• Tidak ada hasil yang ditemukan

EATING DISORDERS. Silvia Erfan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EATING DISORDERS. Silvia Erfan"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

EATING

DISORDERS

(2)

Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk

• Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan

menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan

dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.

(3)

PENDAHULUAN

• Terdapat dua sindrom penting:

• Anoreksia nervosa

(4)

PPDGJ III: F50 GANGGUAN MAKAN

F50.0 Anoreksia nervosa

F50.1 Anoreksia nervosa tak khas F50.2 Bulimia nervosa

F50.3 Bulimia nervosa tak khas

F50.4 Makan berlebih yg berhubungan dgn gangguan psikologis lainnya.

F50.5 Muntah yg berhubungan dgn gangguan psikologis lainnya.

F50.8 Gangguan makan lainnya F50.9 Gangguan makan YTT

(5)
(6)

DEFINISI

• Suatu sindrom yang ditandai dengan

penurunan berat badan yang disengaja, yang dimulai dan atau dipertahankan oleh pasien • Merupakan suatu sindrom independen 

gambaran klinis dari sindrom ini mudah

dikenal  diagnosis dapat diandalkan dengan tingkat kesesuaian yang tinggi di antara para dokter

(7)

ETIOLOGI

• Penyebab pasti masih belum jelas

• Interaksi antara faktor psikologis, sosio

(8)

EPIDEMIOLOGI

• Umumnya terjadi pada gadis remaja atau

perempuan muda, antara usia 10 – 30 tahun, usia tersering 20 tahun

• 10 – 20 kali lebih sering pada wanita

• Jarang pada remaja pria, anak menjelang pubertas atau pada perempuan menjelang menopause

(9)

GAMBARAN KLINIS

• Adanya penurunan berat badan akibat diet yang sangat ketat dan menghindari makanan yang menggemukkan

• Diet terus berlanjut dengan menahan keinginan makan walaupun dalam

keadaan kelaparan serta berat badan yang semakin menurun

(underweight) oleh karena

(10)

Gambaran klinis

• Menurunkan berat badan dengan

menggunakan diuretik, pencahar, induksi muntah, olahraga berlebihan

• Ketakutan yang berlebihan akan

peningkatan berat badan ataupun obesitas

• Adanya gangguan fungsi endokrin

– Wanita: amenore (minimal 3 bulan berturut-turut) – Laki-laki: penurunan gairah dan potensi seksual

(11)

Gambaran klinis

• Gejala fisik yang disebabkan karena kelaparan:

– Amenore - Pusing dan sakit kepala – Kulit kering - Hipotensi dan bradikardia – Kelelahan - Parastesia

– Dispepsia

– Osteoporosis akibat estrogen yang rendah dan rendahnya kalsium

– Fraktur pada olahraga yang berlebihan – Gangguan elektrolit dan kimia darah – Poliuria akibat minum berlebihan

(12)

Gambaran klinis

• Gejala psikis:

– Depresi – Ansietas

– Konsentrasi menurun

– Preokupasi tentang makanan

– Iritabel dan hipersensitif terhadap kebisingan – Fluktuasi mood yang ekstrim

(13)

Gambaran klinis

• Gangguan perilaku yang berhubungan dengan makan:

– Menolak/tidak mau makan

– Makan jenis makanan yang berbeda dgn keluarga – Makan dgn waktu yang berbeda dgn waktu makan

keluarga

– Makan lambat

(14)

DIAGNOSIS

F50.0 ANOREKSIA NERVOSA (PPDGJ III)

a. Berat badan (BB) tetap 15% dibawah normal (baik berkurang maupun tak pernah tercapai) atau indeks masa tubuh Quetelet adalah 17,5 atau kurang. Pada pasien prapubertas bisa

saja gagal memperoleh berat yang diharapkan selama periode pertumbuhan.

