PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN BREBES
Bab I. Pendahuluan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
1
B A B
PENDAHULUAN
I
A H U L U A N
A.
LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan maka di perlukan
manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di
semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pencatatan dan
pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu sistem
informasi kesehatan.
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) diarahkan untuk penyediaan data dan informasi
yang akurat, lengkap dan tepat waktu. Data dan informasi tersebut sangat penting dan
semakin dibutuhkan dalam manajemen kesehatan oleh berbagai pihak. Untuk itu pengelola
program harus bisa menyediakan dan memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat
dengan dikemas secara baik, sederhana, informatif dan tepat waktu.
Profil kesehatan merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang
penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tetapi informatif, untuk dipakai
sebagai alat tolak ukur kemajuan pembangunan kesehatan sekaligus sebagai bahan evaluasi
program – program kesehatan. Profil Kesehatan Kabupaten Brebes adalaha gambaran
situasi kesehatan yang memuat berbagai data dan informasi tentang situasi dan hasil
pembangunan kesehatan selama satu tahun yang memuat data derajat, sumber daya
kesehatan dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan.
B.
SISTEMATIKA PENYAJIAN
Sitematika penyajian Profil kesehatan adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini penjelasan tentang maksud, tujuan dan sistematika penyajiannya.
BAB II
GAMBARAN UMUM KABUPATEN BREBES
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Brebes. Didalamnya berisi
uraian tentang keadaan geografis, keadaan penduduk, pertumbuhan dan
kepadatan penduduk, sex ratio, struktur penduduk menurut golongan umur, angka
Bab I. Pendahuluan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
2
kelahiran, keadaan sosial ekonomi, PDRB, angka beban tanggungan dan tingkat
pendidikan.
BAB III PROGRAM KESEHATAN KABUPATEN
Bab ini berisi tentang program pokok yang direncanakan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Brebes. Dijelaskan pula tujuan, sasaran dan target serta upaya yang
dilakukan untuk mencapainya.
BAB IV PENCAPAIAN PROGRAM KESEHATAN MENUJU KABUPATEN SEHAT
Bab ini berisi tentang keberhasilan, kemajuan dan pencapaian program yang telah
ditetapkan selama tahun 2013. Indikator yang dimuat dalam profil ini adalah
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan (SPM-BK) dan Rencana Pembangunan
Jangnka Menengah Daerah (RPJMD) Bidang Kesehatan. Indikator tersebut meliputi
derajat kesehatan, keadaan lingkungan, keadaan perilaku masyarakat, upaya
kesehatan, dan manajemen kesehatan.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan berupa hal-hal penting yang perlu mendapat
perhatian lebih lanjut.
LAMPIRAN
Berisi resume atau angka capaian puskesmas se Kabupaten Brebes dan terdapat 84
tabel data sebagaimana diantaranya merupakan indikator Pencapaian Kinerja
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
Data yang tersaji dalam buku Profil Kesehatan Kabupaten Brebes ini diharapkan
dapat memenuhi ciri–ciri data yang baik yaitu data yang cepat, tepat dan akurat serta
informatif, sebagaimana tuntutan informasi di era otonomi ini. Sumber data Buku Profil
Kesehatan merupakan himpunan dari berbagai instansi yaitu Dinas Kesehatan, Puskesmas,
Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Swasta, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan
Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP), BAPPEDA, PMI, dll .
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
3
GAMBARAN UMUM KAB. BREBES
B A B I I
G A M B A U M U M
B R E B E S
A. KEADAAN DAERAH KABUPATEN BREBES
Kabupaten Brebes berdasarkan letak geografis berada di bagian utara paling
barat dari Provinsi Jawa Tengah yaitu antara :
Bujur Timur
: 108
041’ 37,7” - 109
011’ 28,92”
Lintang Selatan
: 6
044’ 56,5” - 7
020’ 51,48”
Sedangkan batas wilayah dengan daerah lain adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara
: Laut Jawa
Sebelah Timur
: Kabupaten Tegal dan Kota Tegal
Sebelah Selatan
: Wilayah Banyumas
Sebelah Barat
: Wilayah Cirebon (Jawa Barat).
