“JURNAL ILMIAH ILMU KESEHATAN”
JENDELA KESEHATAN
Vol. 1 No. 1 Halaman. 1-93
Gresik Juni 2016
Diterbitkan Oleh :
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 80 FAKTOR RISIKO KARAKTERISTIK DAN PERILAKU SEKSUAL
TERHADAP KEJADIAN KANKER SERVIKS (DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH GRESIK)
Dwi Faqihatus Syarifah Has Stikes Delima Persada Gresik
ABSTRAK
Kanker serviks merupakan kanker nomor satu yang umumnya diderita oleh wanita di Indonesia, dan diperkirakan jumlahnya terus meningkat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan dan faktor risiko antara karakteristik dan perilaku seksual dengan kejadian kanker serviks.
Rancangan penelitian ini menggunakan case control. Jumlah kasus sebanyak 29 orang (pasien pap smear yang positif kanker serviks) dan kontrol 33 orang (pasien pap smear yang negatif kanker serviks). Subjek penelitian diambil dengan cara total populasi, yakni semua pasien pap smear pada bulan Maret-April 2009 di RSAB Muhammadiyah Gresik. Data diambil dengan wawancara menggunakan kuesioner.
Hasil penelitian dengan menggunakan koefisien kontingensi/phi cramers yang menunjukan bahwa pada karakteristik responden, kuat hubungan umur dengan kasus kanker serviks adalah 0,083, (OR 0,603), pendidikan 0,542 (OR 74,603), pekerjaan 0,350 (OR 18,931), dan pendapatan 0,315 (OR pendapatan < Rp. 1.000.000 adalah 10,424). Pada variabel hubungan seksual usia dini 0,183 (OR 0,592), jumlah partus 0,331 (OR13,647), berganti pasangan seksual 0,195 (OR 4403832,3), frekuensi hubungan seksual 0,563,(OR 85,969), kebersihan genital 0,499, (OR 38,965), sirkumsisi pasangan 0,137 (OR 0,000), jenis dan lama pemakaian alat kontrasepsi 0,196 (OR 5,445). Pada analisa multivariat, variabel frekuensi hubungan seksual ≥ 3-4/ minggu dan kebersihan genital yang rendah memiliki probabalitas terjadinya kanker serviks adalah sebesar 99,9%.
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah berganti-ganti pasangan seksual, frekuensi hubungan seksual ≥ 3-4/minggu dan kebersihan genital yang rendah merupakan variabel yang paling kuat hubungannya dengan kejadian kanker serviks. Penyuluhan kepada individu agar menjaga kebersihan alat genital, dan melakukan hubungan seksual yang sehat dengan memperhatikan kebersihan alat genital merupakan cara untuk mencegah terjadinya kanker serviks.
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 81 PENDAHULUAN
Kanker adalah bentuk pertumbuhan sel-sel dalam tubuh (khususnya dimulai di bagian organ tertentu yg rentan) yang abnormal. Kanker pada saluran reproduksi wanita dapat timbul di vulva dan vagina, uterus atau ovarium. Kanker serviks dimulai dengan adanya suatu perubahan dari sel serviks normal menjadi sel abnormal yang kemudian membelah diri tanpa terkendali. Sampai saat ini kanker serviks merupakan masalah kesehatan wanita di Indonesia sehubungan dengan angka kejadian dan kematiannya yang tinggi. Setiap daerah di Indonesia mempunyai faktor risiko pencetus kanker serviks yang berbeda. Terutama perilaku seksual yang berhubungan dengan peningkatan prevalensi kanker serviks pada setiap daerah di Indonesia. faktor risiko dan predisposisi yang menonjol antara lain : umur pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah melahirkan, jumlah perkawinan, frekuensi hubungan seksual, sosial ekonomi yang rendah, kebersihan alat genital baik individu maupun pasangan, sirkumsisi pasangan, dan penggunaan alat kontrasepsi (termasuk jenis alat kontrasepsi dan lamanya pemakaian alat kontrasepsi).
Sampel Penelitian
Sampel penelitian dibagi menjadi 2, yakni sampel kasus dan sampel kontrol. Sampel kasus adalah semua pasien wanita yang melakukan pap smear dan didiagnosa menderita kanker serviks di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009. sedangkan sampel kontrol adalah semua pasien wanita yang melakukan pap smear dan didiagnosa tidak menderita kanker serviks di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009.
Besar Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah "Total Populasi" yakni Keseluruhan pasien yang didiagnosa menderita kanker serviks dan yang tidak menderita kanker serviks di RSAB Muhammadiyah Gresik yakni pada bulan Maret-April tahun 2009. Cara Penentuan Sampel
Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel yan digunakan adalah "Total Populasi". Dimana seluruh sampel dalam populasi akan dikenai penelitian. Cara pengambilan Sampel
Karena jumlah kasus kanker serviks yang terbatas, maka seluruh populasi (pasien yang melakukan pap smear pada
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 82 bulan Maret-April tahun 2009) akan
diambil sebagai sampel penelitian. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di RSAB Muhammadiyah Gresik dan waktu penelitian dilakukan mulai bulan November tahun 2008 sampai Mei 2009.
Tehnik dan Instrumen Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah : data primer yakni wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh data mengenai variabel yang diteliti dan data sekunder yakni rekam medik pasien untuk mengetahui kanker serviks positif atau negatif. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, dan Closed Ended (bentuk pertanyaan tertutup). Data yang telah dikumpulkan melalui pengumpulan data diolah dengan komputer lalu dinalisis secara deskriptif dan analitik. Secara deskriptif dengan menggunakan tabel atau diagram distribusi silang, kemudian untuk mengetahui kuatnya hubungan menggunakan koefisien kontingensi atau phi cramers dan untuk mengetahui besarnya faktor risiko atau odd rasio (OR) pada setiap variabel yang diteliti maka dilakukan tehnik analisis data dengan menggunakan uji analisis regresi ganda logistik berdasarkan rasio
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 83 HASIL PENELITIAN
Tabel 1. Distribusi umur pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret- April tahun 2009
Variabel Kasus Kontrol Phi
cramers OR n % N % 20-40 tahun 41->60tahun 17 12 58,6% 41,4% 22 11 66,7% 3,3% 0,083 0,603 Jumlah 29 100% 33 100%
Pada tabel diatas diketahui jumlah responden pada kelompok kasus kanker serviks terbanyak adalah pada kelompok umur 20-40 tahun yakni 17 responden dengan presentase 58,6%, sedangkan jumlah responden pada
kelompok kontrol terbanyak terdapat pada kelompok juga umur 20-40 tahun yakni 22 responden dengan presentase (66,7%)
Tabel 2. Distribusi Pendidikan pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009
Variabel Kasus Kontrol Koefisien kontingensi OR
n % N % Rendah Menengah Tinggi 22 5 2 75,9% 17,2% 69% 4 20 9 12,1% 60,6% 27,3% 0,542 74,630 2,268 1 Jumlah 29 100% 33 100%
Berdasarkan tabel diatas, distribusi pendidikan pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah menunjukan bahwa responden kelompok kasus mayoritas berpendidikan rendah, yakni sebanyak 22 responden (75,9%), sedangkan kelompok kontrol mayoritas berpendidikan menengah dengan
jumlah 20 responden (60,6%). Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009 Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa distribusi pekerjaan pada responden kelompok kasus mayoritas tidak bekerja, dari 29 jumlah kasus, terdapat 17 responden kasus (58,6%) yang tidak bekerja. Sementara dari 33 responden pada kelompok kontrol,
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 84 mayoritas responden kontrol bekerja, 25 responden(75,8%).
Tabel 3. Distribusi Pendapatan pasien di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009
Berdasarkan tabel diatas, didapatkan bahwa kelompok kasus mayoritas responden berpenghasilan Rp
<1.000.000 per bulan, dari 29 jumlah responden kelompok kasus yang ada, terdapat 17 responden (58,6%) yang berpenghasilan Rp <1.000.000 per bulan. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas berpenghasilan Rp.
1.000.000-1.500.000 per bulan, dari 33 responden kelompok kontrol terdapat 17 responden (51,5%) yang berpenghasilan Rp 1.000.000 – 1.500.000 per bulan.
Tabel 4. Distribusi hubungan seksual pada usia dini pada pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009
Variabel Kasus Kontrol Phi cramer's OR
n % n % < 17 tahun ≥ 17 tahun 13 16 44,8% 55,2% 9 24 27,3% 72,7% 0,183 0,592 1 Jumlah 29 100% 33 100%
Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa kelompok kasus mayoritas melakukan hubungan seksual pada usia ≥17 tahun atau sesudah usia 17 tahun, dari 29 jumlah responden kelompok kasus yang ada, 13 responden (44,8%)
yang melakukan hubungan seksual sesudah berumur 17 tahun. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas juga melakukan hubungan seksual sesudah umur 17 tahun, dari 33 responden kelompok kontrol terdapat 24 responden
Variabel Kasus Kontrol Phi cramer's OR
n % n % ≤ 2 kali paritas > 2 kali paritas 8 21 27,6% 72,4% 20 13 60,0% 39,4% 0,331 113,647 Jumlah 29 100% 33 100%
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 85 (72,7%), yang melakukan hubungan
seksual sesudah umur 17 tahun.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pada kelompok kasus mayoritas pernah melahirkan lebih dari 2 kali, jumlah kelompok kasus dari 29 responden, ternyata 21 responden (72,4%) pernah melahirkan lebih dari 2 kali. Sedangkan pada kelompok kontrol mayoritas melahirkan kurang dari 2 kali, dari 33 jumlah responden pada
kelompok kontrol yang ada, 20 responden diantaranya melahirkan kurang dari atau 2 kali (60,0%).
Tabel 5. Distribusi berganti-ganti pasangan seksual pada pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009
Variabel Kasus Kontrol Phi cramer's OR
N % n % ≤ 3 kali > 3 kali 27 2 93,1% 6,9% 33 0 100% 0 0,195 1 4403832,3 Jumlah 29 100% 33 100%
Berdasarkan tabel 5 menunjukan bahwa jumlah reponden kasus terdapat 2 respoden yang pernah berganti-ganti
pasangan > 3 kali (6,9%), sedangkan pada kelompok kontrol keseluruhan tidak pernah berganti-ganti pasangan hingga lebih dari 3 kali.
Tabel 6. Distribusi frekuensi hubungan seksual pada pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009
Variabel Kasus Kontrol Phi cramer's OR
n % n % 1-2 per minggu atau kurang 3-4 per minggu atau lebih 4 25 13,8% 86,2% 23 10 69,7% 30,3% 0,563 186,697 Jumlah 29 100% 33 100%
Berdasarkan tabel 6 diatas diketahui bahwa mayoritas responden pada kelompok kasus melakukan hubungan
seksual 3-4 kali per minggu. Jumlah responden pada kelompok kasus adalah 29, dimana 25 responden (86,2%)
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 86 diantaranya melakukan hubungan
seksual 3-4 kali per minggu. Sedangkan pada kelompok kontrol kebanyakan melakukan hubungan seksual 1-2 kali per minggu (69,7%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa frekuensi berhubungan seksual yang terlalu sering dapat meningkatkan kejadian kanker serviks.
Tabel 7. Distribusi Kebersihan alat genital pada pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik pada bulan Maret-April tahun 2009
Variabel Kasus Kontrol Koefisien
kontingensi OR n % n % Kebersihan genital baik Kebersihan genital sedang Kebersihan genital buruk 2 11 16 6,8% 37,9% 55,2% 12 19 2 36,4% 57,6% 6,1% 0,499 1 38,692 5,692 Jumlah 29 100% 33 100%
Dari tabel 7 diatas diketahui bahwa sebagian besar kelompok kasus kebersihan alat genital yang rendah, dari 29 responden terdapat 16 responden (55,2%) yang kebersihan genitalnya rendah atau buruk. Sedangkan pada
kelompok kontrol mayoritas memiliki kebersihan genital yang bagus dan sedang, yakni 12 responden (36,4%) yang kebersihan genitalnya bagus dan 19 responden (57,6%) termasuk dalam kategori sedang
Tabel 8. Distribusi sirkumsisi pasangan pasien pap smear di Rumah Sakit Muhammadiyah Gresik bulan Maret-April tahun pada 2009
Variabel Kasus Kontrol Phi
cramer's OR n % n % Disirkumsisi Tidak Disirkumsisi 28 1 96,6% 3,4% 33 0 100% 0 0,137 1 0,000 Jumlah 29 100% 33 100%
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 87 Tabel 9 Distribusi jenis dan lama pemakaian kontrasepsi pasien pap smear di RSAB Muhammadiyah Gresik bulan Maret-April tahun pada 2009
Variabel Kasus Kontrol Phi
cramer's OR n % n % PIL >4 thnatauAKDR >5thn Tdk pakai kontrasepsi, pakai kontrasepsi selain PILatauAKDR, PIL < 4thnatauAKDR <5 thn 18 11 62,1% 37,9% 14 19 42,4% 57,6% 0,196 5,445 1 Jumlah 29 100% 33 100%
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa terdapat 18 responden atau sekitar 62,1% dari 29 kelompok kasus yang memakai alat kontrasepsi PIL atau AKDR lebih dari 4 tahun untuk alat kontrasepsi pil dan lebih dari 5 tahun untuk alat kontrasepsi AKDR. Sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 14 responden yang alat kontrasepsi PIL atau >4 tahun dan AKDR atau >5tahun, atau sekitar 42,4%
responden. Pada kelompok kontrol lebih banyak yang tidak memakai kontrasepsi, pakai kontrasepsi selain PIL atau AKDR, PIL < 4thn atau AKDR <5 thn, yakni sekitar 19 responden atau 57,6%.
Analisa Multivariat
Tabel 10 Hasil analisis multivariat karakteristik dan perilaku seksual terhadap kejadian kanker serviks di RS Muhammadiyah Gresik bulan Maret-April tahun 2009
Variabel bebas B OR Umur a. 20-40 tahun b. 41-60> tahun 0,506 0,603 1 Pendidikan a. Rendah b. Menengah c. Tinggi 4,313 0,819 74,630 2,268 1 Pekerjaan a. tidak bekerja b. bekerja 2,941 18,931 1 Pendapatan a. < 1.000.000 b. 1.000.000-1.500.000 c. >1.500.000 2,345 1,889 10,430 6,615 1 Hubungan sex
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 88 a. 17 tahun b. > 17 tahun -0,523 0,592 Variabel bebas B OR Jumlah paritas a. > 2 kali b. 2 kali 2,613 13,647 1 Frek.hubungan sex a. 3-4atauminggu b. 1-2atauminggu 4,454 85,696 1 Sirkumsisi a. sirkumsisi b. tidak sirkumsisi -15,527 1 0,000 Jumlah dan lama kontrasepsi
a. PIL >4 thn/AKDR >5thn
b. Tdk pakai kontrasepsi, pakai kontrasepsi selain PIL atau AKDR, PIL < 4thnatauAKDR <5 thn
1,695 5,445
1
Kebersihan alat genital a. bagus b. sedang c. rendah 1,739 3,663 1 5,692 38,965 Ganti pasangan sex
a. 3 kali b. > 3 kali 15,298 1 4403832,3 Constant 3,098 Lanjutan tabel 12:
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 89 Berdasarkan tabel diatas dapat
disimpulkan bahwa variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian kanker serviks dengan tingkat kemaknaan p < 0,05 adalah : frekuensi hubungan seksual 3-4/minggu atau lebih dan kebersihan alat genital yang rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, seseorang yang melakukan frekuensi hubungan seksual 3-4 per minggu atau lebih, dan kebersihan alat genital rendah memiliki probabilitas untuk terkena kanker serviks adalah sebesar 99,9%.
PEMBAHASAN Umur responden
Hasil penelitian : usia 20-40 tahun, OR 0,603 (95% CI 0,054-6,788) Teori Soedoko (2001) : umur diatas 40 tahun risiko kanker serviks lebih besar. Penelitian lainnya (S franchesci, BJC) : OR 1,0 umur < 30 tahun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa usia 20-40 tahun, bukan merupakan faktor risiko (protektif) kanker serviks.
Pendidikan responden
Hasil penelitian : pendidikan rendah (OR 74,530) dan pendidikan sedang (OR 2,268). Teori Ketut S (2007) : pendidikan rendah risiko kanker serviks. Hal ini sejalan dengan penelitian lainnya (Ali Akbar T, KMJ) :
pendidikan rendah berhubungan dengan kanker serviks , OR : 2,8 (95% CI 1,2-6,4). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan rendah berhubungan dengan pengetahuan dan kesadaran terhadap kesehatan juga rendah.
Pekerjaan responden
Hasil penelitian : OR tidak bekerja 18,931 (95% CI 0,290-1235,541). Teori : pekerjaan akan mempengaruhi pendapatan per bulan individu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pekerjaan juga berhubungan dengan aktivitas sosial individu, sehingga dengan bekerja maka individu dapat dengan mudah mengetahui informasi dari luar, baik informasi yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari maupun informasi kesehatan. Hubungan Seksual usia dini
Hasil penelitian : OR < 17 tahun adalah 0,592 (95% CI 0,062-5,701). Teori Aziz F (2005) : bahwa wanita yang telah melakukan hubungan seksual pada umur kurang dari 15 tahun mempunyai risiko 10 kali lebih besar dari pada yang menikah pada umur lebih dari 15 tahun Hasil penelitian lainya (Ali akbar T, KMJ, 2002) : hubungan usia dini melakukan hubungan seksual berhubungan dengan kasus kanker serviks OR 1,8 (95% CI 0,9-3,9). Dari
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 90 hasil penelitian didapatkan bahwa
hubungan usia dini melakukan hubungan seksual < 17 tahun (protektif) terhadap kasus kanker serviks, karena terdapat faktor lain yang lebih berhubungan yakni frekuensi hubungan sex dan kebersihan genital
Berganti-ganti pasangan seksual Hasil penelitian : faktor risiko meningkat pada individu yang sering berganti-ganti pasangan. Teori BKKBN (2006) : bila berganti ganti pasangan lebih dari 3 kali, maka kemungkinan untuk tertular penyakit kelamin semakin tinggi, salah satunya adalah Human Papiloma Virus.Hasil penelitian lainnya S Franceschi (BJC, 2009) : berganti pasangan seksual 3kali OR 1,5 (95% CI 1,0-2,4). Sehingga dapat disimpulkan bahwa individu yang sering berganti-ganti pasangan seksual
(multisexpatner) akan meningkatkan
risiko kanker serviks. Hal ini disebabkan perilaku seksual berupa ganti-ganti pasangan hidup akan meningkatkan penularan penyakit kelamin.
Sirkumsisi pasangan responden Hasil penelitian : OR 0,000. Hasil penelitian lainnya : Andrew M.Kaunitz, dalam journal Watch Women Health (2002), yang menyebutkan bahwa
terdapat hubungan antara infeksi HPV dengan sirkumsisi/khitan, dengan OR 0,37 (95% CI 0,16-0,85), sehingga dapat disimpulkan bahwa seorang pria yang telah dikhitan tidak menjamin bahwa pria tersebut tidak dapat menularkan virus Human Pappiloma
Virus, karena penularan tersebut tergantung dari kebersihan alat genital, kebersihan saat melakukan hubungan dan multi sex patner dari pasangan. Kebersihan alat genital
Hasil penelitian : kebersihan genital yang buruk OR 38,965 (95% CI 0,967-1566,684), kebersihan genital sedang OR 5,692 (95% CI 0,176-184,208). Teori Wahyurini C (2003), kurang menjaga kebersihan alat kelamin dapat diduga menjadi penyebab terjangkitnya kanker serviks berisiko tinggi pada wanita, sehingga dapat disimpulkan bahwa kebersihan genital yang buruk merupakan faktor risiko kanker serviks Jenis dan lama pemakaian alat kontrasepsi
Hasil penelitian : OR pemakaian kontrasepsi
PIL/AKDR dan lama penggunaanya 5,445 (95% CI 0,304-97,514). Teori lainya : Aziz F (2005), menyebutkan bahwa seseorang yang menggunakan oral kontrasepsi/PIL akan meningkatkan
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 91 risiko sebesar 1,5-2,5 kali Hasil
penelitian lainnya (Ali akbar T, KMJ, 2002) : penggunaan oral kontrasepsi/PIL pada jangka waktu > 5 tahun akan meningkatkan faktor risiko (OR) 3,4 kali (95% CI 1,4-8,2) sehingga dapat disimpulkan bahwa oral kontrasepsi kombinasi (PIL) akan menyebabkan defisiensi folat yang akan merangsang lesi serviks berkembang menjadi abnormal, sedangkan penggunaan kontrasepsi AKDR terlalu lama menyebabkan infeksi serviks.
KESIMPULAN
Karakteristik responden, kuat hubungan umur dengan kasus kanker serviks adalah 0,083, (OR 0,603), pendidikan
0,542 (OR 74,603), pekerjaan 0,350 (OR 18,931), dan pendapatan 0,315 (OR pendapatan < Rp. 1.000.000 adalah 10,424). Pada variabel hubungan seksual usia dini 0,183 (OR 0,592), jumlah partus 0,331 (OR13,647), berganti-ganti pasangan seksual 0,195 (OR 4403832,3), frekuensi hubungan seksual 0,563,(OR 85,969), kebersihan genital
0,499, (OR 38,965), sirkumsisi pasangan 0,137 (OR 0,000), dan jenis dan lama pemakaian alat kontrasepsi 0,196 (OR 5,445). Pada analisa
multivariat, variabel frekuensi hubungan seksual ≥ 3-4/ minggu dan kebersihan genital yang rendah memiliki probabalitas terjadinya kanker serviks adalah sebesar 99,9%.
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian maka disarankan sebagai berikut : melakukan hubungan seksual dengan menggunakan kondom atau melakukan hubungan seksual dengan memperhatikan kebersihan genital, memberikan penyuluhan khususnya terhadap ibu-ibu dan wanita remaja untuk menjaga kebersihan alat genital, dan memberikan pengetahuan kepada pasangan suami-istri, bahwa hubungan seksual yang tidak berisiko terhadap kanker serviks adalah hubungan seksual yang sehat, yakni hubungan seksual yang tidah tergantung pada kuantitas hubungan seksual (terlau sering berhubungan seksual), namun lebih memperhatikan kualitas hubungan seksual.
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 92 DAFTAR PUSTAKA
Adrijono, 2005, Kanker Ginekologi, Jakarta :Divisi Onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI, 23-40.
Ali Akbar Taherian MD, 2002, Original
Article Study of Risk Factors for Cervical Cancer A Case Controlled study in Isfahan-Iran. Departement of
Obstetric and Gynecology, Kuwait Medical Journal, 34 (2) : 128-132.
Andrew M. Kaunitz, 2002, MD, Does His Circumcision lower her risk for Cervical Cancer ?, Journal Watch Women's Health, http://www.jwatch. Org, (sitasi 29 Mei 2009)
Arief Mansyoer, dkk, 2000, Kapita
Selekta Kedokteran, Jakarta : Esculapius. 379-381.
Budiarto E dkk, 2002, Pengantar
Epidemiologi Edisi 2, Jakarta : EGC.
12-18, 123-12.
BKKBN, 2006, Hubungan seks umur
muda berisiko terhadap Kespro,
www.bkkbn.go.id, akses pada 5 November 2008, Pukul 20.00
Departemen Kesehatan, 2005,
Penanggulangan kanker serviks dengan Vaksin HPV, www.Depkes
RI.go.id, akses pada 3 November 2008 Pukul 10.20.
Dika, 2008, Perkawinan dini di kabupaten Gresik, tanggal 15 November 2008, Jawa Pos, Edisi Halaman 28,.
Dinkes Kabupaten Gresik, 2008, Data
dan Pemeriksaan Dini
Kanker Leher Rahim dengan Metode IVA, www.dinkes-gresik.go.id,
6 November 2008, Pukul 10.05.
Evennet K, 2003, Pap Smear, apa yang
perlu anda Ketahui ?, Jakarta :
ARCAN, 3-7
Everest S, 2007, Buku Saku Kontrasepsi
dan Kesehatan Seksual reproduktif,
Jakarta : EGC, 118-120,196-198
FKKP, 1999, Pertumbuhan Kanker
Serviks, www.fkkpnews.com, akses pada 6 November 2008, Pukul 13.01.
Glasier & Gebbie (2006). Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, alih bahasa BrhamU.Pendit. edisi 4 Jakarta : EGC
Hanny, 2001, Alat Kelamin Tak Bersih
Penyebab Kanker Leher Rahim,
www.gizinet .com, akses pada 6 November 2008, Pukul 13.30
Harrisson, 1999, Prinsip-Prinsip Ilmu
Penyakit Dalam, Jakarta : EGC. (hal 87)
Kesrepro, 2002, Artikel mengenai Kesehatan Repoduksi Remaja,
http://situs. kesrepro.info/krr atauokt/2002atauindex.html, 6 November 2008, Pukul 09.35
Ketut S, 2007, Penanganan nyeri pada
kanker serviks stadium lanjut.
Journal Udayana University, 221. 1-7
Lestadi J, 1997, Penuntun diagnostik
sosiologi Ginekologi apusan pap,
Jakarta : Widya Medika, 1-2
Murti B, 1997, Prinsip dan Metode
Riset Epidemilogi, Jogjakarta : Gajah
Dwi Faqihatus SH Adalah Dosen Tetap STIKES Delima Persada Gresik 93 Notoatmojo, Soekijo, 1997, Ilmu
kesehatan Masyarakat, Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmojo S, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka
Cipta ,24-29
Notoatmojo, 2005, Promosi Kesehatan Teori dan Apilkasi, Jakarta : Rineka Cipta 43-46.
Nursalam, 2003, Metodologi Penelitian
Ilmu Keperawatan : konsep dan penerapanya, Jakarta : Salemba Medika, 107-114
Persi, 2006, Kanker Leher Rahim
Pengaruh aktivitas seksual,
www.psatdata&info persi.html, akses pada 3 November 2008, Pukul 10.35
Puspitasari I, 2006, Mencegah Kanker
Leher Rahim, www.imcv.org, akses
pada 3 November 2008, pukul 11.00.
Rahmad Y, 2007, Kanker Serviks :
Pencegahan dan deteksi dini,
www.rahmadpoltektk93.yahoo.com. akses pada 3 November 2008, pukul 10.35
Ramli M, dkk, 2005, Deteksi Kanker
Dini, Jakarta : FKUI
Rasyidi I, 2007, Vaksin Human Papiloma Virus dan Eradikasi
Kanker Mulut Rahim, Malang :
Sagung Seto,
Rasyidi I, 2007, panduan penatalaksanaan Kanker Ginekologi,
Jakarta : EGC. 6-30
Roem Soedoko, Asmino, 2001, Kanker
Leher Rahim, Surabaya : Yayasan
Wisnu Waradhana, 1-9
Sari dewi R, 2008, faktor yang mempengaruhi keterlambatan penderita kanker serviks dalam memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, buletin penelitian RSU Dr Soetomo vol 10, no 3, sept 2008.
Sastoamijoyo S, 1995, Dasar-dasar
Metodologi Penelitian Klinis, Jakarta :
Binarupa Aksara, 42-51, 203-206
Sinar Harapan, 2002, Lelaki bisa
tularkan Kanker Leher Rahim, akses
pada 6 November 2008, Pukul 10.00.
S. Franceschi, X. Castellesague, dkk, 2009, Prevalence and determinans of
human pappilomavirus genital infection in men, British Journal of Cancer,
Cancer Research UK
Slattery ML et al Cigaratte smoking and exposure to passive smoke are risk factors for cervical cancer. JAMA 1989 Mar 17 261 1593-1598.A
Wahyurini K, 2002, Merawat Daerah
Kewanitaan,
http://situs.kesrepro.infoataukrr atauokt/2002atauindex.html,6