• Tidak ada hasil yang ditemukan

Souvia Rahimah 20 September 2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Souvia Rahimah 20 September 2011"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Teknologi

Teknologi Pengolahan

Pengolahan Sayuran

Sayuran dan

dan Buah

Buah--Buahan

Buahan

Jurusan

Jurusan Teknologi

Teknologi Industri

Industri Pangan

Pangan

Souvia Rahimah

20 September 2011

(2)

DEFINISI PENGALENGAN

suatu cara pengawetan pangan yang

dikemas secara hermetis dan kemudian

disterilkan. Ilmuwan Perancis yang bernama

Nicolas Appert menemukan metode

Nicolas Appert menemukan metode

pengalengan ini sehingga sering disebut

“The Art of Appertizing”.

(3)
(4)

Dalam pengawetan pangan dengan

panas harus diperhatikan

Mikroorganisme penyebab kebusukan dan

mikroorganisme patogen yang membahayakan

kesehatan, harus dapat dihancurkan

Panas yang diberikan tidak boleh menyebabkan

Panas yang diberikan tidak boleh menyebabkan

penurunan nilai gizi

Faktor-faktor organoleptik seperti warna dan

citarasa harus dipertahankan

(5)

Tahap Pengalengan

Penyiapan

Bahan Mentah

Persiapan

Wadah

Pengisian

(Filling)

Pencucian

Exhausting

Penutupan

Wadah

Pencucian

Wadah

Setelah

Ditutup

Sterilisasi

Pendinginan

Penyimpanan

(6)

Penyiapan Bahan Mentah

a. Pencucian

b.Pengupasan Kulit (Peeling)

c. Pemotongan dan Pematahan

d.Pengupasan Kulit Polong (Shelling)

d.Pengupasan Kulit Polong (Shelling)

e. Pembuangan Bagian Tengah Buah (Coring)

f. Pencegahan Perubahan Warna

g. Pembuatan Bubur (Pulping)

h.Pengurangan Massa (Reducing)

i. Blansing

(7)

Wadah

1. Wadah Kaleng (Tin Can)

(8)

Pengisian (Filling)

1.Metode Pengisian

2.Pengecekan Berat

3. Head Space

4.Medium Pengalengan (Canning Medium)

4.Medium Pengalengan (Canning Medium)

(9)

Head space

ruang kosong antara permukaan produk dengan

tutup. Fungsinya adalah sebagai ruang cadangan

untuk pengembangan produk selama

disterilisasi, agar tidak menekan wadah karena

akan menyebabkan gelas menjadi pecah atau

akan menyebabkan gelas menjadi pecah atau

kaleng menjadi gembung

(10)

Exhausting

Menghilangkan oksigen, karena gas ini dapat

bereaksi dengan bahan pangan atau bagian

dalam kaleng sehingga akan mempengaruhi

mutu, nilai gizi dan umur simpan produk

kalengan.

kalengan.

memberikan ruangan bagi pengembangan

produk selama proses sterilisasi

menaikkan suhu produk di dalam wadah sampai

mencapai suhu awal (initial temperature).

(11)

exhausting

Metode Exhausting

Vakum

Suhu Tengah-Tengah Kaleng selama Penutupan

Suhu Awal (Initial Temperature)

(12)

Metode Exhausting

dilakukan dengan memasukkan kaleng yang telah

diisi dalam keadaan terbuka (setelah operasi

pengisian) ke dalam suatu terowongan (tunnel

exhaust) yang dialiri stim.

menaruh kaleng yang telah diisi dalam keadaan

terbuka di dalam suatu penangas air.

Waktu dan suhu exhausting tergantung pada

jenis produk yang dikalengkan.

(13)

Vakum

Vakum adalah tekanan udara di bawah tekanan atm

Besarnya vakum di dalam kaleng setelah pendinginan

tergantung pada suhu rata-rata kaleng, jenis produk, lama

exhausting, ketinggian tempat dan besarnya head space.

Kevakuman di dalam kaleng diukur dengan alat pengukur yang

khusus dirancang untuk industri pengalengan.

Apabila vakum di dalam kaleng cukup, maka pada suhu ruang,

Apabila vakum di dalam kaleng cukup, maka pada suhu ruang,

tutup kaleng tersebut tampak sedikit cekung ke dalam.

apabila kevakuman di dalam wadah tersebut terlalu besar,

misalnya karena suhu pada waktu penutupan terlalu tinggi

atau karena head space terlalu besar, maka pada suhu ruang,

tutup kaleng tampak penyok ke dalam, dan hal ini disebut

(14)

Suhu Tengah-Tengah Kaleng

selama Penutupan

Suhu produk di dalam kaleng pada titik dingin (cold

point) pada waktu kaleng ditutup disebut center

closing temperature.

Apabila perambatan panas berlangsung secara

konveksi, maka titik dingin akan berada pada

konveksi, maka titik dingin akan berada pada

tengah-tengah kaleng, kira-kira pada jarak 1/10

bagian tinggi kaleng diukur dari tutup bawah.

Sedangkan apabila perambatan panas berlangsung

secara konduksi, maka titik dingin tersebut akan

(15)

Titik Dingin (Cold Point) dalam Makanan

Kaleng selama Proses Pemanasan

(16)

Suhu Awal (Initial Temperature)

Suhu awal adalah suhu rata-rata di dalam kaleng pada saat

proses pemanasan (sterilisasi) dimulai.

Suhu awal, dan bukan suhu pada titik dingin, merupakan

faktor penting dalam menentukan waktu proses sterilisasi.

Tetapi apabila wadah yang sudah di-exhausted segera

ditutup dan disterilisasi, suhu pada titik dingin selama

ditutup dan disterilisasi, suhu pada titik dingin selama

proses penutupan adalah sama dengan suhu awal.

Apabila kaleng setelah ditutup tidak segera disterilisasi,

perlu dilakukan pengukuran kembali suhu awalnya. Untuk

itu suhu kaleng yang paling dingin dari suatu batch dapat

dianggap sebagai suhu awal.

(17)

Penutupan Wadah

• double seaming

• Operasi pertama berfungsi untuk membentuk

atau menggulung bersama ujung pinggir tutup

kaleng dan badan kaleng

• operasi ke-dua berfungsi untuk meratakan

Kaleng

• operasi ke-dua berfungsi untuk meratakan

gulungan yang dihasilkan oleh operasi pertama

• tidak ditutup hermetis sampai setelah sterilisasi

selesaise-belumnya tutup ditutup secara lemah

• Setelah operasi sterilisasi sele-sai, penutupan

dikuatkan dengan memutar tutup kuat-kuat

(18)

Pencucian setelah ditutup

Untuk menghindari terjadinya penampakan

kaleng yang tidak menarik

korosi wadah

penumpukan kontaminan dalam retort,

penumpukan kontaminan dalam retort,

(19)

Sterilisasi (Processing)

tujuan :

untuk menghancurkan mikroba pembusuk dan patogen

membuai produk menjadi cukup masak, yaitu dilihat dari

penampilannya, teksturnya dan citarasanya, sesuai dengan

yang diinginkan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses sterilisasi :

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses sterilisasi :

jenis mikroba yang akan dihancurkan,

kecepatan perambatan panas ke dalam titik dingin,

suhu awal bahan pangan di dalam wa-dah,

ukuran dan jenis wadah yang digunakan,

suhu dan tekanan yang digunakan untuk proses sterilisasi, dan

keasaman atau pH produk yang dikalengkan.

(20)

1.

Perambatan Panas

2.

Penyusunan Wadah

3.

Proses Sterilisasi dalam Penangas Air

(21)

KEMASAN

(22)

Teknologi

Teknologi Pengolahan

Pengolahan Sayuran

Sayuran dan

dan Buah

Buah--Buahan

Buahan

Souvia Rahimah

Jurusan

Jurusan Teknologi

Teknologi Industri

Industri Pangan

Pangan

(23)

Metode Pengawetan

Jenis-jenis konsentrat : jeruk, nenas, apel, anggur

Pengawetan :

- Pembekuan (utama)

- Pengalengan (sterilisasi)

Saribuah tomat :

- Pengalengan (tdk pernah dibekukan)

- Pengalengan (tdk pernah dibekukan)

Alasan :

1. Destabilisasi kekeruhan karena pembekuan;

tampak setelah rekonstruksi

2. Aroma tomat yang dimasak disukai (saos,

pure,dsb)

(24)

Proses Pengentalan/Mengkonsentrasikan

Masalah : saribuah/sayur peka panas

sebagai citarasa hilang

perlu

teknik pengentalan khusus

Metode

1. Vaccum pan (air, flavor, udara, zat lain ikut

1. Vaccum pan (air, flavor, udara, zat lain ikut

hilang, tapi tidak perlu diaerasi)

2. Pengentalan beku

3. Osmosis reversi

(25)

Retensi Citarasa

Masalah : sebagian citarasa hilang

Pemecahan masalah :

1. Multiple effect evaporator (evaporasi T

0

rendah : 10

0

– 27

0

C)

2. Stripping : recovery zat cita rasa volatil dgn

metode

2. Stripping : recovery zat cita rasa volatil dgn

metode

khusus, dikembalikan pada produk akhir

3. TASTE = Temprature Accelerated Short Time

Evaporator

(26)

Temperatur Pengentalan

S.b. jeruk : 10

0

C-27

0

C

S.b. apel

: 54

0

C

S.b. Grape

: 82

0

C

Pengendalian Konsistensi Sari Buah Tomat

Cold break/penghancuran dingin

Cold break/penghancuran dingin

PE & PG aktif

s.b tomat encer

Hot break/penghancuran panas

PE& PG non-aktif

s.b lebih kental,

karena gelasi oleh pektin lebik baik

(27)

Limbah Industri Saribuah

Kulit jeruk

Citrus sacs (10-20%)

Minyak esensial = fixed oils

Minyak sayur = industri

Asam organik

Pigmen (karotenoida, antosianin, betalaine)=

pewarna makanan

pewarna makanan

Enzim : bromealin (nanas)

Pektin citrus apel : jam, jeli, pie, kue

Limbah cair : irigasi

(28)

Pemanfaatan Kulit Jeruk

Marmalade

Manisan kering (untuk fruit cake, kembang gula)

Kulit jeruk kering untuk pangan

Kulit jeruk kering untuk pakan

Kulit jeruk kering untuk pakan

(29)

Pemanfaatan Citrus Sacs

C. Sacs beku : campuran s.b jeruk

C. sacs kering :

- sosis

: bahan pengikat

- gorengan

: breading mix

- gorengan

: breading mix

- pie

: isi

- dry beverage mix

- tepung puding

(30)

Pemanfaatan M.Esesnial/atsiri &

Fixed oil

Minyak esensial/atsiri

- Sifat : volatil

- Pemanfaatan : industri essen & parfum

- Produk : M.A jeruk, peach, plum dsb

Fixed oil

Fixed oil

- sifat : non volatil

- produk : minyak biji citrus, grape, prune, peach,

plum

- Pemanfaatan : pengganti minyak kedele, minyak

biji katun

(31)

Asam Organik

Asam sitrat : limbah jeruk & nenas

Asam tartrat

Cream of tartrate

Garam-garam tartrat

Garam-garam tartrat

(32)

Masalah penyimpanan sari buah

Kerusakan umum

Kerusakan mikrobiologis

Kerusakan khusus

a. Sedimentasi

a. Sedimentasi

(33)