Kabupaten Brebes memiliki luas wilayah 1663,39 km
2dengan jarak terjauh
utara-selatan 58 km dan barat-timur 50 km, terbagi secara adminstratif menjadi 17
kecamatan, 297 desa/kelurahan. Berdasarkan topografinya maka kecamatan di
Kabupaten Brebes dapat dikelompokkan sebagai berikut :
- Ketinggian kurang dari 500 m dari permukaan laut ada 15 kecamatan.
- Ketinggian 500 – 700 m dari permukaaan laut ada 1 kecamatan.
- Ketinggian lebih dari 700 m ada 1 kecamatan.
Ibu kota kabupaten Brebes terletak pada ketinggian ± 3 m dari permukaan air laut.
Berdasarkan administratif di Kabupaten Brebes terdapat 292 desa (98,32%)
yang tersebar di 17 Kecamatan dan hanya terdapat 5 kelurahan (1,68%). Kondisi daerah
Kabupaten Brebes 87,54% dikategorikan sebagai daerah pedesaan, sedangkan penduduk
Kabupaten Brebes persentase terbesar adalah penduduk yang tinggal di perkotaan.
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
4
B.
KEADAAN PENDUDUK
Penduduk sebagai salah satu sumber daya pendukung dalam pembangunan
menjadi aspek yang penting untuk diuraikan. Gambaran kependudukan di Kabupaten
Brebes pada tahun 2013 dapat dilihat pada lampiran tabel 1 sampai dengan 5.
1. Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Brebes tahun 2013 menurut data dari BPS
sebanyak 1.775.483 jiwa. Dengan luas wilayah sebesar 1.663,39 km
2,maka rata –
rata kepadatan penduduk di Kabupaten Brebes sebesar 1.067 jiwa untuk setiap
kilometer persegi (km
2). Wilayah kecamatan terpadat adalah kecamatan Brebes,
dengan tingkat kepadatan penduduk sekitar 4580 jiwa per kilometer persegi (km
2).
Wilayah terlapang di Kabupaten Brebes adalah kecamatan Salem, dengan tingkat
kepadatan penduduk sekitar 385 jiwa per kilometer persegi (km
2). Dengan demikian
dapat dilihat bahwa persebaran penduduk di Kabupaten Brebes belum merata.
Jumlah rumah tangga di Kabupaten Brebes sebesar 459.277 rumah tangga,
maka rata – rata jumlah anggota rumah tangga di Kabupaten Brebes adalah 3,87
jiwa untuk setiap rumah tangga. Jumlah penduduk tertinggi berada di Kecamatan
Bulakamba yaitu 167.360 jiwa (9,42 % dari jumlah penduduk Kabupaten Brebes),
sedangkan yang terendah di Kecamatan Salem sebesar 58.601 jiwa (3,30 % dari
jumlah penduduk Kabupaten Brebes).
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
5
Grafik 2.2
Pertumbuhan Jumlah Penduduk
Kabupaten Brebes Tahun 2009 - 2013
1700000
1720000
1740000
1760000
1780000
Tahun
J
iwa
Jml. Penduduk
Linear (Jml. Penduduk)
Jml. Penduduk
1752128
1736331
1742511
1748510
1775483
2009
2010
2011
2012
2013
Data mengenai kependudukan dapat dilihat pada lampiran Tabel 1. Adapun
gambaran pertumbuhan penduduk dan kepadatan penduduk dapat dilihat pada
grafik berikut.
Grafik 2.1
Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan
Di Kabupaten Brebes Tahun 2013
385
432
1325
942
950
808
931
976
1351
1808
3747
572
2248
3006
851
522
4580
0
1000
2000
3000
4000
5000
SALEM BANTARKAWUNG BUMIAYU PAGUYANGAN SIRAMPOG TONJONG LARANGAN KETANGGUNGAN BANJARHARJO LOSARI TANJUNG KERSANA BULAKAMBA WANASARI SONGGOM JATIBARANG BREBESK
e
c
a
mat
a
n
.
Jiwa / Km2
Sumber data : BPS Kabupaten Brebes
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
6
2. Struktur Penduduk menurut Umur
Struktur penduduk Kabupaten Brebes menurut golongan umur tahun 2013
terdapat pada tabel berikut :
Tabel 2.1
Tabel Struktur Penduduk Kabupaten Brebes
Menurut Golongan Umur Tahun 2009 – 2013
Golongan
Umur
Tahun
(Tahun)
2009
2010
2011
2012
2013
0 – 4
5 – 14
15 – 44
45 – 64
≥ 65
177.598
404.550
828.490
261.606
79.883
152.272
340.717
822.941
316.218
104.184
152.602
341.890
827.282
316.560
104.178
153.096
343.028
830.262
317.721
104.403
155.289
347.595
842.092
321.816
106.592
Total
1.747.430
1.752.128
1.736.331
1.748.510 1.775.483
Sumber Data : BPS Kabupaten Brebes, Tahun 2013
Penduduk golongan umur 0 – 4 tahun di Kabupaten Brebes Tahun 2013
cenderung naik sekitar 2.193 jiwa bila dibandingkan dengan penduduk golongan
umur yang sama pada tahun 2012. Secara keseluruhan jumlah penduduk di
Kabupaten Brebes mengalami kenaikan sejumlah 26.973 jiwa bila dibandingkan
dengan tahun sebelumnya.
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
7
Adapun
perbandingan komposisi proporsional penduduk Kabupaten Brebes
menurut usia produktif dari tahun 2009 sampai tahun 2013 dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 2.2
Tabel Persentase Jumlah Penduduk Kabupaten Brebes
Menurut Golongan Usia Produktif
Tahun 2009 - 2013
Kelompok
Usia
T a h u n
(Tahun)
2009
2010
2011
2012
2013
0 - 14
15 – 64
≥ 65
33 %
62 %
5 %
28,39%
65,61%
6 %
28,38%
65,64%
5,98%
28,37%
65,65%
5,97%
28,32%
65,55%
6,00%
Sumber Data : BPS Kabupaten Brebes
Dari
tabel kelompok usia produktif di atas terlihat bahwa proporsi
penduduk tahun 2013 bila dibandingkan dengan tahun 2012 pada kelompok usia
produktif (15 – 64 tahun) mengalami penurunan, sedangkan pada kelompok usia
tidak produktif pada umur 0 – 14 tahun mengalami penurunan dan umur ≥ 65 tahun
mengalami kenaikan yang tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa angka beban
tanggungan menjadi bertambah.
C.
TINGKAT PENDIDIKAN PENDUDUK
Tingkat pendidikan dapat berkaitan dengan kemampuan menyerap dan
menerima informasi kesehatan serta kemampuan dalam berperan serta dalam
pembangunan kesehatan. Masyarakat yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, pada
umumnya mempunyai pengetahuan dan wawasan yang lebih luas sehingga lebih mudah
menyerap dan menerima informasi kesehatan, serta dapat ikut berpartisipasi aktif
dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarga.
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
8
Kemampuan baca tulis penduduk yang dapat dilihat dari angka melek huruf.
Jumlah penduduk yang dapat membaca dan menulis huruf pada tahun 2013 sebesar
91,53 % dari jumlah penduduk di Kabupaten Brebes, sedangkan yang buta huruf
sebesar 8,47 %. Bila dilihat dari jenis kelaminnya, maka penduduk laki – laki lebih
tinggi yang melek huruf dibandingkan dengan penduduk perempuan. Data mengenai
angka melek huruf dapat dilihat pada lampiran Tabel 5.
D.
KEADAAN SOSIAL EKONOMI
1. PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
Salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan daerah di bidang ekonomi
yang diperlukan untuk evaluasi dan perencanaan ekonomi makro, biasanya dilihat
dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) baik atas dasar
harga konstan maupun atas dasar harga berlaku. PDRB mempunyai kegunaan
sebagai parameter tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat kemakmuran masyarakat,
tingkat inflasi dan deflasi, struktur perekonomian serta tingkat produktifitas tenaga
kerja dan sektor.
Dari data BPS, angka PDRB Kabupaten Brebes pada tahun 2013 atas
dasar harga berlaku Rp 20.199.000,86 sedangkan atas dasar harga konstan
Rp 6.390.000,18 Berikut disajikan grafik perkembangan PDRB Kabupaten Brebes
dari tahun 2009 – 2013.
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
9
0
5
10
15
20
2009
2010
2011
2012
2013
Tahun
Grafik 2.3
Produk Domestik Regional Bruto
Kabupaten Brebes Tahun 2009 - 2013
(dalam Milyar Rupiah)
Harga
Berlaku
Harga
Konstan
Sumber Data : BPS Kabupaten Brebes, Tahun 2013
Perkembangan PDRB Kabupaten Brebes tahun 2009–2013 mengalami
kenaikan baik menurut harga konstan maupun harga berlaku. Melihat
kecenderungan ini diharapkan peningkatan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat
meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan masyarakat.
Bab II. Gambaran Umum Kabupaten Brebes
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
10
2. Pendapatan per Kapita
Salah satu parameter tingkat kemakmuran masyarakat adalah pendapatan
rata-rata per kapita suatu daerah. Pendapatan per kapita Kabupaten Brebes tahun
2013 sebesar Rp. 10.327.000,52 berdasarkan harga berlaku dan Rp. 3.484.000,52
untuk harga konstan. Sedang akan tahun 2012 tercatat sebesar Rp. 10.333.442,72
berdasarkan harga berlaku dan Rp 3.486.517,08 untuk harga konstan.
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
11
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat menggunakan beberapa indikator
yang tercermin dalam kondisi mortalitas (kematian), morbiditas (kesakitan) dan status
gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Brebes digambarkan
melalui Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita
(AKABA), angka morbiditas beberapa penyakit serta status gizi di masyarakat.
Faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sumberdaya
kesehatan mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Selain itu derajat kesehatan
masyarakat juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti faktor ekonomi, pendidikan,
lingkungan sosial serta faktor lainnya.
A.
Mortalitas
1. Mortalitas (Angka Kematian)
Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat
menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi atau tingkat
permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak
langsung. Selain itu dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan
pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan.
a. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0 – 12 bulan)
per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB dapat
menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berhubungan
dengan faktor penyebab kematian bayi diantaranya tingkat pelayanan antenatal,
status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan KB serta kondisi
lingkungan dan sosial ekonomi. Bila AKB di suatu wilayah tinggi, berarti status
kesehatan di wilayah tersebut rendah.
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
12
Angka kematian bayi yang dilaporkan oleh Puskesmas selama tahun 2013
sebesar 10,6 per 1.000 kelahiran hidup atau sebanyak 350 kasus kematian bayi
dari 33.074 kelahiran hidup.
Angka ini mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2012 dan
bila berdasarkan target MDG (Millenium Development Goals) ke – 4 tahun 2015
yaitu 17 per 1000 kelahiran hidup, berarti angka kematian bayi di Kabupaten
Brebes masih dibawah target tersebut.
Grafik 3.1
Angka Kematian Bayi di Kabupaten Brebes
Tahun 2009 - 2013
0
5
10
15
20
p
er
1.
000
K
H
AKB
AKB
10
9,7
9,3
14,9
10,6
2009
2010
2011
2012
2013
b. Angka Kematian Balita (AKABA)
Kematian Balita adalah kematian yang terjadi pada balita sebelum usia
lima tahun. AKABA dapat menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak
balita yang dipengaruhi oleh tingkat pelayanan KIA / posyandu, tingkat
keberhasilan program KIA / posyandu dan kondisi sosial ekonomi serta kondisi
sanitasi lingkungan. Angka kematian Balita (AKABA) yang dilaporkan puskesmas
selama tahun 2013 sebesar 2,1 per 1.000 kelahiran hidup atau sebanyak 71 kasus
per 33.074 kelahiran hidup.
Angka ini naik bila dibandingkan tahun 2012 (55 kasus / 33.996) akan
tetapi bila dibandingkan dengan target yang diharapkan dalam MDG (Millenium
Development Goals) ke – 4 tahun 2015 yaitu 23/1.000 kelahiran hidup, berarti
angka kematian balita di Kabupaten Brebes masih dibawah target tersebut.
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
13
c. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan resiko yang dihadapi ibu – ibu
selama kehamilan dan melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu, keadaan
sosial ekonomi, keadaan kesehatan yang tidak baik menjelang kehamilan,
kejadian berbagai komplikasi pada kehamilan dan kelahiran, tersedianya dan
pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan
obstetri. Berdasarkan laporan bulanan puskesmas Angka Kematian Ibu (AKI) untuk
tahun 2013 sebesar 184,4 /100.000 kelahiran hidup atau sebanyak 61 kasus,
mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan angka kematian ibu pada tahun
2012 sebesar 150,0 /100.000 kelahiran hidup atau sebanyak 51 kasus.
Grafik 3.3
Angka Kematian Ibu di Kabupaten Brebes
Tahun 2009 - 2013
0
100
200
p
e
r
1
0
0
.0
0
0
K
H
AKI
AKI
132,314
108,52
97,7
150
184,4
2009
2010
2011
2012
2013
Grafik 3.2
Angka Kematian Balita di Kabupaten Brebes
Tahun 2009 - 2013
0
1
2
3
p
er
1.
00
0
K
H
AKABA
AKABA
2,09
0,54
0,56
1,6
2,1
2009
2010
2011
2012
2013
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
14
Jumlah kematian maternal terbanyak ada di puskesmas Sitanggal
sebanyak 5 kematian. Sedangkan di 10 puskesmas tidak terdapat kematian ibu.
Grafik 3.4
Jumlah Kematian Ibu
Di Kabupaten Brebes Tahun 2013
0
0
3
3
2
1
1
0
2
1
1
0
1
3
5
2
1
3
0
0
1
4
0
1
0
2
2
2
3
4
0
1
0
3
3
1
2
3
0
1
2
3
4
5
6
SALEM BENTAR BANTARKAWUNG BUARAN BUMIAYU KALIWADAS PAGUYANGAN WINDUAJI SIRAMPOG TONJONG KUTAMENDALA JATIBARANG KLIKIRAN LARANGAN SITANGGAL KETANGGUNGAN CIKEUSAL KIDUL BANJARHARJO CIKAKAK BANDUNGSARI LOSARI BOJONGSARI KECIPIR TANJUNG KEMURANG WETAN LUWUNGGEDE KERSANA BULAKAMBA SIWULUH KLUWUT WANASARI JAGALEMPENI SIDAMULYA BREBES KALIGANGSA KALIMATI PEMARON JATIROKEHP
u
ske
sm
a
s
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
15
d. Angka Kematian Kecelakaan Lalu Lintas
Angka kematian kecelakaan lalu lintas adalah jumlah kematian sebagai
akibat dari kecelakaan lalu lintas per 100.000 penduduk dalam kurun waktu satu
tahun. Angka kecelakaan lalulintas per 100.000 penduduk di Kabupaten Brebes
tahun 2013 sebesar 202,31 per 100.000 penduduk sedangkan angka kematian
kecelakaan lalulintas tahun 2013 adalah sebesar 4,05 per 100.000 penduduk di
Kabupaten Brebes.
2. Morbiditas (Angka Kesakitan)
a. Angka Kesakitan Malaria
Pada tahun 2013 ditemukan sejumlah kasus malaria yang kemudian
dilakukan pemeriksaan terhadap sediaan darah penderita klinis yang terdapat
7 kasus malaria yang dinyatakan positif (ditemukan plasmodium). Jumlah
kasus malaria di wilayah Kabupaten Brebes dapat dilihat pada tabel 24.
b. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+)
Case Detection Rate (CDR) atau angka penemuan penderita TB paru
BTA (+) di Kabupaten Brebes tahun 2013 sebesar 54,13 % lebih rendah
daripada target SPM sebesar 70%. Rendahnya angka penemuan ini berarti
belum banyak kasus TB paru yang dapat terdeteksi dan terobati sehingga tidak
dapat menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitar para penderita
tersebut. Hal ini dikarena adanya penurunan upaya penemuan kasus secara
aktif oleh petugas kesehatan.
Angka kesembuhan penderita merupakan indikator keberhasilan
pelaksanaan program penanggulangan TB paru. Pada tahun 2013 angka
kesembuhan penderita TB paru sebesar 78,54 % sedangkan angka kesembuhan
mengalami peningkatan dari 72,67% pada tahun 2012. Angka ini masih
dibawah target nasional sebesar 85%.
c. Angka “Acute Flaccid Paralysis” (AFP )
Program Eradikasi Polio (ERAPO) merupakan program pemerintah untuk
menurunkan jumlah penderita polio. Program ERAPO yang terdiri dari
pemberian imunisasi polio rutin, pemberian imunisasi massal pada anak balita
melalui PIN (Pekan Imunisasi Nasional) dan Surveilans AFP. Surveilans AFP
adalah pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara
mendadak dan sifatnya flaccid (layuh), seperti kelumpuhan pada
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
16
poliomyelitis. Semua kasus AFP yang terjaring termasuk kedalam kasus polio
atau tidak dapat dibuktikan dengan dilakukan pemeriksaan virologis dan klinis
sehingga dapat diketahui apakah ada polio liar di masyarakat.
Setiap tahunnya diperkirakan 2 anak diantara 100.000 anak usia < 15
tahun menderita kelumpuhan AFP. Pada tahun 2013 Kabupaten Brebes
menemukan 8 penderita AFP. Akan tetapi dari hasil pemeriksaan
laboratorium, jumlah kasus 8 yang diperiksa semua menunjukan negatif polio
(berarti tidak ditemukan virus polio liar)
d. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Angka kesakitan / Incidence Rate (IR) DBD di Kabupaten Brebes pada
tahun 2013 sebesar 37,3 / 100.000 penduduk. Angka ini naik bila dibandingkan
tahun 2012 sebesar 11,7 / 100.000 penduduk. Meskipun demikian, angka
tersebut masih jauh di atas target nasional yaitu < 2/100.000 penduduk.
Kabupaten Brebes memiliki iklim yang tidak stabil dan curah hujan
yang cukup banyak pada musim penghujan. Hal ini merupakan sarana
perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegipty yang cukup potensial. Dengan
kurang maksimalnya masyarakat dalam menggalakkan kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan masing – masing, maka hal inilah yang
menjadi faktor utama penyebab tingginya angka kesakitan DBD di Kab. Brebes.
Angka Kematian / Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2013 adalah
sebesar 2,27 %, mengalami penurunan bila dibandingkan CFR tahun 2012
sebesar 3,41 %. Angka ini masih di atas target nasional sebesar < 1 %.
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
17
Grafik 4.4
Angka Kesakitan dan Kematian DBD
Di Kabupaten Brebes
Tahun 2009 - 2013
0
10
20
30
40
IR
CFR
IR
12,72
16,82
7,58
11,7
37,3
CFR
3,49
5,14
1,52
3,41
2,27
2009
2010
2011
2012
2013
d. Persentase DBD Ditangani
Penderita DBD yang ditangani adalah penderita DBD yang
penanganannya sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Cakupan penderita DBD yang ditangani di Kabupaten Brebes pada
tahun 2013 sebesar 100%, berarti sudah mencapai target SPM tahun 2015
sebesar 100%. Demikian juga pada tahun – tahun sebelumnya, hal ini berarti
seluruh penderita DBD yang ada semuanya sudah ditangani sesuai standar.
Untuk selengkapnya jumlah kasus Demam Berdarah di wilayah
Kabupaten Brebes dapat dilihat pada tabel 10
f. Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat
Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang
menimbulkan masalah sangat kompleks, bukan hanya dari segi medis namun
meluas hingga masalah sosial, ekonomi, budaya dan ketahanan nasional.
Jumlah proporsi penderita kusta dan angka kecacatan yang cukup tinggi
merupakan permasalahan yang masih dihadapi di Kabupaten Brebes.
Jumlah penderita kusta pada tahun 2013 sebanyak 305 orang, terdiri
dari 32 penderita PB dan 273 penderita MB. Pada tahun 2013 (Pasien yang
terdaftar pada Tahun 2012) ini angka selesai berobat (RFT) untuk PB 84,62 %
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
18
sedangkan untuk MB penderitanya adalah Pasien yang terdaftar pada Tahun
2011 pada tahun 2013 memiliki angka selesai berobat (RFT) sebesar 79,09 %.
g. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Pada tabel 50, Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) pada Tahun 2013 yaitu
untuk Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyerang 5 (lima) desa pada 7
(tujuh) kecamatan, Keracunan makanan menyerang 2 (dua) desa pada 1 (satu)
kecamatan, Varicella menyerang 1 (satu) desa pada 1 (satu) kecamatan. Pada
tahun 2012 terdapat 7 (tujuh) kasus kematian di Kab. Brebes yang disebabkan
oleh Demam Berdarah Dengue (DBD).
3. Status Gizi
a. Status Gizi Balita
Naiknya timbangan dapat menggambarkan tingkat kesehatan balita di
wilayah kerja posyandu. Demikian juga dengan kejadian gizi buruk dapat
dideteksi dini melalui intensifikasi pemantauan tumbuh kembang balita di
posyandu, dilanjutkan dengan penentuan status gizi oleh bidan di desa atau
petugas kesehatan lainnya. Penemuan kasus gizi buruk harus segera ditindak
lanjuti dengan rencana tindak yang jelas sehingga penanggulangan gizi buruk
dapat memberikan hasil yang optimal.
Tabel 44 menunjukkan data status gizi bayi dan balita sesuai hasil
penimbangan bulanan di Puskesmas (F.III. Gizi) selama tahun 2013. Jumlah balita
yang ditimbang sebanyak 112.234 balita. Sebanyak 1.065 balita (0,95%)
dikategorikan BGM yaitu berat badan di bawah garis merah pada grafik KMS atau
disebut juga gizi buruk. Kondisi ini dapat terjadi karena balita mengalami kurang
energi protein (KEP).
Puskesmas dengan prosentase jumlah balita gizi buruk yang tertinggi
adalah Puskesmas Kluwut 5,46 %. Sedangkan puskesmas yang tidak terdapat
kejadian balita gizi buruk hanya ada 1 (satu) puskesmas.
Kecamatan bebas rawan gizi berdasarkan definisi operasional dari
“Rancangan matriks petunjuk teknis SPM bidang kesehatan di kabupaten/kota”
adalah prosentase kecamatan dengan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada
balita < 15 % pada kurun waktu tertentu.
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
19
b. Penanggulangan Anemi
Program penangulangan anemia yang dilakukan adalah dengan
memberikan tablet tambah darah yaitu preparat Fe yang bertujuan untuk
menurunkan angka anemia pada balita, bumil, bufas, remaja putri dan WUS
(Wanita Usia Subur). Pemberian tablet Fe kepada bumil ada 2 indikator, Fe1 dan
Fe3. Cakupan ibu hamil mendapatkan tablet Fe adalah cakupan ibu hamil yang
mendapatkan sejumlah 90 tablet Fe selama periode kehamilannya.
Pada tabel 30 pemberian tablet tambah darah (Fe-90) diberikan pada
34.167 ibu hamil ( 91,41 % dari 37.379 ibu hamil).
c. Bayi dan Balita Mendapat Kapsul Vitamin A
Salah satu program penanggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA) yang
telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali
pertahun pada balita dan ibu nifas untuk mempertahankan bebas buta, karena
KVA dapat mencegah berkembang kembalinya Xerofthalmia dengan segala
manifestasinya (gangguan penglihatan, buta senja dan kebutaan bahkan sampai
kematian). Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis
tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya
tahan anak terhadap penyakit infeksi sehingga dapat menurunkan angka
kesakitan dan kematian pada bayi dan anak.
