• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA PASANGAN MULIA: ANALISIS TERHADAP LAFAL ZAUJ KARĪM DALAM SURAH AL-SYU ARĀ AYAT 7

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKNA PASANGAN MULIA: ANALISIS TERHADAP LAFAL ZAUJ KARĪM DALAM SURAH AL-SYU ARĀ AYAT 7"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

AL-SYU’ARĀ’ AYAT 7

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh: Indri Noviyanti NIM: 11150340000090

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/ 2021

(2)
(3)

i

MAKNA PASANGAN MULIA:

ANALISIS TERHADAP LAFAL ZAUJ KARĪM DALAM SURAH AL-SYU’ARĀ’ AYAT 7

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Oleh:

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

Pembimbing

Dr. Abdul Hakim Wahid, SHI, MA.

NIP. 197804242015031001

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H/ 2020 M

(4)

ii

PENGESAHAN SIDANG MUNAQASYAH

Skripsi yang berjudul MAKNA PASANGAN MULIA: ANALISIS

TERHADAP LAFAL ZAUJ KARĪM DALAM SURAH AL-SYU’ARĀ’ AYAT 7 telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah

Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 21 Oktober 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) pada Program Studi Ilmu Al- Qur’an dan Tafsir.

Jakarta, 19 Januari 2021 Sidang Munaqasyah

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,

D

r. Eva Nugraha, M.Ag

dc

D r. Fahrizal Mahdi, Lc.,

MIRKH

NIP. 19710217 199803 1 002 NIP. 19820816 201503 1 004 Anggota,

Penguji I, Penguji II,

D

rs. Ahmad Rifqi Muchtar, MA NIP. 19690822 199703 1 002

Pembimbing,

D

r. Abdul Hakim Wahid, SHI,MA NIP. 19780424 201503 1 001

D

rs. Harun Rasyid, MA NIP. 19600902 198703 1001

(5)

iii

PERNYATAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Indri Noviyanti NIM : 11150340000090

Judul Skripsi : Makna Pasangan Mulia: Analisis Terhadap Lafal

Zauj Karīm Dalam Surah Al-Syu’arā’ Ayat 7

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(6)

iv

ABSTRAK Indri Noviyanti, NIM 11150340000090

“Makna Pasangan Mulia: Analisis Terhadap Lafal Zauj Karīm Dalam Surah Al-Syu’arā’ Ayat 7”.

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasangan baik manusia, binatang, ataupun tumbuhan. Menurut Q.S. al-Dzāriyāt [51]:49, makhluk yang diciptakan Allah secara berpasangan ternyata tidak hanya manusia, tetapi juga seluruh jenis makhluk.

Berpasang-pasangan merupakan fitrah manusia. Laki-laki dan perempuan. Pada hewan dan tumbuhan jantan dan betina. Pasangan (zauj) dalam al-Qur’an kebanyakan dipahami antara suami-isteri. Dari sini, penulis menemukan arti pasangan (zauj) yang berbeda yaitu pada Q.S. al-Syu’arā’ [26]: 7. Maka dari itu penulis ingin meneliti lebih dalam bagaimana para mufassir memaknai zauj karīm dalam Q.S. al-Syu’arā’ [26]: 7 ini.

Penelitian dalam skripsi ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang sumber datanya diperoleh dari pustaka (Library Research), yang mencakup data-data primer dan sekunder. Adapun data primer yang digunakan adalah al-Qur’an dan buku-buku tafsir. Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah berupa skripsi, jurnal, artikel, dan buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan skripsi yang dibahas.

Berdasarkan hasil dari analisis yang dilakukan, penulis menyimpulkan

bahwa lafal zauj sebagian besar dipahami sebagai pasangan (suami-istri). Namun sebetulnya zauj bukan hanya tentang pasangan manusia saja (suami-istri), melainkan ada berbagai macam pasangan yang telah Allah ciptakan dimuka bumi ini. Dan karīm sebagai yang mensifata kata zauj tersebut yaitu yang mulia atau yang baik. Sebagaimana tercantum di dalam tafsir karya Hamka yang menyatakan bahwa zauj adalah pertemuan atau perkawinan antara jantan dan betina. Terjemahan kata zauj pada Q.S al-Syu’arā’ ayat 7 ini, diartikan sebagai pasangan tumbuhan. Jadi, zauj karīm dalam pada Q.S al-Syu’arā’ [26]: 7 dapat diartikan sebagai pasangan tumbuh-tumbuhan yang baik, yaitu tumbuhan yang subur lagi memberi banyak manfaat.

Kata kunci: Zauj Karīm; Tumbuhan; al-Syu’arā’.

(7)

v

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT. yang telah memberikan rahmat, taufik, serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw. manusia utusan Allah, dengan perantaranyalah kita mendapatkan nikmat Iman dan Islam.

Teriring rasa syukur atas nikmat Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini dengan judul: “Makna Pasangan Mulia: Analisis Terhadap Lafal Zauj Kārim Dalam Surah Al-Syu’arā’ Menurut Para Mufassir”. Penyusunan skripsi ini diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar Sarjana Agama (S.Ag) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak dapat terselesaikan tanpa dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini terutama kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Lubis, Lc., MA., selaku rektor UIN Syarif Hidyatullah Jakarta periode 2019-2024.

2. Bapak Dr. Yusuf Rahman, MA., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin beserta jajaran yang telah memberikan bimbingan kepada penulis selama belajar.

3. Bapak Dr. Eva Nugraha, M.Ag., selaku ketua Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, bapak Dr. Fahrizal Mahdi, Lc., MIRKH., selaku sekertaris Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.

(8)

4. Ibu Dr. Faizah Ali Syibromalisi MA., selaku dosen pembimbing akademik yang telah berkenan memberikan masukan dan meluangkan waktunya di tengah kesibukannya sebagai dosen.

5. Bapak Dr. Abdul Hakim Wahid, SHI, MA., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukannya dan bersedia membimbing dan memberikan arahan selama penyusunan skripsi serta memberikan banyak ilmu dan solusi pada setiap permasalahan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Seluruh bapak/ibu Dosen Fakultas Ushuluddin yang telah banyak

memberikan ilmu pengetahuan dengan sabar dan ikhlas selama perkuliahan, semoga semua ilmu yang telah penulis dapatkan bermanfaat khususnya untuk diri sendiri dan umumnya untuk masyarakat sekitar.

7. Teruntuk kedua orang tua tercinta; Ayah Supandi dan Ibu Mu’tamanah, serta seluruh keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan serta do’a, kasih sayang, juga semangat tiada henti selama proses penyusunan skripsi.

8. Kepada sahabat penulis Uswatun Hasanah, Thesa Ainun Jannati, dan Fara Nofyanti, terima kasih untuk selalu memberikan dukungan do’a serta motivasi yang kalian berikan kepada penulis.

9. Kepada teman-teman seperjuangan Elysa, Nafisah, Cindy, Nuraida, Miftah, Ayu, teh Cucu, Zahara Diva, dan Rizka, terimakasih telah berbagi suka maupun duka, berjuang bersama, dan tak hentinya memberikan dukungan dari awal perkuliahan hingga saat ini.

10. Seluruh teman-teman angkatan tahun 2015 di Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu dalam skripsi ini, yang telah memberikan dukungan dan semangatnya satu sama lain demi terselesaikannya skripsi ini.

(9)

Penulis berharap skripsi yang penulis susun ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, para akademisi, maupun masyarakat umum.

Amīn Yā Rabbal ‘Alamīn. Jazakumullah Khairan kaṡīran.

Jakarta, 6 Oktober 2020

(10)

PEDOMAN TRANSLITERASI

Pedoman transliterasi Arab latin yang merupakan hasil keputusan bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Nomor: 158 Tahun 1987 dan Nomor: 0543b/U/1987.

A. Konsonan

Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada halaman berikut ini:

Huruf Arab Huruf Latin Nama

ا

Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

ب

B Be

ت

T Te

ث

Ṡ Es (dengan titik di atas)

ج

J Je

ح

Ḥ Ha (dengan titik di bawah)

خ

Kh Ka dan Ha

د

D De

ذ

Ż Zet (dengan titik di atas)

ر

R Er

ز

Z Zet

(11)

ش

Sy Es dan Ye

ص

Ṣ Es (dengan titik di bawah)

ض

Ḍ De (dengan titik di bawah)

ط

Ṭ Te (dengan titik di bawah)

ظ

Ẓ Zet (dengan titik di bawah)

ع

‘ Apostrof terbalik

غ

G Ge

ف

F Ef

ق

Q Qi

ك

K Ka

ل

L El

م

M Em

ن

N En

و

W We

ھ

H Ha

ء

ʼ Apostrof

ي

Y Ye

Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (‘).

B. Tanda Vokal

Vokal dalam bahasa Arab-Indonesia terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau disebut diftong. Untuk vokal tunggal sebagai berikut:

(12)

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ ـ A Fatḥah

َ ـ I Kasrah

َ ـ U Ḍammah

Adapun untuk rangkap, sebagai berikut:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ ـ

ى

Ai A dan I

َ ـ

و

Au A dan U

Dalam bahasa Arab untuk ketentuan alih aksara vokal panjang (mad) dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

َ اى

Ā a dan garis di atas

يِى

Ī i dan garis di atas

وُي

Ū u dan garis di atas

C. Kata Sandang

Kata sandang dilambangkan dengan kata “al-“, yang diikuti huruf syamsiyah dan qamariyah.

Al-Qamariyah

ُُرميِن

ُ ملْا

Al-Munīr

(13)

D. Syaddah atau Tasydīd

Dalam bahasa Arab Syaddah atau tasydid dilambangkan dengan “ ؔ” ketika dialihkan ke bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf, yaitu:

Al-Qamariyah

ُُة َّو ُق

لا

م

Al-Quwwah

Al-Syamsiyah

ُُةَر موُر َّضلا

Al-Ḍarūrah

E. Ta Marbūṭāh

Transliterasi untuk ta marbūṭah adadua, yaitu: ta marbūṭah yang hidup atau mendapat harkat Fatḥah, kasrah,dan ḍammah transliterasinya adalah [t]. sedangkan ta marbūṭah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h]. Kalau pada kata yang berakhir dengan ta marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbūṭah itu ditransliterasikan dengan [h]. Contoh:

No Kata Arab Alih Aksara

1

ُُة َقميِر

َّطلا

ُ

Ṭarīqah

2

ُُةَّي ِم

لَ مسِ

َ

لْا

م

ُُةَع ِما َج

لا

م

al-Jāmi’ah al-Islāmiah

3

ُِدمو ُجُو

لا

م

ُُة َد مح َو

Waḥdat al-Wujūd

F. Huruf Kapital

Penerapan huruf kapital dalam alih aksara ini, juga mengikuti ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yaitu, untuk menuliskan permulaan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh: Ābū Hāmīd al-Gazālī, al-Kindī.

(14)

Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama tokoh yang berasal dari Indonesia sendiri, disarankan tidak dialih aksarakan meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab. Misalnya ditulis Abdussamad al-Palimbani, tidak ‘Abd al-Samad al-Palimbānī, tidak Nūr al-Dīn al-Rānīrī.

G. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia

Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasikan adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dilakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari pembedaan bahasa Indonesia, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya al-Qur’an (dari al-Qur’ān), sunnah, khusus dan umum. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, mereka harus ditransliterasi secara utuh, contoh;

Fī Ẓilāl Al-Qur’ān

(15)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ... viii

DAFTAR ISI ... xiii

BAB 1: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi, Batasan, dan Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

D. Kajian Terdahulu Yang Relevan ... 10

E. Metodologi Penelitian... 14

F. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II: KAJIAN TEORITIS TENTANG BERPASANGAN A. Arti Berpasangan ... 19

B. Proses Berpasangan Pada Manusia Dan Makhluk Lain ... 21

C. Tujuan Berpasangan Pada Manusia Dan Makhluk Lain ... 23

D. Ayat-Ayat Terkait Berpasangan ... 24

BAB III: PENDALAMAN SURAT AL-SYU’ARĀ’ AYAT [26]:7 A. Makkiyyah Dan Madaniyyah Surat Al-Syu’arā’ ... 29

B. Munasabah Ayat 7 Dengan Sekitarnya ... 32

C. Kandungan Pokok Surat Al-Syu’arā’ ... 35

BAB IV: ANALISIS MAKNA ZAUJ KARĪM DALAM SURAT AL-SYU’ARĀ’ AYAT 7 A. Pasangan Dengan Istilah Zauj ... 39

B. Pemahaman Makna Karīm ... 46

(16)

D. Proses Menjadi Zauj Karīm ... 54

BAB V: PENUTUP

A. Kesimpulan ... 61 B. Saran ... 62

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an telah menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan secara berpasangan1 baik manusia, binatang, ataupun tumbuhan. Menurut Q.S. al-Dzāriyāt [51]:49, makhluk yang diciptakan Allah secara berpasangan ternyata tidak hanya manusia, tetapi juga seluruh jenis makhluk. Hewan ada yang jantan dan betina, tumbuhan juga ada jantan dan betina, sampai kepada benda hidup dan benda mati. Dalam kaidah bahasa Arab, setiap kata benda (isim) digolongkan menjadi dua, yakni mużakkar (maskulin) dan muannaṡ (feminim). Seperti halnya manusia, ada perempuan dan ada laki-laki.

Pada hakikatnya manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain, karena itulah manusia dikatakan sebagai makhluk sosial.2 Definisi manusia yang dikemukakan ilmuan sangat beragam tergantung dari aspek mana ia meneliti dan mengkajinya. Sebagian ilmuan berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial karena ia melihat dari aspek sosialnya. Sebagian lagi berkomentar bahwa manusia adalah binatang cerdas yang menyusui atau makhluk yang bertanggung jawab atau makhluk membaca dan tertawa.3 Manusia juga dikatakan makhluk sosial yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Manusia dikatakan mahluk sosial, juga dikarenakan pada diri manusia ada dorongan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain.

1 Q.S. al- al-Żāriyāt[51]: 49

2 Waluyo, dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial: Kelas VII/Untuk SMP/MTs, (Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), 73.

3 M. Quraish Shihab, Dia Ada Dimana-Mana, Cet. IV, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), 111.

(18)

Berpasang-pasangan merupakan fitrah manusia. Laki-laki dan perempuan ini diikat oleh tali suci pernikahan. Pernikahan dalam Islam diatur dalam syariat, termasuk memilih kriteria calon istri maupun calon suami. Agar nantinya menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, rahmah, dan juga mulia.

Pernikahan yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, masing-masing dipandang separuh dari hakikat yang satu. Masing-masing dianggap sebagai zauj (pasangan) bagi yang lain. Walaupun tetap dipandang sebagai pribadi yang utuh, namun dengan perkawinan, masing-masing mereka menjadi satu pribadi dengan dua sisi. Inilah sebabnya suami disebut sebagai zauj dan istri juga disebut zauj, yang memberi pengertian bahwa yang seorang itu pasangan bagi yang lainnya, dan bahwa sebagai pasangan haruslah mengimbangi pasanganya.4

Dalam hadist Rasulullah Saw. bersabda bahwa ada empat kriteria memilih wanita untuk dinikahi;

ُُنمب ُديِع َس ي ِن

َث َّدَح َلاَق ِهَّللا ِدميَبُع منَع ىَيمحَي اَنَثَّدَح ٌدَّد َسُم اَنَثَّدَح

ِهيِب

أ منَع ٍديِع َس يِب

َ

أ

َ

ُُهمن َع ُهَّللا َي ِ ضَر

َةَرميَرُه ي

ِب

أ من َع

َ

َُلاَق َمَّل َس َو ِهمي

َلَع ُهَّللا ىَّلَص ِ يِبَّنلا منَع

:

ٍع

َبمرَ ِلِ ُةَأمرَ ملْا ُحَكمنُت

َُو ا َه ِب َس َح ِلَو اَهِلا

َ

ِلْ

ُِل

َُكا َدَي متَبِر

َت ِنيِ دلا تاَذِب مرَفمظاَف اَهِنيِدِلَو اَهِلاَمَج

عم هيلع قفتم(

)ةعبسلا ة يقب

5

ُ

Artinya “Musadad telah menyampaikan pada kami, Yahya menyampaikan pada Kami, dari ‘Ubaidillah, berkata, berbicara kepadaku Sa’id Ibn Abi Sa’id dari ayahnya dari Abi Hurairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: wanita dinikahi karena empat perkara. Pertama hartanya, kedua kedudukan statusnya, ketiga karena

4 Hasbi al-Shiddieqy, al-Islam 2, Edisi ke 2, Cet. I, (Semarang: Pustaka Rezki Putra, 1987), 238.

(19)

kecantikannya dan keempat karena agamanya. Maka carilah wanita yang beragama (islam), maka engkau akan beruntung.”

Di dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman:

ُ

ثميِب

َخ ملَا

ُ

ثميِب

َخ ملِل َنموُثميِبَخملاَو َنميِثميِبَخملِل ُت

ُ ِت

ُ بِ ي

َّطلاَو

ُُت

ُِل

ُِ ي

َّطل

ُِ ي

َّطلاَو َنميِب

ُ بِ ي

َّطلِل َنموُب

ُ ِت

ُ

لوُا

ُ ى

ُ

َنموُلموُقَي اَّمِم َنموُءَّرَبُم َك

َُك ٌقمز ِرَّو

ٌةَرِفمغَّم ممُهَل

ٌُمميِر

٢٦

)

/رو نلا

٢٤

:

٢٦

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (Q.S. Al-Nūr /24:26).6

Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat di atas, yaitu Allah SWT. akan memasangkan seseorang sesuai dengan perilakunya. Sebagai sebuah peristiwa hukum, pernikahan tentu memiliki implikasi hukum, yaitu:7

1. Dengan akad nikah, laki-laki dan perempuan disatukan untuk hidup bersama membentuk keluarga sebagai suami dan istri.

ةرشعلا لح

ةءرماو لجرلا نيب

mereka halal menyalurkan dorongan-dorongan yang bersifat biologis yang sebelumnya dilarang oleh agama, misalnya keinginan memenuhi kebutuhan seksual ataupun keinginan mendapatkan anak keturunan.

2. Dengan akad nikah, laki-laki dan perempuan disatukan untuk hidup bersama saling tolong menolong

ام

نه

ُواعت

betapapun hebatnya seseorang, ia pasti memiliki kelemahan, dan betapapun lemahnya seseorang, pasti ada juga kekuatannya.

6 Terjemah Al-Qur’an Kementerian Agama RI

7 Ahmad Azharuddin Latif dkk, Pengantar Fiqih, (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Jakarta, 2005), 174-175.

(20)

3. Dengan akad nikah, muncullah hak dan kewajiban sebagai suami isteri

ديحو

امهيكلام maksimalisasi,

تابجاو نم هيلع امو قوقح

نم masing-masing pihak, suami dan istri, untuk menjalankan kewajibannya sangat dibutuhkan sekali.

Jika ketiga implikasi hukum di atas berjalan secara normal, maka keinginan bersama untuk mewujudkan misi utama nikah yang sering dipahami dengan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, (keluarga yang tentram, penuh cinta dan kasih sayang) akan segera tercapai sebagaimana yang dikehendaki oleh al-Qur’an,8 yang mana faktor

utamanya adalah kerja sama yang baik antara suami dan istri dalam membina rumah tangga. Dari sini lah akan tercapai pasangan yang mulia. Pada saat membaca al-Qur'an, penulis menemukan ungkapan zaujun karīm, sepontan yang penulis pahami adalah pasangan manusia yang mulia, akan tetapi dalam ayat tersebut diungkapkan bahwa pasangan mulia itu ditumbuhkan dari tanah, sehingga menimbulkan pertanyaan pasangan seperti apakah yang ditumbuhkan dari tanah. Setelah penulis mencoba membaca terjemahnya, ternyata kata zauj tersebut diartikan sebagai tumbuhan, dan bukan manusia seperti yang penulis pikirkan, disini penulis ingin meneliti lebih jauh, pemaknaan pasangan mulia tersebut.

Pasangan dalam al-Qur’an lebih masyhur dengan lafal zauj, diambil

dari kata

ج وزي-ج وز

yang berarti menikahkan.9 Dalam segi bahasa, kata

zauj adalah bentuk mufrod dari kata azwāj yang artinya adalah pasangan.

Kata ini menurut ar-Ragib al-Aṣfahani, seorang pakar bahasa al-Qur’an, digunakan untuk masing-masing dari dua hal yang berdampingan

8 Rusdaya Basri, “Konsep Pernikahan Dalam Pemikiran Fuqaha”, Jurnal Hukum

Diktum, Vol. 13, No. 2, (Parepare 2015), 108.

9 Solihin Bunyamin Ahmad, Lembaga Praktek & Kamus Ringkas al-Quran, (Jakarta: Granada Nadia, 2001), 40.

(21)

(bersamaan), baik jantan maupun betina, binatang (termasuk binatang berakal yakni manusia) dan juga digunakan untuk menunjuk dua hal yang berpasangan. Selanjunya al-Ragib menegaskan bahwa keberpasangan tersebut bisa akibat kesamaan dan bisa juga karena bertolak belakang.10

Zauj dalam kamus Lisan al-‘Arab dijelaskan bahwa al-zauj:

اجوز يمسي ئ ش لك نم

امهنم دحاو

لك

dan

عونلاو فصنلا جوزلا ىف لصلاا

. Jadi maksudnya makna asal dari al-zauj adalah belahan atau pecahan dari segala sesuatu, sehingga segala sesuatu yang memiliki pecahan atau belahan baik itu belahannya maupun sesuatu itu sendiri (yang telah dibagi) disebut dengan al-zauj.11 Kata zauj adalah isim jāmid yang berasal dari

zā’, wāwu dan jīm. Secara asal, menurut Ibn Fāris, kata tersebut menunjukkan pada makna perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan sesuatu yang lainnya lagi, dan juga bermakna pasangan suami-istri.12

Secara umum kata ini disebutkan sebanyak delapan puluh satu kali dalam tujuh puluh dua ayat diempat puluh dua surah di dalam al-Qur’an.13 Dalam al-Qur’an kata zauj ada yang diiringi dengan kata sifat, ada juga yang diiringi dengan ḍamir, dan ada pula yang tidak, ada yang berbentuk dalam mufrad, muṡanna, dan jama’, dan ada pula dalam bentuk fi’il. Dalam kamus Fathu al-Rahmān, dijelaskan bahwa al-Qur’an menyebutkan kata zauj atau zaujan di dalam empat surah, yaitu pada Q.S. al-Nisā’ [4]: 20, Q.S. al-Hajj [22]: 5, Q.S. al-Syu’arā’ [26]: 7, dan Q.S. al-Baqarah [2]: 230. Kata zauj yang diiringi kata sifat hanya ada dua yaitu pada Q.S

10 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qu’ran, Vol. 11, , (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 539.

11 Ibn Manżûr, Lisan al-‘Arab (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1119 H), 1884-1886. 12 Ibn Manżûr, Lisân al-‘Arab, Jil. 2, 292.

13 Muhammad Fuad Abd al-Bāqī, Mu’jam al-Mufahras li Alfāż al-Qur`an bi Hasyiyah

(22)

Syu’arā’ [26]: 7 yakni lafal

ميرك جوز

dan pada Q.S al-Hajj[22]: 5 yakni lafal

جيهب جوز

.14 Pemaknaan lafal zauj sering kali berbeda-beda menurut kalangan para penerjemah ataupun mufassir. Makna kata dasarnya adalah mitra, pasangan, baik itu suami maupun istri. Sebagian kabilah Arab menggunakan kata zauj untuk lelaki (suami) dan zaujah untuk perempuan (istri). Tetapi pada kabilah Quraisy pemaknaanya sama saja dan tidak dibedakan antara keduanya.15

Berikut adalah salah satu lafal zauj/azwāj yang diartikan sebagai pasangan (istri), yaitu dalam Q.S. al-Nisā’[4]: 57

َُني ِذ

َّلاَو

اوُن َمآ

اوُل ِمَعَو

ُ ِتا َحلا َّصلا

ُمم ُهُل ِخ مدُن َس

ُ ٍتاَّنج

ُيِر مج

َت

ُمن ِم

ا َه ِت محَت

ُُرا َه من

لِا

َ م

َُني ِد ِلا َخ

ا َهيِف

ا ًدَب

أ

َ

ُُم َهل

ٌُجا َومز

أ ا َهيِف

َ

ُمم ُهُل ِخ مدُنَو ٌةَرَّه

ط ُم

َ

لَظ

ُ ًلَي ِل

ظ

َ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang Saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang suci, dan kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman”. (Q.S. Al-Nisā’/4: 57)16 Sedangkan pada Q.S. al-Syu’arā’ [26]:7 zauj karīm diartikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang baik.

