• Tidak ada hasil yang ditemukan

P.T.K. Resen, A.D. Pradipta. FISIP UNUD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "P.T.K. Resen, A.D. Pradipta. FISIP UNUD"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Sains dan Teknologi (SENASTEK-2016), Kuta, Bali, INDONESIA, 15 – 16 Desember 2016

DAYA SAING SUMBER DAYA MANUSIA BAGI

KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA PASCA

DIBERLAKUKANNYA MASYARAKAT EKONOMI

ASEAN ( MEA ) : BENTURAN PROFESIONALISME

DENGAN IKATAN TRADISIONAL DI BALI

P.T.K. Resen, A.D. Pradipta

FISIP UNUD

[email protected]; [email protected]

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualititaif dengan metode

pengumpulan data wawancara, wawancara mendalam, dan studi

pustaka. Informan ditentukan melalui teknik purposive dan snowball.

Penelitian ini dilakukan di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung

yang merupakan pusat tujuan tenaga kerja perantauan. Penarikan

kesimpulan dilakukan secara induktif untuk mencari pola hubungan

data, sehingga pada akhirnya mampu memberikan rekemondasi pada

pihak terkait.

KESIMPULAN

Tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia, khususnya Bali,

dalam menghadapi MEA ini adalah masih kurangnya

pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan MEA. Hal ini

menjadi kekahawatiran tersendiri karena minimnya

pengetahuan tentang MEA mengakibatkan masyarakat kita

kurang dapat menangkap peluang yang sesungguhnya

terbentang lebar.

DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Suryadi, 1999. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Jakarta:

Jayabaya University Press

Kementerian Luar Negeri RI, Masyarakat ASEAN Edisi 7, Maret 2015

Kreitner, Robert and Angelo Kinicki. 2014. Perilaku Organisasi. Edisi 9.

Jakarta: Salemba Empat

Kurniawan, Agung. 2005. Transformasi Pelayanan Publik. Yogyakarta:

Pembaharuan

Mingst, Karen A., 2003.Essentials of International Relations. 2

nd

Edition. New

York: Norton Company

Nehen, Ketut, 1994, Manusia Bali di Persimpangan Jalan dalam Pitana, I Gede

(ed),“Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali“, Denpasar: Offset BP

Sushanti, Sukma., D.A. Wiwik Dharmiasih, Putu Titah Kawitri Resen, 2015.

Membaca Kesiapan Praktisi Medis Di Pulau Bali dalam Menghadapi

Ekonomi ASEAN 2015, Jurnal Widya Sosiopolitika Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Vol. 6. No. 2, September

2015

PENDAHULUAN

Kesepakatan Mutual Recognition Arrangement tahun 2007 sebagai

salah satu regulasi Masyarakat Ekonomi ASEAN menyebabkan setiap

anggota ASEAN harus siap menerima kehadiran natural person

(tenaga kerja) dari suatu negara anggota di dalam wilayah negara

anggota yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan

daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam era pasca

dibukanya MEA.Secara khusus, penelitian ini berfokus pada tantangan

ikatan tradisional di Bali pada profesionalisme pekerja perantauan Bali

ditengah wacana serbuan tenaga kerja migran dari kawasan ASEAN

pasca MEA.

HASIL DAN PEMBAHASAN

• Movement of Natural Persons merupakan sebuah Kesempatan

sekaligus Ancaman.

• Masuknya arus tenaga kerja asing Kemungkinan akan

meningkatkan angka pengangguran bagi pekerja lokal karena SDM

kita masih memiliki kekurangan dari segi skills dan bahasa.

• Terdapat beberapa Hambatan untuk bersaing di luar Bali yaitu:

keluarga, menyama braya di Bali, skills yang kurang, cerita tidak

menyenangkan dari pengalaman teman/saudara.

• Pemerintah harus membuat regulasi untuk membatasi masuknya

tenaga kerja asing. Akan terjadi konflik dengan pendatang jika orang

Bali susah mencari pekerjaan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih kepada Rektor UNUD, LPPM UNUD,

Dekan FISIP UNUD, Tim Peneliti (Bagus Ariwangsa, Adi

Lesmana, Ikayanthi, Ardha Chandra) dan seluruh

narasumber.

(2)

LAPORAN PENELITIAN

HIBAH UNGGULAN PROGRAM STUDI

DAYA SAING SUMBER DAYA MANUSIA BAGI KEPENTINGAN NASIONAL INDONESIA PASCA DIBERLAKUKANNYA MASYARAKAT

EKONOMI ASEAN ( MEA ) : BENTURAN PROFESIONALISME DENGAN IKATAN TRADISIONAL DI BALI

TIM PENELITI

1. Putu Titah Kawitri Resen, S.IP., M.A. (9908419477) 2. Ade Devia Pradipta, SE.,M.A (9908419707)

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS UDAYANA MARET 2016

(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN DAFTAR ISI ... i RINGKASAN ... ii BAB I. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Tujuan Khusus Penelitian ... 2

1.3. Urgensi (Keutamaan) ... 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1. Kepentingan Nasional 2.2. Regionalisme 2.3. Ikatan Tradisonal 2.4. Profesionalisme BAB III. METODE PENELITIAN... 8

3.1. Metode Kualitatif ... 8

3.2. Unit Analisis ... 9

3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 9

3.4. Penafsiran Data ... 10

3.5. Bagan Alur Penelitian (roadmap) ... 11

BAB IV.BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ... 14

4.1. Rincian Biaya Penelitian... 14

4.2. Jadwal Kegiatan ... 16

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(6)

4

RINGKASAN

Kesepakatan Mutual Recognition Arrangement tahun 2007 sebagai salah satu regulasi Masyarakat Ekonomi ASEAN menyebabkan setiap anggota ASEAN harus siap menerima kehadiran natural person( tenaga kerja) dari suatu negara anggota di dalam wilayah negara anggota yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam era pasca dibukanya MEA.Secara khusus, penelitian ini berfokus pada tantangan ikatan tradisional di Bali pada profesionalisme pekerja perantauan Bali ditengah wacana

serbuan tenaga kerja migran dari kawasan ASEAN pasca MEA. Halini menjadi

penting karena pencapaian kepentingan nasional suatu negara dalam hubungan internasional baik pada level kawasan maupun pada level global ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu elemennya. Bagi ASEAN yang multikultur ini, standardisasi kualitas dan profesionalisme tenaga kerja menjadi tantangan tersendiri. Profesionalisme seringkali menjadi dilema bagi pekerja yang juga terikat pada ikatan tradisional.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualititaif dengan metode pengumpulan data wawancara, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Informan ditentukan melalui teknik purposive dan snowball. Penelitian ini dilakukan di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang merupakan pusat tujuan tenaga kerja perantauan. Penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif untuk mencari pola hubungan data, sehingga pada akhirnya mampu memberikan rekemondasi pada pihak terkait.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembuatan kebijakan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di Bali tanpa menghilangkan nilai-nilai esensial yang menjadi identitas Bali. Dengan demikian, masyarakat Bali tetap dapat memelihara tradisi Bali yang esensi tanpa menjadi tertinggal dalam persaingan internasional, baik pada level kawasan maupun pada level global.

(7)

5 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA ) telah resmi dibuka pada tanggal 31 Desember 2015. Terdapat lima elemen penting yang menjadi tujuan MEA yaitu : arus barang yang bebas, arus jasa yang bebas, arus investasi yang bebas, aliran modal yang lebih bebas, dan aliran tenaga kerja terampil yang bebas. MEA sebagai sebuah wadah kerjasama kawasan telah membuka peluang bagi setiap anggotanya untuk memajukan negara masing – masing dalam “spirit” regionalisme. Idealnya, pencapaian kepentingan nasional masing – masing negara dipermudah dalam berbagai regulasi yang disepakati oleh seluruh negara anggota, misalnya saja penghilangan tariff pada arus barang dan jasa serta pemilihan tenaga kerja yang tepat akan memudahkan para pelaku industri di kawasan ASEAN. Namun demikian, sesuai dengan hakikat hubungan internasional, setiap negara dalam berbagai bentuk interaksinya dalam politik global harus memiliki

power yang lebih untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam kompetisi regional

jika tidak ingin tergerus dalam persaingan tersebut.

Indonesia, sebagai anggota ASEAN memiliki bonus demografi yang dapat menjadi sumber power jika memiliki daya saing yang baik.Namun ada beberapa hal yang menjadi tantangan dalam peningkatan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Di Bali khususnya, profesionalisme seringkali harus berbenturan dengan tantangan kultur yang berupa ikatan tradisional. Penelitian ini akan menggali lebih dalam benturan antara profesionalisme dengan ikatan tradisional yang dialami oleh para pekerja perantauan.

Terdapat beberapa rumusan permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini, yaitu :

1. Bagaimana pengetahuan para pekerja perantauan Bali terhadap keberadaan MEA umumnya dan masuknya arus tenaga kerja asing dari kawasan ASEAN khususnya?