Pemberian kapsul vitamin A kepada balita usia 6 bulan – 4 tahun,
diharapkan dapat mencegah penyakit Kekurangan Vitamin A (KVA). Pada tahun
2013 berdasarkan laporan bulanan puskesmas dapat diketahui bahwa pemberian
vitamin A pada bayi usia 6 bulan - 11 bulan yang telah mendapat vitamin A 1 kali
sebanyak 17.229 bayi (98,55%) dari 17.483 bayi. Sedangkan jumlah balita usia 1 –
4 tahun yang telah mendapat vitamin A 2 kali sebanyak 118.590 balita (98,35%)
dari 120.575 balita dimana target cakupan balita yang mendapat kapsul vitamin A
sebanyak 2 kali per tahun 92 %.
d. Ibu Nifas Mendapat Kapsul Vitamin A
Suplementasi vitamin A pada ibu nifas merupakan salah satu program
penanggulangan kekurangan vitamin A. Cakupan ibu nifas mendapat kapsul
vitamin A adalah cakupan ibu nifas yang mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi
(200.000 SI) pada periode sebelum 40 hari setelah melahirkan. Cakupan ibu nifas
mendapatkan kapsul vitamin A di Kabupaten Brebes tahun 2013 sebesar 92,08%
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
20
4. Umur Harapan Hidup
Kesehatan merupakan salah satu indikator Umur harapan hidup. Dengan
semakin baik tingkat kesehatan seseorang maka semakin baik juga umur harapan
hidup. Umur harapan hidup digunakan untuk mengetahui berapa lama orang dapat
hidup sejak usia tertentu sehinggga umur harapan hidup dianggap sebagai indikator
umum bagi taraf hidup.
Gambaran Umur Harapan Hidup dari tahun 2006 – 2013 dapat dilihat pada
tabel dibawah ini
Pada tabel Umur Harapan Hidup diatas menunjukkan bahwa taraf hidup di
Kabupaten Brebes dari tahun ke tahunnya semakin baik dengan kesehatan sebagai
salah satu indikatornya.
Tahun
Umur Harapan Hidup
2006
65,5
2007
66,75
2008
67,08
2009
67,37
2010
67,67
2011
67,69
2012
68,26
2013
68,36
Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
21
SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
1. Pelayanan Kesehatan Ibu
a. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil
Pemeriksaan Ante Natal sangat penting dalam masa kehamilan
terutama untuk ibu dan bayi yang dikandungnya. Cakupan Pelayanan ante
natal dapat dipantau melalui pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar
paling sedikit 4 (empat) kali dengan distribusi sekali pada triwulan pertama,
sekali pada triwulan dua, dan dua kali pada triwulan ketiga. Pelayanan yang
diberikan berupa penimbangan berat badan, pemeriksaan kehamilannya,
pemberian tablet besi, pemberian imunisasi TT, pemeriksaan tensi dan
konsultasi.
Jumlah kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan Puskesmas dan
mendapat pelayanan antenatal dicatat dalam kunjungan K1 dan K4. Selama
tahun 2013 (tabel 28) ada 37.379 ibu hamil. Cakupan K4 ibu hamil pada
tahun 2013 sebanyak 90,33% (33.765 orang).
Jumlah Ibu Hamil bila dibandingkan dengan tahun 2012 ada 36.938
ibu hamil, prosentase K4 mengalami penurunan dan Angka prosentase K4
selama tahun 2012 adalah sebesar 93,37%. Guna mengatasi penyebab
penurunan K4 perlu ditingkatkan lagi pencapaian program kegiatan KIA.
Bab IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Tahun 2013
22
b. Persalinan Yang Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan
Pertolongan persalinan mempunyai peranan yang cukup besar
dalam penurunan angka kematian bayi dan kematian ibu. Kualitas
pertolongan persalinan yang tidak bersih dan tidak aman menimbulkan
infeksi yang dapat menyebabkan kematian bayi. Berdasarkan laporan
Puskesmas pada tahun 2013 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
sebanyak 33.062 dari 35.687 ibu bersalin atau 92,64%.
Berikut disajikan grafik persentase cakupan pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2009 – 2013.
Grafik 4.1
CAKUPAN K4 DI KABUPATEN BREBES
TAHUN 2009 - 2013
93,15
91,56
94,95
93,37
91.87
85
87
89
91
93
95
97
K4
Persen
(%)
2009
2010
2011
2012
2013
Grafik 4.2
CAKUPAN PERSALINAN NAKES DI KABUPATEN BREBES TAHUN 2009 - 2013
89,99 95,02 92,64 91,36 96,07