ُ

منَا ممَك ِضمرَ ملاا ىَلِا اموَرَي ممَلَوَا

َُك ٍج مو

َز ِ لُك منِم اَهميِف اَنمتَب

ُميِر

ٍم

٧

(

ا

ُ ارعشل

٢٦

:

٧

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam pasangan (tumbuh-tumbuhan) yang baik?” (Q.S. Al-Syu’arā’/26:7)

14 ‘Ilmi Zedah Fu’ad Abd al-Baqiy, Fathu al-Rahman (Lithālibi Āyati al-Qur’ān), (Jeddah: al-Haramain), 197.

15 Tim Penafsir Kementerian Agama RI, al-Qur’an dan Tafsirnya, Kementerian

Agama RI tahun 2010, (Jakarta: Kemenag RI, 2010), 194.

16 Tim Penafsir Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Kementerian

(23)

Allah SWT. menggunakan kalimat “Kami tumbuhkan” pada lafal

اَنمتَب

ُ منَا

, yang dimaksud dengan kata “Kami” yaitu bahwasanya Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan tidak hanya sendiri namun juga menumbuhkan dengan melibatkan makhluknya yaitu dengan campur tangan manusia, hewan seperti lebah, ataupun angin. Terdapat juga lafal zauj karīm yang menjadi inti dari penelitian ini. Para mufassir berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat ini, dalam tafsir al-Qurthubi zauj berarti warna. Tafsir ini dikutipnya dari al-Farrā dalam tafsirnya Ma’ani al-Qur’an. Lafal Kārim yang artinya baik dan mulia. Adapun asal katanya dalam bahasa Arab adalah al-Faḍl (keutamaan).17

Dalam tafsir al-Misbah zauj dalam surat ini diartikan sebagai pasangan. Pasangan yang dimaksud adalah pasangan tumbuh-tumbuhan, karena menurut Quraish Shihab tidak hanya manusia yang memiliki pasangan, tetapi juga tumbuhan.18 Manusia dan tumbuhan sama-sama tumbuh namun berbeda maksud tumbuhnya. Tumbuhan tumbuh dari bumi, berasal dari bibit dan ditanam di tanah. sedangkan manusia tumbuh berkembang dari rahim seorang ibu. Lafal karīm menurutnya ialah digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang baik untuk objek yang disifatinya. Tumbuhan yang baik, bisa juga dikatakan tumbuhan yang subur dan bermanfaat.19

17 Syaikh Imam al-Qurṭubi, Tafsir al-Qurthubi (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Jil. 13, 223.

18 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qu’ran,Vol. 10, 11.

19 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qu’ran, Vol. 10, 12.

(24)

Dalam tafsir al-Ṭabari kata zauj karīm ini berarti tumbuh-tumbuhan yang baik. Yang dimaksud ialah dahulunya bumi itu mati dan tidak ada tumbuhan yang tumbuh padanya.20

Syaikh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rawi dalam tafsirnya, Tafsir al-Al-Sya’rawi berpendapat bahwa makna zauj dalam surah al-Syu’arā’ [26]:7 ini berarti pasangan, bisa juga maksudnya laki-laki atau wanita, dan menurutnya banyak yang keliru jika ada yang menyangka makna zauj itu adalah dua pasang. Kemudian lafal zauj disifati dengan lafal karīm yang berarti banyak kebaikan atau banyak pemberian.21

Pada tafsir al-Azhar karya Prof. Dr. Hamka dijelaskan bahwa zauj di sini berarti jantan atau betina, laki-laki atau wanita. Menurut Hamka, jika kita memliliki pengetahuan yang lebih maka akan dapat mengetahui bahwasanya buah-buahan adalah tercipta dalam rangka pertemuan “zauj karīmin” yaitu pertemuan jantan dan betina yang indah dan mulia.22

Dari berbagai persoalan mengenai tafsir tentang lafal zauj karīm yang telah dikemukakan para mufassir di atas, ternyata lafal zauj karīm pada ayat ini lebih terfokus mengenai pasangan tumbuhan bukan makna pasangan yang umum didengar yaitu pasangan antara manusia, laki-laki dengan perempuan. Dengan demikian, penulis akan mengkaji dan meneliti lebih lanjut tentang makna lafal zauj karīm dalam al-Qur’an dengan menghubungkannya dengan ayat sebelum atau sesudahnya agar lebih mudah untuk dipahami, juga merelevansikannya dengan lafal zauj bahij. Oleh sebab itu, dari permasalahan-permasalahan yang telah diuraikan di atas penulis akan menganalisis lafal zauj karīm. Bagaimana pandangan para mufassir mengartikan atau menafsirkan lafal zauj pada ayat ini. Dari

20Abu Muhammad Ja’far Muhammad bin Jarir al-Ṭhabari, Tafsir Al-Thabari, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2009), Jil. 19, 545.

21 Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi, Tafsir Sya’rawi (Medan: Duta Azhar, 2011), Cet.1, Jil.10, 10-11.

(25)

banyaknya mufassir yang ada, penulis akan membatasi sekiranya ada lima mufassir yang akan penulis kaji, yaitu; dari Tafsir al-Qurṭubi, Tafsir Al-Ṭabari, Tafsir al-Misbāh, Tafsir al-Sya’rawi, dan Tafsir al-Azhar.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis melakukan penelitian yang berjudul “Makna Pasangan Mulia: Analisis Terhadap Lafal Zauj

Karīm Dalam Surah Al-Syu’arā’ [26]: 7 Menurut Para Mufassir” B. Identifikasi, Batasan, dan Rumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, penulis mengidentifikasikan beberapa masalah, yaitu:

a. Mengapa tumbuhan disebut dengan ungkapan zawj karim yang secara harfiyah artinya adalah pasangan mulia?

b. Apa saja makna zauj karīm yang ada di dalam al-Qur’an? c. Bagaimana pendapat para mufassir mengenai lafal zauj karīm? d. Bagaimana cara memilih pasangan yang mulia?

e. Bagaimana menjadi pasangan yang mulia sesuai konsep al-Qur’an?

f. Ada berapa banyak lafal zauj yang diiringi kata sifat dalam al-Qur’an?

2. Batasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan permasalahan dan keterbatasan kemampuan penulis dan keterbatasan waktu, maka penulis membatasi permasalahan penelitian ini dengan memfokuskan kepada makna zauj pada surah al-Syu’arā’[26]: 7. Kitab tafsir yang dikaji dibatasi pada; Tafsir al-Qurṭubi, Tafsir Al-Ṭabari, Tafsir al-Misbāh, Tafsir al-Sya’rawi, dan Tafsir al-Azhar.

(26)

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang ada, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

a. Bagaimana makna lafal zauj karīm dalam Q.S. al-Syu’arā’ [26]: 7?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

a. Mengetahui apa makna lafal zauj karīm menurut pandangan para mufassir

b. Mencari tahu bagaimana menjadi pasangan tumbuhan yang mulia sesuai dengan konsep al-Qur’an

c. Untuk memenuhi tugas dan syarat dalam menyelesaikan gelar sarjana Strata Satu (S1) pada Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaatnya adalah sebagai berikut:

a. Secara teoritis, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam memahami makna zauj dalam surah al-Syu’ārā [26]: 7

b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan bisa menjadi rujukan bagi pembaca dalam menambah wawasan dan pengetahuan dalam perbedaan makna lafal zauj menurut para mufassir.

