• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kota memiliki sifat yang dinamis yang akan terus mengalami perkembangan pada setiap waktu. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya mengakibatkan peningkatan kebutuhan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satunya yaitu kebutuhan infrastruktur jalan. Pembangunan infrastruktur secara fisik berupa jalan berguna untuk mendukung mobilitas penduduk serta meningkatkan aksesibilitas kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Menurut Ginting dan Navastara (2017) pergerakan di wilayah perkotaan yang tinggi merupakan sebuah tantangan besar dimasa yang akan datang bagi kota-kota di dunia. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang terus meningkat berdampak pada perkembangan kota kearah yang tidak berkelanjutan salah satunya dalam hal transportasi. Oleh karena itu, diperlukanya intervensi terhadap penggunaan transportasi yang saat ini marak digunakan agar dapat menggunakan transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Peningkatan mobilitas penduduk yang tinggi membutuhkan penyediaan moda transportasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan untuk menunjang pergerakan penduduk diperkotaan dalam menjangkau tempat-tempat yang dituju. Moda transportasi yang tersedia saat ini terbagi dalam dua jenis yaitu transportasi kendaraan bermotor seperti kendaraan umum dan pribadi dan kendaraan tidak motor seperti berjalan kaki dan bersepeda. Saat ini penggunaan kendaraan bermotor seperti kendaraan pribadi sudah sangat marak dan berdampak pada banyaknya kemacetan yang terjadi di pusat-pusat kota. Oleh karena itu, diperlukannya pengembangan terhadap penyediaan Non Motorized Transportation (NMT) karena ini menjadi aspek terpenting dalam sistem transportasi berkelanjutan, dimana NMT bersifat ramah lingkungan, aman, nyaman, efisien dan dapat mengintegrasikan berbagai moda transportasi lainnya (Jain, 2015). Penerapan NMT di Indonesia lebih sering diterapkan dengan cara berjalan kaki. Adapun kriteria yang perlu

(2)

2 diperhatikan dalam merancang jalur pejalan kaki yaitu kenyamanan, kenikmatan, keselamatan, keamanan, dan keekonomisan.

Kota Bandarlampung merupakan Ibu Kota Provinsi Lampung yang menjadi Pusat Kegiatan Nasional. Salah satu wilayah yang menjadi pusat kegiatan di Kota Bandarlampung berada pada Jalan Raden Intan dengan guna lahan yang beragam dan didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa serta digunakan sebagai simpul pergantian moda transportasi dalam kota. Berdasarkan RTRW Kota Bandarlampung Tahun 2011-2030, koridor Raden Intan termasuk kedalam Pusat Pelayanan Kota Tanjung Karang yang berfungsi sebagai perdagangan dan jasa, kesehatan, simpul transportasi darat. Dengan melihat kedudukan koridor Raden Intan terhadap daerah disekitarnya maka akan terdapat mobilitas yang tinggi pada lokasi ini sehingga diperlukannya penyediaan transportasi bermotor berupa kendaraan umum dan transportasi tidak bermotor yang tertata dengan baik untuk mendukung pergerakan pada koridor ini. Salah satu moda transportasi yang perlu diperhatikan pada koridor ini yaitu penyediaan jalur pejalan kaki. Hal ini dikarenakan sarana transportasi yang dapat menjangkau berbagai fungsi kawasan terutama pada kawasan perdagangan adalah berjalan kaki (Gideon dalam Mamuaja dkk., 2018:1134). Selain itu, berjalan kaki juga merupakan satu-satunya transportasi yang digunakan untuk melakukan pergerakan internal kota pada kawasan komersil dan kultural yang membutuhkan interaksi secara langsung. (Fruin dalam Sakinah dkk., 2018:82).

Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Agustina (2020) terhadap jalur pejalan kaki pada koridor Raden Intan diketahui bahwa tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki dilokasi tersebut memiliki nilai yang paling rendah. Hal ini dikarenakan berdasarkan penelitian tersebut yang meneliti aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan diketahui bahwa aspek keselamatan yang diteliti pada koridor Raden Intan menunjukkan bahwa tingkat pelayanan jalur pejalan kakinya memiliki pelayanan yang baik pada segmen 3, 4 dan 5, namun terdapat pelayanan jalur yang buruk pada segmen 1 dimana dalam kondisi tersebut berdampak pada ketidaknyamanaan pengguna yang cukup serius. Selain itu, berdasarkan aspek keamanan yang diteliti diketahui bahwa kualitas jalur pejalan kaki pada koridor Raden Intan yang dianalisis dengan analisis PEQI dihasilkan bahwa jalur pejalan

(3)

3 kakinya tergolong dalam klasifikasi jalur pejalan kaki dasar berdasarkan kualitas persimpangan sehingga dianggap cukup baik karena sudah memenuhi kualitas dasar jalur pejalan kaki. Sedangkan berdasarkan aspek kenyamanannya diketahui bahwa jalur pejalan kaki koridor Raden Intan memiliki nilai yang rendah karena banyaknya fasilitas jalur pejalan kaki yang belum tersedia dan kualitas jalur pejalan kaki yang dianggap buruk oleh pengguna karena masih banyaknya hamabatan pada jalur pejalan kaki.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandarlampung, salah satu priotas pembangunan jalur pejalan kaki berada pada jalan-jalan utama dengan aktivitas yang tinggi yang meliputi pasar, kawasan perdagangan dan jasa, serta stasiun, dimana ketiga kriteria tersebut terdapat pada Jalan Raden Intan.

Sumber: Peneliti, 2021

GAMBAR 1. 1

KONDISI EKSISTING JALUR PEJALAN KAKI JALAN RADEN INTAN

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa kondisi jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan masih belum susuai standar. Hal tersebut dapat dilihat dari kurangnya penyediaan sarana penunjang jalur pejalan kaki. Selain itu pada koridor ini banyak terdapat gangguan sementara seperti menjadi lapak bagi PKL, penumpukan barang pertokoan, dan parkir kendaraan. Berbagai hambatan tersebut mengakibatkan ketidaknyamanan pejalan kaki dalam melakukan pergerakan, sehingga banyak pejalan kaki yang memilih berjalan pada jalur kendaraan bermotor. Menurut Purnomo dan Setiawan (2015:131) kenyamanan merupakan salah satu nilai vital yang harus terpenuhi oleh suatu ruang agar dapat dinikmati oleh manusia ketika melakukan aktivitas didalamnya. Oleh karena itu, komponenn

(4)

4 kenyamanan menjadi nilai yang ditekankan dalam penyediaan jalur pejalan kaki agar dapat memberikan ketertarikan bagi pejalan kaki untuk melakukan aktivitas secara berkelanjutan. Jika dilihat berdasarkan kondisi eksistingnya masih terdapat berbagai permasalahan yang terjadi pada koridor Raden Intan, sehingga perlu diketahui persepsi pengguna terhadap kenyamanan jalur pejalan kaki pada koridor ini. Pemilihan persepsi pengguna dalam hal ini didasarkan pada fungsi utama dari pembangunan infrastruktur yaitu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia baik secara ekonomi maupun sosial agar tercapai kesejahteraan bagi masyarakat. Oleh karena itu, persepsi dalam penelitian ini digunakan untuk menilai keberhasilan tujuan pembangunan infrastruktur dari pemerintah terhadap jalur pejalan kaki yang ditinjau dari pengguna sebagai orang yang secara langsung menggunakan jalur tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan untuk mengetahui kondisi eksisting jalur pejalan kaki dan tingkat kenyamanan pengguna jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan. Melalui penelitian ini diharapkan luaran berupa konsep pengembangan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan yang dirancang dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan aspek kenyamanan pada koridor Raden Intan. Tujuan ini didasarkan dengan mengacu hasil pada penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kenyamanan jalur pejalan kaki pada koridor Raden Intan yang rendah. Selain itu, strategi terhadap peningkatan kenyamanan jalur pejalan kaki ini diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk berjalan kaki dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor yang berdampak pada berkurangnya tingkat kemacetan, penurunan polusi udara diperkotaan serta mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Sebagai kawasan yang memiliki fungsi sebagai zona wisata belanja karena didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa, pada Jalan Raden Intan seharusnya terdapat penyediaan moda transportasi NMT berupa jalur pejalan kaki sebagai moda transportasi yang dapat dengan mudah menjangkau berbagai sudut-sudut pusat perbelanjaan. Saat ini jalur pejalan kaki telah tersedia pada koridor Jalan

(5)

5 Raden Intan. Namun, pada koridor ini memiliki nilai PLOS yang rendah pada segmen 1 (Agustina, 2020). Hal tersebut dapat ditinjau dari kondisi ekisisting jalur pejalan kaki yang belum digunakan sesuai dengan fungsinya. Hal ini dapat ditinjau dengan banyaknya hambatan yang terjadi seperti adanya PKL, penumpukan barang pertokoan, dan tempat parkir bagi pengendara bermotor yang cukup mengganggu pejalan kaki dalam melakukan perjalanan, sehingga sering kali pejalan kaki yang melintasi jalur tersebut harus memilih jalur kendaraan sebagai tempat untuk berjalan.

Dengan adanya persoalan tersebut, maka penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki berdasarkan pengguna. Persepsi pengguna dipilih karena pengguna merupakan orang yang secara langsung menggunakan jalur pejalan kaki dan perlu untuk diutamakan kesejahteraannya dalam berjalan kaki. Dengan mengetahui kondisi eksisiting dan persepsi pengguna maka akan dapat dilakukan penyusunan konsep pengembangan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan. Melalui penelitian ini diharapkan akan meningkankan kinerja jalur pejala kaki terutama pada aspek kenyamanan sehingga mampu meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk berjalan kaki dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor yang berdampak pada berkurangnya tingkat kemacetan, penurunan polusi udara diperkotaan serta mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya maka yang menjadi pertanyaan penelitian yaitu “Bagaimana penyusunan konsep pengembangan jalur pejalan kaki dengan aspek kenyamanan pada kawasan perdagangan dan jasa berdasarkan persepsi pengguna di Jalan Raden Intan?”.

1.3 Tujuan dan Sasaran

Berdasarkan rumusan masalah dan pertanyaan penelitian yang telah dijelaskan diatas, maka terdapat tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk menyusun konsep pengembangan jalur pejalan kaki dengan aspek kenyamanan pada kawasan perdagangan dan jasa berdasarkan persepsi pegguna di Jalan Raden

(6)

6 Intan, Kota Bandarlampung. Sasaran yang diperlukan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi kondisi fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan Raden Intan, Kota Bandarlampung. 2. Mengidentifikasi persepsi pengguna jalur pejalan kaki berdasarkan aspek

kenyamanan di Jalan Raden Intan, Kota Bandarlampung.

3. Merumuskan konsep pengembangan jalur pejalan kaki pada koridor Jalan Raden Intan.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat secara teoritis dan praktis sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pendukung dalam penelitian serupa dikemudian hari yang berkaitan dengan konsep pengembangan jalur pajalan kaki sebagai salah satu contoh penerapan transportasi ramah lingkungan. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait perancangan jalur pejalan kaki yang nyaman sehingga mampu menarik masyarakat untuk berjalan kaki agar dapat mengurangi tingkat kemacetan yang terjadi karena banyaknya penggunaan kendaraan pribadi.

1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan mafaat praktis berupa masukan untuk meningkatkan pelayanan jalur pejalan kaki terhadap komponen kenyamanan pejalan kaki. Manfaat praktis dalam penelitian ini yaitu semua pemangku kepentingan dan pihak yang terlibat dalam perencanaan dan pembangunan jalur pejalan kaki sehingga mampu mengoptimalkan kinerja serta perannya dalam menunjang rencana pengembangan kawasan Transit Oriented Development di Jalan Raden Intan.

(7)

7 1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini terdiri dari ruang lingkup wilayah dan ruang lingkup substansi yang dijelaskan sebagai berikut.

1.5.1 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah pada penelitian ini ialah jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan, Kota Bandarlampung. Wilayah ini dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki fungsi kawasan sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) dan ditetapkan sebagai zona wisata belanja. Kawasan ini didominasi oleh kegiatan pada sektor perdagangan dan jasa. Selain itu, Jalan raden intan juga merupakan salah satu koridor yang menjadi wilayah simpul pergantian moda transportasi dalam kota. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandarlampung kawasan ini juga direncana menjadi kawasan Transit Oriented Development tepatnya di kawasan Stasiun Tanjung Karang. Pengembangan fasilitas pejalan kaki oleh pemerintah Kota Bandarlampung saat ini diprioritaskan pada jalan-jalan utama yang memiliki aktivitas tinggi meliputi pasar, kawasan perdagangan dan jasa, dan stasiun, sehingga Jalan Raden Intan menjadi wilayah yang di prioritaskan karena adanya berbagai kepentingan tersebut. Adanya penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Agustina (2020) terkait jalur pajalan kaki yang menunjukkan bahwa nilai Pedestrian Level of Service (PLOS) pada beberapa titik di Jalan Raden Intan dinilai rendah sehingga menimbulkan ketidanyamanan yang serius bagi pejalan kaki. Maka lokasi ini menarik untuk diteliti sebagai penelitian lanjutan terhadap hasil penelitian terdahulu.

Jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan memiliki panjang 1437,2 meter. Untuk memudahkan dalam melakukan survei maka cakupan wilayah dibagi menjadi 5 segmen agar dapat lebih rinci dalam mengamati. Pembagian segmen pada penelitian ini didasarkan pada koridor Raden Intan yang berfungsi sebagai kawasan wisata belanja berdasarkan RTRW Kota Bandarlampung, sehingga aktivitas yang terdapat disepanjang koridor ini adalah aktivitas perdagangan dan jasa. Selain itu, koridor ini juga memiliki beberapa titik pertemuan dengan ruas jalan lainnya, sehingga pembagian segmen pada penelitian ini mengacu pada adanya pertemuan ruas Jalan Raden Intan dengan ruas jalan lainnya.

(8)

8

 Segmen 1 : Depan pusat perbelanjaan Ramayana – pertigaan Jl. Pemuda. Segmen ini merupakan kawasan dengan guna lahan perdagangan dan jasa serta menjadi simpul transportasi karena pada segmen ini terdapat tempat pemberhentian bus dan angkutan kota serta berada dekat dengan Stasiun Tanjung Karang.

 Segmen 2 : Pertigaan Jl. Pemuda – pertigaan Jl. Kamboja (Bank BRI). Segmen ini merupakan kawasan dengan guna lahan perdagangan dan jasa yang sangat beragam.

 Segmen 3 : Petigaan Jl. Kamboja (Bank BRI) – pertigaan Jl. Tulang Bawang (Gramedia). Segmen ini merupakan kawasan dengan guna lahan perdagangan dan jasa serta terdapat sarana umum yaitu tempat peribadatan.

 Segmen 4 : Pertigaan Jl. Tulang Bawang (Gramedia) – pertigaan Jl. S. Parman. Segmen ini merupakan kawasan dengan guna lahan perdagangan dan jasa namun kegiatan jasa lebih menonjol pada segmen ini.

 Segmen 5 : Pertigaan Jl. S. Parman – Monumen Tugu Adipura. Segmen ini merupakan kawasan dengan guna lahan perdagangan dan jasa serta pada segmen ini berdekatan dengan kawasan taman kota yaitu Taman Gajah Lampung.

(9)

9

Sumber : Peneliti, 2021

GAMBAR 1. 2

(10)

10 1.5.2 Ruang Lingkup Substansi

Ruang lingkup substansi pada penelitian yang dikaji meliputi tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki di kawasan perdagangan dan jasa dengan studi kasus Jalan Raden Intan Kota Bandarlampung. Lingkup substansi yang dibahas tersebut adalah sebagai berikut.

Pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap banyaknya pergerakan yang terjadi pada suatu wilayah. Banyaknya pergerakan yang terjadi perlu didukung dengan adanya infrastruktur transportasi. Tujuan penyediaan transportasi yaitu memberikan kemudahan dalam pemindahan orang atau barang dari titik asal hingga ke tujuan (Sani, 2010). Sedangkan fungsi utama dari pembangunan infrastruktur yaitu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia baik secara ekonomi maupun sosial agar tercapai kesejahteraan bagi masyarakat. Saat ini terdapat dua jenis moda transportasi yang digunakan yaitu transportasi bermotor dan tidak bermotor. Perkembangan dan penggunaan transportasi bermotor yang tinggi memberikan berbagai permaslahan yang terjadi secara lingkungan, ekonomi, sosial maupun secara fisik. Oleh karena itu, NMT dijadikan sebgai moda transportasi yang yang paling efektif dan efisien dalam mendukung pergerakan di perkotaan serta dikembangkan untuk mengatasi permasalah yang ditimbulkan oleh penggunaaan transportasi bermotor. Manfaat lain dari penerapan NMT yaitu mengurangi polusi udara sehingga menjadikan lingkungan yang lebih sehat. Salah satu penerapan NMT yang paling sering dijumpai yaitu berjalan kaki. Menurut Gideon (dalam Mamuaja dkk., 2018:1134) suatu kota akan lebih manusiawi ketika terdapat moda transportasi berjalan kaki karena berjalan kaki merupakan sarana transportasi yang mampu menghubungkan berbagai fungsi kawasan terutama pada kawasan perdagangan, kawasan budaya, dan kawasan permukiman. Hal ini juga didukung oleh Unterman (dalam Indraswara, 2007:62) yang menyatakan bahwa pada pusat kota dengan guna lahan campuran lebih mengutamakan moda transportasi berjalan kaki karena lebih mudah dalam melakukan pergerakan dibandingkan menggunakan kendaraan bermotor.

(11)

11 Dengan meninjau pentingnya penyediaan jalur pejalan kaki sebagai moda transportasi yang paling baik untuk melakukan pergerakan terutama pada kawasan perdagangan dan jasa, maka pada penelitian ini akan menilai tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki berdasarkan persepsi pengguna. Persepsi pengguna dipilih sebagai responden pada penelitian ini karena pengguna merupakan orang yang secara langsung menggunakan dan mengetahui pelayanan dari jalur pejalan kaki yang tersedia, sehingga dalam hal ini persepsi digunakan untuk menilai keberhasilan tujuan pembangunan infrastruktur transportasi berupa jalur pejalan kaki. Oleh karena itu, nantinya diharapkan penelitian ini dapat mengetahui penyebab tinggi rendahnya kenyamanan pengguna dan mampu membuat konsep pengembangan jalur pejalan kaki dengan aspek kenyamanan pada kawasan perdagangan dan jasa berdasarkan persepsi pengguna untuk mengatasi permalahan yang terjadi sehingga jalur pejalan kaki pada koridor ini dapat memberikan kinerja yang optimal terutama dalam mendukung aksesibilitas dan mobilitas pada kawasan ini.

1.6 Metode Penelitian

Pada bagian ini akan dijelaskan terkait metode yang digunakan dalam penelitian. Adapun muatan pada bagian ini meliputi pendekatan penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data yang akan dijelaskan pada tiap sasaran penelitian.

1.6.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian deduktif dengan pendekatan kualitatif. Model deduktif dalam penelitian ini merupakan sebuah teori sebagai landasan dan alat selama penelitian ini berlangsung. Dengan metode deduktif ini, maka teori-teori yang telah dikemukakan sebelumnya pada penelitian terdahulu yang akan digunakan dalam penelitian ini untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan cara menggunakan teori tersebut sebagai alat ukur atau instrumen dalam membentuk sebuah hipotesis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian yang menggunakan teori terdahulu sebahgai acuan untuk melakukan analisis dalam penelitian ini.

(12)

12 1.6.2 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data primer dan data sekunder. Data-data yang dikumpulkan tersebut merupakan data yang menjadi bahan acuan dalam menganalisis sasaran penelitian. Metode pengumpulan data menjadi faktor penting untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan agar dapat menjawab tujuan penelitian yang diinginkan. Berikut penjabaran metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini.

1. Pengumpulan Data Primer

Pengumpulan data primer dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis dan mendapatkan jawaban dari pertanyan penelitian agar tujuan dalam penelitian ini dapat tercapai. Pengumpulan data primer merupakan teknik pengumpulan yang dilakukan secara langsung oleh peneliti ketika berada dilapangan. Teknik pengumpulan data primer ini dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut.

a. Observasi

Observasi merupakan kegiatan yang mengamati suatu objek menggunakan panca indera untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara nyata terhadap peristiwa maupun kejadian pada wilayah penelitian. Pengumpulan data dengan cara observasi dilakukan dengan cara mencatatan secara sistematik seluruh informasi yang dibutuhkan pada objek penelitian. Pada penelitian ini, metode pengumpulan data dengan cara observasi digunakan untuk memperoleh data pada saran pertama. Metode observasi akan digunakan untuk mengamati karakteristik fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan berdasarkan aspek kenyamanan, sehingga akan tergambarkan bagaimana kejelasan jalur pejalan kaki, hambatan, lebar jalur, ketersediaan ruang berteduh, ketinggian bangunan jalur pejalan kaki, perkerasan yang digunakan, kondisi lantai jalur pejalan kaki, ketersediaan lampu penerangan, ketersediaan pembatas jalur, ketersediaan bak sampah, ketersediaan pot tanaman, penataan desain jalur pajalan kaki, penyediaan dan penataan perambuan, melihat ketersediaan jalur khusus disabilitas dan melihat kondisi lingkungan yang terdapat

(13)

13 disepanjang koridor Raden Intan. Pelaksanaan observasi lapangan didukung dengan beberapa perlengkapan diantaranya adalah kamera yang digunakan untuk dokumentasi sebagai bukti observasi yang dilakukan dan perangkat observasi yang berisikan daftar kebutuhan data dan nantinya akan menghasilkan sebuah kalimat yang mendeskripsikan objek yang diteliti. b. Pedestrian Counting

Pedestrian counting merupakan teknik pengumpulan data primer dengan cara menghitung atau mencatat pergerakan pejalan kaki di lokasi penelitian. Metode ini digunakan untuk memperoleh data pada sasaran pertama yang berkaitan dengan komponen sirkulasi pada jalur pejalan kaki koridor Raden Intan. Dalam penelitian ini pedestrian counting digunakan untuk mengetahui banyaknya pejalan kaki pada hari libur dan hari kerja yang melalui jalur pejalan kaki pada koridor Jalan Raden Intan. Pelaksanaan pedestrian counting dilakukan dalam 3 waktu yang berbeda yaitu pagi, siang dan sore. Pemilihan waktu penelitian ini didasarkan pada waktu puncak, yaitu waktu dimana pejalan kaki ramai melewati jalur pejalan kaki pada lokasi penelitian. Lokasi titik pedestrian counting ini berada di sepanjang jalur pejalan kaki Jalan Raden Intan yang telah dibagi kedalam lima segmen. Melalui data pedestrian counting ini nantinya akan dilakukan perhitungan dan analisis untuk dapat memberikan luaran berupa Pedestrian Level Of Service (PLOS) pada setiap segmen di koridor Jalan Raden Intan.

c. Kuisioner

Kuesioner atau angket merupakan salah satu cara untuk memperoleh data dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan kepada responden untuk dijawab. Pembagian kuesioner kepada responden dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung maupun tidak langsung menggunakan pos atau internet. Pertanyaan pada kuisioner dapat berupa pertanyaan yang bersifat tertutup maupun pertanyaan terbuka (Sugiono, 2010). Pengumpulan data dengan metode kuisioner digunakan untuk memperoleh data pada sasaran kedua. Kuisioner pada penelitian ini bersifat tertutup dengan skala likert dan pertanyaan semi terbuka untuk mengetahui alasan pemiliha jawaban responden. Pada kuisioner ini responden akan menilai tingkat

(14)

14 kenyamanannya terhadap jalur pejalan kaki yang ditinjau dari kejelasan jalur pejalan kaki, keleluasaan berjalan, jalur pejalan kaki bebas hambatan, lebar jalur pejalan kaki yang memadai, pelayanan ruang berteduh, ketinggian jalur pejalan kaki, perkerasan jalur pejalan kaki, lantai jalur pejalan kaki tidak licin, pelayanan lampu penerangan, pembatas jalur pejalan kaki dengan jalur kendaraan, pelayanan bak sampah, penyediaan pot tanaman, desain jalur pejalan kaki menarik, penataan perambuan, dan jalur khusus disabilitas. Melalui pengumpulan data kuisioner ini nantinya akan dianalisis dan memberikan luaran berupa tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki berdasarkan persepsi pengguna.

2. Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara tidak langsung. Data sekunder ini didapatkan melalui data instansi maupun sumber lainnya yang didapatkan melalui berbagai media untuk mendukung penelitian yang dilakukan. Dalam penelitian ini data sekunder yang dibutuhkan ialah peraturan-peraturan terkait jalur pejalan kaki berdasarkan dokumen-dokemen yang telah diresmikan dan kajian literatur yang berkaitan dengan jalur pejalan kaki. Data tersebut nantinya akan dikelola dan dianalisis agar mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.

TABEL I. 1 KEBUTUHAN DATA

No Sasaran Kebutuhan Data

Teknik Pengumpulan Data Sumber 1 Mengidentifikasi kondisi fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki

Jumlah pejalan kaki Primer Pedestrian counting

Hambatan jalur

(15)

15 No Sasaran Kebutuhan Data

Teknik Pengumpulan Data Sumber berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan Raden Intan, Kota Bandarlampung. Fasilitas yang tersedia di jalur pejalan kaki Primer Observasi Kondisi lingkungan di jalur pejalan kaki

Raden Intan

Primer Observasi

2

Mengidentifikasi persepsi pengguna jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan Raden Intan, Kota

Bandarlampung.

Persepsi pengguna terhadap kenyamanan jalur pejalan kaki Jalan

Raden Intan Primer Kuisioner pengguna jalur pejalan kaki 3 Merumuskan konsep pengembangan jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan.

Kondisi fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki Primer Pedestrian counting dan Observasi Persepsi pengguna terhadap kenyamanan jalur pejalan kaki Primer Kuisioner pengguna jalur pejalan kaki Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sekunder Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.

(16)

16 No Sasaran Kebutuhan Data

Teknik Pengumpulan Data Sumber Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Perkotaan. 03 Tahun 2014 Sumber : Peneliti, 2021

1.6.3 Metode Pengambilan Sampel

Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi tertentu. Sedangkan populasi merupakan kumpulan seluruh subjek atau objek pada penelitian, apabila terdapat peneliti yang melakukan penelitian terhadap semua elemen yang terdapat pada wilayah penelitiannya, maka penelitiannya tersebut merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2002). Pada penelitian ini akan menggunakan dua jenis penelitian yaitu penelitian populasi dan penelitian sampel. Penelitian populasi akan digunakan pada sasaran pertama yaitu untuk meneliti jalur pejalan kaki disepanjang koridor Jalan Raden Intan, sedangkan penelitian sampel akan digunakan untuk meneliti sasaran kedua terkait persepsi pengguna terhadap jalur pejalan kaki koridor Raden Intan. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel untuk menjawab sasaran kedua pada penelitian ini ialah teknik non probability sampling. Non probability sampling merupakan teknik pengambilan sampel terhadap suatu populasi tertentu dengan tidak memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi. Teknik pengambilan sampel pada non probability sampling yang digunakan yaitu quota sampling. Quota sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak memperhitungkan jumlah populasinya melainkan sampel akan diklasifikasikan kedalam beberapa kelompok dan akan diberikan kuota pada tiap kelompok yang telah diklasifikasikan (Margono, 2004: 127). Besaran sampel yang akan digunakan pada quota sampling akan ditentukan lebih awal tanpa menggunakan perhitungan statistik (Budijanto, 2013). Karena pada teknik quota sampling tidak terdapat perhitungan statistik dalam menentukan sampel maka besaran sampel ditentukan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Roscoe dalam Sugiyono (2011) dimana

(17)

17 ukuran sampel yang layak digunakan dalam penelitian ialah antara 30 sampai 500 responden. Hal ini juga didukung oleh Fraenkel dan Wallen (1993:92) yang menyarankan besaran sampel yang digunakan dalam penelitian deskriptif yaitu 100 responden. Oleh karena itu, besaran sampel yang diambil pada penelitian ini yaitu 100 responden. Karena pada penelitian ini koridor Raden Intan dibagi kedalam 5 segmen maka kuota yang diberikan pada tiap segmennya adalah 20 responden dengan kriteria sampel yang ditetapkan untuk dapat menjadi responden dan relevan dengan tujuan penelitian ini adalah orang yang telah menggunakan jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan minimal satu kali perjalanan dalam kurun waktu satu minggu dan berusia minimal 16 tahun.

1.6.4 Metode Analisis Data

Metode analisis data merupakan proses yang dilakukan untuk menjawab sasaran dan tujuan pada sebuah penelitian yang telah ditentukan. Pada penelitian ini, metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.

Sasaran 1: Mengidentifikasi kondisi fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan Raden Intan, Kota Bandarlampung.

Pada sasaran pertama metode analisis yang akan digunakan untuk menjawab hal tersebut adalah analisis deskriptif dan analisis Pedestrian Level Of Service. Untuk menjawab sasaran ini, peneliti akan melakukan observasi terhadap kondisi fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek-aspek kenyamanan yaitu fasilitas jalur pejalan kaki yang terdiri dari sirkulasi, aksesibilitas, daya alam dan iklim, bentuk, keamanan, kebersihan dan keindahan jalur pejalan kaki. Untuk mendeskripsikan komponen sirkulasi pada sasaran ini digunakan analisis PLOS sehingga dapat diketahui seberapa besar kemampuan pejalan kaki untuk melakukan pergerakan. Analisis LOS ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan kenyamanan pengguna dalam melakukan pergerakan saat berjalan dengan cara pejalan kaki dapat berjalan dengan kecepatan yang sesui dengan keinginannya, mendahului penjalan kaki lain, dan dapat menghindari konflik dengan pejalan kaki lain disekitarnya. Penyajian data pada sasaran 1 ini akan ditampilkan dengan cara mendeskripsikan hasil observasi lapangan yang dilakukan pada tiap segmen.

(18)

18 Sasaran 2 : Mengidentifikasi persepsi pengguna jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan Raden Intan, Kota Bandarlampung.

Pada sasaran kedua metode analisis yang akan digunakan adalah analisis Importance Performance Analysis (IPA). IPA merupakan metode analisis yang digunakan untuk mengukur hubungan antara persepsi konsumen atau pengguna dengan prioritas peningkatan kualitas suatu barang atau jasa. Metode ini sangat mudah untuk diaplikasikan dan sudah seringkali digunakan dalam berbagai bidang kajian. Selain itu, hasil analsis IPA dapat memberikan tampilam hasil analisis yang mudah untuk usulan perbaikan kinerja (Martinez dalam Purba dkk., 2020:117). Kelebihan yang dimiliki pada metode ini ialah metode IPA mampu mengidentifikasi potensi dan permasalahan dari variabel penelitian yang digunakan oleh pengguna ke dalam 2 kriteria, pertama menunjukkan tingkat kepentingan dan kedua menunjukkan tingkat kinerja pelayanan. Dalam menentukan tingkat kinerja pelayanan dan tingkat kepentingan akan digunakan skala likert. Pada penelitian ini, skala likert akan digunakan sebagai alat ukur kenyamanan dan tingkat kepentingan pengguna jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan dengan metode survei data primer melalui angket kuesioner. Melalui skala likert ini maka responden diharapkan akan memberikan tanggapan terhadap pertanyaan muapun pernyataan yang diberikan dengan menentukan pilihan sesuai yang ia setujui. Pada skala likert terdapat 5 skala yang menjadi pilihan bagi responden. Jawaban responden pada skala likert dapat bervariasi dan dapat dibuat jawaban sesuai dengan tujuan penelitian (Rangkuti, 1997). Oleh dari itu, maka jawaban pada skala likert yang digunakan dalam penelitian ini dikategorikan ulang dan disesuaikan dengan penelitian yang akan dilakukan seperti di bawah ini.

TABEL I. 2 NILAI SKALA LIKERT Angka Pernyataan Tingkat

Kenyamanan

Pernyataan Tingkat Kepentingan 1 Sangat tidak nyaman Sangat tidak penting

2 Tidak nyaman Tidak penting

3 Nyaman Penting

4 Sangat nyaman Sangat penting

(19)

19 Adapun rumus yang digunakan dalam metode Importance Performance Analysis adalah sebagai berikut.

TKi = 𝑋𝑖

𝑌𝑖 x 100% Keterangan :

TKi = Tingkat kesesuaian responden Xi = Skor penilaian kenyamanan

Yi = Skor penilaian kepentingan atau harapan

Setelah diketahui tingkat kesesuaiannya, selanjutnya akan dilakukan pemetaan atau plot dari hasil perhitungan sebelumnya ke dalam diagram kartesius. Pada sumbu mendatar (𝑋̅) digunakan skor rata-rata terhadap tingkat kinerja berupa kenyamanan jalur pejalan kaki dan untuk sumbu tegak (𝑌̅) diguanakan skor rata-rata terhadap tingkat kepentingan atau harapan pengguna etradap jalur pejalan kaki. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut.

X ̅ = ∑ Xi n Y̅ = ∑ Yi n Keterangan : X

̅ = Skor rata-rata tingkat kenyamanan Y

̅ = Skor rata-rata tingkat kepentingan atau harapan n = Jumlah responden

Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang memiliki empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis berpotongan tegak lurus. Perpotongan tersebut dapat dicari menggunakan rumus berikut.

X ̿ = ∑ni=1X̅i k Y̿ = ∑ Yn̅i i k Keterangan : X

̿ = Skor rata-rata tingkat kenyamanan

Y ̿ = Skor rata-rata tingkat kepentingan atau harapan

k = Banyaknya atribut yang berpengaruh terhadap penilaian kepuasan Setelah didapatkan nilai dari perhitungan sebelumnya, maka selanjutnya adalah membagi atribut-atribur tersebut kedalam diagram kartesius sebagai berikut.

(20)

20 Y̅ Y ̿ X̿ X̅ Sumber : Supranto, 2001 GAMBAR 1. 3

DIAGRAM KARTESIUS IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS Keterangan :

1. Kuadran I: Menunjukkan bahwa atribut yang dianggap sangat penting oleh pengguna, akan tetapi atribut tersebut belum melaksanakannya sesuai keinginan pelanggan.

2. Kuadran II: Menunjukkan bahwa atribut yang digunakan telah berhasil dilaksanakan karena dianggap sangat penting dan sangat memuaskan. Oleh karena itu, atribut yang terdapat pada kuadran II wajib dipertahankan.

3. Kuadran III: Menunjukkan bahwa atribut yang digunakan dianggap kurang penting bagi pengguna dan kurang memuaskan.

4. Kuadran IV: Menunjukkan bahwa atribut yang digunakan kurang penting menurut pelanggan, akan tetapi pelaksanaannya berlebihan.

Sasaran 3 : Merumuskan konsep pengembangan jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan.

Untuk menjawab sasaran ketiga ini digunakan analisis deskriptif. Analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran terhadap konsep pengembangan jalur pejalan kaki yang dirancang berdasarkan aspek kenyamanan. Jawaban dari sasaran ini didapatkan melalui hasil analisis pada sasaran satu dan sasaran kedua yang

(21)

21 kemudian dilakukan triangulasi data. Triangulasi data merupakan sebuah teknik dalam melakukan penggabungan berbagai metode penelitian yang digunakan untuk mengkaji fenomena yang saling berhubungan yang dinilai dari berbagai perspektif (Denkin dalam Moleong, 2008). Triangulasi data dibedakan dalam triangulasi metode, triangulasi antar peneliti, triangulasi sumber data, dan triangulasi teori. Untuk dapat menjawab sasaran ketiga akan digunakan triangulasi metode yang dilakukan dengan cara pengumpulan informasi melalui berbagai metode yang berbeda, kemudian dibandingkan untuk memberikan informasi yang lebih valid. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode observasi untuk menggambarkan kondisi fisik dan lingkungan dan metode kuisioner untuk menggambarkan tingkat kenyamanan pengguna jalur pejalan kaki. Melalui triangulasi metode ini, data observasi yang telah di analisis untuk menjawab sasaran pertama dan data kuisioner untuk menjawab sasaran kedua, akan didapatkan luaran berupa konsep pengembangan jalur pejalan kaki pada koridor Raden Intan.

Sumber : Peneliti, 2021

GAMBAR 1. 4

LUARAN SASARAN PENELITIAN Sasaran 1

Karakteristik fisik dan lingkungan jalur pejalan

kaki berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan

Raden Intan.

Sasaran 2

Persepsi pengguna terhadap kenyamanan jalur pejalan kaki di Jalan

Raden Intan.

Sasaran 3

Konsep pengembangan jalur pejalan kaki di Jalan

(22)

22 Gambar di atas merupakan gambaran terhadap output dari setiap sasaran serta keterkaitan pada tiap sasaran pada penelitian ini. Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa luaran pada sasaran pertama adalah karakteristik fisik dan lingkungan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek kenyamanan di Jalan Raden Intan.

Luaran sasaran kedua yaitu Persepsi pengguna terhadap kenyamanan jalur pejalan

kaki di Jalan Raden Intan. Setelah mendapatkan luaran dari sasaran pertama dan

kedua, maka data tersebut akan digunakan untuk menganalisis sasaran ketiga dan menghasilkan luaran berupa konsep pengembangan jalur pejalan kaki pada kawasan perdagangan dan jasa Jalan Raden Intan.

(23)

23 1.7 Keaslian Penelitian

Sebelum penelitian ini dilakukan terdapat penelitian terdahulu yang digunakan sebagai referensi. Adapun perbedaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dapat dilihat pada tebel berikut.

TABEL I. 3

KEASLIAN PENELITIAN Penulis dan

Judul Fokus Metode

Lokasi Penelitian Hasil Muhammad Muslihun. 2013. Studi Kenyamanan Pejala Kaki Terhadap Pemanfaatan Jalur Pedestrian di Jalan Protokol Kota Semarang Mengetahui tingkat kenyamanan jalur pedestrian berdasarkan persepsi dan preferensi pengguna Analisis deskriptif persentase Jalan Pahlawan Mengetahui persepsi dan preferensi pejalan kaki terhadap kenyamanan jalur pejalan kaki di Jalan Pahlawan Feybe G. Kaliongga, Veronica A. Kumurur & Amanda Sembel. 2014. Kajian Aspek Kenyamanan Jalur Pedestrian Jalan Piere Tendean di kota Manado Tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki berdasarkan aspek sirkulasi, aksesibilitas, gaya alam dan iklim, keamanan, kebersihan dan keindahan Analisis deskriptif Jalur pedestrian Jalan Piere Tendean Sisi Barat Mengetahui kenyamanan jalur pejalan kaki di Jalan Piere Tendean Sisi Barat

(24)

24 Penulis dan

Judul Fokus Metode

Lokasi Penelitian Hasil Andi Purnomo dan M. Fathoni Setiawan. 2015. Tingkat Kenyamanan Jalur Pedestrian di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang Berdasarkan Persepsi Pengguna Tingkat kenyamanan jalur pedestrian berdasarkan persepsi pengguna terhadap kondisi fisik, keamanan, kenyamanan, dan fasilitas pelengkap jalur pejalan kaki Analisis deskriptif kualitatif Kawasan Simpang Lima Kota Semarang Mengetahui kenyamanan jalur pejalan kaki di Kawasan Simpang Lima Kota Semarang Anggi Agustina, Dr. Rahayu Sulistyorini, S.T., M.T., dan Goldie Melinda Wijayanti, S.T., M.T. 2020. Upaya Peningkatan Kualitas dan Tingkat Pelayanan Jalur Pejalan Kaki di Kawasan perdagangan dan Jalan Raden Intan Mengidentifikasi tingkat pelayanan jalur pejalan kaki berdasarkan kondisi fisik dan upaya peningkatan kualitas jalur pejalan kaki berdasarkan persepsi masyarakat Analisis deskriptif, analisis PEQI dan analisis LOS Jalan Raden Intan Mengetahui tingkat pelayanan dan kualitas jalur pejalan kaki Jalan Raden Intan dan upaya untuk meningkatkan nya

(25)

25 Penulis dan

Judul Fokus Metode

Lokasi Penelitian Hasil Chindy Marindra Sari, Dr. Rahayu Sulistyorini, S.T., M.T., dan Goldie Melinda Wijayanti, S.T., M.T. 2021. Perancangan Jalur Pejalan Kaki di Kawasan Pendidikan Dengan Skenario Tatatnan Baru Merancang jalur pejalan kaki yang disesuaikan dengan tatanan baru akibat adanya pandemic covid-19. Analisis deskriptif, analisi konten, dan analisis perencanaan tapak. Kawasan Pneidikan, Jalan Endro Suratmin Rancangan jalur pejalan kaki dengan skenario tatanan baru pada kawasan pendidikan

Sumber: Hasil Kajian Literatur, 2021

Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian yang telah ada sebelumnya yaitu penulis meneliti tentang kenyamanan jalur pejalan kaki di kawasan perdagangan dan jasa Jalan Raden Intan. Luaran dari penelitian ini yaitu konsep pengembangan jalur pejalan kaki dengan aspek kenyamanan pada kawasan perdagangan dan jasa berdasarkan persepsi pengguna di Jalan Raden Intan. Dalam penelitian ini fokus penelitian berada pada komponen aspek kenyamanan yang terdiri dari sirkulasi, aksesibilitas, daya alam dan iklim, bentuk, keamanan, kebersihan dan keindahan jalur pejalan kaki yang dinilai berdasarkan kondisi eksisting dan persepsi pengguna jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan menggunakan metode analisis deskriptif dan Importance Performance Analysis (IPA) .

(26)

26 1.8 Kerangka Berpikir

Sumber: Peneliti, 2021

GAMBAR 1. 5 KERANGKA BERPIKIR

(27)

27 1.9 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan tentang latar belakang peneliti terhadap topik yang akan diangkat. Pada bagian ini juga akan menjelaskan rumusan masalah sehingga dapat dirumuskan pertanyaan penelitian, menentukan tujuan dan sasaran yang akan dicapai melalui penelitian ini. Selain itu, peneliti juga kan menjelaskan alur berpikir dalam penelitian yang dilakukan dan sistematika penulisan pada penelitian ini. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bagian ini akan menjelaskan terkait literatur yang digunakan untuk mendukung dan memberikan batasan pada penelitian ini terkait pejalan kaki, fasilitas jalur pejalan kaki dan kenyamanan jalur pejalan kaki. Pada bab ini juga terdapat sintesis penelitian yang menjadi acuan dalam penelitian ini melalui penelitian terdahulu. BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

Bagian ini menjelaskan tentang lokasi studi yang dipilih dalam penelitian ini yang berisikan gambaran umum wilayah secara makro dam mikro yang mencakup Kota Bandarlampung dan gambaran umum terkait jalur pejalan kaki di Jalan Raden Intan.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHSAN

Pada bagian ini akan menjelaskan terkait hasil penelitian yang didapatkan melalui analisis kondisi eksisiting jalur pejalan kaki, analisis tingkat kenyamanan jalur pejalan kaki berdasarkan persepsi pengguna dengan metode IPA, dan analisis deskriptif untuk mengetahui konsep pengembangan jalur pejalan kaki pada Jalan Raden Intan.

BAB V KESIMPULAN

Pada bagian ini akan memaparkan kesimpulan dari hasil analisis yang telah dilakukan pada penelitian terhadap kenyamanan jalur pejalan kaki di Jalan Raden. Selain itu juga terdapat rekomendasi yang diberikan kepada seluruh stakeholder dalam penyediaan dan penggunaan jalur pejalan kaki, penelitian lanjutan dan keterbatasan penelitian yang terdapat pada penelitian ini.

Gambar

TABEL I. 1   KEBUTUHAN DATA
TABEL I. 2   NILAI SKALA LIKERT  Angka  Pernyataan Tingkat
DIAGRAM KARTESIUS IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS  Keterangan :
GAMBAR 1. 5   KERANGKA BERPIKIR

Referensi

Dokumen terkait

Petisi, yang pertama diselenggarakan oleh ilmuwan individu yang mendukung teknologi RG telah menghasilkan lebih dari 1.600 tanda tangan dari ahli ilmu tanaman mendukung pernyataan

Secara parsial, variabel kualitas layanan yang terdiri dari: dimensi variabel bukti fisik (tangibles) dan empati (emphaty) berpengaruh secara signifikan dan

Berbagai dikotomi antara ilmu – ilmu agama Islam dan ilmu – ilmu umum pada kenyataannya tidak mampu diselesaikan dengan pendekatan modernisasi sebagimana dilakukan Abduh dan

Sekolah harus melakukan evaluasi secara berkala dengan menggunakan suatu instrumen khusus yang dapat menilai tingkat kerentanan dan kapasitas murid sekolah untuk

BILLY TANG ENTERPRISE PT 15944, BATU 7, JALAN BESAR KEPONG 52100 KUALA LUMPUR WILAYAH PERSEKUTUAN CENTRAL EZ JET STATION LOT PT 6559, SECTOR C7/R13, BANDAR BARU WANGSA MAJU 51750

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

Dari hasil perhitungan back testing pada tabel tersebut tampak bahwa nilai LR lebih kecil dari critical value sehingga dapat disimpulkan bahwa model perhitungan OpVaR

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang berasal dari fosil yaitu minyak bumi dan batubara. Jawaban