(15)

b. Pengurangan BB dilakukan sendiri dengan

menghindarkan makanan yg mengandung lemak dan salah satu atau lebih hal berikut ini:

merangsang muntah oleh diri sendiri,

merangsang pengeluaran makanan oleh diri sendiri; olahraga berlebihan; makan obat

penekan nafsu makan dan/atau diuretika.

c.

Terdapat distorsi citra tubuh (body-image) dalam bentuk psikopatologi khas dgn ketakutan gemuk

terus menerus, menilai badan lebih berat dan pasien memberlakukan suatu ambang BB yang rendah bagi dirinya.

(16)

d. Adanya gangguan pada endokrin yg meliputi poros

hipothalamus-hipofisis-gonad, dengan manifestasi

pada wanita sebagai amenore dan pada pria

kehilangan minat seksual dan impotensi. (suatu perkecualian adalah perdarahan vagina menetap pada wanita anoreksia yg memperoleh terapi

hormonal pengganti, umumnya sebagai pil

kontraseptif). Juga dapat terjadi kenaikan hormon pertumbuhan, naiknya kadar kortisol, perubahan metabolisme periferal tiroid dan sekresi insulin abnormal.

(17)

e. Jika onset terjadi pada masa prapubertas,

perkembangan pubertas tertunda, atau bahkan tertahan (pertumbuhan berhenti; anak

perempuan buah dadanya tidak berkembang terdapat amenore primer; anak laki2

genitalianya tetap kecil). Dengan kesembuhan, pubertas sering tercapai atau diakhiri secara normal, tetapi menarke terlambat.

Tak termasuk: kehilangan nafsu makan (R63.0) kehilangan nafsu makan

(18)

DIAGNOSIS BANDING

• Gangguan ini mungkin disertai gejala depresi atau obsesif, selain juga tanda-tanda dari

gangguan kepribadian

• Kehilangan berat badan oleh penyebab fisik atau somatik pada pasien muda harus

dibedakan dari penyakit somatik kronis seperti tuberkulosis paru, hipertiroidism, tumor otak dan gangguan intestinal seperti penyakit

(19)
(20)

DEFINISI

• Suatu sindrom yang ditandai oleh serangan berulang perilaku makan berlebih dan

preokupasi berlebihan perihal berat badannya  menggunakan cara yang sangat ketat untuk mengurangi efek menggemukkan dari

makanan

• Merupakan sekuele dari anoreksia nervosa yang menetap

(21)

EPIDEMIOLOGI

• Distribusi umur dan jenis kelamin mirip anoreksia nervosa

(22)

GAMBARAN KLINIS

• Pembengkakan kelenjar ludah akibat muntah berulang  nampak seperti penyakit mumps

• Amenore atau menstruasi tidak teratur pada periode starvasi

• Dilatasi lambung akut pada episode makan berlebih yang sering diikuti nyeri abdomen

• Sindrom kolon iritabel, dehidrasi dan gangguan elektrolit (hipokalemi) akibat penggunaan

(23)

Gambaran klinis

• Gejala fatiq, dispepsia, sakit kepala, insomnia • Adanya periode starvasi dan adanya

episode makan berlebih

(binge-eating)

• Berat badan normal atau sedikit

berlebih dan fluktuatif penurunan berat badan yang sulit dijelaskan

(24)

DIAGNOSIS

F50.2 BULIMIA NERVOSA (PPDGJ III)

a. Terdapat suatu preokupasi yg terus menerus untuk makan dan keinginan makan yg tak

tertahankan, pasien menyerah terhadap episode makan berlebihan, saat dimana pasien makan sangat banyak dalam waktu singkat.

(25)

b. Pasien berusaha melawan efek

”menggemukkan” dari makanan dengan salah satu/lebih cara berikut ini: sengaja merangsang muntah, pemakaian pencahar berlebihan, puasa berkala, menggunakan obat; seperti penekan

nafsu makan, pemakaian preparat tiroid atau diuretika. Jika bulimia terjadi pada pasien

diabetes, mereka mungkin memilih untuk mengabaikan pengobatan insulinnya.