(8)

6

2. Bagaimana para pekerja perantauan memandang pengaruh ikatan tradisional terhadap profesionalisme di tempat kerja?

3. Bagaimana strategi para pekerja perantauan dalam menyeimbangkan antara ikatan tradisional dengan profesionalisme di tempat kerja?

4. Apakah para pekerja perantauan mempertimbangkan untuk mencapai puncak karir ditengah kompetisi dengan tenaga kerja asing dari kawasan ASEAN serta ikatan tradisional yang harus mereka jalani?

1.2 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan daya saing sumber daya manusia Indonesia dalam era pasca dibukanya MEA.Penelitian ini berfokus pada tantangan ikatan tradisional di Bali pada profesionalisme pekerja perantauan Bali ditengah wacana serbuan tenaga kerja migran dari kawasan ASEAN pasca MEA. Secara khusus ada beberapa tujuan yang ingin dicapai penelitian ini yaitu :

1. Untuk menguraikan pengetahuan para pekerja perantauan terhadap MEA, khususnya mengenai aliran bebas tenaga kerja di kawasan ASEAN ( free flow

of skilled labour).

2. Untuk menguraikan hubungan antara ikatan tradisional terhadap profesionalisme di tempat kerja berdasarkan pengalaman para pekerja perantauan.

3. Untuk menguraikan strategi para pekerja perantauan dalam menyeimbangkan antara ikatan tradisional dan profesionalisme di tempat kerja.

4. Untuk menguraikan pandangan para pekerja terhadap perkembangan karir mereka ditengah kompetesi MEA dan ikatan tradisional.

1.3 Urgensi Penelitian

Penelitian mengenai “Daya Saing Sumber Daya Manusia Bagi Kepentingan Nasional Indonesia Pasca MEA : Benturan Profesionalisme dengan Ikatan Tradisional di Bali “ dirasakan sangat perlu untuk dilakukan mengingat banyaknya tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia dan Bali pada khususnya dalam menangani arus masuk tenaga kerja asing dari kawasan

(9)

7

ASEAN. Ketidaksiapan tenaga kerja Indonesia dapat menyebabkan tenaga kerja kita kalah saing, tidak hanya dalam mencari peluang bekerja di luar Indonesia tetapi juga kalah dalam persaingan menghadapi gempuran tenaga kerja luar yang lebih berkualitas dan profesional dalam negara kita sendiri.

Beberapa pertimbangan yang mendasari penelitian ini yaitu ;pertama, negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional tidak dapat serta merta menggantungkan kepentingan nasionalnya pada organisasi kawasan atau regionalisme itu sendiri. Artinya, kerjasama kawasan juga tidak luput dari persaingan antar negara anggotanya.Jika negara tidak berupaya memajukan kepentingan nasionalnya, maka besar kemungkinan tidak mampu bertahan dalam kancah persaingan kawasan.Dalam penelitian ini ditekankan pada peningkatan kualitas daya saing sumber daya manusia merupakan elemen penting bagi pencapaian kepentingan nasional.

Kedua, Uni Eropa sebagai sebuah bentuk regionalisme yang dianggap mapan ternyata banyak menghadapi permasalahan akibat dibukanya arus tenaga kerja migran.Regionalisme yang seyogyanya dapat mengikat kawasan dalam identitas tunggal ternyata justru melahirkan bibit-bibit konflik identitas yang muncul dari perebutan sumber daya ekonomi. Salah satu contoh yang signifikan adalah kemenangan partai ekstrimis sayap kanan di Jerman yang menentang arus tenaga kerja migrant memasuki wilayah negaranya. Hal yang serupa bukan tidak mungkin dapat terjadi di ASEAN yang multikultur dan di Indonesia khususnya, jika tenaga kerja Indonesia tidak siap dalam menghadapi persaingan.

Ketiga, Bali sebagai destinasi wisata yang terkenal dapat menjadi daerah tujuan bagi tenaga kerja asingdari negara-negara ASEAN, terutama setelah MRA mengatur arus tenaga kerja bebas di bidang pariwisata.Hal ini menyebabkan tingginya tingkat persaingan diantara pencari tenaga kerja antara pekerja lokal dengan pekerja luar Bali dan pekerja asing. Akibatnya, kita menjadi kesulitan menjadi tuan rumah di negara dan daerah kita sendiri.Keempat, budaya Bali serta praktik keagamaan yang kental dengan ikatan tradisional yang seringkali berlangsung dalam jangka waktu yang lama (time consuming)dapat menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja, khususnya pekerja perantauan yang

(10)

8

mencari kerja jauh dari daerah asal mereka.Selama ini telah berkembang stigma bahwa pekerja asal Bali seringkali meminta libur untuk mengikuti upacara-upacara adat dan keagamaan.Hal ini pula menjadi pertimbangan preferensi para pemberi kerja dalam mempekerjakan tenaga asal Bali.

Berdasarkan pertimbangan diatas, besar harapan penelitian ini dapat segera dilakukan sehingga rumusan kebijakan yang tepat dapat diwujudkan untuk meningkatkan daya saing dan profesionalisme tenaga kerja asal Bali khususnya, dan Indonesia secara umum.

(11)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kepentingan Nasional

Kepentingan nasional merupakan landasan utama dalam segala bentuk interaksi negara dengan aktor lainnya dalam hubungan internasional.Kepentingan nasional menjadi tujuan utama dari setiap kebijakan luar negeri yang diambil suatu negara. Secara umum kepentingan nasional dapat dimaknai sebagai tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh negara sesuai dengan kebutuhan negara tersebut ( Rudy, 1993:16; Mingst, 2003:67 ).Terdapat empat jenis kepentingan nasional yang menjadi arahan kebijakan luar negeri suatu negara; pertama kepentingan pertahanan yaitu tujuan negara yang berkaitan dengan perlindungan terhadap warga negara serta teritori dan sistem politik dari ancaman pihak lain. Kedua, kepentingan ekonomi yang merupakan dengan cita-cita suatu negara untuk meningkatkan perekonomiannya melalui hubungan ekonomi dengan negara lain. Ketiga, kepentingan tata internasional yaitu kepentingan untuk mewujudkan atau mempertahankan sistem politik dan ekonomi internasional yang menguntungkan negaranya. Keempat, kepentingan ideologi yaitu tujuan negara untuk melindungi ideologi negaranya dari ancaman ideologi tandingan ( Bakry, 1999:62).

Dalam persepektif realism, pengejaran kepentingan nasional suatu negara bertalian erat dengan power.Dengan kata lain, power merupakan mata uang dalam hubungan internasional. Beberapa kaum realis memaknai kekuasaan dalam istilah zero sum game yang artinya dalam interaksi aktor negara dalam hubungan internasional, kemenangan salah satu pihak merupakan kekalahan bagi pihak lain. Dengan kata lain, negara harus tetap membenahi dirinya agar tidak berada pada pihak yang kalah. Power yang dimaksud meliputi kemampuan untuk mempengaruhi aktor lain dalam hubungan internasionaldan juga mengontrol hasil yang diinginkan dalam hubungannya dengan aktor lain baik dalam bentuk kebijakan maupun sebuah peristiwa sesuai dengan kehendaknya. Perspektif realis menganggap bahwa kapabilitas militer merupakan elemen power yang sangat penting. Namun demikian, kapabilitas militer yang dimiliki oleh suatu negara

(12)

10

tetap bergantung pada sejumlah faktor seperti ukuran populasi, ketersediaan sumber daya alam, faktor- faktor geografis dan kepemerintahan ( Steans & Pettiford, 2009 : 62). Dalam pandangan klasik, sebuah negara dikatakan memiliki kekuasaan jika negara tersebut memiliki populasi yang besar, sumber daya alam yang melimpah, wilayah yang luas, daerah pegunungan atau tampilan fisik yang membuat negara tersebut tidak mudah diserang oleh negara lain. Mingst ( 2003 ) menguraikan hubungan antar elemen power dalam diagram berikut

Gambar 1.

INGREDIENTS OF STATE POWER POTENTIAL

Namun saat ini, kapabilitas militer yang tinggi yang didukung oleh elemen-elemen power yang alamiah seperti yang ditampilkan pada gambar diatas tidak dapat dijadikan ukuran mutlak kekuatan atau power suatu negara. Negara dengan sumber daya alam yang melimpah dapat dengan mudah dikuasai oleh negara yang maju dalam bidang teknologi dan industri atau negara yang maju. Begitu juga

Natural sources of power :

Geography Natural resources

Population

Natural sources of state’s power are

enhanced or modified or constrained by Intangible sources of power : National Image Public Support Leadership Tangible sources of power : Industrial development Class differences

(13)

11

dengan negara yang memiliki kapabilitas militer tinggi tidak akan menjadi kuat jika tidak mendapatkan dukungan dari rakyatnya. Sumber power alamiah sangat tergantung pada elemen-elemen lainnya seperti pembangunan industri, minimnya perbedaan kelas dalam sutau negara, citra negara, dukungan rakyat serta kepemimpinan.

Penduduk menjadi elemen alamiah yang penting dalam menentukan posisi negara dalam hubungan internasional. Dahulu, jumlah penduduk yang banyak dapat menguntungkan suatu negara karena dapat digunakan sebagai angkatan perang dalam pertempuran melawan negara lain. Namun saat ini, jumlah penduduk yang banyak dapat menjadi beban negara jika tidak disertai dengan kualitas yang memadai.Tingkat pendidikan, penguasaan teknologi, serta kemampuan bahasa asing dapat meningkatkan daya saing penduduk suatu negara. Begitu pentingnya penduduk atau sumber daya manusia bagi sutau negara karena dapat menjadi penentu tercapai atau tidaknya kepentingan nasional suatu negara ( Macridis, 1976 : 12).

2.2. Regionalisme

Regionalisme muncul dari ide awal bahwa perdamaian dan kemajuan dunia dapat terwujud jika setiap negara menganut paham demokrasi, memiliki saling ketergantungan dengan negara lainnya, serta dipayungi oleh sebuah organisasi internasional yang dapat mengatur atau mengontrol perilaku negara sebagai aktor.Regionalisme secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah upaya untuk memajukan perekonomian melalui perdagangan yang lebih bebas serta arus gerak modal dan tenaga kerja didasarkan atas basis geografi dan

terbatas antar negara-negara yang sepakat membentuk kesepakatan

formal.Regionalisme akan mengalami lima tahapan dalam perkembangannya, yaitu : pertama, pembentukan wilayah pedagangan bebas (free trade area) pada bidang-bidang yang telah disepakati. Tahapan ini muncul ketika dua atau lebih negara setuju untuk bekerjasama atau berintegrasi pada sektor ekonomi khusus. Kedua, pembentukan wilayah perdagangan bebas (free trade area) dimana tariff bea masuk dan pembatasan kuantitatif atau kuota barang-barang dari partner

(14)

12

saling dihapuskan. Sedangkan tariff atau pembatasan-pembatasan terhadap barang masing-masing negara yang bukan anggota masih dipertahankan. Ketiga, pembentukan kesatuan pabean (custom union) yang mana tidak hanya terjadi penghapusan tariff bea masuk dan kuota terhadap barang-barang negara anggota, namun kebijakan terhadap negara ketiga yang bukan anggota diseragamkan. Sehingga setiap negara akan memiliki kebijakan perdagangan yang seragam. Keempat, pembentukan pasaran bersama (common market) yang dicirikan dengan adanya kebebasan pergerakan sarana produksi seperti tenaga kerja, modal, dan lain-lain di wilayah negara anggota. Pada tahapan ini terjadi pula koordinasi dan kerjasama pada level yang tinggi dalam berbagai macam kebijakan antar negara anggota yang berdampak pada meningkatnya integrasi ekonomi negara-negara yang terlibat. Kelima, pembentukan Uni Ekonomi dan moneter. Pada tahapan ini semua aspek ekonomi dari negara anggota diatur oleh aturan dan otoritas yang sama, serta penciptaan mata uang bersama( Economides&Wilson dalam Sushanti, Dharmiasih, dan Resen 2015: 194).

ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh 5 negara anggota yaitu , Indonesia, Malaysia, Fipilipina, Singapura, dan Thailand. Tujuan dibentuknya ASEAN adalah untuk menciptakan kawasan yang damai melalui kerjasama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial- budaya, serta perdamaian dan stabilitas kawasan dalam wadah ASEAN (Kementerian Luar Negeri RI, 2011). Melalui TAC 1976 atau Perjanjian Amity dan Kerjasama di Asia Tenggara, kesolidan negara-negara anggota ASEAN semakin diperkokoh melalui beberapa prinsip yaitu ; 1) saling menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesetaraan, integritas territorial, dan identitas semua bangsa, 2) setiap negara berhak untuk memimpin eksistensi nasionalnya yang bebas dari campur tangan pihak luar, subversi atau paksaan, 3)tidak melakukan intervensi atau mencampuri urusan dalam negeri satu sama lain, 4) menyelesaikan sengketa atau perselisihan secara damai, 5) menolak penggunaan ancaman dan kekerasan, 6) kerjasama yang lebih efektif diantara negara-negara anggota (Nuraeini, Silvya, dan Sudirman,2010).

(15)

13

Integrasi kawasan ASEAN sebenarnya telah menjadi sebuah agenda lama. Hal ini dijelaskan secara mendalam oleh Shofwan Al Banna Choiruzzad dalam Sushanti, Dharmiasih, dan Resen, 2015 : 195) bahwa agenda integrasi kawasan dan liberalisasi ekonomi ASEAN dimulai dari ASEAN Preferential Trading Arrangements ( PTA ) pada tahun 1977 yang dilanjutkan dengan disepakatinya Agreement on the Common Effective Preferential Tariff ( CEPT ) Scheme for the ASEAN Free Trade Area ( AFTA ) di tahun 1992. Proses ini berlanjut melalui ASEAN Framework Agreement on Services ( AFAS) di bidang jasa dan Framework Agreement on ASEAN Investment Area ( AIA) berturut-turut di tahun 1995 dan 1998. Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA) adalah tahap akselerasi dari proses regionalisme kawasan ASEAN.

Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah perwujudan dari tujuan akhir dari integrasi ekonomi kawasan ASEAN. Tujuannya adalah untuk menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, sejahtera, dan memiliki daya saing yang tinggi, yang didalamnya terdapat arus barang, jasa, dan investasi yang bebas, aliran modal yang lebih bebas, serta pembangunan ekonomi yang adil dan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan ekonomi. Terdapat empat ciri dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yaitu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan kawasan yang teritegrasi dengan ekonomi global ( Masyarakat ASEAN, 2015). Terdapat lima elemen penting yang hendak diwujudkan melalui integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN yaitu :arus barang yang bebas ( free flow of goods); arus jasa yang bebas ( free flow of services); arus investasi yang bebas ( free flow

of investment); aliran modal yang lebih bebas ( free flow of capital ); aliran tenaga

kerja terampil yang lebih bebas ( free flow of skilled labour).Aliran tenaga kerja terampil yang bebas inilah yang menjadi fokus penelitian ini. Tantangan yang

2.2.1 Mutual Recognition Arrangements( MRA )

Mutual Recognition Arrangement( MRA ) merupakan suatu mekanisme

yang disepakati negara anggota ASEAN dalam mengatur standar perdagangan jasa pada mode keempat yaitu pergerakan manusia ( movement of natural person

(16)

14

). MRA yang disepakati pada tanggal 19 November 2007 ini bertujuan mengurangi hambatan teknis perdagangan jasa dan menentukan persyaratan umum liberalisasi sektor jasa. MRA ditujukan untuk memfasilitasi mobilisasi atau arus masuk natural person atau tenaga kerja sehingga bisa bekerja di salah satu negara anggota ASEAN. Delapan MRA yang telah disepakati hingga saat ini antara lain : jasa insinyur, jasa perawat, arsitektur, surveyor, tenaga kerja pariwisata profesional, akuntan, kesehatan/praktisi medis, dan tenaga kesehatan gigi ( Masyarakat ASEAN,2015). MRA mensyaratkan bahwa tiap negara anggota ASEAN harus saling mengakui kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja dari negara asal. Akan tetapi ada standar-standar tertentu pula yang ditetapkan oleh negara penerima yang dapat menangkal serbuan arus masuk tenaga kerja asing. Permasalahan yang kerap sekali dihadapi adalah perbedaan sistem pendidikan, pelatihan, pengalaman, mental kerja yang membuat arus masuk tenaga kerja asing menjadi tidak seimbang. Negara dengan kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan dengan mudah dapat menguasai lapangan kerja di negara lain, nemun tidak demikian halnya dengan negara dengan kualitas tenaga kerja yang rendah. 2.3. Ikatan Tradisional Masyarakat Bali

Ikatan tradisional yang dimaksud dalam penelitian ini mengacu pada tulisan Nehen ( dalam Pitana, 2003) yang menguraikan praktek keagamaan dan ikatan tradisi yang menjadi cirri khas masyarakat Bali. Ikatan tradisional tersebut dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : yang berkaitan dengan keluarga seseorang; yang berkaitan dengan desanya; dan yang berkaitan dengan pura pusat keluarga,

sad kahyangan, dangkahyangan, dan kahyangan jagat.Ikatan tradisional yang

berkaitan dengan keluarga seseorang dicontohkan dengan upacara-upacara adat atau keagamaan yang dilaksanakan berkaitan dengan keluarga, misalnya upacara tiga bulanan, potong gigi, upacara perkawinan, dan sebagainya.Ikatan tradisional kedua terkait dengan keanggotaan seseorang dalam banjar atau desa adat di desanya.Setiap anggota banjar atau desa adat mempunyai kewajiban untuk ikut mengadakan persiapan dan pelaksanaan upacara tersebut.Misalnya pada upacara

piodalan di kahyangan tiga dan sebagainya.Ikatan tradisional yang ketiga

(17)

15

upacara adat di dadia, pusat dadia, di dang kahyangan, maupun di kahyangan

jagat.

Ketiga ikatan tradisional inilah yang akan coba diulas dalam penelitian ini dalam kaitanya dengan profesionalisme di tempat kerja. Walaupun Nehen ( dalam Pitana, 2003) berargumen bahwa tidak ada masalah bagi masyarakat Bali dalam membagi waktu antara pekerjaan profesional dengan ikatan adat, namun penelitian ini akan melihat perkembangan profesionalisme pasca diberlakukannya MEA. Pekerja perantauan yang tinggal jauh dari banjar atau desa adatnya tentu kurang memiliki fleksibilitas dalam mengikuti atau membantu setiap kegiatan adat baik yang diselenggarakan oleh tetangga di banjar atau desa adatnya, upacara di kahyangan tiga, maupun pacara-upacara lainnya di kahyangan jagat. Mengingat Bali sebagai salah satu tujuan wisata, gencarnya gempuran arus masuk tenaga asing dari negara-negara ASEAN terutama tenaga pariwisata, tentunya menimbulkan suasana kompetisi yang lebih kuat. Pandangan tenaga kerja asal Bali terkait strategi serta upaya penyeimbangan kewajiban antara ikatan kerja dengan ikatan tradisional menjadi tujuan penelitian ini seperti yang telah diurakan pada bagian sebelumnya.

2.4. Profesionalisme Kerja

Profesionalisme merupakan kualitas, cara, dan perilaku yang menjadi standar dalam suatu profesi. Seseorang dikatakan profesional apabila pekerjaannya memilik standar teknis atau etika suatu profesi (Poerwopoespito dan Utomo, 2000: 264-265). Profesionalisme menyangkut kecocokan antara kemampuan yang dimiliki oleh birokrasi dengan kebutuhan tugas (Kurniawan, 2005). Secara singkatnya, profesionalisme berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki pekerja menurut bidang dan tingkatan kerja masing-masing. Pamudji (1994) menyatakan bahwa selain kemampuan dan keterampilan, seorang pekerja dapat dikatakan profesional apabila dilengkapi dengan mental dan sikap terpuji. Selain itu, pekerja yang mampu menjamin bahwa segala tindakan dan pekerjaannya mendapatkan nilai terbaik dari semua pihak. Mentalitas dan

(18)

16

sikap terpuji dalam profesionalisme erat pula kaitannya dengan tanggung jawab dalam menjalan profesi yang digelutinya.

Dalam penelitian ini profesionalisme kerja merupakan tanggung jawab dan komitmen pekerja dalam menjalankan tugasnya di tengah tuntutan ikatan tradisional. Dalam kaitannya dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN, pekerja dituntut memiliki profesionalisme terstandar ASEAN untuk bisa berkompetisi dengan tenaga kerja dari negara lain. Para pekerja perantauan yang berdomisili jauh dari banjar atau desa adatnya otomatis mengalami kendala dalam mempertahankan profesionalismenya. Masuknya arus tenaga kerja global membuat para pekerja perantauan ini untuk mampu menjaga, bahkan meningkatkan profesionalismenya. Tak dapat dipungkiri, nilai-nilai profesi yang telah lama dianut berubah mengikuti perkembangan arus tenaga kerja global ini. Dengan demikian penting untuk diketahui pandangan para pekerja perantauan ini terhadap profesionalisme berstandar global yang menjadi konsekuensi Masyarakat Ekonomi ASEAN.

(19)

22 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Alur Penelitian

Model penelitian “Peningkatan Daya Saing Sumber Daya Manusia Bagi Kepentingan Nasional Indonesia Pasca MEA: Benturan Profesionalisme dengan Adat Istiadat di Bali” dapat dilihat pada bagan alur di bawah ini:

Gambar 3.1

Gambar 3.1 di atas menjelaskan proses penelitian ini berjalan mulai dari permasalahan sampai dengan kesimpulan yang dihasilkan. Tahapan penelitian ini dimulai dari permasalahan munculnya Komunitas ASEAN akibat Regionalisme yang menghasilkan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang bertujuan memperkuat perekonomian negara-negara di Asia Tenggara.MEA memunculkan konsekuensi baik berupa tantangan maupun peluang bagi kepentingan nasional Indonesia.Kepentingan

Tantangan dan Peluang

Kepentingan Nasional

Konflik sumber daya ekonomi

movemnatural persons

Profesionalisme Aspek Kultural

Peningkatan daya saing Sumber Daya Manusia

(20)

23

nasional Indonesia dapat tercapai jika sumber daya manusia masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan sehingga mampu bersaing dengan negara anggota ASEAN lainnya. Di sisi lain, MEA memunculkan arus tenaga kerja antar negara yang menyebabkan perebutan sumber daya ekonomi di negara yang potensial. Perebutan ini akan mampu dimenangkan masyarakat Indonesia, jika mereka mampu menyeimbangkan antara aspek-aspek kultural dengan profesionalisme. Jika sumber daya manusia memiliki profesionalisme yang tinggi, pada akhirnya mereka mampu bersaing dan kepentingan nasional Indonesia akan tercapai. Secara teknis, tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Penentuan masalah dan tujuan penelitian, kerangka konseptual, dan panduan wawancara

2) Penentuan informan penelitian yang dilakukan dengan metode purposive dan snowball

3) Melakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan informan dengan metode depth interview untuk key informant dan interview untuk informan

4) Pengolahan data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif

5) Penarikan kesimpulan dilakukan dengan induktif untuk menghasilkan suatu gambaran yang dapat memberi masukan bagi pengambil kebijakan terkait.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.Wilayah ini dipilih karena tingginya jumlah pekerja perantauan yang berdomisili di kedua wilayah tersebut.Kota Denpasar sebagai pusat pemerintahan dan Kabupaten Badung sebagai salah satu pusat pariwisata di Bali menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal maupun pendatang.Dengan demikian, para pekerja dituntut untuk berkompetisi dengan sesama pekerja dan juga harus mengalami tuntutan ikatan tradisional.

(21)

24 3.3Teknik Penentuan Informan

Informan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu informan kunci dan informan.Informan kunci terdiri dari para tetua adat seperti prajuru

banjar,, dan tokoh adat.Informan merupakan para pekerja perantauan yang beragama

Hindu, berdomilisi di Denpasar dan Badung, namun berasal dari luar kedua wilayah tersebut.Penentuan informan kunci dan informan dilakukan dengan metode snowball dan purposive.

3.4 Unit Analisis

Unit analisis dalam penelitian ini adalah masyarakat secara umum, khusunya para pekerja perantauan yang masih memiliki ikatan tradisonal terikat dengan adat istiadat di daerahnya berasal.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan beberapa metode, yaitu: 1) Wawancara

Wawancara dilakukan pada para pekerja perantauan untuk mengetahui tingkat pengetahuan para pekerja perantauan Bali terhadap keberadaan MEA dan konsekuensi yang dibawanya berupa masuknya arus tenaga kerja asing. Wawancara juga dilakukan untuk mengetahui strategi mereka dalam menghadapi benturan ikatan tradisional dan profesionalisme kerja, serta strategi untuk meningkatkan profesionalisme meskpin harus terbentur dengan ikatan tradisional.

2) Wawancara mendalam

Wawancara mendalam dilakukan pada informan kunci, yaitu prajuru

banjar yang memiliki komptensi untuk memberikan informasi mengenai

ikatan tradisional yang berbenturan dengan profesionalisme, terutama dalam konteks pekerja perantauan.

(22)

25 3) Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan informasi-informasi yang berkaitan dengan MEA, profesionalisme kerja, dan ikatan tradisional melalui penelusuran literatur dan artikel-artikel.

3.6 Teknik Analisis Data

Metode pengumpulan data selalu berkaitan dengan analisis data. Analisis data penting dilakukan agar peneliti mampu menyusun, mengkategorikan data, mencari pola atau thema, yang bertujuan untuk memahami maknanya. Analisis data dalam penelitian ini dimulai dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan untuk melakukan seleksi data yang relevan agar mampu mencapai tujuan penelitian. Penyajian data dilakukan secara deskripitif kualitatif untuk mengambarkan data secara keseluruhan. Terakhir, penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif melalui pencarian hubungan antar data yang telah dikumpulkan.