D. Kajian Terdahulu Yang Relevan

Kajian pustaka dalam penelitian ini adalah telaah terhadap karya-karya tulis baik berupa skripsi, jurnal, artikel, dan lainnya. Dari tinjauan penulis

(27)

terhadap kajian-kajian terdahulu, terdapat beberapa karya tulis tentang pasangan (zauj). Setelah ditelaah, penulis mencari perbedaan-perbedaan dari karya-karya tersebut dengan meneliti pembahasan lafal zauj, di antaranya yaitu:

Mauizho Hasanah dengan judul, Zauj Dalam al-Quran (Studi Tafsir Tematik), (2009). Karya ini merupakan skripsi yang menjelaskan tentang konsep zauj dalam al-Qur’an dengan upaya harmonisasi untuk menjaga keseimbangan kehidupan ekosistem di muka bumi.23

Laela Alfiyah mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan judul, Makna Zauj Dalam Tafsir Kementerian Agama RI (Analisis Strukturalisme Linguistik). Karya ini berupa skripsi yang mengkaji fenomena berpasangan belakangan ini di Indonesia, dalam skripsinya dikatakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat 68 ayat yang tersebar di 43 surah kata zauj dengan betuk kata yang berbeda.24

Asriyah dengan judul, Bahasa Arab dan Perkembangan Makna, (2017). Karya ini merupakan artikel yang menganalisa tentang perkembangan makna dalam bahasa arab dengan mengemukakan contoh yang ada dalam al-Quran. Kata zauj di sini mengacu pada surat Hūd [11]: 71 dan Al-Żāriyāt [51]: 29 yang mana kata imraah itu adalah sinonim dari kata zauj sehingga terjemahnya pun sama yaitu istri.25

Alif Jabal Qurdi dan Saiful Hamzah dengan judul, Menelaah Teori Anti-anonimitas Bintu al-Syath'i Sebagai Kritik Terhadap Digital Literate Muslim Generation, (2018). Karya ini merupakan jurnal yang membahas tentang teori bintu syath’i dengan mengambil semple kata, salah satunya

23 Mauizho Hasanah, Zauj Dalam al-Quran (Studi Tafsir Tematik), (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga), Yogyakarta: 2009.

24 Laela Alfiyah, "Makna Zauj Dalam Tafsir Kementerian Agama RI (Analisis

Strukturalisme Linguistik), (Skripsi S1 Jurusan IAT Fakultas Ushuluddin IAIN Syekh

Nurjati Cirebon).

25 Asriyah, “Bahasa Arab dan Perkembangan Makna”, Jurnal Diwan, Vol. 3 No. 1, UIN Aluddin Makassar (2017), 43.

(28)

zauj dan ba’lu dari ayat itu ditemukan adanya perbedaan pada kata al-zauj dan al-ba’lu. al-Zauj digunakan untuk suami yang belum mencampuri isterinya sedangkan al-ba’lu digunakan untuk suami yang sudah mencampuri isterinya.26

Harits Fadlly dengan judul, Panggilan Istri Dalam al-Quran. Karya tulis yang merupakan artikel ini membahas tentang panggilan isteri dalam al-Qur’an menggunakan tiga kata yaitu imra’ah, zauj, ṣahibah.27

Nabila Huringiin dengan judul, Konsep Zauj di Dalam al-Quran. Karya tulis dosen pada program studi Aqidah Filsafat Islam ini menjelaskan bahwa kata zauj memiliki arti yang berbeda-beda. Ada yang diartikan sebagai pernikahan, keaneka ragaman dan berpasang-pasangan.28

Nurcahyo AJ dengan judul, Antara Nikah dan Kawin. Karya tulis ini merupakan artikel yang mengartikan zauj sebagai pasangan hidup, sedangkan zaujah diartikan sebagai istri, dan zīja diartikan sebagi perkawinan.

Syaiful Qulub dengan judul, Tafsir dan Istilah-istilah yang Berhubungan Dengan Asal Penciptaan Perempuan Pertama. Karya ini merupakan skripsi yang menjelaskan bahwa dalam al-Quran zauj digunakan untuk arti teman, pasangan atau kelompok. Dan bentuk jama’nya adalah azwāj digunakan untuk menunjuk pada pasangan.29

Sarah Auliya dengan judul, Konsep Pasangan Dalam al-Quran Dengan Menggunakan Pendekatan Semantik, (2016). Karya ini merupakan skripsi yang menjelaskan bahwa zauj adalah pasangan yang berada dalam ikatan yang sesuai dengan syariat al-Quran yang dapat

26 Alif Jabal Qurdi dan Saiful Hamzah, Menelaah Teori Anti-anonimitas Bintu al-Syath'i Sebagai Kritik Terhadap Digital Literate Muslim Generation, Journal of Islamic

Studies and Humanities, Vol. 3, No. 2, Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga (2018), 254.

27 lajnah.kemenag.go.id. 28 afi.unida.gontor.ac.id.

(29)

saling melindungi, menyayangi dan menghormati yang merujuk pada makna pernikahan.30

Dewi Sriwahyuniarti dengan judul, Makna Kata Zauj dan Imra'ah Dalam al-Quran (Kajian Tafsir Tematik). Karya ini merupakan skripsi yang membahas kata zauj pada skripsi ini untuk mengembangkan keilmuan yang lebih komprehensif mengenai kandungan dan makna dari lafal zauj dan imra’ah yang terdapat dalam al-Quran dengan mengkaji dan mengungkap makna dari dua kata tersebut.31

Moh. Faozan dengan judul, Pasangan Di Surga Dalam al-Quran: Kajian Tematik Dengan Analisis Semiotik Charles Sanders Peirce, (2018). Karya ini merupakan skripsi yang menjelaskan tentang pemahaman ayat-ayat pasangan azwāj di surga dengan metode tematik. Dengan menggunakan kata kunci azwāj, metode ini digunakan untuk mengumpulkan data utama yang berkaitan dengan ayat-ayat pasangan di surga. Setelah disemiosiskan dengan semiotic Peirce terdapat tiga pola pemahaman besar. Ketiganya adalah pasangan yang disucikan disediakan bagi ahli surga; pasangan saleh saat di dunia yang samasama masuk surga dan terakhir adalah hūr ‘īn yang dipasangkan dengan ahli surga.32

Ai Inayah dengan judul, Istilah Istri dalam al-Quran Ananlisisi Penggunaan Kata Imra’ah dan Zauj Dalam al-Quran). Karya ini merupakan skripsi yang menjelaskan bahwa yang mengandung salah satu kata Arab untuk istri di antaranya imra’ah (perempuan), nisā (perempuan-perempuan) dan zauj (pasangan atau teman hidup). Dari kesimpulan

30 Sarah Aulia, Konsep Pasangan dalam al-Quran: Analisis kata Zauj menggunakan

pendekatan Semantik, (Skripsi Jurusan Ilmu Al Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin

UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2016).

31 Dewi Sriwahyuniarti, Makna Kata Zauj dan Imra'ah Dalam al-Quran (Kajian

Tafsir Tematik), (Skripsi S1 UIN Sultan Syarif Kasim Riau).

32 Moh. Faozan, Pasangan Di Surga Dalam al-Quran: Kajian Tematik Dengan

Analisis Semiotik Charles Sanders Peirce, (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin UIN Syarif

(30)

skripsi tersebut pasangan ideal yang digunakan dalam al-Quran yaitu kata zauj.33

Dari beberapa skripsi, jurnal, artikel, dan lainnya yang telah penulis baca, lafal zauj karīm banyak diartikan sebagai pasangan mulia, atau lafal zauj sendiri itu berarti adalah pasangan, wanita, suami, istri, ataupun teman. Sedangkan lafal zauj yang akan penulis teliti dalam skripsi ini adalah makna lafal zauj karīm sebagaimana dalam Quran Surah al-Syu’arā’ [26]: 7 ialah pasangan tumbuh-tumbuhan yang baik. Jadi, penulis ingin meneliti lebih dalam apa sebenarnya makna yang tersirat dari lafal zauj karīm dalam surah al-Syu'arā’ [26]: 7 dan mengapa dalam surah itu zauj karīm diartikan dengan pasangan tumbuh-tumbuhan yang baik?

E. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Dilihat dari jenis penelitiannya, maka penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan berbagai macam materi yang terdapat diruangan perpustakaan, misalnya berupa buku-buku, majalah-majalah, naskah-naskah, catatan, kisah sejarah, dokumen-dokumen dan lain sebagainya.34

Untuk memperoleh data ini, penulis mengkaji literatur-literatur dari perpustakaan yang mempunyai relevansi antara penelitian yang akan penulis kaji dengan yang lainnya dengan cara melakukan langkah-langkah identifikasi melalui pembacaan, pengumpulan, pengolahan dan pengkajian

33 Ai Inayah, Istiah Istri dalam al-Qur’an Ananlisisi Penggunaan Kata Imra’ah dan

Zauj Dalam al-Qur’an), (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta), 4.

34 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, Cet. Ke- 7, (Bandung : Mandar Maju, 1996), 33.

(31)

terhadap data-data yang telah ada terkait masalah lafal zauj, baik berupa data primer ataupun data sekunder, secara akurat dan faktual.35

2. Sumber Data

Adapun sumber data36 dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu Sumber data primer dan sekunder.37

a. Sumber data primer

Data primer merupakan rujukan utama yang menjadi landasan data yang akan dicari dan dianalisis.38 Sumber primer adalah sumber-sumber

yang memberikan data secara langsung dari tangan pertama atau merupakan sumber asli. Menurut Nasution, bahwa data primer adalah data yang langsung diperoleh dari lapangan termasuk laboratorium.”39 Dalam

penulisan skripsi ini sumber yang termasuk sumber primer adalah ayat-ayat yang berkaitan langsung dengan lafal zauj karīm dan kitab-kitab tafsir seperti; Tafsir Qurṭubi, Tafsir Ṭabari, Tafsir Misbāh, Tafsir al-Sya’rawi, dan Tafsir al-Azhar. Kemudian didukung dengan buku-buku yang relevan dengan pembahasan skripsi ini.

b. Sumber data sekunder

Data sekunder merupakan data-data yang tidak berkaitan langsung dengan penelitian skripsi ini.40 Sumber sekunder adalah sumber-sumber yang berasal bukan langsung dari sumber pelakunya. Adapun sumber

35 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jil. I, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1986), 3.

36Adapun metode pengambilan data biasa dilakukan dengan Wawancara, Dokumentasi, Angket, Observasi, dan data Kuantitatif (timbangan, alat pengukur, haemoglobin, darah, barometer, dll. Lihat di B. Sandjaja, Panduan Penelitian, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006), 84.

37Ahmad Anwar, Prinsip-Prinsip Metodologi Research, (Yogyakarta: Sumbangsih, 1974), 2.

38 Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif, Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal Dan

Laporan Penelitain (Malang: UMM Pres, 2005)

39 Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah, Edisi I (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), 150.

40 Ibnu Hajar, Dasar - Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif Dalam Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1996).

(32)

sekunder pada penelitian ini berupa kamus-kamus Bahasa arab seperti; Al-Munawwir, Lisan al-Arab, Mu’jam al-Mufahras li al-fâz al-Qur`ân bi Hasyiyah al-Mushaf al-Syarīf, buku-buku tentang wilayah pendidikan Islam dan buku lain nya yang relevan dengan pembahasan skripsi ini.

F. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan dalam skripsi ini penulis membaginya

ke dalam lima bab, pada setiap babnya memuat beberapa sub bab. Adapun sistematikanya:

Bab pertama merupakan gambaran umum dari keseluruhan skripsi ini. Bab ini juga merupakan inti dari penelitian yang memiliki fungsi pengantar dari penelitian sehingga dari bab ini dapat dipahami apa saja yang sudah dipaparkan dalam skripsi ini, apa yang diteliti dan apa tujuannya sehingga penelitian ini diberi judul Makna Pasangan Mulia: Analisis Terhadap Lafal Zauj Karīm Dalam Surah Al-Syu’arā’ Ayat 7, atau dengan kata lain bab pendahuluan ini adalah penyampaian gambaran secara umum mengenai pokok bahasan yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya dan yang memenuhi 70 persen dari penelitian ini. Adapun isi dari sub bab ini berupa; latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab kedua, karena penelitian ini berjudul Makna Pasangan Mulia: Analisis Terhadap Lafal Zauj Karīm Dalam Surah Al-Syu’arā’ Ayat 7, maka pembahasan yang perlu dibahas dalam bab ini adalah; arti dari berpasangan itu sendiri, istilah yang terkait dengan berpasangan, proses berpasangan pada makhluk manusia dan selain manusia, tujuan berpasangan pada manusia dan makhluk lain, dan ayat-ayat terkait dengan berpasangan, dari pembahasan tersebut maka bab kedua ini diberi judul kajian teoritis tentang berpasangan.

(33)

Bab ketiga berjudul pendalaman surah al-Syu’arā’ [26]: 7, karena yang akan dibahas adalah tentang pendalaman surahnya maka poin-poinnya meliputi; kemakkiya dan madaniyyah surah al-Syu’arā’, munasabah ayat 7 dengan ayat sekitarnya, serta kandungan pokok surat al-Syu’arā’.

Bab keempat yaitu berupa analisis makna zauj karīm dalam surah al-Syu’arā’[26]: 7, pada bab ini akan diuraikan apa saja pasangan dengan istilah zauj juga pemahaman makna karīm berikut dengan tafsirannya, karakteristik zauj karīm, dan bagaiman proses menjadi zauj karīm.

Bab V merupakan penutup yang berisi kesimpulan yang didapat dari hasil temuan penulisan dalam penelitian ini, yang merupakan jawaban dari rumusan masalah dan capaian dari tujuan penelitian. Dalam bab ini juga terdapat sub bab yang diberi judul saran yang berisi saran-saran dari peneliti selanjutnya terkait dengan analisis terhadap makna kata zauj.

(34)
(35)

19

BAB II

KAJIAN TEORITIS TENTANG BERPASANGAN A. Arti Berpasangan

Sebelum masuk kepembahasan tentang arti berpasangan, berikut ini adalah salah satu ayat yang menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini berpasangan;

ُ حمب ُس

ُ

منُت اَّمِم اَهَّلُك َجا َومزَ ملاا َقَلَخ ميِذَّلا َن

ُِم َو ُضمر

َ ملاا ُتِب

َُا من

ُِه ِس

ُفمن

ُمم

ُ

َ

لا ا َّم ِمَو

َنمو ُمَلمعَي

٣٦

ُ ي(

ُ س

/

٣٦

:

٣٦

“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (Q.S. Yasīn /36:36)

Semua yang berpasangan memiliki banyak jenisnya, mulai dari makhluk hidup, benda mati/tak bernyawa, ataupun segala sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui.1 Pasangan yang tidak kita ketahui juga ternyata ada di dalam tubuh kita, seperti jumlah dan jenis bakteri baik dan bakteri jahat yang ada dalam usus. Beberapa contoh bakteri baik seperti; lactobacillus, bifidobacterum, dan eubacterium; sedangkan jenis bakteri jahat yaitu clostridia, samonella, dan listeria.2

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti dari berpasagan memiliki 46 arti yang berbeda di antaranya; bersaing, berapit, berkembar, bersama-sama, beriring-iring, berdampingan, bersamaan, bergandengan, sejajar, dobel, ganda, berlapis, berlimpit, berangkap, berduaan, berpartner,

1 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Kesrasian Al-Qur’an, Vol. 11, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 149.

2 Ridwan Abdullah Sani, Sains Berbasis al-Qur’an, Ed. 2, Cet. 1, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2015), 85.

(36)

berekanan, berkolaborasi, berkongsi, bermitra, bersekutu, berserikat, berteman, berkelamin, beranak bini, beranak istri, berfamili, berkeluarga, berumah tangga, kembar, rangkap, berkasih-kasihan, berpacaran, dua kali, dupleks, lipat dua, berapatan, berdekatan, berdempetan, berhimpit, bersampingan, bersanding, bersebelahan, menempel, mepet, rapat. Berpasangan juga diartikan sebagai yang terdiri atas dua seperti dalam bermain bulu tangkis, atau tenis, dan lain sebagainya.3

Keberpasangan merupakan aksi dari satu pihak kemudian disambut dengan reaksi penerimaan dari pihak lainya, antara yang mempengaruhi dan dipengaruhi. Atas dasar seperti inilah Law of Sex berjalan, dan atas dasar itu pula alam raya Allah SWT. yang mengatur.

