• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia merupakan negara hukum hal itu telah disebukan dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 yang terdapat pada pasal 1 ayat (3) yang berbunyi “ Negara Indonesia adalah negara hukum”.1

Dengan melekatnya Indonesia sebagai negara hukum segala kekuasaan penyelenggaraan pemerintahan didasarkan pada hukum, kekuasaan pemerintahan memiliki tujuan untuk menjalankan ketertiban umum. Di negara berkembang seperti indonesia pemerintahnya masih terus menerus dalam melaksanakan pembangunan dibeberapa sektor. Pembangunan tersebut mestinya didukung dengan infrastruktur yang memadai seperti hal nya dengan infrastruktur pembangunan jalan, tidak terlepas dari infrastruktur pembangunan jalan tersebut pemerintah sebagai pemegang kekuasaan penyelenggaraan negara patut memperhatikan permasalahan yang mungkin akan terjadi berhubungan dengan aspek pembangunan jalan yang berkaitan dengan keadaan lalu lintas. Oleh karena itu terbentuklah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pentingnya Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam menunjang pembangunan nasional serta sebagai sistem yang mendukung terciptanya kesejahteraan umum bagi seluruh lapisan masyarakat yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

(2)

Adanya transportasi sangat membantu masyarakat dalam menjalankan aktifitasnya, pada era saat ini transportasi sudah menjadi kebutuhan pokok karena dengan adanya sistem transportasi yang baik akan menunjang perekonomian masyarakat yang lebih baik. Akan tetapi dalam sistem transporatsi masih terdapat beberapa aspek pelanggaran hukum. Misal pelanggaran hukum yang sering terjadi adanya pengendara yang tidak mengenakan helm, melanggar traffic lights, tidak menggunakan spion, tidak memiliki surat kelengkapan berkendara, melawan arus, melanggar rambu-rambu lalu lintas dan lain-lain.

Semakin banyaknya pengendara kendaraan bermotor semakin banyak pula kasus-kasus kecelakaan maupun kasus pelanggaran lalu lintas yang terjadi. Secara garis besar kecelakaan lalu lintas cenderung disebabkan oleh 4 (empat) faktor yaitu faktor manusia, faktor kendaraan, faktor lingkungan alam dan faktor lingkungan sosial.2 Adapun faktor lain yang menyebabkan tingkat kecelakaan semakin tinggi yaitu kurangnya kesadaran akan pentinya berlalu lintas dan pentingnya etika berkendara, sekarang semakin banyak orang dijalan raya antara satu dengan yang lain saling tidak menghormati bahkan sampai ada yang tidak memperdulikan keselamatan para pengguna jalan yang lainnya. Seperti halnya hendaklah mendahulukan pengguna jalan yang lain yang akan berbelok arah dengan respon meminta jalan, secara etika berkendara akan mengurangi tingkat kecelakaan dijalan raya.

Dengan zaman yang semakin berkembang kebutuhan transportasi diseluruh kalangan masyarakat terus mengalami peningkatan, adanya fasilitas jalan yang layak diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat semakin memudahkan seseorang dalam memenuhi segala kebutuhannya. Pengguna kendaraan sepeda motor maupun pengguna kendaraan mobil bukan hanya dari kalangan yang sudah dapat mengendarai dan menguasi kendaraan tersebut, melainkan anak yang belum mencapai batas usia mengendarai kendaraan bermotor sudah dengan leluasanya dapat mengendarai kendaraan bermotor.

(3)

Ambil contoh seorang siswa/siswi yang berangkat kesekolah dengan mengendarai kendaraan roda dua, karena dalam perjalanannya hanya memungkinkan ditempuh dengan kendaraan bermotor roda dua.

Kasus semacam ini yang banyak dijumpai pelanggar lalu lintas banyak dari kalangan anak dibawah umur. Jika sampai terjadi kecelakaan dijalan raya dengan melibatkan pengendara anak efek yang akan timbul jauh lebih besar dalam kecelakaan lalu lintas.

