• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MAKALAH polifarmasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TUGAS MAKALAH polifarmasi"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

A. Identitas Pasien A. Identitas Pasien N

Naamma a ((iinniissiiaall)) : : NNyy. . SSF F ((ppaassiieen n rraawwaat t iinnaapp))

U

Ussiiaa : : 773 3 ttaahhuunn

JJeenniis s kkeellaammiinn : : PPeerreemmppuuaann

P

Peennddiiddiikkaan n TTeerraakkhhiirr : : SSLLTTPP

S

Suukkuu :: BBiimmaa

Care Giver 

Care Giver  : Ny. Meri (anak pasien): Ny. Meri (anak pasien)

A

Allaammaatt : : BBeekkaassi i UUttaarraa

P

Peemmbbiiaayyaaaan n KKeesseehhaattaann : : AAsskkeess

B BBB : : 335 5 kkgg T TBB : : 11550 0 ccmm IIMMTT : : 1155,,5 k5 kgg//mm22 B. Masalah Pasien B. Masalah Pasien N

Noo.. MMaassaallaahh TTeerraappii, , ddoossiiss, , wwaakkttu u ppeemmbbeerriiaann Diagnosis

Diagnosis 1

1.. AAccuutte e ccoonnffuussiioonnaal l ssttaatte e eecc alkalosis metabolic

alkalosis metabolic

O

O22 3 liter/menit, via nasal kanul3 liter/menit, via nasal kanul

IVFD NaCl

IVFD NaCl 0,9% 0,9% 500 cc/12 500 cc/12 jamjam

IVFD TE 1000 cc/24 jam IVFD TE 1000 cc/24 jam 2

2.. PPnneeuummoonniia koa kommuunniittaas dds dd/ T/ TBB  paru

 paru

Cefotaxim

Cefotaxim 3 x 1 g, IV pukul 04.00, 12.00,3 x 1 g, IV pukul 04.00, 12.00, 20.00

(2)
(3)

Azitromisin 1 x 500 mg per oral pukul 07.00 3. Hipercoagulable state IVFD Heparin 10.000 unit/24 jam drip

2cc/jam

4. Hipertensi grade I Kaptopril 2 x 12,5 mg per oral pukul 06.00, 18.00

4. Anemia normositik normokrom Observasi dan Rencana transfuse 5. Gastroenteritis akut Omeprazol1 x 40 mg, IV pukul 18.00

Sukralfat 3x CI pukul 07.00, 13.00, 20.00 6. Hipokalsemia Ca glukonat 2 x 1 ampul bollus lambat

 pukul 06.00, 18.00

7. Hipokalemia Potasium Chloride (KSR) 3 x 2 tab (600 mg)  per oral pukul 07.00, 13.00, 19.00

8. Ulkus dekubitus grade I Kompres luka dengan NaCl 0,9 % 9. Intake kurang Intake dengan NGT diet cair 6 x 200cc

Diet TKTP 1500 kkal, protein 60 g (1,2 g)

Hendaya Keterangan

1. Delirium Dapat terjadi karena gangguan elektrolit yang dialami oleh pasien selain itu juga terdapat alkalosis metabolic yang memperburuk  keadaan dari pasien

2. Infeksi Pada pemeriksaan fisik terdengar adanya rhonki basah pada kedua lapang paru, riwayat   batuk berdahak, dan penurunan nafsu makan. Selain itu penggunaan NGT dan kateter dapat menyebabkan terjadi infeksi

3. Iatrogenesis (polifarmasi) Akibat masalah yang cukup banyak pada   pasien, menyebabkan banyaknya obat yang

(4)
(5)

harus dikonsumsi oleh pasien.

