inflasi

Kenaikan harga BBM bersubsidi pd bln Nopember 2014 mendorong kenaikan inflasi. Sepanjang tahun 2015 laju inflasi diprediksikan akan stabil sekitar 7.0% & turun signifikan pd bln Nop-Des menjadi sekitar 4% dan 4.5% tahun 2016.

2.0 3.0 4.0 5.0 6.0 7.0 8.0 9.0 -0.6 0.0 0.6 1.2 1.8 2.4 3.0 3.6 Ja n -12 M ar -12 M ay-12 Ju l-12 Se p -1 2 N o v -12 Ja n -13 M ar -13 M ay-13 Ju l-13 Se p -1 3 N o v -13 Ja n -14 M ar -14 M ay-14 Ju l-14 Se p -1 4 N o v -14 Ja n -15 M ar -15 M ay-15 Ju l-15 Se p -1 5 N o v -15

Laju Inflasi dan Suku Bunga BI rate

MoM, %

YoY, %

BI Rate

Fore cast

(22)

Danareksa Research Institute

∂R

Perkiraan harga minyak mentah dunia

EIA memperkirakan harga minyak mentah dunia tahun 2015 akan cenderung stabil dalam kisaran 50 s/d 60 US$ per barel dan sekitar US$ 60 per barel pada tahun 2016.

30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 1st 2nd 3rd 4th 2012 2013 2014 2015 2016

Brent crude oil spot price

(23)

Danareksa Research Institute

∂R

Prospek Suku Bunga

 Seperti kita ketahui bersama, bank sentral kita menerapkan kebijakan moneter yg cenderung

ketat utk menstabilkan makroekonomi Indonesia (stability over growth), khususnya laju inflasi,

defisit neraca transaksi berjalan nilai nilai tukar rupiah. Melihat perkembangan yang terjadi

belakangan ini, maka peluang BI menurunkan suku bunga BI rate semakin terbuka lebar krn:

o Laju inflasi semakin terjaga

o Defisit neraca transaksi berjalan semakin membaik, yang pada gilirannya berpotensi mendorong penguatan rupiah yang selama ini menjadi kekhawatiran Bank Indonesia.

o Pemerintah menghendaki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi

o Interest rate differential kita dengan negara2 tetangga semakin menurun.

 Namun demikian peluang BI tidak menurunkan suku bunga juga tetap ada, mengingat BI akan

nyaman bila real-rate kita sekitar 1.5%, dimana suku bunga yang digunakan adalah O/N

(dalam hal ini suku bunga Fasbi) yang saat ini berada di level 5.5%. Dengan demikian jika

ekspektasi inflasi adalah sekitar 4%, maka real rate kita nanti akan sekitar 1.5% (sesuai level

yang dikehendaki). Disamping itu penundaan kenaikan suku bunga the Fed, masih menjadi

faktor yang dikhawatirkan dapat menimbulkan volatilitas nantinya.

(24)

Danareksa Research Institute

∂R

Kenaikan BI rate tidak mampu menahan pelemahan rupiah

Kenaikan suku bunga BI rate tidak mampu menahan pelemahan rupiah, bahkan ada kecenderungan kenaikan suku bunga justru semakin menekan nilai tukar rupiah.

(25)

Danareksa Research Institute

∂R

Pertumbuhan ekonomi AS vs capital flow

Perbaikan kinerja perekonomian AS berkorelasi positif dengan arus modal masuk ke Indonesia baik dalam bentuk portfolio maupun investasi langsung (FDI)  return di emerging market tetap lebih menarik (long-run).

(26)

Danareksa Research Institute

∂R

Perbaikan kinerja pasar modal di AS berdampak positif pd IHSG

Perbaikan kinerja perekonomian AS akan berdampak positif terhadap pasar modalnya. Sementara itu perbaikan kinerja pasar modal AS akan berdampak positif terhadap pasar modal Indonesia.