Setiap tahun semakin berkembang tentang lalu lintas dijalan, dalam hal ini menunjukan masih besarnya pengguna kendaraan bermotor yang dilakukan oleh pengendara anak. Dijalan raya masih banyak ditemui adanya anak Sekolah Menengah Pertama hingga anak Sekolah Menengah Atas yang masih mengendarai kendaraan bermotor. Padahal anak yang umurnya masih belum cukup untuk mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) dari pihak kepolisian dilarang sampai batas umurnya 17 tahun.

Penulis juga melakukan wawancara dengan pihak Kepolisian Satuan Lalu Lintas Kabupaten Semarang yaitu dengan Ajun Komisaris Polisi (AKP) Sandhi Wiedyanoe, S.I.K. selaku Kasat Lantas Polres Semarang. Ia mengatakan banyak faktor yang menyebabkan anak dibawah umur mengendarai kendaraan bermotor misal dengan membawa kendaraan sendiri kesekolah. Hal seperti ini terjadi karena kurangnya rasa tertib berlalu lintas atau minimnya budaya tertib sedari dini, dimana jarak tempuh dari rumah kesekolah cukup jauh sejatinya ini adalah tanggung jawab sang orang tua kedapa anaknya, karena anak yang mengendarai kendaraan bermotor dibawah umur tentunya belum memiliki kapasitas sikologis keberhati-hatian yang sempurna serta kewaspadaan yang cukup tajam sehingga hal tersebut dapat menimbulkan potensi kecelakaan lalu lintas yang berakibat pada fatallitas korban.

(4)

Kasat Lantas Polres Semarang (AKP) Sandhi Wiedyanoe juga menyebutkan bahwa dari pihak Kepolisian Lalu Lintas Polres Semarang sesungguhnya sudah melakukan berbagai cara untuk menanggulangi masalah ini.

Ada 3 hal yang dilakukan oleh pihak kepolisian yang pertama dengan pendekatan secara Sociological dimana pihak kepolisian lalu lintas memberikan arahan keberbagai sekolah-sekolah yang berada di Kabupaten Semarang, dengan metode DIKMAS LANTAS Pendidikan Masyarakat di bidang Lalu Lintas khususnya terhadap anak sekolah bahwa bahaya yang sangat luar biasa apabila terjadi kecelaakan yang akan merugikan anak tersebut, dan yang akan rugi masa sekarang maupun masa yang akan datang maupun masa depan meraka yang tercancam akbiat kecelaakaan yang mungkin saja bisa terjadi. Yang kedua metode Preventif adalah pencegahan dengan melakukan kegiatan patroli dengan adanya kegiatan tersebut akan menimbulkan rasa kewaspadaan atau potensi-potensi kecelakaan lalu lintas khususnya yang disebabkan oleh pengendara dibawah umur. Yang ketiga metode Represif atau penegakan hukum adalah upaya akhir yang dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mewujudkan efek rasa penyesalan terhadap pelanggar lalu lintas, hal ini bertujuan baik mencegah potensi laka lantas yang dalam jangka waktu yang panjang menyelamatkan masa depan mereka, hal ini sejalan dengan RUNK Rencana Umum Nasional Keselamatan Tahun 2001. Dan ada beberapa faktor yang mempengaruhi tindakan kepolisian dalam penindakan pengendara anak dibawah umur adalah tanggung jawab petugas kepolisian sebagai aparatur pemerintahan dibidang keamanan, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas. Pihak kepolisian peduli bahwa keselamatan yang utama dan tiga faktor yang diatas mendorong kepolisian lalu lintas dalam menjamin keamanan, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas oleh semua pengguna kendaraan di jalan raya.3

3

Wawacara dengan AKP Sandhi Wiedyanoe, S.I,K. Kasat Lantas Polres Semarang. Pada tanggal 6 September 2018 pukul 11.00

(5)

Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara anak diKabupaten Semarang yaitu pada tahun 2018 tepatnya pada bulan Januari sampai dengan Agustus adalah sebesar 6.963 pelanggaran.4

