1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lalu Lintas dan Angkutan jalan berperan penting dalam mendukung pembangunan di Indonesia. Lalu Lintas dan Angkutan jalan harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, kesjahteraan, ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi. Untuk mempermudah hal keinginan tersebut dibutuhkan alat yaitu berupa kendaraan bermotor.
Kendaraan bermotor dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan di atas rel. Dengan adanya kendaraan bermotor, masyarakat lebih mudah untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pentingnya keberadaan Lalu Lintas dan jalan raya pemerintah mengatur mengenai Lalu Lintas dan Angkutan jalan Dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Angkutan dan Jalan.
Namun masih banyak peristiwa terjadi yang belum sesuai harapan yaitu masih banyak nya pelaanggaran lalu lintas dan Kecelakan lalu lintas dijalan raya.
2
Di Indonesia jumlah pemilik kendaraan bermotor ditahun 2016 berdasarakn survei dari Badan Pusat Statistik mencapai angka 105.150.082 juta unit1, dan ditahun-tahun berikutnya jumlah tersebut akan terus bertambah karena masyarakat dapat memperoleh kendaraan secara mudah.
Bertambahnya jumlah kendaraan juga meningkatkan jumlah kecelakaan lalu lintas dijalan raya.
Dalam zaman modern seperti saat ini, masyarakat menginginkan kemudahan dalam mencukupi kebutuhan nya. Salah satunya dengan cara menggunakan kendaran bermotor untuk melakukan kegiatan sehari. Seperti hal nya di kota Salatiga, banyak para anak yang mengendarai kendaraan bermotor. Mereka mengendarai kendaraan bermotor untuk pergi berangkat sekolah ataupun pergi ke suatu daerah.
Selain itu, banyak sekolah-sekolah di kota Salatiga yang siswanya masih membawa kendaraan bermotor untuk berangkat sekolah apabila dilihat dari segi umur siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama ) dan SMA (Sekolah Menengah Atas) maupun SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) berusia 13 sampai 17 tahun.
Hasil wawancara dari Satlantas Polres Salatiga yaitu dengan Aipda Sidiq Asrofi Arief2, ia mengatakan jumlah pelanggar Pelanggar Lalu Lintas dibawah umur sangat banyak terjadi di kota Salatiga, jika di ambil rata-rata jumlah pelanggar Lalu Lintas dibawah umur dari anak SMP maupun SMA/SMK kurang lebih 20 pelanggaran setiap hari,dengan kasus yaitu:
1 Badan Pusat Statistik, https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1133. Dikunjungi pada tanggal 20 Januari 2019.
2 Wawancara dengan Aipda Sidiq Asrofi Arief, Satuan Lalu Lintas Polres Salatiga, 24 Januari 2019, Jam 10.00 WIB.
3
1. mengendarai kendaraan bermotor tetapi tidak memiliki SIM.
2. mengendarai motor dengan boncengan salah satu nya tidak memakai helm.
3. Mengendarai kendaraan bermotor tanpa memasang Spion pada kendaraannya.
4. Mengendarai kendaraan bemotor dengan menggunakan Ban Cacing.
Hal itu jelas mempengaruhi keselamatan dijalan raya. Secara garis besar faktor kecelakaan disebabkan oleh 4 faktor yaitu :
1. faktor sosial.
2. faktor kendaraan.
3. faktor lingkungan alam. dan 4. faktor lingkungan sosial3.
Menurut Aipda Sidiq Asrofi Arief ada 2 faktor yang mempengaruhi pelanggar Lalu Lintas dibawah umur di Kota Salatiga, faktor yang pertama yaitu faktor orang tua, ia berpendapat bahwa orang tua lebih percaya anaknya membawa kendaraan sendiri. Sebenarnya semua aktivitas anak SMP dan SMA/SMK masih dalam pengawasan orang tua,anak berhak mendapatkan pengasuhan, pemeliharaan, pendidikan, dan perlindungan untuk proses tumbuh kembang dari kedua orang tua4. tapi karena orang tua memiliki kemampuan untuk membeli kendaraan, orang tua lebih memilih membelikan kendaraan kepada anaknya daripada mengganggu
3 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, Hal 27.
4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
4
pekerjaannya. Yang kedua faktor anak itu sendiri, anak memiliki keinginan untuk mengandarai kendaraan sendiri karena ia menganggap bahwa sudah mampu dan diberi kepercayaan kepada orang tuanya.
Perkembangan zaman akan mempengaruhi perilaku remaja ditandai dengan munculnya perilaku menyimpang, yaitu suatu perilaku yang tidak sesuai dengan norma serta nilai-nilai yang ada di masyarakat dan juga melanggar dari aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. perilaku menyimpang dibedakan menjadi 2 yaitu perilaku menyimpang yang tidak disengaja karena pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada dan perilaku yang menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. untuk memahami bentuk perilaku tersebut adalah mengapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan.
Becker mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian5. Menurut Muhammad Mustofo pelanggaran- pelanggaran yang dilakukan oleh anak dalam periode usia masih muda disebut sebagai kenakalan, karena dianggap tindakan pelanggaran tersebut dilakukan tanpa adanya kesadaran penuh bahwa tindakan tersebut salah.6
Untuk mengendarai kendaran Bermotor harus memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang. Syarat untuk berkendara ialah harus
5 Soerjono Soekanto, Sosiologi Penyimpangan, Rajawali, Jakarta, 1988, Hal 26.
6 Muhammad Mustofo, Kriminologi : Kajian Sosioligi Terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpang dan Pelanggaran Hukum, Fisip Ui Press, 2007, Hal 25.
5
memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM). Syarat-syarat tersebut tercantum dalam pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Syarat usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan paling rendah sebagai berikut:
a. Usia 17 (tujuh belas) tahun untuk Surat Izin Mengemudi A, Surat Izin Mengemudi C, dan Surat Izin Mengemudi D;
b. Usia 20 (dua puluh) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B I; dan
c. Usia 21 (dua puluh satu) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B II. Selain syarat usia, Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi, calon Pengendara diharuskan memiliki kompetensi mengemudi yang dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan atau belajar sendiri.7
Kurangnya kesadaran atas keselamatan bagi para orang tua mengizinkan serta memberikan para anak kendaraan bermotor walaupun belum memenuhi syarat-syarat untuk mengendarai kendaraan bermotor. Kasus- kasus ini banyak terjadi di Kota Salatiga Para orang tua tidak memikirkan sanksi dan akibat yang akan diterima apabila pengendara bermotor tidak mematuhi aturan dari akan dijatuhi sanksi sebagai berikut:
1. Berdasarkan Pasal 281 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan
7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Pasal 81 ayat (2).
6
paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah)” .
2. Berdasarkan Pasal 288 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 “ setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dijalan yang tidak dapat menunjukan Surat Izin Mengemudi yang sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat 5 huruf (b) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) . 3. Pasal 285 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun
2009 “Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)”.
4. Pasal 280 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009
“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”
7
5. Pasal 291 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 “Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesiasebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)” .
Berdasarkan Teori Penegakan Hukum, penegakan hukum dapat diartikan sebagai tindakan menerapkan perangkat sarana hukum tertentu untuk memaksakan sanksi hukum guna menjamin penataan terhadap ketentuan yang ditetapkan. Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum ( yaitu pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang drumuskan dalam peraturan-peraturan hukum) menjadi kenyataan8. Untuk mewujudkan penegakan hukum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu9:
1. Undang-undang
2. Penegakan hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.
3. Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.
4. Masyarakat, yakni dimana hukum tersebut diterapkan. Dan
8 Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum, Sinar Baru, Bandung, 1983, Hal 24.
9 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Raja Grafindo, Jakarta, 1983, Hal 5.
8
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Kepolisian merupakan alat Negara yang berperan dakam melindungi masyarakat, menegakan hokum, dalam rangka terpeliharanya keamanan sebagaimana yg tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakan hokum, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.10
Dalam hal ini kepolisian yang bertanggung jawab atas pelanggaran lalu lintas yang terjadi di jalan raya.Menurut pendapat Soerjono Soekanto yaitu: hukum dan penegak hukum merupakan sebagian faktor penegakan hukum yang tidak bisa diabaikan, jika diabaikan akan menyebabkan tidak tercapainya penegakan hukum yang diharapkan.11 Polisi lau lintas sebagai penegak hukum dan juga sebagai penindak harus melakukan fungsi regeling (contohnya pengaturan tentang kewajiban bagi kendaraan bermotor untuk melengkapi dengan segitiga pengaman) dan fungsi bestur dalam hal perizinan atau bengunstinging (contohnya mengeluarkan SIM).12
10 Sadjijono, Mengenal Hukum Kepolisian Prespektif Kedudukan dan Hubungannya dalam Hukum Administrasi, Mediatama, Surabaya, 2005, Hal 115.
11Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Cetakan Kelima, Rajawali, Jakarta, 2004, Hal 5.
12 Soerjono Soekanto, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah – Masalah Sosial, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989, Hal 58.
9
Menurut Undang Undang Kepolisian No 2 Tahun 2002 pasal 1, Kepolisian adalah segala hal – ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga sesuai dengan peraturan perundang – undangan. Yang dimana kepolisian memiliki fungsi sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat13. Demi mewujudkan keamanan dan ketertiban di masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta ketertiban dan ketenteraman masyarakat dengan menjunjung Hak Asasi Manusia.
Menurut Djajoesman Polisi lalu lintas (Polantas) adalah bagian dari Kepolisian yang diberi tugas khusus dibidang lalu lintas dan karenanya merupakan pengkhususan (spesialisasi) dari tugas polisi pada umumnya14. hal ini menjelaskan bahwa seorang polisi lalu lintas diharapkan memiliki keahlian khusus untuk menjalankan tugasnya di lapangan. Keahlian tersebut dapat diperoleh melalui pendidikan kejuruan lalu lintas, yang disesuikan dengan penggolongan yang sudah menjadi ketentuan. Polisi lalu lintas adalah unsur pelaksana yang bertugas menyelenggarakan tugas kepolisian yaitu:
1. Penjagaan . 2. Pengaturan.
3. Pengawalan dan Patroli
13 Undang Undang Kepolisian Nomor 2 Tahun 2002 pasal 1.
14 Djajoesman HS, Grafik lalu lintas dan angkutan jalan, Balai Pustaka, 1976, Jakarta, Hal 50.
10 4. Pendidikan Masyarakat.
5. Rekayasa Lalu lintas.
6. Registrasi dan Identifikasi pengemudi atau kendaraan bermotor.
7. Penyidikan kecelakaan lalu lintas.
8. Penegakkan hukum dalam bidang lalu lintas guna memlihara keamanan, ketertiban dan kelancaran lau lintas.
Seorang Polisi lalu lintas diharuskan memiliki kualitas sikap yang baik dalam menjalankan tugasnya melakukan penegakan hukum dijalan raya. menurut Soerjono Soekanto kualitas sikap yang harus dimiliki oleh seorang Polisi Lalu lintas yaitu:
1. Bertanggung jawab.
2. Mempunyai kemampuan dan keterampilan melakukan investigasi untuk mendapatkan kebenaran.
3. Kepemimpinan yang tepat.
4. Mempunyai kemampuan teknis mengenai lalu lintas atas dasar spesialisasi perkembangan mutakir dari teknologi lalu lintas.
5. Mempunyai inisiatif baik dalam prevensi maupun represi mempunyai kemampuan untuk melakukan penalaran yang benar.
6. Mempunyai kesadaran akan tugas untuk melindungi jiwa dan harta benda warga masyarakat.
11
7. Bisa mengendalikan diri, jujur dan sebagainya.15
Dalam hal ini penulis ingin melakukan penelitian tentang TINDAKAN KEPOLISIAN TERHADAP PELANGGAR LALU LINTAS DIBAWAH UMUR DI KOTA SALATIGA. Alasan penulis mengangkat judul tersebut karena di wilayah Kota Salatiga marak dengan fenomena Pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak dibawah Umur, sehingga Penulis ingin mengetahui tindakan seperti apa yang akan dilakukan oleh kepolisian (Satlantas Polres Salatiga).
B. Rumusan Masalah
Dengan ini maka penulis akan membahas permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana upaya Satuan Lalu Lintas Polres Salatiga dalam
menindak Pelanggar Lalu Lintas dibawah umur?
2. Faktor yang mempengaruhi tindakan kepolisian terhadap Pelanggar Lalu lintas dibawah umur di kota Salatiga?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tindakan yang dilakukan oleh Kepolisian kepada Pelanggar Lalu Lintas dibawah umur di Kota Salatiga.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
15 Soekanto, Soerjono, Polisi dan Lalu Lintas, Mandar Maju, Jakarta, Hal 55.
12
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi tambahan ilmu pengetahuan Hukum Pidana Anak.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesadaran bagi masyarakat tentang keamanan berkendara dijalan raya.
E. Metode Penelitian
Agar memudahkan penulis untuk melakukan penelitian, maka penulis menggunakan metode penelitian Socio Legal, Socio Legal adalah analisis yang memberikan gambaran secara menyeluruh, sistematis dan mendalam tentang suatu keadaan atau gejala penelitian16.
Lokasi penelitian dilakukan di Kota Salatiga dan Sekitarnya. Alasan penulis melakukan Penelitian di Salatiga dan Sekitarnya karena banyak anak dibawah umur yang masih belum begitu sadar tentang keamanan dan keselamatan berkendara dijalan raya.
Tehknik pengumpulan data untuk melengkapi penelitian ini sebagai berikut:
a. Studi Literatur
Melakukan penelitian terhadap data sekunder untuk mendapatkan landasan teori dan mendapatkan informasi yang formal serta data melalui naskah resmi yang sudah ada.
b. Wawancara
Proses tanya jawab secaara lisan dan berhadapan secara fisik untuk mendapatkan informasi dimana ada penanya dengan pemberi informasi,
16 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum, Unviersitas Indonesia, Jakarta, 1984, Hal 10.
13
data yang didapatkan dengan proses interaksi dan komunikasi secara lisan.
Wawancara akan dilakukan dengan narasumber terkait yaitu: Kasatlantas Polres Salatiga.
Adapun sumber data yang dipakai dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis sebagai berikut:
1. Sumber Data Primer yang dilakukan dengan proses wancara dengan Kasatlantas Polres Salatiga.
2. Sumber data sekunder yaitu:
i. Undang – Undang Dasar 1945.
ii. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
iii. Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
iv. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan.
F. Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN Dalam Bab ini berisi Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dalam Bab I dikemukakan manfaat penelitian, Orisinalitas penelitian dan metodologi penelitian.
2. BAB II PEMBAHASAN dikemukakan hasil penelitian dan pembahasan yang berisi hasil dari wawancara. Dalam BAB II dikemukakan pembahasan tentang analisis terhadap hasil penelitian untuk menjawab rumusan masalah.
14
3. BAB III PENUTUP berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan, saran dan daftar pustaka.