0 1 2 3 4 5 6 6 8 10 12 14 16 18 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

INDU (LHS)

JCI (RHS)

(27)

Danareksa Research Institute

∂R

Indeks Nilai Tukar Nominal

Pada awalnya IDR bergerak seiring dengan mata uang regional. Namun sentimen negatif terhadap CAD membuat IDR bergerak melemah sendiri, termasuk pd saat AS melakukan QE3. Perlambatan pertumbuhan ekonomi saat ini menjadi faktor pelemahan IDR

60 70 80 90 100 110 120 Ja n -10 M ar -10 M ay-10 Ju l-10 Se p -1 0 N o v -10 Ja n -11 M ar -11 M ay-11 Ju l-11 Se p -1 1 N o v -11 Ja n -12 M ar -12 M ay-12 Ju l-12 Se p -1 2 N o v -12 Ja n -13 M ar -13 M ay-13 Ju l-13 Se p -1 3 N o v -13 Ja n -14 M ar -14 M ay-14 Ju l-14 Se p -1 4 N o v -14 Ja n -15 M ar -15 M ay-15 Ju l-15 Se p -1 5

Indeks Nilai Tukar, 2010 = 100

(28)

Danareksa Research Institute

∂R

Nilai Tukar Rupiah: Aktual vs Fundamental

Dengan menggunakan beberapa metode, nilai fundamental rupiah terhadap US$ adalah sekitar Rp 11800 per US$. Dengan demikian nilai spot rate rupiah yang saat ini (September 2015) sekitar Rp 14657 per US$ adalah undervalued sekitar -20.0%. Artinya secara fundamental nilai tukar rupiah seharusnya lebih kuat.

Indikator Dec-08 Dec-09 Dec-10 Dec-11 Dec-12 Dec-13 Dec-14 Mar-15 Jun-15 Sep-15

AKTUAL 10,950 9,400 8,991 9,068 9,670 12,189 12,440 13,084 13,332 14,657 1. PPP 8,815 8,812 9,293 9,362 9,593 10,240 11,021 10,998 11,056 11,162 2. REER 8,999 8,332 8,937 9,107 9,396 11,922 12,167 13,261 11,881 11,322 3. Tren PPP 8,539 8,873 9,143 9,395 9,736 10,208 10,760 10,904 11,049 11,193 4. Trend REER 9,252 8,870 8,881 9,328 10,222 11,188 11,849 11,973 12,087 12,197 5. Econometric 11,058 10,532 9,749 9,965 10,397 10,935 12,472 12,759 12,645 12,888 6. Competing Currency 10,563 8,595 8,706 9,575 8,412 10,259 10,807 11,195 10,918 11,595 Fundamental Value 9,538 9,002 9,118 9,456 9,626 10,792 11,513 11,848 11,606 11,726 Deviasi, % -12.9 -4.2 1.4 4.3 -0.5 -11.5 -7.5 -9.4 -12.9 -20.0

(29)

Danareksa Research Institute

∂R

…Nilai Tukar Rupiah: Aktual vs Fundamental

Saat ini spot rate IDR undervalued sekitar 20.0%, dan dalam jangka panjang biasanya akan kembali ke fundamental value-nya. Selanjutnya perbaikan kinerja perekonomian dunia akan mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan serta meningkatkan arus masuk investasi portfolio maupun FDI ke Indonesia. Dengan latar belakang seperti itu, maka dalam jangka menengah dan panjang IDR diprediksikan berpotensi lebih kuat dari level yang ada saat ini. Namun perlambatan pertumbuhan ekonomi yg makin dalam saat ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.

-32.0 -26.5 -21.0 -15.5 -10.0 -4.5 1.0 6.5 12.0 7500 8500 9500 10500 11500 12500 13500 14500 15500 J a n-08 Ap r-0 8 J ul -0 8 O c t-08 J a n-09 Ap r-0 9 J ul -0 9 O c t-09 J a n-10 Ap r-1 0 J ul -1 0 O c t-10 J a n-11 Ap r-1 1 J ul -1 1 O c t-11 J a n-12 Ap r-1 2 J ul -1 2 O c t-12 J a n-13 Ap r-1 3 J ul -1 3 O c t-13 J a n-14 Ap r-1 4 J ul -1 4 O c t-14 J a n-15 Ap r-1 5 J ul -1 5

Nilai Tukar Rupiah: Aktual vs Fundamental

Aktual Spot Rate Fundamental Value Deviasi dari Fundamental

(30)

Danareksa Research Institute

∂R

Faktor yang mempengaruhi kurs Rupiah

 Saat ini nilai tukar rupiah terhadap US$ berada pada level sekitar Rp 13500-an per US$, yang berarti terdepresiasi sekitar 7.5% dari penutupan akhir tahun lalu. Pada level ini rupiah terlalu murah (undervalued) sekitar 13%. Sebagaimana yang telah didiskusikan sebelumnya, pelemahan rupiah disebabkan oleh:

o Rencana normalisasi kebijakan moneter oleh the Fed o Adanya sentimen negatif karena CAD

o Kebijakan ‘nilai tukar lemah’ untuk mengurangi impor dan mendorong ekspor o Perlambatan pertumbuhan ekonomi

 Kedepan IDR berpotensi menguat, karena:

o Saat ini masih undervalued

o Perbaikan neraca perdagangan yang akan berdampak positif terhadap perbaikan defisit neraca transaksi berjalan. Hal ini berpotensi mengembalikan sentimen positif terhadap rupiah.

o Ada indikasi pemulihan pertumbuhan ekonomi yang biasanya diikuti oleh peningkatan kinerja emiten, yang pada gilirannya mendorong masuknya investor asing. Pemulihan pertumbuhan ekonomi juga berpotensi meningkatkan peringkat Indonesia (oleh S&P).

 Namun perlu diwaspadai bahwa jika ada perbaikan pemulihan ekonomi di Amerika Serikat, maka isu normalisasi kebijakan the Fed akan muncul kembali yang dapat menyebabkan volatilitas nilai tukar rupiah. Hanya saja dengan kinerja pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang lebih baik, maka potensi pelemahan akan lebih terbatas.

(31)

Danareksa Research Institute

∂R

Coincident Economic Index: … flat dengan tren pertumbuhan melambat

Dalam periode Juli 2008 –

Februari 2009 CEI cenderung

menurun. Hal ini

mengindikasikan adanya

perlambatan yang signifikan

dalam pertumbuhan ekonomi

Indonesia.

Namun dalam periode Maret

2009 – Q2 2013, tren CEI

masih meningkat, yang

mengindikasikan perekonomian

masih bertumbuh.

CEI yang relatif flat sejak 2012,

mengindikasikan pertumbuhan

ekonomi yang cenderung

melambat masih terus berlanjut

sampai saat ini.

-6.4 -4.4 -2.4 -0.4 1.6 3.6 5.6 7.6 95 99 104 108 113 117 121 126 J -0 8 A-0 8 J -0 8 O -0 8 J -0 9 A-0 9 J -0 9 O -0 9 J -1 0 A-1 0 J -1 0 O -1 0 J -1 1 A-1 1 J -1 1 O -1 1 J -1 2 A-1 2 J -1 2 O -1 2 J -1 3 A-1 3 J -1 3 O -1 3 J -1 4 A-1 4 J -1 4 O -1 4 J -1 5 A-1 5 J -1 5

Composite Coincident Index Index (LHS) SM6,% (RHS)

(32)

Danareksa Research Institute

∂R

Leading Economic Index: …masih dalam tren menurun

Resesi mini yang terjadi dlm

periode Jul 2008 - Feb 2009

sdh terdeteksi oleh LEI sejak

bln Nop 2007. Demikian pula

fase ekspansi yg mulai terjadi

sejak Mar 2009 terdeteksi oleh

LEI sejak Nop 2008.

Data terkini menunjukkan level

LEI yang cenderung flat

bahkan menurun dan dengan

tren pertumbuhan menurun.

Artinya, dalam beberapa bulan

mendatang pertumbuhan

ekonomi kita masih berpotensi

lambat.

Tanpa kebijakan yg

counter-cyclical perlambatan ini

berpotensi makin memburuk.

-7.5 -5.0 -2.5 0.0 2.5 5.0 7.5 10.0 94 101 108 115 122 129 136 143 J -0 8 A-0 8 J -0 8 O -… J -0 9 A-0 9 J -0 9 O -… J -1 0 A-1 0 J -1 0 O -… J -1 1 A-1 1 J -1 1 O -… J -1 2 A-1 2 J -1 2 O -… J -1 3 A-1 3 J -1 3 O -… J -1 4 A-1 4 J -1 4 O -… J -1 5 A-1 5 J -1 5

COMPOSITE LEADING INDEX

(33)

Danareksa Research Institute

∂R

Siklus Bisnis

ekspansi

kontraksi

ekspansi

P3

P2

P1

T1

T2

T3

Semua

negara

di

dunia memiliki siklus

bisnis,

dimana

ekonomi ada kalanya

bertumbuh (ekspansi)

dan kontraksi (resesi).

Pada

saat

ekonomi

ekspansi

dan

terdeteksi

titik

P1

berarti ekonomi akan

melambat.

Jika

terdeteksi P2 berarti

ekonomi

akan

melambat

signifikan.

Dan bila terdeteksi P3

berarti ekonomi akan

memasuki resesi.

Sebaliknya pada saat ekonomi resesi, maka deteksi T1 berarti ekonomi akan segera ekspansi.

Deteksi T2 dan T3 berarti ekspansinya akan lebih pesat atau full capacity.

(34)

Danareksa Research Institute

∂R

Deteksi Titik Puncak (Peak)

Titik puncak P1 terdeteksi pada bulan Juni 2008 dan kemudian P2 serta P3 masing-masing terdeteksi pd bulan Oktober dan Nopember 2008. P1 kembali terdeteksi pada Maret 2015. Tanpa kebijakan yang counter-cyclical perlambatan yang terjadi saat ini berpotensi untuk munculnya P2 dan P3.

87 93 99 105 111 117 123 129 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 CEI P1 P2 P3

(35)

Danareksa Research Institute

∂R

Deteksi Titik Lembah (Trough)

Titik T1 terdeteksi pada bulan Maret 2009 dan titik T2 dan T3 terdeteksi pada bulan Oktober. Artinya setelah mengalami resesi mini dalam periode Juli 2008 – Maret 2009, maka perekonomian Indonesia kembali memasuki fase ekspansi.

87 93 99 105 111 117 123 129 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 CEI T1 T2 T3

(36)

Danareksa Research Institute

∂R

Siklus Bisnis Indonesia: Rata-rata Periode Ekspansi 7 tahun

80 86 91 97 102 108 113 119 124 130 72 80 88 96 104 112 120 128 136 144 Jan -9 0 O ct -9 0 Ju l-9 1 A p r-92 Jan -9 3 O ct -9 3 Ju l-9 4 A p r-95 Jan -9 6 O ct -9 6 Ju l-9 7 A p r-98 Jan -9 9 O ct -9 9 Ju l-0 0 A p r-01 Jan -0 2 O ct -0 2 Ju l-0 3 A p r-04 Jan -0 5 O ct -0 5 Ju l-0 6 A p r-07 Jan -0 8 O ct -0 8 Ju l-0 9 A p r-10 Jan -1 1 O ct -1 1 Ju l-1 2 A p r-13 Jan -1 4 O ct -1 4 Ju l-1 5 LEI (LHS) CEI (RHS)

Periode Resesi

Periode ekspansi

Periode

ekspansi

Periode ekspansi

Periode ekspansi

(37)

Danareksa Research Institute

∂R

IKK: Menurun, namun masih di level yang relatif tinggi

IKK memberikan indikasi tentang tingkat keyakinan konsumen thdp kondisi perekonomian secara keseluruhan.

73.3 91.6 65.3 60 70 80 90 100 110 J -0 4 A-0 4 J -0 4 O -0 4 J -0 5 A-0 5 J -0 5 O -0 5 J -0 6 A-0 6 J -0 6 O -0 6 J -0 7 A-0 7 J -0 7 O -0 7 J -0 8 A-0 8 J -0 8 O -0 8 J -0 9 A-0 9 J -0 9 O -0 9 J -1 0 A-1 0 J -1 0 O -1 0 J -1 1 A-1 1 J -1 1 O -1 1 J -1 2 A-1 2 J -1 2 O -1 2 J -1 3 A-1 3 J -1 3 O -1 3 J -1 4 A-1 4 J -1 4 O -1 4 J -1 5 A-1 5 J -1 5

Indeks Kepercayaan Konsumen

Kenaikan BBM I Kenaikan BBM II Harga bahan pokok naik Inflasi meningkat Kenaikan BBM III Penurunan harga BBM Kenaikan BBM IV Kenaikan BBM V

(38)

Danareksa Research Institute

∂R

Persepsi masyarakat terhadap pemerintah masih baik

Persepsi masyarakat terhadap kemampuan pemerintah menjalankan tugas2nya masih baik

129.9 108.8 119.7 85 100 115 130 145 160 N-0 2 M-0 3 J -0 3 N-0 3 M-0 4 J -0 4 N-0 4 M-0 5 J -0 5 N-0 5 M-0 6 J -0 6 N-0 6 M-0 7 J -0 7 N-0 7 M-0 8 J -0 8 N-0 8 M-0 9 J -0 9 N-0 9 M-1 0 J -1 0 N-1 0 M-1 1 J -1 1 N-1 1 M-1 2 J -1 2 N-1 2 M-1 3 J -1 3 N-1 3 M-1 4 J -1 4 N-1 4 M-1 5 J -1 5

Indeks Kepercayaan Konsumen Kepada Pemerintah

Mega-Hamzah SBY-JK Kenaikan BBM I Kenaikan BBM II Harga bahan pokok naik Inflasi meningkat Kenaikan BBM III Penurunan harga BBM SBY-BOED Isu Kenaikan BBM Kenaikan BBM IV JW - JK Kenaikan BBM IV

(39)

Danareksa Research Institute

∂R

Optimisme pebisnis turun, namun masih optimis

Meskipun ISB menurun, namun porsi pebisnis yang optimis masih dominan

90.0 105.0 120.0 135.0 150.0 165.0 180.0 J a n-08 Ap r-0 8 J u l-08 Oc t-0 8 J a n-09 Ap r-0 9 J u l-09 Oc t-0 9 J a n-10 Ap r-1 0 J u l-10 Oc t-1 0 J a n-11 Ap r-1 1 J u l-11 Oc t-1 1 J a n-12 Ap r-1 2 J u l-12 Oc t-1 2 J a n-13 Ap r-1 3 J u l-13 Oc t-1 3 J a n-14 Ap r-1 4 J u l-14 Oc t-1 4 J a n-15 Ap r-1 5 J u l-15

Business Sentiment Index

(40)

Danareksa Research Institute

∂R

BPI: Sistem Perbankan Masih Baik

Sistem perbankan masih relatif baik,

namun tekanan di perbankan cenderung

meningkat.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi

mulai meningkatkan NPL, meskipun

masih dalam batas yang dapat diterima.

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15

Banking Pressure Index - Indonesia

Component Aug-15 Sep-15

REER index - deviation from LT trend 105.8 97.5

Stock prices growth (Inverted) 13.4 22.2

Money multiplier growth 0.4 4.6

LEI growth (Inverted) 1.2 0.2

Export growth (Inverted) 21.7 10.0

Interbank call money 1 day rate 5.6 5.7

(41)

Danareksa Research Institute

∂R

Proyeksi indikator makroekonomi utama 2015 - 2016

 Pertumbuhan ekonomi tahun 2015 diperkirakan akan sedikit lebih lambat dibandingkan

dengan tahun 2014 yang lalu. Perlambatan ini disebabkan kebijakan moneter yang ketat

berupa suku bunga yang relatif tinggi dan likuiditas yang ketat ditambah dengan

keterlambatan pembelanjaan APBN (karena ada beberapa hambatan). Disamping itu

menurunnya harga komoditas menyebabkan sumbangan ekspor terhadap pertumbuhan

ekonomi menjadi kecil.

 Untuk tahun 2016, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan rebound menjadi sekitar 5.4%.

Perbaikan ini ditopang oleh inflasi yang semakin terjaga sehingga suku bunga diperkirakan

akan menurun, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan konsumsi dan investasi.

Belanja APBN pun diperkirakan akan lebih optimal mengingat hambatan2 yang terjadi tahun

2015 sudah dapat diatasi. Sementara itu ekspor juga diperkirakan akan memberikan

kontribusi yang lebih berarti seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia.

 Laju inflasi sepanjang tahun 2015 diperkirakan akan relatif tinggi akibat kenaikan harga BBM

bersubsidi tahun 2014 yang lalu serta kenaikan harga beberapa barang dan jasa yang

harganya diatur pemerintah. Namun pada akhir tahun 2015 akan turun ke sekitar 4% dan

bertahan stabil pada level tersebut hingga tahun 2016 mendatang. Perkiraan ini didasarkan

pada proyeksi harga komoditas yang belum akan mengalami kenaikan yang tajam tahun

depan, sehingga dampaknya terhadap kenaikan harga di dalam negeri relatif kecil.

(42)

Danareksa Research Institute

∂R

Proyeksi indikator makroekonomi utama 2015 - 2016

 Dengan prospek inflasi yang semakin menurun ditambah dengan kecenderungan

defisit neraca transaksi berjalan yang semakin terjaga serta perlambatan pertumbuhan

ekonomi dalam beberapa triwulan terakhir ini, maka suku bunga BI rate berpotensi

turun menjadi 7.25% pada akhir tahun 2015. Stabilitas indikator makroekonomi

diperkirakan akan semakin baik tahun 2016, dengan inflasi yang tetap rendah serta

CAD yang semakin menurun. Dengan prospek seperti itu, maka suku bunga BI rate

berpotensi turun lebih jauh menjadi sekitar 6.75% pada tahun 2016 mendatang.

 Secara fundamental saat ini nilai tukar rupiah undervalued, sehingga dengan perbaikan

faktor2 yang membuat rupiah melemah (isu kenaikan bunga the Fed selesai, CAD dan

inflasi yang makin terjaga serta peningkatan pertumbuhan ekonomi) diharapkan ada

potensi penguatan rupiah kedepan, khususnya untuk tahun 2016 mendatang. Potensi

perbaikan rating juga dapat mendorong penguatan rupiah tahun depan. Untuk tahun

2015, rupiah tampaknya masih cenderung tertekan menyusul ketidakpastian rencana

normalisasi kebijakan the Fed, harga komoditas di pasar global yang belum pulih serta

tren perlambatan pertumbuhan ekonomi yang masih terus berlangsung.

(43)

Danareksa Research Institute

∂R

Proyeksi indikator makroekonomi utama, 2015 - 2016

Laju inflasi diperkirakan akan semakin menurun dan defisit neraca transaksi

berjalan akan semakin terjaga, sehingga potensi penurunan suku bunga BI rate

atau relaksasi makroprudential semakin besar. Hal ini akan berdampak positif

terhadap pertumbuhan konsumsi dan investasi, sehingga pertumbuhan ekonomi

juga akan semakin membaik.

Kinerja ekonomi yang semakin baik akan berdampak positif terhadap penguatan

nilai tukar rupiah.

Basic Economic Indicators

Indikator

2013

2014

2015F

2016F

1. Pertumbuhan PDB, %

5.78

5.02

4.90

5.40

2. Laju Inflasi, %YoY

7.72

8.36

4.00

4.50

3. BI rate, %pa

7.50

7.75

7.25

6.75

(44)

Danareksa Research Institute

∂R

Kenaikan IHSG selama ini didukung oleh fundamental ekonomi yang baik

 Sepanjang perekonomian msh ekspansi, mk berinvestasi dipasar modal tetap menjanjikan.Thn 2014 IHSG membukukan return sekitar 22%.  Utk tahun 2015 dan 2016, perbaikan indikator makroekonomi seperti inflasi yang semakin menurun dan defisit neraca transaksi berjalan yang

makin terjaga yang mungkin akan diikuti penurunan suku bunga dapat berdampak positif terhadap IHSG hingga akhir tahun.