Penulis juga melakukan wawancara dengan seorang siswi berusia 16 tahun yang menggunakan kendaraan sepeda motor untuk menuju kesekolahnya. Siswi tersebut merupakan siswi yang bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Bergas Kabupaten Semarang, penulis juga melakukan wawancara dengan orang tua siswi tersebut. Siswi tersebut bernama Putri, mengatakan bahwa dia mulai mengendarai kendaraan bermotor sejak kelas 1 SMA. Alasan Putri adalah karena memudahkan dalam perjalanan menuju kesekolahnya karena jika perjalanan kesekolah menggunakan angkutan umum harus melakukan beberapa kali transit supaya bisa sampai ketujuan dan Putri juga menambahkan jika perjalanannya menuju sekolah menggunakan sepeda motor dia tidak akan terlambat masuk sekolah, penggunaan sepeda motor bagi Putri telah menjadi kebutuhannya. Penulis juga menanyakan kelengkapan surat-surat dalam berkendara kepada Putri, ia mengatakan bahwa belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dikarenakan usianya belum 17 tahun.

Penulis juga melakukan wawancara dengan orang tua Putri, orang tua putri mengatakan bahwa sebenarnya tidak memberikan izin kepada Putri untuk mengendarai kendaraan bermotor menuju kesekolah, akan tetapi dalam memudahkan transportasi dalam menuju sekolahnya dan yang terpenting anak tersebut harus berhati-hati dalam berkendara. Orang tua Putri juga sadar hukum akan tindakan yang dilakukan oleh Putri tersebut melanggar peraturan yang sudah ada mengingat dulu sempat pernah ditilang oleh petugas kepolisian lalu lintas. Dan jika nanti umur Putri sudah cukup dalam proses pengurusan kepemilikan Surat Izin Mengemudi (SIM) akan segara dibuatkan.5

4 Data dari Satuan Lalu Lintas Kabupaten Semarang. Hasil didapatkan pada tanggal 6 September

2018 pukul 11.00

5

Wawancara dengan Siswi dan Orang Tua Siswi SMA Negeri 1 Bergas Kabupaten Semarang, Kabupaten Semarang, 9 September 2018.

(6)

Kasus pelanggaran lalu lintas yang telah tertulis diatas perlu adanya tindak lanjut supaya aturan hukum harus bisa diterapkan dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh masyarakat sebagai pengguna jalan raya sekaligus menjadikan ancaman hukuman bagi setiap masyarakat yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Sudah menjadi tugas berat dalam aparat kepolisian dalam menangani kasus semacam ini, petugas kepolisian harus melakukan sosialisasi terhadap anak-anak yang umurnya belum cukup dalam mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi) bahwa mereka belum diperbolehkan untuk mengendarai kendaraan bermotor dijalan raya baik itu kendaraan bermotor roda dua maupun kendaraan bermotor roda empat, karena akan membahayakan atau akan mengakibatkan kecelakaan dan mendapat kerugian bagi mereka sendiri. Anggota kepolisian lalu lintas sebagai pencegah dan penindak harus melakukan fungsi regeling(misal, pengaturan tentang kewajiban bagi kendaraan bermotor tentu untuk melengkapi dengan segita pengaman) dan fungsi bestuur dalam hal perizinan atau begunstiging ( misal dengan mengeluarkan Surat Izin Mengemudi)6. Pembekalan atau pembinaan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak tidak hanya dari peran orang tua saja, akan tetapi dari pihak kepolisian pun juga harus melakukan pembinaan dan pembekalan terhadap pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengendara anak. Polisi lalu lintas adalah unsur pelaksana yang menyelenggarakan tugas kepolisian mencangkup penjagaan, pengaturan, pengawalan dan patroli, identifikasi pengemudi/kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum dalam bidang lalu lintas guna memelihara keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas.7 Pelanggaran lalu lintas bukan hanya dilakukan oleh pengendara dewasa atau yang sudah memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) akan tetapi pengendara anak yang umurnya belum cakap dalam mengendarai kendaraan bermotor sudah banyak melakukan pelanggaran lalu lintas. Sudah jelas diatur dalam

6

Soerjono Soekanto 2, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989, h.58.

