• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROCEEDING SEMINAR HASIL-HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Pharmacist s Role in Drug Abuse

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROCEEDING SEMINAR HASIL-HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Pharmacist s Role in Drug Abuse"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

PROCEEDING 2017

SEMINAR HASIL-HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

“Pharmacist’s Role in Drug Abuse” Pembina

dr. pramesti Dewi, M.Kes Reni Dwi S, S.KM, M.PH

Penanggungjawab

Ema Wahyu Ningrum, S.ST, M.Kes

Sekretaris

Etika Dewi Cahyaningrum, S.ST, M.Kes

Editor

Fauziah Hanum N A, S.ST, M.Keb Rosi Kurnia Sugiharti, S.ST, M.Kes

Ikit Netra Wirakhmi, S.ST, M.Kes Susilo Rini, S.ST, M.Kes

Reviewer

Dr. Saryono, S.Kp, M.Kes

Siwi Pramatama Mars W, S.Si., M.Kes., Ph.D

Desain Cover dan Layout

Reza Rokhadi

Diterbitkan oleh :

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Harapan Bangsa Purwokerto

Jl. Raden Patah No.100 Ledug Kembaran Banyumas Telp. 0281-6843493, Fax. 0281-6843494

Email : [email protected] Cetakan Pertama

Purwokerto, 29 November 2017 ISBN : xxx-xxx-xxxx-xx-x

Hak cipta dilindungi Undang Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur senantiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayatnya sehingga kami Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa Purwokerto dapat menyelenggarakan seminar hasil-hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat “Pharmacist’s Role in Drug Abuse”.

Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi para akademisi dan praktisi dibidang kesehatan terutama kebidanan, keperawatan, dan farmasi untuk mendesiminasikan hasil-hasil penelitiannya sehingga diharapkan dengan tersampaikannya hasil-hasil penelitian tersebut dapat bermanfaat untuk membantu meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan, keperawatan, dan farmasi.

Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 29 November 2017, bertempat di STIKES Harapan Bangsa Purwokerto. Panitia pelaksana kegiatan adalah para civitas akademik Program Studi Kebidanan dan Keperawatan STIKES Harapan Bangsa Purwokerto. Peserta kegiatan terdiri dari para akademisi dan praktisi dibidang Kebidanan, Keperawatan, dan Farmasi dari seluruh Indonesia. Adapun

outcome kegiatan ini adalah Proceeding berskala nasional dan telah ber-ISBN.

Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk membantu perkembangan keilmuwan dibidang kebidanan, keperawatan, dan farmasi. Mudah-mudahan dikemudian hari kegiatan sejenis dapat terlaksana kembali dengan lebih baik.

Purwokerto, 29 November 2017 Ketua Panitia

(5)

DAFTAR ISI

Halaman judul ………..……i

Balik halaman judul ………....ii

Susunan Panitia ……….….iii

Kata pengantar ……….…..iv

Daftar isi ……….….v 1 RISIKO IBU HAMIL KURANG ENERGI KRONIS (KEK)

DAN ANEMIA MELAHIRKAN BAYI DENGAN

PANJANG BADAN BAYI PENDEK

Ema Wahyu Ningrum

1-8

2 FAKTOR RISIKO PRE EKLAMPSIA PADA IBU

BERSALIN DI RSUD Hj. ANNA LASMANAH

BANJARNEGARA TAHUN 2016

Tin Utami

9-14

3 HUBUNGAN UMUR DAN PENGGUNAAN ALAT

KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI

Mariah Ulfah

15-23

4 HUBUNGAN ANTARA UMUR IBU DENGAN KEJADIAN

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

Prasanti Adriani

24-29

5 PENGARUH CARA PEREBUSAN EKSTRAK AIR

TANAMAN SELEDRI TERHADAP VOLUME URIN TIKUS PUTIH

Adita Silvia Fitriana1), Dina Febrina2), Galih Samodra3)

30-34

6 KORELASI PARITAS, PEMAKAIAN ALAT

KONTRASEPSI, MEROKOK DAN STATUS GIZI

DENGAN USIA MENOPAUSE DI BINA KELUARGA LANSIA KECAMATAN KEMANGKON PURBALINGGA

Feti Kumala Dewi

35-42

7 HUBUNGAN KESIAPAN FISIK dan PENGETAHUAN

REMAJA PEREMPUAN SEBAGAI CALON IBU dalam MEMBINA TUMBUH KEMBANG BALITA

Fauziah Hanum Nur Adriyani

43-50

8 EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM KELAS IBU

HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

MARGADANA PADA TAHUN 2017

Evi Zulfiana1), Iroma Maulida2), Umriaty3)

(6)

9 PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA AWAL TENTANG MASA PUBERTAS SETELAH MENDAPAT PENDIDIKAN KESEHATAN DI SMP NEGERI 1 10BATURADEN

Susilo Rini

58-62

10 STUDI FENOMENOLOGI HAMIL PALSU

(PSEUDOCYESIS)

Linda Yanti

63-72

11 PENGARUH PENDIDIKAN GURU TERHADAP

PENGETAHUAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K) ANAK

Ikit Netra Wirakhmi

73-77

12 HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN

PEKERJAAN DENGAN PEMBERIAN MP-ASI DINI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN

Rosi Kurnia Sugiharti

78-83

13 PENGARUH PEMBERIAN KONSELING FARMASIS

DENGAN ALAT BANTU TERHADAP OUTCOME

KLINIK PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2

Peppy Octaviani DM

84-93

14 DETERMINAN KEIKUTSERTAAN KELAS IBU HAMIL

DI WILAYAH PUSKESMAS BUMIJAWA KABUPATEN TEGAL TAHUN 2017

Umriaty1), Rizki Amalia2)

95-99

15 PERBEDAAN PERILAKU CARING MAHASISWA

KEPERAWATAN S1 DAN D3 SEMESTER 4 STIKES HARAPAN BANGSA PURWOKERTO

Tri Sumarni1), Reni Dwi Setyaningsih2)

100-105

16 EFEKTIFITAS TEKHNIK RELAKSASI AUTOGENIK

TERHADAP NYERI DISMENOREA PADA SANTRI PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL AMIN

Siti Haniyah1), Dwi Novitasari2)

106-110

17 PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN

KADER TENTANG ANTROPOMETRI MELALUI

PELATIHAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI DI

WILAYAH PUSKESMAS PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGA

Ema Wahyu Ningrum1), Fauziah Hanum NA2), Mariah Ulfah3)

(7)

18 PELATIHAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH SEBAGAI SARANA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN BAYI

Inggar Ratna Kusuma1), Citra Hadi Kurniati2)

117-121

19 PELATIHAN PIJAT BAYI BAGI KADER POSYANDU

DESA TOYAREKA KECAMATAN KEMANGKON

Prasanti Adriani

122-126

20 PENINGKATAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG

MASA PUBERTAS DAN PEMBENTUKAN KADER REMAJA DI SMP NEGERI 1 BATURADEN

Susilo Rini1), Arlyana Hikmanti2)

127-130

21 PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA

KECELAKAAN (P3K) ANAK USIA PRA SEKOLAH DI PG/TK NAKITA INSAN MULIA PURWOKERTO

Ikit Netra Wirakhmi1), Wilis Sukmaningtyas2), Linda Yanti3)

131-134

22 IbM PADA KADER ‘AISYIYAH KECAMATAN

KEMBARAN: PELATIHAN EDUKASI PSIKOLOGI

TRIMESTER I KEHAMILAN

Wilis Dwi Pangesti

135-140

23 SCREENING ASAM URAT DAN GULA DARAH PADA

IBU–IBU DI BINA KELUARGA LANSIA DESA

TOYAREKA KECAMATAN KEMANGKON

KABUPATEN PURBALINGGA

Feti Kumala Dewi1), Maya Safitri2), Tin Utami3)

141-145

24 PELATIHAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

PADA ANAK

DI TAMAN BACA KUDI

Adita Silvia Fitriana1), Dina Febrina2), Siti Haniyah3)

(8)

1

RISIKO IBU HAMIL KURANG ENERGI KRONIS (KEK) DAN ANEMIA MELAHIRKAN BAYI DENGAN PANJANG BADAN BAYI PENDEK

Ema Wahyu Ningrum

STIKES Harapan Bangsa Purwokerto Email :[email protected]

Abstrak

Ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia mempunyai risiko kesakitan yang lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil normal serta mempunyai risiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, panjang badan lahir pendek, kematian saat persalinan, perdarahan pasca persalinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dan risiko antara status gizi ibu hamil KEK dan anemia dengan panjang badan bayi lahir. Desain penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling, sampel penelitian ibu hamil tidak KEK 20 orang, KEK 20 orang, ibu hamil tidak anemia 20 orang, anemia 20 orang. Analisa data univariat berupa distribusi frekuensi, analisa bivariat berupa chi square dan kekuatan hubungan dilihat dari parameter OR. Hasil penelitian adalah Ibu hamil KEK mempunyai risiko kemungkinan panjang badan pendek 6,2 kali dibanding ibu tidak KEK (CI 95% ;1,529-31,377).Ibu hamil anemia mempunyai risiko kemungkinan panjang badan pendek 4,8 kali dibanding ibu tidak anemia (CI 95% ; 1,199-19,942)

Kata Kunci : KEK, Anemia, Panjang Badan Bayi

Abstract

Pregnant women suffering from Chronic Energy Lack and Anemia have a greater risk of illness than normal pregnant women and have a greater risk of delivering babies with LBW, shorter birthweight, death at delivery, postpartum hemorrhage. The purpose of this study was to determine the relationship and risk between nutritional status of pregnant women Chronic Energy Lack and anemia with the length of the baby's body was born. This study was an analytic survey research design with cross sectional approach. Sampling technique using purposive sampling, sample of pregnant women not Chronic Energy Lack 20 people, Chronic Energy Lack 20 people, pregnant women not anemia 20 people, anemia 20 people. Analysis of univariate data in the form of frequency distribution, bivariate analysis in the form of chi square and relationship strength seen from OR parameter. The results of this study were Chronic Energy Lack pregnant women had a risk of short-term body length 6.2 times compared to non- Chronic Energy Lack women (95% CI 1.529-31, 377). An anemic pregnant women had a risk of short-term body length 4.8 times compared to mothers not anemic (CI 95 %; 1,199-19,942).

Keywords:Chronic Energy Lack, Anemia, Baby Body Length

1. PENDAHULUAN

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor pada awal kehidupan janin dalam kandungan ibu, bahkan sejak fase prakonsepsi. Status kesehatan dan gizi ibu hamil sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin dan outcome dari

kehamilan. Asupan zat gizi ibu yang kurang memadai akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang janin (Ermawati, 2013).

Begitu pentingnya masa

kehamilan dalam menentukan kualitas manusia, terutama saat usia dini, maka pemerintah memberikan perhatian pada

(9)

2 anak usia dibawah 2 tahun. Secara

internasional, dikenal sebagai gerakan

Scaling Up Nutrition (SUN). Gerakan ini

di Indonesia disebut sebagai gerakan Nasional Sadar Gizi dalam rangka Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 hari pertama kehidupan). Periode seribu hari ini, yaitu 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi. Periode ini merupakan periode sensitif karena dampak yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen. Jika terjadi kegagalan pertumbuhan (growth faltering), tidak saja berdampak terhadap pertumbuhan fisik anak, melainkan juga perkembangan kognitif dan kecerdasan anak (Siva, 2013). Ibu hamil yang menderita KEK dan Anemia mempunyai risiko kesakitan yang lebih besar terutama terutama pada trimester III kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil normal. Akibatnya mempunyai risiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan BBLR, panjang badan lahir pendek, kematian saat persalinan, perdarahan pasca persalinan. Selain itu juga akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian bayi karena rentan terhadap infeksi saluran pernafasan bagin bawah, gangguan belajar, masalah perilaku dan lain sebagainya (Fitrah, 2014).

Secara nasional pada tahun 2013 prevalensi Wanita Usia Subur (WUS) yang hamil risiko KEK masih tinggi yaitu sebanyak 24,2%, adapun WUS tidak hamil dengan risiko KEK sejumlah 20,8%. Prevalensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia pun masih tinggi, yaitu sejumlah 37,1%, dengan sebaran 36,4% ibu hamil dengan anemia di perkotaan dan 37,8% ibu hamil anemia di pedesaan (Riskesdas, 2013).

Salah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur

panjang badan bayi saat lahir. Ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada dalam kondisi yang baik. Pada penelitian yang dilakukan Imtinahatun (2014) diperoleh hasil ibu dengan KEK berisiko melahirkan bayi dengan panjang lahir pendek 6,2 kali dibanding ibu yang tidak KEK, hal ini menunjukkan bahwa ibu yang mengalami KEK diikuti juga masalah kekurangan gizi sepanjang waktu bayi yang dikandung ibu ditandai dari panjang lahir bayi yang pendek (Najahah, 2014). Adapun penelitian yang dilakukan oleh Fitri Ruchayati (2012) diperoleh hasil ada hubungan antara anemia dalam kehamilan dengan panjang lahir bayi (r=0,390; p=0,033) (Ruchyati, 2012)

RSUD dr. R. Goeteng

Taroenadibrata merupakan Rumah Sakit Rujukan dari Puskesmas di wilayah Kabupaten Purbalingga maupun di luar Purbalingga, sehingga memiliki jumlah kasus komplikasi kehamilan dan persalinan yang kompleks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dan risiko antara status gizi ibu hamil KEK dan anemia dengan panjang badan bayi lahir.

2. METODE

Desain penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik

sampling menggunakan purposive. sampling, sampel penelitian ibu hamil

tidak KEK 20 orang, KEK 20 orang, ibu hamil tidak anemia 20 orang, anemia 20 orang. Analisa data univariat berupa distribusi frekuensi, analisa bivariat berupa chi square dan kekuatan hubungan dilihat dari parameter OR.

(10)

3

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel .1 Karakteristik umur ibu dengan status gizi KEK

Umur ibu KEK Tidak KEK Mean(th) SD(th)

< 20 tahun 0 (0%) 0 (0%)

29,13 5,090

20-35 tahun 19 (95%) 17 (85%)

>35 tahun 1 (0,5%) 3 (15%)

Jumlah 20 (100%) 20 (100%)

Umur ibu Anemia Tidak Anemia Mean(th) SD(th)

< 20 tahun 0 (0%) 0 (0%)

28,5 6,18

20-35 tahun 19 (95%) 17 (85%)

>35 tahun 1 (0,5%) 3 (15%)

Jumlah 20 (100%) 20 (100%)

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan data bahwa usia ibu dengan status gizi KEK rata-rata pada usia 29 ± 5 tahun, usia ibu dengan status gizi anemia rata-rata pada usia 28,5 ± 6 tahun. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu, Pekerjaan Ibu, Pendidikan Ayah, Pekerjaan Ayah pada ibu dengan status anemia

Karakteristik KEK Tidak KEK Anemia Tidak Anemia

Pendidikan Ibu SD-SMP 11 (55%) 10 (50%) 10 (50%) 4 (20%) SMA-PT 9 (45%) 10 (50%) 10 (50%) 16 (80%) Jumlah 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%) Pendidikan Ayah SD-SMP 14 (70%) 10 (50%) 13 (65%) 4 (20%) SMA-PT 6 (30%) 10 (50%) 7 (15%) 16 (80%) Jumlah 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%)

Status bekerja ibu

Bekerja 5 (25%) 2 (10%) 5 (25%) 11 (55%)

Tidak bekerja 15 (75%) 18 (90%) 15 (75%) 9 (45%)

Jumlah 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%)

Status bekerja ayah

Bekerja 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%)

Tidak bekerja 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%) 0 (0%)

Jumlah 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%) 20 (100%)

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan data bahwa pendidikan ibu dengan status gizi KEK adalah jenjang pendidikan SMP (55%), pendidikan ayah sebagian besar jenjang pendidikan SD-SMP (70%). Status pekerjaan ibu dengan KEK sebagian besar tidak bekerja (75%) dan status pekerjaan ayah sebagian besar bekerja (100%). Adapun pada ibu dengan status gizi anemia, sebagian ibu anemia berpendidikan SMP (50%), pendidikan ayah sebagian besar SD-SMP (65%), status pekerjaan ibu sebagian besar tidak bekerja (75%), dan status pekerjaan ayah sebagian besar bekerja (20%).

Tabel 3. Tabulasi silang antara status gizi ibu hamil Anemia dengan Panjang Badan Bayi Baru Lahir

(11)

4

Pendek Normal Total 95% CI

(1,199-19,942) n % n % n % 0,022 4,8 Anemia 11 55 9 45 20 100 Tidak anemia 4 20 16 80 20 100

Berdasarkan tabel 3, menunjukkan data bahwa pada ibu dengan status gizi anemia sebagian besar memiliki bayi dengan panjang badan pendek (55%). Pada ibu dengan status gizi tidak anemia memiliki bayi dengan panjang badan normal (80%). Ada hubungan antara status gizi ibu anemia dengan panjang badan bayi pendek (p=0,022). Ibu hamil anemia mempunyai risiko kemungkinan panjang badan pendek 4,8 kali dibanding ibu tidak anemia (CI 95% ; 1,199-19,942)

Tabel 4. Tabulasi silang antara status gizi ibu hamil KEK dengan Panjang Badan Bayi Baru Lahir

Panjang Badan p value OR

95% CI (1,529-31,377)

Pendek Normal Total

n % n % n %

0,08 6,296

KEK 11 55 9 45 20 100

Tidak KEK 3 15 17 85 20 100

Berdasarkan tabel 4, menunjukkan data bahwa pada ibu dengan status gizi KEK sebagian besar memiliki bayi dengan panjang badan pendek (55%). Pada ibu dengan status gizi tidak KEK memiliki bayi dengan panjang badan normal (85%). Ada hubungan antara status gizi ibu KEK dengan panjang badan bayi pendek (p=0,08). Ibu hamil KEK mempunyai risiko kemungkinan panjang badan pendek 6,2 kali dibanding ibu tidak KEK (CI 95% ;1,529-31,377).

4. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa sebagian besar ibu KEK dan anemia pada rentang kelompok usia 2-35 tahun. Rata-rata ibu yang mengalami KEK pada usia 29,13 ± 5 tahun, sedangkan anemia rata-rata pada usia 28,5± 6 tahun. Depkes RI (dalam Claudia, 2012) menggolongkan umur ibu ketika memasuki masa kehamilan menjadi dua kategori, yaitu umur berisiko dan umur tidak berisiko. Umur ibu yang dinyatakan tidak berisiko adalah wanita

yang berada pada kelompok umur 20-35 tahun. Kelompok berisiko yaitu wanita berumur < 20 tahun dan > 35 tahun. Berdasarkan fisiologi, kelompok umur di bawah 20 tahun masih dalam pertumbuhan, baik tinggi badan maupun berat badan. Keadaan ini tidak mendukung untuk memasuki masa kehamilan karena ibu yang masih berada pada masa pertumbuh badannya sendiri harus sekaligus menunjang pertumbuhan janinnya. Hal ini akan menimbulkan apa yang disebut”kompetisi” antara ibu dan dan janinnya (Brown, dalam Claudia,

(12)

5 2012). Adapun ibu dalam kelompok usia

di atas 35 tahun, umur ini dianggap sudah tidak mampu lagi menerima kehamilan dikarenakan fisik yang tergolong tua untuk kehamilan dan dan lemah menerima beban kehamilannya. Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa butuh peran dari tenaga kesehatan untuk memberikan motivasi agar ibu mencukupi kebutuhan gizinya.

Tingkat pendidikan ibu dianggap sebagai salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan, serta kesehatan bayi itu sendiri ketika dilahirkan. Tingkat pendidikan ibu seringkali dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan kemudahan akses kesehatan ibu. Tingkat pendidikan ibu yang tinggi dianggap memiliki pengetahuan yang lebih terkait kesehatan kehamilan dan bayi, serta terkait pengetahuannya tentang pelayanan kesehatan yang diperlukan selama masa kehamilan. Pernyataan tersebut selaras dengan hasil penelitian ini bahwa pendidikan ibu dengan status gizi KEK sebagian pada kelompok pendidikan SD-SMP, adapun kelompok ibu dengan status gizi tidak KEK sebagian pada kelompok pendidikan SMA-PT (50%). Pada penelitian ini pendidikan ibu hamil anemia sebagian pada kelompok pendidikan SD-SMP, ibu hamil tidak anemia sebagian besar memiliki pendidikan tinggi (SMA-PT) (80%). Hal ini menunjukkan pendidikan yang baik akan mempengaruhi pengetahuan ibu hamil yang baik tentang faktor yang memepengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.

Status pekerjaan ibu sebagai salah satu indikator sosial ekonomi ibu dianggap berkontribusi terhadap kondisi bayi termasuk kaitannya dengan pendapatan keluarga yang akan bertambah dengan ibu yang turut bekerja. Dalam

penelitian ini menunjukkan sebagian besar ibu dengan status gizi KEK dan tidak KEK tidak bekerja. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap 1507 ibu yang melahirkan di rumah sakit umum di London, Inggris pada tahun 1982 hingga 1984 oleh Rabkin et.al pada tahun 1990 (Claudia, 2012). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ibu yang bekerja fulltime memiliki kemungkinan melahirkan bayi dengan berat lahir 12 gram lebih besar dibandingkan ibu yang tidak bekerja (95% CI;-39-63 gram). Dalam penelitian ini, ibu hamil dengan anemia sebagian besar tidak bekerja (75%), ibu hamil tidak anemia sebagian besar ibu bekerja (55%). Sehingga bisa diasumsikan dengan memiliki pendapatan sendiri maka ibu memiliki kebebasan dalam memilih bahan makanan yang dikonsumsinya.

Tingkat pendidikan dan pendapatan suami berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin. Tingkat pendidikan suami yang baik dan pendapatan suami yang tinggi akan memberikan dukungan kepada ibu untuk mencukupi kebutuhan nutrisnya. Dalam penelitian ini, sebagian besar pendidikan ayah pada ibu status gizi KEK memiliki pendidikan rendah (70%), adapun pada ibu dengan status gizi tidak KEK sebagian memiliki pendidikan tinggi (50%). Dari segi pendapatan suami, seluruh ayah bekerja (100%) baik antara kelompok ibu status gizi KEK dan tidak KEK. Asumsi peneliti, penelitian ini mendukung pernyataan bahwa tingkat pendidikan dan pendapatan suami berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan janin. Pendidikan ayah pada kelompok ibu

hamil anemia sebagian besar

berpendidikan SD-SMP (65%), pada kelompok ibu hamil tidak anemia sebagian besar memiliki pendidikan tinggi (SMA-PT) (80%). Dari segi pendapatan suami, kedua kelompok status gizi ibu

(13)

6 baik anemia dan tidak anemia, seluruh

ayah bekerja (100%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan suami mendukung terhadap kesehatan ibu dalam mencukupi kebutuhan gizinya.

Pada penelitian ini, sebagian besar ibu hamil dengan KEK melahirkan bayi dengan panjang badan pendek 11 bayi (55%) dan sebagian besar ibu hamil tidak KEK melahirkan bayi dengan panjang badan normal 17 bayi (85%). Berdasar uji chi square menunjukkan nilai p value = 0,08, artinya ada hubungan antara ibu hamil KEK dengan panjang badan bayi lahir. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang mengalami kekurangan energi kronis atau mengalami masalah gizi dalam waktu yang lama diikuti juga oleh masalah kekurangan gizi dalam waktu lama saat bayi yang dikandung ibu yang ditandai dari panjang lahir bayi yang pendek. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dari Imtihatun (2012), ibu dengan KEK berisiko melahirkan bayi dengan panjang lahir pendek 6,2 kali dibanding ibu yang tidak KEK.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok ibu hamil dengan anemia sebagian besar melahirkan bayi dengan panjang badan pendek 11 bayi (55%) dan kelompok ibu hamil tidak anemia sebagian besar melahirkan bayi dengan panjang badan normal 17 bayi (85%). Hasil analisis menunjukkan ada hubungan antara ibu hamil anemia dengan panjang badan bayi baru lahir, ditandai dengan nilai p value = 0,022. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Imtihatun (2012) yang menunjukkan ibu dengan anemia berisiko melahirkan melahirkan dengan panjang badan lahir bayi pendek 3 kali dibandingkan ibu dengan tidak anemia. Ibu hamil dengan anemia akan menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi uteroplasenta. Hal ini menimbulkan gangguan pertumbuhan

hasil konsepsi, sering terjadi immaturitas, prematuritas, cacat bawaan, atau janin lahir dengan berat badan kurang dan panjang badan pendek.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil KEK dan anemia memiliki risiko melahirkan bayi dengan panjang badan lahir pendek. Ibu dengan KEK berisiko melahirkan bayi dengan panjang badan pendek 6,296 kali dibanding ibu tidak KEK (95%CI;1,529-31,377). ibu hamil anemia mempunyai kemungkinan 4,8 kali memiliki panjang badan pendek dibanding ibu tidak anemia. Kekurangan energi secara kronis dan kekurangan zat besi menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat gizi yang adekuat untuk menyediakan kebutuhan fisiologis kehamilan yaitu perubahan hormon, meningkatnya volume darah untuk pertumbuhan janin sehingga suplai zat gizi pada janin pun berkurang.

Akibatnya pertumbuhan dan

perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat yang rendah (Yustiana, 2013).

5. KESIMPULAN

1. Pada kelompok ibu hamil KEK sebagian besar pada kelompok umur 20-35 tahun, sebagian memiliki pendidikan rendah, sebagian besar ibu tidak bekerja, pendidikan ayah sebagian besar berpendidikan rendah (70%) dan seluruh ayah bekerja (100%).

2. Pada kelompok ibu hamil tidak KEK sebagian besar pada kelompok umur 20-35 tahun, sebagian memiliki pendidikan tinggi (50%), sebagian besar ibu tidak bekerja (50%),

pendidikan ayah sebagian

berpendidikan tinggi (50%) dan seluruh ayah bekerja (100%).

3. Pada kelompok ibu hamil anemia sebagian besar pada kelompok umur

(14)

7 20-35 tahun, sebagian memiliki

pendidikan tinggi, sebagian besar ibu tidak bekerja (75%), pendidikan ayah sebagian besar berpendidikan rendah (65%) dan seluruh ayah bekerja (100%).

4. Pada kelompok ibu hamil tidak anemia sebagian besar pada kelompok umur 20-35 tahun, sebagian besar pada kelompok pendidikan tinggi (80%), sebagian besar ibu bekerja (55%), pendidikan ayah sebagian besar berpendidikan tinggi (80%) dan seluruh ayah bekerja (100%).

5. Ibu hamil KEK mempunyai risiko kemungkinan panjang badan pendek 6,2 kali dibanding ibu tidak KEK (CI 95% ;1,529-31,377)

6. Ibu hamil anemia mempunyai risiko kemungkinan panjang badan pendek 4,8 kali dibanding ibu tidak anemia (CI 95% ; 1,199-19,942)

Saran : Rumah sakit dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga memiliki kebijakan penanganan terhadap ibu hamil dengan KEK dan anemia secara komprehensif dan dini sehingga luaran bayi yang dilahirkan normal.

6. DAFTAR PUSTAKA

[1] Debtarsie K, Claudia.2012.

“Hubungan Status Gizi ibu dan faktor Lain dengan Berat dan panjang Lahir Bayi di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta Bulan Juli-September 2011”.Skrpsi.Universitas Indonesia

[2] Ernawati, fitrah. Sri Muljati, Made Dewi S, dan Amalia Safitri.2014. Hubungan panjang badan lahir terhadap perkembangan anak usia 12 bulan. “Jurnal Penel Gizi dan Makan

Desember 2014. Vol.37(2):109-118)”

[3] Fitrah Ermawati, Yuniar Rosmalina, Yurista Permanasari.Pengaruh Asupan Protein Ibu Hamil dan panjang badan Bayi Lahir Terhadap kejadian Stunting pada anak usia 12 bulan di Kabupaten Bogor. “Penelitian Gizi dan Makanan, Juni

2013 Vol.36(1):1-11”

[4] Karima, Khaula.Endang L

Achadi.2012. Status gizi ibu dan berat badan lahir bayi.” Jurnal

Kesehatan Masyarakat Nasional, Oktober 2012 Vol.7( 3):54-64

[5] Irawati, A. Status Gizi Ibu Sebelum hamil sebagai Prediksi Berat dan Panjang bayi Lahir di Kecamatan Bogor tengah, Kota Bogor: Studi Kohort Prospektif Tumbuh Kembang Anak Tahun 2012-2013 (Pre-Pregnancy Maternal Nutritional Status as a predictor of Birth weight and Length in the Bogor Central District, Bogor City: Child Growth and development Prospective Cohort Study-2012-2013. Jurnal Penel Gizi

Makan, desember 2014 Vol.37 (2): 119-128

[6] Manuaba, IBG, Ida Bagus Gde Fajar Manuaba, Ida Ayu Chandranita Manuaba.2009.Ilmu

Kebidanan,Penyakit Kandungan, dan KB.Jakarta:EGC

[7] Najahah, I.Faktor Risiko Panjang Lahir Bayi Pendek di Ruang Bersalin RSUD Patut Patuh Patju Kabupaten lombok Barat. “Jurnal Media Bina Ilmiah. Volume 8, No.1 Februari 2014”.

[8] Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian

Kesehatan. PT Rineka

(15)

8 [9] Pusat Data dan Informasi Kementerian

Kesehatan RI. 2016. Situasi Balita Pendek.

(http://www.depkes.go.id/resources/dow nload/pusdatin/infodatin/situasi-balita-pendek-2016.pdf, diperoleh tanggal 11 Maret 2017)

[10] Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2016. Situasi Gizi di Indonesia. (https://www.google.co.id/webhp?sourc

eid=chrome- instant&ion=1&espv=2&ie=UTF-8#q=data+KEK+ibu+hamil+di+indones ia&*, diperoleh tanggal 11 maret 2017)

[11] Rukmana, Siva

Candra.2013.”Hubungan Asupan Gizi dan Status Gizi Ibu Hamil Trimester III dengan Berat Badan Lahir Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Suruh”.Skripsi.Undip [12] RSU Goeteng Taroenadibrata

Purbalingga. Laporan Tahunan

Rumah Sakit Tahun 2015. RSU

Purbalingga,2015

[13] Saifudin, A.B,2002.Buku Acuan

Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

[14] Soetjiningsih.2013.Tumbuh Kembang Anak.Jakarta:EGC

[15] Sugiyono.2009.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung:CV Alfabeta

[16] Wahyu Ningrum, Ema. Korelasi Antara Status Gizi Anemia Dengan Berat Badan Dan Panjang Badan Bayi Baru Lahir.”Jurnal Viva Medika.September. Vol 11 (2): 1-9

[17] Yustiana, K dan

Nuryanto.2013.”Perbedaan Panjang Badan bayi Baru lahir antara Ibu Hamil KEK dan Tidak KEK”. Eprint jurnal Undip.

(16)

9

FAKTOR RISIKO PRE EKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DI RSUD Hj. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA TAHUN 2016

Tin Utami

Prodi Kebidanan D3, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Bangsa Purwokerto email: [email protected]

Abstrak

Penyebab Preeklampsia dan eklampsia sampai saat ini belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya Preeklampsia.. Jumlah kejadian preeklampsia dalam persalinan selama tahun 2016, sebanyak 164 jiwa dari total jumlah persalinan sebanyak 2114 persalinan. Sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 143 jiwa dari total jumlah persalinan sebanyak 2345 persalinan.,Tujuan penelitian `ini adalah untuk mengetahui factor risiko pre eklampsia pada ibu bersalin. Jenis penelitian ini adalah analitik korelasional melalui pendekatan retrospektif, dengan jumlah sampel sebanyak 164 kasus namun hanya ada 152 kasus yang diambil secara keseluruhan. Hasil penelitian ini menunjukkan factor umur dan paritas mempengaruhi kejadian pre eklampsia dengan nilai p masing – masing 0,000 (< 0,05). Sementara factor distensi uterus dan riwayat pre eklampsia tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian pre eklampsia di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016 dengan nilai p=0,201 pada variable riwayat pre eklampsia dan nilai p=0,147 pada variable distensi uterus masing – masing > 0,05.

Kata kunci : Faktor Risiko, Pre Eklampsia, Ibu Bersalin, RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara 2016 Abstract

Cause Preeclampsia and eclampsia are not yet known for certain, but there are several factors that affect the occurrence of Preeclampsia. The number of preeclampsia events in labor during 2016, as many as 164 people from the total number of deliveries as many as 2114 births. Whereas in 2015 as many as 143 of the total number of deliveries as much as 2345 deliveries., The purpose of this study is to determine risk factors of pre eclampsia in maternal mothers. This type of research is correlational analytics through a retrospective approach, with a total sample of 164 cases but only 152 cases taken as a whole. The results of this study indicate the age and parity factors affect the incidence of pre eclampsia with p values of 0.000 each (<0.05). While the factor of uterine distension and history of pre eclampsia did not significantly influence the incidence of pre eclampsia in RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara year 2016 with value p = 0,201 on pre history history of eclampsia and value p = 0,147 at variable distensi uterus respectively> 0,05

Keywords: Risk Factors, Pre Eclampsia, Maternity Mother, Hospital Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara 2016

1. PENDAHULUAN

Preeklampsia menjadi satu diantara

banyak penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan janin di Indonesia. Penyebab Preeklampsia dan eklampsia sampai saat ini belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya Preeklampsia dalam kehamilan yaitu primigravida terutama primigravida muda, usia > 35 tahun atau < 20 tahun, penyakit medis

yang menyertai kehamilan seperti hipertensi kronik (Bobak dkk, 2005).

Diagnosis dini preeklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan

eklampsia, serta penanganannya perlu

segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Sindrom

preeklampsia ringan dengan hipertensi,

edema, dan proteinuri sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan. Pemeriksaan secara rutin sangat penting

(17)

10 dalam usaha pencegahan preeklampsia

berat dan eklampsia, serta pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi (Winkjosastro, 2007).

Penyebab hipertensi dalam kehamilan kini belum diketahui dengan jelas. Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan, tetapi tidak ada satupun teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah teori kelainan vaskularisasi plasenta, iskemia plasenta, radikal bebas, disfungsi epitel,

intoleransi imunologik antara ibu dan

janin, adaptasi kardiovaskulari genetik,

defisiensi besi, dan inflamasi

(Prawirohardjo, 2010).

Faktor – faktor yang mempengaruhi pre eklampsia menurut Manuaba (2010) diantaranya disebutkan primigravida, distensi rahim berlebihan, hidramnion, gemeli, penyakit yang menyertai kehamilan, obesitas dan usia.