350 1050 1750 2450 3150 3850 4550 5250 5950 90 94 98 102 106 110 114 118 122 126 Jan -00 S ep-00 M ay -01 Jan -02 S ep-02 M ay -03 Jan -04 S ep-04 M ay -05 Jan -06 S ep-06 M ay -07 Jan -08 S ep-08 M ay -09 Jan -10 S ep-10 M ay -11 Jan -12 S ep-12 M ay -13 Jan -14 S ep-14 M ay -15

Coincident Economic Index (sumbu kiri)

IHSG (sumbu kanan)

Periode Resesi

(45)

Danareksa Research Institute

∂R

A. Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global

• Amerika Serikat

• Uni Eropa

• Asia: Jepang, Tiongkok dan India

B. Prospek Perekonomian Indonesia 2015 - 2016

• Inflasi, suku bunga dan nilai tukar

• Early economic indicators

• IKK, BSI, BPI dan pertumbuhan ekonomi

• Prospek pasar modal

C. Kesimpulan

(46)

Danareksa Research Institute

∂R

Kesimpulan

 Perekonomian global masih dalam masa ekspansi, dan diperkirakan masih akan terus berlanjut sampai dengan tahun 2016 mendatang. Hal ini akan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia.

 Untuk tahun 2015 pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan 4.9% atau sedikit lebih rendah

dibandingkan dengan tahun 2014 (5.0%). Untuk tahun 2016 pertumbuhan ekonomi kita akan lebih baik (5.4%) yang terutama ditopang oleh konsumsi dan investasi serta kontribusi ekspor yang lebih berarti.

 Laju inflasi yang saat ini sekitar 7.26% akan turun menjadi sekitar 4.0% pada akhir tahun 2015 dan tetap stabil pada level sekitar 4.5% sampai akhir tahun 2016 mendatang.

 Dengan inflasi dan CAD yang semakin terjaga serta pertumbuhan ekonomi yang masih lambat, terbuka peluang penurunan suku bunga BI rate menjadi 7.25% pada akhir tahun 2015 dan 6.75% pada akhir tahun 2016.

 Dalam jangka pendek rupiah masih tertekan dengan rata-rata Rp 13433 sepanjang tahun 2015. Namun dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin baik dan indikator makroekonomi lainnya yang lebih terjaga, maka tahun depan nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat menjadi rata-rata

sekitar 13401 per dolar Amerika.

 Resiko: Penurunan harga minyak dunia menyebabkan tekanan terhadap harga komoditas ekspor utama, sehingga dapat berdampak negatif terhadap neraca transaksi berjalan dan APBN, yang pada gilirannya akan berdampak negatif pula terhadap IDR & pasar modal. Tekanan tsb dpt meningkat jika pemulihan ekonomi dunia lebih lambat dari yang diprediksikan.

Referensi

Dokumen terkait

Anak yang memili- ki kecerdasan visual spasial tinggi memiliki ciri-ciri, antara lain: (1) senang bermain dengan bentuk dan ruang (rancang bangun); (2) hafal jalan yang

Berdasarkan data, sikap siswa tentang merokok pada kelompok kon- trol diperoleh hasil tidak mempunyai nilai yang bermakna antara pre-test dan post-test.. Hal ini dimungkinkan

Berdasarkan hasil tabulasi silang pada tabel 4.6, didapatkan bahwa pelaksanaan bonding dan attachment dengan reaksi ibu dan bayi di Kamar Bersalin RSUD Polewali

Berdasarkan hasil refleksi terhadap proses pembelajaran pada siklus I maka pada siklus II disusun skenario Model pembelajaran kooperatif tipe tutor sebaya dengan

Produk Olahan Kedelai Page 21 Selain mengandung zat-zat bermanfaat seperti yang disebutkan di atas, edamame mengandung protein, senyawa organik seperti asam folat,

Salah satu upaya penyesuaian tersebut, perguruan tinggi (termasuk Akademi Kebidanan YLPP Purwokerto) telah melakukan perubahan kurikulum seperti yang ditetapkan

BANGUN APLIKASI PENGENDALIAN DAN PERAMALAN MUTU AIR SUNGAI DENGAN METODE STORET, INDEX PENCEMARAN DAN FORECASTING BERBASIS WEB (STUDY KASUS : KANTOR LINGKUNGAN

Aspek nilai moral yang ditemukan dalam tanggapan nitizen dalam akun facebook Jokowi dapat dijadikan sebagai sarana untuk pembelajaran kemampuan berkomunikasi di