BAB II TINJAUAN PUSTAKA. maupun orang-orang luar yang ingin menelaah perubahan-perubahan yang terjadi

Teks penuh

(1)

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perubahan Sosial

Kehidupan dalam masyarakat selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut tersebut pasti dirasakan oleh masyarakat yang ada didalamnya sendiri maupun orang-orang luar yang ingin menelaah perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. Perubahan-perubahan yang terjadi ini dapat berupa perubahan-perubahan yang kurang mencolok, ada juga perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada juga perubahan yang pengaruhnya sangat lambat dan ada juga perubahan yang berjalan dengan cepat. Perubahan-perubahan yang terjadi hanya akan dapat ditemukan oleh seseorang yang pernah meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan kehidupan masyarakat tersebut dalam waktu yang lampau.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat di dunia dewasa ini, merupakan gejala-gejala normal, yang pengaruhnya cepat menjalar ke bagian-bagian dunia lainnya, disebabkan antara lain dengan munculnya berbagai teknologi komunikasi yang semakin canggih pada saat ini. Penemuan teknologi-teknologi baru yang terjadi disuatu tempat, dengan cepat dapat diketahui oleh masyarakat-masyarakat lain yang jauh dari tempat tersebut.

Perubahan-perubahan dalam masyarakat memang ada sejak zaman dahulu, namun saat ini perubahan-perubahan itu berlangsung dengan sangat cepat, sehingga kadang membingungkan manusia yang menghadapinya. Perubahan-perubahan yang terjadi memang terikat oleh waktu dan tempat, akan tetapi karena perubahannya terus berulang dan berganti, sehingga membuat keadaan tersebut

(2)

16

berlangsung terus, walaupun kadang-kadang diselingi keadaan dimana masyarakat mengadakan reorganisasi struktur unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena oleh proses perubahan tersebut. Perubahan sosial merupakan bagian dari gejala kehidupan sosial, perubahan sosial tidak dapat dipandang hanya pada satu sisi saja sebab perubahan ini mengakibatkan perubahan pada sektor-sektor lain. Pengertian dan batasan perubahan sosial ini telah banyak dibahas oleh ahli-ahli sosiologi. Studi Setiadi (2010:610) memberikan beberapa pendapat tentang arti dan batasan perubahan sosial diantaranya:

a. Selo Soemarjan menyatakan perubahan sosial adalah, segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalam nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola peri kelakuan diantara kelompok-kelompok di dalam masyarakat. b. Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan

yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

c. William Ogburn menyatakan batasan ruang lingkup perubahan sosial, mencakup unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat materiil maupun tidak bersifat materiil atau immaterial dengan menekankan pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan yang materiil terhadap unsur-unsur immaterial.

d. Gillin dan Gillin mengartikan perubahan sosial sebagai suatu variasi dan cara-cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi maupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat tersebut.

Dalam beberapa pernyataan diatas kita bisa menarik kesimpulan bahwa perubahan sosial akan selalu bersingungan dengan kehidupan masyarakat yang

(3)

17

mengalami perubahan sosial tersebut, perubahan ini bukan hanya terjadi pada bentuk fisik saja, tetapi juga mencakup nilai, norma, stuktur dan budaya dalam masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi tidak selalu berarti sebuah kemajuan yang dialami oleh masyarakat, tetapi ada kalanya perubahan sosial yang terjadi didalam masyarakat menimbulkan kemunduran bagi kualitas hidup masyarakat, meskipun gejala perubahan biasanya selalu di usahakan agar mengarah pada tujuan yang lebih baik.

Pada dasarnya manusia ingin terus berubah untuk maju dan meningkatkan kualitas hidupnya dan kelompoknya, hal ini lah yang membuat dan mendorong kehidupan sosial senantiasa mengalami perubahan, baik dalam perubahan sosial maupun budaya salah satu faktor yang mendorong timbulnya perubahan sosial dan kebudayaan adalah, karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah dan persoalan-persoalan hidup yang baru yang lebih rumit. Kerumitan ini membuat manusia untuk senantiasa berpikir untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya. Masalah dan kerumitan yang dihadapi akan terus ada dan berubah, sehingga, seiring waktu berjalan maka perubahan sosial dan budaya pun terus terjadi.

2.2. Dampak Perubahan Sosial

Setiap fenomena dan perubahan-perubahan yang terjadi selalu dibarengi efek ataupun dampak yang akan dialami oleh masyarakat yang mengalami perubahan. Oleh karenanya setiap perubahan hendaknya bisa disikapi dengan bijak dan pemahaman mendalam mengenai nilai, arah program dan strategi yang sesuai dengan sifat dasar perubahan itu sendiri. Dampak ini pun bisa terjadi secara langsung ataupun tidak langsung. Dampak tidak langsung berarti efek terjadi

(4)

18

secara bertahap, dampak ini tidak langsung dirasakan oleh masyarakat. Sedangkan efek langsung adalah perubahan yang terjadi dan menyentuh sendi kehidupan masyarakat yang mengalami perubahan, dan akibatnya dirasakan oleh masyarakat. Dampak perubahan sosial yang terjadi bisa menjadi hal yang positif dan bisa juga hal yang negatif bagi masyarakat yang mengalami perubah dalam (Martono 2013:26).

Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat yang menyangkut berbagai sendi kehidupan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh keadaan pariwisata maupun kedatangan, diantaranya

a. Tulus (2012) menyatakan bahwa perkembangan pariwisata juga telah menyebabkan perubahan dalam penggunaan lahan, aspek sosial dan ekonomi dalam jurnal. Pengaruh pariwisata terhadap aspek fisik yaitu terjadinya perubahan tata guna lahan seperti penelitiannya di kawasan wisata Sendang Asri Waduk Gajah Mungkur yang berada di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Diungkapkan tentang sebuah lahan kosong yang di ubah dan dikembangkan menjadi taman rekreasi dan merupakan objek wisata yang menjadi penyumbang terbesar jumlah wisatawan yang datang ke Kabupaten Wonogiri sampai dengan tahun 2012. Sedangkan pengaruh dari aspek ekonomi dengan perubahan fungsi lahan tersebut, terjadilah perubahan pekerjaan dan pendapatan, pola pembagian kerja, kesempatan kerja dan berusaha pada masyarakat disekitar tempat wisata tersebut. Adanya peluang ekonomi yang terdapat dalam suatu kawasan wisata memacu pertumbuhan fasilitas penunjang wisata. Kegiatan ekonomi yang berkembang dalam suatu daerah pariwisata tersebut seperti hotel, penginapan, rumah makan, industri

(5)

19

kerajinan dan fasilitas pendukung lainnya. Selanjutnya, pengaruh wisata terhadap aspek sosial yaitu terjadi peningkatan pengetahuan dan peran dari masyarakat dalam mengembangkan kawasan wisata Sendang Asri melalui pelatihan pembuatan produk kuliner dan memperkenalkan kesenian dan budaya asli. Kemudian pengaruh kawasan wisata Sendang Asri terhadap aspek ekonomi yaitu terjadinya perubahan kesempatan kerja bagi masyarakat yang awalnya belum memiliki pekerjaan, serta memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat di kawasan wisata.

b. Hasil kajian Yudha (2014) menyatakan bahwa terjadinya perubahan masyarakat di sekitar Pantai Taplau setelah kawasan ini dijadikan salah satu tujuan wisata bagi masyarakat dan wisatawan yang datang ke Kota Padang. Pantai ini selalu menjadi persinggahan masyarakat dan wisatawan saat perjalanan pulang dari Kota Padang ataupun memang memiliki destinasi tujuan ke pantai ini. Dalam perkembangannya, aktivitas dan rekreasi di Pantai Taplau Padang mempunyai konsekuensi logis berupa pengaruh terhadap ekonomi, sosial masyarakat dan lingkungan baik pengaruh positif ataupun pengaruh negatif. Pengaruh langsung terhadap ekonomi yaitu terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar pantai dan sumbangan pendapatan sektor pariwisata kepada Pemerintah Kota Padang. Pengaruhnya adalah warga bisa menjual makanan di kaki lima, menyediakan lapak yang menjual minuman, tersedianya tenda-tenda di pinggir pantai yang disewakan kepada para pengunjung, penjual minuman dipinggir jalan, penjual ikan, pengusaha warung makan dan sebagainya. Dari aspek sosial pengaruh negatif yang ditimbulkan berupa pola perubahan sosial masyarakat yang berkunjung ke Pantai Kota Padang adalah maraknya kegiatan

(6)

20

maksiat di tenda-tenda di sepanjang jalan Pantai Taplau Kota Padang. Selanjutnya terjadi penurunan kualitas lingkungan dimana di sekitar pantai banyak ditemukan sampah karena minimnya perawatan kebersihan dalam pengelolaan pantai ini.

c. Tulisan lain adalah tentang tulisan Objek wisata alam Goa Kreo terletak di Dukuh Talun Kacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Keberadaan obyek wisata ini merupakan salah satu daya tarik wisata sejarah andalan Kota Semarang. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang antusias untuk berwisata ke Goa Kreo baik dari dalam maupun luar Kota Semarang. Objek wisata Goa Kreo ini terletak di Desa Kandri Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Desa Kandri merupakan salah satu dari 16 desa yang ada di Kecamatan Gunungpati, terletak sekitar 13 km dari arah Tugu Muda kearah selatan, 5 km dari Bandara Ahmad Yani Semarang dan 3 km dari arah jalan raya Kalibanteng (Jalur Pantura Semarang-Kendal). Berada di bukit dengan ketinggian 350 meter diatas permukaan laut. Agustanto, (2014) menyatakan bahwa Objek wisata alam Goa Kreo telah membawa perubahan sosial bagi masyarakat Desa Kandri. Dalam kurun waktu dari tahun 2000-2013, objek wisata ini mengalami perkembangan yang positif dan maju. Salah satunya dengan di bangunnya Waduk Jatibarang untuk menambah pencitraan objek wisata Goa Kreo. Disamping fungsinya sebagai pengendali banjir di Kota Semarang, menjaga ketersediaan air minum dan sebagai pembangkit tenaga listrik, keberadaan Goa Kreo juga membawa pengaruh bagi kehidupan sosial ekonomi dan sosial budaya masyarakat Desa Kandri. Masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Dengan

(7)

21

adanya obyek wisata Goa kreo, kini memiliki lebih banyak pilihan mata pencaharian, seperti penjualan souvenir, berjualan/berdagang, menjadi pemandu wisata dan sebagainya. Selanjutnya dalam bidang soial, yaitu masalah tempat tinggal yang dulu hanya papan kayu atau anyaman bambu sekarang beralih ke tembok batu-bata. Kemudian dalam bidang pendidikan, masyarakat yang dulu hanya tamatan SD, sekarang mulai membaik bahkan beberapa sampai ke perguruan tinggi. Untuk masalah budaya kehidupan para masyarakat yang sebagian besar sebagai petani atau pekebun berpengaruh pada masyarakatnya yang turun temurun. Tetapi dengan adanya Waduk Jatibarang sebagai pendukung obyek wisata Goa Kreo, tentunya ada peralihan mata pencaharian yang semula dari sektor pertanian ke sektor pariwisata.

d. Kebijakan pembangunan Suramadu (jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Pulau Madura) sebagai salah bentuk infrastruktur transportasi secara esensial dapat merangsang dan memberi peluang pertumbuhan sosial maupun ekonomi khususnya di Pulau Madura. Dengan demikian hal ini tentu akan dapat menstimulasi peningkatan sosial ekonomi masyarakat. Tri, (2013). yang terjadi dengan kebijakan tersebut antara lain adalah dampak dalam bidang mobilitas masyarakat, dengan adanya Jembatan Suramadu, masyarakat mendapat akses yang mudah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena bisa dengan mudah menjangkau Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar ke dua di Indonesia, yang pada akhirnya dapat merangsang dan memberi peluang pertumbuhan sosial maupun ekonomi yang merata bagi masyarakat di sekitar Jembatan Suramadu. Sedangkan dampak negatif berkaitan dengan semakin banyaknya peredaran narkoba, kriminalitas dan lokalisasi. Dari segi

(8)

22

pendidikan pembangunan Jembatan Suramadu membawa dampak yang positif bagi masyarakat di Desa Sukolilo Barat Kecamatan Labang Kabupaten Bangkalan yakni muncul dua sekolah negeri baru yakni SMK dan SMP. Dampak dalam bidang budaya dimana terdapat kerjasama budaya antar Suku Madura dengan Suku Jawa, yakni kirab dan lomba perahu hias di daerah pesisir dekat Jembatan Suramadu untuk memperingati Hari Raya Ketupat, dan juga dampak dalam bidang tingkat pendapatan masyarakat, yaitu membuat mereka yang aktif dan kreatif mempunyai pekerjaan yang baru yang juga berpengaruh pada peningkatan pendapatan.

2.3. Hubungan Perubahan Sosial dengan Perubahan Kebudayaan

Budaya selalu mengandung nilai, Hans Jonas dalam (Bertens, 2001:139-140) mengatakan bahwa nilai adalah alamat sebuah kata iya (value is address of a yes), atau kalau diterjemahkan secara konstektual, nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan kata iya. Definisi ini merupakan definisi yang memiliki kerangka lebih umum dan luas. Kata iya dapat mencakup nilai keyakinan individu secara psikologis maupun nilai patokan normative secara sosiologis. Demikian pula penggunaan kata alamat dalam definisi itu dapat mewakili arah tindakan yang ditentukan oleh keyakinan individu maupun norma sosial.

Dengan demikian nilai budaya sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat yang memiliki budaya. Menurut Koentjaraningrat (1987:85) nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Sistem nilai yang ada dalam suatu masyarakat dijadikan orientasi dan rujukan dalam bertindak. Oleh karena itu, nilai budaya yang dimiliki

(9)

23

seseorang mempengaruhinya dalam menentukan alternatif, cara-cara, alat-alat dan tujuan-tujuan pembuatan yang tersedia.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa setiap individu dalam melaksanakan aktifitas sosialnya selalu berdasarkan serta berpedoman kepada nilai-nilai atau sistem nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat itu sendiri. Artinya nilai-nilai itu sangat banyak mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia, baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.

Perbedaan antara perubahan sosial dengan perubahan budaya dalam masyarakat sering dipertanyakan, perbedaan tersebut bisa dilihat dari bagaimana masyaratkat itu sendiri melihat perbedaan antara perubahan sosial dengan perubahan kebudayaan. Apabila perbedaan pengertian tersebut dapat dijelaskan dengan benar maka dengan sendirinya perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan dapat diterangkan dengan jelas juga.

Kingsley Davis (dalam Setiadi, 2010:642) dalam berpendapat bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan-perubahan dalam kebudayaan. Perubahan-perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian kebudayaan termasuk dalamnya kesenian, ilmu pengetahuan teknologi, filsafat maupun perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan-aturan organisasi sosial.

Perubahan-perubahan dalam kebudayaan, ruang lingkupnya lebih luas. Kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi filsafat dan lain sebagainya. Bagian dari budaya tersebut tidak dapat lepas dari kehidupan sosial manusia dalam masyarakat. Tidak mudah menentukan garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan budaya. Tidak ada

(10)

24

masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan. Sebaliknya, tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam masyarakat. Dengan kata lain, perubahan sosial dan budaya memiliki satu aspek yang sama, yaitu kedua-keduanya bersangkut paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan tentang cara suatu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.

Meskipun perubahan sosial dan budaya memiliki hubungan atau keterkaitan yang erat, namun keduanya juga memiliki perbedaan. Perbedaan antara perubahan sosial dan budaya dapat dilihat dari arahnya. Perubahan sosial merupakan perubahan dalam segi struktur dan hubungan sosial, sedangkan perubahan budaya merupakan perubahan dalam segi budaya masyarakat. Perubahan sosial terjadi dalam segi distribusi kelompok umur, jenjang pendidikan dan tingkat kelahiran penduduk. Perubahan budaya meliputi penemuan, penyebaran masyarakat, perubahan konsep nilai susila, moralitas, bentuk seni baru dan kesetaraan gender.

Perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan memiliki satu aspek yang sama, yaitu keduanya berkaitan dengan penerimaan cara-cara baru atau suatu penilaian dari cara-cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini berarti garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari semakin sulit untuk ditegaskan. Biasanya, antara kedua gejala tersebut dapat ditemukan hubungan timbal balik sebagai sebab dan akibat. Akan tetapi, dapat pula terjadi perubahan kebudayaan tidak menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Misalnya, dalam perubahan model pakaian dan perubahan tari-tarian dapat terjadi tanpa mempengaruhi sistem sosial. Akan, tetapi suatu perubahan sosial akan selalu didahului oleh perubahan kebudayaan.

(11)

25

Misalnya, lembaga keluarga, perkawinan atau negara tidak akan mengalami perubahan apabila tidak ada perubahan yang fundamental dalam masyarakat.

Suatu perubahan sosial dalam bidang kehidupan tertentu juga tidak akan berhenti dalam suatu titik. Maksudnya, perubahan sosial akan diikuti oleh perubahan-perubahan sosial lainnya. Hal ini terjadi karena struktur lembaga-lembaga kemasyarakatan bersifat jalin-menjalin. Misalnya, apabila suatu negara mengubah undang-undang dasarnya, akan terjadi banyak perubahan yang turut mempengaruhi bidang lain seperti bidang ekonomi, struktur kelas sosial, dan bidang-bidang lainnya yang saling berkaitan.

Martono (2011:13) berpendapat bahwa saat ini proses perubahan sosial yang terjadi, dapat di ketahui dari ciri-ciri tertentu seperti :

a. Tidak ada masyarakat yang berhenti berkembang, oleh karena itu setiap masyarakat pasti akan mengalami perubahan-perubahan sosial dan budaya yang terjadi secara lambat atau secara cepat, perubahan ini juga telah terjadi terhadap masyarakat Bawomataluo dimana makna dari hombo batu yang awalnya untuk latihan fisik prajurit desa, saat ini telah berubah menjadi objek wisata

b. Perubahan-perubahan pada sosial masyarakat tertentu, akan diikuti oleh perubahan sosial dan budaya lainnya, dengan perubahan fungsi hombo batu tersebut, membuat masyakat beralih pekerjaan dari bertani dan berburu, sekarang menjadi pedagang, pembuat kerajinan tangan yang ditawarkan kepada para wisatawan.