4. Imobilisasi Pasien keadaan tidak sadar dan lemah sehingga hanya dapat berbaring di tempat tidur 

5. Inanisi  Intake pasien sulit sehingga harus

menggunakan NGT

6. Instabilitas Terdapat kontraktur pada kedua tungkai dan  pasien hanya dapat berbaring di tempat tidur 

C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang Hasil

Darah Perifer Lengkap

Hb 6,5 g/dL Ht 25 %

Leukosit 6800/ uL

Hitung jenis (B/E/N/L/M) : 0/3/52/37/6 Trombosit 232.000/ uL Fungsi Ginjal Ureum : 25,3 mg/dl Kreatinin : 0,6 mg/dl CCT : 46,2 mL/menit Fungsi Hati SGOT 29 SGPT 14 Elektrolit  Na 136 K 2,3 Cl 93 D . Kajian

(6)
(7)

1. Cefotaxime

Cefotaxime merupakan suatu obat golongan sefalosporin generasi III yang memiliki aktivitas spektrum luas baik terhadap bakteri gram positif maupun gram negative aerob.1

Farmakokinetik  a. Absorbsi

Sefalosporin memasuki cairan tubuh dan jaringan dengan baik, bahkan dapat memasuki cairan serebrospinal dan efektif mengatasi sebagai besar patogen, termasuk gram negatif kecuali pseudomonas. Puncak konsentrasi dalam plasma setelah 30 menit (IM) dan 4 jam (IV). Infus intravena 1 g sefalosporin memproduksi kadar serum 60-140 mcg/mL.2

 b. Distribusi

Di distribusikan ke seluruh tubuh dan dapat berpenetrasi ke dalam CSF ,  plasenta, synovial, dan cairan pericardial.1

c. Metabolisme

Secara parsial cefotaxime dimetabolisme di dalam hati; dikonversi menjadi desacetylcefotaxime dan metabolit inaktif.2

d. Ekskresi

Cefotaxime IV yang diberikan akan diekskresi lewat ginjal sebanyak Oleh sebab itu, dibutuhkan penyesuaian dosis pada insufisiensi ginjal. Metabolit yang aktifitas antimikrobanya lebih rendah juga dieksresi melalui ginjal.1,2

Farmakodinamik 

Bakteri akan lisis karena langkah transpeptidasi akhir pada sintesis   peptidoglikan dinding sel bakteri dihambat oleh cefotaxime yang bekerja

(8)
(9)

menghambat sintesis dinding sel bakteri degan berikatan pada satu atau lebih  penicillin-binding protein (PBP).2

Potensi interaksi

 Nefrotoksisitas meningkat jika diberikan bersamaan dengan sefalosporin dan aminoglikosida.2

Potensi efek samping

Reaksi lokal setelah injeksi IM atau IV, seperti inflamasi, nyeri, indurasi.hipersensitivitas, seperti ruam, gatal, demam, eosinofilia juga dapat ditemukan, Gejala saluran cerna dapat terjadi, seperti kolitis, diare, mual, dan muntah. Selain itu juga merupakan agen yang nefrotoksik.1,2

Makna klinis

Pneumonia pada pasien ini diterapi menggunakan cefotaxime karena merupakan sefalosporin generasi III yang aktif melawan kuman patogen gram negatif  maupun positif, termasuk kuman penyebab pneumonia.

2. Azitromisin

Azitomisin termasuk dalam golongan makrolid yang merupakan agen   bakteriostatik yang menghambat sintesis protein bakteri dengan berikatan secara

reversible pada subunit ribosom 50S, dan sangat aktif melawan M. catarrhalis, P. multocida, Chlamydia spp., M. pneumoniae, L. pneumophila, B. burgdorferi,  Fusobacterium spp., dan  N. gonorrhoeae.1

Farmakokinetik  a. Absorbsi

Absorbsi berlangsung cepat di usus halus namun terganggu bila diberikan  bersama makanan1

(10)
(11)

Di distribusikan keseluruh tubuh kecuali ke otak dan CSF. Kadar azitromisin yang tercapai dalam serum setelah pemberian oral relative rendah, tetapi kadar di  jaringan dan sel fagosit sangat tinggi. Obat yang disimpan dalam jaringan akan

dilepaskan perlahan-lahan.3

c. Metabolisme

Azitromisin dimetabolisme di hati. Namun tidak menghasilkan metabolit yang aktif.2,3

d. Ekskresi

Ekskresi empedu merupakan rute eliminasi utama. Hanya sekitar 12% yang dieksresikan ke urin. Waktu paruh eliminasi 40-68 jam dikarenakan adanya sekuestrasi dan pengikatan obat yang kuat pada jaringan1

Farmakodinamik 

Azithromycin mudah diserap, tetapi penyerapan lebih besar pada waktu perut dalam keadaan kosong. Waktu puncak konsentrasi pada orang dewasa adalah 2,1-3,2   jam untuk bentuk sediaan oral dan satu sampai dua jam setelah dosis. Karena konsentrasi tinggi dalam fagosit, azitromisin secara aktif diangkut ke tempat infeksi.Selama fagositosis aktif, konsentrasi besar azitromisin dilepaskan. Konsentrasi azitromisin dalam jaringan bisa lebih dari 50 kali lebih tinggi daripada dalam plasma. Hal ini disebabkan oleh ion-trapping  dan kelarutan lipid tinggi (volume distribusi terlalu rendah).

Potensial interaksi

Karena azitromisin memiliki 15 cincin lakton (bukan 14), maka obat ini tidak  dapat menginaktivasi enzim sitokrom P450 yang menjadikan azitromisin bebas dari   potensi interaksi dengan obat lain.Namun dapat terganggu penyerapannya oleh

antacid yang mengandung aluminium dan sodium magnesium pada traktus gastrointestinal.2 Azitromisin bila diberikan bersama amiodaron dapat meningkatkan

efek toksik dari amiodarone dan dapat meningkatkan konsentrasi digoxin dan ciclosporin pada serum

(12)
(13)

Ruam, gatal, sakit kepala, diare, nyeri/keram, mual, muntah, kembung, nyeri epigastrium, melena, ikterus kolestatik, palpitasi, anafilaksis, konstipasi, kolitis   pseudomembranosa, sindroma Stevens-Johnson, gangguan bernapas, gangguan

menelan, bengkak pada wajah, bibir, mata, tangan, dan kaki.1,2,4

Makna Klinik 

Pada pasien diberikan azitromisin 500 mg karena merupakan agen yang efektif melawan M. pneumonia dan dosis 500 mg merupakan dosis awal terapi. Obat ini diberikan sebelum makan karena absorbsinya dipengaruhi oleh makanan serta diberika 1 kali sehari karena waktu paruh yang panjang.

3. Heparin (antikoagulan)

Farmakokinetik  a. Absorbsi

Tidak diabsorbsi secara oral karena di berikan secara subkutan atau IV. Pemberian secara SK bioavaillabilitasnya bervariasi, mula kerjanya lambat 1-2 jam tetapi masa kerjanya lebih lama.3

 b. Distribusi

Pada pemberian IV, heparin akan langsung beredar ke sirkulasi darah dan protein  binding,

c. Metabolisme

Heparin terutama dimetabolisme di hati dan system retikuloendotelial,1

d. Ekskresi

Diekskresikan melalui ginjal untuk diubah dalam bentuk akhir berupa urin. Masa   paruhnya bergantung pada dosis yang digunakan. Suntikan IV 100, 400 atau 800

(14)
(15)

Heparin dengan berat molekul rendah memiliki masa paruh yang lebih  panjangdaripada heparin standar. Puncak kadar heparin molekul rendah terjadi pada  pemberian 0,5-1 unit/ ml untuk 2 kali sehari dan 4 jam setelah di berikan dan

kira-kira 1,5 unit/ml untuk sekali pakai.3

Farmakodinamik 

Efek antikoagulan heparin timbul karena ikatannya dengan AT III. AT III  berfungsi menghambat potease factor pembekuan termasuk factor IIa (thrombin), Xa, dan IXa. Dengan cara membentuk kompleks yang stabil dengan protease factor   pembekuan. Bila kompleks AT III protease sudah terbentuk, heparin dilepaskan untuk 

selanjutnya membentuk ikatan baru dengan antitrombin. Heparin dengan berat molekul tinggi (5000-30000) memiliki afinitas kuat dengan antitrombin dan menghambat pembekuan darah. Heparin berat molekul rendah efek antikoagulannya terutama melalui penghambatan factor X a oleh antitrombin, karena tidak cukup   panjang mengkatalisis penghambatan thrombin. Terhadap lemak darah, heparin  bersifat lipotropik yaitu memperlancar transfer lemak darah ke dalam depot lemak 

karena heparin melepaskan enzim-enzim yang menghidrolisis lemak.3

Potensi Interaksi

Efek antikoagulan heparin dihambat oleh zink. Efek heparin ditingkatkan oleh dextrans, penisilin, dan sefalosporin dosis tinggi, fenilbutazon, streptokinase. Heparin dapat menyebabkan perdarahan apabila dipakai bersama dengan obat antitrombotik  seperti aspirin. Karena heparin bersifat lipotropik, maka akan menghambat ikatan  protein plasma dari obat-obat lipofilik misalnya propanolol, kuinidin, fenitoin, dan

digoksin sehingga mempengaruhi pengukuran kadar obat tersebut.

