III. BAHAN DAN METODE. Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

Teks penuh

(1)

12 III. BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dimulai dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2009. Lokasi Penelitian adalah di Kawasan Agropolitan Cendawasari, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Luas wilayah penelitian ± 455,481 Ha, yang mencakup 6 desa, yaitu Desa Cengal, Desa Nariti, Desa Darmabakti, Desa Wanakarya, Desa Sumberjaya, dan Desa Rawasari, yang kesemuanya masuk di dalam Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.. Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah penghasil komoditas manggis yang tergolong besar di Indonesia, disamping Purwakarta, Subang dan Tasikmalaya. (Laporan RAPIM Ditjen Hortikultura). Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data sekunder, survei lapang dan kemudian dilanjutkan dengan analisis. Kegiatan analisis dilakukan di bagian Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.

Tabel 3. Nama Bahan (Data dan Peta) dalam Penelitian

No Nama bahan Spesifikasi skala

1. Peta Penggunaan Lahan Kawasan Agropolitan Cendawasari 1 : 25.000 2. Peta Topografi Kawasan Agropolitan Cendawasari 1 : 25.000 3. Data Sampling Komoditas Manggis di Kawasan

Agropolitan Cendawasari

4. Peta Aksesibilitas Kawasan Agropolitan Cendawasari 5. Citra Quickbird daerah penelitian

(2)

13 Tabel 4. Nama Alat dalam Penelitian

No

Nama alat Pengolahan data

Survei Hardware Software 1. Seperangkat komputer ArcView GIS 3.3 GPS 2. Printer Panavue Kompas

3. MapSource Meteran 4 Microsoft Words 2003 Kamera

5. Microsoft Excel 2003 Alat Tulis 3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan kegiatan yaitu tahap persiapan, pengolahan data, interpretasi, survei lapang, analisis data dan ujia akurasi metode.

3.3.1 Tahap Persiapan

Dalam tahap persiapan dilakukan pengumpulan data sekunder maupun data primer, studi pustaka dan pengadaan bahan penunjang serta peralatan yang dibutuhkan termasuk pembuatan peta dasar dan peta kerja. Data primer diantaranya adalah citra Quickbird dan citra Landsat serta data sampling komoditas manggis di kawasan penelitian yang diperoleh dari Bapeda. Sedangkan Data sekunder berupa peta penggunaan lahan kawasan penelitian, peta topografi dan peta aksesibilitas.

3.3.2 Tahap Pengolahan Data

Dengan melakukan analisis berbagai data dukung termasuk interpretasi citra, peta kerja dibuat dalam peta dasar yang berisi legenda-leganda berupa jalan, batas wilayah, sungai, dan lain-lain. Dari peta kerja ini dipergunakan untuk merancang pengamatan/ penelitian yang akan dilakukan di lapangan.

Citra Quickbird dalam penelitian ini dibuat dengan menggunakan potongan-potongan citra yang didapat dari situs wikimapia di internet (http://www.wikimapia.com) yang kemudian digabungkan menjadi satu mosaik citra daerah penelitian yang utuh sehingga dapat dilakukan klasifikasi penggunaan lahannya. Sebelum dilakukan interpretasi citra maka diawali dengan identifikasi titik kontrol pada citra satelit Quickbird dan pada peta dasar yang dalam hal ini digunakan peta rupabumi. Selanjutnya dilakukan koreksi geometrik dan

(3)

14 penajaman citra satelit. Untuk koreksi geometri, digunakan acuan peta rupabumi skala 1:25.000.

3.3.3 Interpretasi Penggunaan Lahan melalui Citra Quickbird

Dalam pelaksanaan interpretasi citra satelit Quickbird dilakukan secara manual yaitu dengan proses digitasi layar yang kemudian dicocokan/diverifikasi dengan menggunakan data/informasi acuan yang dianggap benar (hasil pengamatan lapang dan referensi peta).

Dalam proses interpretasi citra terlebih dahulu dibuat daerah-daerah contoh yang berupa informasi kelas-kelas penggunaan lahan tertentu sebagai referensi sesuai dengan hasil pengamatan lapang. Daerah contoh (sample areas) adalah contoh informasi kelas-kelas penggunaan lahan/penutupan vegetasi dalam hal ini beberapa kenampakan/obyek yang diindikasikan sebagai suatu jenis obyek penggunaan lahan tertentu.

Kemudian jika objek-objek lain di tempat yang berbeda memiliki karakter yang sama sesuai dengan unsur-unsur interpretasi citra (tekstur, rona, warna, dsb) maka objek-objek tersebut dapat dikelaskan sesuai dengan referensi yang telah dibuat, sehingga dari proses tersebut dapat dihasilkan peta penggunaan lahan sementara. Dalam pembuatan training sample, yang dilakukan pertama kali adalah mendigitasi suatu kenampakan tipe penggunaan lahan atau vegetasi di layar monitor saat “module display” bekerja. Setiap training sample harus berbentuk poligon tertutup yang diberi satu kelas informasi (tipe penggunan lahan atau penutupan vegetasi tertentu). Interpretasi ini dilakukan dengan menggunakan dua jenis citra, yaitu dengan menggunakan citra Landsat dan Quickbird. Interpretasi tersebut bertujuan untuk menentukan apakah dengan perbedaan citra yang digunakan untuk melakukan interpretasi ini akan berdampak pada hasil identifikasi jenis objek dan macam objeknya.

3.3.4 Survei Lapang untuk membuat peta Landuse dan peta sebaran manggis.

Setelah peta penggunaan lahan sementara didapatkan, maka perlu dilakukan validasi di lapangan (ground truth) untuk mengecek kebenaran hasil interpretasi dan pengamatan jenis-jenis vegetasi, terutama dicatat/disensus jumlah pohon manggis di setiap jenis penggunan lahan per luasan tertentu (Murthy et al.,

(4)

15 1995) sehingga di dapat data jumlah pohon manggisnya. Lokasi (plot-plot) sampel pengamatan lapangan ini sedapat mungkin dilakukan di daerah yang aksesibilitasnya tinggi, sehingga informasi mengenai kondisi lahan dan penutupan vegetasi lainnya dapat diketahui karakteristiknya secara akurat. Posisi geografis lokasi pengamatan ditentukan dengan mengukur koordinat lokasi pengamatan di lapangan. Untuk keperluan ini dipergunakan alat GPS (Global

Positioning System). Semua data lapangan terutama di daerah (plot-plot) sample

merupakan “ground truth” yang akan diolah dan di “match” dengan data citra untuk sumber informasi utama dalam menyempurnakan peta penggunaan lahan sementara, sehingga pada akhirnya didapat peta penutupan/penggunaan lahan yang definitif untuk dasar pembuatan peta persebaran manggis. Untuk daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh pengamatan, dilakukan pendugaan pengkelasan berdasarkan penciri yang sama dengan wilayah yang sudah diamati. Selama pengamatan di lapangan, dilakukan perbaikan deliniasi serta mengumpulkan data-data yang mendukung penelitian. Estimasi tingkat ketelitian dan kebenaran hasil analisis dilakukan secara acak/random dengan menggunakan metode pendekatan ’point sampling accuracy’.

3.3.5 Analisis Data dan Pembuatan Peta Sebaran Manggis

Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah memetakan komoditas manggis di daerah Cendawasari berdasarkan Satuan Penggunaan Lahan tertentu yang terdapat di daerah tersebut. Sebagai contoh, Satuan Penggunaan Lahan yang berupa sawah, akan dapat diketahui bahwa setiap luasan tertentu terdapat pohon manggis di dalamnya. Untuk mengecek kebenaran dari data yang diperoleh, dapat dilakukan sensus pohon manggis pada setiap Satuan Penggunaan Lahan secara random (acak) sebagai sampling untuk mewakili wilayah Satuan Penggunaan Lahan yang sama di tempat yang berbeda.

