• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL TAHUN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL TAHUN 2018"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL

TAHUN 2018

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Muhammad Affan Albana 1113113000096

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

i

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Skripsi yang berjudul:

KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL TAHUN 2018

1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 16 Mei 2020

(3)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama : M. Affan Albana

NIM : 1113113000096

Program Studi : Ilmu Hubungan Internasional Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL TAHUN 2018

(4)

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI

SKRIPSI

KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL TAHUN 2018 Oleh

M. Affan Albana 1113113000096

Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta pada tanggal 21 Mei 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Hubungan Internasional.

Ketua, Sekretaris,

Muhamad Adian Firnas, , S.IP, M.Si Irfan R. Hutagalung, SH, LLM

Penguji I, Penguji II,

Muhamad Adian Firnas, , S.IP, M.Si Irfan R. Hutagalung, SH, LLM Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat pada tanggal 16 Mei 2020. Ketua Program Studi,

(5)

iv

ABSTRAK

Skripsi ini menganalisis tentang kerjasama energi Yordania dengan Israel pada tahun 2018. Skripsi ini juga meneliti keputusan Yordania atas kontrak kerjasama dengan alasan kebutuhan nasionalnya. Untuk meneliti kasus tersebut, skripsi ini menggunakan dua konsep yaitu Rational Actor Model (RAM) dan konsep Interdependensi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai literatur. Deskriptif dan analitis adalah salah satu sifat dari metode kualitatif ini. Maksud dari deskriptif dan analitis adalah penelitian menggambarkan dengan apa adanya dan memperdalam penyelidikan masalah. Teknik Dari hasil analisis dengan menggunakan konsep dan metodologi tersebut dapat disimpulkan bahwa kerjasama Yordania dan Israel dilakukan karena adanya pertimbangan yang rasional berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan serta hasil yang maksimal dan adanya saling ketergantungan antar negara yang bersifat saling menguntungkan.

(6)

v

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, segala puji dan syukur selalu penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tak lupa juga dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam pengerjaan skripsi ini, penulis telah melibatkan banyak pihak yang sangat membantu dalam banyak hal. Oleh sebab itu, disini penulis sampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Keluarga penulis, Bapak Syakban Darwis dan Ibunda Yunida Hartini yang mendukung penuh atas penulisan skripsi ini. Saudari-saudari kandung penulis Arini Indi Khair dan Hafiza Khaira Lubna. Merekalah yang selalu memberikan semangat, doa, dukungan, kasih sayang, dan nasehat kepada penulis hingga skripsi ini dapat diselesaikan;

2. Bapak Muhamad Adian Firnas, , S.IP, M.Si selaku Ketua Program StudiI lmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Bapak Irfan Rachmad Hutagalung, SH, LLM selaku sekretaris program studi yang telah menyetujui permohonan penyusunan skripsi ini;

3. Bapak Febri Dirgantara Hasibuan, M.M. selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing penulis dalampenyusunan skripsi ini hingga selesai;

4. Dosen-dosen Prodi Hubungan Internasional UIN Jakarta. Terima kasih atas segala ilmu yang telah diberikan selama kuliah;

(7)

vi

6. Seluruh kawan organisasi penulis: Himpunan Mahasiswa Jurusan HI, Fisip music lab, HMI, PMII, dan kelompok KKN Swing terima kasih atas pengalaman dan pelajaran organisasi yang telah diberikan;

7. Teman-teman ANTABUR dan WARCUT. Terima kasih atas pelajaran persahabatannya;

8. Sahabat-sahabat grup bimbingan skripsi Ridwan Faris, Fikri Kamil, Rikmandaru, dan Fadel Muhammad. Serta kekasih penulis Dewi Sri Anisah yang saat itu menemani penulis dalam menyelesaikan skripsinya namun hubungan kita ternyata kandas di tengah jalan, terima kasih atas segala dukungan dan semangat yang telah diberikan kepada penulis;

Penulis berharap segala dukungan dan bantuan ini mendapatkan balasan dari Allah SWT. Terakhir, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi setiap pembacanya dan bagi perkembangan studi Ilmu Hubungan Internasional.

Jakarta, Mei 2020

(8)

vii

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR SINGKATAN ... x BAB I: PENDAHULUAN... 1 A. Pernyataan Masalah ... 1 B. Pertanyaan Penelitian ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 7 D. Manfaat Penelitian ... 7 E. Tinjauan Pustaka ... 7 F. Kerangka Konsep ... 10

a. Konsep Rational Actor Model ... 10

b. Konsep Interdependensi ... 13

G. Metode Penelitian... 17

H. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II: DINAMIKA HUBUNGAN YORDANIA DENGAN ISRAEL ... 20

A. Perebutan wilayah Tepi Barat dan Sungai Timur Palestina ... 20

B. Konflik dan kerjasama Yordania-Israel ... 26

(9)

viii

BAB III: BENTUK KERJASAMA ENERGI YORDANIA

DENGAN ISRAEL ... 44

A. Dilema Energi Yordania ... 45

B. Keseimbangan Energi Yordania ... 47

C. Opsi Impor Yordania... 50

1. Gas alam dari Mesir ... 50

2. PasokanMinyak dan Gas BumidariIrak ... 52

3. Gas Bumi dalam bentuk LNG ... 53

4. Perairan Gaza ... 54

5. Persediaan dari Siprus ... 55

6. Persediaan dari Israel ... 56

D. Opsi Energi Domestik Yordania ... 59

E. Langkah Yordania Kedepan ... 63

BAB IV: PENGAMBILAN KEPUTUSAN KERJASAMA ENERGI YORDANIA DENGAN ISRAEL... 64

A. Tujuan dancita-cita Yordania dalam kerjasama Energi dengan Israel ... 64

B. Interdependensi dalam hubungan luar negeri Yordania dengan Israel ... 75

(10)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.B.1 Grafik Impor minyak Yordania 1.000 barel/hari

Gambar 3.B.2 Grafik potensi kapasitas pembangkit jangka panjang dan puncak permintaan dalam megawatt

(11)

x

DAFTAR SINGKATAN

AS : Amerika Serikat BG : British Gas BP : British Petroleum

CNPC : China National Petroleum Corporation CEO : Chief Executive Officer

EJC : Emirate Jordan Camp

FSRU : Floating Storage Regasification Unit GDP : Gross Domestic Product

HAM : Hak Asasi Manusia

IMF : International Monetary Fund ISIS : Islamic State of Iraq and Syria JAEC : Jordan Atomic Energy Commision KLN : Kebijakan Luar Negeri

KW : Kilo Watt

LNG : Liquefied Natural Gas

MoU : Memorandum of Understanding MW : Mega Watt

(12)

xi NGO : Non Government Organizations NEPCO : National Electric Power Company OKI : Organisasi Konferensi Islam PLO : Palestine Liberation Organizations PBB : Persatuan Bangsa Bangsa

PA : Palestinian Authorities PD II : Perang Dunia Kedua RAM : Rational Actor Model USD : United States Dollar

USAID : United States Agency for international Development UNHCR : United Nations High Commisioner for Refugees UNSCOP : United Nations Special Committee on Palestine UAR : United Arab Republic

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

Skripsi ini menganalisa tentang keputusan Yordania atas kerjasama energi dengan Israel, kerjasama yang dilakukan kedua Negara tersebut berupa pembangunan pipa gas dan air untuk memenuhi kebutuhan Yordania. Namun ditengah kerjasama energi tersebut, terdapat beberapa masalah yang dihadapi kedua Negara itu. Yordania merupakan salah satu negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang dengan sepakat anti terhadap pemerintah Israel, namun dengan dinamikayang terjadi akhirnya Yordania mengambil keputusan untuk berdamai dengan Israel. Yordania merupakan negara kedua yang sepakat untuk berdamai dengan Israel pada tahun 1994 setelah Mesir dan mulai bekerjasama dengan Israel pada tahun-tahun berikutnya.1

Kebutuhan energi Yordania meningkat semenjak pengungsi datang. Yordania adalah salah satu importir tertinggi di dunia dalam ketergantungan pada sumber energi asing, dengan 96% kebutuhan energi negara itu berasal dari minyak impor

1Clyde Haberman (27 October 1994). "Israel and Yordania Sign a Peace Accord". The New York

(14)

2

dan gas alam dari negara-negara tetangga Timur Tengah. Ketergantungan penuh pada impor minyak asing ini mengkonsumsi sejumlah besar PDB Yordania. Ini membuat negara merencanakan investasi $ 15 miliar dalam energi terbarukan dan nuklir. Untuk mengatasi masalah ini lebih lanjut, Strategi Energi Nasional untuk 2007-2020 dibuat untuk meningkatkan ketergantungan pada sumber energi domestik dari 4 persen menjadi 40 persen pada akhir dekade ini. Jenis energi yang dibutuhkan Yordania yaitu energi gas bumi, minyak serpih, nuklir, angin, dan energi yang diperbarui (renewable energy).

Pada tahun 2018 perwakilan dari Yordania dan Mesir menemui pemerintah Israel untuk membahas perjanjian perdamaian ketiga negara tersebut. Duta besar Yordania Ghassan Majali dan duta besar Mesir Khaled Azmi menyampaikan surat kepercayaan kepada presiden Israel Reuven Rivlin di Jerusalem. Kedua duta besar tersebut sangat menghormati hubungan baik mereka dan menginginkan pemerintah Israel untuk melakukan perjanjian perdamaian yang serupa dengan Palestina. Presiden Yordania Raja Abdulah II juga berpendapat bahwa perjanjian perdamaian mereka dengan Israel merupakan sebuah pilar stabilitas keamanan di timur tengah.2

Tujuan utama perdamaian Yordania dengan Israel adalah untuk mencairkan suasana konflik geopolitik di timur tengah dan menjadi teman bagi semua pihak,

2

(15)

3

baik Negara-Negara arab maupun Zionist Israel. Namun tidak semua pihak setuju mengenai kebijakan tersebut, banyak perpecahan yang terjadi pada elemen masyarakat dan elit Yordania, latar belakang kedua Negara yang berbeda dan sejarah konfliktual sangat rentan untuk memicu terjadinya konflik yang berlanjut. Isu perbatasan dengan Israel pun masih menjadi perdebatan.

Dinamika konflik yang terjadi di kawasan timur tengah seakan tidak ada habisnya. Mulai dari perbedaan ideologi, isu HAM, kepentingan politik, keamanan, perbatasan, dan agama sangat mewarnai konflik di timur tengah. Upaya-upaya perjanjian dan perdamaian sering kali ditempuh, namun gesekan yang terjadi tidak dapat dihindari dan memecahkan kerukunan di wilayah tersebut. Adanya bantuan maupun intervensi dari pihak asing yang bertujuan meredam pertikaian justru membuat suasana semakin panas.

Salah satu konflik besar yang terjadi di kawasan timur tengah adalah kehadiran Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) pada beberapa tahun terakhir. Gejolak yang ditimbulkan ISIS menuai kontroversi dari berbagai pihak dan menjadi salah satu sumber keributan besar yang terjadi di timur tengah. Berbagai cara pun telah dilakukan untuk meredam konflik namun kenyataannya perpecahan tersebut sulit diatasi.

Yordania pun ikut serta dalam membantu persoalan tersebut sebagai salah satu negara penerima pengungsi. Yordania merupakan negara penerima

(16)

4

pengungsi terbesar terhadap pengungsi Suriah dan memberikan fasilitas yang layak bagi mereka. Banyaknya pengungsi di Yordania membuat negara tersebut harus memiliki kemampuan besar untuk menampung para pengungsi. Hal ini menyebabkan Yordania harus memiliki sumber daya energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya dan para pengungsi.

Menurut United Nations High Commisioner for Refugees (UNHCR) diperkirakan 300,000 orang pengungsi Suriah akan datang pada bulan Juni tahun 2013, namun data yang tercatat pada bulan Mei 2013 telah terkumpul 473,587 orang yang terdaftar termasuk 110,000 orang di pengungsian Za’atri Yordania. Pembangunan tempat-tempat pengungsian dibeberapa wilayah seperti Emirati

Jordan Camp (EJC) dan pengungsian di wilayah Azraq Yordania terus dilakukan

seiring banyaknya pengungsi yang datang.3

Pengungsi yang bermukim di Yordania tentu menambah jumlah penduduk Yordania dan menyebabkan Yordania membutuhkan pasokan energi yang tinggi, bukan hanya untuk warga negaranya tapi juga untuk para pengungsi. Kebutuhan ini mendesak Yordania untuk mencari sumber energi yang lebih banyak untuk keperluan domestiknya, hal ini semakin memburuk karena jumlah penduduk Yordania yang semakin meledak serta banyaknya pengungsi yang datang.

Oleh karena itu Yordania melakukan impor energi dengan negara lain seperti Arab Saudi dengan membuat jalur pipa untuk menyuplai energi ke Yordania. 3UNHCR “Jordan Response Plan” 2013 hlm. 2

(17)

5

Namun suplai energi ini dihentikan pada tahun 1990 akibat tindakan dari Yordania yang mendukung invasi Irak atas Kuwait. Pada akhirnya suplai energi dari Arab Saudi ini digantikan oleh suplai minyak dari Irak hingga rezim Saddam Husein di gulingkan pada tahun 2003 dan Yordania kembali mengalami krisis energi.4 Hal tersebut memaksa Yordania harus mencari opsi lain sehingga kerjasama energi dengan Israel pada akhirnya dilakukan.

Krisis energi Yordania memaksa negara tersebut untuk survive dengan cara melakukan kerjasama dengan Israel, karena Israel mempunyai sumber energi yang dibutuhkan Yordania untuk bertahan hidup. Tentu saja langkah yang diambil Yordania untuk berhubungan dengan Israel tidak lain karena faktor keterpaksaan Yordania dalam kebutuhan energinya, namun pandangan pihak lain mengenai hubungan bilateral tersebut bermacam-macam dan melahirkan kegaduhan dari berbagai pihak terhadap kerjasama tersebut.

Munculnya berbagai tekanan dari masyarakat, NGO, dan anggota parlemen membuat Yordania harus menentukan sikap terhadap kerjasama yang telah mereka lakukan. Hingga pada 14 Februari 2016, konfirmasi resmi justru diterbitkan oleh pemerintahan Israel terkait kerjasama gas alam tersebut. Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengatakan bahwa Yordania telah memutuskan hubungan kerjasama impor gas alam dengan Israel secara sepihak.

4 Handerson Simon, “Jordan’s Energy Supply Options The Prospect of Gas Import From Israel”

(18)

6

“We had an agreement with the Kingdom of Jordan to sign a contract on the supply of Israeli gas and everything was ready, and then the surprising decision came to cancel the agreement.”5

Namun pernyataan Netanyahu tersebut justru berbeda dengan fakta yang ada bahwa kerjasama energi ini tetap berjalan dan akan terus berlanjut pada tahap yang lebih serius di tahun 2017. CEO dari Israel Natural Gas Line, Samuel Tordjan menyatakan bahwa proyek pipa jalur gas alam yang melawati laut mati sedang dalam proses pembangunan. Pipa gas ini berfungsi untuk menyalurkan gas dari Tamar ke para konstumer pribadi dan perusahaan swasta di Yordania. dan setelah proyek pipa gas ini selesai maka akan ada pengembangan proses pembangunan pipa kedua di daerah Beit Shean yang menghubungkan gas alam dari Leviathan untuk memenuhi permintaan pemerintah Yordania yaitu National

Electric Power Company (NEPCO).6

Kelanjutan hubungan bilateral yang bermaksud untuk memperkuat ekonomi tersebut justru akan membuat permasalahan yang besar dan mengancam stabilitas politik serta keamanan nasional dan hilangnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Yordania yang secara diam-diam melakukan kerjasama

5 “Netanyahu: Yordania Cancelled The Gas Deal With Israel” Di akses dari

https://www.middleeastmonitor.com/20160216-netanyahu-Yordania-cancelled-the-gas-deal-with-israel/ diakses tanggal 26 April 2019

6Hend Cohen, “Israel-Yordania Gas Pipeline to Begin Operatin in 2017”

http://www.jpost.com/Business-and-Innovation/Israel-Yordania-gas-pipeline-to-begin-operating-in-2017-447611 diakses tanggal 26 April 2019

(19)

7

dengan Israel. Dengan adanya gelombang demonstran yang mendesak untuk segera memutus hubungan kerjasama bilateral dengan Israel.

Tentu saja kerjasama tersebut menuai banyak perdebatan dan kontroversi karena latar belakang kedua belah pihak tersebut berlawanan dan mempunyai sejarah yang kelam yaitu peran Yordania dalam koalisi Arab Saudi yang berperang enam hari dengan Israel pada tahun 1967. Namun dengan adanya keperluan mendesak, kerjasama bilateral tetap dilakukan oleh Yordania dan Israel. Hal ini menjadi menarik untuk dibahas karena perbedaan ideologi kedua negara yang bersebrangan namun kerjasama tetap dilakukan karena adanya kepentingan negara.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kebijakan Yordania yang melakukan impor energi gas alam dengan Israel, maka pertanyaan pada penelitian ini adalah Mengapa Yordania

melakukan kerjasama energi dengan Israel tahun 2018?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan

Berdasarkan pernyataan masalah tersebut, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

(20)

8

1. Untuk mencari tahu alasan dibalik keputusan kerjasama energi Yordania dengan Israel tahun 2018.

2. Melihat regulasi kerjasama energi antara Yordania dengan Israel.

3. Meneliti keputusan Yordania atas kontrak kerjasama dengan alasan kebutuhan nasionalnya.

Manfaat

Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan pengetahuan serta analisis baru di kalangan akademisi khususnya mahasiswa HI. Selain itu, penelitian ini juga mampu menjadi referensi baru bagi pemerintah, perusahaan, dan Non-Goverment Organizations (NGO) dalam menganalisa sebuah fenomena yang serupa dengan penelitian ini.

D. Tinjauan Pustaka

Penelitian yang menganalisa kebijakan kerjasama Yordania dengan Israel dalam hal energi merupakan pembahasan yang cukup banyak di kaji, termasuk kebijakan impor suplai gas dan air. Terlebih lagi Yordania merupakan Negara timur tengah yang cukup banyak melakukan kerjasama. Tinjauan pustaka ini tentang impor minyak dan gas di Yordania yang dikaji Ayoub Abu-Dayyeh tahun 2015.

(21)

9

Dalam penelitiannya, Ayoub berargumen bahwa Kebijakan energi di Yordania telah kacau semenjak krisis energi tahun 2007-2008 dan sejak pengesahan Kabinet atas strategi energi pada tahun 2004. Makalah ini secara kritis membahas keadaan strategi energi Yordania 2007-2020. Menurut Ayoub, di dunia yang ideal akan ada beberapa kisah sukses parsial. Namun dalam kasus Yordania, lebih realistis untuk menguraikan hambatan untuk sukses, yang mencakup metode tata kelola yang buruk dalam hal bagaimana kekuasaan dilaksanakan, dan bagaimana pengambil keputusan bertanggung jawab.7

Ayoub menjelaskan empat bagian tentang masalah energi di Yordania. Pertama membahas strategi energi dari 2007-2020 di sektor minyak, gas dan energi terbarukan serta menjabarkan rekomendasi strategi umum. Kedua membahas beberapa kisah sukses global dalam energi terbarukan dan memberikan beberapa informasi latar belakang yang dapat digunakan sebagai kriteria dasar untuk pencapaian praktis, yang diuraikan dalam bagian ketiga makalah ini, bagian ini berfokus pada kekacauan energi di Yordania.

Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama meneliti mengenai krisis energi di Yordania menggunakan konsep RAM, dan keamanan energi. Perbedaan pada penelitian ini adalah Ayoub lebih membahas kepada perbaikan krisis energi Yordania secara luas, sedangkan penelitian ini lebih berfokus pada kerjasama

7Ayoub Abu-Dayyeh, Policy Paper “From energy mess to energy management: Yordania as a case

(22)

10

Yordania dengan Israel mengenai energi. Kesimpulan ayoub adalah Strategi energi Yordania harus diperbarui dan direvisi setiap tiga hingga lima tahun. Pembaruan strategi sangat berguna di negara-negara yang kurang berkembang seperti Yordania, karena dampak pengaruh internal dan eksternal jauh lebih besar dari pada di negara-negara berkembang.

Selanjutnya pada penelitian Hassan A. Barari tahun 2014, beliau menjelaskan bagaimana runutan jejak sejarah interaksi konflik hingga kerjasama Yordania dengan Israel dengan konsep dual track diplomacy dan zero-sum game. Beliau juga menganalisa Yordania dalam strategi pemikiran Israel dan gerakan protes buruh Yordania terhadap hubungan dengan Israel. Penelitian tersebut juga membahas tentang dilema hubungan kedua Negara, perubahan strategi Yordania, dua pemikiran besar, skenario perserikatan, dan normalisasi hubungan bilateral.8

Perbedaan penelitian Barari dengan penelitian ini adalah Barari menjelaskan secara umum hubungan bilateral kedua Negara dari berbagai sektor khususnya dinamika politik dan pemerintahan. Namun penelitian ini lebih berfokus pada kerjasama energi kedua Negara.

8Barari, Hassan Yordania and Israel: A Troubled Relationship in a Volatile Region / Hassan Barari

(23)

11

E. Kerangka Konsep

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa konsep yaitu Rational Actor Model (RAM), dan Interdepedensi. Konsep tersebut digunakan sebagai alat analisa untuk memahami dinamika permasalahan yang terjadi.

1. Rational Actor Model

Didalam literatur Lloyd Jensen menurut Graham T. Allison konsep RAM merupakan salah satu dari tiga proses pembuatan Kebijakan Luar Negeri (KLN). Pengertian dari konsep RAM adalah individu (negara) dianggap sebagai satu satunya aktor yang berperan dalam mengambil keputusan dan berupaya memaksimalkan pencapaian tujuan mereka berdasarkan pertimbangan yang rasional.9

Adapun asumsi-asumsi dasar dari konsep RAM ialah individu mempunyai cita-cita dan tujuan. Dalam mengambil sikap, individu menggunakan perhitungan rasional yang berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan pada setiap keputusan yang diambil, individu memilih cara yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal, hasil dari setiap pilihan mengacu pada urutan yang dianjurkan.

9 Lloyd Jensen.1982. Explaining Foreign Policy. New Jersey, Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs,

(24)

12

Konsep ini menekankan bahwa suatu proses pengambilan keputusan akan melewati tahapan penentuan tujuan, alternatif/opsi, konsekuensi, dan pilihan keputusan. Konsep ini menyatakan bahwa keputusan yang dibuat merupakan suatu pilihan rasional yang telah didasarkan pada pertimbangan rasional/intelektual dan kalkulasi untung rugi sehingga diyakini menghasilkan keputusan yang matang, tepat, dan prudent. Dalam konsep RAM, terdapat salah satu prinsip bahwa individu memiliki suatu tujuan. Dalam mengambil sikap, individu menggunakan perhitungan rasional yang berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan pada setiap keputusan yang diambil, memilih cara yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Konsep ini sering digunakan dalam berkerjasama yaitu dengan menggunakan perangkat negara untuk menghitung besar kecil biaya dan keuntungan yang didapat dalam suatu kerjasama.

Menurut Marius Profiroiu ini adalah tentang pendekatan pengambilan keputusan yang dikembangkan oleh ekonomi klasik, dimana manusia mengambil keputusan yang rasional. Keputusan tersebut sejalan dengan alasan aktor yang berusaha memaksimalkan tujuan, tergantung pada cara yang digunakannya. Dia memiliki preferensi, menetapkan tujuan, menentukan

(25)

13

kegunaannya, kemudian mencari alternatif yang ada untuk menyelesaikan masalah.10

Pada langkah berikutnya, dia mengambil kriteria pilihan sebaik mungkin, untuk memudahkan identifikasi pilihan terbaik diantara kelebihan dan kekurangan dari setiap jalan alternatif yang ada. Alternatif tersebut kemudian diurutkan menggunakan kriteria ini, sehingga menghasilkan solusi yang dianggap paling tepat untuk menyelesaikan masalah.

RAM memiliki banyak kualitas. sebagai aktor pembuat keputusan, individu harus fokus pada dasar masalah, isi alternatif dan preferensi, serta memilih kriteria yang baik sesuai dengan substansi. Beberapa penelitian telah mengikuti model ini dan mencoba memperbaikinya dengan memeriksa semua opsi yang mungkin dan biaya yang dikeluarkan. Model yang ditingkatkan disebut model rasional – komprehensif.

Menurut Gournay, RAM tidak memperhitungkan banyak faktor yang mempengaruhi keputusan. Faktor pertama terkait dengan jumlah pembuat keputusan di pemerintahan. Dalam model rasionalis kita tidak harus berurusan dengan pembuat keputusan tunggal. Dalam administrasi publik ada beberapa pengambil keputusan, sehingga lebih banyak rasionalitas dan nilai-nilai yang terlibat dalam kompetisi. Pada dasarnya dalam model rasionalis, pembuat

10 Profiroiu, M. (2006), Kebijakan Publik, Teori, Analisis, Praktik, Bukares, Rumah Penerbitan

(26)

14

keputusan harus mengambil keputusan pada waktu yang tepat. Pada kenyataannya, pembuat keputusan bekerja dengan beberapa dokumen secara paralel dan tidak dapat sepenuhnya berkonsentrasi pada satu keputusan.

Gournay menegaskan bahwa untuk mengadopsi suatu keputusan, pembuat keputusan tidak memiliki alat yang tepat untuk mereka, untuk membuat proyeksi masa depan dari semua efek dari suatu keputusan. Gournay menyebutkan bahwa relevansi keputusan didasarkan pada nilai yang mendasari informasi untuk kasus-kasus dimana semua informasi yang sedikit dan oleh karena itu sulit untuk memiliki keputusan yang objektif dengan memperhitungkan semua aspek penting.

Selain kurangnya waktu, sumber daya dan rutinitas intelektual sering mencegah pengambil keputusan publik untuk mempertimbangkan semua alternatif keputusan yang memungkinkan. Ini mempertanyakan rasionalitas keputusan tertentu dari administrasi publik. Terlepas dari semua upaya yang dilakukan dalam arti rasionalitas, tidak mungkin untuk meramalkan semua konsekuensi yang akan dihasilkan dari keputusan semacam itu atau yang lain. Ia percaya bahwa proses pengambilan keputusan yang rasional menuntut dari para pengambil keputusan, obyektivitas yang tidak dapat dicapai, terutama dalam keputusan politik.11

11 Gournay, B. (1980) "Keputusan otoritas publik: model dan realitas", di Langrod Georges dan Louis

(27)

15

2. Interdependensi

Konsep kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah interdependensi. Pada umumnya interdependensi merupakan kontak atau pertukaran dalam hubungan antar negara. Interdependensi muncul karena adanya tindakan dari salah satu pihak negara dan pihak negara lain yang menyutujui hubungan dengan negara tersebut. Adanya saling ketergantungan antar bangsa di berbagai sektor, baik ekonomi, politik dan sosial, tidak lepas dari adanya usaha negara untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, ketergantungan ini memperlihatkan adanya proses interaksi yang saling membutuhkan antara suatu negara dengan negara lainnya yang saling menguntungkan dan saling berkepentingan.

Menurut Robert Keohane dan Joseph Nye dalam interdependensi selalu terdapat biaya, interdependensi membatasi sikap pemerintah, interdependensi tidak mungkin menentukan keuntungan dari sebuah hubungan yang melebihi biaya. Hal ini tergantung pada kondisi aktor dari hubungan interdependensi yang dipengaruhi oleh hubungan timbal balik. Interdependensi tidak hanya didefinisikan pada setiap hubungan yang seimbang, ini adalah suatu hal yang beda dalam interdependensi, ketika salah satu aktor berpengaruh dalam hubungan antara satu aktor dengan lainnya, aktor yang less-dependent

(28)

16

biasanya dapat menggunakan interdependensi sebagai sumber kekuatan dalam melakukan negosiasi.12

Kekuatan interdependensi bisa diartikan sebagai kemampuan aktor untuk membuat aktor lain melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan. Kekuatan dapat didefinisikan dalam pengertian mengatur kendali pada hasil negosiasi. Kekuatan yang ada membuat aktor memiliki posisi yang lebih kuat dari aktor lain. Ketika terjadi hubungan interdependensi asimetris yang didapatkan dari sumber kekuatan, maka pola yang terjadi adalah kekuatan mengendalikan hubungan dan berpotensi untuk mempengaruhi hasil.13

Dalam kekuatan interdependensi terdapat dua variabel yang harus dipahami yaitu sensitivity dan vulnerabilty. Sensitivity meliputi tingkat tanggapan dalam kerangka kebijakan, perubahan drastis pada suatu negara dapat mempengaruhi negara lainnya. Sensitivity muncul dari interaksi melalui kerangka kebijakan para aktor. Sensitivity berasumsi bahwa kerangka tidak berubah, pada umumnya keputusan yang tidak berubah menandakan bahwa kesulitan pada pembuat keputusan baru dalam waktu yang singkat, atau ini

12Robert Keohane and Joseph Nye, Chapter I ‘Interdependence in World Politics’, dalam ‘Power and Interdependence’ 3rd Edition, (New York : Longman Publishing, 2001), hal. 8

13Robert Keohane and Joseph Nye, Chapter I ‘Interdependence in World Politics’, dalam ‘Power and Interdependence’ 3rd Edition, (New York : Longman Publishing, 2001), hal. 10

(29)

17

juga menggambarkan komitmen pada beberapa pola dari sistem internal maupun eksternal.14

Variabel kedua adalah vulnerability atau kerentanan. Vulnerability dalam interdependensi tergantung pada kemampuan dan biaya dari keputusan alternatif yang akan dipiliholeh aktor. Vulnerability dapat didefinisikan sebagai kewajiban aktor untuk mendapatkan biaya yang ditentukan oleh aktor lain. Hal ini menandakan bahwa vulnerability akan sedikit lebih efektif dibandingkan sensitivity dalam penyediaan sumber kekuatan bagi para aktor. Jika satu aktor dapat mengurangi resiko biaya dengan mengubah keputusannya, maka sensitivity tidak bisa dijadikan alat yang baik bagi sumber kekuatan. Vulnerability juga merupakan cara strategis dimana

sensitivity menjadi tidak begitu efektif.15

Pola pemikiran interedependensi mengacu pada beberapa sektor seperti sektor pedagangan, sikap ketergantungan biasanya muncul karena adanya kepentingan negara dalam memenuhi kebutuhannya, dengan adanya kebutuhan maka negara harus mencari jalan keluar dengan melakukan transaksi dengan negara lain. Sektor yang kedua adalah investasi, penanaman modal seperti investasi merupakan cara bertahan individu atau negara dalam

14Robert Keohane and Joseph Nye, Chapter I ‘Interdependence in World Politics’, dalam ‘Power and Interdependence’ 3rd Edition, (New York : Longman Publishing, 2001), hal. 10

15Robert Keohane and Joseph Nye, Chapter I ‘Interdependence in World Politics’, dalam ‘Power and Interdependence’ 3rd Edition, (New York : Longman Publishing, 2001), hal. 11

(30)

18

jangka panjang, pembelian saham pada perusahaan dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Sektor selanjutnya adalah finansial, dalam beberapa kasus di afrika banyak negara yang membutuhkan bantuan dana finansial untuk pembangunan di negaranya. Cara yang harus ditempuh negara tersebut untuk mendapatkan dana yaitu dengan melakukan hubungan dengan negara yang bisa membantunya mendapatkan pinjaman modal. Kemudian yang terakhir adalah sektor politik, setiap individu, kelompok, ataupun negara pasti mempunyai kepentingan politik yang berbeda. Dalam memenuhi kepentingan politiknya individu tersebut harus melakukan interaksi kepada pemerintah lain yang dapat mensukseskan tujuan politiknya.

F. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai literatur. Referensi yang digunakan dari studi pustaka atas berbagai buku, surat kabar, jurnal-jurnal ilmiah, internet maupun dokumentasi lainnya yang dapat mendukung penelitian. Deskriptif dan analitis adalah salah satu sifat dari metode kualitatif ini. Maksud dari deskriptif dan analitis adalah penelitian menggambarkan dengan apa adanya dan memperdalam penyelidikan masalah.

(31)

19

Penelitian yang menggunakan cara deskriptif untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian adalah penelitian kualitatif, dimana penelitian ini sesuai dengan metode ilmiah yang baik dan benar dalam bentuk kata dan Bahasa yang sesuai.16

Metode kualitatif ini menggunakan sumber data dalam bentuk buku dan jurnal imliah untuk jenis sumber data. Sumber data yang diambil dijadikan acuan dalam penelitian ini, yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku, artikel dan data-data sekunder yang diperoleh dari internet. Penulis mengambil dari sumber internet yang terpercaya seperti situs resmi lembaga internasional, situs resmi media online, dan situs resmi pemerintahan.

Langkah selanjutnya setelah pengumpulan data dan menjadikannya sumber adalah melakukan studi pustaka tentang penelitian yang telah dilakukan sebelum ini. Lalu alat analisis yaitu landasan konsep dimasukan, landasan konsep ini juga berasal dari literatur dan jurnal. Pada langkah selanjutnya, kerangka teori digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Pada tahap akhir, penelitian ini memberi kesimpulan dan jawaban pada pertanyaan penelitian yang didasarkan pada teori yang telah digunakan pada level analisis ini.

Metode ini mempunyai kelebihan yaitu dapat memperdalam kajian secara deskriptif karena didapatkannya sumber dari segala macam bentuk sehingga dasar

(32)

20

penelitian dapat diperkaya. Akan tetapi metode ini juga mempunyai kelemahan pada penelitian ini, dimana subjek sampel didalam penelitian hanya sedikit dikarenakan hanya berfokus pada beberapa subjek.

Penulis mengikuti buku panduan penyusunan proposal dan penulisan skripsi sebagai acuan teknik penulisan, buku ini dikeluarkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Lalu teknik analisis yang dipakai penulis adalah teknik analisis data kualitatif dan teknik pengambilan kesimpulan yang dipakai adalah secara deduktif.

G. Sistematika Penulisan

Penelitian ini dikelompokan menjadi lima bab besar. Dalam setiap bab, peneliti akan menjelaskan isi bab secara deskriptif dan ditutup dengan analisa peneliti terhadap bab tersebut. Berikut ini merupakan sistematika penulisan dalam penelitian ini:

BAB I akan menerangkan tentang pernyataan penelitian dalam skripsi ini. Setelah menjelaskan pernyataan penelitian, bab ini juga membahas tentang pertanyaan penelitian, setelah itu bab ini akan menjelaskan tujuan dan manfaat penelitian yang akan didapat. Kemudian bab ini akan menerangkan konsep yang digunakan dalam penelitian ini dalam sub bab kerangka teoritis. Kemudian pada bab ini akan menjelaskan mengenai tinjauan pustaka dari beberapa sumber, lalu selanjutnya akan dijelaskan mengenai metode

(33)

21

penelitian yang digunakan. Dan pada bagian akhir bab ini adalah sistematika penulisan.

BAB II akan menjelaskan tentang dinamika hubungan bilateral antara Yordania dengan Israel.