Potensi Efek Samping

Efek samping heparin ialah perdarahan. Insidens perdarahan tidak meningkat  pada pasien yang mendapat heparin berat molekul rendah. Jumlah episode perdarahan meningkat dengan menungkatnya dosis total per hari dan dengan derajat pemanjangan aPTT, meskipun pasien dapat mengalami perdarahan dengan aPTT kisaran terapeutik. Perdarahan dapat berupa hematuria dan perdarahan saluran cerna. Ekimosis dan

(16)
(17)

hematom dapat timbul pada tempat penyuntikan. Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi  berupa demam, menggigil, urtikaria dan syok anafilaksis. Pada penggunaan jangka  panjang dapat terjadi mialgia, nyeri tulang, dan osteoporosis. Kadang-kadang dapat terjadi alopesia sementara dan perasaan panas di kaki. Trombositopenia ringan yang   bersifat sementara dapat terjadi pada 25% pasien dan 5% pasien dapat terjadi

trombositopenia berat.3

Makna Klinik 

Pasien diberikan heparin 10000 unit/ 24 jam melalui intravena karena adanya hypercoagulable state dan hal tersebut di tandai dengan nilai PT dan aPTT yang dibawah nilai apat efek sampig yang sernormal. Pemberian heparin pada pasien ini dipantau dengan pemeriksaan laboratorium secara berkala karena ditakutkan adanya   pemanjangan aPTT yang mengakibatkan perdarahan. Selain itu, terdapat efek 

samping lain yang sering terjadi, yaitu trombositopenia.

4. Kaptopril

Kaptopril adalah obat anti hipertensi golongan angiotensin converting enzyme inhibitor  (ACE-I) yang dapat bekerja secara langsung tanpa perlu diubah ke dalam  bentuk aktif.3

Farmakokinetik  a. Absorbsi

Kaptopril diabsorbsi secara per oral dengan baik pada saluran pencernaan dengan   bioavailibiltas 70-75%. Pemberian bersamaan dengan makanan dapat

mengurangi absorbsinya hingga 30%. Oleh sebab itu, obat tersebut baik  diberikan 1 jam sebelum makan.3

 b. Distribusi

Kaptopril dapat mencapai waktu puncak plasma dalam 30 menit hingga 1 jam dan obat di bersihkan dengan cepat dengan waktu paruh kurang lebih 2 jam.2

(18)
(19)

c. Metabolisme

Kaptopril dimetabolisme di hati3

d. Ekskresi

Eliminasi umumnya melalui ginjal. Oleh sebab itu, pada orang dengan penyakit ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis untuk mencegah efek sampingnya.2,3

Farmakodinamik 

Kaptopril bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin-I menjadi angiotensin-II.Hambatan tersebut terjadi melalui kompetisi dengan substrat fisiologik  untuk situs aktif ACE. Hasilnya akan diperoleh penurunan konsentrasi angtiotensin-II  pada plasma yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah, peningkatan aktivitas

renin dan penurunan sekresi aldosteron. Selain itu, degradasi bradikin dihambat sehingga terjadi peningkatan kadar bradikin dalam darah yang nantinya berakibat  pada vasodilatasi pembuluh darah.3

Potensi Interaksi

Pemberian bersama diuretic hemat kalium dapat menyebabkan hiperkalemia. Pemberian bersama dengan antacid akan mengurangi absorbsi, sedangkan kombinasi dengan Kaptopril NSAID akan menyebabkan berkurangnya efek antihipertensi.3

Potensi Efek Samping

Efek samping dari kaptopril antara lain adalah hipotensi, hiperkalemia,rash, edema angioneurotik, gagal ginjal akut, batuk kering, dan efek teratogenik.3

Makna Klinik 

Pada pasien dapat diberikan kaptopril sebagai obat antihipertensi karena tidak  adanya kelainan ginjal pada pasien berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik  dan laboratorium. Selain itu, pada pasien ini terdapat riwayat CAD sehingga  pemberian kaptopril dapat memperbaiki disfungsi vasomotor endothelial pembuluh

(20)
(21)

darah koroner (revaskularisasi) dan mencegah terjadinya remodeling. Kaptopril juga meretensi kalium sehingga baik diberikan pada pasien hipokalemi. Kaptopril diberikan 2x sehari tepat beberapa jam sebelum makan agar absorpsi obat kaptopril sempurna.

5. Omeprazol

Omeprazol merupakan obat golongan   protein pump inhibitor  (PPI) yang menghambat sekresi asam lambung lebih kuat dari AH2.3

Farmakokinetik  a. Absorbsi

PPI diberikan dalam sedian salut enterik untuk mencegah degradasi zat aktif  tersebut dalam suasana asam.Sediaan tersebut tidak mengalami aktivasi di lambung sehingga bioavailibiltasnya lebih baik. Tablet yang pecah di lambung mengalami aktivasi lalu terikat pada berbagai gugus sulfihidril mukosa dan makanan. Bioavailibitasnya akan menurun hingga 50% karena pengaruh makanan oleh sebab itu, harus diberikan 30 menit sebelum makan.3

b. Distribusi

Bioavailibiltas obat tersebut bervariasi tergantung pada formulasinya formulasi yang berbeda menunjukkan presentasi jumlah absorbsi yang berbeda pula. Bioavailibilitas tablet yang bukan salut enterik dapat meningkat dalam 5-7 hari, hal tersebut dapat dijelaskan dengan berkurangnya produksi asam lambung setelah obat bekerja.3

c. Metabolisme

Obat tersebut dimetabolisme di hati oleh sitokrom P450 terutama di CYP2C19 dan CYP3A4. PPI mengalami metabolisme lintas pertama yang cepat di hati dan klirens ginjal yang dapat diabaikan.3

d. Ekskresi

(22)
(23)

Farmakodinamik 

PPI adalah prodrug .Untuk mengaktifkannya, dibutuhkan suasan asam. Setelah diabsorbsi dan masuk ke sirkulasi sistemik, obat tersebut akan berdifusi ke sel parietal lambung, terkumpul di kanalikuli sekretoar dan mengalami aktivitasi menjadi bentuk  sulfonamide tetrasiklik. Bentuk aktif tersebut akan berikatan dengan gugus sulfihidril enzim H+, K+, ATPase dan berada di membran apikal sel parietal. Ikatan tersebut menyebakan hambatan pada enzim tersebut. Hambatan pada enzim berlangsung selama 24-48 jam dan dapat menurunkan sekresi asam lambung basal atau akibat stimulasi, lepas dari jenis perangsangnya berupa histamine, asetilkolin atau gastrin. Hambatan tersebut bersifat ireversibel dan produksi asamnya dapat kembali setelah 3-4 hari pengobatan dihentikan.3

Potensi Interaksi

Omeprazol dapat menghambat aktivitas enzim CYP2C19 sehingga menurunkan klirens disulfiram, fenitoin dan obat lain yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Omeprazol juga menginduksi CYP1A2 sehingga dapat menignkatkan klirens impiramin, beberapa jenis obat antipsikotik, takrin dan teofilin.3

Potensi Efek Samping

Efek samping yang dapat terjadi antara lain adalah mual, nyeri perut, konstipasi, flatus dan diare. Dilaporkan juga dapat menyebabkan myopati sub akut, artralgia, sakit kepala dan ruam kulit. Selain itu, dapat pula terjadi hipergastrinemia sehingga dapat menyebabkan fenomena rebound  hipersekresi asam lambung pada  penghentian terapi PPI yang berakibat induksi tumor gastrointestinal.3

Makna Klinik 

Pada pasien, omeprazol digunakan untuk mengatasi gastroenteritis akut karena   pasien pernah mengeluhkan perut terasa kembung sehingga mengurangi asupan

makannya. Selain itu pasien sebelumnya pernah menderita diare. Potensi terjadinya interaksi obat cukup tinggi namun pada pasien ini tidak ada obat yang diberikan yang dapat berinteraksi dengan omeperazol.

(24)
(25)

Farmakokinetik 

a. Absorpsi

Karena diaktifkan oleh suasana asam, sukralfat diberikan saat perut kosong satu  jam sebelum makan. Absorpsi per oral minimal (<5%)

b. Metabolisme

Waktu paruhnya 6-20 jam.

c. Ekskresi

90% diekskresikan ke dalam feses. Farmakodinamik 

Erosi dan ulserasi pada lambung dapat terjadi karena produksi asam yang merusak sel epitel dan pepsin menghidrolisis protein lambung. Proses tersebut dapat dihambat oleh polisakarida sulfat. Sukralfat (CARAFATE) mengandung oktasulfat yang sudah ditambakan Al(OH)3. Obat ini bekerja sebagai sawar terhadap HCL dan   pepsin. Pada lingkungan asam (pH<4), sukralfat akan membentuk ikatan silang

sehingga menghasilkan polimer mirip lem yang melekat pada sel epitel dan ulkus sampai 6 jam setelah pemberian dosis tunggal. Perlu suasana asam untuk  mengaktifkan obat ini sehingga pemberian obat harus sebelum makan.1

Potensi Efek samping

Efek samping yang sering terjadi adalah konstipasi. Sukralfate juga harus dihindari pada pasien gagal ginjal yang overload aluminium karena ada sedikit aluminium yang diserap.1

Potensi interaksi obat

Sukralfat membentuk lapisan seperti lem pada lambung yang menyebabkan absorpsi obat seperti fenitoin, digoxin, cimetidine, ketoconazole, dan antibiotic florokuinolon terganggu. Oleh karena itu, sukralfate diminum 2 jam sebelum meminum obat lainnya.1

Makna klinis

Pada pasien ini diberikan dua obat untuk mengatasi gastroenteritis akut, yaitu sukralfat dan omeprazol. Sukralfat diberikan 2 jam sebelum pemberian omeprazol karena sukralfat aktif pada kondisi asam dan mencegah penghambatan absorbsi dari

(26)
(27)

omeprazol. Sulkralfat bekerja sebagai sawar melindungi mukosa lambung terhadap HCL dan pepsin yang aktif dalam suasana asam, sedangkan omeperazol bersifat menghambat produksi asam lambung.

7. Ca Glukonat

Kalsium glukonat digunakan untuk mencegah atau mengatasi kekurangan dari kalsium.5

Farmakokinetik 

a. Absorbsi

Kalsium yang larut diabsorbsi di usus halus melalui transport aktif dan difusi secara pasif. Terdapat peningkatan absorbs pada orangyang mengalami defisiensi kalsium, anak-anak, dan wanita hamil.5

 b. Distribusi

Dapat melewati plasenta dan masuk ke ASI5

c. Ekskresi

Di eksresikan terutama melalui ginjal (sebagai kelebihan kalsium), feses (kalsium yang tidak terserap) , dan dapat dieksresikan juga melalui keringat.5

Farmakodinamik 

Kalsium diperlukan untuk integritas fungsional saraf dan otot dan sangat   penting untuk kontraksi otot, fungsi jantung dan pembekuan darah. Untuk 

menyebabkan kontraksi, ion-ion kalsium memiliki afinitas yang tinggi untuk    berikatan dengan protein intraselular spesifik seperti troponin. Ion kalsium juga  berperan dalam mengatur stimuslus dan sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin. ion

kalsium juga berperan dalam eksitasi otot jantung.6

(28)
(29)

Kalsium glukonat dapat mengurangi efek dari alcuronium klorida yang merupakan   Nondepolarising neuromuscular blocking agents. Efek digoksin dan glikosida jantung lainnya dapat ditekan oleh kalsium dan keracunan akibat obat digitalis dapat berkurang. Penggunaan obat ini dengan Tiazid dapat menyebabkan hiperkalsemia.5

Potensi efek samping

Iritasi GI, kalsifikasi jaringan lunak, kulit terkelupas atau nekrosis setelah   pemberian IM/SC, hiperkasemia yang ditandai dengan anoreksia, mual, muntah,

konstipasi, nyeri perut, kelemahan otot, gangguan mental, polidipsi, poliuria, nefrocalcinosis, urolitiasis, wajah merah, dan vasodilatasi perifer dan yang paling fatal dapat menyebabkan aritmia dan koma.5

Makna klinis

Injeksi kalsium glukonat (10% solution; 9.3 mg of Ca2+/ml) yang diberikan secara IV merupakan terapi pilihan untuk mengatasi hipokalemi tetani yang parah sedangkan pasien ini merupakan pasien moderate-severe hipokalemia yang dapat diterapi dengan infuse IV dari Ca glukonat dengan dosis 10-15 mg of Ca2+/kgBB selama 4-6 jam. Rute IM tidak disarankan karena dapat menyebabkan terjadinya abses di tempat penyuntikan. Hati-hati pemberian pada ibu hamil , keganasan dan  pasien dengan gagal ginjal.