Data yang diperoleh dari lapang yang berupa data tabular (data informasi penggunan lahan, plot-plot sampel dan data jumlah manggis) belum dapat menginformasikan sebaran komoditas secara spasial di wilayah penelitian. Untuk itu perlu adanya data spasial yang berupa peta. Untuk menginformasikan/ menyajikan data sebaran komoditas manggis yang ada di wilayah tersebut dilakukan dengan pendekatan peta satuan penggunaan lahan. Dengan peta satuan

(5)

16 lahan ini masing-masing obyek jenis satuan lahan dibuat ketetapan formulasi yang mencerminkan kerapatan sebaran pohon manggis. Penentuan yang menetapkan asumsi ini didukung oleh pengecekan di lapang. Pengecekan dilakukan secara random pada setiap satuan penggunaan lahan, yaitu dengan sensus pohon.

Berdasarkan data yang diperoleh, kemudian dilakukan analisis penghitungan dan dilakukan reklasifikasi jumlah pohon berdasarkan kelas interval tertentu. Hasil reklasifikasi ini kemudian digunakan sebagai dasar pembuatan peta persebaran pohon manggis yang berbasis pada satuan penggunaan lahan. Peta tersebut dibuat dengan mengikuti kaidah pemetaan yang baku.

3.3.6 Uji Akurasi Metode Penelitian

Metode dalam penelitian kali ini adalah menghitung jumlah tanaman manggis berdasarkan jenis penggunaan lahan tertentu. Dengan kata lain, menghitung jumlah pohon manggis per satuan luas lahan tertentu di dalam suatu jenis penutupan/penggunaan lahan. Di dalam penelitian ini, jumlah pohon dihitung per hektar di setiap jenis penggunaan lahan tertentu, setelah itu baru dikalkulasikan dengan luas penggunaan lahan secara keseluruhan.

Dalam menentukan seberapa valid data yang dihasilkan dengan menggunakan metode ini, maka dapat dilakukan uji metode. Uji metode ini akhirnya akan menentukan baik atau tidaknya metode yang digunakan.

Uji metode ini dilakukan dengan cara mengambil titik sample perhitungan jumlah pohon manggis diluar/selain dari titik sample yang digunakan dalam penelitian. Selanjutnya dihitung kerapatan dan jumlah pohonnya untuk kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan yang dilakukan pada penelitian ini. Apabila hasil yang didapat dari uji metode ini mendekati atau sama dengan hasil dari penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dalam penelitian ini sudah cukup valid.

(6)

17 Gambar 1. Diagram Tahapan Penelitian

Citra Quickbird “Wikimapia” Rektifikasi Citra Klasifikasi Citra Kombinasi Band

Peta Landuse hasil analisis citra/sementara

Peta Landuse hasil verifikasi & cek

lapang Jenis Landuse yang

Teridentifikasi : -. Sawah -. Semak Belukar -. Ladang -. Permukiman -. Kebun Campuran -. Lahan Terbuka -. Hutan Sekunder -. Kebun Produksi

-. Perkebunan Manggis Peta 3 bagian wilayah sebaran landuse berdasarkan dominasi tanaman manggis Pembagian 3 wilayah landuse berdasaran dominasi jumlah tanaman manggis Pengecekan lapang Pengumpulan hasil penghitungan total jumlah pohon manggis Data jumlah total tanaman manggis di wilayah penelitian Pengambilan 3 sampling lokasi jumlah tanaman manggis per masing-masing landuse per bagian wilayah dominasi tanaman manggis. Citra yang sudah

berkoordinat Citra Landsat yang telah terkoreksi geometrik Kurang Detil dibandingkan dengan Quickbird Penyatuan mosaik Citra

(7)
(8)

19 IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Secara administratif wilayah Agropolitan Cendawasari termasuk ke dalam wilayah Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Selain itu, kawasan ini juga berbatasan dengan :

-. Utara : Dusun Ciputih -. Selatan : Kampung Nanggung -. Timur : Desa Dahu/Barengkok -. Barat : Kampung Kidul

Berdasarkan administrasi pemerintahan Wilayah Agropolitan Cendawasari memiliki luas ± 455,481 Ha terbagi atas 6 Kampung (Cengal, Nariti, Darmabakti, Wanakarya, Sumberjaya, dan Rawasari).