Kerusakan umum saribuah

Penurunan kadar vit.C

Diskolorasi

Reaksi oksidasi

Korosi kaleng

Korosi kaleng

Kerusakan mikrobiologis

Perubahan sifat indrawi

Penurunan nilai gizi

(34)

5.6.3. Sedimentasi Saribuah Keruh :

Penyebab; Pektin

Pektin rusak

+ ion logam + gg - COOH PE

Destabilisasi

kekeruhan

Endapan Cara mengatasi :

a. Klarifikasi dengan filterasi : a. Klarifikasi dengan filterasi :

b. Klarifikasi dengan pemanasan : a) Albumin telur :

b) Kalium-Kaseinat : c) Gelatin :

d) Lempung Bentonit : c. Klarifikasi dengan pembekuan:

(35)

Sedimentasi S.B. Jernih

Penyebab

Flavonoida

(Leukoantosianin &

Polimerisasi

Polimer Polimer - Protein (Leukoantosianin &

Katecin)

Polimer Polimer - Protein

Protein

Cu, Fe, Sn, Vit. C

Polimer – protein – Cu, Fe, Sn (endapan)

(36)

5.6.4. Cita Rasa Menyimpang

Produk

: Saribuah jeruk kaleng dlm penyimpanan

Penyebab

: Furfural > 150 Mg / liter

Penyebab

: Furfural > 150 Mg / liter

(37)

Container performance

requirements

Syarat penggunaan kemasan logam :

Mengawetkan dan melindungi bahan yang dikemas

Tidak boleh bereaksi dengan bahan

Sesuai dengan proses pengolahan produk

Sesuai dengan lingkungan penyimpanan

Dimensi harus tepat

Mudah dipajang pada saat dijual

Mudah dibuka dan mudah mengeluarkan isi

Dapat didaur ulang

(38)

Pendahuluan

Keuntungan penggunaan

wadah kaleng untuk

kemasan makanan dan

minuman

1.

Kekuatan mekanik tinggi

2.

Sifat “

barrier

” yang baik

2.

Sifat “

barrier

” yang baik

thd gas, uap air, jasad

renik, debu dan kotoran,

cocok untuk kemasan

hermitis.

3.

Toksisitas relatif rendah

4.

Tahan thd perubahan

suhu ekstrim

(39)

LOGAM

NONLOGAM

Merupakan konduktor yang baik Isolator yang baik

Dpt ditempa dan dibengkokan dalam Rapuh dan tidak dapat ditempa

keadaan padat dalam keadaan padat

LOGAM

NONLOGAM

Merupakan konduktor yang baik Isolator yang baik

Dpt ditempa dan dibengkokan dalam Rapuh dan tidak dapat ditempa

keadaan padat dalam keadaan padat

Karakteristik logam dan

nonlogam

Mempunyai kilap logam Kilap non logam

Tidak temus pandang Bbp jenis bersifat temus pandang

Densitas (massa jenis) tinggi Densitas rendah

Berbentuk padat Berbentuk padat, cait atau gas

Mempunyai kilap logam Kilap non logam

Tidak temus pandang Bbp jenis bersifat temus pandang

Densitas (massa jenis) tinggi Densitas rendah

(40)

Kaleng Plat Timah dan Baja Plat Timah

Wadah kaleng untuk

produk-produk yang mengalami proses

sterilisasi thermal.

Awalnya kaleng dibuat dari tin

plate (lembaran dasar baja

dilapisi Sn dengan cara

dilapisi Sn dengan cara

pencelupan dalam timah cair

panas (hot dipping) atau dgn

proses elektrolisa (PEL)

PEL : Menggunakan listrik

galvanis sehingga menghasilkan

lapisan timah yg lebih tipis dan

merata

(41)

Bahan

Steel/tin

Alumunium

(42)

Minyak (10

-6

mm)

Lapisan pasif (10

-6

mm)

Timah (10

-3

mm)

FeSn

2

(10

-4

mm)

Baja (0.15-0.48 mm)

Plat timah (tin plate)

Baja (0.15-0.48 mm)

FeSn

2

(10

-4

mm)

Timah (10

-3

mm)

Lapisan pasif (10

-6

mm)

Minyak (10

-6

mm)

(43)

Minyak

Khromium Oksida

Khrom

Baja

Baja bebas timah (TFS)

Baja

Khrom

Khromi oksida

(44)

1. Kaleng untuk pengemasan steril : Kaleng

ditutup sampai kedap udara dgn alat

khusus sehingga diperoleh sambungan

ganda

(double seam).

Bahan kaleng:

Menurut cara dan tujuan pemakaiannya

ada 2 jenis kaleng :

ganda

(double seam).

Bahan kaleng:

tinplate, tinfree steel,alumunium

2. Kaleng tidak untuk proses steril :

Biasanya tidak ditutup dgn alat khusus

sehingga tidak ada sambungan

double

seam

pada batas badan dan tutup

(45)

Berkembang berbagai kaleng yg berbeda

dengan standar :

- Kaleng baja bebas timah

(tin-free-steel)

- Kaleng tiga lapis

(three piece cans)

- Kaleng lapis ganda

(two piece cans)

JENIS KALENG

- Kaleng lapis ganda

(two piece cans)

Kandungan Sn Kaleng Plat timah (PT) antara

1.0-1.25% dari berat kaleng.

Plat timah (TP): lembaran atau gulungan baja

berkarbon rendah, dengan ketebalan 0.15-0.5

mm.

(46)
(47)
(48)

Proses Pembuatan Kaleng

(49)
(50)

Three-Pieces Can

Two-Pieces Can

(51)
(52)
(53)

The main measured parameters in

a double seam

(54)

KLASIFIKASI

MAKANAN

SIFAT KEASAMAN

JENIS

KALENG

Sangat korosif

Mkn dgn keasaman tinggi /

sedang (jus apel, acar,

dsb)

Tipe L

Korosif sedang

Makanan dengan

Tipe MS

Tipe-tipe kaleng untuk pengemasan

Korosif sedang

Makanan dengan

keasaman sedang (sayur

asin, pir,dsb)

Tipe MS

Tipe MR

Sedikit korosif

Mkn dgn keasaman rendah

(kapri, jagung, daging, dsb)

Tipe MR

Tipe MC

Tidak korosif

Mkn tdk asam (produk

kering, mkn beku, dsb)

Tipe MR

Tipe MC

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan Zacharia (2007), Saepuzaman (2011) dan Smith (2010) bahwa pembelajaran dengan kombinasi real dan virtual lab memberikan hasil

Dari hasil uji yang dilakukan menunjukkan bahwa hasil tenunan kantong plas- tik bekas dengan menggunakan teknik lipat be- nang memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding- kan

Front Office night report : Laporan rangkuman seluruh transaksi kamar, total tamu yang menginap, total kamar terjual, total tamu checkin, total tamu checkout dan informasi

Dari hasil penelitian yang di lakukan Henny Hendarty dan Karim Haryanto ( 2009 )dalan jurnal dengan judul ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI REGISTRASI DAN KEANGGOTAAN KLUB

kategori adh-dha>ri’ah yang semula ditentukan untuk mubah, tidak ditujukan untuk kerusakan, namun biasanya sampai juga kepada kerusakan yang mana. kerusakan itu lebih besar

Rendemen Kayu Olahan Industri Primer Hasil Hutan Kayu bahwa rendemen veneer yang diolah dari kayu bulat hutan tanaman adalah sebesar 56 – 73%. Dengan demikian rendemen

Proses succession management menjadi efek- tif ketika upper manager mampu mengambil lima langkah berikut; (1) melakukan identifikasi terkait dengan posisi kunci yang relevan

Pembawa Acara: “Dengan berakhirnya doa tadi, maka berakhir pula acara Musyawarah Masyarakat Desa ini, sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Kepala Desa Banjar Tegal