(23)

26 BAB IV PEMBAHASAN

Penelitian ini memiliki 4 rumusan permasalahan yang hendak dijawab, diantaranya : 1. Bagaimana pengetahuan para pekerja perantauan Bali terhadap keberadaan MEA umumnya dan masuknya arus tenaga kerja asing dari kawasan ASEAN sebagai implikasi dari diberlakukannya Movement of Natural Persons pas? 2. Terkait pertanyaan diatas, bagaimana para pekerja perantauan memandang pengaruh ikatan tradisional terhadap profesionalisme di tempat kerja? 3. Bagaimanakah strategi para pekerja perantauan dalam menyeimbangkan antara ikatan tradisional dengan profesionalisme di tempat kerja ?4. Apakah para pekerja perantauan mempertimbangkan untuk mencapai puncak karir jika mereka berada ditengah komptesisi dengan tenaga kerja asing, khususnya dari kawasan ASEAN, serta ikatan tradisional yang harus mereka jalani?

Untuk menjawab keempat rumusan masalah yang telah dijabarkan diatas, tim peneliti yang terdiri dari satu ketua peneliti, satu anggota, serta lima orang asisten peneliti telah melakukan pengembangan terhadap proposal penelitian ini. Penelitian ini dilakukan sepenuhnya di tahun 2016. Pengajuan proposal dilakukan diawal tahun, yaitu pada bulan Maret 2016 dan diikuti dengan pelaksanaan penelitian oleh Tim Penelitian yang terdiri dari satu ketua, dua anggota peneliti, dan lima asisten peneliti. Saat penulisan laporan kemajuan ini, proses pengumpulan data masih terus berlangsung. Oleh karena itu, laporan kemajuan ini akan melaporkan hasil wawancara yang telah berhasil dilaksanakan. Adapun kemajuan pelaksanaan penelitian Hibah Unggulan Program Studi ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

(24)

27

IV.1. ARTI MEA BAGI PARA PEKERJA PERANTAUAN DAN MASUKNYA ARUS TENAGA KERJA ASING PASCA MEA

Pembentukan MEA sejatinya dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memperluas cakupan skala ekonomi, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, meningkatkan daya tarik sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi dan perdagangan, serta memperbaiki fasilitas bisnis ( Masyarakat ASEAN, Desember 2014 ). Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk maju dalam kerangka MEA tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi potensi Indonesia; pertama, Indonesia memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk terbesar di kawasan ASEAN yaitu kurang lebih sebesar 40% dari total penduduk ASEAN ); kedua, Indonesia merupakan negara tujuan investor ASEAN dimana proporsi investasi negara ASEAN di Indonesia mencapai 43% dari proporsi investasi negara-negara ASEAN di ASEAN yang hanya sebesar 15% ; ketiga, Indonesia berpeluang menjadi negara pengekespor dimana nilai ekspor Indonesia ke intra-ASEAN hanya 18-19 % sedangkan ke luar ASEAN berkisar 80-82% dari total ekspornya. Terbuka lebar peluang untuk meningkatkan ekspor ke intra-ASEAN agar senantiasa berimbang dengan laju peningkatan impor dari intra-ASEAN; keempat, liberalisasi perdagangan barang ASEAN dapat menjamin kelancaran arus barang untuk pasokan bahan baku maupun bahan jadi di kawasan ASEAN karena hambatan tariff dan hambatan non tariff sudah tidak ada lagi; kelima, Indonesia dengan jumlah populasi yang besar dapat memperoleh keunggulan tersendiri, yang disebut dengan bonus demografi. Perbandingan jumlah penduduk produktif Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya adalah 38 : 100, yang artinya bahwa setiap 100 penduduk ASEAN, 38 adalah warga negara Indonesia. Sampai dengan tahun 2035, Indonesia diperkirakan masih tetap akan merasakan bonus demografi ini. Namun demikian, bonus demografi ini harus disertai juga dengan kemampuan dan keterampilan yang dapat bersaing dengan baik sehingga kedepannya akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita penduduk Indonesia.

(25)

28

Tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia, khususnya Bali, dalam menghadapi MEA ini adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan MEA. Hal ini menjadi kekahawatiran tersendiri karena minimnya pengetahuan tentang MEA mengakibatkan masyarakat kita kurang dapat menangkap peluang yang sesungguhnya terbentang lebar. Sebuah survei yang dilaksanakan pada tahun 2012 menunjukkan bahwa sebesar 76% penduduk Indonesia belum familiar terhadap Masyarakat ASEAN, sebesar 81% penduduk Indonesia mengenal ASEAN, dan 19% bahkan mengatakan belum pernah mendengar ASEAN sama sekali ( Masyarakat ASEAN, Maret 2015).

Sosialisasi mengenai MEA sudah sering dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia yang bekerjasama dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta berbagai media. Di Bali sendiri, sosialisasi mengenai MEA,pernah dilaksanakan oleh Direktorat Kerjasama Ekonomi ASEAN bekerjasama dengan Disperindag Pemerintah Provinsi Bali. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai kalangan pejabat pemerintah daerah, kalangan pelaku usaha kecil dan menengah, serta civitas akademika. Sosialisasi mengenai MEA lainnya pernah dilaksanakan juga lewat dialog interaktif oleh dua narasumber yaitu Direktur Kerjasama Ekonomi ASEAN dan Kepala Bidang Industri Agro, Disperindag Pemprov Bali di Radio Pinguin Bali pada bulan September tahun 2014. Pemilihan Radio Pinguin ini sebagai media untuk mensosialisasikan MEA bukanlah tanpa alasan. Radio Pinguin dianggap sebagai media yang tepat karena memiliki pendengar setia dari kalangan muda di Bali sehingga dipandang sebagai kanal yang paling dapat menjangkau generasi muda Bali. Harapannya, sosialisasi melalui radio ini dapat meningkatkan pemahaman generasi muda Bali mengeni integrasi ekonomi ASEAN (Masyarakat ASEAN, Desember 2014).

Sumber informasi tentang MEA juga berasal dari media elektronik, media cetak, dan media sosial. Media elektronik yang paling sering menerpa narasumber dengan informasi tentang MEA adalah televisi, karena sifatnya yang audio-visual dan mampu menjangkau banyak pihak dalam sekali tayang. Di sisi lain, media sosial juga

(26)

29

berkontribusi dalam memberikan informasi mengenai MEA. Dekatnya media sosial dengan kehidupan sehari-hari masyarakat ternyata mampu memberikan tambahan pengetahuan tentang MEA. Sebaliknya, media cetak ternyata hanya mampu menyentuh sedikit dari pengetahuan narasumber tentang MEA, karena sifatnya yang visual. Selain itu, secara umum, media cetak menggabungkan informasi MEA dengan berita-berita terkait sehingga esensi informasi tentang MEA menjadi kabur.

Meskipun sosialisasi mengenai MEA telah dilakukan, pekerja perantauan yang menjadi informan dalam penelitian ini secara garis besar belum memiliki kesadaran ( awareness ) terhadap keberadaan MEA. Banyaknya sumber informasi tentang MEA memang mampu menambah pengetahuan para pekerja perantauan tentang apa dan bagaimana dampak MEA pada kehidupan masyarakat, terutama para pekerja. Namun, pengetahuan ini ternyata tidak diiringi oleh kesadaran para pekerja perantauan tentang kompetisi sumber daya manusia. Kebanyakan dari para pekerja perantauan memang pernah mendengar Masyarakat ASEAN dan Masyarakat Ekonomi ASEAN, namun mereka masih belum dapat menjelaskan apa perbedaan antara ASEAN sebagai sebuah organisasi regional dengan Masyarakat ASEAN dan MEA sebagai salah satu pilarnya sebagai tahapan lanjutan dari integrasi kawasan. MEA digambarkan semata-mata sebagai sebuah proses penyatuan ( integrasi ) negara-negara ASEAN tanpa mengetahui lebih lanjut dampak-dampak yang akan dirasakan oleh masyarakat secara langsung setelah pemberlakuan arus bebas tenaga profesional ( Wawancara pada tanggal 12 Agustus 2016). Ada pula informan yang memberi jawaban bahwa MEA merupakan upaya penyatuan mata uang negara-negara ASEAN sebagaimana halnya penggunaan Euro sebagai mata uang bersama di negara-negara Uni Eropa ( Wawancara dengan informan pada tanggal 15 Agustus 2016). Jawaban yang lebih mengena dengan definisi MEA disampaikan oleh informan yang memberi jawaban bahwa MEA merupakan sebuah komitmen yang dibuat oleh seluruh negara anggota ASEAN untuk meningkatkan arus perdagangan antar sesame anggota ASEAN sehingga seluruh anggota ASEAN menjadi semakin makmur ( wawancara dengan informan pada tanggal 13 Agustus 2016).

(27)

30

Salah seorang narasumber menyebutkan bahwa konsekuensi MEA baginya hanyalah mampu memberi kesempatan untuk berkunjung ke negara-negara ASEAN tanpa menggunakan visa. MEA telah berjalan hampir setahun dari sejak diberlakukannya di Indonesia pada khir tahun 2015. Namun, tingkat pengetahuan pekerja mengenai kompetisi sumber daya manusia pasca MEA ternyata tidak mendalam.

Terkait dengan Movement of Natural Persons dan kemungkinan arus masuk tenaga kerja asing terutama dari kawasan ASEAN ke Bali, para pekerja perantauan yang menjadi informan dalam penelitian ini memberi jawaban yang beragam.

