BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Permasalahan
Membangun Kalimantan berarti membangun Indonesia, karena Kalimantan adalah sebagian dari tanah air/Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalimantan pulau harapan, banyak tidak dikenal dari dekat oleh sebagian rakyat Indonesia. Hanya banyak dikenal sebagai pulau hutan, yang penuh dengan cerita-cerita yang menakutkan orang. Pulau Dayak, inilah umum di ketahui dimasa penjajahan, pulau harapan dimasa yang akan datang. Kalimantan Barat di juluki “Provinsi seribu sungai”, itu di karenakan mempunyai ratusan sungai besar dan kecil, yang sering di layari. Beberapa sungai besar sampai saat ini merupakan sumber kehidupan dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman. Kalimantan Barat di huni oleh penduduk asli Dayak dan kaum pendatang dari Sumatera juga kaum urban dari China serta daerah lainnya di Indonesia. Suku yang dominan besar yaitu Dayak, Melayu dan China. Selain itu terdapat juga suku-suku bangsa lain antara lain Bugis, Jawa, Minangkabau, Sunda, Madura dan Batak.
Sebutan kata “Dayak” merupakan sebutan yang umum di Kalimantan, bahkan diseluruh Indonesia, yang setiap orang mendengar kata “Dayak” sudah tentu tertuju pandangannya kepada salah satu dari suku-suku di Indonesia, yang mendalami pulau Kaimantan. Kata Dayak adalah satu perkataan untuk menamakan stam-stam yang tidak beragama Islam yang mendiami pedalaman Kalimantan, dan istilah ini di berikan oleh bangsa Melayu dipesisir Kalimantan yang berarti orang gunung. Mengenai asal suku Dayak masih kita lihat perbedaan-perbedaan pendapat, ada yang mengatakan suku Dayak berasal dari langit yang ketujuh atau penduduk asli pulau Kalimantan, dan suku Dayak berasal dari Proto Melayu. (O.K Rachmat dan R. Sunardi 158:2000)
Suku Dayak Sikukng (Sungkung), adalah suku Dayak yang bermukim di dataran tinggi puncak bukit dan dataran tinggi gunung Sungkung di perbatasan Sarawak Malaysia dengan Kalimantan Barat Indonesia. Pemukiman Suku Dayak Sungkung di kabupaten Bengkayang, disebut Sungkung Kompleks, terdiri dari kurang-lebih 6 kampung, yaitu kampung Sungkung Senoleng, Sungkung Akit,
Sungkung Lu‟u, Sungkung Medeng, Sungkung Senebeh dan Sungkung Daun. Istilah Sikukng (Sungkung), berarti "bulatan rotan untuk anting-anting", yang berasal dari bahasa Cina Kek yang berarti „bulatan rotan‟ untuk anting-anting. Suku Dayak Sungkung, menyebut diri mereka sebagai Sikukng, sedangkan suku-suku dayak tetangga mereka menyebut mereka sebagai Sihkoy, sedangkan menurut etnis lain di luar wilayah mereka menyebut mereka sebagai Sungkung. Bahasa Dayak Sungkung adalah bahasa yang diucapkan di perkampungan Sungkung. Bahasa ini termasuk ke dalam rumpun bahasa Bidayuh, sedangkan Suku Dayak Sungkung, menurut para peneliti dimasukkan ke dalam rumpun suku Dayak Bidayuh.
Suku Dayak Sungkung, menjalani pola hidup pada pertanian berladang. Mereka menanami gunung-gunung dengan tanaman padi ladang. Selain bertani berladang, mereka juga memanfaatkan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan.
Keadaan Suku Sungkung saat ini memang dalam keadaan cukup memprihatinkan, karena dari letak geografis berada di perbatasaan dengan Negara tetangga Malaysia, sehingga akses untuk menuju ke Suku Sungkung sangat lah sulit, karena berada di pedalaman. Aktivitas sosial di dalam suku sungkung secara mayoritas berkebun, pendidikan masih sangat prihatin, dari pengajar pun sangat minim, ironi nya bahkan ada satu sekolah hanya ada satu pengajar, karena sangat sulit tenaga pengajar disana. Pendidikan sangat mempengaruhi sistem dalam berpikir untuk menjalankan prinsip Nasionalisme dalam sosial, krisis Nasionalisme yang telah menjadi isu dalam prilaku masyarakat Suku Sungkung, karena kurang perhatian dari pemerintah, sebaliknya Malaysia lebih memperhatikan, dari sembako sampai keperluan sandang mayoritas dari Malaysia, sampai hasil berkebun di jual ke Malaysia, bahkan untuk bahasa, ada beberapa desa yang sudah memakai bahasa Malaysia, sampai mata uang lebih sering memakai ringgit di banding rupiah. Krisis Nasionalisme yang tidak di inginkan oleh masyarakat Suku Sungkung, karena memang keadaan yang membawa mereka seperti itu, namun jika masyarakat Suku Sungkung berada di posisi mengambil sebuah pilihan untuk memilih Indonesia atau Malaysia, maka suku Sungkung akan memilih dan membela Tanah Air Indonesia sampai di akhir hayat, ini menurut Bapak Senaya selaku kepala dusun Surutembawang Suku Sungkung. Keadaan seperti ini yang menjadi perhatian khususnya masyarakat Indonesia, karena bicara Nasionalisme itu tidak mengenal
waktu dan tempat dimana pun berada. Nasionalisme harus tetap ada. Itu yang di berikan Suku Sungkung pada Indonesia, meskipun keadaan tidak menuntut adanya rasa Nasionalisme, tapi Suku Sungkung tetap memegang teguh prinsip Nasionalisme.
Fenomena ini menjadi bagian dari perkembangan cara berpikir masyarakat Indonesia, Khususnya Suku Sungkung yang berada di Kalimantan Barat, memberikan tindakan atas permasalahan yang di uraian di atas, maka perlunya Media Informasi untuk memberikan gambaran keadaan Suku Sungkung. Bahwa masih bisa bertahan di tengah himpitan krisis Nasionalisme yang ada, memberikan Informasi kepada masyarakat Indonesia. Agar dapat mempengaruhi remaja awal sampai akhir di Indonesia, dapat mengerti tentang prinsip Nasionalisme. Bahwa dengan mempertahankan Budaya dapat di segani oleh Bangsa lain. Dengan Media yang efektif dan efisien guna untuk mempermudah dalam memberikan pesan yang akan disampaikan melalui film dokumenter, karena media film dapat memberikan informasi secara audio visual (suara dan gambar) yaitu meliputi media yang dapat dilihat dan didengar, selain itu film juga merupakan media yang dapat memaparkan informasi yang efektif bagi remaja, karena sebagian besar dari golongan usia tersebut masih memiliki suatu rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang baru, serta masih mengenyam pendidikan di sekolah yang tentunya masih mendapat kurikulum sejarah kebudayaan bangsa.
Merepresentasikan kembali suatu kejadian, kisah hidup, atau realita. Disamping itu juga Komunikan akan mendapatkan suatu informasi dengan dukungan gambar yang lebih hidup/nyata sehingga seakan-akan komunikan memiliki pengalaman langsung melihat Suku Sungkung sekaligus mengetahui tentang sejarah suku tersebut.
1.2 Masalah Perancangan 1.2.1 Identifikasi Masalah
Dengan melihat latar belakang permasalahan di atas, penulis menuliskan identifikasi masalah sebagai berikut.
Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap suku Sungkung, sehingga masyarakat suku Sungkung sulit untuk berinteraksi ke masyarakat sekitar di Kalimantan Barat.
Kurangnya sumber informasi yang lengkap dan jelas mengenai keadaan suku Sungkung menjadi salah satu penyebab kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang suku Sungkung di perbatasan.
Dikhawatirkan terjadinya krisis Nasionalisme terhadap suku Sungkung.
Kurangnya kesadaran bagi masyarakat Indonesia untuk membantu suku Sungkung, dalam mengedepankan aspek pendidikan, yang dapat mempengaruhi pola pikir suku Sungkung sendiri.
1.2.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah untuk penelitian ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah perancangan film dokumenter pada Suku Sungkung, agar dapat membangkitkan rasa Nasionalisme pada masyarakat?
2. Bagaimanakah merancang naratif visual dalam film dokumenter pada Dayak Sungkung, untuk menyampaikan keadaan Nasionalime Dayak Sungkung pada masyarakat?
1.2.3 Ruang Lingkup Masalah
Dari identifikasi masalah yang telah ada serta untuk pembahasan lebih terarah, maka penulis memberikan ruang lingkup masalah pada penelitian ini. Adapun ruang lingkup masalah tersebut adalah.
1. Konten informasi yang dirancang meliputi media utama berupa film dokumenter. 2. Data yang digunakan sebagai konten perancangan bersumber pada buku data
potensi keanekaragaman Gerzon R. Ayawaila, James P. Spradley, Tcilik Riwut, Yayasan Obor Indonesia.
3. Film ini ditujukan untuk masyarakat yang memiliki range umur 15 – 22 tahun, umumnya untuk remaja di kota-kota besar di Indonesia dan secara khusus untuk remaja di Kalimantan itu sendiri.
1.3 Tujuan Perancangan
Setelah meninjau dari keseluruhan rumusan masalah diatas, maka penulis memiliki tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut :
1. Untuk membangkitkan rasa Nasionalisme pada masyarakat Indonesia, dengan melalui rancangan film dokumenter, khususnya pada remaja agar nantinya mereka dapat lebih mencintai Tanah Air.
2. Untuk menyampaikan naratif visual keadaan masyarakat Dayak Sungkung, khusus nya remaja agar dapat menanamkan nilai Nasionalisme.
1.4 Manfaat Perancangan
1.4.1 Bagi Daerah
1. Membuat Dayak Sungkung lebih dikenal masyarakat Indonesia khususnya remaja. 2. Meningkatkan pengunjung ke Dayak Sungkung untuk memberikan partisipasi dari
masyarkat di luar Dayak Sungkung. 3. Arsip kebudayaan Nasional.
1.4.2 Bagi Penulis
1. Meningkatkan wawasan penelitian mengenai Nasionalisme Dayak Sungkung.
2. Menambah wawasan mengenai perancangan Film Dokumenter yang baik dan sesuai bagi remaja.
3. Mengasah kemampuan untuk menemukan solusi yang tepat bagi permasalahan yang dikaji.
1.5 Cara Pengumpulan Data dan Analisis
Agar dapat membuat sebuah perancangan yang tepat, dibutuhkan sumber data – data mengenai bagian yang terkait secara keseluruhan. Untuk itu pengumpulan data dalam penyusunan konsep perancangan diperoleh dengan meetode kualitatif didefinisikan sebagai suatu proses yang mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kompleksitas yang ada dalam interaksi manusia (Catherine
Marshal, 1995). melalui pendekatan etnografi hanya sebatas deskripsi struktural mengenai kondisi alamiah suatu kelompok budaya :
1. Metode Studi Pustaka
Data dan informasi didapatkan melalui buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan topik permasalahan yang melatar belakangi perancangan Tugas Akhir seperti buku mengenai teori Nasionalisme, konsep Film Dokumenter, dan jurnal mengenai Suku Sungkung.
2. Metode Observasi (Pengamatan)
Penelitian dilakukan dengan pengamatan langsung objek perancangan, dimana dalam hal ini adalah keadaan Dayak Sungkung dan situasi Suku Sungkung untuk mendapatkan data-data mengenai objek yang dihadapi.
3. Metode Wawancara
Data juga dikumpulkan dengan cara mewawancarai khalayak sasaran yang dituju yakni remaja awal dari SMP, SMA sampai remaja akhir mahasiswa.
1.6 Kerangka Perancangan
Kerangka perancangan berikut ini merupakan serangkaian flowchart yang mendeskripsikan alur dari proses perancangan dalam pembuatan Film Dokumenter Suku Sungkung. Berikut adalah gambar kerangka perancangan :
Skema Perancangan 1. 1 (Sumber Penulis 2014)
1.7 Pembabakan
Pembabakan berikut ini berisi gambaran singkat mengenai pembahasan di setiap bab penulisan laporan :
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan gambaran secara umum mengenai latar belakang permasalah dalam fenomena yang dikaji oleh penulis, serta mengidentifikasi masalah yang terjadi dan merumuskan masalah tersebut kedalam beberapa poin rumusan yang dibatasi melalui ruang lingkup masalah. Serta menentukan tujuan perancangan yang dilakukan melalui metode – metode pengumpulan data dan kerangka perancangan.
BAB II DASAR PEMIKIRAN
Menjelaskan dasar pemikiran dari teori-teori film, Nasionalisme dan naratif visual. untuk digunakan sebagai pijakan untuk proses perancangan.
BAB III DATA DAN ANALISIS MASALAH
Menjelaskan berbagai hasil data yang telah didapatkan dan menjelaskan analisis masalah untuk menentukan proses perancangan.
BAB IV KONSEP & HASIL PERANCANGAN
Menjelaskan konsep desain dan hasil perancangan yang dibuat bedasarkan data yang telah didapatkan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berisi kesimpulan dan saran dari penulis.