(26)

c. Psikopatologi terdiri dari rasa khawatir luar biasa terhadap kegemukan, mereka menentukan suatu batas ambang BB tertentu yg jauh di bawah BB yg optimal atau BB normal menurut pandangan dokter. Sering, tapi tidak selalu, diawali oleh episode

anoreksia nervosa, dengan interval antara kedua penyakit berkisar beberapa bulan-beberapa tahun. Episode dini ini dapat terlihat secara penuh, atau suatu bentuk yg samar dengan kehilangan BB yg sedang dan/atau fase singkat dari amenore.

Termasuk: Bulimia YTT

(27)

DIAGNOSIS BANDING

• Gangguan fungsional atau kelainan organik seperti gangguan gastrointestinal bagian atas yang berakibat muntah berulang

• Gangguan kepribadian dan gangguan depresif mayor

(28)

TATA LAKSANA

• Cukup kompleks dan sampai saat ini belum ada tata laksana khusus baik pada anoreksia nervosa maupun bulimia nervosa

• Pemilihan medikamentosa simtomatik dan psikotropik, antiansietas ataupun

antidepresan sesuai dengan gejala dan sindrom yang ditemukan.

• Psikoterapi memberikan hasil yang cukup baik terutama psikoterapi kognitif dan perilaku.

(29)

Tata laksana

• Penatalaksanaan secara umum:

– Asesmen dan analisis masalah yang relevan berhubungan dengan gangguan makan

– Target terapi jelas terutama terhadap gejala gangguan makan, berat badan dan masalah psikososial

– Memahami kehidupan individu dan keluarganya – Melibatkan keluarga dalam pengobatan

(30)

Tata laksana

• Tahap awal : perbaiki bila ada dehidrasi dan gangguan elektrolit yang terjadi akibat intake yang kurang

 Dirawat jika ada indikasi, yaitu:

– Dehidrasi dan gangguan elektrolit – Hipotensi dan atau bradikardia

– Penurunan berat badan yang progresif dan atau indeks massa tubuh kurang dari 16

– Adanya abnormalitas elektrokardiogram – Adanya gangguan fungsi ginjal atau hati

(31)

Tata laksana

• Tahap selanjutnya : memperbaiki gangguan psikis, sosial, keluarga dan perilaku yang

(32)

Referensi

Dokumen terkait

terdapatnya perbedaan berat badan pada pasien karsinoma nasofaring sebelum dan sesudah radioterapi, dimana pengobatan radioterapi mengakibatkan penurunan berat badan

Efektivitas Kombinasi SEFT (Spiritial Emotional Freedom Technique) dan Aromaterapi Lemon terhadap Penurunan Heart Rate dalam Gambaran EKG pada Pasien dengan

Dari hasil pengamatan berat badan pasien sebelum dan sesudah terapi didapatkan rata-rata persen penurunan berat badan adalah 2,68%, sedangkan rata- rata persen penurunan BMI

Penurunan berat badan yang terus menerus akan dapat mengakibatkan malnutrisi pada pasien dimana akan berakibat pada penurunan proses penyembuhan luka pada pasien,

dengan data subjektif pasien mengatakan merasa mual muntah, pasien mengatakan tidak nafsu makan dan data objektif terjadi penurunan berat badan, IMT : 17,5 (berat

Hubungan antara fungsi ginjal dan kadar albumin terhadap lama penurunan berat badan pada anak dengan sindrom nefrotik [skripsi].. Semarang (Indonesia): Universitas

Manifestasi klinis terlihat lebih berat pada kasus 1, dimana terdapat edema kornea, polikoria, atrofi iris dan nodul sindrom cogan- Reese, dan gambaran sel ICE yang terlihat pada

iv ABSTRAK GAMBARAN PASIEN KAKI DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BOGOR SERTA PANDANGANNYA DARI SISI ISLAM Diabetes melitus merupakan suatu sindrom klinis kelainan