(7)

Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang No.2 Tahun 2009 yaitu ; Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam pasal 77, setiap orang yang harus memenuhi persyaratan usia, administratif, kesehaatan, dan lulus ujian.

Ayat (2) Syarat usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di tentukan paling rendah sebagai berikut : (a) Usia 17 (tujuh belas) tahun untuk Surat Izin Mengemudi A, Surat Izin Mengemudi C, dan Surat Izin Mengemudi D ; (b) Usia 20 (dua puluh) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B I; dan (c) Usia 21 (dua puluh satu) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B II. 8 Pada Undang-Undang diatas telah menerangkan mengenai batasan usia dalam mengendarai kendaraan bermotor dijalan raya, apabila syarat usia untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi sudah terpenuhi maka seseorang tersebut diperbolehkan untuk mengendarai kendaraan bermotor dijalan. Namun bagimana dengan anak yang usianya masih dibawah umur dalam arti belum cakap dalam mendapatkan Surat Izin Mengemudi namun masih dengan bebas dapat mengendarai kendaraan bermotor dijalan raya.

Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 77 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 maka sanksi yang dikenakan terhadap pelanggar Pasal 77 termuat dalam Pasal 281 yaitu perbuatan pengendara kendaraan bermotor roda dua atau lebih yang Tidak Memiliki Surat Izin Mengemudi atau sering disebut SIM sebagaimana dimaksud dalam pasal 77 ayat (1) dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp.1.000.000 (satu juta rupiah).9 Melihat dari pemberian sanksi pidana dan denda merupakan bagian dari penegakan hukum.

8

Pasal 81 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan

(8)

Bagian terpenting dari suatu sistem pemidanaan adalah menetapkan sanksi, keberadaannya akan memberikan arah dan pertimbangan mengenai apa yang seharusnya dijadikan sanksi dalam suatu tindak pidana untuk menegakkan berlakunya norma.10

Namun tidak sedikit anak yang berperilaku menyimpang melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum. Jenis dan karakteristik perbuatan tersebut tidak ada bedanya dengan tindak pidana yang dilakukan oleh orang dewasa.11 Pelanggaran yang dilakukan oleh anak bukan hanya dari satu faktor saja namun banyak faktor yang menyebabkan dan mempengaruhi kondisi anak. Menurut Mustofo, Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh anak dalam periode usianya yang masih mudah disebut sebagai kenakalan, karena dianggap tindak pelanggaran tersebut dilakukan dengan tanpa adanya kesadaran penuh bahwa tindakan tersebut salah.12 Akan terjadi banyak hal yang berdampak pada kondisi anak apabila hanya karena sebuah pelanggaran seorang anak harus merasakan pemidanaan.

Berdasarkan beberapa uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian hukum lebih dalam guna menyusun karya ilmiah. Issue yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah TINDAKAN POLISI

DALAM PENANGANAN PELANGGARAN LALU LINTAS YANG

DILAKUKAN OLEH PENGENDARA ANAK (STUDI KASUS

DISATUAN LALU LINTAS POLRES SEMARANG).

10

Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Politik Hukum Pidana Kajian Kebijakan

Kriminalisasi dan Deskriminalisasi, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005.h.82.

11 Endang Sri Melanie, Pelanggaran Hak-Hak Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Sebelum

Pemutusan Perkara, Kontras media, Yogyakarta, 2004, hlm. 37

12

Muhhamad Mustofo, Kriminologi : Kajian Sosiologi terhadap Kriminalitas, Perilaku

(9)

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Faktor apa yang melatar belakangi anak dalam mengendarai kendaraan bermotor tanpa memiliki Surat Izin Mengemudi ?

2. Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh petugas kepolisian dalam penindakan pelanggaran lalu lintas tersebut ?

3. Apa faktor yang mempengaruhi tindakan Kepolisian Lalu Lintas terhadap anak dibawah umur sebagai pengendara kendaraan bermotor?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang akan penulis capai dari penelitian karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui pertanggung jawaban pidana seperti apa yang diberikan kepada pengendara anak yang usianya masih dibawah umur dalam melakukan pelanggaran lalu lintas. Dan pertanggung jawaban seperti apa yang diberikan oleh Kepolisian kepada pengendara anak dibawah umur yang melakukan pelanggaran lalu lintas diwilayah Kabupaten Semarang.

(10)

1.4 MANFAAT PENELITIAN

Manfaat yang dapat diambil dari karya ilmiah ini adalah :

 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi ilmu pengetahuan hukum terlebih pada hukum pidana anak, yang pada umumnya dalam pengembangan hukum pidana.

 Manfaat Praktis

Dalam nantinya hasil penelitian ini semoga dapat membantu memperjelas tanggungjawab pidana seperti apa yang diberikan kepada anak dalam kasus pelanggaran lalu lintas.

1.5 METODE PENELITIAN

Dalam penulisan karya ilmiah ini sebagai upaya mendapatkan hasil yang bersifat obyektif maka diperlukan adanya data dan informasi yang valid dan relevan serta berkaitan dengan masalah yang akan dibahas. Sebagai upaya dalam memperoleh data yang valid penulis menggunakan metode penelitian yang berfungsi sebagai sarana dan pedoman dalam perolehan data serta untuk memaksimalkan tujuan penelitian. Meliputi :

1. Pendekatan Yang Digunakan

Pendekatan yang digunakan dalam menyusun karya ilmiah ini adalah sosio legal. Sosiolegal adalah analitis yang berusaha memberikan gambaran secara menyeluruh, sistematis dan mendalam tentang suatu keadaan atau gejala penelitian.13 Penegakan hukum terhadap pengendara kendaraan bermotor oleh anak yang melanggar lalu lintas.

(11)

2. Jenis Penelitian Yang Digunakan

Jenis penelitian yang digunakan adalah eksploratif artinya penelitian eksploratif merupakan salah satu jenis penelitian sosial yang tujuannya untuk memberikan definisi atau penjelasan mengenai konsep atau pola yang digunakan.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara dengan kepolisian lalu lintas kabupaten semarang, pengendara anak dibawah umur, orang tua pengendara anak dibawah umur.

b. Makalah dan Internet

4. Unit Amatan

Unit amatan dalam karya ilmiah ini adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam mengatur mengenai syarat usia pengendara kendaraan bermotor, pihak Kepolisian Lalu Lintas dalam penegakan hukum terhadap pengendara kendaraan bermotor oleh anak dibawah umur. Juga dari masyarakat umum selaku pengendara kendaraan bermotor dijalan raya.

5. Unit Analisa

Unit analisa dalam karya ilmiah ini adalah tindakan hukum dari Kepolisian Lalu Lintas terhadap pengendara kendaraan bermotor dibawah umur.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemaparan di atas maka penelitian dengan judul Penerapan Diversi Dalam Penyelesaiakan Perkara Pidana Pelanggaran Lalu Lintas Yang Dilakukan Oleh Anak menjadi

Selain itu juga karena lemahnya penindakan oleh aparat, maka pengendara odong-odong tersebut banyak yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), meraka

Ada beberapa jenis keluarga, yakni : keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak-anak; keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan

Menurut data yang diperoleh dari Rekam Medik Rumah Sakit RK Charitas Palembang diperoleh data jumlah penderita ISPA dilihat dari penderita dewasa dan anak-anak

tahun dibandingkan tahun sebelumnya.Anak-anak yang pada tahun 2019 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 13,15 tahun, lebih lama 0,01

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan“Konseling Pastoral Lintas Budaya Bagi Warga Dewasa di Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Waingapu” adalah proses

Berdasarkan Pasal 281 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi

a) Kartu Tanda Anggota (KTA). b) Kartu Tanda Penduduk (KTP). c) Surat Izin Mengemudi (SIM). d) Kartu Izin Keluar Komplek (bila izin/dinas keluar). Di dalam museum banyak