DIAGNOSIS TOXOPLASMOSIS PADA KUCING LIAR (Felis silvestris catus) MENGGUNAKAN ANTIGEN RAPID TEST KIT DI PASAR KEPUTRAN
SURABAYA
Era Hari Mudji1), Marek Yohana K.1)
1)Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat Toxoplasmosis Pada Kucing Liar (Felis silvestris catus) Di Pasar Keputran Surabaya Menggunakan Diagnosa Antigen Rapid Test Kit. Sebanyak 30 ekor kucing liar diambil dari Pasar Keputran Surabaya kemudian dilakukan koleksi serum darah. Koleksi serum darah kemudian diuji menggunakan Antigen Rapid Test Kit. Hasil uji Antigen Rapid Test Kit menunjukkan 6 sampel (20%) menunjukkan nilai positif dan 24 sampel (80%) menunjukkan nilai negatif. Pasar tradisional memiliki potensi yang besar dalam penyebaran penyakit, termasuk Toxoplasmosis. Di dalam pasar tradisional mudah sekali menemukan keberadaan dari kucing liar. Kontak antara stadium infektif Toxoplasma dengan manusia, bahan makanan yang akan dikonsumsi manusia, dan hewan lainnya akan mudah sekali terjadi. Salah satu pasar tradisional terbesar di Surabaya adalah Pasar Keputran Surabaya. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk deskriptif. Dari hasil penelitian ini digunakan untuk merencanakan pengendalian penyakit dan mengetahui distribusi penyakit.
Kata kunci : Toxoplasmosis, Serum darah, Kucing Liar, Pasar Keputran Surabaya, Antigen Rapid Test Kit
Pendahuluan
Salah satu pasar tradisional besar di kota Surabaya adalah Pasar tradisional Keputran Surabaya. Pasar tradisional ini hampir memasok kebutuhan dasar pangan sebagian masyarakat Kota Surabaya. Letaknya yang strategis di dekat pusat kota dan harga yang kompetitif menjadikan pasar ini sebagai pasar tradisional favorit masyarakat Kota Surabaya.
Pasar merupakan tempat yang nyaman bagi kucing untuk mencari makan, bertempat tinggal dan berkembang biak. Kontak antara stadium infektif Toxoplasma dengan manusia, bahan makanan yang akan dikonsumsi manusia, dan hewan lainnya akan mudah sekali terjadi. Pengetahuan tentang siklus hidup parasit dan angka prevalensi menjadi penting, hal ini diperlukan untuk merencanakan pengendalian penyakit
dan mengetahui distribusi penyakit (Kusnoto, 2005).
Tujuan penelitian in adalah untuk mengetahui tingkat kejadian Toxoplasmosis pada kucing liar (Felis silvestris catus) di Pasar Keputran Surabaya sebagai induk semang utama penyakit ini. Sebagai tindakan preventif dan tepat guna dalam
kebijakan pengendalian
Toxoplasmosis di masa mendatang Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa intraseluler obligat yang dapat menginfeksi semua mamalia dan semua bangsa burung. Penyakit bersifat zoonotik dan pada umumnya asimtomatis. Pada umumnya inang terinfeksi T. gondii karena menelan makanan atau minuman yang terkontaminasi ookista atau kista jaringan dalam daging ternak yang terinfeksi (Dharmana, 2007). Kucing dapat mengeluarkan ookista dalam jumlah jutaan setelah memakan rodensia, burung dan hewan lain yang terinfeksi dan ookista yang keluar bersama feses kucing dapat tahan hidup beberapa bulan di tanah (Dubey, 2007). T.gondii memiliki beberapa macam protein antigen, beberapa di antaranya merupakan komponen protein solubel dan membran yang dapat bertindak sebagai imunogen dan dapat menginduksi respon imun, contohnya Rhoptry, Dense Granule, Micronema dan Surface Antigen (Craver and Knoll, 2007).
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini terdiri dari tiga variable yaitu variabel bebas, terkendali dan tergantung. Variabel bebas pada penelitian ini adalah kucing liar, berat badan, umur, jenis kelamin kucing. Variabel terikat pada penelitian ini adalah Rapid Test Anigen Rapid Feline Toxoplasma Ab Test Kit. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah hasil dari Rapid Test.
Kucing yang telah teradaptasi kemudian di ambil darah menggunakan spuit 3 cc sebanyak 1 cc tanpa menggunakan koagulan. Spuit berisi darah diletakan dalam posisi 45º selama 10 menit agar darah mengendap dan dapat mengeluarkan serum. Serum kemudian di pindahkan ke dalam tabung ependorf menggunakan spuit 1 cc. Serum di dalam tabung ependorf kemudian diberi label dan disimpan -200 C sampai saat digunakan (modifikasi dari Suwanti, 1996).
Serum yang akan digunakan untuk diuji dilakukan homogenisasi. Menggunakan pipet disposable yang berada di dalam set Anigen Rapid Feline Toxoplasma Ab Test Kit, 10 µl serum sampel di ambil dan dituangkan dalam chamber test kit. Kemudian tambahkan 3 tetes diluent assay ke dalam chamber test kit. Tunggu selama 1 menit. Setelah 1 menit maka
akan terjadi reaksi di dalam chamber kit dengan munculnya garis warna ungu di ruang T atau C. Di dalam perangkat uji terdapat kolom ruang garis yang tertulis T yang berarti ”Treat” dan C yang berarti ” Control”. Hasil positif sampel menunjukkan 2 garis yang akan terlihat di dalam kolom ruang T dan C. Hasil negatif sampel menunjukkan 1 garis yang akan terlihat di dalam kolom ruang C, dan hasil invalid apabila di dalam kolom ruang tidak menunjukkan garis sama sekali atau menampakkan garis tetapi pada kolom T (Huang et al, 2004). Hasil yang muncul kemudian dicatat dan di analisis secara deskriptif.
Hasil dan Pembahasan
Tabel 1. Persentase diagnosis Toxoplasmosis pada Kucing Liar (Felis silvestris catus) di Pasar Keputran Surabaya Hasil Positif Persen tase Hasil Negatif Persen tase Tot al Persen tase 6 20% 24 80% 30 100%
Pada uji 30 sampel serum yang diuji menunjukkan 6 sampel (20%) menunjukkan nilai positif dan 24 sampel (80%) menunjukkan nilai negatif. Hasil positif sampel menunjukkan 2 garis yang akan terlihat di dalam kolom ruang T dan C. Hasil negatif sampel menunjukkan 1 garis yang akan terlihat di dalam kolom ruang C, dan hasil invalid apabila di dalam kolom ruang tidak menunjukkan garis sama sekali atau
menampakkan garis tetapi pada kolom T (Huang et al, 2004).
Gambar 1. Diagram Hasil Uji Diagnosis menggunakan Anigen Toxoplasmosis pada Kucing Liar di Pasar Keputran Surabaya.
Metode ini memiliki prinsip ikatan antibodi dengan antigen yang bersifat imunogen pada suatu epitop tertentu, dimana antigen tersebut dimobilisasi pada suatu strip membran kolom kromatografi. Antibodi di dapatkan dari serum darah kucing liar yang dikumpulkan dari pasar Keputran Surabaya, sedangkan antigen yang dilekatkan dalam membran kolom kromatografi Rapid Test Anigen Toxoplasma Kit adalah SAG 2 (Surface Antigen 2) yang berasal dari protein membran takizoit Toxoplasma (Huang et al, 2004).
Keberadaan kucing liar yang positif terinfeksi Toxoplasma di Pasar Keputran berpeluang dalam
0 5 10 15 20 25 30 PosiifNegatif
Perbandingan diagnosis Toxoplasmosis pada Kucing Liar (Felis silvestris catus)
di Pasar Keputran Surabaya
Perbandingan diagnosis Toxoplasmosis pada Kucing Liar (Felis silvestris catus) di Pasar Keputran Surabaya
meningkatkan resiko infeksi Toxoplasma antara sesama kucing, hewan lain dan manusia. Tingkah laku dan kebiasaan kucing liar sebagai karnivora sejati dan hewan nocturnal seperti aktif mencari makan pada malam hari, mencari makanan di tempat pembuangan sampah, berburu tikus, menjilat tubuhnya, tidur di sekitar lapak pedagang, dan melakukan defekasi sembarang tempat akan meningkatkan resiko penyebaran ookista infektif.
Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah dari uji 30 sampel serum kucing liar di Pasar Keputran Surabaya menunjukkan 6 sampel (20%) menunjukkan nilai positif terinfeksi Toxoplasma dan 24 sampel (80%) menunjukkan nilai negatif .
Daftar Pustaka
Chalghoumi, R., B. Yves, P. Daniel And T. Andre. 2009. Hen egg yolk antibody (IgY), production and use for passive immunizat ion against bacterial enteric infection in chicken : a review. Biotechno l. Agron. Soc. Environ. 13(2) : 295 – 308. Craver, M. P. J. and L. J. Knoll. 2007. Increased efficiency of homologous recombinant in Toxoplasma gondii dense
granule protein 3
demonstrates that GRA3 is not necessary in cell culture but does contribute to virulence, Mol. Biochem. Parasitol 153: 149-157.
Dharmana, E. 2007. Toxoplasmosis musuh dalam selimut. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang.
Driscoll, Yamaguchi N, O'Brien SJ, Macdonald DW. suite of genetic markers useful in assessing wildcat (Felis silvestris ssp.)-domestic cat (Felis silvestris catus) admixture. diakses 12-05-2014 Dubey.2007.Toxoplasmagondii.http:// www.cdc.gov/ncidod/dpd/ parasites/toxoplasmosis/fact sht toxoplasmosis.htm. (13 Juni 2011). Gandahusada, S. 1988. Diagnosis Toksoplasmosis Kongenital pada Bayi. Seminar Parasitologi Nasional V, Ciawi. Bogor
Huang X., Xuan X., Hirata H., Yokoyama N., Xu L., Suzuki
N. 2004. Rapid
Immunochromatographic Test Using SAG2 for Detection of Antibodies againt Toxoplasma gondii in Cats. J Clin Microbiol. 2004 Jan; 42(1): 351–353
Kemenkes. 2008. Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Keputusan Menteri
Kesehatan Republik
Indonesia No
519/Menkes/SK/VI/2008. Jakarta
Kusnoto. 2005. Prevalensi Toxocariasis pada Kucing Liardi Surabaya Melalui Bedah Saluran
Pencernaan. Media
Kedokteran Hewan. Vol. 21, No. 1, Januari 2005
Lambourn, D. M., S. J. Jeffries and J. P. Dubey. 2001. Seroprevalence of Toxoplasma gondii in Harbour seals (Phoca vitulina) in Southern Puget Sound, Woshington. J. Parasitol. 87(5);1197-1198. Sasmita. R. 2006. Toxoplasmosis
penyebab Keguguran dan kelainan Bayi. Airlangga University Press. Surabaya. Smith JR. 1995. Produksi Serum
Hiperimun. Di dalam: Artama WT, penerjemah; Burgess GW,