4.1. Keadaan Topografi dan Kemiringan Lereng

Topografi wilayah Agropolitan Cendawasari secara umum termasuk datar/landai sampai berbukit dengan ketinggian bervariasi antara 100 sampai dengan 750 meter di atas permukaan laut.

Jenis tanah daerah tersebut didominasi oleh tanah Latosol bertekstur liat berlempung, struktur gumpal agak bersudut (sub angular blocky), konsistensi teguh dengan drainase agak baik sampai baik. Areal perkebunan manggis didominasi oleh relief bergelombang dengan kemiringan 6-30%. Berdasarkan tingkat kesuburannya wilayah tersebut tergolong rendah sampai sedang dan derajat kemasamannya tergolong rendah sampai sedang dengan pH antara 4,5– 6,5. Curah hujan rata-rata bulanan cukup tinggi, berkisar antara 322–510 mm/bulan. Tanaman manggis di Leuwiliang didominasi oleh tanaman yang sudah menghasilkan/ produktif (10 tahun ke atas).

(9)

20 4.2. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di kawasan Agropolitan Cendawasari terbagi kedalam beberapa kelas penggunaan lahan, yaitu :

a) Ladang, adalah penggunaan lahan oleh penduduk setempat untuk menanam tanaman semusim. Di daerah Cendawasari, mayoritas, tanaman semusim yang di tanam di ladang bercampur dengan tanaman manggis.

Gambar 3. Ladang di Kawasan Cendawasari.

b) Semak belukar, adalah lahan bekas ladang/perkebunan yang sudah ditinggalkan dan tidak dikelola lagi oleh penduduk, atau lahan yang memang tidak dikelola oleh penduduk setelah penebangan hutan sekunder. Vegetasi yang tumbuh pada semak belukar ini umumnya adalah alang – alang, sianit, rumput merdeka, serta tanaman perdu lainnya.

(10)

21 c) Hutan sekunder, adalah hutan sisa penebangan dimana kayu yang mempunyai volume tegakan yang berdiameter > 50cm sudah jarang.

Gambar 5. Hutan sekunder di Kawasan Cendawasari

d) Pemukiman, merupakan koloni atau tempat tinggal penduduk yang menetap secara berkelompok yang berupa kampung maupun desa. Umumnya pemukiman yang berada di kawasan Cendawasari ini berada dekat dengan akses–akses jalan di wilayah tersebut.

Gambar 6. Salah satu kawasan pemukiman di Cendawasari.

e) Lahan terbuka, merupakan lahan terpencar yang sudah rusak, atau berubah fungsi menjadi fasilitas umum (lapangan), lahan yang tidak bervegetasi, kadang– kadang hanya berupa hamparan tanah kering yang lambat laun akan menjadi semak belukar.

(11)

22 Gambar 7. Lahan terbuka berupa lapangan.

f) Kebun campuran, adalah lahan dimana terdapat berbagai jenis tanaman tahunan dan semusim yang tumbuh bersamaan.

Gambar 8. Kebun campuran di Kawasan Cendawasari.

g) Sawah, adalah daerah menetap yang ditanami padi. Pada daerah penelitian, sawah mayoritas berada di daerah selatan wilayah tersebut.

(12)

23 h) Perkebunan manggis, adalah suatu areal yang ditumbuhi oleh tanaman sejenis. Di wilayah penelitian ini perkebunan yang ada adalah perkebunan dengan tanaman manggis sebagai tanaman utamanya. Perkebunan manggis di daerah penelitian ini telah mendapatkan pengelolaan yang baik pada tanah maupun tanaman manggis itu sendiri.

Gambar 10. Perkebunan manggis daerah Cendawasari.

i) Kebun produksi buah non-manggis, adalah lahan yang digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman tertentu selain manggis yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tanaman pada kebun produksi cenderung telah mendapatkan pengelolaan secara baik. Adapun tanaman yang terdapat pada kebun produksi di wilayah penelitian ini adalah jenis tanaman buah-buahan, antara lain adalah belimbing, jambu batu, durian, mangga, manggis, cempedak dan alpukat.

Gambar 11. Kebun produksi di kawasan Cendawasari.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :