• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. sebagai kritik dari teori trickle down effect, yang menegaskan bahwa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. sebagai kritik dari teori trickle down effect, yang menegaskan bahwa"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Friedman dan Douglass (1975) menawarkan konsep agropolitan sebagai kritik dari teori trickle down effect, yang menegaskan bahwa pembangunan di pusat-pusat perkotaan agar hasilnya bisa menetes ke perdesaan (Bulletin Cipta Karya, 2007:1). Kawasan agropolitan diartikan sebagai sistem fungsional desa-desa yang ditunjukkan dari adanya hirarki keruangan Desa yakni dengan adanya pusat agropolitan dan Desa-desa di sekitarnya yang membentuk kawasan agropolitan ( Ruchyat,2003)

Berkembangnya pusat-pusat agropolitan dapat secara positif mendorong perkembangan wilayah hinterlandnya, terutama untuk mentansformasikan pola pertanian perdesaan yang subsistemnya menjadi pola pertanian komersial dan mengintergrasikan ekonomi perkotaan dan perdesaan. Pembangunan agroindustri di kawasan agropolitan pada dasarnya ditujukan untuk menciptakan efek multiplier (spead effect). Pengembangan sektor jasa, distribusi, pedagangan, pemasaran, agro-processing, dan berbagai fungsi lainnya bisa berdampak lebih baik dalam menstimulasi pertumbuhan pusat-pusat agropolitan daripada pengembangan isdustri dalam skala besar.

Pengembangan agribisnis merupakan hal penting karena nilai tambah dari semua rangkaian produksi pertanian tercipta pada subsistem budidaya, pemasaran dan pengolahan atau agroindustri. Pedesaan dapat menjadi fase

(2)

transisi menuju tranformasi struktural pertanian. Dari produksi hasil bumi itu sendiri sesungguhnya menjadi peluang untuk mengembangkan sektor agribisnis dan potensi unggulan Desa tersebut, sehingga dapat mensejahterakan masyarakat.

Pengembangan komoditi wilayah harus didasarkan atas keunggulan komparatif lokasi, dengan demikian produk-produk pertanian, perkebunan yang mempunyai karaktristik khusus harus mempunyai orientasi pengembangan yang lebih baik dan manajemen yang tepat untuk mencapai efisiensi yang maksimal. Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) diwilayah sekitarnya.

Kota pertanian (agropolitan) berada dalam kawasan pemasok hasil pertanian (sentra produksi pertanian) yang mana kawasan tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakatnya. Selanjutnya kawasan pertanian tersebut (termasuk kotanya) disebut dengan kawasan agropolitan.

Kota pertanian dapat merupakan kota menengah atau kota kecil atau kota kecamatan atau kota pedesaan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mendorong pertumbuhan pembangunan perdesaan dan Desa-desa hinterland atau wilayah sekitarnya melalui pengembangan ekonomi, yang tidak terbatas sebagai pusat pelayanan sektor pertanian. Tetapi juga

(3)

pembangunan sektor secara luas seperti usaha pertanian (on farm and off farm), industri kecil, pariwisata, jasa pelayanan, dan lain-lain.

Kecamatan Padang Jaya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, sebagaian Desa yang terdapat di Kecamatan Padang Jaya ini berbatasan langsung dengan Hutan Lindung. Luas wilayah Kecamatan Padang Jaya ini 185,01 Km². Kecamatan Padang Jaya ini terbagi dalam 12 Desa definitife, yang mana Desa Padang Jaya merupakan Ibu Kota Kecamatan. Keadaan topografinya berbukit-bukit dan banyak lereng.

Sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan bahwa Desa Padang Jaya merupakan kawasan agropolitan, diharapkan dari pengembangan agropolitan ini dapat menyelesaikan ketimpangan pembangunan antara desa sebagai sentra pertanian dengan kota sebagai pusat perekonomian akan mendorong terjadinva aliran sumber daya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan dan telah di lihat tidak secara seimbang. Namun kenyataannya pada kondisi lapangan tidak seimbang perkembangan kawasan argopolitan Padang Jaya ini kurang mengalami pengembangan baik, dilihat dari infrastuktur maupun dari bentuk penunjang lainnya, padahal harapan masyarakat disana sangat antusias sekali dengan adanya program kawasan argopolitan di Padang Jaya ini, namun tidak memberikan hasil yang di harapkan tersebut. Untuk itu menarik untuk dicermati realisasi pengembangan kawasan agropolitan di Desa Padang Jaya sebagai salah satu kawasan agropolitan yang di butuhkan pemerintah di Kabupaten Bengkulu Utarayang pada awalnya digunakan untuk mengurangi disparitas antar

(4)

wilayah, serta diharapkan agar hasil bumi dari masyarakat dapat terakomodasikan di pasar dengan harga standar pemerintah. Namun apa yang terjadi realita di lapangan tidak demikian adanya.

1.2 Rumusan Masalah

Upaya pengurangan ketimpangan pembangunan antara Desa sebagai sentra pertanian dengan kota sebagai pusat perekonomian agar konsep agropolitan diharapkan akan mendorong terjadinva aliran sumber daya dari wilayah perdesaan ke kawasan perkotaan dan sebaliknya secara tidak seimbang. Namun realitanya yang terjadi aliran perdagangan tidak seimbang, yang diharapkan. hasil dari pertanian, perkebunan serta perikanan tidak memiliki nilai harga standar pasaran, yang terjadi hanya harga dari kemauan pengepul (tengkulak) yang nilai harganya jauh dari harga pasar, sehingga mengakibatkan kerugian yang besar bagi para petani.

Wilayah Padang Jaya merupakan Kecamatan yang terdiri dari 12 Desa. Penghasilan dari masyarakat Kecamatan Padang Jaya ini adalah pertanian, perkebunan serta perikanan. Untuk memanjukan kegiatan pertaniannya, Kecamatan Padang Jaya ini di tetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan agropolitan. Akan tetapi dalam kenyataannya yang terjadi di lapangan tidak sesuai dengan keadaan yang diharapkan, yaitu infrastruktur yang tidak terbangun tidak lengkap, dalam kondisi rusak, misalnya seperti jalan yang rusak sehingga menyebabkan aksesibilitas menjadi sulit, irigasi yang rusak bahkan tidak teraliri oleh air, pembangunan pasar dan gudang yang tidak

(5)

terpakai akhirnya rusak. dusamping itu hasil bumi yang hanya di kelola oleh para pengepul (tengkulak) yang menjadikan harga jual tidak stabil sehingga membuat petani mengalami kerugian , juga kondisi dilapangan tidak memiliki kelembagaan koprasi. Disisi lain sentral Pasar yang tidak terjadi. Pasar-pasar yang ada hanya satu seminggu sekali kegiatannya, menjadikan tidak maksimal dalam penyaluran hasil bumi dan petani tersebut kepada pelanggan

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah digambarkan di atas, maka timbul pertanyaan penelitian (research question), yaitu ;

1. Sejauh mana bentuk pengembangan kawasan agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara

2. Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam pengembangan kawasan Agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah

1. Mendeskripsikan bentuk pengembangan Kawasan Agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bangkulu Utara

2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan Kawasan Agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. diharapkan dapat memajukan, menggerakkan petani pasaca kehadiran Agropolitan yang telah diterapkan oleh pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara.

(6)

1.4 Batas dan Ruang Lingkup Penelitian

1. Ruang lingkup wilayah studi adalah wilayah yang termasuk dalam Kawasan Agropolitan Padang Jaya yang terdiri dari sentra-sentra produksi unggulan. Cakupan sentra produksi ini terdiri dari desa/dusun yang memiliki keunggulan dalam produksi (perkebunan, perikanan dan pertanian)

2. Ruang lingkup materi adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab ketidak suksesan pengembangan Kawasan Agropolitan yang ditinjau dari aspek fisik wilayah, steakholder, dan sosial kemasyarakatan, untuk menunjukkan perbaikan implementasi program Kawasan Agropolitan. Output dari penelitian adalah mengetahui bentuk pengembangan serta faktor-faktor yang berpengaruh pada kesuksesan pengembangan kawasan agropolitan yang menjadikan pelayanan kehidupan petani yang lebih baik.

1.5 Manfaat Penelitian

Konsep agropolitan merupakan salah satu pendekatan dalam pengembangan wilayah yang membutuhkan dukungan partisipasi dan pengembangan kegiatan akan dari masyarakat, sejauh terjadinya faktor-faktor yang berpengaruh positif dalam pengembangan kawasan agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Oleh karenanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

a. Memajukan kehidupan masyarakat petani yang terlibat dalam pengembangan agropolitan

(7)

b. Diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam membuat kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, dalam rangka peningkatan kinerja pelaksanaan pemerintah di masa datang

c. Diharapkan dapat dijadikan pembelajaran dan bahan kajian ilmiah dalam merintis pengembangan kawasan agropolitan.

1.6 Keaslian Penelitian

Penelitian yang terkait dengan Pengembangan Kawasan Agropolitan sudah ada yang dilakukan, namun dengan fokus pada faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kawasan agropolitan. Lokus penelitian ini berlokasi di Kecamatan Padang Jaya. Penelitian ini bila bandingkan dengan beberapa penelitian terdahulu, seperti tertera dalam beberapa penelitian di bawah ini, jelas berbeda dilihat penelitian ini berbeda dari segi fokus, lokus, dan modus (metode) penelitian yang digunakan sehingga dapat dinyatakan memiliki keaslian penulisan.

1. Kajian konsep argopolitan di Kota Batu Kabupaten Daerah Tingkat II. Ditulis oleh Wara Indra Rukmini untuk MPKD UGM pada Tahun 2000, dengan fokus penelitian realitas empiris konsep agropolitan di Kabupaten Malang. Menggunakan metode analisis desktiptif dengan teknik analisis statistic chi-square.

2. Pengembangan kawasan agropolitan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Ditulis oleh Adrial Markus Konya untuk MPKD UGM pada Tahun 2006, dengan fokus penelitian pengaruh intervensi pemerintah terhadap

(8)

pengembangan agropolitan secara normatife program dan peresepsi masyarakat. Menggunakan metode analisis desktiptif kualitatif.

3. Model konektivitas produsen intra dan inter klaster produksi di kawasan agropolitan Bagelen Kabupaten Purworejo. Ditulis oleh Aditya Ananta Yudha untuk MPKD UGM pada Tahun 2013, dengan fokus penelitian karakteristik produsen dan konektivitas intra dan inter klaster di dalam kawasan agropolitan Bagelen. Menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif.

4. Faktor-faktor berpengaruh pada perkembangan Dukuh Mangkubumen Desa Tegalrejo sebagai rintisan kawasan minapolitan di Kabupaten Boyolali. Ditulis oleh Yusman untuk MPKD UGM pada Tahun 2011, dengan fokus penelitian pengembangan dan faktor yang mempengaruhi perkembangan minapolitan di kawasan minapolitan Kabupaten Boyolali. Menggunakan metode studi kasus.

5. Kajian strategis implementasi program agropolitan Kabupaten Kapuas. Ditulis oleh Eddy Koestanto untuk MPKD UGM pada Tahun 2012, dengan fokus penelitian seperti apakah analisis strategi perubahan komoditas, sejauh mana efektifitas strategi perubahan komoditas. Seperti apakah hubungan keterkaitan diantara variable yang mempepengaruhinya dalam proses implementasi program agropolitan. Menggunakan metode deduktif kualitatif dan kuantitatif.

Adapun penelitian ini mengambil tema “Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan Kecamatan Padang

(9)

Jaya Kabupaten Bengkulu Utara” pada kasus ketidaksusesan pengembangan agropolitan di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Permasalahan yang diteliti mengenai sejauh mana bentuk pengembangan Kawasan Agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara, serta apa saja faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan Kawasan Agropolitan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Menggunakan metode deduktif kualitatif. Namun demikian di dalam pelaksanaan penelitian ini, tidak menutup kemungkinan digunakan literatur-literatur maupun sumber yang sama dengan peneliti-peneliti lain yang pernah dilakukan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tentang penerapan model pembelajaran Quantum Teaching guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada

Lampiran 8 Tabulasi Skor Observasi Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Permainan Tebak Kata Siklus I

Seluruh bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari daerah Lampung. Semen portland yang dipakai adalah semen portland Tipe I merek Baturaja, dalam

Sebagian besar masyarakat Kecamatan Jenawi penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang hidupnya mengandalkan dari sektor pertanian. Lahan kering berpotensi

Berdasar pada masalah yang ditemukan dan telah diuraikan di atas, maka dalam penelitian ini peneliti akan membuat suatu pendekatan untuk memperbaiki dan mendigitalkan mading

Jika produk ini mengandungi ramuan dengan had pendedahan, pemantauan peribadi, suasana tempat kerja atau biologi mungkin perlu untuk menentukan keberkesanan pengudaraan

Soekanto (2005) mengemukakan peranan mencakup tiga hal; 1) peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti

Jenis penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen bentuk Pretest Posttest Design yaitu sebuah eksperimen yang dalam pelaksanaannya hanya melibatkan satu kelas