Jumlah kejadian preeklampsia dalam persalinan selama tahun 2016 di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara sebanyak 164 jiwa dari total jumlah persalinan sebanyak 2114 persalinan atau 7,76%. Sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 143 jiwa dari total jumlah persalinan sebanyak 2345 persalinan atau 6,10 %.

Insiden pre eklampsia menurut Prawirohardjo (2010) terjadi perubahan system dan organ meliputi terjadinya penurunan volume plasma (hipovolemia) yang pada kehamilan normal justru ada peningkatan (hipervolemia). Perubahan system dan organ selanjutnya yaitu hipertensi yang terjadi akibat hipovolemia yang diimbangi dengan vasokonstriksi,

merupakan akibat vasospasme

menyeluruh dengan ukuran tekanan darah ≥ 140/90 mmhg selang 6 jam. Perubahan lainnya adalah proteinuria yang merupakan syarat untuk diagnosa

preeklampsia, tetapi proteinuria umumnya

timbul jauh pada akhir kehamilan, sehingga sering dijumpai preeklampsia tanpa proteinuria, kadar kreatinin plasma pada preeklampsia yang meningkat dapat disebabkan oleh hipovolemia sehingga aliran darah ginjal menurun dan mengakibatkan menurunya filtrasi glomerulus akibatnya menurunnya sekresi kreatinin disertai peningkatan kreatinin plasma. Selanjutnya ada Oliguria dan anuria yang terjadi karena hipovolemia sehingga aliran darah ke ginjal menurun yang mengakibatkan produksi urin menurun (oliguria) bahkan dapat terjadi anuria dan berat ringannya oliguria

menggambarkan berat rigannya

hipovolemia, hal ini berarti menggambarkan pula berat ringannya

preeklampsia.

Penyebab preeklampsia diduga adalah gangguan pada fungsi endotel pembuluh darah (sel pelapis bagian dalam pembuluh darah) yang menimbulkan

vasospasme pembuluh darah yang menyebabkan diameter lumen pembuluh darah mengecil atau menciut). Perubahan respon imun ibu terhadap janin atau jaringan plasenta diduga juga berperan pada terjadinya preeklampsia. Kerusakan

endotel tidak hanya menimbulkan

mikrotrombosis difus plasenta (sumbatan

pembuluh darah plasenta) yang menyebabkan plasenta berkembang abnormal atau rusak, tapi juga menimbulkan gangguan fungsi berbagai organ tubuh dan kebocoran pembuluh darah kapiler, yang membuat ibu hamil mengalami penambahan berat badan dengan cepat, bengkak (pada kedua tungkai, tangan, dan wajah), oedema paru, serta hemokonsentrasi (kadar hemoglobin lebih 13 g/ dL) (Fadlun, 2011).

Factor risiko yang mempengaruhi terjadinya pre kelampsia menurut Manuaba (2010) yaitu primigravida,

(18)

11 distensi uterus, hidramnion, penyakit yang

menyerta kehamilan, kegemukan, dan usia ibu > 35 tahun. Faktor usia berpengaruh terhadap terjadinya preeklampsia. Usia wanita remaja atau usia kurang dari 20 tahun memiliki risiko terjadinya

preeklampsia hal ini dikarenakan perubahan hormonal yang terjadi pada usia dini akibat kehamilan. Peningkatan usia mempengaruhi risiko terjadinya

preeklampsia terutama pada usia wanita

diatas 35 tahun lebih tinggi dibandingkan usia produktif (20-35 tahun).

Frekuensi kejadian pre eklampsia lebih tinggi terjadi pada primigravida sekitar 75% daripada multigravida. Pada nulipara frekuensi preeklampsia lebih tinggi bila dibandingkan dengan multipara, terutama nulipara muda (Wiknjosastro, 2007).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pre eklampsia pada ibu bersalin di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016, yang meliputi umur, paritas, riwayat pre ekalmpsi dan distensi uterus.

2. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional, dengan pendekatan retrospektif. Sample yang diambil adalah data ibu bersalin yang terdiagnosa pre eklampsi sebanyak 152 kasus yang memenuhi kriteria inklusi dari total 164 kasus. Pelaksanaan pengambilan data dilakukan di Ruang Rekam Medis RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara yang tercatat pada tahun 2016. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber pada catatan Rekam Medis Pasien, yang meliputi Umur, paritas, riwayat pre eklampsia, dan distensi uterus. Analasis data yang digunakan yaitu distribusi frekuensi dan

analisis bivariat menggunakan uji Chi Square.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 152 pasien, setelah data terkumpul dan dilakukan penghitungan dengan hasil sebagai berikut :

Tabel 1. Ditribusi Frekuensi Karakteristik Ibu Bersalin yang Mengalami Pre Eklampsia di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara Tahun 2016 karakteristik f % umur <20 th 29 19.1 20-35 th 40 26.3 >35 th 83 54.6 total 152 100 paritas 1 kali 110 72.4 2-5 kali 40 26.3 >5 kali 2 1.3 total 152 100 Riwayat Pre Eklampsi Ada 35 23.0 Tidak 117 77.0 total 152 100 distensi uterus ada 18 11.8 tidak ada 134 88.2 total 152 100 jenis pre eklampsi ringan 18 11.8 berat 134 88.2 total 152 100

Pada tabel 1 menunjukkan bahwa pasien pre eklampsi di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara pada tahun 2016 mayoritas berumur risiko tinggi yaitu lebih dari 35 tahun sebanyak 83 kasus (54,6%) ditambahkan dengan jumlah usia

(19)

12 kurang dari 20 tahun sebanyak 29 kasus

(19,1%) sehingga tertotal menjadi 112 kasus (73,7%). Sementara data paritas yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan mayoritas pada paritas 1 kali yaitu sebanyak 110 kasus (72,4%). Sedangkan faktor risiko lainnya yaitu riwayat pre eklampsi dan distensi uterus tidak banyak temuannya yaitu hanya 35 kasus (23%) pada riwayat pre eklampsia dan 18 kasus (11,8%) pada faktor distensi uterus. Mayoritas pasien dalam penelitian ini adalah paritas 1 sehingga pada faktor riwayat pre eklampsi lebih sedikit temuannya. Jenis pre eklampsi yang terdata dari 152 kasus masing – masing untuk ringan sebanyak 18 kasus (11,8%) dan berat sebanyak 134 kasus (88,2%). Mayoritas pasien yang tidak mengalami distensi uterus yaitu sebanyak 134 (88,2%) dan tidak memiliki riwayat pre eklampsi sebanyak 117 (77%).

Ibu bersalin yang mengalami pre eklampsia sebanyak 152 kasus pada tahun 2016 yang mayoritasnya adalah pre eklampsia berat sebanyak 132 (86,8%). Hal ini menunjukkan bahwa pre eklampsi berat menjadi kasus patologis kehamilan dan persalinan yang terbanyak di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara selama tahun 2016. Sementara di Bangsal Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi jumlah kasus pre ekalmpsia berat selama tahun 2012 – 2013 sebanyak 162 kasus, sehingga kisaran rata – rata setahunnya adalah 81 kasus.

Mayoritas umur pasien pre eklampsia di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016 yang dalam umur risiko tinggi yaitu < 20 tahun dan > 35 tahun sebanyak 112 (73,7%), walaupun yang di usia 20 – 35 tahun juga tidak sedikit yaitu 40 orang (26,3%). Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Manuaba (2009) bahwa ibu hamil dan bersalin umur kurang dari

20 tahun dan lebih dari 35 tahun akan lebih berisiko mengalami pre eklampsia dibandingkan dengan usia 20 – 35 tahun. Keadaan paritas pasien pre eklampsia di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016 didapatkan jumlah yang imbang antara yang berisiko (paritas 1 dan >5) maupun yang tidak berisiko (paritas 2 – 5) sebanyak 73 (48 %) dan 79 (52 %). Berbeda dengan yang disampaikan menurut Wiknjosastro (2007), bahwa frekuensi pasien yang mengalami pre eklampsia lebih tinggi terjadi pada primigravida sekitar 75% daripada multigravida.

Pasien pre ekalmpsia di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016 yang memiliki riwayat pre eklampsi sebelumnya hanya 9 orang (5,4%), dari jumlah pasien yang memiliki paritas >1 hanya sebagian sample, dan dari total pasien dengan paritas lebih >1 hanya ada 9 orang yang memiliki riwayat pre eklampsia sebelumnya.

Sementara faktor distensi uterus pada pasien pre eklampsia di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016 sebanyak 18 pasien (11.8%). Distensi uterus yang dialami pada beberapa kasus yang didapatkan adalah hidramnion dan gemeli. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ners Uyung (2013) bahwa penyebab distensi uterus yang berlebihan antara lain : kehamilan ganda, poli hidramnion, makrosomia janin (janin besar). Peregangan uterus yang berlebihan karena sebab-sebab tersebut akan mengakibatkan uterus tidak mampu berkontraksi segera setelah plasenta lahir.

Tabel 2. Pengaruh Faktor Umur, Paritas, Riwayat Pre Eklampsia, dan Distensi uterus terhadap Kejadian Pre Eklampsia

(20)

13 pada Ibu Bersalin di RSUD Hj. Anna

Lasmanah Banjarnegara Tahun 2016

Data dalam tabel 2 menunjukkan bahwa faktor Umur dan Paritas memiliki nilai p masing – masing 0,000 (< 0,05) yang artinya faktor umur dan paritas mempengaruhi kejadian pre eklampsia. Sementara nilai p=0,201 pada variable riwayat pre eklampsia dan nilai p=0,147 pada variable distensi uterus masing – masing > 0,05, yang artinya factor riwayat pre eklampsi dan distensi uterus tidak ada pengaruh terhadap kejadian pre eklampsi. Berdasarkan hasil penghitungan diatas disebutkan bahwa faktor Umur memiliki nilai p = 0,000 (< 0,05) yang artinya faktor umur mempengaruhi kejadian pre eklampsia. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Nursal, dkk (2015) yang menunjukkan hubungan yang kuat antara umur dengan kejadian preeklampsia, dimana ibu hamil yang berumur kecil dari 20 tahun dan besar dari 35 tahun berisiko lebih besar terkena preeklampsia bila dibandingkan dengan ibu hamil berumur 20 sampai 35 tahun.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paritas memiliki nilai p = 0,000 (<

0,05) yang artinya paritas mempengaruhi kejadian pre eklampsia. Berbeda dengan hasil penelitian Nursal, dkk (2015) yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gravida dengan kejadian preeklampsia. Penelitian ini sejalan dengan pendapat Mochtar (2013) yang mengatakan angka kejadian sebanyak 6% dari seluruh kehamilan, dan 12% pada kehamilan primigravida. Menurut beberapa penulis lain frekuensi dilaporkan sekitar 3-10%. Lebih banyak dijumpai pada primigravida daripada multigravida, terutama primigravida usia muda. Primigravida, kira-kira 85% preeklampsia terjadi pada kehamilan pertama.

4. KESIMPULAN

Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa faktor risiko yang mempengaruhi pre eklampsia pada ibu bersalin di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara tahun 2016 antara lain : a. Faktor umur yang mayoritasnya

adalah >35 tahun, dan ada pengaruh yang signifikan terhadap kejadian pre eklampsia (p=0,00)

b. Faktor paritas yang sebagian besarnya adalah paritas 1 dan ada pengaruh yang signifikan terhadap kejadian pre eklampsia (p=0,00)

c. Faktor distensi uterus sebagian kecil saja yang mengalami dan tidak mempengaruhi kejadian pre ekalmpsia (p=0,147)

d. Faktor riwayat pre ekalmpsia hanya sebagian kecil yang mengalaminya dan tidak mempengaruhi kejadian pre ekalmpsia (p=0,201)

5. REFERENSI

[1] Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan

Maternitas (edisi 4). Jakarta: EGC

jenis_pre_eklamp Total Nilai p ringan berat umur <20 11 18 29 20-35 6 34 40 0,000 >35 1 82 83 Total 18 134 152 paritas 1 kali 15 95 110 2-5 kali 1 39 40 0,000 > 5 kali 2 0 2 Total 18 134 152 riw_pre_eklamp ada 2 33 35 tidak ada 16 101 117 0,201 Total 18 134 152 distensi_uterus ada 4 14 18 tidak ada 14 120 134 0,147 Total 18 134 152

(21)

14 [2] Fadlun, Feryanto. 2011. Asuhan

Kebidanan Patologi. Jakarta : Salemba Medika

[3] Latifian, dkk. 2013. Faktor risiko Preeklampsia Berat di Ruang Bersalin RSUD Dr. Moh. Soewandi Surabaya. Jurnal Ilmu Kesehatan Vol.2 No. 1 Nopember 2013. ISSN 2303-1433 [4] Manuaba. 2009. Keluarga Berencana.

Dalam: Manuaba, I.A.C., Manuaba, I.B.G.F. (eds). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC

[5] Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk pendidikan Bidan. Jakarta : EGC [6] Mochtar R. 2013.Sinopsis Obstetri. ed.

21, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

[7] Ners Uyung. 2013. Atonia Uteri.

Available online :

https://uyungarifah.wordpress.com/2013/ 04/.

[8] Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

[9] Nursal, dkk. (2015). Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di RSUP DR. M. Djamil Padang tahun 2014. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas diterbitkan oleh: Program Stu di S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas p-ISSN 1978-3833 e-p-ISSN 2442-6725

10(1)38-44 @2015 JKMA

http://jurnal.fkm.unand.ac.id/index.php/j kma/

[10] Prawirohardjo. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo [11] RSUD Hj. Anna Lasmanah. 2017.

Data jumlah kasus pre eklampsia tahun 2014-2016. RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara.

[12] Wiknjosastro. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

(22)

HUBUNGAN UMUR DAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI HORMONAL DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI

Mariah Ulfah

Prodi Kebidanan D3 STIKes Harapan Bangsa Purwokerto Email: [email protected]

Abstrak

Angka kejadian gangguan reproduksi di negara berkembang mencapai 36% dari total beban sakit yang diderita selama masa produktif. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20%-35% dari seluruh wanita di dunia (Ekine dkk, 2015). Profil Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2013 menyatakan bahwa mioma uteri menempati urutan kedua penyakit tidak menular setelah kanker payudara. Mioma uteri termasuk dalam neoplasma jinak ginekologi asimptomatik tersering dengan insiden satu dari empat wanita selama masa reproduksi aktif salah satu penyebab adalah umur ibu dan penggunaan kontrasepsi hormonal (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2013). Berdasarkan hasil prasurvei di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Goeteng Taroenadibrata pada tahun 2016 kasus dengan gangguan reproduksi dengan jumlah 84 orang terdiri atas 51% mioma uteri, 39% kista ovarium, 9.3% carsinoma cervix 8 orang. Tujuan penelitian: 1) mengetahui distribusi umur ibu, 2) mengetahui distribusi penggunaan kontrasepsi yang digunakan, 3) mengetahui hubungan antara umur ibu dan kejadian mioma uteri, 4) mengetahui hubungan penggunaan alat kontrasepsi hormonal dengan mioma uteri. Metode pemelitian: penelitian menggunakan desain croossectional dengan analisis chi squere. Hasil penelitian: 1) Rentang umur tetinggi 83% pada usia reproduksi yaitu 35-50 tahun, kemudian 12,8% usia >50 tahun, 43% usia <35 tahun 2) alat kontrasepsi yang digunakan sebagian besar (51.1%) adalah non hormonal dan 48.9% hormonal 3) ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian mioma uteri 4) tidak terdapat hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian mioma uteri.

Kata kunci: mioma uteri, umur dan kontrasepsi hormonal.

Abstract

The incidence of reproductive disorders in developing countries accounts for 36% of the total illness burden suffered during the productive period. It is estimated that the incidence of uterine myoma is about 20% -35% of all women in the world (Ekine et al, 2015). Central Java Health Profile Year 2013 states that uterine myoma occupies the second sequence of non-communicable diseases after breast cancer. The uterine myoma is included in the most common asymptomatic gynecological benign neoplasms with the incidence of one in four women during the active reproductive period one of the causes is maternal age and use of hormonal contraception (Central Java Health Profile 2013) Based on the results of pre-survey at the Regional General Hospital (RSUD) dr. R. Goeteng Taroenadibrata in 2016 cases with reproductive disorder with 84 subjects consisting of 51% uterine myoma, 39% ovarian cyst, 9.3% cervical carsinoma 8 people. Research objectives: 1) to know the distribution of maternal age, 2) to know the distribution of contraceptive use used, 3) to know the relationship between mother's age and the occurrence of uterine myoma, 4) to know the relation of hormonal contraceptive use with uterine myoma. Method of research: research using croossectional design with chi squere analysis. Result of research: 1) Age range 83% at reproductive age 35-50 years old, then 12,8% age> 50 years, 43% age <35 years 2) contraception device used mostly (51.1%) is non hormonal and 48.9% hormonal 3) there was a relationship between maternal age and occurrence of uterine myoma 4) there was no association between hormonal contraceptive use and occurrence of uterine myoma.