(12)

26

c. Perubahan-perubahan sosial yang cepat, biasanya mengakibatkan perubahan struktural didalam masyarakat yang sementara selama proses penyesuaian dengan perubahan-perubahan yang terjadi tersebut.

d. Secara tipologis maka perubahan-perubahan sosial dapat dikategorikan sebagai, proses sosial, segmentasi, perubahan struktur dan perubahan dalam struktur kelompok.

Sesuai dengan penjelasan di atas maka setiap perubahan harus diteliti secara seksama, apakah ada hubungan timbal-balik antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan kebudayaan di dalam suatu masyarakat, Apakah dengan adanya perubahan fungsi dan makna dari hombo batu membuat masyarat Desa Bawomataluo merubah pola kehidupan yang sebelumnya, seperti cara berinteraksi, berpikir dan menjalankan hidup sehari-hari. Walaupun seperti yang kita ketahui selama ini ketika terjadinya suatu perubahan dalam budaya ataupun sosial, mempunyai kecenderungan untuk diikuti dengan suatu perubahan sosial yang lainnya.

2.4. Defenisi Konsep

Konsep merupakan istilah khusus yang digunakan para ahli dalam upaya menggambarkan secara cermat fenomena sosial yang akan diteliti, untuk menghindari salah pengertian atas makna konsep-konsep yang akan dijadikan objek penelitaian. Dengan kata lain penulis berupaya membawa para pembaca hasil penelitian ini untuk memaknai konsep sesuai yang diinginkan dan dimaksudkan oleh penulis. Jadi, definisi konsep adalah pengertian yang terbatas dari suatu konsep yang dianut dalam suatu penelitian (Siagian, 2011:138).

(13)

27

Agar penelitian ini tetap pada fokus penelitian dan supaya tidak menimbulkan penafsiran ganda dikemudian hari, maka perlu dibuat defenisi konsep antara lain sebagai berikut:

a. Nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam fikiran sebahagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat mulia. Dalam hal ini yang ingin dilihat apa hal-hal yang mereka anggap amat mulia dalam memaknai kebudayaan hombo batu di Desa Bawomataluo Kecamatan Fanayama.

b. Budaya hombo batu merupakan unsur kebudayaan khas Nias Selatan, Penulis memilih desa Bawomataluo Kecamatan Fanayama dalam hal ini karena desa ini merupakan satu-satunya desa yang masih memelihara keaslian daerahnya, dengan desa adat yang dilengkapi atribut-atribut tradisional Nias Selatan, dan desa ini yang sering dikunjungi wisatawan, ketika ingin mengetahui hasil kebudayaan Nias Selatan.

c. Pergeseran Makna dalam penelitian ini merupakan perubahan arti dan fungsi hombo batu yang diketahui dan dirasakan oleh masyakat Nias Selatan. Seperti di jelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa pada awalnya hombo batu ada untuk melatih para prajurit perang, setelah tidak ada lagi perang, maka budaya ini beralih fungsi menjadi salah satu icon wisata di Nias Selatan, sehingga masyarakat merasakan manfaat ekonomi, selain manfaat sosial dan budaya. d. Perubahan-perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan pada

lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok di dalam masyarakat. Perubahan nilai dalam hal

(14)

28

ini adalah, makna dan nilai sesungguhnya dari hombo batu di Desa Bawomataluo Kecamatan Fanayama, ketika awalnya sebatas untuk melatih dan mencari fisik, saat ini nilainya sudah berubah, yang membuat masyarakat merasakan nilai ekonomi dari hombo batu.

e. Budaya tradisional merupakan kebudayaan yang dibentuk dari beraneka ragam hombo batu yang ada di Desa Bawomataluo Kecamatan Fanayama yang sampai saat ini masih ada dan menjadi salah satu tujuan wisata ketika berkunjung ke Nias Selatan, dan mejadi salah satu kekayaan dan keanekaragaman budaya di Indonesia.

f. Budaya wisata/wisata budaya adalah pariwisata yang menggunakan hasil budaya sebagai objeknya. Dalam hal ini wisata budaya yang ingin dilihat adalah, budaya tradisi hombo batu di Nias Selatan yang saat ini berubah makna dan fungsinya menjadi budaya wisata.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :