BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah akumulasi kapital berkembang seiring dengan aktivitas manusia yang terus berproduksi. Sistem ekonomi yang bertumpu pada kapital dan keuntungan ini terus tumbuh apa yang sekarang ini dikenal dengan globalisasi. Sejak abad 15, kapitalisme sederhana dalam bentuk perdagangan terus berekspansi ke seluruh dunia yang menghasilkan jaringan-jaringan berupa pasar global. Kapitalisme berekspansi melalui perubahan model produksi Immanuel Wallerstein menyebutnya sebagai dunia ekonomi yang kapitalisik karena sistem produksi barang dan jasa terus menghasilkan keuntungan dan kapital baru.
Berakhirnya Perang Dunia Kedua menandai dua fase model produksi yaitu Fordisme dan Pasca-Fordisme sekaligus menjadi bagian dari proses globalisasi ekonomi. Berawal dari invensi yang dilakukan Henry Ford dan Frederick Charles Taylor yang mengembangkan produksinya dengan sirkulasi tertutup, Ford melakukan efisiensi produksi dengan otomatisasi, assembly line, dan standardisasi dalam sistem produksi. Sirkulasi tertutup dan produksi massal tersebut sangat tergantung pada ekspansi pasar dan industrialisasi yang diwujudkan dalam kerangka
welfare state Keynesian. Fordisme ternyata bangkrut karena stagnasi dan krisis
permintaan pasar, pasar tidak mampu lagi berekspansi1.
Tahun 1980-an, Pasca Fordisme menjawab tantangan kapitalisme dengan perubahan kebijakan yang lebih fleksibel, spesialisasi kerja pada proses produksi, dan jaringan korporasi yang lebih mengglobal dengan desentralisasi produksi. Proses produksi disebar ke perusahaan kecil yang ada di negara lain. Untuk itu, model
1 Mark Rupert, Ideologies of Globalization Contending Visions of New World Order, Routledge,
produksi Pasca Fordisme membutuhkan regulasi untuk mempermurah biaya produksi dengan mencari upah kerja paling kecil (yang biasanya ada di negara dunia ketiga).
Model produksi Pasca Fordisme yang bertumpu pada Konsensus Washington2 ini mempraktikkannya dengan mendorong negara mengeluarkan kebijakan privatisasi sektor publik, pengurangan hambatan investasi dan industrialisasi skala besar dalam kerangka good governance3. Model produksi kapitalisme pasar yang flesibel dan
terdesentralisasi ini membutuhkan model regulasi yang mendukung ekspansi pasar.
North Atlantic Free Trade Agreement (NAFTA) perjanjian perdagangan bebas antara
Mexico, Canada dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 1992 inilah yang menjadi awal wujud neoliberalisme yang kemudian berkembang dan difasilitasi oleh lembaga internasional World Trade Organization (WTO), International Monetery
Fund (IMF), dan World Bank (Bank Dunia)4.
Kekuatan kapitalisme yang terus memperluas akumulasi ini menghasilkan produk yang juga sistemik yaitu kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, tak pelak menghasilkan gerakan perlawanan. Perlawanan bersenjata rakyat tersebut di antaranya Chiapas melawan NAFTA melalui pemberontakan Zapatista, adanya krisis finansial di Asia pada 1997, protes besar Seattle atas perdagangan bebas WTO pada 1999, dan skandal hutang dunia ketiga melalui skema G8 menunjukkan bangkitnya gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global.
Gerakan sosial sebagai perlawanan terhadap sistem kapitalisme global tersebut hadir dalam kerangka „masyarakat sipil global‟. Konsep tersebut kemudian dikenal sebagai global justice movement, gerakan sosial baru untuk memaknai globalisasi yang lebih egaliter dan mempertimbangan keadilan sosial daripada
2 Kesepakatan kebijakan antara Bank Dunia, IMF dan Kementerian Keuangan Amerika Serikat.
Sepuluh kata kunci dalam konsensus ini adalah (1) disiplin fiskal, (2) disiplin belanja pemerintah dengan mengurangi subsidi, (3)reformasi perpajakan, (4) liberalisasi keuangan, (5) pengadopsian nilai tukat yang kompetitif, (6) liberalisasi perdagangan, (7) liberalisasi penanaman modal asing, (8) privatisasi perusahaan milik pemerintah, (9) deregulasi sektor ekonomi, (10)penghargaan terhadap hak milik pribadi.
3 Eric Hiariej, Globalisasi, Kapitalisme, dan Perlawanan, IIS UGM, Yogyakarta, 2012 hal. 47 4 Heather Gautney, Protest and Organization in The Alternative Globalization Era,Palgrave
keuntungan pasar. Salah satunya gerakan perlawanan pasca Seattle 1999 tersebut adalah Forum Sosial Dunia atau World Social Forum (WSF).
Forum Sosial Dunia (FSD) pertama kali diselenggarakan pada 25-30 Januari 2001 di Porto Alegre Brazil. Forum ini merupakan tandingan Forum Ekonomi Dunia (FED) atau biasa disebut World Economic Forum (WEF) yang dilaksanakan di Davos sejak tahun 1971. Forum Ekonomi Dunia yang merupakan ajang berkumpul pengusaha dunia setiap tahunnya. Partisipan FED adalah dari pengusaha dan pemimpin politik. Forum yang diprakarsai oleh Klaus Schwab, seorang pengusaha Swiss ini, menuai banyak kritikan karena agendanya yang dianggap mendukung globalisasi oleh korporasi dan mendorong pasar bebas dan neoliberalisme.
Muncul-lah FSD untuk menandingi hegemoni yang diciptakan oleh FED. Bernard Chassen, jurnalis dari majalah Perancis, Le Monde Diplomatique, Chico Whittaker aktivis Gereja dan kader Partai PT Brasil, dan Oded Grajew koordinator gerakan Brazilian Business Association for Citizenship (CIVES) merupakan inisiator FSD. Sebelumnya, mereka aktif dalam Association for the Taxation of Financial
Transaction for Assistance to Citizen (ATTAC) sebuah organisasi progresif yang
perhatian terhadap partisipasi masyarakat sipil dalam globalisasi dan ekonomi pasar. Forum Sosial Dunia kemudian memberi label dirinya sebagai aliansi global tindak lanjut dari gerakan sosial Seattle tahun 1999. Dalam prinsip dasarnya, Forum Sosial Dunia adalah sebuah forum pertemuan terbukaatau open space bagi gerakan masyarakat sipil yang melawan sistem ekonomi neoliberal dan dominasi kapital5.
Skripsi ini ingin membahas lebih lanjut tentang FSD sebagai salah satu gerakan perlawanan terhadap kapitalisme global. Berkumpulnya aktivis akar rumput, kelompok gereja, organisasi nonpemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan pemimpin politik dalam satu wadah aliansi global. Penyelenggaraan pertamanya yang diselenggarakan di Porto Alegre dengan membawa slogan “Another World is
5
Possible” berhasil mengumpulkan 20.000 partisipan dari 117 negara dan 4.700
delegasi6.
Menarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang bentuk perlawanan seperti apa yang ditawarkan oleh FSD melalui slogan yang sering digembar-gemborkan “Another World is Possible”. Kemungkinan dunia yang lain yang seperti apa yang ingin mereka raih. Sejak penyelengaraannya yang pertama (2001), sampai dengan sekarang (2014), gerakan FSD mengalami banyak berkembang. Penulis memilih studi kasus penyelenggaraannya di Mumbai (2004) dan FSD polisentris (2006) sebagai studi kasus dalam penelitian ini. Slogan “Another World is possible” kurang lebih telah terepresentasikan dalam pelaksanaannya di Mumbai, karena berhasil membawa semangat gerakan akar rumput dan terdapat perlawanan internal untuk menolak keberadaan donor. Sementara tahun 2006, menjadi salah satu tonggak internasionalisasi FSD dengan menyelenggarakannya di beberapa tempat yang berbeda.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, penulis mengajukan rumusan masala h sebagai berikut. Bagaimana bentuk perlawanan yang ditawarkan Forum Sosial Dunia dalam penyelenggaraannya tahun 2004 dan 2006 terhadap globalisasi ekonomi neoliberal?
C. Landasan Konseptual
Kontrahegemoni Antonio Gramsci
Penelitian ini menggunakan landasan konseptual dari Antonio Gramsci untuk membantu pembacaaan tentang perlawanan7. Antonio Gramsci merekonstruksi
6 Porto Alegre menjadi tuan rumah karena dianggap representasi gerakan sosial yangmengakar rumput
kembali pandangan Marx tentang perlawanan terhadap kapitalisme global dengan mengejawantahkan kembali “filsafat praksis” sebagai sebuah aksi politik dalam menghadapi perkembangan akumulasi modal. Gramsci dalam diskursus perlawanannya terhadap kapitalisme dan borjuasi, menekankan bahwa mayoritas penduduk harus menggerakkan dan digerakkan untuk melawan. “..memobilisasi mayoritas penduduk untuk melawan kapitalisme dan borjuis (SPW II 443)”8. Perlawanan tidak tumbuh dari kondisi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi saja. Perlawanan hadir karena kesadaran bahwa kemiskinan dan kesenjangan itu sebagai produk sistemik yang tidak bisa diterima. Konsep Gramsci tentang hegemoni, perang posisi, dan perang gerakan erat kaitannya dengan wacana perlawanan terhadap kapitalisme.
Hegemoni
Gramsci mengawali konseptualisasinya tentang hegemoni dari adanya suatu kelas yang menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan menggunakan kekerasan dan persuasi. Gramsci menggambarkan hegemoni sebagai sebuah centaur mitologi Yunani, yaitu setengah binatang dan setengah manusia sebagai simbol dari „perspektif ganda‟ suatu tindakan politik-kekuatan dan konsensus, otoritas dan hegemoni, kekerasan dan kesopanan9. Ia percaya bahwa hegemoni ada dalam setiap aspek kehidupan dalam identitas sosial, relasi, organisasi yang berbasis distribusi kuasa dan pengaruh yang asimetris yang dipegang oleh kelas dominan. Sedangkan apa yang dimaksud dengan kelas hegemonik atau kelompok kelas hegemonik adalah kelas yang mendapatkan persetujuan dari kekuatan dan kelas
7
Pemikiran Gramsci tertuang dalam buku Prison Notebooks yang ia tulis di dalam penjara sebelum kematiannya pada 27 April 1937. Tulisan Gramsci amat dipengaruhi oleh kegagalan Partai Sosialis di Italia.
8 Roger Simon, “Gagasan-Gagasan Politik Gramsci,” Insist Press,Yogyakarta, 1999, hal. 23 9
(dua tingkat fundamental, sesuai dengan dwi hakikat dari Centaurus-nya (manusia kuda dalam mitologi Yunanni-pen) Macchiavelli yaitu setengah hewan dan setengah manusia. Di sana ada dua tingkatan yaitu tentang kekuatan dan persetujuan, tentang kewenangan dan hegemoni, kekerasan dan peradaban, momen pribadi dan momen universal (Gereja dan negara) , agitasi dan propaganda, tentang taktik dan strategi) dikutip dari Nezar Patria& Andi Arief, Antonio Gramsci: Negara&Hegemoni, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, hal.118
sosial lain dengan cara menciptakan dan mempertahankan sistem aliansi melalui perjuangan politik dan ideologis. Cara yang digunakan oleh kelas dominan untuk memadukan kelompok sosial kelompok subordinat dengan kepemimpinan dalam produksi dilakukan melalui blok historis (historical blok).
