6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rencana Pembelajaran Semester (RPS)Rencana pembelajaran ini merupakan perangkat yang dijadikan acuan dosen sebelum memulai perkuliahan di kelas. Perangkat ini dikembangkan dan disusun oleh dosen pengampu baik individu maupun kelompok dalam suatu keahlian bidang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi pada program studi seperti yang dijelaskan dalam Menristekdikti. Pembentukan RPS merupakan bagian dari tahap perumusan kurikulum yang diperlukan setiap perguruan tinggi sebagai acuan pada tahap perancangan pembelajaran.
Perancangan RPS haruslah dirumuskan dengan baik sehingga manusia-manusia terdidik yang mengikuti kegiatan di perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Kemampuan yang dihasilkan diharapkan dapat memiliki ‘kemampuan’ setara yang telah dirumuskan dalam KKNI. Gambar 2.1 menjelaskan bagaimana alur pembelajaran terhadap RPS yang akan digunakan berpengaruh terhadap hasil lulusan yang memiliki capaian pembelajaran.
Gambar 2. 1 Pembelajaran sebagai Tahap Pelaksanaan RPS[6]
RPS sangat penting kegunaannya karena RPS dijadikan acuan untuk mencapai tujuan perkuliahan pada proses pembelajaran. Tidak tersedianya RPS akan mengakibatkan ketidaktahuan mahasiswa dalam proses dalam proses perkuliahan, apa saja yang harus dipelajari, apa saja yang harus dilakukan dan
7
mengapa, dan kasus terburuk adalah mahasiswa tidak mengetahui manfaat dan kompetensi yang diperoleh. Dengan demikian, peran serta dan kearifan mahasiswa akan sulit didapatkan, sehingga target mahasiswa bukan lagi mencari ilmu dalam meningkatkan kompetensi. RPS yang digunakan juga harus mengandung unsur-unsur pokok sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga kegiatan perkuliahan dapat berlangsung dengan lancar. Karena itu RPS sangat penting untuk mengkoordinasi kinerja dosen maupun mahasiswa dalam proses perkuliahan. Seperti yang disebutkan dalam Tabel 2.1 tentang muatan RPS, dasar pokok isi RPS sedikitnya memuat[6], [11] :
Tabel 2. 1 Muatan isi pokok RPS
No. Nama Atribut Keterangan
a. Identitas RPS Nama program studi Sesuai dengan ijin yang dikeluarkan oleh kementrian Nama mata kuliah Sesuai dengan rancangan
kurikulum yang berlaku Kode mata kuliah
Semester Bobot SKS
Nama dosen
pengampu
Diisi satu nama dosen pengampu atau lebih bila disusun oleh tim pengampu b. Capaian Pembelajaran (CP) CPMK dan Sub CPMK
Capaian yang bersifat spesifik, terdiri dari unsur sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus c. Kemampuan
akhir yang direncanakan
Kemampuan akhir yang direncakan
Tujuan akhir yang dijabarkan sebagai bagian dari pemenuhan CPL, terkait dengan materi pokok/ materi pembelajaran d. Bahan kajian Bahan Kajian Terkait dengan kemampuan yang
akan dicapai
8
pembelajaran pembelajaran, studi kasus,
proyek, atau kegiatan penunjang lainnya sesuai dengan waktu yang ditentukan
f. Waktu yang disediakan
Waktu 16 sesi pertemuan dalam satu semester, termasuk UTS dan UAS, tiap tahap pembelajaran terdiri dari satu atau lebih jam pelajaran
g. Pengalaman belajar mahasiswa
Bentuk Gambaran tugas yang harus dikerjakan, termasuk penilaian proses dan hasil belajar
h. Kriteria Krtiteria Standar keberhasilan
i. Indikator Indikator Unsur kualitas kinerja yang dapat diukur
j. Bobot penilainan
Bobot Persentase keberhasilan
perkuliahan tiap tahap pembelajaran
k Referensi Terkait
Referensi atau pustaka
Daftar referensi yang digunakan dalam pembelajaran mata kuliah
Perumusan RPS perlu dilengkapi untuk kelancaran jalannya proses pembelajaran, baik dari pihak dosen, mahasiswa, maupun program studi.
2.2 Kelengkapan RPS Menurut Pakar
Menurut Pakar Pendidikan dan Pengajaran di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang, bahwa RPS akan dikatakan lengkap bila dinyatakan sebagai berikut :
a. Dra. Lise Chamisijatin, M.Pd., (Pendidikan Biologi) mengatakan RPS akan lengkap bila RPS tersebut sudah memenuhi tujuan CPL, materi, cara pengajaran, dan bagaimana mengevaluasinya. Namun hal tersebut harus sesuai dengan aturan yang berlaku. Jadi, RPS tersebut harus berisi dasar isi
9
pokok RPS yang ditetapkan oleh peraturan kurikulum (Menristekdikti) dan harus selesai setidaknya 1 bulan sebelum masa perkuliahan dimulai.
b. Arif Setiawan, S.Pd., M.Pd. (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) mengatakan RPS muaranya nanti bagaimana menyelenggarakan proses pembelajaran dan apa yang perlu dicapai. Isinya memenuhi dasar pokok isi RPS dan harus sesuai dengan aturan yang berlaku.
2.3 Mata Kuliah
Mata kuliah merupakan wadah bahan kajian yang sudah dirumuskan dan harus disampaikan oleh dosen pengampu. Mata kuliah disusun untuk mengukur ketercapaian mahasiswa sehingga menjadi unsur penting terhadap transaksi pembelajaran yang diolah oleh program studi dalam satuan terkecil. Pembentukan dibagi dalam dua kegiatan[6], pertama dilakukan pemilihan bahan kajian kemudian dianalisis dalam penyusunan matriks untuk mengevaluasi antara bahan kajian dengan acuan rumusan CPL tiap-tiap mata kuliah untuk menjamin keterkaitan dan relevansinya seperti yang dijelaskan dalam Gambar 2.2. Matriks dapat digunakan dalam penyusunan mata kuliah – mata kuliah yang berbeda. Tahap ini biasanya dilakukan perbandingan antara mata kuliah pada kurikulum lama setelah menelaah bahan kajian. Mata kuliah yang yang relevan tetap akan digunakan dan dievaluasi sedangkan yang tidak relevan akan diintegrasikan berdasarkan bahan kajian dengan mata kuliah baru. Kedua, kajian dan penetapan mata kuliah beserta bobot sks (satuan kredit semester).
Gambar 2. 2 Pembentukan mata kuliah[6]
Setiap mata kuliah menentukan bobot sks dengan membagi bobot bahan kajian setiap mata kuliah dengan keseluruhan bobot bahan kajian yang kemudian
10
dikalikan dengan total sks yang wajib ditempuh oleh prodi seperti perhitungan pada Persamaan 2.1.
𝑩𝒐𝒃𝒐𝒕 𝑺𝑲𝑺 = 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝐵𝐾 𝑀𝐾
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑀𝐾 × 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝐾𝑆 𝑇𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑖
Persamaan 2.1 Rumus pembobotan SKS[6]
Penentu perkiraan untuk besaran bobot dilihat dari 3 unsur, yaitu tingkat kemampuan yang akan dicapai berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan setiap program studi, tingkat kedalaman penguasaan materi pembelajaran berdasarkan standar isi pembelajaran, dan cara atau metode pembelajaran yang dipilih untuk mencapai kemampuan berdasarkan standar proses pembelajaran. Ketiga unsur tersebut tentunya mengacu dalam SN-Dikti. Hasil penyusunan mata kuliah yang telah dievaluasi dan disusun kemudian distribusikan disetiap semester.
2.4 Business Process Improvemet
Business Process Improvement (BPI)[10], [12] merupakan metode analisa perbaikan proses bisnis untuk merancang perubahan dan mendapatkan kemajuan dalam membangun proses bisnis selanjutnya. Perubahan ini memanfaatkan peluang baru yang ditawarkan teknologi. Dengan menggunakan analisa ini, proses bisnis yang ada maupun proses bisnis yang direncanakan dapat dikemukakan dengan jelas dan terstruktur. Beberapa manfaat yang dapat diambil dengan menggunakan analisis ini yaitu memberikan kemudahan penggunaan dan pemahaman, kemampuan yang adaptif, mengeliminasi kesalahan dan memaksimalkan penggunaan sistem. Hasil dari proses BPI ini berawal dari mempelajari proses bisnis yang ada, merekomendasikan hal baru, merancang pembaharuan, mengimplementasikan pembaharuan yang direncakan dan menganalis hasil pembaharuan yang telah diimplementasikan.
2.5 CodeIgniter
CodeIgniter (CI)[8] merupakan salah satu framework, yaitu generalisasi dalam sebuah perangkat lunak yang berfungsi sebagai penyedia fungsi generic sehingga pengguna dapat merubah kode yang dibuat untuk aplikasi tertentu yang menggunakan bahasa php. Framework Codeigniter ini merupakan framework
11
untuk pemrograman web, yang dipublikasi dibawah lisensi Apache/BSD Open Source. Beberapa contoh tools yang sering digunakan untuk menulis atau merubah kode dalam framework ini adalah Notepad++ dan Sublime Text 3.
2.6 Kajian Penelitian Terdahulu
Berikut adalah beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya mengenai analisis kelengkapan dokumen. Pada Tabel 2.2 telah dijelaskan lengkap apa saja metode yang digunakan dan apa saja yang dihasilkan dalam penelitian tersebut.
Tabel 2. 2 Kajian Penelitian Terdahulu
a. Penelitian Metode Fantri Pamungkas, Tuti Hariyanto, Endah Woro U. Judul : Identifikasi Ketidaklengkapan Dokumen Rekam Medis Rawat Inap di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi[13]
• Pengambilan data dengan analisis kuantitatif dokumen rekam medis DMK (Dokumen Medik Keperawatan) Umum.
• Kriteria penilaian dengan 4 evaluasi penilaian (Ep; Ep1 correct, Ep2 complete, Ep3 clear, Ep4 recent), yang didasarkan skor 0 untuk kategori tidak terisi, 5 untuk kurang lengkap, 10 untuk sangat lengkap.
• Batasan penilaian kelengkapan yaitu bila memenuhi 4 kriteria penilaian.
• Analisis faktor penyebab masalah ketidaklengkapan dokumen menggunakan metode 5 why untuk identifikasi penyebab masalah dan skor USG melalui FGD (Forum Group Discussion) untuk menentukan prioritas masalah.
Hasil :
• Hasil observasi dari 100 DMK dan 4 Ep yaitu 86% memenuhi kriteria EP1, 91% untuk Ep2, 88% untuk ep3, 90% untuk Ep4, dan 51% untuk semua kriteria, ditunjukkan dalam tabel dan grafik persentase.
12
• Hasil pencarian akar masalah dengan metode 5 why dilihat dari faktor Man, Machine, Methode, Material, Money dan dirumuskan dalam tabel.
• Prioritas utama dalam mempengaruhi ketidaklengkapan dokumen adalah tingkat kedisiplinan dokter dalam pengisian dokumen rekam medis.
b. Penelitian Metode
Afrahamiryano.
Judul :
Validitas Rencana Pembelajran Semester Mata Kuliah Kimia Dasar Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Mahaputra Muhammad
Yamin[14]
• Studi validasi RPS.
• Pengujian validitas menggunakan metode pertimbangan pakar.
• Aspek yang diuji yaitu format, isi, bahasa, tulisan, dan manfaat terkait RPS mata kuliah Kimia dasar.
• Instrument menggunakan angket skala Likert (4 skala), dianalisis dengan teknik data deskriptif • Validitas isi diukur dengan CVR, dengan skor
1 tidak layak, 2 kurang layak, 3 layak.
Hasil :
• Hasil rekapitulasi data dinyatakan sangat valid, disusun dalam tabel hasil rekapitulasi data angket.
• Dilakukan revisi pada format dan isi RPS.
• Revisikriteria dan bobot penilaian pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
• Skor CVR bernilai +1 yang berarti layak, relevan.
c. Penelitian Metode
Firdha Khairunnisa
Judul :
Evaluasi Komponen Kelayakan Isi Buku
• Analisis konten deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
• Sumber data buku teks Cerdas Berbahasa Indonesia kelas X SMA/SMK/MA Negeri di kota Palembang.
13 Ajar Bahasa Indonesia : Kesesuaian Materi dengan Kurikulum[15]
• Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi.
• Teknik analisis menggunakan analisis statistik deskriptif.
Hasil :
• Buku Cerdas Berbahasa Indonesia Terdiri dari 10 bab. • Aspek kelengkapan materi mencapai 80%.
• Terdapat 36 Kompetensi Dasar mencapai angka 4 pada penilaian kesesuaian materi dengan usia peserta didik.
d. Penelitian Metode Lailatul Bariyah Judul : Analisis Kesesuaian RPP dan Pelaksanaan Pembelajaran Guru SMPN di Kabupaten Mojokerto Pada Sub Materi Fotosintesis dengan Kurikulum 2013[9]
• Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
• Data yang terkumpul dideskripsikan dengan metode ilmiah.
• Sasaran RPP guru IPA kelas VII di SMP Negeri yang memakai Kurikulum 2013 (5 SMPN Kabupaten Mojokerto) pada bulan April 2014.
• Teknik pengumpulan data mengunakan dokumentasi, observasi dan angket, dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif.
• Sumber data buku teks Cerdas Berbahasa Indonesia kelas X SMA/SMK/MA Negeri di kota Palembang.
• Pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi.
• Teknik analisis menggunakan analisis statistik deskriptif.
14 Hasil :
• Kelengkapan komponen RPP di SMPN 1 Dlanggu, SMPN 2 Kutorejo dan SMPN 1 Ngoro 97.1%, 86%, 77.1%, 94,1%
• Kelengkapan RPP SMPN di Kabupaten Mojokerto rata-rata sebesar 89,6% dengan kriteria sesuai dengan kurikulum 2013.