(23)

16

1. PENDAHULUAN

Mioma uteri merupakan salah satu tumor jinak pada daerah rahim atau lebih tepatnya otot rahim dan jaringan ikat disekitarnya. Tumor jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya. Mioma uteri dikenal juga dengan istilah fibromioma, leoimioma atau fibroid (Desen, 2013). Komplikasi yang dapat timbul apabila miomauteri tidak segera ditangani yaitu dapat menimbulkan perlukaan pada dinding uterus, terjadinya ketidakseimbangan elektrolit dan komplikasi paling parah yang terjadi pada mioma uteri adalah perdarahan (Prawirohardjo, 2009)

Angka kejadian gangguan reproduksi di negara berkembang mencapai 36% dari total beban sakit yang diderita selama masa produktif. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20%-35% dari seluruh wanita di dunia (Ekine dkk, 2015). Biasanya penyakit ini ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin atau saat sedang melakukan medical check up tahunan. Berdasarkan

penelitian Word Health

Organitation (WHO) penyebab angka kematian ibu karena mioma uteri pada tahun 2013 sebanyak 22 (1,95%) kasus dan tahun 2014 sebanyak 21 (2,04%) kasus (Depkes RI, 2014).

Berdasarkan penelitian

Pasinngih, Wagey, Rarung (2015) terjadinya mioma uteri salah satunya adalah umur ibu dan juga penggunaan alat kontrasepsi yaitu KB Hornomal 9Sarwono, 2009)

Berdasarkan hasil prasurvei yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Goeteng Taroenadibrata pada tahun 2016

kasus dengan gangguan reproduksi dengan jumlah 84 orang terdiri atas 51% mioma uteri, 39% kista ovarium, 9.3% carsinoma cervix 8 orang. Melihat latarbelakang tersebut maka penulis tertarik ingin mengetahui hubungan antara umur ibu dengan kejadian mioma uteri

2. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah non eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel dengan desain penelitian cross sectional.

Populasi Seluruh ibu yang mengalami mioma uteri di RSUDdr. Goeteng Tarunadibrata Purbalingga sampel, teknik sampling sampel yang diambil adalah seluruh populasi sehingga sampel yang digunakan adalah sampel jenuh. Variable penelitian ini adalah variabel dependen: umur ibu, kontrasepsi hormonal variabel independen: mioma uteri

3. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELITIAN

1. Analisis Univariat Karakteristik responden a. Distribusi umur responden

Umur Frekuensi Prosentase <35 tahun 35-50 th >50 th 4 78 12 4.3 83.0 12.8 Total 94 100

Dari tabel diatas terlihat bahwa rentangumur tetinggi 83% pada usia reproduksi yaitu 35-50 tahun, kemudian 12,8% usia >50 tahun, 43% usia <35 tahun

(24)

17 kontrasepsi hormonal dan tidak

hormonal Penggunaan kontrasepsi Frekuensi Prosentase Ya 46 48.9 tidak 48 51.1 Jumlah 94 100

Dari tabel 4.6. alat kontrasepsi yang digunakan sebagian besar (51.1%) adalah non hormonal dan 48.9% hormonal.

A. Analisis Bivariat

1. Hubungan umur dengan mioma uteri Umur ibu Mioma Uteri Mioma Tida k mio ma To tal f % f % f % < 35 tahun 3 6.4 1 2. 1 4 10 0 35-50 tahun 4 2 89. 4 3 6 7 6. 6 78 10 0 >50 tahun 2 4.3 1 0 2 1. 3 12 10 0 P value = 0,033 Ho ditolak

Dari tabel tersebut

menunjukkan bahwa kejadian mioma uteri tertinggi 89.45 % pada usia 35-50 tahun, kemudian 6.4% pada usia <35 tahun dan 4.3% pada usia >50 tahun. Hasil uji Chi squere dengan

taraf signifikasi 5% diperoleh p value 0,033 yang berarti bahwa nilai p≤0,05, jadi Ho ditolak, sehingga kesimpulannya ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian mioma uteri.

B. PEMBAHASAN

1. Terdapat hubungan antara

umur ibu dengan kejadian mioma uteri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian mioma uteri tertinggi 89.45 % pada usia 35-50 tahun, kemudian 6.4% pada usia <35 tahun dan 4.3% pada usia >50 tahun. Hasil uji Chi squere dengan taraf signifikasi 5% diperoleh p value 0,033 yang berarti bahwa nilai p≤0,05, jadi

Ho ditolak, sehingga

kesimpulannya ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian mioma uteri.

Hal ini sejalan dengan Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 50 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun. Mioma

menunjukkan pertumbuhan

maksimal selama masa

reproduksi dimana saat itu kadar estrogen sangat tinggi dan mengalami pengecilan pada saat menopause.

Berdasarkan hasil penelitian Pasinngih, Wagey, Rarung (2015) menyimpulkan bahwa mioma uteri paling sering terjadi pada kelompok umur 41-50 tahun atau dekade keempat. Pengaruh paparan hormon estrogen terhadap kejadian mioma uteri berjalan bertahap dan

(25)

18 berkembang seiring peningkatan usia,

di mana terdapat perbedaan pada setiap individu. Hal inilah yang mengakibatkan terdapat variasi distribusi kejadian mioma uteri pada beberapa kelompok umur. Namun onset perubahan sekunder pada mioma uteri paling sering termanifestasi pada usia 40-an dan menurun pada usia lebih tua, walaupun proses perkembangan perubahan sekunder ini sudah berlangsung sejak usia reproduksi. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Pratiwi, Suparaman, Wagey (2012) hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok usia 18-33 tahun kasus non-mioma uteri (41,6%) lebih banyak dibandingkan kasus mioma (6,5%). Berbeda halnya dengan kelompok usia 34-39 tahun, kasus non-mioma uteri sebesar 58,4% sedangkan kasus mioma uteri 93,5%.

2. Tidak terdapat hubungan

antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian mioma uteri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian mioma uteri tertinggi (51.1%) pada ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal dibandingkan dengan ibu yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal (48.9%), Hasil uji Chi squere dengan taraf signifikasi 5% diperoleh p value 0,680 yang berarti bahwa nilai p>0,05, jadi Ho

diterima artinya tidak terdapat hubungan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian mioma uteri.

Hal ini tidak sejalan dengan Menurut Meyer de Snoo dalam teori Cell nest atau teori genitoblast, menyatakan bahwa estrogen dapat memicu pertumbuhan mioma uteri karena mioma uteri kaya akan reseptor estrogen (Sarwono, 2009). Lamanya penggunaan kontrasepsi juga dapat mempengaruhi ukuran dari mioma uteri. Hal ini berkaitan dengan lamanya miometrium terpapar dengan hormon yang mempengaruhi

pertumbuhan mioma uteri.

Pertumbuhan mioma uteri paling sedikit memerlukan waktu sekitar 8 tahun dan sangat sulit dideteksi dan ada pula teori yang menyatakan bahwa pertumbuhan mioma uteri diperkirakan memerlukan waktu 3 tahun agar dapat mencapai ukuran sebesar tinju, akan tetapi beberapa kasus ternyata tumbuh cepat (Sarwono, 2009).

Berdasarkan hasil penelitian Nida, Heni, Gatot (2015) dapat disimpulan bahwa wanita yang menggunakan kb hormonal dan lama penggunaannya ≥ 3 tahun dapat memicu pertumbuhan mioma uteri karena di dalam kb hormonal terdapat hormon estrogen yang memicu tumbuhnya mioma uteri dan jika hormon tersebut semakin tahun

semakin meningkat jika lama

penggunaannya ≥ 3 tahun akan mempengaruhi besar kecilnya mioma uteri. mayoritas responden dengan mioma uteri menggunakan

kontrasepsi jenis progestin daripada kombinasi, dengan persentase 83,3%

4. KESIMPULAN

a. Rentang umur tetinggi 83% pada usia reproduksi yaitu 35-50 tahun, kemudian 12,8% usia >50 tahun, 43% usia <35 tahun.

(26)

19 b. alat kontrasepsi yang digunakan

sebagian besar (51.1%) adalah non hormonal dan 48.9% hormonal c. ada hubungan antara umur ibu

dengan kejadian mioma uteri. d. tidak terdapat hubungan antara

penggunaan kontrasepsi hormonal dengan kejadian mioma uteri.

5. REFERENSI

[1] Anwar . M. Baziad. Ali. Prabowo. P. 2011. Ilmu Kandungan. Edisi 3. Jakarta : Bina Pustaka

Sarwono Prawihardjo [2] Apriyani,Yosi& Sri Sumarni. 2013.

ANALISA

FAKTOR-FAKTOR YANG

BERHUBUNGAN

DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSUD

dr. ADHYATMA SEMARANG. Diakses tanggal 17 Januari 2017. Available from http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/ju rkeb/article/view/105

[3] Asri Hidayat dan Mufdlilah. 2009. Catatan Kuliah Konsep Kebidanan. Yogyakarta : Mitra Cendekia

[4] Benson, R.C,Pemoll, M.L. 2009.

Penyakit-Penyakit Uterus Neoplasma Jinak Uterus Leiomioma. In, Buku Saku

Obsetri Dan Ginekologi

[5] Cahyaningtyas, W. K. (2010).

Faktor-faktor yang berpengaruh Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta :

Penerbit EGC.

[6] Depkes , RI. 2009. Buku Panduan

Asuhan Kebidanan. Jakarta

: Depkes RI

[7] __________. 2011. Buku Panduan

Asuhan Kebidanan. Jakarta

: Depkes RI

[8] Desen,W. (2013). Buku Ajar Onkologi

Klinis. Jakarta : Badan

Penerbit FKUI

[9] Dinkes Jateng.Profil Kesehatan Jawa

Tengah (Diakses 30 Desember 2016) Tersediadari: http://dinkesjatengprov.go. id/v2013/dokumen/profil2 013/profil-2013-fix.pdf. [10] Ekine, A.A., Lawani, O.L.,Iyoke,

A.C., Jeremiah,

I,&Ibrahim, A.I. (2015). Review of Clinical Presentation of Uterine Fibroid and Effect of Theraupetic Intervention of Fertility. American Journal of Clinical Medicine Research. 3.(1).

[11] Essawibawa, 2011.Asuhan

kebidanan gangguan

reproduksi perdarahan uterus disfungsional pada usia perimenopause. [12] Ekpo, Ernest 2009. ‘Nulliparity,

Delayed Child Birth and Obesity: potential Risk Factors for Development of

(27)

20 Uterine Fibroid in

South-South Nigeria’, Journal of

Association of

Radiographers of Nigeria, vol. 23, no. 29, diakses 12

Januari 2017, http://www.researchgate.n et/publication/256702758_ Nulliparity_Delayed_Chil d_Birth_and_Obesity_Pote ntial_Risk_Factors_for_De velopment_of_Uterine_Fib roid_in_South-South_Nigeria .

[13] Fahrunniza, Nida & Heny Astutik,

Moch. Gatot Heri

Praptono. 2014. Kejadian Mioma Uteri Pada

Akseptor Hormonal. Diakses 13 Januari 2017.Availble from http://jurnal.poltekkes-malang.ac.id /berkas/ 43d4-69-75.pdf [14] FK UNPAD. (2010) . Ginekologi

Bandung :Elstar Offset

[15] Goodwin SC, Spesies TB. 2009.

Uterin fibroid embolization

[16] Hadibroto Budi R. 2010. Mioma

Uteri.Dalam : Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38, No.3,September 2005. [17] Hediyani,N.2011.Dokterku Online. Available from http://referensiartikelkedok teran . pubmed.com/2011/05/mio ma-uteri. diakses tanggal 27 Desember 2016

[18] Kurniasari, Tri. 2010. Katakteristik

Mioma Uteri DI RSUD Dr. MOEWARDI

SURAKARTA

[19] Periode Januari 2009 - JANUARI

2010. Other thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Diakses tanggal 15 Januari 2017. Available from https://eprints.uns. ac.id/4595/

[20] Lacey, C.G., Benign Disorders of the

Uterine Corpus, Current Obstetric and Gynecologic Diagnosa and Treatment,

6th ed, Aplleten& Lange, Norwalk Connectient, California, Los Atlas, 2007, p : 657-62.

[21] Manjoer , Arif. 2007. Kapita Selekta

Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

[22] Manuaba, I.B.G. 2009, Kapita selekta

penatalaksanaan rutin obsetri Gynokologi dan keluarga berencana,

Jakarta: EGC

[23] Manuaba.2009.Memahami kesehatan

reproduksi wanita. Jakarta

:Buku kedokteran EGC [24] _______. 2008. Konsep dan Praktik

Dokumentasi Asuhan

Kebidanan. Jakarta : EGC [24] Manuaba,Ida Ayu. S dkk.2010. Buku

Ajar Ginekologi. Jakarta :

EGC

[25] Marjono B. A. et all., 2008. Tumor

Ginekologi. Available from

(28)

21

http://www.geocities.com. (Accessed : November 21, 2008).

[25] Marmi dkk.2011. Asuhan Kebidanan

Patologis. Yogyakarta :

Pustaka pelajar

[26] Jannah,Miftachul& Ni Ketut Alit

Armini, dan Aria

Aulia.2015.Paritas Dan IMT (INDEKS MASSA TUBUH) BerhubunganDenganMio ma Uteri PadaWanitaUsiaSubur . Diakses tanggal 17 Januari2017.JurnalPediom aternal Vol. 3 No. 2 April—Oktober 2015. Available from http://e-journal.unair.ac.id [27] Muslihatun, Wafi dkk. 2009. Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya [28] Nugroho, Taufan. (2010).Buku Ajar

Ginekologi Untuk Mahasiswa

Kebidanan.Yogyakarta:

Yuna Medika

[29] Nurana L, Sjamsudin, S.2007.tumer

ginekologi, dalam cakul

OBGYN plus.Jakarta [30] Nursalam. 2008. Proses dan

dokumentasi keperawatan.

Jakarta : Salemba medika [31] ________. 2010. Proses dan

dokumentasi keperawatan.

Jakarta : Salemba medika

[32] ________. 2010. Proses dan

dokumentasi keperawatan.

Jakarta : Salemba medika [33] Notoatmodjo,S. 2010. Metodologi

Penelitian Kesehatan.

Jakarta : Rineka Cipta [34] ____________. 2012. Metodologi

Penelitian Kesehatan.

Jakarta : Rineka Cipta [35] Pasinggi,Sabrianti& Freddy

Wagey,Max Rarung. 2013. Prevalensi Mioma Uteri Berdasarkan Umur di RSUP PROF. DR. R. D. Kandou Manado. Jurnal

e-Clinic (eCl), Volume 3, Nomor 1, Januari-April 2015. Diakses tanggal 17 Januari 2017 Available from http://ejournal.unsrat.ac.id/ index.php/eclinic/article/vi ew/6517 [36] Parker WH. 2007. Etiology, syptomatology and diagnosis of uterin myomas.Volume 87. Departement of Obstetrics and gynekology UCLA School of Medicine. California : American Society for Reproductive Medicine.

[37] Pertiwi, K. D. (2011). Hubungan

Usia Menarche dan Paritas dengan kejadian Mioma Uteri di RSUD

Wates Kulonprogo tahun 2007-2010.

(29)

22

[38] Pratiwi, Suparaman,

Wagey.2012.Hubungan Usia Reproduksi dengan

Kejadian Mioma

Uteri DI RSUP. PROF. DR. R.D. Kandou Manado.

Jurnal e-CliniC (eCl), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, hlm. 26-30.Diakses tanggal 17 Januari 2017.Available from : http://download. portalgaruda. org/article . php? article=14973&val=1001

[40] Pratiwi D.A.(2013). Biologi SMA/MA

JL.2/K2013. Jakarta : Erlangga

[41] Prawirohardjo. (2007). Buku Acuan

Dan Panduan Asuhan Persalinan Normal dan Insiasi Menyusui Dini.

Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

[42] Prawirohardjo, Sarwono.2009. Ilmu kandungan. Jakarta : Yayasan Bina

Pustaka

[43] Rahmi, Ita. 2012. Gambaran Faktor

Resiko Penyebab

Terjdinya Mioma Uteri Di Poliklinik Kebidanan RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN. Jurnal Kesehatan Masyarakat.Diakses tanggal 17 Januari 2017 Available from : http://ejournal. uui.ac.id/jurnal/ITA

_RAHMI- zhv-jurnal _ita _rahmi. pdf

[44] Saifuddin, A.B. 2007. Buku Acuan

Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo [45] Saryono. 2011. Metodologi

Penelitian Kualitatif dalam Kesehatan. Yogyakarta :

Nuha Medika

[46] Setiati, E. 2012. Kenali Penanganan

Tumor Dan Kanker Pada Wanita: Pustaka Rama

[47] ____________. 2008. Buku Ajar

Asuhan Kebidanan Edisi 4,Volume II. Jakarta : EGC

[48] Walsh L.V. 2008. Buku Ajar

Kehamilan dan

Persalinan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka [49] Winkjosastro,H.2007. Ilmu

Kebidanan.Jakarta

:Yayasan Bina Pustaka

[50] _____________.2011.Ilmu

Kandungan. Jakarta: Bina

Pustaka Yayasan Bina Pustaka

[51] Yana, Linda. (2012). Karakteristik

Penderita Mioma Uteri yang dirawat inap di RSUD dr.

Pringadi Medan tahun 2009-2011.

[52] Yatim,F.(2007). Penyakit Kandungan. Jakarta : Pustaka Populer Obor

Gambar

Tabel .1  Karakteristik umur ibu dengan status gizi KEK
Tabel 1. Ditribusi Frekuensi Karakteristik  Ibu  Bersalin  yang  Mengalami  Pre  Eklampsia di RSUD Hj
Tabel 1. Rata-rata Volume Urin Kumulatif
Gambar  1.  Grafik  Rata-rata  Volume  Urin  Kumulatif
+7

Referensi

Dokumen terkait