Jika kita berkeyakinan bahwa keberpasangan ini merupakan ketetapan Ilahi, maka harus kita akui (yakini) pula bahwa ini merupakan hal yang suci dan terhormat bukan sebaliknya (kotor dan najis). Itulah salah satu sebab mengapa Q.S. Yasīn /36:36 telah dikutip di atas diawali dengan kata subhāna (Maha Suci). Tidak dibenarkan adanya noda pada setiap seks dan setiap ada noda yang muncul maka sebisa mungkin harus kita hindari. Dari sinilah pertemuan atara laki-laki dan perempuan harus disertai oleh kesucian juga kebersihan.4

Al-Qur’an juga menggunakan kata zawwaja yang berasal dari kata zauj yang berarti pasangan. Dalam pasangan manusia berarti laki-laki dan

3 Rifqi Amin, Pengembangan Pendidikan Agama Islam; Reinterpretasi Berbasis

Interdisipliner, (Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, 2015), 94, Diakses, 25 Desember,

2020,

https://books.google.co.id/books?id=tZh7DwAAQBAJ&pg=PA94&dq=istilah+terkait +dengan+berpasangan&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwjPirDo2OjtAhXTlEsFHZAaAJIQ6 AEwA3oECAEQAg#v=onepage&q=istilah%20terkait%20dengan%20berpasangan&f =false

4 Admin, Maha Pencipta Mengatur Makhluknya Hidup Berpasangan, Diakses, 14 Desember, 2020, https://sejutaquran.org/maha-pencipta-mengatur-makhluknya-hidup-berpasangan-1.html.

(37)

perempuan. Melalui pernikahan maka seseorang dikatakan memiliki pasangan. Pernikahan, atau bisa disebut juga dengan ke-berpasangan merupakan ketetapan Maha Pencipta atas semua makhluknya.5 Hal ini ditegaskan dalam Q.S. al-Żariyat [51]: 49.

َن موُر َّك َذَت مم ُكَّلَع

ل ِنمي َج موَز اَن

َ

مقَلَخ ٍءمي َ ش ِ لُك منِمَو

٤٩

ُ ذلا (

ُرُ ي

ت

/

٥١

:

٤٩

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (Q.S. al-Żariyat/51: 49)

B. Proses Berpasangan Pada Manusia Dan Makhluk Lain

Tumbuh merupakan pertambahan masa dari suatu organisme yang umumnya ditandai dengan peningkatan ukuran, sedangkan berkembangbiak adalah proses penghasil keturunan untuk kelangsungan generasi selanjutnya.6 Di antara proses berpasangan yang dilalui oleh manusia maupun makhluk lainnya yaitu;

1. Manusia

Agama mensyariatkan dijalinnya sebuah pertemuan antara laki-laki dan perempuan, kemudian setelah itu mengarahkan pertemuan pada perkawinan, dan berarihlah kerisauan antara laki-laki dan perempuan menjadi ketentraman atau yang sering kita dengar sakinah. Sakinah diambil dalam bahsa Arab yang terdiri dari tiga huruf ن-ك-س yang berarti diam/tenangnya sesuatu setlah begejolak. Maka diperlukan kesiapan fisik, mental, dan ekonomi untuk menjalani sebuah pernikahan dan jika belum

5 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan

Umat, Ed. 2, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2013), 253.

(38)

mampu makan dianjurkan untuk menahan diri dan memelihara kesuciannya seperti yang terdapat dalam Q.S. al-Nūr [24]: 33.7

ُ ت َح ا ًحا َكِن

َنمو ُد ِجَي َلا َنميِذَّلا ِفِفمعَت مسَيملَو

ُ للا ُم ُهَيِنمغُي ى

ُُه

ُمن ِم

ُِل مض

َف

ُ ه

٣٣

ُ نلا (

ُرو

/

٢٤

:

٣٣

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (Q.S. al-Nūr/24: 33)

2. Makhluk Lain

Makhluk lain selain manusia di antaranya yaitu hewan dan tumbuhan. Hewan maupun tumbuhan berkembangbiak secara generatif maupun vegetatif. Perkembangbiakan generatif terjadi melaui proses perkawinan sedangkan perkembangbiakan vegetatif terjadi melalui berbagai cara yang berbeda seperti membelah diri, bertunas, fragmentasi (jika pada hewan rendah), sedangkan pada tumbuhan dengan menggunakan akar rimpang, geragih, dan umbi. Selain itu perkembangbiakan vegetatif buatan pada tumbuhan dapat terjadi melalui stek, cangkok, dan menempel.8

Selain hewan dan tumbuhan juga terdapat makhluk lain yang ada di alam semesta ini seperti pasangan langit dan bumi. Wawasan gender menurut perspektif al-Qur’an, di antaranya terukir dalam relasi bumi yang memiliki karakter pasif dan reseptif yaitu kualitas feminin, dan langit yang memiliki karakter aktif juga dominan yaitu kualitas maskulin di dalam al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an pasangan yang sering disebut sebagai gambaran keseluruhan kosmos adalah langit dan bumi. Fenomena perkawinan alam yang indah telah tergambar di dalam al-Qur’an. Ketika

7 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan

Umat, 254-255.

8 Maman Rumanta, Pertumbuhan, Perkembangan, dan Perkembangbiakan Makhluk

(39)

bumi diidentikan dengan ibu (feminin), dan langit diidentikan dengan bapak (maskulin) menumpahkan air denga suka cita yang disebabkan karena cintanya, sehingga dari air yang ditumpahkan ke bumi itu keluarlah makhluk (spesies) lain yang dapat diidentikan dengan anak (Q.S. Luqman:24). Inilah yang disebut dengan perkawinan kosmos.9

C. Tujuan Berpasangan Pada Manusia Dan Makhluk Lain

Seperti yang sudah dikutip dalam Q.S. al-Żariyat [51: 49] di atas, yaitu agar kita mengingat kebesaran Allah SWT. Melalui makhluk-makhluk yang berpasangan itu, Allah menujukkan bagaimana salah satu kebesaran-Nya yaitu dengan keberpasangan tersebut terlahirlah/terciptalah keturunan juga perkembangbiakan semua makhluk; manusia, hewan, tumbuhan. Sehingga makhluk hidup memenuhi segala penjuru bumi yang semula hanya hamparan kosong.10

ُ ي

َُّو ٍس

مفَّن منِ م ممُكَقَلَخ ميِذَّلا ُمُكَّبَر اموُقَّتا ُساَّنلا اَهُّيَا

َُد ِحا

َُخ َّو ٍة

َُز اَهمن ِم َق

َل

ا َمُهمن ِم

َّثَبَو اَهَج مو

َُسِنَّو اًرميِث

َك ًلااَجِر

ُ ا

ُ ًء

ُ للا او ُقَّتا َو

ُ ا َسَت مي ِذ

َّلا َه

ُِب

َنموُلَء

ُ ه

َُو

َُحمرَ

لاا

م

َما

ُ للا َّنِا

مم ُكميَل َع َناَك َه

اًبميِقَر

١

ُ اسنلا (

٤

:

١

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (An-Nisa'/4:1)

9 Nur Afiyah Febriani, Wawasan Gender Dalam Ekologi Alam dan Manusia Perspektif al-Qur’an, Ulul Albab, Vol.16, No. 2, Jakarta, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (2015), 136.

10 Nur Faridah, Koran, Diakses, 14 Desember, 2020, https://republika.co.id/berita/o20e0615/manusia-makhluk-berpasangan.

(40)

Awal mulanya Allah hanya menciptakan Adam namun, naluri Nabi Adam yang menginginkan pasangan hidup, kemudian Allah ciptakanlan Hawa dan kemudian menjadi istrinya. Karena itu di dalam Islam, sesuai dengan nalar yang sehat dan naluri kemanusiaan (fitrah) bahwa pasangan laki-laki adalah perempuan, yang betina dengan jantang, positif dengan negatif, dan lain sebagainya.

D. Ayat-Ayat Terkait Dengan Berpasangan

Di antara yang berpasangan dalam al-Qur’an, Allah telah berfirman bahwasanya Dia telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan baik apa yang ditumbuhkan di bumi dan dari diri mereka, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui seperti dalam Q.S. Yāsīn [36]: 36.