BAB III akan menerangkan tentang kerjasama energi yang dilakukan Yordania dengan Israel.

BAB IV akan menganalisa tentang kerjasama energi Yordania dengan Israel menggunakan konsep RAM dan interdependensi.

(34)

22

BAB II

DINAMIKA HUBUNGAN YORDANIA DENGAN ISRAEL

Bab ini akan menjelaskan bagaimana pasang surut hubungan Yordania dengan Israel pada beberapa tahun terakhir, terutama mengenai konflik hingga perjanjian damai sampai pada munculnya keputusan kerjasama dalam krisis sumber daya alam di Yordania. Bab ini dimulai dengan membahas kasus-kasus yang terjadi pada kedua Negara tersebut. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai pro dan kontra Negara-negara timur tengah atas keputusan Yordania. Bab ini penting untuk dibahas karena dapat dikaitkan dengan keputusan Yordania dalam melakukan kerjasama dengan Israel.

A. Perebutan wilayah Tepi Barat dan Sungai Timur Palestina

Kemerdekaan Israel tahun 1948 secara dramatis mengubah pemikiran Raja Abdullah I. Setelah bertahun-tahun melakukan dialog rahasia dengan para pemimpin Yahudi ia menguasai daerah sebelah barat Sungai Yordania serta Yerusalem timur yang memaksanya untuk menghadapi masalah dengan Israel dan masalah pengungsi Palestina yang sebagian besar melarikan diri ke sungai timur. Menyusul penaklukan Yordania atas Tepi Barat (West Bank)

(35)

23

dan penerbangan para pengungsi, Raja Abdullah mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem yang bertentangan dengan alasan kerajaan yang seharusnya berfokus pada mempertahankan mayoritas trans-Yordania dan membatasi kehadiran Palestina di daerah kedaulatan Yordania.

Lima belas tahun setelah Perang Kemerdekaan cucu Abdullah, Raja Hussein memperbarui dialognya dengan Israel, tetapi ruang gerak Hussein yang terbatas tidak cukup untuk menahan tekanan oleh Presiden Mesir Abd al-Nasser untuk bergabung dalam perang melawan Israel pada Juni 1967. Langkah ini juga tidak konsisten dengan alasan politik dan strategis Yordania, namun yang terjadi lepasnya Tepi Barat mengurangi populasi Palestina di bawah pemerintahan Yordania, hingga memudahkan kerajaan untuk mengatasi kenyataan bahwa mereka adalah minoritas di negara mereka sendiri.

Hal tersebut juga memudahkan Yordania untuk mengatasi kebangkitan nasionalisme Palestina yang dimanifestasikan oleh pembentukan Palestine

Liberation Organizations (PLO) pada tahun 1964. Organisasi-organisasi

Palestina beroperasi melawan Israel dari Tepi Barat ketika masih merupakan bagian dari kerajaan dan dipaksa untuk memindahkan pangkalan mereka. Kemudian setelah 1967 muncul paradoks lain yaitu Israel yang diserang oleh Yordania tiga tahun sebelumnya lalu datang ke pertahanan kerajaan pada tahun 1970 untuk melindunginya dari Suriah, yang mengirim pasukan untuk

(36)

24

mendukung organisasi Palestina dalam perjuangan mereka melawan rezim kerajaan dan melindungi mereka terhadap tentara Yordania.

Selama bertahun-tahun, Israel dan Raja Hussein terlibat dalam dialog rahasia yang menciptakan paradoks lain. Seperti, kepemimpinan Israel yang tergabung dalam Gerakan Buruh yang menolak setiap keputusan raja untuk mengambil kendali bertahap atas bagian-bagian Tepi Barat. Kegagalan langkah yang direncanakan oleh Menteri Luar Negeri Shimon Peres dan Raja Hussein pada tahun 1987 yang dirancang untuk memungkinkan Yordania untuk mengambil peran dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina, menyebabkan raja menyatakan pelepasan resmi dari Tepi Barat pada bulan Juli tahun 1988.

Pelepasan ini yang juga menghasilkan perubahan dalam sikap PLO terhadap Israel dan membuka jalan ke Kesepakatan Oslo yang ditandatangani pada tahun 1993 antara Israel dan PLO. Kesepakatan Oslo ini juga memberikan persetujuan untuk memulai negosiasi antara Israel dan Yordania yang mengarah ke perjanjian damai antara kedua negara dan ditandatangani hanya 13 bulan setelah Kesepakatan Oslo. Dengan kata lain, Raja Hussein tidak menunggu Israel dan Palestina mencapai penyelesaian akhir, dia terburu-buru untuk melakukan pembicaraan dengan Israel dan mengangkat tabir kerahasiaan dari hubungan antara kedua negara, suatu hubungan yang pada saat itu merupakan rahasia yang cukup terbuka.

(37)

25

Akan tetapi, asumsi raja bahwa negosiasi antara Israel dan Palestina akan menghasilkan penyelesaian permanen dalam waktu lima tahun tidak hanya tidak direalisasikan, tetapi Israel membentuk pemerintahan yang memandang Kesepakatan Oslo sebagai dosa Israel. Sejak 1996, banyak anggota pemerintah Israel menganggap Yordania sebagai tanah air pengganti Palestina. Gagasan ini menyebabkan kegelisahan bagi para pemimpin rezim Hashemite, dan pada kenyataannya adalah dasar bagi kebijakan keseluruhan Yordania tentang hubungan trilateral antara Yordania, Israel dan Palestina.

Kritik keras Raja Abdullah II telah menyuarakan di Israel untuk menumbuhkan radikalisasi pada isu-isu yang terkait dengan konflik dengan Palestina, terutama aktivitas pemukiman Yahudi Israel di Tepi Barat. Ini berasal dari kecemasan yang mendalam bahwa radikalisasi akan menghasut dan mengarah ke gelombang ketiga penerbangan Palestina ke Yordania, sebuah perkembangan yang cenderung mengeja akhir pemerintahan Hashemite. Perjanjian damai dengan Israel mengakui status khusus Yordania ketika datang ke situs suci Muslim di Yerusalem, Israel berupaya memasukkan Yordania ke dalam semua langkah menyangkut situs-situs ini di bagian kota timur, tetapi karena pertimbangan politik internal dan regional, pemerintah Yordania terus mengkritik apa yang terjadi di kota itu walaupun peristiwa itu tidak memiliki hubungan langsung dengan situs suci untuk Islam.

(38)

26

Namun, tidak peduli seberapa keras kritik tersebut sejauh ini belum dituangkan ke dalam tindakan nyata, meskipun Yordania sebagai anggota Dewan Keamanan PBB pada tahun 2014-2015 dapat menyebabkan kerugian besar bagi Israel di dunia internasional. Pengakuan Yordania terhadap pengaruh Israel di Kongres AS juga memainkan peran penting dalam memoderasi respon Yordania terhadap apa yang dipandangnya sebagai provokasi Israel yaitu konstruksi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Kesabaran ini mencerminkan pandangan luas dari sistem kepentingan kerajaan secara keseluruhan terutama dalam hasil dari pergolakan Timur Tengah selama empat tahun terakhir.

Perjanjian damai misalnya, memungkinkan Yordania untuk menerima air dari Israel. Yordania menderita krisis air yang telah bertambah buruk dalam beberapa tahun terakhir karena masuknya sekitar dua juta pengungsi Irak dan Suriah ke dalam kerajaan. Israel adalah pemasok langsung dan satu-satunya pemasok air ke Yordania dan Israel memenuhi kebutuhan airnya dengan baik. Gangguan pasokan gas alam dari Mesir ke Yordania karena teror di Semenanjung Sinai telah menyebabkan kerusakan luar biasa pada ekonomi Yordania, pada titik ini satu-satunya pasokan gas yang layak adalah dari Israel. Ekspor Yordania melalui pelabuhan Suriah berhenti total karena perang saudara di Suriah, mengangkut barang dari Yordania ke pelabuhan Haifa adalah alternatif saat ini.

(39)

27

Raja Abdullah II membandingkan radikalisasi politik Israel dengan radikalisasi yang terbukti di dunia Arab. Perbandingan itu ofensif, tapi itu menggaris bawahi kekhawatiran Yordania yang semakin besar dengan Negara Islam dan fraksi-fraksi serupa di dalam perbatasannya. Uji coba pendukung Negara islam di Yordania dan demonstrasi oleh pendukung organisasi di kota selatan Ma'an menunjukkan dukungan untuk organisasi Islam radikal di dalam kerajaan. Mengingat hal ini, kerja sama keamanan antara Yordania dan Israel menjadi lebih kuat dari pada sebelumnya.