8. Kalium Slow Release (KSR) atau Potassium Chloride Farmakokinetik 

a. Absorbsi

Diabsorbsi baik di saluran cerna bagian atas.7

b. Distribusi

Mekanisme transport aktif memungkinkan kalium klorida memasuki sel dari cairan ekstraseluler.7

(30)
(31)

Dieksresikan terutama melalui urin dan sebagian kecil melalui feses dan keringat.7

Farmakodinamik 

Kalium klorida merupakan kation utama cairan intraselular. Kalium memiliki  peran penting dalam konduksi implus saraf di jantung, otak dan otot rangka, kontraksi otot rangka, otot jantung, menjaga fungsi normal ginjal, keseimbangan asam basa, metabolism karbohidrat, dan sekresi lambung. Kekurangan potassium dapat dikarenakan muntah, diare, diabetes ketoasidosis, obat diuretic seperti furosemide, dan kelaparan. Obat ini juga harus diberikan dengan makanan atau sesudah makan. Saat pemberian obat ini pantau output urin dan monitoring plasma potassium serta elektrolit lainnya.7

Potensi Interaksi

Pemberian bersama dengan ACE inhibitor, angiotensin receptor blockers (ARB) dan diuretik dapat meningkatkan kadar potassium. Selain itu pemberian obat ini dengan acebutolol dapat menyebabkan toksisitas. B blocker berhubungan dengan   peningkatan serum kalium baik moderate atau asimtomatis. Peningkatan tersebut

secara klinis terlihat bila diberikan bersamaan dengan obat ini dan adanya factor  risiko lain (misalnya penyakit ginjal, usia meningkat, olahraga berat, dll)7

Potensi Efek Samping

Ulserasi pada GI ( perdarahan dan perforasi atau terbentuknya striktur) , hiperkalemia. Oral: mual, muntah dan kram perut. IV: nyeri atau phlebitis, toxic pada  jantung.7

Makna Klinis

Pasien diberikan obat ini atas indikasi adanya hipokalemi berdasarkan hasil laboratorium. Penyebab dari hipokalemi pada pasien masih belum diketahui secara  pasti.

(32)
(33)

E. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa pengobatan yang telah diberikan  pada dasarnya telah sesuai dimana tidak terdapat interaksi diantara obat-obat yang diberikan. Pemberian obat-obatan juga sudah sesuai dengan indikasi , contohnya pada   penggunaan katopril. Kaptopril merupakan golongan ACE-I yang menghambat  perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II sehingga menghasilkan vasodilatasi

dan penurunan sekresi aldosteron, yang pada akhirnya akan menurunkan tekanan darah, mensekresi air dan garam, dan meretensi kalium. Pada pasien terjadi hipokalemia, sehingga pemberian kaptopril cukup aman terhadap timbulnya hiperkalemia.

Penggunaan heparin pada pasien ini juga sesuai indikasi karena adanya hypercoagulable state dan nilai trombosit yang normal sehingga dapat di berikan 1000 unit/24 jam secara IV. Namun heparin memiliki efek samping berupa  perdarahan sehingga pemberian intavena harus diimbangi dengan monitoring nilai

aPTT dan PT.

Pasien juga didiagnosis gastroenteritis akut karena pasien mengeluhkan perut kembung serta sebelumnya pasien memiliki riwayat diare. Pasien pun diberikan omeprazol 1 x 40 mg iv dan sulkralfat 3x C I per oral. Omeprazol merupakan obat golongan protein pump inhibitor (PPI) yang menghambat sekresi asam lambung lebih kuat dari AH2. Sulkralfat mempertahankan mukosa lambung, bekerja sebagai barier 

epitel lambung dari HCL dan pepsin. Sulkralfat dapat aktif dalam suasana asam,   bioviabilitasnya dapat menurun jika diberikan bersamaan dengan obat antasida

maupun AH-2 sehingga pada pasien ini, omeprazol diberikan terlebih dahulu dan setelah 2 jam kemudian pasien baru diberikan sulkralfat.

Untuk terapi CAP pada pasien ini diberikan cefotaxim 3 x 1 g, IV dan azitromisin 1 x 500 mg per oral. Cefotaxim merupakan sefalosporin generasi III yang aktif melawan kuman patogen gram negatif maupun positif, termasuk kuman

(34)
(35)

 penyebab pneumonia dan azitromisin merupakan agen yang efektif melawan M.  pneumonia dan dosis 500 mg merupakan dosis awal terapi. Obat ini diberikan

sebelum makan karena absorbsinya dipengaruhi oleh makanan serta diberikan 1 kali sehari karena waktu paruh yang panjang. Efek samping dari kedua obat ini juga harus diperhatikan terutama pada gangguan saluran cerna.

Untuk penanganan hipokalemi dan hipokalsemi, pasien diberikan Ca glukonat dan KSR 3x2 tab. Kedua obat ini sudah tepat penggunaan nya. Ca gluconat tidak  diberikan IM karena dapat menyebabkan terjadinya abses di tempat penyuntikan. Pemberian KSR harus diberikan setelah makan atau bersamaan dengan makanan dan KSR dapat berinteraksi dengan obat antihipertensi golongan ACE inhibitor sehingga  pemeberiannya harus diperhatikan. Kaptopril dapat diberikan 2 jam sebelum makan

lalu dilanjutkan dengan pemberian ACE inhibitor.

Obat-obatan yang diberikan kepada pasien sebagian besar memiliki efek  samping pada GI sehingga harus diperhatikan pemberiannya karena pasien ini menderita gastroenteritis akut. Selain itu, sebagian besar obat dimetabolisme di hati dan di eksresi di ginjal sehingga pemantauan fungsi hati dan ginjal secara berkala  perlu dilakukan.

Daftar Pustaka

1. Brunton LL, Lazo J, Parker KL. Goodman and Gilman’s the pharmacological

 basis of therapeutics. 12thedition. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2011.

2. Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic and clinical pharmacology. Edisi 11. Mc Graw-Hill: New York; 2000.

3. Estuningtyas A, Arif A. Obat lokal. Dalam: Gunawan SG, Setiabudy R,  Nafrialdi, Elysabeth, editors. Farmakologi dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Balai

(36)
(37)

4. Diunduh dari

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a697037.html (14 Januari 2012 pkl 22.00).

5. Diunduh dari http://www.mims.com/USA/drug/info/calcium%20gluconate/

(14 Januari 2012 pkl.22.10)

6. Diunduh dari http://www.medicines.org.uk/ (14 Januari 2012 pkl.22.20)

7. Diunduh dari http://www.mims.com/USA/drug/info/potassium (14 Januari

(38)

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini ekstrak etanol 96% umbi ubi jalar ungu diuji efeknya dalam menurunkan kadar glukosa darah secara in vitro dengan cara menghambat aktivitas enzim

Dari Grafik 2 terlihat bahwa ekstrak kulit kayu secang mampu menghambat aktivitas enzim xantin oksidase yang cukup tinggi, sedangkan allopurinol sebagai obat

Pada penelitian ini ekstrak etanol 96% umbi ubi jalar ungu diuji efeknya dalam menurunkan kadar glukosa darah secara in vitro dengan cara menghambat aktivitas enzim

Perasan buah strawberry dapat menurunkan kadar asam urat antara lain karena adanya kandungan flavonoid, dengan mekanisme menghambat kerja enzim xantin oksidase

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun salam memiliki aktivitas penghambatan enzim xantin oksidase sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai obat alternatif dalam

4. Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain. Alasan kedua yaitu sesuai dengan taraf

Dari Grafik 2 terlihat bahwa ekstrak kulit kayu secang mampu menghambat aktivitas enzim xantin oksidase yang cukup tinggi, sedangkan allopurinol sebagai obat

Interaksi obat-reseptor ini memerlukan efikasi (aktivitas intrinsik) yaitu kemampuan obat untuk mengubah bentuk konformasi makromolekul protein sehingga