1
LAPORAN SEMENTARA
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
DANA BOPTN 2015
BUSINESS PLAN DAN VALUE PROPOSITON DESIGN
UNTUK PEMBENTUKAN
HERBAL VILLAGE SURABAYA
Tim Pengabdi
Ketua: Berto Mulia Wibawa, S.Pi, M.M (Jurusan Manajamen Bisnis FTI ITS) Anggota 1 : Imam Baihaqi, S.T, M.Sc, Ph.D (Jurusan Manajemen Bisnis FTI ITS) Anggota 2 : Dr. Ir. Bustanul Arifin Noer, M.Sc (Jurusan Manajemen Bisnis FTI ITS) Anggota 3 : Nugroho Priyo Negoro, S.T, S.E, M.T (Jurusan Manajemen Bisnis FTI ITS)
Anggota 4 : M. Saiful Hakim, S.E., M.M (Jurusan Manajemen Bisnis FTI ITS) Anggota 5 : Aang Kunaifi, S.Ak, M.Ak (Jurusan Manajemen Bisnis FTI ITS) Anggota 6 : Dr. Maria Anityasari, S.T, M.E (Jurusan Teknik Industri FTI ITS)
Anggota 7 : Diesta Iva Maftuh, S.T, M.T (Jurusan Teknik Industri FTI ITS) Anggota 8 : Dyah Santhi Dewi, S.T, M.Eng.Sc, Ph.D (Jurusan Teknik Industri FTI ITS)
Anggota 9 : Dewanti Anggrahini, S.T, M.T (Jurusan Teknik Industri FTI ITS)
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN SEMENTARA PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DANA BOPTN 2015
1. Judul Pengabdian : Business Plan dan Value Proposition Design untuk Pembentukan Herbal Village Surabaya 2. Ketua Tim
a. Nama : Berto Mulia Wibawa, S.Pi, M.M
b. NIP : 198802252014041001
c. Pangkat / Golongan : Penata Muda Tingkat I/III B d. Jabatan Fungsional : -
e. Jurusan : Manajemen Bisnis
f. Fakultas : Teknologi Industri
g. Alamat Kantor : Gd. Teknik Industri, Kampus ITS, Jl. Raya ITS Keputih Sukolilo, Surabaya
h. Telp / HP / Fax : 031-5939361 / 081 330 316 326 / 031 5939362 3. Jumlah anggota : 9 orang
4. Jumlah mahasiswa yang terlibat : 4 orang 5. Mitra penelitian (jika ada)
a. Nama instansi mitra : Kampung Herbal Gencar Mandiri b. Contact person : Elly Witartiningsih
c. Jabatan : Ketua
d. Alamat : Jl. Genteng Candirejo 32, Surabaya e. Telp / HP / Fax : 081332429992
6. Biaya penelitian
a. Dana BOPTN ITS Rp. 16.000.000,- b. Sumber lain (sebutkan jika ada) Rp. ... Jumlah Rp.16.000.000,-
Menyetujui Surabaya, 24 Agustus 2015
Ketua Jurusan Manajemen Bisnis Ketua tim pengabdi
Imam Baihaqi, S.T, M.Sc, Ph.D Berto Mulia Wibawa, S.Pi, M.M NIP. 197007211997021001 NIP 198802252014041001
Mengetahui, Ketua LPPM ITS
Prof. Dr. Ir. Adi Soeprijanto, MT NIP 196404051990021001
4
RINGKASAN
Sentra Olahan Industri Herbal merupakan salah satu sentra industri binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kota Surabaya. Produk yang dijual meliputi minuman dan makanan ringan dari bebagai tanaman herbal seperti jahe, kencur, sinom, dan belimbing wuluh. Disperdagin Kota Surabaya berinisiatif mentransformasikan kampung/sentra binaan menjadi objek/tujuan wisata. Tujuan dari pengabdian ini adalah menganalisis kondisi model bisnis eksisting dan melakukan identifikasi terhadap value map dan customer profile dari Sentra Olahan Industri Herbal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Business Model Canvas (BMC) dan Value Proposition Design (VPD). Hasil pengabdian menunjukkan bahwa BMC dan VPD yang telah dianalisis dapat dijadikan sebagai landasan untuk pengembangan Herbal Village yang memiliki ciri khas unik bagi wisatawan, sekaligus mendorong terciptanya sustainabilitas bisnis dan pembangunan wisata di Kota Surabaya.
Kata Kunci : Business Plan, Value Proposition Design, Kampung Wisata, Herbal
SUMMARY
Center of Processed Herbs Industry is one of the industrial centers supervised by Department of Industry and Trade (Disperdagin) in Surabaya City. Products sold include drinks and snacks from various herbs such as ginger, kencur, sinom, and wuluh starfruit. Disperdagin has an initiative to transform the current center into a tourist attraction/destination. The purpose of this community service was to analyze the condition of the existing business models and identifying the value maps and customer profile of Center of Processed Herbs Industry. The method used in this study is the Business Model Canvas (BMC) and the Value Proposition Design (VPD). The results of community service showed that the BMC and the VPD that have been analyzed can used as the basis for of developing Herbal Tourism Village which has a unique characteristic for tourists, as well as encourage the creation of business sustainability and tourism development in Surabaya. Keywords: Business Plan, Value Proposition Design, Tourism Village, Herbal
5
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan sementara ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam pengabdian ini adalah Business Plan dan Value Proposition Design untuk Pembentukan Herbal Village Surabaya.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof. Dr. Darminto, MSc selaku Ketua LPPM ITS periode 2011-2015, Prof. Dr. Ir. Adi Soeprijanto, MT selaku Ketua LPPM ITS 2015-sekarang, Imam Baihaqi, S.T, M.Sc, Ph.D selaku Ketua Jurusan Manajemen Bisnis ITS, Nugroho Priyo Negoro, S.T, S.E, MT selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Bisnis ITS, Elly Witartiningsih selaku Ketua IKM Gencar Mandiri atas kerjasamanya dalam melancarkan kegiatan pengabdian ini, seluruh Dosen ITS yang terlibat dalam pengabdian ini atas kerjasama dan kerja keras yang telah dilakukan, mahasiswa Manajemen Bisnis ITS dan Teknik Industri ITS yang terlibat dalam pengabdian ini, dan seluruh pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga laporan sementara pengabdian masyarakat ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.
Surabaya, Agustus 2015
6
DAFTAR ISI
RINGKASAN ... 4 SUMMARY ... 4 PRAKATA ... 5 BAB 1 PENDAHULUAN ... 7 1.1. Latar Belakang ... 8 1.2. Perumusan Masalah ... 111.3. Tujuan, Manfaat, dan Dampak Pengabdian yang Diharapkan ... 11
1.4. Target Luaran ... 12
BAB II STRATEGI DAN PERENCANAAN KEGIATAN ... 14
2.1. Lokasi dan Waktu Pengabdian ... 14
2.2. Jenis dan Sumber Data ... 14
2.3. Pengolahan dan Analisis Data ... 14
2.4. Rencana Kegiatan Pengabdian ... 16
2.5. Keberlanjutan ... 18
BAB III CAPAIAN SEMENTARA ... 19
3.1. Kemajuan Pelaksanaan Pengabdian ... 19
3.2. Hasil Pengabdian dan Luaran yang Telah Diperoleh ... 19
3.2.1. Analisis Business Model Canvas (BMC) ... 19
3.2.2. Analisis VPD Existing ... 22
3.2.3. Implementasi Model Bisnis Herbal Village ... 23
3.2.4. Rencana Pembentukan “Herbal Village” ... 27
4.2.3. Pengembangan Kampung Wisata Herbal ... 30
3.3. Luaran yang Telah Diperoleh ... 31
3.4. Tahap yang Masih Harus Diselesaikan... 31
3.5. Kendala yang Dihadapi dan Solusinya ... 31
3.6. Timeline Jadwal Pengabdian ... 32
BAB IV KESIMPULAN SEMENTARA DAN RENCANA SELANJUTNYA ... 33
4.1. Kesimpulan Sementara ... 33
4.2. Rencana Selanjutnya ... 33
7
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Flowchart Rencana Kegiatan Pengabdian ... 17
Gambar 2 BMC Existing Sentra Olahan Industri Herbal ... 21
Gambar 3 VPD Existing Sentra Olahan Industri Herbal ... 23
Gambar 4 Rancangan Implementasi BMC Pembentukan Herbal Village ... 27
Gambar 5 Branding, Merchandise, dan Goodiebag Herbal Village ... 28
Gambar 6 Sketsa 2D Suasana Herbal Village (1) ... 29
Gambar 7 Sketsa 2D Suasana Herbal Village (2) ... 29
Gambar 8 Sketsa 2D Suasana Herbal Village dari Perspektif Gerbang Masuk ... 29
8
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Produk herbal merupakan produk dengan bahan dasar alami tanpa ada pencampuran unsur kimiawi di dalamnya. Produk herbal bisa terbagi menjadi berbagi spesifikasi produk, seperti produk kecantikan, makanan dan minuman, serta obat-obatan. Tentunya produk-produk herbal ini memiliki nilai jual yang cukup baik apabila diolah dengan kreativitas dan inovasi-inovasi baru, mengingat gaya hidup masyarakat masa kini yang cenderung lebih peduli dengan gaya hidup sehat. Semakin banyaknya masyarakat yang sadar mengenai gaya hidup sehat membuat semakin banyak pula individu maupun kelompok yang mencoba masuk dalam perindustrian produk herbal ini.
Setiap daerah berlomba-lomba dalam penciptaan dan branding kampung herbal masing-masing daerahnya, tidak terkecuali IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri yang berada di Kampung Herbal Desa Genteng Candirejo Surabaya. Warga Kampung Herbal Candirejo tergabung dalam IKM yang memproduksi aneka olahan produk herbal seperti minuman herbal siap minum (sinom, beras kencur, kunyit putih, kunyit asam, rosella, ekstrak kulit manggis, wedang pletok,sari kedelai, kacang hijau, dan temulawak), sirup herbal (sirup belimbing wuluh, sirup rosela, jahe secang), manisan, selai dan susu telur madu dan jahe (STMJ) instan. IKM ini diketuai oleh Elly Witartiningsih, dengan anggotanya berjumlah sepuluh orang yaitu Sunarti, Wiwik Sri H, Harini, Nur Cholifah, Elly Nurlela,Umi Salamah, Dewi Aisyah,Elly Sulistiowati, Elis, dan Hosniyah. Produk IKM Kampung Herbal diberi nama Gencar yang merupakan singkatan dari Genteng Candirejo. Sentra olahan ini mulai berproduksi sekitar tahun 2008 di mulai dari kegiatan pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) oleh para ibu-ibu PKK (Kelompok Tani). IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri pernah memperoleh juara III dalam lomba pengolahan TOGA tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2008. Kampung ini pun terkenal pula sebagai Kampung Eco Tourism. Warga yang tinggal bergotong-royong menanami lingkungannya dengan beragam tanaman hias. Kampung lawas dengan rumah-rumah bergaya arsitektur kolonial itu pun menghadirkan nuansa klasik dan eksotis.
Seiring berjalannya waktu, produk herbal yang dihasilkan oleh IKM tersebut saat ini cenderung hanya itu-itu saja, minim inovasi, dan pelaku bisnis di bidang makanan dan
9
minuman herbal saat ini sudah sangat banyak. Hal ini membuat produk yang dihasilkan sulit bersaing dengan produk-produk herbal, terlebih produk keluaran pabrik besar. Selain itu dalam perjalanan bisnisnya, IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri masih menghadapi berbagai kesulitan, terutama untuk ekspansi bisnis dan pasar. IKM tersebut sudah beroperasi selama hampir 7 tahun, tetapi saat ini belum memiliki suatu Business Plan dan metode bagaimana menciptakan Value Proposition Design untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang sebenarnya. Bisnis yang dijalankan saat ini berjalan seadanya, tanpa suntikan modal yang memadai untuk ekspansi bisnis kedepannya. Suntikan modal sulit didapatkan karena tidak adanya suatu Business Plan yang dapat meyakinkan investor atau penyandang dana bahwa bisnis yang sedang dijalankan memang layak dan prospektif di masa depan. Tidak adanya suatu Business Plan juga dapat menyebabkan minimnya kepercayaan keberhasilan IKM di masa depan, sehingga investor manapun akan ragu jika suatu saat hendak melakukan kerjasama.
Pada tahun 2015, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Surabaya memiliki rencana untuk membentuk Wisata Kampung dan Sentra Industri Kota Surabaya. Tahap persiapan pembentukan sudah dilaksanakan pada tahun 2014 yang lalu, dimana ITS melalui program Sociopreneur Camp membantu Disperdagin dalam menyusun
timeline pembentukan Wisata Kampung dan Sentra Industri Kota Surabaya. IKM Kampung
Herbal Gencar Mandiri menjadi salah satu kampung yang menjadi andalan Pemerintah Kota Surabaya dalam menjalankan program tersebut. IKM ini sudah berpengalaman menerima wisatawan baik domestik maupun internasional untuk melihat proses pembuatan produk sekaligus belanja produk olahan herbal yang dihasilkan. Produk yang unik serta kondisi kampung yang menarik untuk dikunjungi menjadi andalan dalam setiap kegiatan promosi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Permasalahan muncul ketika keinginan untuk membentuk, mengembangkan, dan merealisasikan program tersebut, terhambat oleh ketidakmampuan SDM internal di setiap kampung untuk membuat perencanaan bisnis dan peningkatan kualitas kampung secara detail dan matang. Peningkatan kualitas yang dimaksud adalah peningkatan kualitas infrastruktur kampung maupun produk/jasa yang ditawarkan. Kebanyakan kampung dan sentra industri yang dibina secara langsung oleh Disperdagin hanya menunggu instruksi dan bantuan langsung dari Dinas saja, sementara kemampuan Disperdagin sendiri terbatas.
10
Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dilakukan bantuan oleh ITS berupa bantuan penyusunan Business Plan, yang diharapkan dapat membantu kemudahan akses modal yang dibutuhkan oleh IKM. Terlebih ITS melalui mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis baru-baru ini memiliki presetasi juara 1 dan 2 pada Business Plan Competition Entrepreneur Creative Challenge (EURECA) 2015, yang diadakan di Prasetiya Mulya Business School. Hal ini menunjukkan bahwa ITS memiliki kompetensi yang tinggi dan sangat baik dalam hal menyusun sebuah Business Plan. Business Plan yang dibuat termasuk juga kegiatan memfasilitasi pengembangan produk IKM. Dengan modal tersebut, pengabdi yakin bahwa akan dihasilkan output berupa Business Plan berkualitas tinggi dan aplikatif yang kedepannya bisa digunakan oleh IKM untuk akses permodalan baik ke investor dan perbankan. Selain keperluan modal, Business Plan juga dapat mengurai kebutuhan bisnis secara keseluruhan mulai dari jumlah modal, jumlah karyawan, pemasok, biaya operasional, model bisnis, analisis risiko, dan segala aspek lain yang berhubungan dengan entitas bisnis. Semuanya ditulis dengan lengkap, sehingga dapat diketahui segala yang diperlukan untuk membangun suatu bisnis, dan menentukan strategi bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagai tambahan, pengabdi juga akan membantu IKM dalam membuat Value Proposition Design Canvas, yang berfungsi sebagai alat bantu bagi IKM dalam memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggannya secara baik.
Pengabdi dalam penyusunan Business Plan dan Value Proposition Design tidak hanya membantu dalam penulisan saja, tetapi juga melakukan pembinaan terhadap IKM dalam mendesain, mengembangkan, dan meluncurkan sebuah produk herbal yang berdaya saing di pasar dalam dan luar negeri melalui pembentukan wisata kampung herbal. Selain itu juga dalam kegiatan pengabdian ini, pengabdi sekaligus memfasilitasi peningkatan kemampuan sentra. Akan dilakukan penguatan melalui pengembangan kemampuan SDM, pengembangan teknologi, perluasan informasi, dan pengembangan pasar sentra. Setelah dilakukan studi pendahuluan pada akhir tahun 2014, IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri ini sebenarnya memiliki potensi untuk bisa dikembangkan lebih lanjut dan kualitas yang dimiliki tidak kalah dengan produk pesaing. Masalah utama yang dihadapi adalah minimnya modal untuk pengembangan wisata kampung dan tidak adanya inovasi pada produk yang dijual, baik diferensiasi produk, kemasan, branding, dan roadmap bisnis.
11
1.2. Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan diselesaikan pada pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penyusunan Business Plan untuk ekspansi bisnis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri dan mengembangkan produk herbal yang telah ada?
2. Bagaimana Value Proposition Design Maps untuk membantu IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan produk yang dihasilkan?
1.3. Tujuan, Manfaat, dan Dampak Pengabdian yang Diharapkan
Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1. Membantu IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri dalam rangka membentuk Wisata Kampung Industri Herbal Surabaya
2. Menyusun Business Plan untuk ekspansi bisnis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri dan mengembangkan produk herbal yang telah ada.
3. Menyusun Value Proposition Design Canvas untuk membantu IKM Kampung Herbal
Gencar Mandiri memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan produk yang dihasilkan.
Manfaat dari pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri, sebagai dokumen pendukung untuk ekspansi bisnis, agar meraih pendapatan yang lebih tinggi dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
2. Bagi investor/lembaga penyalur dana/pemerintah, sebagai informasi mengenai potensi dan prospek bisnis olahan herbal sebagai acuan untuk keputusan berinvestasi.
3. Bagi akademisi, dapat memanfaatkan hasil pengabdian ini sebagai salah satu alat bantu dalam menyusun rencana bisnis untuk industri olahan herbal terutama skala kecil dan mikro
12
4. Bagi mahasiswa, sebagai kesempatan dalam mengaplikasikan teori yang telah diperoleh selama perkuliahan di bidang entrepreneurship, sekaligus sebagai sarana berlatih dalam membuat Business Plan dan Value Proposition Design terhadap suatu bisnis rill yang telah berjalan.
Dampak dari pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1. Terbentuknya Wisata Kampung Industri Herbal Surabaya yang berdaya saing tinggi dan dapat memberikan kesan positif terhadap setiap wisatawan yang datang.
2. Business Plan yang dibuat dapat dijadikan dokumen bagi IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri untuk pendapatkan akses permodalan dalam rangka ekspansi bisnis, baik dari investor maupun perbankan.
3. Business Plan yang dibuat dapat membantu pengembangan bisnis secara terstruktur, dengan adanya roadmap bisnis yang dibuat. Termasuk kapan waktu yang tepat untuk meluncurkan produk baru, memasuki pasar baru, dan prosedur monitoring serta evaluasi.
4. Meningkatkan produktivitas IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri, terutama dalam menghasilkan produk olahan herbal baru yang memiliki nilai ekonomis tinggi untuk diperkenalkan kepada masyarakat.
5. Value Proposition Design yang dibuat dapat membantu pengembangan produk baru oleh IKM dalam rangka memenuhi keinginan konsumen terhadap produk herbal yang ideal.
6. Meningkatkan perhatian terutama dari kalangan akademisi terhadap IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri yang memiliki potensi bisnis yang tinggi dan prospek untuk dikembangkan lebih lanjut.
7. Meningkatkan kegiatan pengembangan ilmu, terutama bagi mahasiswa dalam rangka kegiatan belajar berinteraksi dan berkomunikasi dengan pelaku usaha secara langsung.
1.4. Target Luaran
Target luaran yang diharapkan dari pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
13
1. Satu (1) artikel yang dipublikasikan dalam Seminar Nasional.
2. Satu (1) proposal untuk ikut serta dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). 3. Satu (1) Tugas Akhir mahasiswa S1.
14
BAB II STRATEGI DAN PERENCANAAN KEGIATAN
2.1. Lokasi dan Waktu Pengabdian
Pengabdian dilakukan di IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri yang berada di Sentra Olahan Herbal Desa Genteng Candirejo Surabaya. Waktu pengabdian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Oktober 2015.
2.2. Jenis dan Sumber Data
Pengumpulan data bertujuan untuk mendapatkan gambaran dan keterangan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pengabdian yaitu Business Plan dan Value Proposition
Design. Data tersebut diharapkan dapat digunakan untuk pengambilan suatu keputusan.
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dengan pihak internal melalui Ketua IKM tentang segala aspek yang berkaitan dengan penyusunan Business Plan. Wawancara juga dilakukan para pakar pada bidang entrepreneurship yang sesuai. Setelah dibuat suatu Business Plan, data primer juga diperlukan untuk merumuskan Value Proposition Design yang diperoleh dari internal IKM dan konsumen produk herbal. Adapun data sekunder diperoleh melalui data internal IKM Kampung Herbal Gencar Mandiri, yaitu data pemasaran dan penjualan produk, data keluhan pelanggan, data produksi, dan strategi bisnis yang telah dijalankan. Data kompetitor dan industri herbal, analisis pemasaran, dan difusi inovasi produk baru pada Business Plan yang akan dibuat diperoleh melalui studi kepustakaan.
2.3. Pengolahan dan Analisis Data
Metode pengolahan data dilakukan secara kualitatif yaitu menganalisis kelayakan usaha ditinjau dari analisis industri, deskripsi perusahaan, tim manajemen dan struktur perusahaan, model bisnis, analisis pasar, rencana pemasaran, rencana desain dan pengembangan, serta jadwal secara keseluruhan. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis kelayakan usaha berdasarkan rencana finansial yang terdiri dari beberapa kriteria investasi seperti Payback Period, Break Even Point, Net Present Value, dan
Internal Rate of Return.
15
Payback Period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup kembali
pengeluaran investasi (Initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period merupakan rasio antara initial cash investment dengan cash inflow-nya yang hasilnya merupakan satuan waktu. Selanjutnya nilai rasio ini dibandingkan dengan maximum payback period yang dapat diterima. PBP diperoleh melalui rumus:
PBP =
1𝑎𝑏……….(1)
Keterangan:
1 = Jumlah modal investasi
Ab = Manfaat bersih rata-rata per tahun per periode
BEP diperoleh melalui rumus:
𝐵𝐸𝑃 =
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎−𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑇𝑒𝑡𝑎𝑝 ………(2)2. Net Present Value (NPV)
NPV merupakan nilai sekarang (present value) dari selisih antara (benefit) manfaat dengan cost (biaya) pada tingkat diskonto (bunga) tertentu. NPV diperoleh melalui rumus:
𝑁𝑃𝑉 = ∑
𝑛𝑡=0𝐵𝑡−𝐶𝑡(1+𝑖)𝑡...(3) Keterangan :NPV = Nilai bersih sekarang (Rupiah) Bt = Manfaat pada tahun ke-t (Rupiah) Ct = Biaya pada tahun ke-t (Rupiah) i = Tingkat diskonto (%)
n = Umur proyek (tahun) t = Tahun
Terdapat tiga kriteria investasi dalam metode NPV, yaitu: 1. NPV > 0, secara finansial proyek menghasilkan keuntungan.
16
3. NPV < 0, secara finansial proyek lebih baik tidak dijalankan karena akan menimbulkan kerugian.
3. Internal Rate of Return (IRR)
IRR adalah nilai Discount Rate (suku bunga) yang membuat NPV dari suatu proyek sama dengan nol. Proyek dapat dikatakan memiliki prospek yang baik apabila nilai IRR > tingkat discount rate yang ditentukan, namun jika IRR < tingkat discount rate maka proyek tidak memiliki prospek yang baik. IRR merupakan tingkat pengembalian yang dapat dibayar proyek atas sumber-sumber yang digunakan untuk menutupi pengeluaran investasi dan operasional selama umur proyek. IRR dapat dirumuskan sebagai berikut:
𝐼𝑅𝑅 = 𝑖
1+
𝑁𝑃𝑉𝑁𝑃𝑉1−𝑁𝑃𝑉2
(𝑖
2− 𝑖
1)
……….(4)Keterangan :
IRR = Tingkat internal hasil (%)
NPV1 = Nilai bersih sekarang bernilai positif (Rupiah) NPV2 = Nilai bersih sekarang bernilai negatif (Rupiah) i1 = Tingkat diskonto menghasilkan NPV positif (%)
i2 = Tingkat diskonto menghasilkan NPV negatif (%)
Diperlukan nilai IRR yang lebih besar dari bunga bank (tingkat diskonto) apabila ingin menutupi pengeluaran investasi dan operasional selama umur proyek.
2.4. Rencana Kegiatan Pengabdian
Dalam rangka mencapai tujuan pengabdian, disusun langkah-langkah pengabdian yang selengkapnya dijelaskan pada Gambar 1.
17 Potensi Manfaat Produk Olahan
Herbal
Potensi Ketersediaan Bahan Baku Olahan Herbal
Potensi Pasar Potensi Bahan baku
Business Plan Industry analysis Company Description Management and
Comp. Structure Business Model
Overall Schedule
Design and Dev.
Plan Marketing Plan Market Analysis
Financial Projection
Kelayakan Usaha
Value Creation for New Product Development by VPD
Rekomendasi Keberlangsungan Usaha
18
2.5. Keberlanjutan
Pada tahun 2015 rencana pengabdian hanya sampai dengan pengembangan Value
Proposition Design (VPD) Canvas pada wisata kampung. Pada tahun selanjutnya,
pengabdi memiliki program pendampingan bagi Wisata Kampung Industri Herbal Surabaya termasuk kegiatan monitoring dan evaluasi. Pada tahun selanjutnya pengabdi berencana membantu pembentukan Wisata Kampung pada industri yang lain, yang terlebih dahulu akan didiskusikan dengan pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Surabaya untuk memilih kampung yang potensial untuk dijadikan Wisata Kampung. Diharapkan dengan semakin banyaknya Wisata Kampung yang terbentuk, misi
Social-Preneurship yaitu kewirausahaan sosial yang bertujuan mensejahterakan industri kecil
19
BAB III CAPAIAN SEMENTARA
3.1. Kemajuan Pelaksanaan Pengabdian
Pelaksanaan pengabdian sudah mencapai 70 persen dari total rencana pengabdian yang diusulkan. Seluruh data yang diperlukan telah terkumpul, tetapi belum semuanya diolah sehingga business plan yang diusulkan masih belum lengkap. Analisis yang dilakukan diantaranya mengenai profil perusahaan, Business Model Canvas (BMC), Value
Proposition Design (VPD), dan rencana pembentukan kampung wisata (branding dan
desain layout pengembangan dalam bentuk 2D dan 3D)
3.2. Hasil Pengabdian dan Luaran yang Telah Diperoleh 3.2.1. Analisis Business Model Canvas (BMC)
Analisis BMC existing bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana model bisnis saat ini yang dijalankan oleh Sentra Olahan Industri Herbal Surabaya. Saat ini customer
segments yang dibidik oleh sentra yaitu pelajar TK-SMA dan penggemar minuman
herbal/jamu alami yang concern terhadap kesehatan. Saat ini penggemar minuman herbal/jamu alami kebanyakan adalah orang dewasa yang berusia diatas 35 tahun yang memiliki mindset bahwa minuman atau makanan berbahan baku herbal lebih baik daripada obat-obatan maupun vitamin yang beredar di pasaran yang telah tercampur dengan bahan kimia non-alami.
Value propositions yang ditawarkan yaitu sebagai produsen produk olahan herbal
alami tanpa bahan kimia dan pengawet. Produk yang dijual saat ini adalah aneka olahan produk herbal, seperti minuman herbal siap minum (sinom, beras kencur, kunyit putih, kunyit asam, rosella, ekstrak kulit manggis, wedang pletok, sari kedelai, kacang hijau, dan temulawak), sirup herbal (sirup belimbing wuluh, sirup rosela, jahe secang), manisan, selai dan susu telur madu dan jahe (STMJ) instan. Seluruh produk tersebut seluruhnya tidak menggunakan bahan kimia. Hal ini tentu dinilai cocok dengan customer segments yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu pelajar dan penggemar olahan herbal yang concern terhadap kesehatan. Akan tetapi hal ini sendiri juga berdampak pada umur dari produk yang menjadi relatif singkat. Selain itu metode pengolahan produk yang masih sangat tradisional,
20
sehingga belum memungkinkan untuk dilakukan produksi dalam skala yang lebih besar lagi termasuk untuk meraih segmen diluar customer segments yang telah ditetapkan.
Customer relationships yang berkaitan dengan pengelolaan hubungan dengan
pelanggan saat ini masih dalam bentuk sederhana dan belum memiliki sebuah model yang terpadu, yang memberdayakan seluruh IKM di sentra. Laman website yang saat ini tersedia masih sebatas media promosi oleh Disperdagin, belum sampai untuk pemesanan produk ataupun penciptaan hubungan baik dengan pelanggan. Jejaring sosial juga belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana promosi dan jual beli produk disebabkan masih terbatasnya skill pengelola sentra dalam hal online marketing.
Channels atau saluran penjualan dari sentra olahan herbal yaitu penjualan langsung
di sentra, depot, restoran, hotel, toko kelontong sekitar dan mini market seperti Alfamart Surabaya. Selain itu saluran penjualan juga terbentuk dari kerjasama dengan Disperdagin seperti pameran dan stan di beberapa pusat perbelanjaan. Saluran penjualan dengan metode
offline masih sangat mendominasi, sehingga dengan strategi yang telah dilakukan agak sulit
untuk memperkenalkan produk herbal yang dihasilkan kepada masyarakat yang tinggal diluar daerah Kota Surabaya.
Key activities saat ini masih terbatas pada aktivitas produksi dan pemasaran secara offline. Pemasaran dilakukan sendiri secara langsung oleh IKM ke sekolah-sekolah
terdekat, dan mengandalkan kerjasama dengan Disperdagin Surabaya untuk mengikuti pameran-pameran produk usaha mikro dan kecil yang diadakan baik oleh Pemprov Jatim maupun Pemkot Surabaya. Belum ada aktivitas riset dan pengembangan produk baru yang dilakukan oleh sentra, hal ini mengakibatkan varian produk masih dinilai kurang inovatif. Selain itu juga belum ada aktivitas yang berkaitan dengan penyambutan wisatawan, pembuatan paket wisata, ataupun membuat sejenis bazar produk herbal. Masih sedikitnya aktivitas kunci yang dilakukan oleh sentra juga disebabkan key resources yang dimiliki masih terbatas pada tenaga pengolah yang hanya memiliki keahlian dalam membuat produk herbal dan lokasi yang strategis di tengah Kota Surabaya.
Key partners yang paling utama adalah pemasok bahan baku tanaman herbal. Selain
itu mitra yang juga dirasa penting adalah supplier kemasan minuman, karena hingga saat ini IKM belum mampu membuat kemasan sendiri dan kebanyakan masih mengandalkan botol transparan konvensional yang diberikan label seadanya. Disperdagin juga menjadi
21
mitra karena merupakan instansi yang membina Sentra Olahan Industri Herbal melalui arahan pembinaan seperti pelatihan, workshop, dan pembimbingan melalui pendamping Sentra yang berasal dari internal Disperdagin sendiri. Koperasi sekitar juga menjadi mitra dalam memasarkan produk, walaupun jumlah dan volumenya masih tergolong kecil.
Cost structures yang timbul dalam menjalankan bisnis olahan herbal yang paling
besar adalah biaya bahan baku produk dan biaya operasional non-gaji. Biaya gaji karyawan tidak menjadi hal yang dianggap krusial karena bisnis ini mengandalkan keuntungan penjualan produk yang nantinya akan dilakukan sistem bagi hasil antara anggota IKM. Hal ini juga disebabkan tenaga kerja yang digunakan masih terbatas pada anggota keluarga masing-masing IKM yang tidak secara tertulis disebutkan gaji per bulan atau per siklus produksi. Adapun revenue streams saat ini hanya berasal dari penjualan aneka produk olahan herbal semata, tanpa adanya pemasukan dari aktivitas lain di sentra tersebut. Dalam 1 tahun terakhir Disperdagin dan ITS sempat menjadikan Sentra Olahan Industri Herbal untuk dijadikan sebagai objek wisata yang wajib dikunjungi oleh mahasiswa asing yang sedang melakukan kunjungan ke ITS, tetapi karena frekuensinya masih sangat sedikit dinilai belum menjadi sumber pemasukan yang berpengaruh signifikan terhadap sentra. BMC existing Sentra Olahan Industri Herbal selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 2.
22
3.2.2. Analisis VPD Existing
Analisis VPD existing bertujuan untuk agar suatu organisasi atau perusahaan dapat mendesain value proposition yang cocok dengan kebutuhan pelanggan dan membantu menyelesaikan permasalahan mereka (achieving fit) (Osterwalder et al, 2014). Berdasarkan hasil analisis akan didapat informasi mengenai rekomendasi BMC baru untuk pengembangan bisnis Sentra Olahan Industri Herbal yang memperhatikan 3 aspek value propositions yaitu products/services, gain creators, dan pain relivers, dan 3 aspek customer
profile yaitu customer jobs, customer pains, dan customer gains.
Berdasarkan hasil analisis pada blok customer profile, didapatkan informasi bahwa
customer jobs yang teridentifikasi terhadap aneka olahan produk herbal adalah membeli
produk, mengetahui proses pembuatan produk, berinteraksi dan mengenal budaya warga sekitar sentra, mengkonsumsi produk, dan mencari pengalaman baru. Customer pains yang dirasakan oleh pelanggan adalah sulitnya mendapatkan informasi mengenai profil sentra, adanya kekhawatiran karena tidak adanya jaminan kesehatan dan sertifikasi produk, keterbatasan penguasaan Bahasa Internasional oleh warga, produk cepat kadaluarsa karena disajikan tanpa bahan kimia dan pengawet, kemasan yang kurang menarik karena penyajian yang masih sangat tradisional, dan tidak konsistennya proses penjadwalan produksi.
Customer gains yang diperoleh oleh pelanggan antara lain produk olahan herbal yang
menyegarkan dan memiliki rasa yang khas dengan harga terjangkau, menambah wawasan dan pengetahuan terhadap pengolahan aneka produk herbal, dan pengalaman mengunjungi kampung herbal di tengah kota.
Pada blok product/service, diketahui bahwa saat ini yang ditawarkan oleh sentra masih terbatas pada aneka produk olahan herbal semata. Belum terdapat aktivitas yang menjual secara khusus paket-paket service seperti paket edukasi ataupun paket wisata herbal. Hal ini dinilai perlu menjadi perhatian sentra karena jika ingin membidik pasar pariwisata, maka tidak bisa hanya sebatas menjual produk saja, tetapi harus dilengkapi dengan paket service yang didalamnya secara otomatis sudah termasuk penjualan produk.
Gain creators yang diciptakan oleh sentra juga sebenarnya belum sepenuhnya memenuhi
apa yang diinginkan pelanggan. Saat ini gain creators yang dilakukan masih terbatas pada pengurusan izin legalitas produksi, kerjasama dengan Disperdagin dan ITS untuk membuat paket-paket wisata yang disesuaikan dengan kebutuhan turis, suasana klasik dengan desain
23
bangunan tipe kolonial yang dilengkapi dengan taman herbal, dan lingkungan sentra yang aman dan kondusif. Sementara itu pain relivers yang telah dilakukan oleh pihak sentra adalah meminimalisir jumlah cacat produksi, menyediakan produk olahan yang fresh dengan masa kadaluarsa maksimal, dan memberikan diskon bagi setiap turis yang datang berkunjung secara berkelompok lebih dari 10 orang. VPD existing Sentra Olahan Industri Herbal selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 VPD Existing Sentra Olahan Industri Herbal
3.2.3. Implementasi Model Bisnis Herbal Village
Berdasarkan analisis BMC dan VPD terhadap kondisi existing Sentra Olahan Industri Herbal, diketahui bahwa untuk meningkatkan volume penjualan dan kesejahteraan anggota sentra perlu adanya perubahan value propositions. Hasil analisis VPD pada blok customer jobs menunjukkan bahwa ternyata para pelanggan tidak hanya bermaksud untuk sekedar membeli produk herbal semata, tetapi juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terkait proses produksi olahan herbal yang mayoritas dikerjakan secara hand made. Pelanggan juga memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan warga sekitar sentra dan mencari pengalaman baru terkait kunjungan yang dilakukan.
Menurut kebanyakan responden, Sentra Olahan Industri Herbal memiliki keunikan dan kekhasan yang sulit didapatkan di tempat lain. Pendapat-pendapat responden pada saat
24
dilakukan FGD mengarah pada transformasi sentra menjadi sebuah kampung wisata, sehingga aktivitas sentra tidak sebatas difokuskan pada penjualan produk saja. Hal ini tentu saja merupakan peluang bagi sentra untuk ekspansi bisnis kedepannya. Tentu jika pengembangan kampung wisata dilakukan, aspek customer pains harus dievaluasi terlebih dahulu melalui peningkatan kualitas produk. Sebaran informasi, jaminan mutu dan kualitas produk, peningkatan kemampuan berbahasa internasional, perubahan kemasan, dan konsistensi produksi harus dibenahi terlebih dahulu agar pelanggan tidak lagi dikecewakan oleh hal-hal yang sebenarnya bisa dengan mudah diatasi.
Rekomendasi pengembangan bisnis dilakukan dari perubahan value propositions yang semula hanya sebagai produsen produk olahan herbal alami tanpa bahan kimia dan pengawet, menjadi kampung wisata dan edukasi produk herbal khas Kota Surabaya. Value
propositions yang lama dinilai sulit mengantar Sentra Olahan Industri Herbal menjadi
sebuah pemain besar, karena segmennya sangat terbatas dan skala usahanya masih kecil. Pendapatan total sentra yang masih dibawah Rp. 100 juta per tahunnya dengan kontribusi sebanyak 11 IKM yang tergabung didalamnya masih tergolong kecil. Marjin laba bersih yang rata-rata hanya 10 persen dari total penjualan menunjukkan bahwa total laba bersih sentra per tahunnya hanya berada di kisaran Rp. 10 juta saja, padahal jika dibagi rata kepada 11 IKM maka total keuntungan per IKM per tahunnya tidak sampai Rp. 1 juta. Hal inilah yang menjadi landasan dan dasar dimana harus ada inovasi bukan hanya dari segi product development semata, tetapi juga harus ada lini bisnis baru yang mengutamakan layanan jasa untuk mendongkrak pendapatan total sentra. Dampak yang diharapkan dari pembaharuan value propositions kedepannya adalah setiap IKM mampu memiliki laba bersih diatas Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya yang pada tahun 2015 mencapai Rp. 2,7 juta.
Dengan berubahnya value propositions tersebut, maka dalam perkembangannya Sentra Olahan Industri Herbal juga akan berganti nama menjadi “Herbal Village”. Diharapkan Herbal Village dapat mendorong IKM untuk dapat bersaing di era MEA sekaligus meningkatkan kualitas produk agar bisa diterima dengan baik oleh wisatawan, terutama wisatawan internasional. Herbal Village tetap memiliki komitmen mempertahankan pelanggan yang sudah lama, tetapi juga berupaya semaksimal mungkin dalam meraih pangsa pasar baru, dalam hal ini pasar wisatawan internasional dan domestik.
25
Herbal Village tidak hanya sekedar memproduksi aneka olahan produk herbal saja, tetapi juga menyediakan layanan kampung wisata yang didalamnya para pengunjung selain dapat berbelanja produk herbal juga sekaligus dapat mempelajari pengolahan produk herbal dan menikmati hiburan yang ditawarkan masyarakat setempat. Untuk wisatawan domestik dan mancanegara akan dibuatkan paket wisata, yang didalamnya sudah termasuk voucher berbelanja aneka produk herbal, melihat dan mempelajari proses produksi olahan herbal, hiburan atraksi dan live music dari penduduk setempat, dan photo session di sekitar area sentra yang kental akan nuansa kolonial klasik. Untuk pelajar akan didesain paket edukatif, dimana paket tersebut lebih memfokuskan pada pengenalan produk herbal kepada pelajar sekaligus mengajarkan gaya hidup sehat dengan herbal. Tentunya paket edukasi juga dilengkapi dengan hiburan yang menyesuaikan dengan kebutuhan pelajar dan berbeda dengan hiburan yang ditawarkan kepada wisatawan.
Pada model bisnis yang baru, perubahan value propositions ini mendorong terjadinya perbaikan di setiap blok kanvas. Terdapat penambahan customer segments yaitu wisatawan internasional dan domestik. Selain itu channels ditingkatkan lagi melalui strategi
multichannel marketing, dimana nantinya baik produk olahan herbal maupun paket wisata
akan dipasarkan secara online melalui website dan jejaring sosial. Kerjasama penjualan dengan toko ritel juga akan ditingkatkan tidak hanya terbatas pada Kota Surabaya saja, tetapi ekspansi ke daerah-daerah sekitar Kota Surabaya seperti Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Jombang, Madura, dan Malang.
Customer relationships dibuat melalui sebuah call centre khusus dan
mencanangkan program customer loyalty, dimana Kampung Wisata akan melakukan rekap data terhadap pelanggan dan wisatawan yang datang berkunjung untuk selanjutnya diberikan info promosi melalui e-mail atau SMS rutin yang diberikan setiap dua bulan sekali. Strategi ini dinilai penting dalam mempertahankan pelanggan yang telah puas dan sebagai masukan bagi pihak Herbal Village untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan yang diberikan. Herbal Village juga menambah revenue streams yang tidak lagi hanya mengandalkan penjualan produk olahan herbal saja, tetapi juga dari penjualan
merchandise herbal dan paket wisata yang ditawarkan kepada wisatawan internasional,
26
Penambahan aktivitas juga berlaku pada blok sebelah kiri BMC. Terjadi penambahan key activities yang semula hanya meliputi aspek produksi dan pemasaran secara offline, ditambah dengan pelayanan kunjungan wisatawan dan penjualan merchandise. Untuk mendukung aktivitas kunci berjalan dengan lancar, pihak Herbal Village perlu merekrut tenaga kerja handal yang khusus untuk memastikan kegiatan kunjungan wisata berjalan dengan lancar, dan tenaga kerja yang khusus untuk berjualan merchandise. Aktivitas ini tidak dapat dibebankan kepada IKM, karena memerlukan keahlian yang khusus di bidang manajemen pariwisata. Alternatif yang dapat dilakukan jika tidak dapat merekrut tenaga kerja baru yang handal adalah dengan memberdayakan karang taruna setempat untuk menjalankan pelayanan kunjungan wisatawan dan penjualan merchandise. Aktivitas tambahan yang lain adalah melakukan inovasi produk dan layanan baru secara berkala setiap tahunnya. Aktivitas ini akan bermitra dengan ITS, dimana akan banyak mahasiswa yang melakukan penelitian di Herbal Village dalam rangka pengembangan produk dan layanan.
Key resources selain tenaga pengolah produk herbal adalah aset fisik bangunan
kolonial klasik ditambah dengan tenaga kerja/karang taruna yang bertanggung jawab terhadap aktivitas pariwisata di Herbal Village. Pada blok key partners juga terjadi penambahan mitra yaitu dengan Dinas Pariwisata Kota Surabaya, distributor produk herbal nasional, travel agent, sekolah-sekolah di Jawa Timur yang rutin mengadakan karyawisata ke Surabaya, dan ITS untuk kerjasama pengembangan produk dan layanan baru. Tambahan cost structure terjadi pada biaya promosi, karena program Herbal Village diproyeksikan sangat gencar dalam melakukan promosi melalui media internet, ataupun dengan roadshow ke sekolah-sekolah di Jawa Timur. Rancangan implementasi BMC Herbal Village selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.
27
Gambar 4 Rancangan Implementasi BMC Pembentukan Herbal Village
3.2.4. Rencana Pembentukan “Herbal Village”
Pembentukan Herbal Village diawali dengan membangun branding sebagai identitas dasar. Dalam melakukan branding, nama “Herbal Village” sengaja dipilih agar memudahkan turis mancanegara menghapal dan memudahkan pencarian informasi di mesin pencari internet. Nama ini juga dipilih karena dinilai menjual dan menarik perhatian orang-orang yang mendengar brand tersebut oleh kebanyakan responden pada saat FGD. Selain branding, penyeragaman merchandise juga dilakukan sebagai cendramata dan kenang-kenangan sebagai bukti wisatawan tersebut telah berkunjung ke Herbal Village.
Merchandise yang ditawarkan antara lain, baju, gantungan kunci, sticker dan aksesoris
lainnya. Juga dibuat goodiebag eksklusif yang menerangkan Herbal Village pada bagian luar tas, sekaligus untuk ajang promosi. Pembuatan merchandise dan goodiebag direncanakan akan melibatkan karang taruna sekitar lokasi produksi sehingga dengan adanya kegiatan ini, warga sekitar juga dapat diberdayakan (Gambar 5).
28
Herbal Village dalam pengembangannya membutuhkan layout redesign agar dalam pelaksanaannya dapat memikat dan memberikan kesan yang menarik bagi setiap wisatawan yang berkunjung. Dengan memanfaatkan sumberdaya dan lahan yang tersedia, pembentukan Herbal Village lebih menitikberatkan kepada penciptaan suasana wisata yang memungkinkan wisatawan untuk melihat langsung proses produksi, berinteraksi dengan warga sekitar, menikmati hiburan, dan yang paling penting adalah berbelanja di Herbal Village. Langkah awal dalam layout redesign Herbal Village adalah membuat sketsa gambar 2D, yang digunakan sebagai landasan/basis untuk pengembangan desain selanjutnya dalam gambar 3D. Sketsa 2D digambar secara manual, sedangkan sketsa 3D dibuat dengan bantuan software Google Sketchup Sketsa rencana pembentukan Herbal Village dalam bentuk 2D selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 6, 7, dan 8, sedangkan bentuk 3D pada Gambar 9.
29
Gambar 6 Sketsa 2D Suasana Herbal Village (1)
Gambar 7 Sketsa 2D Suasana Herbal Village (2)
30
Modernisasi Gapura Depan Taman Herbal
Perspektif Atas Balai Desa
Toilet Perspektif Belakang
31
3.3. Luaran yang Telah Diperoleh
Target luaran yang telah diperoleh dari pengabdian masyarakat ini adalah sebagai berikut:
1. Satu (1) artikel yang dipublikasikan dalam Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXIII Program Studi MMT-ITS, Surabaya 1 Agustus 2015, dengan judul Business
Model Canvas dan Value Proposition Design untuk Pembentukan Kampung Wisata
Herbal Di Kota Surabaya (Published).
2. Satu (1) Tugas Akhir mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Bisnis ITS atas nama Triando Erisandi, dengan judul Perancangan Model Bisnis dengan Metode Value Proposition
Design dan Business Model Canvas Pada Sentra Olahan Herbal Di Surabaya (Selesai)
Target luaran yang masih dalam proses pelaksanaan adalah :
1. Satu (1) proposal untuk ikut serta dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
3.4. Tahap yang Masih Harus Diselesaikan
Dalam kegiatan pengabdian yang telah dilakukan, terdapat beberapa tahapan yang masih perlu dilakukan dan rencananya akan selesai pada awal Bulan September 2015, yaitu :
1. Analisis Manajemen dan Struktur Organisasi 2. Analisis Pemasaran
3. Perencanaan Pemasaran
4. Desain dan Rencana Pengembangan 5. Rencana Aksi
6. Proyeksi Keuangan
3.5. Kendala yang Dihadapi dan Solusinya
Sejauh ini kendala yang dihadapi adalah pengerjaan alur pengabdian yang urutannya tidak sesuai persis dengan flowchart rencana kegiatan, hal ini disebabkan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh tim pengabdi dan mahasiswa yang sedang mengejar deadline kelulusan. Solusi yang diterapkan adalah dengan melakukan pembagian tugas ke
32
dalam 3 kelompok, dimana setiap kelompok bertanggung jawab terhadap analisis dan tugas tertentu.
Pada akhirnya terdapat kelompok yang sudah menyelesaikan alur akhir pengabdian, tetapi ada juga yang ditugaskan mengerjakan alur awal tetapi sampai saat ini belum selesai dilakukan. Tetapi hal ini dinilai bukanlah masalah yang berarti karena kegiatan pengabdian ini yang terpenting adalah kelengkapan unsur business plan yang dibuat untuk membantu sentra mendapatkan dokumen ilmiah yang bisa ditunjukkan kepada investor yang berminat untuk menanamkan modalnya dalam pembentukan Herbal Village. Analisis dapat dilakukan secara parsial, tanpa mengurangi esensi penulisan business plan yang berkualitas.
3.6. Timeline Jadwal Pengabdian
Aktivitas Bulan
3 4 5 6 7 8 9 10
Studi Pendahuluan Pengumpulan Data Analisis Data
33
BAB IV KESIMPULAN SEMENTARA DAN RENCANA
SELANJUTNYA
4.1. Kesimpulan Sementara
Analisis BMC dan VPD existing telah menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa diperlukan perubahan value propositions pada Sentra Olahan Industri Herbal, dari yang sebelumnya sebatas produsen produk olahan herbal alami tanpa bahan kimia dan pengawet menjadi kampung wisata dan edukasi produk herbal khas Kota Surabaya. Selain itu untuk mendukung perubahan tersebut, juga perlu dilakukan penambahan customer segments baru yaitu wisatawan internasional dan domestik. Perubahan value proposition tersebut secara otomatis juga menambah aktivitas pada blok BMC yang lain, menyesuaikan dengan rencana pengembangan Herbal Village yang memiliki ciri khas unik bagi wisatawan sekaligus mendorong terciptanya sustainabilitas bisnis dan pembangunan wisata di Kota Surabaya. Berdasarkan hasil analisis sementara, pengembangan Herbal Village dapat memberikan banyak manfaat di masa depan, baik bagi sentra maupun Kota Surabaya. Herbal Village bagi sentra memiliki peran meningkatkan daya saing kampung, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, dan menumbuhkan usaha-usaha sekunder lain sebagai multiplier effect dari pembangunan Herbal Village. Sedangkan bagi Kota Surabaya, Herbal Village memiliki peran meningkatkan pariwisata dan menambah ikon unik wisata kampung di tengah kota, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan kota lain.
4.2. Rencana Selanjutnya
Rencana selanjutnya bagi pengabdian yang sedang dilakukan adalah menyelesaikan beberapa tahapan/analisis yang belum selesai, yaitu :
1. Analisis Manajemen dan Struktur Organisasi 2. Analisis Pemasaran
3. Perencanaan Pemasaran
4. Desain dan Rencana Pengembangan 5. Rencana Aksi
34
Adapun rencana selanjutnya bagi pengabdian yang akan dilakukan adalah menganalisis sentra/kampung lain di Provinsi Jawa Timur yang prospektif, unik, dan berpotensi untuk juga dikembangkan sebagai kampung wisata.
35
DAFTAR PUSTAKA
Afuah, A. (2004). Business Models, A Strategic Management Approach. New York: McGraw-Hill.
Ariyoto, K. (1990). Feasibility Study, Teknik Evaluasi Usaha Mutiara. Jakarta: Sumber Widya.
Barringer, B. R. & Ireland, R. D. (2010). Entrepreneurship: Successfully Launching New
Ventures. Upper Saddle River, New Jersey : Prentice Hall Inc.
Behrens, W. & P. M. Hawranek. (1991). Manual For The Preparation Of Industrial
Feasibility Studies. Vienna: United Nations Industrial Development
Organization.
Brown, R. D Dan G. J Pertrello. (1976). Introduction To Business, An Integration
Approach. Beverly Hills: Glenn Coe Press.
Djamin, Z. (1993). Perencanaan Dan Analisa Proyek, Edisi Ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI.
Edris M. (1993). Penuntun Menyusun Studi Kelayakan Proyek. Jakarta: Penebar Swadaya. Ibrahim, Y. (2003). Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Rineka Cipata.
Kasmir & Jakfar . (2007). Studi Kelayakan Bisnis (Edisi Kedua). Jakarta: Prenada Media Grup.
Magretta, J. (2002). Why business models matter. Harvard Business Review 80(5):86-92. Osterwalder, A. & Pigneur, Y. (2010). Business Model Generation. New Jersey : John
Wiley and Sons.
Porter, M. E. (1985). The Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. New York: Free Press.
Rangkuti, F. (2005). Business Plan : Teknik Membuat Perencanaan Bisnis Dan Analisis
Kasus. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Seddon, P.B., Lewis, G.P., Freeman, P., & Shanks, G. 2004. The case for viewing business models as abstractions of strategy. Communications of the Association for
Information Systems 13(25):427-442.
Sutojo, S. (2000). Studi Kelayakan Proyek. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo Umar, H. (2005). Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
U.S. Small Business Andministration, Business Plan Template, Small Business Training Network, http://www. sba.gov/training
Zott, C. & Amit, R. (2007). Business model design and the performance of entrepreneurial firms. Organization Science Journal, 18 (2): 181-199.
36