ُ حمب ُس

ُ

منُت اَّمِم اَهَّلُك َجا َومزَ ملاا َقَلَخ ميِذَّلا َن

ُِم َو ُضمر

َ ملاا ُتِب

َُا من

ُِه ِس

ُفمن

ُ

َ

لا ا َّم ِمَو مم

َنمو ُمَلمعَي

٣٦

ُ ي(

ُ س

/

٣٦

:

٣٦

“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (Q.S. Yasīn /36:36)

Ayat ini menjelaskan tentang keesaan dan kekuasaan Allah, juga memerintahkan kita untuk selalu bersyukur kepada segala nikmat-Nya. Dia-lah yang menciptakan segala tumbuh-tumbuhan dan menumbuhkan buah-buahan dengan cara menciptakan pasangan bagi masing-masing, yakni jantan dan betina. Juga pasangan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Sebagaimana yang telah dipaparkan juga pada Q.S Yāsīn

(41)

[36]: 36 di atas, terdapat tiga macam pasangan dalam penciptaan, di antaranya:11

1. Pasangan yang tumbuh dari tanah. Seperti halnya manusia, tumbuhan juga memiliki spesies yang berjenis kelamin berbeda. Sebagaimana Firman Allah SWT. dalam Q.S. Tāhā [20] :53

ُ ًلَُب ُس اَهميِف مم

ُكَل َكَل َسَّو ا ًدمهَم َضمرَ ملاا ُمُكَل َلَعَج مي ِذَّلا

َُّو

َُلَزمنَا

َُم َّسلا َن ِم

ُ ا

ُ ا َم ِء

ُ ًء

ُ هِب ا

َنمجَرمخَاَف

ُ ت َش ٍتاَبَّن من ِ م ا ًجا َومز

َا

ى

٥٣

ُ ط(

ُ ه

/

٢٠

:

٥٣

“(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit.” Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis (pasangan) aneka macam tumbuh-tumbuhan”. (Q.S. Tāhā/20:53)

2. Pasangan manusia. Laki-laki dan perempuan, juga termasuk sifatnya seperti; cinta-benci, keberanian-ketakutan, baik-buruk, dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah pada Q.S. Faṭir [35]: 11

ُ للا َو

ُُث ٍة َف

طُّن من ِم َّم

م

ُث ٍباَرُت من ِم ممُكَقَلَخ ُه

ُمم ُكَلَع َج َّم

ُمزَا

ُ ا ًجا َو

ُِم محَت ا َمَو

ُ ثمنُا من ِم ُل

ى

ُ هِم

ملِعِب َّلاِا ُعَضَت َلاَو

ُُي

لاَّو ٍر َّمَع ُّم منِم ُر َّمَعُي ا َمَو

َ

َُقمن

ُمن ِم ُص

ُ هِر ُمُع

ُ َّلاِا

ُ ت ِك مي ِف

ُ ٍب

َّنِا

ُ ذ

ُ للا ى َلَع َك ِل

ٌرمي ِسَي ِه

١١

/رطاف (

٣٥

:

١١

)

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuẓ). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah”. (Q.S. Faṭir/35:11)

11 Caner Taslaman, Miracle Of The Quran: Keajaiban al-Qur’an Mengungkap

(42)

3. Pasangan yang tidak diketahui. Manusia tidak mengetahui sedikitpun tentang penciptaan secara berpasangan pada masa turunnya al-Qur’an. Di dalam sains modern, setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan dan hubungan ketidak pastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum disetiap saat, disetiap tempat.12

Selain itu untuk pasangan binatang (jantan dam betina), hal ini dikisahkan dalam kisah Nabi Nuh yaitu ketika datangnya banjir Ia diperintahkan oleh Allah SWT. untuk menaikkan berbagai jenis binatang yang berpasangan.13

ُ اَنمي َح موَا َف

ُِا َف اَنِي مح َوَو ا

َنِنُيمعَاِب َكملُفملا ِعَنمصا ِنَا ِهميَلِا

َُج ا َذ

ُ ا

َُا َء

َُراَف َو اَنُر مم

ُموُّنَّتلا

ُ ُر

مكُل مساَف

ِنميَن

مثا ِنميَجموَز ٍ لُك منِم اَهميِف

٢٧

(

ُنونمؤلْا

٢٧

:

٢٣

“Lalu Kami wahyukan kepadanya, “Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis.” (Q.S. Al-Mu'minūn/23:27)

Meskipun gagasan tentang pasangan secara umum bermakna antara laki-laki dan perempuan, ataupun jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” pada surah Yasīn di atas memiliki cangkupan makna yang lebih luas.

Kini cangkupan makna tersebut telah terungkap, ilmuan Inggris yang bernama Paul Dira, yang menyatakan bahwa materi juga diciptakan secara berpasangan, dianugrahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933

12 Muhammad Syahrul Kahar, “Kajian Atom Dalam Penciptaan Berpasangan”, Jurnal

Kajian Pendidikan Sains, 114.

13 Nur Faridah, https://republika.co.id/berita/o20e0615/manusia-makhluk-berpasangan.

(43)

penemun ini disebut dengan “pariete”, menyatakan bahwa materi berpasangan lawan jenisnya; anti-materi. Anti-materi memiliki sifat yang berlawanan dengan materi. Berikutini adalah fakta yang dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah; 14

“Setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan, dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

14 Acep Hermawan, Ulumul Qur’an: Ilmu untuk Memahami Wahyu,(SBandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2016), 222-223.

(44)
(45)

29

BAB III

PENDALAMAN SURAT AL-SYU’ARĀ’ [26]: 7 A. Makkiyah dan Madaniyyah Surah Al-Syu’arā’

Kalangan ulama telah menyepakati tentang tempat awal turunnya al-Qur’an. Mereka sepakat bahwa awal turunny alqur’an diturunkan di Makkah, di antaranya ada yang Makkiyyah dan Madaniyyah, susunan surat dan ayatnya adalah menurut petunjuk dari Allah SWT. dan Rasulullah Saw.1

Para ulama bersandar pada dua cara dalam menentukan makkiyah dan madaniyah, yaitu; dengan cara sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya), dan qiyasi (bersifat ijtihad). Al-Jabari mengatakan “untuk mengetahui makkiyah dan madaniyah ada dua cara; sima’i (pendengaran), dan qiyasi (analogi).”2

Makkiyah ialah ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Saw. ke Madinah walaupun ayat-ayat tersebut turun diluar kota Mekah seperti; di Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah. Sedangkan Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan setelah hijrahnya Nabi Muhammad Saw. ke Madinah walaupun diturunkannya di Mekah dan sekitarnya seperti; Badar, Uhud, Arafah dan Mekah.3

Abū Amr dan Uṡmān bin Sa’īd al-Dāmirī menyatakan suatu dalil yang berkaitan dengan historis tersebut;

“al-Qur’an yang diturunkan di Mekah dan diturunkan dalam perjalanan hijrah ke Madinah sebelum Nabi Muhammad Saw. sampai ke Madinah adalah termasuk Makkiyah, dan al-Qur’an yang

1 Latifatul Umamah, Misteri di Balik Penamaan Surat-Surat al-Qur’an, Cet.1, (Yogyakarta: Diva Press, 2017), 15.

2 Manna al-Qaṭṭan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, Cet, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), 72-73.

3 Moh. Ali, Kontekstualsasi al-Qur’an: Studi Atas Ayat-Ayat Makkiyah dan Madaniyyah Melalui Pendekatan Historis dan Fenomenologis, Jurnal Hunafa, Vol. 7, No.1, STAIN Datokarama Palu (2010), 63-64.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Konsep Pieper tentang manusia dan masyarakat, sebagaimana dipaparkan dalam artikel ini, menjadi perspektif penulis untuk mengemukakan konsep tentang persahabatan yang disimpulkan

permasalahannya adalah bagaimana kualitas udara yang berkaitan dengan kadar Karbon Monoksida (CO) dan Nitrogen Dioksida (NO2) di pasar tersebut dan keluhan

1) Sumbangsihnya terhadap usaha pembangunan (membayar pajak kos), yaitu kesediaan masyarakat untuk memberikan sumbangsih terhadap pembayaran pajak kos di kelurahan

Abstrak: Perkembangan teknologi saat ini sangatlah berkembang dengan pesat, komunikasi sangat penting dan dibutuhkan, Peneltian ini bertujuan untuk merancang bangun sebuah

materisebelum mengikuti praktikum laboratorium anatomi.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara persepsi mahasiswa tentang kegiatan

Advokasi dilakukan melalui publikasi pada website, kunjungan studi banding, seminar/lokakarya advokasi, dan kegiatan promosi praktik yang baik (best practices)

(2) Apakah perbedaan pemberian Remisi terhadap Tindak Pidana Korupsi dengan Tindak Pidana lainnya sesuai konsep Hak Asasi Manusia? Penelitian ini menggunakan