Peringatan perjanjian damai Israel-Yordania bukanlah hari sukacita tetapi juga bukan hari berdukacita. Perjanjian ini serta perjanjian damai yang ditandatangani antara Israel dan Mesir dapat dipandang sebagai kekecewaan. Tidak ada kehangatan dalam hubungan antara kedua negara. Sebagian besar perjanjian formal tentang berbagai jenis kerja sama belum pernah dilaksanakan. Nyaris tidak ada sisa kerja sama masyarakat sipil. Ribuan wisatawan Israel yang mengunjungi tempat-tempat wisata terkenal Yordania di masa lalu menjauhi negara itu karena ketakutan akan terorisme.

Di sisi lain, perjanjian damai dengan Yordania dan Mesir memberikan pengaturan formal yang memungkinkan kerjasama yang memenuhi kepentingan vital Israel dan kepentingan kedua tetangganya. Israel yang tertarik untuk menjaga stabilitas rezim yang ada di Yordania dan Mesir, harus menunjukkan sensitivitas terhadap tekanan internal yang harus dihadapi oleh

(40)

28

rezim, dengan menggunakan proses politik dengan Palestina sebagai alat untuk memperkuat kerja sama regional dengan rezim moderat.17

B. Konflik dan Kerjasama Yordania-Israel

Keterlibatan Yordania dalam Perang 1948 sering dilihat kontroversial, dan sejarawan telah memperdebatkan peran Yordania dan Inggris menjelang perang. Dipercaya secara luas bahwa Raja Abdullah I berusaha untuk memperkuat hubungannya dengan Inggris setelah Perang Dunia Kedua untuk memperluas perbatasan Yordania. Kepercayaan ini mengundang banyak kritik Negara Arab pada saat itu. Mary Wilson berpendapat bahwa hubungan dekat Yordania dengan Inggris terus berlanjut membuat Abdullah berselisih dengan gaya Arab pada umumnya setelah perang jauh dari genggaman Inggris.18 Upaya tanpa henti Abdullah untuk mengajukan gugatan kepada Suriah untuk persatuan dan posisinya tentang masalah perbatasan Palestina lebih menjauhkannya dari banyak pemimpin Arab yang mulai takut padanya.

Selama setengah 1940-an perhatian utama difokuskan tentang masalah Palestina. Gagalnya rekonsiliasi tuntutan orang-orang Arab dan Yahudi di tanah Palestina menyeret Inggris untuk menyelesaikan masalah ke PBB sehingga bisa memberikan solusi yang dapat diterima untuk semua pihak yang terlibat. Untuk menyelesaikan masalah, PBB membentuk komite khusus 17Oded Eran, Israel-Yordania: The Peace Agreement’s 20th Anniversary INSS Insight No. 621

18Mary C. Wilson, King Abdullah, Britain and the making of Yordania(New York: Cambridge

(41)

29

untuk mengeluarkan rekomendasi. Setelah mengunjungi Palestina dan bertemu dengan berbagai pihak politisi, termasuk Raja Abdullah, United

Nations Special Committee on Palestine (UNSCOP) melaporkan kembali ke

PBB dan menyarankan pemisahan Palestina.

Perlu disebutkan bahwa tidak ada Mitra Palestina yang mau atau bisa menerima pemisahan Palestina menjadi dua negara. Dalam sumber buku penelitian dan tanpa memihak masyarakat Palestina di bawah Mandat Inggris, Rashid Khalidi berpendapat bahwa masyarakat Palestina terlalu lemah untuk bereaksi secara efektif.19 Khalidi memeriksa tindakan para pemimpin Palestina di bawah Mandat Inggris yang menyebabkan kegagalan mereka membangun struktur dan organisasi yang bisa dimiliki memfasilitasi pembentukan negara Palestina. Menurut Khalidi, tahun-tahun sebelum Perang 1948 adalah bencana besar, Para pemimpin Palestina menyia-nyiakan kesempatan mereka.

Masyarakat Palestina menderita kelemahan internal yang berbahaya, berbeda dengan para pemimpin Zionis yang berhasil membangun struktur yang diperlukan untuk mendirikan sebuah negara. Ketidak seimbangan ini tercermin jelas ketika kedua belah pihak bertempur di belakang rencana pemisahan. Ini bukan berarti bahwa kekuatan eksternal tidak berperan dalam

19Rashid Khalidi, The Iron Cage: The Story of the Palestinian Struggle for Statehood (Boston: Beacon

(42)

30

membantu para pemimpin Zionis dalam upaya mereka untuk membangun sebuah negara sementara secara bersamaan merampas Palestina dari mengambil jalan serupa. Yang jelas kekuatan eksternal khususnya Inggris membantu menciptakan permainan curang di mana Zionis berada di atas angin, terutama pada masa sebelumnya perang.

Namun demikian, Khalidi menawarkan cara yang cermat untuk melihat masalah Palestina sendiri yaitu persaingan di antara para pemimpin Palestina dalam melayani para penguasa kolonial dan yang lebih penting, para pemimpin yang salah mengatur pemberontakan Palestina dari 1936 hingga 1939.20 Dijelaskan secara eksplisit dalam penelitian Khalidi mengenai pertanyaan menyedihkan tentang mengapa masyarakat Palestina hancur berantakan cara dramatis pada tahun 1948. Khalidi memberikan jawaban mengapa Palestina hingga hari ini gagal mencapai kemerdekaan.

Menjelang berlalunya rencana pemisahan dan terjadinya konflik bersenjata, masyarakat Palestina menjadi terpecah belah. Dengan memanfaatkan masyarakat Palestina yang terpecah dan hampir tanpa pemimpin, para pemimpin Yahudi mengalihkan perhatian mereka ke Raja Abdullah sebagai seseorang yang mungkin menyetujui pembagian Palestina. Menurut para pemimpin Yahudi, tidak ada pemimpin Palestina yang akan

20Rashid Khalidi, The Iron Cage: The Story of the Palestinian Struggle for Statehood (Boston: Beacon

(43)

31

menerima pembagian Palestina. Raja Abdullah dan Zionis khawatir tentang gerakan nasional Palestina, dan Raja Abdullah akan tergoda untuk memperluas kerajaan miliknya untuk memasukkan bagian-bagian dari Palestina. Ini menandai awal munculnya "opsi Yordania" dalam pemikiran pemimpin Yahudi.

Para pemimpin Zionis melihat Raja Abdullah tidak puas dengan perbatasan Yordania dan karena kepercayaan itu dia akan rentan terhadap rencana pembagian Palestina. Dalam penelitian yang berjudul “Collusion

across the Yordania”, sejarawan Israel yang terkenal Avi Shlaim mengajukan

tesis bahwa ada perjanjian tidak tertulis antara Raja Abdullah dan Perwakilan Yahudi Golda Meir dimana kedua belah pihak sepakat untuk pemisahan Palestina dan aneksasi oleh Raja Abdullah dari area yang dirancang untuk Palestina dalam rencana pemisahan.21 Avi Shlaim yang memperoleh akses

arsip Israel, merujuk pada pertemuan di Yordania pada 17 November 1947 yang diangap sebagai pertemuan rahasia dan hanya dua belas hari sebelum rencana pemisahan disahkan PBB.

Tesis Shlaim menantang narasi perang dari Zionis yang menggambarkan konflik Arab-Israel tahun 1948 menjadi bipolar, dengan sisi Arab bersatu di belakang satu tujuan yaitu kehancuran Israel. Berlawanan

21Avi Shlaim, Collusion Across the Yordania: King Abdullah, the Zionist Movement, and the Partitionof Palestine (New York: Columbia University Press, 1988).

(44)

32

dengan penggambaran ini, Shlaim melihat bahwa para pemimpin Arab jauh dari persatuan, perbedaan dan persaingan mereka mencegah mereka untuk menyetujui kesepakatan, apalagi pada kehancuran Israel. Tuduhan perjanjian tidak tertulis juga diajukan dalam dua penelitian lainnya oleh seorang perwira Yordania dan seorang perwira Israel.

Abdullah al-Tell, seorang perwira tinggi Yordania yang berperang dengan Israel pada tahun 1948 dan merupakan utusan kepercayaan antara Raja Yordania dan para pemimpin Israel, menerbitkan sebuah buku dimana ia mengutuk Raja karena keterlibatannya dengan para pemimpin Zionis.22 Dalam hal yang sama, letnan kolonel Israel Baer mengatakan tuduhan serupa terhadap Ben-Gurion.23 Tidak mengherankan, sejarawan Yordania tidak menyentuh masalah ini sama sekali. Misalnya, Ma'an Abu Nuwar nyaris tidak menyinggung insiden kontroversial ini. Dalam bukunya yang berjudul The

Yordaniaian-Israeli War 1948-1951: “A History of the Hashemite Kingdom of Jordan”, Abu Nuwar tidak menyebutkan tentang dua pertemuan rahasia

antara Raja Abdullah dan Golda Meir pada 17 November 1947 dan 11 Mei 1948.24

22Abdullah al-Tell, Karithat Filasti: Midhakkirat Abdullah al-Tell, Qa’id Ma’rakat al-Quds [The

Palestinian Catastrophe: The Memories of Abdullah al-Tell, the Leader of the Battle for Jerusalem(Cairo: 1959).

23Israel Baer, Israel’s Security: Yesterday, Today, Tomorrow (Tell Aviv: Amikam, 1966), (in Hebrew). 24Ma’an Abu Nuwar, The Yordaniaian-Israeli War 1948-1951: A History of the Hashemite Kingdomof Yordania(Great Britain: Ithaca Press, 2002).

(45)

33

Pandangan sekilas pada perhitungan Raja Abdullah dapat membantu menerangi dilema yang harus ia hadapi. Sepragmatisnya Raja Abdullah, ia tidak pernah meremehkan kekuatan dan pengaruh proyek Zionis di Palestina. Berbeda dengan kritiknya di dunia Arab, dia sangat mengerti ikatan yang disukai Zionis dengan kekuatan besar. Adnan Abu Odeh, penasihat lama Raja Hussein, menulis bahwa Raja Abdullah sadar akan perkembangan internasional setelah Perang Dunia II, terutama simpati yang ada untuk orang Yahudi Eropa membuat Raja Abdullah lebih yakin dari sebelumnya mengenai pembangunan negara Yahudi di Palestina sudah dekat.25 Raja Abdullah menghitung bahwa Yordania akan lebih baik jika ia mencoba untuk mendamaikan kepentingannya dengan orang-orang Zionis. Karena itu nampaknya Adnan Abu Odeh setuju dengan argumen Shlaim tentang perjanjian rahasia Yordania-Israel. Menariknya, Abu Odeh berpendapat bahwa Raja Abdullah memiliki dua kepentingan yang sama dengan Israel yaitu oposisi terhadap negara Palestina dan pengeluaran fatwa dari masa depan Palestina.

Namun, narasi revisionis Shlaim tidak boleh diambil sebagai nilai nominal. Bahkan di Israel, ada sejumlah sejarawan yang mengambil masalah dengan teori persekongkolan ini. Profesor Avraham Sela dari Universitas Ibrani, memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa perjanjian 25Adnan Abu Odeh, Yordaniaians, Palestinians, and Hashemite Kingdom in the Middle East PeaceProcess, (Washington DC: USIP Press, 1999), hal.35.

(46)

34

rahasia ini dengan mengikuti apa yang terjadi selama perang yang bertentangan dengan perjanjian antara para pemimpin sebelumnya. Dalam penelitian nya disebutkan bahwa kondisi dan asumsi dasar yang membentuk fondasi perjanjian tidak tertulis antara Raja Abdullah dan Israel tentang pembagian Palestina diawal musim panas tahun 1946 telah diubah secara substansial selama perang Desember 1947 – Mei 1948 untuk membuat perjanjian itu kuno dan tidak praktis.26

Profesor Sela meremehkan dampak dari perjanjian tidak tertulis semacam itu bahkan jika itu ada, karena kedua belah pihak terkunci dalam pertarungan ganas saat perang meletus. Entah direncanakan atau tidak, Yordania dan Israel menandai diri mereka sendiri sebagai penerima Palestina yang terpecah belah. Yordania mencaplok Tepi Barat dan Yerusalem Timur, dan Palestina gagal membangun negara mereka sendiri. Ini boleh dipertanyakan apakah istilah "kolusi" Shlaim cocok untuk menggambarkan interaksi antara Raja Yordania dan Pemimpin Yahudi. Padahal memang benar kepemimpinan Hashemite itu mempertahankan dialog dengan Israel, istilah "kolusi" bisa menyinggung dan menyesatkan. Mungkin untuk ini alasan mengapa Avi Shlaim mengganti nama bukunya Collusion Across the

Yordania menjadi The Politics of Partition.

26Avraham Sela, “TransYordania, Israel, and 1948 War: Myth, Historiography, an Reality,” MiddleEastern Studies, Vol. 28, No. 4 (October 1992), hal.627.

(47)

35

Saat Shlaim memfokuskan interaksi yang monumental antara Raja Yordania dan para pemimpin Israel, kontroversi atas peran interaksi ini dalam hasil akhir perang kemungkinan akan berlanjut. Faktanya, tidak ada bukti empiris bahwa hasil akhir perang mencerminkan komitmen kedua belah pihak untuk perjanjian rahasia ini. Kedua belah pihak berjuang keras untuk mendapatkan Yerusalem dan tempat-tempat strategis penting lainnya. Banyak historiografi Yordania berfokus pada pertempuran utama untuk menggambarkan aksi heroik tentara Yordania dalam menghadapi serangan tentara Israel di kota khusus ini.

Karena itu, hasil akhir perang lebih penting daripada apakah kedua belah pihak memiliki kesepakatan sebelumnya pada pengeluaran untuk Palestina. Keberadaan Negara Arab di beberapa bagian Palestina membuka jalan bagi persatuan kedua tepi sungai Yordania. Rencana Mesir untuk mendirikan pemerintah Palestina dengan kursinya di Gaza di bawah kekuasaan pemberi fatwa menjadi bumerang. Demikian pula, upaya Mesir pada bulan September 1948 untuk mencegah Raja Abdullah mengkonsolidasikan keuntungan wilayahnya dalam perang tidak membuahkan hasil. Yordania tidak hanya menolak untuk mengakui semua pemerintah Palestina, tetapi juga memilih diplomasi yang gigih untuk mengamankan kegagalan rencana Mesir. Dalam sebuah konferensi di Jericho yang diadakan pada 1 Desember 1948, tokoh-tokoh Palestina menyatakan

(48)

36

persatuan antara Tepi Barat dan Yordania di bawah kepemimpinan Raja Abdullah. Setelah melemahkan basis daya pemberi fatwa di Palestina, Raja Abdullah akhirnya menjadi pemimpin tertinggi di Palestina.

Sekarang, Tepi Barat dan Yerusalem Timur menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Kerajaan Hashemite Yordania dan meninggalkan jejak abadi baik Yordania dan Israel. Meskipun campuran konflik dan kerjasama yang telah banyak ditandai dalam interaksi mereka, penggabungan tanah Palestina ke Yordania mengubah hubungan antara Israel dan Yordania menjadi

zero-sum game, dimana kedamaian menjadi hampir mustahil.

C. Hubungan dilematis Yordania-Israel

Ketika Perang 1948 mereda, Yordania mengikuti Langkah Mesir dan menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan Israel di Rhodes pada bulan April 1949. Ketidakpercayaan antara Yordania dan Mesir mencegah kedua negara dari koordinasi mereka yang kemudian menghasilkan lepasnya Negev ke Israel. Menurut Mary Wilson, Mesir tidak ingin melihat peningkatan posisi Abdullah dan merasa bahwa dia terlalu “serbaguna” untuk menjadi mitra negosiasi yang dapat dipercaya.27 Sementara itu, Raja Abdullah khawatir dengan Mesir. Dia percaya bahwa orang-orang Mesir mendukung

27Mary C. Wilson, King Abdullah, Britain and the making of Yordania(New York: Cambridge

(49)

37

pemimpin Palestina Amin al-Husseini dan mencoba yang terbaik untuk melemahkan keuntungan Yordania dalam perang.

Pertemuan rahasia Raja Abdullah dengan Israel bisa saja menghasilkan perdamaian, namun ada dua masalah yang menghalangi yaitu, Israel menolak pengembalian tanah ke Yordania dan pemulangan pengungsi sebagai timbal balik untuk perdamaian dengan Yordania. Pada masalah ini, celah antara kedua sisi itu terlalu lebar untuk dijembatani. Raja Abdullah punya sedikit ruang untuk bergerak, karena dia menghitung bahwa konsesi apapun tidak akan dilihat sebagai perdamaian yang terhormat dan oposisi domestik itu akan menjadi tantangan yang serius. Dalam hal ini, dia mengakhiri pembicaraan dengan Israel dan berharap kondisinya akan berubah. Namun, pembunuhan Raja menandai sebuah perubahan titik dalam hubungan Israel-Yordania.

Pandangan sekilas ke masa lalu yang tidak terlalu jauh melihatkan bahwa perdamaian masih mustahil. Selain keinginan Raja Abdullah untuk mengakhiri perang dengan Israel, hubungan Negara Arab merupakan suatu penghalang bagi rencana perdamaian Raja Abdullah. Hubungan Negara Arab yang dibatasi muncul pada Perang Dunia Pertama yang ditandai oleh identitas orang Arab pada umumnya, namun itu penuh dengan persaingan dan perselisihan di antara penguasa elit di masing-masing negara. Proses pemerintahan kolonial, perubahan sosial, modernisasi, dan politik kekuasaan

(50)

38

berperan dalam membentuk sebuah tatanan Arab yang berfungsi untuk lebih membatasi Yordania dalam berurusan dengan Israel.

Dengan berdirinya Israel, bencana Palestina, dan ketidakmampuan Arab yang jelas dalam berurusan dengan Israel, Pertanyaan Palestina menjadi pilar utama nasionalisme pan-Arab. Sementara rezim-rezim Arab sering bekerja pada Tujuan ideologis untuk mengalahkan Zionisme, masalah Palestina menjadi kedua isu dalam politik antar-Arab. Kebijakan rezim Arab terhadap masalah ini didorong dengan kepentingan nasoinal. Jika ada kegagalan Arab dalam memeriksa Israel itu merupakan cerminan yang jelas dari persaingan antar Negara, bahkan dalam menghadapi musuh bersama.

Status quo pasca perang tampak tidak bisa dipertahankan. Meski banyak yang menjuluki Israel dan Yordania sebagai "musuh terbaik", kebijakan Israel dengan Yordania adalah bertentangan. Sementara parlemen Israel biasanya didukung perjanjian gencatan senjata, anggota di kedua kanan dan kiri mengkritik keras perjanjian gencatan senjata dengan Yordania. Dua mosi tidak percaya diajukan untuk memprotes perjanjian tersebut, karena dilihat sebagai pengakuan Israel atas penggabungan tanah Yordania atas Palestina dan Israel.

Perbedaan posisi antara Israel dan Yordania muncul selama konferensi Lausanne yang diadakan di Swiss antara April dan September 1949. Namun konferensi itu gagal menjembatani kesenjangan antara negara-negara Arab dan Israel, karena ada dua poin utama pertikaian antara mereka yaitu

(51)

39

pengungsi dan wilayah. Israel bersikeras pada posisinya bahwa tanggung jawab para pengungsi ada di tangan negara-negara Arab dan perbatasan gencatan senjata harus diakui sebagai perbatasan internasional. Perdana Menteri Israel pertama David Ben Gurion berpendapat bahwa Israel seharusnya tidak membuat izin teritorial demi perdamaian. Di pembicaraan berikutnya, orang Yordania bersikeras bahwa Raja Abdullah hanya menyetujui persyaratan damai yang bisa dia pertahankan di dunia Arab. Perdamaian seperti itu akan menuntut Israel untuk melepaskan tanahnya, sebuah permintaan yang bukan dimulai dari sudut pandang Israel, membuat masalah menjadi konflik zero-sum. Meskipun pembicaraan berlanjut sampai Pembunuhan Raja Abdullah pada bulan Juli 1951, mereka tidak menghasilkan kemajuan apa-apa.

Sementara itu, serangan Israel terhadap penyusup perbatasan Palestina lebih melihatkan kerentanan Yordania. Perpindahan lebih dari 800.000 warga Palestina membawa banyak warga Palestina untuk menyusup garis gencatan senjata, terutama untuk kepentingan ekonomi daripada tujuan militer.28 Namun, Israel mengadopsi kebijakan "tembakan bebas" terhadap penyusup dan menerapkan kebijakan pembalasan militer terhadap negara mana pun yang gagal menghentikan penyusup dari perbatasannya, terutama Mesir dan Yordania.

28Benny Morris, Israel’s Border Wars, 1949-1956: Arab Infiltration, Israeli Retaliation, and the Countdown to the Suez War (New York: Oxford University Press, 1993).

(52)

40

Karenanya, Yordania punya alasan untuk takut akan pembalasan Israel dan berusaha keras untuk mencegah penyusup melintasi perbatasannya ke Israel, tetapi ini tidak cukup bagi Israel. Para pemimpin Israel bersikeras pada banyak kesempatan bahwa Yordania juga penyebab di balik kerusakan garis gencatan senjata, tetapi Avi Shlaim berpendapat Tuduhan Israel terhadap Yordania itu tidak berdasar.29

Karena pertimbangan politik internal dan keinginan Pemerintah Israel untuk mempertahankan popularitas domestiknya, Israel berusaha menunjukkan kemampuannya untuk menyebabkan kerugian pada Yordania. Ketidakmampuan pemerintah Yordania untuk memenuhi tuntutan Israel mengarah pada peningkatan kebijakan pembalasannya, yakni ketika pasukan Israel menyerang desa Qibya Yordania pada 14 Oktober 1953. Sekitar 45 rumah diledakkan, dan 70 warga sipil lainnya terbunuh. Pembantaian Qibya membawa kecaman internasional dan Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi pada 25 November mengutuk Israel karena pembantaian itu.

Meskipun pembantaian Qibya mempermalukan Israel di tingkat dunia internasional, itu juga mengungkapkan kerentanan strategis Yordania. Pada pertengahan 1950-an, Nasser dari Mesir menjadi lambang anti-imperial dan gerakan nasionalis Pan-Arab anti-Israel. Terlebih lagi Mesir sukses dalam mencap diri sebagai pusat nasionalisme Pan-Arab selama perjuangan atas

29Avi Shlaim, The Iron Wall: Israel and the Arab World (New York and London: Norton and

(53)

41

Pakta Baghdad. Nasser menjadi pahlawan yang dicari orang Arab yang tidak puas setelah perang Perjuangan Mesir-Irak atas Pakta Baghdad dan selanjutnya kemenangan Nasser selama krisis Suez, menjadikannya Pemimpin Arab yang paling berpengaruh. Kekuasaan Nasser mengantar dalam fase baru di dunia Arab yang dijuluki "perang dingin Arab” dimana monarki diadu melawan kaum republikan.30

Tidak mengherankan orientasi Yordania yang pro-barat menjadi sasaran untuk propaganda Pan-Arab. Keterlibatan Yordania dalam perang tahun 1948 yang menyebabkan pelebaran dalam hal wilayah dan populasinya menjadi kritik utama. Persatuan antara kedua tepi sungai Yordania mengarah ke transformasi demografis yang ditandai dimana Palestina menjadi mayoritas di Kerajaan Hashemite Yordania. Meskipun pemerintah Yordania berusaha mempercepat proses mengubah orang Palestina menjadi orang Yordania (Yordaniaisasi), kesepakatan mereka adalah membebaskan Palestina dari Zionis. Tentu saja, Nasser mengeksploitasi situasi ini dengan memohon kepada Yordania mengenai keturunan Palestina. Retorika yang kuat tentang keharusan membebaskan Palestina melanda mereka, sehingga menciptakan tantangan bagi rezim Yordania yang mengalami kesulitan membalas kritik tersebut.

30Malcolm Kerr, The Arab Cold War: Gamal ‘Abd al-Nasir and His Rivals, 1958-1970 (New York:

(54)

42

Mungkin tidak ada dalam sejarah Yordania yang telah menyaksikan tingkat ketidakpastian seperti itu. Gejolak politik regional dan oposisi internal membuat banyak pengamat meragukan ketahanan pemerintah Yordania yang tidak mempunyai pilihan baik. Di satu sisi, Nasser dan ideologinya menjadikan Yordania sebagai tempat yang sulit bagi raja untuk memerintah. Di sisi lain, pembuat keputusan Yordania menganggap Israel sebagai musuh yang mau mengeksploitasi Tepi Barat Yordania. Mengingat faktor ini, raja Yordania mengikuti tindakan penyeimbangan dimana dia memproyeksikan sikap anti-Israel untuk menenangkan orang-orang, tetapi tanpa memprovokasi Israel.

Sementara itu, perkembangan regional meningkatkan pentingnya Yordania sebagai negara penyangga. Satu dekade ketidakstabilan politik di Suriah ditandai dengan serangkaian kudeta militer yang berakhir dengan pengumuman pada 5 Februari 1958 dari United Arab Republic (UAR) itu termasuk Suriah dan Mesir di bawah kepemimpinan Nasser. Untuk menangkal langkah Suriah-Mesir itu, Yordania dan Irak menandatangani perjanjian persatuan sembilan hari kemudian. Para pemimpin Israel khawatir bahwa perubahan ini dapat menyebabkan implikasi yang tidak menguntungkan untuk Israel. Tiga skenario yang dipertimbangkan adalah UAR akan melawan Israel untuk memperkuat ikatan di antara persaingan Negara Arab; UAR akan menggunakan taktik subversif di Lebanon dan

Gambar

Gambar   3.B.1 Grafik Impor minyak Yordania 1.000 barel/hari
Gambar 1: Grafik Impor minyak Yordania 1.000 barel/hari   Sumber : Administrasi Informasi Energi Amerika
Gambar  2  :  Grafik  potensi  kapasitas  pembangkit  jangka  panjang  danpuncak  permintaandalam megawatt

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti, hal ini di pengaruhi oleh permainan tradisional gobak sodor yang digunakan dalam pembelajaran kerjasama anak.Permainan

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa teknik dasar bolavoli merupakan suatu gerakan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan

Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti, hal ini di pengaruhi oleh permainan tradisional gobak sodor yang digunakan dalam pembelajaran kerjasama anak.Permainan

Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan oleh peneliti di dalam penelitian analisis menggunakan metode studi literatur, yaitu dengan mencari beberapa referensi

Prof. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi dan juga studi dokumentasi. Teknik analisis

Berdasarkan beberapa analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran menggunakan kokami (kotak dan kartu misterius) dapat

Teknik analisis yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan metode analisa faktor confirmatory untuk melihat faktor yang paling dominan dalam pertimbangan cost