IV METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat memiliki 25 kabupaten/kota. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 10. Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan, yaitu dimulai dari Bulan Februari sampai dengan Mei tahun 2007. Penelitian ini dilakukan karena Jawa Barat memiliki potensi besar dalam memperbaiki pertumbuhan perekonomian khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masih relatif miskin dengan peningkatan sektor-sektor yang sedang berkembang khususnya sektor jasa perbankan dari pelaku ekonomi rumah tangga. Dimana Jawa Barat memiliki jumlah penduduk terbesar di Indonesia.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer pada penelitian dilakukan melalui observasi lapangan (field observation). Kegiatan ini dilakukan langsung di lapangan dengan melakukan wawancara (interview) terhadap rumah tangga sasaran.
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (Data SUSENAS 2002 dan 2005, Data Jawa Barat Dalam Angka, Indeks Pembangunan Manusia), Bank Indonesia (Data Sosial Ekonomi Daerah) dan instansi terkait serta pustaka yang relevan dengan penelitian. Data sekunder tersebut meliputi data rumah tangga berupa pendapatan, pengeluaran (konsumsi pangan dan non pangan), tabungan, kredit, dan sosial ekonomi rumah tangga lainnya. Alat yang digunakan adalah seperangkat komputer, alat tulis, dan perangkat lunak (software). Perangkat lunak yang digunakan terdiri dari E-Views 5, SPSS 11.5 dan
Tabel 1 Uraian tujuan, variabel, alat analisis, jenis dan sumber data
No Tujuan Variabel Teknik Analisa Jenis Data Sumber Data
1.
Menganalisis keterkaitan kredit dan konsumsi rumah tangga dengan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya - Pendapatan RT - Pengeluaran RT - Tabungan RT - Konsumsi RT - Kredit/meminjam RT - Pendidikan KRT - Umur KRT - Sektor Usaha - Jumlah Anggota RT - Analisis Statistik Deskriptif - Tabulasi Data - Analisis Ekonometrika Panel Data - Data primer, wawancara - Data sekunder - Responden - Data BPS, Susenas 2002 dan 2005
2. Menganalisis dampak persebaran spasial kredit dan konsumsi terhadap perekonomian regional Provinsi Jawa Barat
- Pendapatan RT - Pengeluaran RT - Tabungan RT - Konsumsi RT - Kredit RT - IPM - PDRB - Pertumbuhan Penduduk - Pertumbuhan Ekonomi - Jumlah Kantor Bank - Jumlah Kredit - Analisis Statistik Deskriptif - Analisis Indeks Kesenjangan Williamson - Analisis Panel Data - Analisis Korelasi Data
Sekunder - Data BPS, Susenas 2002 dan 2005 - Data BPS, Jabar Dalam Angka - Data Bappenas, HDI - Data BPS, Input Output - Data BI 3. Merumuskan implikasi kebijakan di Provinsi Jawa Barat dari hasil kedua butir diatas
Variabel dari kedua tujuan diatas
Analisis Deskriptif - Data sekunder - Data BPS, Susenas 2002 dan 2005 - Data BI 4.3 Metode Penelitian
Setelah dilakukan pengumpulan semua data (sekunder) dan data primer yang dibutuhkan kemudian dilakukan analisis sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut:
4.3.1 Keterkaitan Kredit dan Konsumsi Rumah Tangga dengan Faktor-Faktor Sosial Ekonomi Lainnya
4.3.1.1 Analisis Statistik Deskriptif untuk Melihat Karakteristik Peubah Sosial Ekonomi Rumah Tangga di Provinsi Jawa Barat
Analisis ini digunakan untuk menggambarkan karakteristik sosial-ekonomi rumah tangga pada tiap kabupaten/kota terhadap IPM. Gambaran ini penting untuk memberikan informasi-informasi tentang keadaan peubah yang dijadikan sampel. Analisis statistik deskriptif meliputi penyajian data dalam bentuk grafik, scatter guna memudahkan dalam pembacaan karakteristik peubah.
4.3.1.2 Model Ekonometrika dalam Hubungan Kredit dan Konsumsi Rumah tangga serta Faktor-Faktor Sosial Ekonomi Lainnya
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui keterkaitan serta dampak kredit dan konsumsi rumah tangga serta faktor-faktor sosial ekonomi lainnya. Hal ini didasarkan pada fenomena yang ada, dimana rumah tangga dicirikan dengan adanya hubungan yang sifatnya simultan antara pengeluaran dan pendapatan. Dalam penelitian ini, fokus perhatian pada model ekonomi dengan adanya penambahan dari dana kredit.
4.3.1.2.1 Spesifikasi Model
Model adalah representasi dari fenomena aktual. Karena itu model merupakan abstraksi dan simplifikasi dari suatu kondisi dunia nyata (Mankiw 2003). Menurut Koutsoyiannis (1979) pembentukan model bertujuan untuk menjelaskan perilaku ekonomi dari suatu unit individu (rumah tangga, perusahaan, lembaga pemerintahan) dan interaksi yang terjadi antar unit tersebut. 4.3.1.2.2 Fixed Panel Heterogenous Slope
Model fixed menggunakan peubah boneka untuk memungkinkan perubahan-perubahan dalam intersep-intersep kerat lintang dan runtut waktu akibat adanya peubah-peubah yang dihilangkan. Intersep hanya bervariasi terhadap individu namun konstan terhadap waktu sedangkan slopenya konstan baik terhadap individu maupun waktu. Jadi αi adalah sebuah grup dari spesifik nilai konstan pada model regresi. Formulasi umum model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar unit dapat diketahui dari perbedaan nilai konstannya. Kelemahan model efek tetap adalah penggunaan jumlah derajat kebebasan yang banyak serta penggunaan peubah boneka tidak secara langsung mengidentifikasikan apa yang menyebabkan garis regresi bergeser lintas waktu dan lintas individu.
4.3.1.2.2.1 Pendapatan Rumah Tangga
Pendapatan rumah tangga dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah modal, permintaan kredit, tabungan, umur, tingkat pendidikan. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
PTRit = ao + a1 PKit + a2 TABit + a3 UMRit + a4 TPKit + u1 Dimana :
PTR : Rata-rata pendapatan rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp)
PK : Rata-rata permintaan kredit/meminjam rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp)
UMR : Rata-rata umur kepala rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Tahun)
TPK : Rata-rata lama pendidikan kepala rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Tahun)
TAB : Rata-rata tabungan rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp) Tanda parameter dugaan yang diharapkan a1, a2, a3, a4 > 0
4.3.1.2.2.2 Permintaan Kredit Rumah Tangga
Permintaan kredit dalam penelitian ini diduga merupakan fungsi dari pendapatan yang siap dibelanjakan, tabungan, pengeluaran rumah tangga, tingkat pendidikan. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
PKit = b0 + b1 INCDit + b2 TABit + b3 EXPDit + b4 TPKit + u2 Dimana:
INCD : Rata-rata pendapatan siap dibelanjakan rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp)
EXPD : Rata-rata pengeluaran rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp) Tanda parameter dugaan yang diharapkan b1, b2, b3 > 0, b4
4.3.1.2.2.3 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga untuk Pangan
Pengeluaran konsumsi pangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan. Karakteristik rumah tangga yang dapat berpengaruh terhadap konsumsi pangan antara lain adalah jumlah anggota keluarga, pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, permintaan kredit dan konsumsi non pangan. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
CFODit = c0 + c1 JARTit + c2 PTRit + c3 TPKit + c4 PKit + c5 CNFOit + u3 Dimana:
CFOD : Rata-rata konsumsi pangan RT di wilayah i tahun ke t (Rp) JART : Rata-rata jumlah anggota keluarga di wilayah i tahun ke t (orang) CNFO : Rata-rata konsumsi non pangan RT di wilayah i tahun ke t (Rp)
CBJ : Rata-rata konsumsi untuk barang dan jasa RT di wilayah i tahun ke t (Rp) Tanda parameter dugaan yang diharapkan c1 > 0, c2, c3, c4,c5 < 0
Pengeluaran untuk barang dan jasa terkait erat dengan tingkat pendidikan, pendapatan yang siap dibelanjakan, tabungan, permintaan kredit, konsumsi pangan, pengeluaran untuk perumahan dengan fasilitasnya. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
CBJit = d0 + d1 TPKit + d2 INCDit + d3 TABit + d4 PKit + d5 CFODit + d6 CRMHit + u4
Dimana:
CRMH : Rata-rata konsumsi perumahan dan fasilitasnya RT di wilayah i tahun ke t (Rp)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan d1, d2, d3, d4 > 0,d5 < 0, d6 4.3.1.2.2.5 Pengeluaran Rumah Tangga untuk Perumahan dan Fasilitas
Pengeluaran rumah tangga untuk perumahan dan fasilitasnya dipengaruhi oleh benyak faktor. Faktor yang dapat diidentifikasi berpengaruh adalah tingkat pendidikan, pendapatan rumah tangga, tabungan, permintaan kredit, pengeluaran konsumsi pangan, pengeluaran barang dan jasa, pengeluaran barang-barang tahan lama. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
CRMHit = e0 + e1 TPKit + e2 PTRit + e3 TABit + e4 PKit + e5 CFODit + e6 CBJit + e7 CBTLit + u5
Dimana:
CBTL : Rata-rata konsumsi barang-barang tahan lama RT di wilayah i tahun ke t (Rp)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan e1, e2, e3, e4 > 0,e5, e6 < 0, e7 4.3.1.2.2.6 Pengeluaran Rumah Tangga untuk Barang-Barang Tahan Lama
Pengeluaran untuk barang-barang tahan lama merupakan fungsi dari tingkat pendidikan, pendapatan rumah tangga, tabungan, permintaan kredit, konsumsi pangan, konsumsi barang dan jasa. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
CBTLit = f0 + f1 TPKit + f2 PTRit + f3 TABit + f4 PKit + f5 CFODit + f6 CBJit + u6 Tanda parameter dugaan yang diharapkan f1, f2, f3, f4 > 0,f5 < 0, f6
Tabungan merupakan fungsi dari tingkat pendidikan, pendapatan rumah tangga, konsumsi pangan, konsumsi non pangan, permintaan kredit. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
TABit = g0 + g1 TPKit + g2 PTRit + g3 CFODit + g4 CNFOit + g5 PKit + u7 Tanda parameter dugaan yang diharapkan g1, g2, g3 < 0, g4,g5 > 0 4.3.1.2.2.8 Pendapatan Disposible Rumah Tangga
Pendapatan disposible (pendapatan yang siap dibelanjakan) adalah selisih antara pendapatan total rumah tangga dikurangi dengan pajak-pajak atau iuran-iuran yang dikeluarkan selama satu tahun. Persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
INCDit = PTRit - PJKit Dimana:
PJK : Rata-rata pajak atau iuran yang dikeluarkan RT di wilayah i tahun ke t (Rp) 4.3.1.2.2.9 Konsumsi/Pengeluaran Rumah Tangga
Konsumsi/pengeluaran rumah tangga adalah penjumlahan dari pengeluaran untuk konsumsi pangan dan konsumsi non pangan. Dengan demikian pengeluaran rumah tangga adalah persamaan identitas yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
EXPDit = CFODit + CNFOit
4.3.1.2.2.10 Konsumsi Non Pangan Rumah Tangga
Konsumsi non pangan adalah penjumlahan dari pengeluaran untuk barang dan jasa, pengeluaran untuk perumahan dengan fasilitasnya, pengeluaran untuk barang-barang tahan lama, pengeluaran untuk pajak dan iuran-iuran. Persamaan identitas yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
CNFOit = CBJit + CRMHit + CBTLit + PJKit + CBLit Dimana:
CBL : Rata-rata konsumsi barang-barang lainnya RT di wilayah i tahun ke t (Rp)
4.3.1.3 Analisis Korelasi antara Kredit, Konsumsi/Pengeluaran Rumah Tangga dan Indeks Pembangunan Manusia
Analisis korelasi merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua peubah sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam melihat ada atau tidaknya hubungan sebab-akibat antar peubah tersebut. Di dalam analisis korelasi sederhana, keeratan sifat antara dua peubah akan
ditunjukkan dari koefisien korelasi baik bertanda positif maupun negatif. Apabila dua peubah memiliki kecenderungan yang searah maka berkorelasi positif dan bila memiliki kecenderungan yang berlawanan arah maka berkorelasi negatif. Dua peubah disebut tidak berkorelasi atau tidak ada hubungan sama sekali, jika nilai koefisien korelasi mendekati nol.
Koefisien korelasi yang menyatakan besarnya hubungan antara dua peubah dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut (Walpole 1995):
(
)(
)
[
]
(
)
(
)
⎥⎦⎤ ⎢⎣ ⎡ − ⎥⎦ ⎤ ⎢⎣ ⎡ − − =∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
2 2 2 2 i i i i i i i i xy y y n x x n y x y x n rdimana : n = ukuran populasi
xi = nilai peubah x untuk anggota populasi ke-i yi = nilai peubah y untuk anggota populasi ke-i
4.3.2 Dampak Persebaran Spasial Kredit dan Konsumsi Rumah Tangga terhadap Perekonomian Regional Provinsi Jawa Barat
4.3.2.1 Analisis Statistik Deskriptif untuk Karakteristik Peubah Kredit dan Konsumsi Rumah Tangga terhadap Perekonomian Jawa Barat
Analisis ini digunakan untuk menggambarkan karakteristik, ciri kredit dan konsumsi tiap kabupaten/kota dari peubah yang ada terhadap PDRB. Gambaran ini penting untuk memberikan informasi-informasi tentang keadaan peubah yang dijadikan sampel. Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk scatter guna memudahkan dalam pembacaan karakteristik peubah. 4.3.2.2 Analisis Indeks Williamson
Rustiadi, et al. (2006), Indeks Williamson merupakan salah satu indeks yang paling sering digunakan untuk melihat disparitas antar wilayah. Pengembangan Indeks kesenjangan wilayah diformulasikan sebagai berikut:
Rumus : − − − ∑ = Y P Y Y Vw i i 2 ) ( Dimana :
Vw : Indeks Kesenjangan Williamson (Iw) Yi : PDRB per kapita wilayah ke-i
Y : Rata-rata PDRB per kapita provinsi
Pi : fi/n, fi = jumlah penduduk kab/kota, n = total penduduk provinsi Kriteria pengukuran adalah semakin besar nilai indeks menunjukkan variasi ekonomi antar region semakin besar pula dari masing-masing region dengan rata-ratanya, sebaliknya semakin kecil nilai ini menunjukkan pemerataan antar region yang baik.
4.3.2.3 Analisis Panel Data dalam keterkaitan antara Pembangunan Perekonomian Regional Jawa Barat dengan Sosial Ekonomi Rumah Tangga
Analisis ini dilakukan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto sebagai cerminan pembangunan wilayah Jawa Barat dalam mempengaruhi berbagai faktor sosial-ekonomi rumah tangga wilayah Jawa Barat. Model yang digunakan adalah:
PDRBit= f(EXPDit, PPit, KBit, PKit, TABit, PDPTNit) Dimana:
PDRB : Produk Domestik Regional Bruto di wilayah i tahun ke t (Rp, konstan 2000)
EXPD : Rata-rata pengeluaran/konsumsi RT di wilayah i tahun ke t (Rp) PP : Pertumbuhan penduduk di wilayah i tahun ke t (%)
KB : Jumlah kantor bank di wilayah i tahun ke t (unit)
PK : Rata-rata kredit/meminjam rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp) TAB : Rata-rata tabungan rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp)
PDPTN : Rata-rata pendapatan rumah tangga di wilayah i tahun ke t (Rp)
Sebagai model kuantitatif, model I-O mampu memberi gambaran menyeluruh tentang (BPS 2000):
1 Struktur perekonomian yang mencakup struktur output dan nilai tambah masing-masing kegiatan ekonomi di suatu daerah.
2 Struktur input antara (intermediate input), yaitu penggunaan barang dan jasa oleh kegiatan produksi di suatu daerah.
3 Struktur penyediaan barang dan jasa baik yang berupa produksi dalam negeri maupun barang-barang yang berasal dari impor.
4 Struktur permintaan barang dan jasa, baik permintaan oleh kegiatan produksi maupun permintaan akhir untuk konsumsi, investasi dan ekspor.
Sesuai dengan namanya, model I-O pada dasarnya berisikan gambaran mengenai saling keterkaitan suatu sektor yang digunakan sebagai input, baik untuk menghasilkan output sektor itu sendiri maupun sektor lain. Seperti diketahui, untuk menghasilkan output, suatu sektor memerlukan input baik berupa barang, jasa dan faktor produksi lainnya. Keterkaitan antara input dan output tersebut digambarkan dalam kerangka model I-O seperti tertera pada Tabel 2.
Tabel 2 Kerangka model input-output wilayah Permintaan antara Input Sektor 1 2 … N Permintaan akhir Total Output 1 X11 x12 … X1n F1 X1 2 X21 x22 … X2n F2 X2 … … … … Input Antara n xn1 xn1 … Xnn F3 X3 Input Primer/NTB V1 V2 … Vn Total Input X1 X2 … Xn
Sumber: Tabel Input-Output BPS 2000
Secara umum matriks dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 (empat) kuadran yaitu kuadran I, II, III, dan IV. Isi dan pengertian masing-masing kuadran tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kuadran I (Intermediate Quadrant)
Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara, yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Kuadran ini memberikan informasi mengenai saling ketergantungan antar sektor produksi dalam suatu perekonomian. Dalam analisa I-O kuadran ini memiliki peranan yang sangat
penting karena kuadran inilah yang menunjukkan keterkaitan antar sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya.
b. Kuadran II (Final Demand Quadrant)
Menunjukkan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan akhir adalah output suatu sektor yang langsung dipergunakan oleh rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok dan ekspor.
c. Kuadran III (Primary Input Quadrant)
Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan diluar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji), pajak tak langsung, surplus usaha dan penyusutan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut.
d. Kuadran IV ( Primary input-Final Demand Quadrant)
Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transkasi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara.
Format dari Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matriks berukuran “n x n“ dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendeskripsikan suatu hubungan tertentu. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap format Tabel I-O disajikan pada Tabel 2.
Isian angka-angka sepanjang baris (bagian horisontal) memperlihatkan bagaimana output suatu sektor dialokasikan, sebagian untuk memenuhi permintaan antara (intermediate demand) sebagian lagi dipakai untuk memenuhi permintaan akhir (final demand). Sedangkan isian angka menurut garis vertikal (kolom) menunjukkan pemakaian input antara maupun input primer yang disediakan oleh sektor-sektor lain untuk kegiatan produksi suatu sektor.
Apabila tabel tersebut dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut:
x11 + x12 + ...+ x1n + F1 = X1 x21 + x22 +... + x2n + F2 = X2 . . . . . xn1 + xn2 +... + xnn + Fn = Xn
dan secara umum persamaan di atas dapat dirumuskan kembali menjadi:
∑
= = + i j i ij Fi X x 1 ; untuk i = 1, 2,3 dstdimana xij adalah banyaknya output sektor i yang dipergunakan sebagai input oleh sektor j dan Fi adalah permintaan akhir terhadap sektor i serta Xi adalah jumlah output sektor i.
Sebaliknya jika Tabel 2 tersebut dibaca secara kolom (vertikal), terutama di sektor produksi, angka-angka itu menunjukkan susunan input suatu sektor. Dengan mengikuti cara-cara membaca seperti secara baris di atas, maka persamaan secara aljabar menurut kolom dapat dituliskan menjadi:
x11 + x21 + ...+ xn1 + V1 = X1 x12 + x22 +... + xn2 + V2 = X2 . . . . . x1n + x2n +... + xnn + Vn = Xn dan secara ringkas dapat ditulis menjadi
∑
= = + j i j j ij V X x 1 ; untuk j = 1, 2,3 dstdimana Vj adalah input primer (nilai tambah bruto) dari sektor j.
Berdasarkan persamaan di atas, jika diketahui matriks koefisien teknologi, aij sebagai berikut:
dan jika persamaan di atas saling disubstitusikan ke persamaan lainnya maka didapat persamaan sebagai berikut:
a11X1 + a12X2 +.. .+ a1nXn + F1 = X1 a21X1 + a22X2 + ... + a2nXn + F2 = X2 . . . . . an1X1 + an2X2 + ... + annXn + Fn = Xn
Jika ditulis dalam bentuk persamaan matrik, persamaan di atas akan menjadi persamaan berikut:
j ij ij X x a =
AX + F = X atau ( I - A ) X = F atau X = ( I - A )-1 F dimana:
I = matrik identitas yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya
F = permintaan akhir X = jumlah output ( I -A ) = matrik Leontief
( I - A )-1= matrik kebalikan Leontief
Dari persamaan di atas terlihat bahwa output setiap sektor memiliki hubungan fungsional terhadap permintaan akhir, dengan ( I - A )-1 sebagai koefisien antaranya. Matrik kebalikan ini mempunyai peranan penting sebagai alat analisis ekonomi karena menunjukkan adanya saling keterkaitan antara tingkat permintaan akhir terhadap tingkat produksi.
Multiplier
Dikenal multiplier Tipe I dan Tipe II. Multiplier tipe I dihitung berdasarkan matriks ( I - A )-1, dimana sektor rumah tangga exogenous. Bila sektor rumah tangga dimasukkan dalam matriks saling ketergantungan, dengan menambahkan satu baris berupa pendapatan rumah tangga adalah endogenous dalam sistem. Dalam multiplier tipe II, bukan dampak langsung dan tidak langsung yang dihitung tetapi termasuk pula dampak dari peningkatan pendapatan rumah tangga terhadap perubahan konsumsi rumah tangga, atau dikenal dengan “induced effect”.
Multiplier Pendapatan
Multiplier pendapatan mengukur peningkatan pendapatan akibat adanya perubahan output dalam perekonomian. Dalam Tabel I-O, yang dimaksud dengan pendapatan adalah upah dan gaji yang diterima oleh rumah tangga. Pengertian pendapatan disini tidak hanya mencakup beberapa jenis pendapatan yang umumnya diklasifikasikan sebagai pendapatan rumah tangga, tetapi juga dividen dan bunga bank. Untuk keperluan analisis, akan dihitung berbagai jenis multiplier baik Tipe I maupun Tipe II.
Tipe I: Dampak (H) Hi Vk : Bij Vkj
HiVk Multiplier(M) =
Dimana :
HiVk : dampak peningkatan permintaan akhir sektor i terhadap total input primer k
Bij : vektor kolom ke j dari matriks B
Vk : vektor baris koefisien teknologi input primer ke k
Vkj : koefisien hubungan langsung pemakaian input primer ke k untuk sektor j Tipe II: Dampak (H) Hi Vk : qij Vkj
HiVk Multiplier(M) =
Vkj Dimana :
qij : vektor kolom ke j matrik (i-D)-1
Vkj : vektor baris koefisien teknologi input primer ke-k
4.3.3 Analisis Deskriptif untuk Implikasi Kebijakan
Analisis ini dilakukan untuk memberikan implikasi-implikasi kebijakan dari keterkaitan kredit, konsumsi rumah tangga maupun faktor-faktor sosial-ekonomi lainnya dengan pembangunan perekonomian regional. Implikasi kebijakan ini ditujukan untuk pemerintah setempat dan perbankan (lembaga keuangan), masyarakat yang terkait.
Gambar 8 Kerangka analisis penelitian.
Data Susenas 2002 dan 2005 Pendapatan RT Pengeluaran RT Tabungan RT Umur KRT ∑ Anggota Keluarga Sektor Usaha Pendidikan KRT Kredit RT (Meminjam) Konsumsi Pangan Barang2 Tahan Lama Perumahan dan Fasilitas
Barang dan Jasa RT Pakaian Pajak dan Asuransi
IPM PDRB
Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan Penduduk
Jumlah Kredit Jumlah Kantor Bank Analisis Ekonometrika Panel Data Analisis Statistik Deskriptif Kesejahteraan Masyarakat Pembangunan Perekonomian Wilayah Implikasi Kebijakan • Ekonometrika • Korelasi • Analisis I-O