Hubungan yang hegemonik terjadi saat yang dikuasai mematuhi penguasa dan yang dikuasai tidak harus merasa menginternalisasi nilai dan norma penguasa, lebih dari itu mereka juga memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Yang membedakan Gramsci dengan pengertian „hegemoni‟ oleh pemikir Marxis sebelumnya adalah arti „hegemoni‟ tidak terbatas pada relasi kelompok proletariat dan borjuis tetapi lebih luas dari setiap hubungan sosial. Selain itu, teori hegemoni Gramsci menekankan pada pengaruh kultural, bukan pada kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi10.
Gramsci menjelaskan bahwa perlawanan terhadap kapitalisme global berkaitan erat dengan mobilisasi massa. “Bagi Gramsci, politik bukanlah sebuah ruang yang berdiri sendiri. Ia membutuhkan tekanan dan relasi dengan ekonomi, masyarakat, kebudayaan, dan harus bekerja bersama-sama membangun kekuatan untuk membuat dominasi. Hal tersebut merupakan produksi politik, politik sebagai produksi. Konsepsi tentang politik adalah kesatuan fundamental yang terbuka,”11
. Poin tersebut menjadi poin penting untuk membangun sistem aliansi hegemoni untuk melawan hegemoni yang ada atau bisa disebut dengan kontrahegemoni. Tugas menciptakan hegemoni baru melawan hegemoni yang sudah ada menurut Gramsci harus dilakukan dengan kesadaran, pola berpikir, dan pemahaman masyarakat. Hal tersebut juga terkait dengan konsepsi mereka tentang dunia dan norma perilaku mereka. Gramsci menekankan pada kekuatan masyarakat sipil (civil society) , atau wadah kelompok dominan mengatur konsensus dan hegemoninya, untuk membuat
10 Roger Simon,op.cit., hal. 22
11 Owen Worth and Carmen Kuhling, Counterhegemony, antiglobalization, and culture in International
Political Economy (online),diakses dari < http://cnc.sagepub.com/content/28/3/31> pada 29 September 2013
kekuatan tandingan12. Gramsci percaya bahwa kelompok sosial yang lebih rendah (subordinat) dapat membuat perlawanan dan membuat sebuah hegemoni tandingan (kontrahegemoni).
Perang Posisi dan Perang Gerakan (War of movement and war of position)
Aksi politik sebagai sebuah kontrahegemoni menurut Gramsci, dibedakan menjadi dua perbedaan strategis yaitu perang gerakan (war of movement or
manuevre) dan perang posisi (war of position). Bagi Gramsci, perbedaan antara dua
perang tersebut murni hanya metodologisnya saja13.Perang posisi ialah strategi menyerang kelompok yang meng-hegemoni tersebut dengan ideologi, norma, mitos, politik dan kebudayaan tanpa kekerasan. Dengan kata lain, perang posisi merupakan proses transformasi kultural untuk menghancurkan sebuah hegemoni dan menggantikannya dengan hegemoni lain.14. Perang posisi mengndaikan konsensus secara budaya dan politik serta organisasi yang bertujuan memberikan pelajaran tentang realitas politik melalui pertempuran moral dan intelektual. Perang posisi bisa terjadi saat keadaan masyarakat sipil dalam sebuah masyarakat adalah kompleks. Perang posisi dilakukan berjangka panjang dengan proses artikulasi yang kompleks, disesuaikan dengan keadaan masyarakat sipil yang mengusungnya. Perang posisi juga diartikan sebagai diseminasi dari ide-ide perlawanan baru15.
Sedangkan, Perang gerakan adalah sebuah strategi yang menggunakan kekerasan partai revolusioner untuk menyerang balik hegemoni ataupun negara koersif yang berpihak pada kelompok pemilik modal. Perang gerakan merupakan sebuah aksi kolektif yang menggunakan aksi langsung kepada negara dan memungkinkan digunakannya kekuatan militer. Ia biasanya terjadi saat posisi negara
12 Mark Rupert, Producing Hegemony, The Politics of Mass Production and American Global Power,
Cambridge University Press,Melbourne hal.27
13 Daniel Egan, Insurrection and Gramsci’s War of Position, Journal of Socialism and Democracy,
Routledge, dipublikasikan tanggal 5 Maret 2015, diakses tanggal 7 Agustus 2015 melalui
http://www.tandfonline.com/loi/csad20
14 Barry K Gills, Globalization and the Politics of Resistance, Palgrave, New York, 2001, hal. 45 15
sangat kuat dan masyarakat sipilnya sangat lemah. Perang gerakan terjadi tidak setiap waktu, melainkan terjadi secara parsial. Perang gerakan terjadi saat perang posisi itu sudah terjadi sebelumnya.
Kekalahan kelompok kiri di Eropa Selatan dan Tengah pada 1918-1920 terhadap kapitalisme menarik perhatian Antoino Gramsci. Gramsci melihat kekalahan tidak hanya pada ketersediaan moda produksi tetapi pada segi suprastrukturnya. Ia beranggapan bahwa buruh kurang militan. Gramsci menganggap hal tersebut sebagai sebuah paradoks. Perkembangan industri negara kapitalis makin massif, sedangkan militansi buruh justru berkurang untuk menghancurkan kapitalisme itu sendiri. Strategi perlawanan kepada kelas penguasa melalui perang posisi dianggapnya sebagai alternatif perlawanan itu. Ada dua elemen dalam perang posisi yaitu pertama, setiap negeri atau kelompok perlawanan membutuhkan “survei yang tepat” dalam mengembangkan strategi revolusinya16. Dalam hal ini Partai Komunis, Gramsci percaya bahwa sosialisme harus dibangun sesuai dengan konteks politik yang dihadapinya17. Kedua, adalah perlu adanya basis gagasan untuk mengepung dengan suatu kontrahegemoni, diciptakan oleh organisasi massa kelas pekerja dan dengan membangun lembaga-lembaga serta pengembangan budaya proletar. Gramsci percaya bahwa kekuatan bukan hanya datang dari kelas buruh dan petani yang frontal terhadap negara, tetapi adanya fondasi dari sebuah budaya baru dari masyarakat proletar.
Gramsci menggarisbawahi bahwa bila sebuah kelas ingin maju dan menjadi hegemoni maka ia perlu membangun sistem ideologi yang berfungsi sebagai pondasi yang mengikat dan menyatukan berbagai kelompok kekuatan sosial. Gramsci menekankan bahwa pertama, suatu kelas tidak akan memperoleh hegemoni hanya semata-mata dengan menerapkan pandangannya sendiri terhadap semua kelas. Kedua, sistem ideologi yang dimaksudkan Gramsci mengakomodasi kekuatan sosial
16 Nezar Patria& Andi Arief, loc.cit, hal 172
17 Gramsci percaya bahwa karakter dari gerakan dan strategi perlawanan berakar pada hegemoni kelas
dominan Ia meniliti bahwa di Eropa 1870 sampai dengan Perang Dunia I ada semacam revolusi permanen mengenai pengetahuan politik dan rumusann hegemoni sipil
yang beragam, tidak dibuat sekali jadi sebagai jenis konstruksi intelektual yang dikerjakan oleh pemimpin partai politik18.
Penulis akan menggunakan konsep Gramsci tentang perang posisi dan perang gerakan dalam menganalisis penyelenggaraan FSD di Mumbai dan FSD Polisentris untuk menggambarkan bagaimana perlawanan terhadap globalisasi ekonomi neoliberal.
D. Argumen utama
FSD merupakan bentuk kontrahegemoni terhadap berlangsungnya globalisasi ekonomi neoliberal. Melalui bentuk forum yang bersifat ruang terbuka dan nonhierakhis, FSD memberikan ruang gerakan sosial dari seluruh dunia untuk bertemu dan berbagi pengalaman perlawanan.
Perang posisi dalam perlawanan terhadap globalisasi ekonomi neoliberal dapat dilihat melalui penyelenggaraan forum yang bersifat ruang terbuka, non hierarkis, dinamis, dan tanpa kekerasan di semua penyelenggaraan forum. Perang gerakan FSD dapat dilihat dari protes langsung komunitas akar rumput di Mumbai India yang secara tegas menolak ketelibatan donor asing dengan cara melakukan protes langsung berseberangan dengan tempat penyelenggaraan FSD.
E. Metode penelitian
Skripsi menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode pengumpulan data kualitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dengan studi literatur. Penulisan penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan eksplanatif dan analisis data dilakukan secara metode kontekstual dan korelasionis. Penulis akan mencocokkan data dengan definisi berdasarkan teori. Sedangkan dalam metode korelasionis, penulis akan menganalisis
18
hubungan kausalitas di antara unit eksplanasi yang ada pada tingkat analisis yang sama.
F. Sistematika Penulisan
Bab I merupakan penjabaran mengenai kerangka dasar penelitian skripsi. Penulis menjelaskan secara singkat kondisi apa yang melatarbelakangi gerakan sosial. FSD sebagai salah satu wacana kontrahegemoni yang muncul setelah perlawanan Seattle 1999 menjadi kajian spesifik pada rumusan masalah yang penulis buat. Melalui rumusan masalah “Perlawanan yang seperti apa yang ditawarkan oleh FSD dalam penyelenggaraannya tahun 2004 dan 2006”. Penulis menggunakan pisau analisis Antonio Gramsci tentang “perang posisi” dan “perang gerakan” untuk memetakan perlawanan yang dilakukan oleh FSD terhadap globalisasi ekonomi neoliberal. Bab ini juga berisi metode penelitian, dan sistematika penulisan yang penulis pakai dalam penelitian
Bab II akan menguraikan tentang apa yang dilawan oleh Forum Sosial Dunia dan peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi perlunya kekuatan tandingan itu. Bab ini akan menguraikan kontradiksi dari globalisasi ekonomi neoliberal yang hadir pasca Perang Dunia II dan dampak yang ditimbulkan oleh hegemoninya. Forum Ekonomi Dunia, forum yang menjadi sasaran kontrahegemoni juga akan dibahas. Bab ini akan membuktikan asumsi dasar penulis bahwa globalisasi yang didukung oleh sistem ekonomi yang neoliberal hanya menguntungkan segelintir orang. Globalisasi ekonomi neoliberal terus berlangsung dengan memanfaatkan forum lintas jaringan, negara, dan pemilik modal untuk terus mengembangkan strategi perluasan pasar dan promosi neoliberalisme. Salah satunya dengan terus menyelenggarakan Forum Ekonomi Dunia.
Bab III menjelaskan Forum Sosial Dunia mulai bergerak tidak melulu di Amerika Latin, wacana kontrahegemoni berusaha terus disebarkan ke negara-negara Selatan yang lain seperti Afrika, dan Asia. Mumbai, adalah kota pertama
internasionalisasi forum. Penolakan dan boikot terhadap donor dan korporasi internasional merupakan salah satu upaya untuk membawa forum tidak sekedar “talking shop”. Wacana pelibatan pasukan bersenjata dan partisipasi penuh partai komunis membuat penyelenggaraan di Mumbai lebih berwarna “gerakan”. Sementara itu, penyelenggaraan FSD secara polisentris mensiasati agar gerakan bisa diserukan di region-region yang selama ini belum pernah menjadi perhatian aktivis dari seluruh dunia. Dokumen-dokumen seruan untuk beraksi dicetak dan disebarkan, justru forum semakin gamang menentukan arah gerakan. Dengan melihat penyelenggaraannya di Mumbai dan Polisentrismenya, bab ini ingin menguraikan lebih jauh bagaimana strategi perang posisi dan gerakan FSD dan bagaimana FSD menangkap peluang dalam dua event tersebut sebagai strategi keluar dari kegamangan sekaligus strategi jangka panjang FSD sebagai kontrahegemoni terhadap globalisasi ekonomi neoliberal. BAB IV, kesimpulan ini sekaligus akan menjawab pertanyaan rumusan masalah dan menggunakan pisau analisis Gramsci, bentuk perlawanan perang posisi dan perang gerakan seperti apa yang ditawarkan oleh FSD