Movement of Natural Persons dianggap sebagai sebuah kesempatan sekaligus sebagai

sebuah ancaman ibarat dua sisi mata pedang. Movement of Natural Persons sebagai sebuah kesempatan membuka kesempatan kerja yang selebar-lebarnya bagi masyarakat Indonesia, tidak hanya di wilayah Indonesia tetapi juga di kawasan ASEAN. Tanggapan positif terkait masuknya arus tenaga kerja asing dari kawasan ASEAN ke Bali khususnya, berasal dari pandangan bahwa masuknya tenaga kerja asing ke Bali paska MEA sebagai sarana untuk belajar dan meningkatkan skills yang dibutuhkan di dunia kerja, ketimbang sebagai sebuah persaingan dalam merebut mata pencaharian.

Tanggapan yang berbeda memberikan sebuah argumentasi yang sebaliknya. Masih banyak para pekerja perantauan yang merasa cemas akan kehilangan pekerjaan mereka saat ini bila ternyata arus tenaga kerja asing benar-benar masuk ke Bali. Saat ini, masyarakat Bali sangat bergantung dari industri pariwisata. Para pemuda yang berasal dari desa lebih banyak yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya pada sekolah-sekolah pariwisata dengan harapan setelah lulus nanti mereka akan langsung bekerja di hotel ketimbang menggarap lahan pertanian yang ditinggalkan oleh orangtua merekgustus 2016 ) . Selain itu, pandangan pesimis terkait masuknya arus tenaga kerja asing ke Bali dikarenakan anggapan bahwa tenaga kerja asing dari kawasan ASEAn memiliki keterampilan dan kualifikasi yang lebih tinggi dibandingkan tenaga kerja lokal karena kualitas pendidikan mereka yang lebih baik.

(28)

31

Pengetahuan tentang MEA hanya pada level permukaan, belum sampai pada tingkatan sadar bahkan penentuan sikap terhadap sebuah informasi. Mereka hanya tahu bahwa MEA membawa tenaga kerja asing masuk ke Indonesia, khususnya Bali tanpa mempersiapkan diri untuk ikut bersaing keluar.

IV.2. PROFESIONALISME VS IKATAN TRADISIONAL

Informan yang dipilih ini adalah mereka yang telah menikah dan saat ini bekerja di perusahaan – perusahaan swasta yang mencakup berbagai bidang seperti : restoran, hotel, tour and travel, bank, serta industri pariwisata lainnya. Untuk beberapa informan kunci yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah para tokoh-tokoh adat masyarakat Bali serta pekerja pada tingkat manajerial di perusahaan-perusahaan swasta yang dapat memberikan pandangan mengenai situasi kerja yang dihadapi oleh para pekerja perantauan.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, para informan memberikan pandangan yang beragam mengenai pengaruh ikatan tradisional tehadap profesionalisme di tempat kerja. Jenis pekerjaan, kondisi keluarga di daerah asal pekerja, sima ( peraturan desa ) di tempat asal pekerja perantauan, serta aturan perusahaan menjadi penyebab beragamnya pandangan mengenai pengaruh ikatan tradisional terhadap profesionalisme di tempat kerja.

Secara garis besar, para informan mengemukakan bahwa mereka lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan kehadiran pada ikatan tradisional. Namun pada ikatan tradisional yang terikat pada keluarga seperti pada upacara mesangih, pawiwahan, dan ngaben, para informan mengungkapkan antusiasme untuk dapat menghadiri acara keluarga tersebut. Selain karena acara-acara tersebut berkaitan dengan ikatan kekeluargaan, alasan lainnya mereka memprioritaskan kehadiran mereka pada acara tersebut, karena upacara – upacara diatas sudah direncanakan jauh-jauh hari sehingga mereka bisa membuat perencanaan untuk mengambil cuti dan mengatur jadwal kerja dengan rekan-rekan kerja. Informan lainnya menyebutkan pula bahwa atasan atau perusahaan tempat bekerja lebih bisa menerima alasan pengajuan cuti untuk acara-acara keluarga inti, ketimbang acara-acara ngayah atau

(29)

32

metulungan pada keluarga tetangga, di banjar , ataupun di tempat lain. Inilah hal yang

menjadi polemik saat ini karena kegiatan-kegiatan adat di Bali sangat bergantung kepada padewasaan atau hari baik. Sebagai akibatnya, dalam satu banjar, jika hari baiknya telah tiba, maka akan terdapat beberapa keluarga yang menyelenggarakan upacara serupa. Hal ini sangat disadari oleh para pemilik perusahaan, sehingga mereka membatasi ijin cuti hanya pada acara-acara keluarga yang bersifat penting.

Untuk melakukan kewajiban terhadap ikatan tradisional tersebut, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para pekerja perantauan. Beberapa informan mengatakan bahwa ikatan tradisional selaian pada keluarga inti, biasanya digantikan oleh keluarga yang berada di rumah asal mereka. Namun tidak jarang hal ini menimbulkan konflik baru di dalam keluarga. Keluarga yang tinggal di rumah asal merasa terbebani untuk melakukan segala kegiatan tersebut, sedangkan pekerja perantauan sering dilabeli

egois karena hanya mementingkan kemajuan untuk dirinya sendiri dan melupakan

kewajiban di rumah asal. Beberapa informan memilih untuk datang jika mereka memiliki waktu dan bersifat pasrah saja terhadap gunjingan yang ditujukan kepada mereka. Ada pula informan yang memilih untuk mengganti ketidakhadiran mereka dengan sumbangan yang ditujukan kepada penyelenggara upacara. Sumbangan tersebut dapat berupa barang-barang kebutuhan seperti beras, kain, hewan, maupun dalam bentuk uang. Hal ini dimaksudkan agar mereka maklum akan situasi yang dihadapi oleh para pekerja perantauan.

Salah seorang narasumber menyebutkan bahwa jika tenaga kerja lokal tak mampu bersaing dengan tenaga kerja asing, maka tingkat pengangguran akan semakin tinggi. Apalagi jika tidak dibekali dengan kemampuan dan keterampilan yang berkualitas. Menurut salah seorang narasumber, dari segi kualitas, tenaga kerja lokal tidak kalah dengan tenaga kerja asing. Namun, terkadang mindset masyarakat kita yang menilai bahwa pekerja asing lebih baik daripada pekerja lokal. Selain itu, pada beberapa perusahaan, terutama pada sektor pariwisata, pihak manajerial lebih mempercayai kemampuan pekerja asing dibandingkan pekerja lokal. Pada beberapa kasus, kebijakan tersebut membuat pekerja lokal kalah bersaing dengan tenaga kerja

(30)

33

asing. Pada beberapa perusahaan, tenaga kerja asing mendaptakan keistimewaan berupa gaji dan terkadang fasilitas yang lebih baik dibandingkan tenaga kerja lokal.

Narasumber lain yang bekerja pada sektor pemerintah menyatakan bahwa keuletan dan kemampuan membaca peluang merupakan nilai lebih dari tenaga kerja asing. Mereka selalu mampu memanfaatkan berbagai celah pekerjaan dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri.

Beberapa saran diberikan oleh para narasumber agar kualitas tenaga kerja lokal dapat bersaing dengan tenaga kerja asing. Salah satunya adalah dengan meningkatkan profesionalisme pekerja lokal. Secara keterampilan, sebenarnya tenaga kerja lokal tidak jauh berbeda dengan tenaga kerja asing, terutama yang berasal dari negara-negara ASEAN. Namun, kedisiplinan dan integritas tenaga kerja lokal yang masih harus dibenahi. Selain itu, diperlukan peningkatan kesadaran untuk selalu mau terus mengembangkan diri melalui pelatihan-pelatihan. Tenaga kerja lokal sebaiknya terus memperdalam kemampuan-kemampuan khusus agar spesialisasi dapat tercapai. Faktor lainnya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya tenaga kerja lokal adalah bahasa. Beberapa negara ASEAN menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari mereka. Namun, di Indonesia, khususnya di Bali, Bahasa Inggris lebih intens digunakan pada sektor-sektor yang berkaitan dengan pariwisata. Padahal, kemampuan berbahasa merupakan salah satu ukuran yang dapat meningkatkan daya tawar tenaga kerja lokal. Solusi lainnya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesiapan mental para pekerja lokal. Pemerintah dan tenaga kerja lokal sendiri harus mempersiapkan mental bersaing sejak dini.

IV.3. PENCAPAIAN PUNCAK KARIR BAGI PEKERJA PERANTAUAN DI TENGAH KOMPETISI MEA DAN IKATAN TRADISIONAL

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui metode wawancara dengan para informan yang dipilih melalui metode purposive. Informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah para pekerja perantauan Bali yang beragama Hindu dan berdomisili di kota Denpasar dan Badung. Informan yang dipilih ini

(31)

34

adalah mereka yang telah menikah dan saat ini bekerja di perusahaan – perusahaan swasta yang mencakup berbagai bidang seperti : restoran, hotel, tour and travel, bank, serta industri pariwisata lainnya.Berdasarkan data yang telah dikumpulkan oleh tim peneliti terhadap beberapa informan yang berhasil diwawancarai untuk kepentingan penelitian ini, didapatkan temuan bahwa bagi sebagain besar informan, puncak karir bukanlah hal yang terpenting bagi mereka. Pekerjaan yang mereka geluti saat ini membuat mereka berada pada ”zona nyaman “, artinya mereka dengan kondisi dan jabatan dalam pekerjaan saat ini mampu membagi kewajiban di tempat kerja dan kewajiban sosial dengan baik. Walaupun mereka tidak akan menolak jika diberi kesempatan untuk menaiki jabatan yang lebih tinggi.

Hal yang lebih utama bagi mereka adalah kenaikan gaji secara berkala berdasarkan masa kerja mereka. Seorang informan menegaskan secara eksplisit bahwa tantangan untuk membagi waktu antara pekerjaan dengan ikatan-ikatan tradisional itulah yang menjadi alasan dia tidak berani untuk mengambil tantangan karir yang lebih tinggi. Alasan seperti “ memiliki orangtua yang sudah sepuh dan tinggal seorang diri di kampung” menjadi alasan kuat untuk tidak terlalu ambisius dalam karir. Berdasarkan wawancara juga ditemukan bahwa informan wanitalah yang cenderung tidak mau meningkatkan karir mereka dengan berbagai alasan seperti keluarga yang nanti terbengkalai dan juga akibat aturan ngayah di banjar. Banyak yang merasa malu karenatidak pernah terlihat di banjar.

Peningkatan karir, ditengah tuntutan ikatan tradisional, lebih dimungkinkan jika mereka menjadi anggota banjar adat di tempat domisili mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk tidak terlalu susah memikirkan jarak dan waktu yang cukup jauh dan lama untuk ditempuh jika harus memenuhi kewajiban terkait ikatan tradisional, khusunya yang bersifat incidental. Mereka bisa tetap pulang ke kampung halaman bila ada upacara seperti pioadalan di pura keluarga dan hari-hari besar keagamaan. Akan tetapi, pendapat yang berseberangan mengatakan bahwa pindah keanggotaan banjar adat bukanlah sebuah solusi yang tepat. Masyarakat Bali umumnya memiliki ikatan yang cukup erat dengan tanah kelahiran dan riwayat

(32)

35

leluhur. Solusi yang lebih baik adalah menyederhakan semua kegiatan-kegiatan upacara adat terkait ikatan tradisional agar lebih sesuai dengan perkembangan jaman.

(33)

BAB V

BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Rincian Biaya Penelitian 1. Honor

Honor

Honor/Jam (Rp)

Waktu

(Jam/minggu) Minggu Honor per Tahun (Rp)

Ketua 225.000 4 6 5.400.000 Anggota 105.000 4 5 2.100.000 SUB TOTAL (Rp) 7.500.000 2. Bahan / Peralatan Penunjang

Material

Kuantitas Harga Satuan (Rp)

Harga Peralatan Penunjang (Rp)

Flash Disk

2 300.000 600.000

Tinta printer B&W

2 300.000 600.000

Tinta printer warna

2 300.000 600.000

ATK

(34)

ballpoint 2 25.000 50.000

amplop kecil 1 30.000

30.000

Stapler & isi stapler 2 35.000

70.000

spidol 1 40.000

40.000

papan untuk wawancara 2 25.000

50.000 map 5 2.000 10.000 sewa printer 1 500.000 500.000 Sewa Kamera 1 750.000 750.000 sewa handycam 1 900.000 900.000 SUB TOTAL (Rp) 4.400.000 4. Perjalanan dan Habis Pakai

Material

Kuantitas Harga Satuan (Rp)

Biaya per Tahun (Rp) Konsumsi (Snak & Nasi Kotak

selama pembuatan proposal, pengolahan data, laporan akhir)

10

(35)

Biaya perjalanan

Proses pencarian data 10 250.000,00 2.500.000,00

biaya Komunikasi peneliti

2 1.000.000,00 2.000.000,00

Biaya komunikasi surveyor 2 500.000,00 1.000.000,00

SUB TOTAL (Rp) 8.000.000,00

5. Lain lain Material

Kuantitas Harga Satuan (Rp) Biaya per Tahun (Rp)

Penggandaan laporan 10 20.000,00 200.000

Fotokopi

6000 200,00 1.200.000

Biaya cetak foto

100 2.000,00 200.000,00

Biaya SENASTEK

1 1.000.000,00 1.000.000

biaya Publikasi Penelitian (Jurnal)

1 2.500.000 2.500.000

SUB TOTAL (Rp) 5.100.000,00

(36)

25 4.2 Jadwal Kegiatan

Jadwalpelaksanaanpenelitianterterapadatabel dibawah ini.

No Kegiatan 2016 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 Persiapan seperti rapatkoordinasi, suratmenyurat, dan penyusunan proposal 2 Penyusunan panduan

wawancara dan studi-studi terkait

3 Pengumpulan data

4 Analisis dan pengolahan data

5 Penulisan laporan akhir

danpenyelesaianadministrasi

(37)

22

DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Suryadi, 1999. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Jakarta : Jayabaya University Press

Kementerian Luar Negeri RI, Masyarakat ASEAN Edisi 7, Maret 2015

Kreitner, Robert and Angelo Kinicki. 2014.Perilaku Organisasi. Edisi 9. Jakarta : Salemba Empat

Kurniawan, Agung. 2005. Transformasi Pelayanan Publik. Yogyakarta : Pembaharuan

Mingst, Karen A., 2003.Essentials of International Relations. 2nd Edition. New York : Norton Company

Nehen, Ketut, 1994, Manusia Bali di Persimpangan Jalan dalam Pitana, I Gede (ed ), “ Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali “, Denpasar : Offset BP

Pamudji. 1994. Profesionalisme Aparatur Negara dalam Meningkatkan Pelayanan

dan Perilaku Politik Publik. Jakar : Widya Praja

Poerwopoespito, F.X. Oerip S, dan T.A. tatag Oetomo. 2000. Mengatasi Krisis

Manusia di Perusahaan. Jakarta : Grasindo

Rudy, T. May, 1993. Teori, Etika, dan Kebijakan Luar Negeri. Bandung : Angkasa S, Nuraeini, Deasy Silvya, dan Arfin Sudirman, 2010. Regionalisme dalam

Hubungan Internasional, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Steans, Jill & Lloyd Pettiford, Thomas Diez, Imad El – Anis, 2010. Introduction to

International Relations Theory : Perspective and Themes, Essex : Pearson

Education Limited

Sushanti, Sukma., D.A. Wiwik Dharmiasih, Putu Titah Kawitri Resen, 2015.

Membaca Kesiapan Praktisi Medis Di Pulau Bali dalam Menghadapi Ekonomi ASEAN 2015, Jurnal Widya Sosiopolitika Fakultas Ilmu Sosial dan

(38)

23

Thompson, Kenneth W. and Roy C. Macridis, 1975. The Comparative Study of

Foreign Policy dalam Roy C. Macridis ( ed), “ Foreign Policy in World

Politics”, New Jersey : Prentice Hall

BIODATA PERSONALIA A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Putu Titah Kawitri Resen, S.IP.,

M.A.

P

2 Jabatan Fungsional Dosen

3 Jabatan Struktural -/-

4 NIP 1981120720120822001

5 NIDN 9908419477

6 Tempat dan Tanggal Lahir Denpasar, 07 Desember 1981

7 Alamat Rumah Jalan Tegal Sari gg Cempaka, no. 1,

Kesiman Kertalangu Denpasar

8 Nomor HP 0852 3724 9101

9 Alamat Kantor Jl. P.B. Sudirman Denpasar Bali

10 Nomor Telepon/ Faks (0361) 255 378/ (0361) 255 378

11 Alamat e-mail [email protected]

12 Lulusan yang telah dihasilkan S1 = 9 orang

13 Mata Kuliah yang diampu 1. Politik dan Pemerintahan Amerika

Serikat

2. Analisa Konflik dan Perdamaian 3. Teori Politik Luar Negeri

4. Politk dan Pemerintahan Asia

Tenggara

5. Minoritas dan Integrasi Nasional 6. Teori-Teori Hubungan Internasional

7. Organisasi dan Administrasi

Internasional

8. Pengantar Hubungan Internasional

9. Regionalisme dan Keamanan

Internasional B. Riwayat Pendidikan Program S-1 S-2 S-3 Nama Perguruan Tinggi Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada

Bidang Ilmu Hubungan

Internasional

Hubungan Internasional, Konsentrasi Studi Perdamaian

(39)

24

Tahun Masuk 2000 2009

Tahun Lulus 2004 2011

Judul Skripsi/ Thesis/ Disertasi

Isu Kasta dalam Politik Domestik India Dowry Murder Sebagai Bentuk Kekerasan Terhadap Perempuan di India Nama Pembimbing/ Promotor

Eric Hiariej, S.IP., M.Phil.

Eric Hiariej, Ph.D.

C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir

No Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber *) Jml (Juta Rp.)

1 2014 Ancaman Perubahan Iklim

terhadap Keamanan Manusia di Indonesia

PNBP 5.000.000,00

2 2015 Kesiapan Praktisi Medis di

Pulau Bali dalam

Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

PNBP 10.000.000,00

3 2015 Partisipasi Petani dalam

Pengelolaan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukaru

PNBP 25.000.000,00

D. Pengalaman Pengabdian kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir

No Tahun Judul Pengabdian Kepada

Masyarakat

Pendanaan

Sumber *) Jml (Juta Rp.)

1 2015 Sosialisasi Masyarakat

Ekonomi ASEAN di Desa Nyalian, Kabupaten Klungkung

DIPA 5.000.000,00

E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun

Terakhir

No Judul Artikel Ilmiah Volume/ Nomor Nama Jurnal

1 Dowry Murder : Kekerasan

Simbolik Terhadap Perempuan di India

Vol. 7 No. 1 Jurnal Sosiologi

(40)

25

F. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral pada Pertemuan/

Seminar Ilmiah dalam 5 Tahun Terakhir

No Nama Pertemuan Ilmiah/

Seminar

Judul Artikel Ilmiah

Waktu dan Tempat

G. Pengalaman Penulisan Buku dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul Buku Tahun Jumlah

Halaman

Penerbit 1

H. Pengalaman Perolehan HKI dalam 5-10 Tahun Terakhir

No Judul/ Tema HKI Tahun Jenis No. P/ID

1

I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/ Rekayasa Sosial Lainnya

dalam 5 Tahun Terakhir

No Judul/ Tema/ Jenis

Rekayasa Sosial Lainnya yang Telah

Diterapkan Tahun Tempat Penerapan Respon Masyarakat 1

(41)

26

SURAT PERNYATAAN

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan penelitian : Hibah Unggulan Program Studi

Denpasar,14 Maret 2016

(42)

27 IdentitasDiri AnggotaPeneliti A. Identitas Diri

1. Nama Lengkap(dengangelar) AdeDeviaPradipta,SE., MA P

2. JabatanFungsional Dosen

3. JabatanStruktural -

4. NIP 1988120920130822001

5. NUPN 9908419707

6. TempatdanTanggalLahir Denpasar, 9Desember 1988

7. AlamatRumah Jl. Nangka GangCendrawasih no. 30,Denpasar

8. Nomor Telepon/Faks /HP 081239651485

9. Alamat Kantor Jl.PB SudirmanDenpasar

10. Nomor Telepon/Faks 0361 255378

11. Alamate-mail [email protected]

12. Lulusanyangtelahdihasilkan S-1=1orang;

13. MataKuliahygdiampu 1. Sistem Ekonomi Indonesia

2. Perspektif TeoriKomunikasi 3. Dasar-dasarPeriklanan 4. KomunikasiPolitik 5. SistemEkonomiIndonesia 6. Manajemen Media Massa 7. Statistika Sosial

8. Metode Penelitian Kuantitatif

9. Pengantar Ilmu Ekonomi

B. RiwayatPendidikan

Program S-1 S-2 S-3

Nama PerguruanTinggi Universitas Udayana Universitas GadjahMada -

BidangIlmu Manajemen ManajemenKomunikasi -

TahunMasuk 2007 2010 - TahunLulus 2010 2013 - JudulSkripsi/Thesis/Di sertasi Hubungan harga, kepuasan, dan AdopsiTeknologiInformas i - Loyalitaspelanggan di bidang DanKomunikasiPada -

Penerbangan: studi pada OrganisasitradisionalBanj ar - Maskapai GarudaIndonesia Bali - -

Nama Pembimbing Drs.Nyn. Dayuh

Rimbawan, Dr.KuskridhoAmbardi ,MA - Drs. Budhy K. Zaman, MSi -

(43)

28

C. PengalamanPenelitiandalam5TahunTerakhir (Bukan Skripsi,Tesis,maupunDisertasi)

No. Tahun JudulPeneliti

an Pendanaan Sumber*) Jml (JutaRp.) 1. 2014 ProfilDemografis dan PsikografisPemirsaSiaranT VRI di Bali TVRI 79.000.000 2. 2014 KajianpengaruhFaktor SosialEkonomiPadaPenu runanUsiaPerkawinanDi ProvinsiBali BKKBN Bali Bekerjasamadengan PusatKajianKependu dukan&KeluargaUni versita NgurahRai 30.000.000 3. 2013 TingkatPemahamanMahasi swaterhadappublikasiilmiah sebagaisyaratwisuda(Studip adamahasiswaFakultasIlmu Sosial danIlmuPolitik) PNBP 3.000.000

4 2015 Evaluasi Kualitas Web

Library Pada Perpustakaan Tinggi Negeri di Bali

PNBP (Hibah Unggulan Program Studi) 25.000.000 *)Tuliskansumberpendanaan:PDM,SKW,Pemula,Fundamental,HibahBe rsaing,HibahPekerti,HibahPascasarjana,Hikom,Stranas,KerjasamaLua rNegeridanPublikasiInternasional,RAPID,UnggulanStranas atausumberlainnya. D. PengalamanPengabdiankepadaMasyarakatdalam5TahunTerakhir No. Tahu JudulPengabdianKepada Masyarakat Pendanaan Sumber *) Jml (JutaRp.)

1. 2013 LiterasiMediaMassaBagiRemaja di SMA 8 DIPA

PNBP

3.000.000

2. 2014 LiterasiMediaMassaBagiRemaja di SMA 1 DIPA

PNBP

3.000.000

(44)

29 4. Dst. *)Tuliskansumberpendanaan:PenerapanIPTEKS– SOSBUD,Vucer,VucerMultitahun,UJI, Sibermas,atau sumberdanalainnya

(45)

30

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan penelitian : Hibah Unggulan Program Studi

Denpasar,14 Maret 2016

(46)

31 LAMPIRAN 6.

SURAT PERNYATAAN PERSONALIA PENELITIAN Yang bertanda tangan di bawah ini kami:

1. Nama Lengkap : Putu Titah Kawitri Resen, S.IP., M.A.

NUPN : 9908419477

Fakultas/ P.S. : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Hubungan

Internasional Status dalam Penelitian : Ketua

2. Nama lengkap : Ade Devia Pradipta, SE., MA

NUPN : 9908419707

Fakultas/ P.S : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/ Ilmu Komunikasi

Status dalam penelitian : Anggota

Menyatakan bahwa kami secara bersama-sama telah menyusun proposal penelitian/ pengabdian Hibah Unggulan Program Studi yang berjudul “Daya Saing Sumber Daya Manusia Bagi Kepentingan Nasional Indonesia Pasca Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA): Benturan Profesionalisme Dengan Ikatan Tradisional di Bali” dengan jumlah usulan dana sebesar Rp. 25.000.000,00. Apabila proposal ini disetujui maka kami secara bersama-sama akan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan penelitian ini sampai tuntas sesuai dengan persyaratan yang dituangkan dalam Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian/ Pengabdian.

Demikian Surat Pernyataan ini kami buat dan ditandatangani bersama sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Denpasar, 14 Maret 2016

(47)

32

Referensi

Dokumen terkait

POSISI BIMBINGAN DAN KONSELING DAN KTSP DLM JALUR PDDK FORMAL MUATAN LOKAL MATA PELAJARAN/ BIDANG STUDI P ENGEMBANGAN DIRI MANAJEMEN Perkembangan Optimum Peserta Didik BIMBINGAN

Kantor Kementerian Agama Kab.Deli Serdang, terus berupaya agar tujuan yang. telah digariskan oleh Kantor Kementerian Agama

Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi : Gerak dasar menekuk yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara

Mengacu pada hakikat penciptaan alam semesta, maka ontologi tercipta sebagai anugerah Tuhan, dan manusia mensyukuri keberadaan ontologi- ontologi melalui pemaknaan. Hasil

Permasalahan yang penulis ajukan pada penelitian ini yaitu mengenai gaya belajar mahasiswa atlet terhadap pencapaian prestasi akademik dan kelulusan. Banyak

Abstrak. Sektor pertanian dan perladangan masih merupakan sokongan ekonomi utama di Jembrana. Komoditi yang berpotensi termasuk kelapa, kopi, ulas, kakao, dan

Astawan (2008) menyatakan bahwa pada tempe, selain terdapat ketiga jenis isoflavon tersebut, terdapat juga antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai

al-r±wi al-a‘l± untuk menentukan riwayat yang paling akurat yang bisa disandarkan kepada Nabi saw. Adapun metode pelaksanaannya terdiri dari langkah-langkah berikut: