LAPORAN KEGIATAN
PELATIHAN PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN MENGENAI KERENTANAN
PEREMPUAN TERHADAP KEKERASAN DAN PENULARAN HIV BAGI PETUGAS PENDAMPING/
PENDIDIK SEBAYA
31 MARET – 2 APRIL 2015I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Meningkatnya jumlah kasus kekerasan pada perempuan dan remaja perempuan akhir-akhir ini semakin marak diberitakan melalui berbagai media. Melihat situasi tersebut, IPPI sebagai salah satu Jaringan Nasional Perempuan yang hidup dengan HIV melihat bahwa sangat penting memberikan penanganan yang lebih optimal bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan, khususnya pada perempuan HIV positif.
Program pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS sejak dilaporkannya kasus pertama hingga saat ini telah banyak dilakukan, hanya saja intervensi yang dilakukan lebih kepada aspek medis semata. Padahal dalam kaitannya dengan isu kesehatan, HIV merupakan salah satu dari banyaknya permasalahan kesehatan yang wajib ditangani oleh negara. Situasi dan kondisi perempuan yang selama ini terlihat dan penting untuk diperhatikan adalah ketidaksetaraan perempuan dalam memperoleh akses, partisipasi, kendali dan manfaat ke sarana serta prasarana kesehatan.
Konsep Gender perlu menjadi perhatian dalam program pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Persoalan ini tidak terlepas dari berbagai macam kepentingan, sehingga untuk mengurainya diperlukan sebuah cara pandang lebih luas terkait ekonomi, politik, sosial, serta budaya. Keterkaitan antara kekerasan terhadap perempuan dan penularan HIV merupakan salah satu jawaban dari banyaknya persoalan yang perlu terus menerus dikaji dalam proses aksi-refleksi.
Survei terkait kekerasan pada perempuan HIV positif yang pernah dilakukan IPPI pada tahun 2011 telah menunjukkan karakteristik pelaku dan korban dimana sebagian besar berada dalam rentang usia 25-40 tahun. Hasil analisa tersebut semakin diperkuat dengan dilakukannya penelitian kualitatif mengenai kekerasan pada perempuan HIV positif yang dilakukan di 8 Provinsi (DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Di Yogyakarta, Bali) di tahun 2013. Minimnya pengetahuan perempuan terkait kekerasan serta resikonya terhadap penularan HIV menjadi salah satu tantangan bagi perempuan untuk mendapatkan penanganan yang lebih cepat. Selain itu, budaya patriarkhi juga masih memiliki peranan penting dalam melanggengkan terjadinya kekerasan. Meskipun saat ini pemerintah telah berupaya keras melakukan upaya pencegahan dan perlindungan terjadinya kekerasan pada perempuan melalui sturan dan kebijakan nasional serta menyediakan fasilitas layanan penanganan korban kekerasan, hal tersebut belum cukup optimal tanpa didukung dengan adanya kesadaran korban dan juga ketersediaan sarana dan prasarana
layanan sesuai dengan Standard Pelayanan Minimal yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan.
B. DASAR PERTIMBANGAN
Salah satu kompenen Integrasi Layanan HIV dan Kekerasan Terhadap Perempuan adalah melatih petugas Konselor untuk dapat menerapkan model integrasi One Stop Service di Layanan. IPPI sebagai pelaksana program Integrasi Layanan HIV dan KtP berkewajiban untuk menyelenggarakan pelatihan Konselor untuk meningkatkan kapasitas pendamping dalam layanan HIV ataupun KtP. C. TUJUAN
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada pendidik sebaya, petugas penjangkau serta manajer kasus mengenai kerentanan perempuan terhadap kekerasan dan penularan HIV dalam upaya memberikan informasi terkait kedua isu tersebut dan mendorong klien nya untuk mengakses layanan yang dibutuhkan.
D. KELUARAN
1. Meningkatnya pemahaman pendidik sebaya, petugas penjangkau, manajer kasus mengenai kerentanan perempuan terhadap kekerasan dan penularan HIV
2. Pendidik sebaya yang telah dilatih dapat memberikan informasi mengenai kekerasan, HIV serta informasi mengenai ketersediaan layanan yang dapat diakses oleh klien.
3. Pendidik sebaya yang telah dilatih dapat memberikan dukungan sebaya dalam menindaklanjuti kasus kekerasan dan kaitannya dengan HIV kepada klien yang di dampingi 4. Pendidik sebaya memahami alur dan mekanisme dalam melakukan rujukan klien sesuai
dengan layanan yang dibutuhkan.
5. Pendidik sebaya (anggota IPPI) yang telah dilatih memahami bagaimana melakukan pencatatan dan pendokumentasian kasus kekerasan yang dialami oleh klien serta dapat melakukan koordinasi dalam menyampaikan laporan kasus kekerasan secara berkala.
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Pelatihan dilakukan pada tanggal 31 Maret s/d 2 April 2015 di Hotel Ibis Kemayoran Jakarta. B. Peserta
Kegiatan pelatihan pendamping dilaksanakan selama 3 hari yang hadir 18 dari 20 peserta orang yang diundang. Peserta hadir terdiri dari pendamping dari LSM HIV AIDS, Pendamping dari LBH dan pendamping dari jaringan. (daftar peserta terlampir)
C. Materi
Materi pelatihan yang diberikan bersifat teknis dan non teknis. Materi pelatihan yang disampaikan antara lain :
1. Informasi Dasar HIV dan AIDS
2. Integrasi Layanan HIV dan Layanan Penanganan KtP 3. Pemutaran Film "Impossible Dream
4. Pengertian Seks dan Gender
6. Bentuk - bentuk Ketidakadilan Gender
7. Permainan Jaring Laba-laba : "Mengapa Khodijah meninggal?"
8. Diskusi Kelompok : Identifikasi bentuk-bentuk KTP di 3 wilayah : Keluarga, Komunitas dan Negara yang sering di alami oleh perempuan dengan HIV
9. Perlindungan hukum bagi korban kekerasan 10. Pemutaran Film Suara Perempuan dan Diskusi Film 11. Pendalaman soal KTP dan identifikasi aturan terkait 12. Sistem hukum dan proses pembentukan hukum
13. Teknik pendampingan hukum bagi perempuan korban kekerasan 14. Penguatan psikologis bagi korban KTP (First AID)
15. Identifikasi Potensi Kekerasan dan HIV
16. Mekanisme rujukan penanganan kekerasan pada perempuan HIV 17. Identifikasi Layanan Kekerasan dan HIV
D. Metode
Penentuan materi Penentuan materi pelatihan berdasarkan :
Rekomendasi Lokakarya Integrasi HIV dan KtP di layanan, Medan di Hotel JW Marriot, 22 Oktober 2014 dan Jakarta di Hotel Acacia, 17 Oktober
Rekomendasi Lokakarya Integrasi HIV dan KtP pada komunitas di Hotel Aryaduta, 17 – 18 Desember 2014
Hasil temu informasi pada pertemuan Koordinasi Medan dan Jakarta per 3 bulan.
Dokumentasi Penanganan Kasus Kekerasan dan HIV dalam project Integrasi layanan HIV dan kekerasan terhadap perempuan.
Metode penyampaian materi menggunakan cara, yaitu: Ceramah Curah pendapat Diskusi Kelompok Studi kasus Bermain peran Diskusi Film
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Peserta Berdasarkan biodata yang dihimpun latar belakang peserta bervariasi, rata-rata pendididikan adalah SMA dan 1 orang Sarjana Hukum. Peserta merupakan pendamping baik HIV maupun KtP. Semua peserta dalam kegiatan ini adalah perempuan.
B. Respon Peserta Dari hasil pengamatan dan diskusi selama kegiatan pelatihan baik didalam kelas saat penyampaian materi maupun dalam praktek cukup baik dan dari hasil evaluasi sebelum penyampaian materi dan setelah penyampaian materi respon peserta cukup baik hal ini ditandai dengan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam
menjawab sejumlah daftar pertanyaan pre test dan pos tes yang diberikan. Terdapat peningkatan nilai sebesar rata-rata …%
C. (hasil pre dan post test terlampir)
Jumlah data. Hasil pre dan post tes yang terkumpul sebanyak 10 orang buddies di Jakarta.
Hal ini dikarenakan beberapa hal yaitu
Ada beberapa peserta yang datang tidak mengikuti pre tes atau pot tes karena datang
terlambat sehingga tidak mengikuti pre test atau pulang lebih awal di hari terkahir
sehingga tidak mengikuti post tes (tidak mengikuti pelatihan secara penuh dari awal
hingga akhir)
Ada beberapa peserta yang mengikuti test namun tidak menyerahkan hasil tesnya
kepada panitia (tidak dikumpulkan) yang dikarenakan alasan-alasan tertentu
Ada hasil tes yang terkumpulkan namun tidak ada nama sehingga tidak dapat
teridentifikasi identitas untuk dibandingikan antara pre dan post tes
Berdasarkan grafik diatas terlihat kenaikan pengetahusn dari peserta.
IV. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
Dari hasil pelaksanaan kegiatan pelatihan petugas konselor tersebut dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
i. Sejumlah Materi pelatihan yang disampaikan dapat dijadikan salah satu pedoman dalam melakukan identifikasi kasus kekerasan dan HIV dalam melakukan konseling atau proses pendampingan dalam lingkup HIV dan Kekerasan Terhadap Perempuan. ii. Dari sejumlah materi pelatihan dapat menjawab atau merupakan solusi bagi
permasalahan dan kebutuhan saat melakukan konseling / penanganan kasus yang ditangani. 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 Pre Post
iii. Melalui kegiatan pelatihan petugas konselor proses diseminasi dan penyebarluasan informasi integrasi HIV dan KtP dapat di lakukan dalam proses penanganan kasus yang ditemui dilapangan.
B. Tindak lanjut
Tindak lanjut dibuat secara berkelompok, masing-masing kelompok terdiri dari Pendamping dan konselor karena kegiatan ini dibuat secara pararel. Berikut adalah RTL dari setiap peserta:
Jenis Kegiatan Waktu Person In Charge
Internal Pendampingan Senin - Jumat
Penjangkauan Jam 09.00 - 17.00 Koordinator Lapangan Rujukan
Penyuluhan
Eksternal Berjejaring dengan layanan kesehatan Bulan Mei 2015 Yayasan Kusuma Buana Berjejaring dengan layanan/lembaga lain
Yayasan Anak dan Perempuan MoU dengan pihak layanan
Adanya SOP
Tim:
Yayasan Anak dan Perempuan Yayasan
Kusuma Buana
Jenis Kegiatan Waktu Person In Charge
Internal Pendampingan
Sesuai dengan kebutuhan Sosialisasi 1 bulan sekali
penyuluhan tiap kampung
Audiensi 1 bulan sekali
Pelatihan oleh LBH Apik -
Sharing Kasus 1 bulan sekali
Tim :
Bu Titin APIK
Bu Eni APIK
Nona Vivi Mitra Perempuan
Jenis Kegiatan Waktu Person In Charge Internal Peningkatan Kapasitas Internal untuk teman teman pendamping yang tidak mengikuti pelatihan kekerasan berbasis gender
April 2015
IPPI DKI Eksternal
Sosialisasi pada Kelompok
Dampingan Mei 2015 IPPI DKI
Tim: Winda
Cumink IPPI DKI Koprov Noviya IPPI DKI Wulan Sekretaris IPPI DKI Novi
Shanty
Jenis Kegiatan Waktu Person In Charge
Internal Kampanye Melek Hukum Minggu 2 April OPSI DKI Pertemuan Rutin (Kapasitasi) Minggu 3 April
KDS 12 April 2015 Penyuluhan dan pendampingan korban kekerasan (CLS) Minggu terakhir April Merujuk korban kekerasan
mulai dari sekarang Merujuk KD ke layanan HIV
mulai dari sekarang Eksternal Bekerja sama kapasitas/sharing informasi dengan LBH Minggu 1 Mei 2015 OPSI DKI Pertemuan Rutin KDS
bersama Kotex Mandiri
Minggu 2 Mei/ Setiap tgl 12
setiap bulan Eva Rosita Mengundang LBH terkait
dengan informasi kekerasan
Bekerja sama dengan pihak
layanan kesehatan Minggu 3 April Mirnawati Tim:
Eva R Tika ( Kotex)
Irma
Jenis Kegiatan Waktu
Person In
Charge CP
Internal OBRASS
sebulan sekali, minggu
ke-3 Mba Sri'e 83795480
Penyuluhan PPIA
Sebulan sekali,
tentative Rini, Lina,Srie 83795480 Penyuluhan di sekolah sebulan dua kali Mba Atik 8296163 Penjangkauan remaja
HIV 2 minggu sekali Wulan 89671612308
Pertemuan TOP
SUPPORT seminggu sekali Neneng 81299419974
Pengobatan HIV IMS
senin - jumat, jam 15.00
19.00 Mba Atik/Ali 8296163
Konseling HIV Senin-Kamis Mba Atik 8296163
Konseling Remaja Senin-Kamis
Home Visit tentative Top Support 83795480
Hospital Visit tentative Eksternal MRAN
Setahun sekali bulan
Mei YPI 83795480
OBRASS
sebulan sekali, minggu
ke-3 YPI 83795480 DANCe4LIFE Tim: Wulan Neneng Srie Lina