• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat perilaku sosial siswa kelas X SMA St. Yosep Pangkal Pinang Bangka tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Tingkat perilaku sosial siswa kelas X SMA St. Yosep Pangkal Pinang Bangka tahun ajaran 2007/2008 - USD Repository"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

i

SMA St. YOSEF PANGKALPINANG BANGKA

TAHUN AJARAN 2007/2008

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

OLEH :

YOHANES ASTO NURSIHWANA 0011140070

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTO:

Maju Terus Pantang Mundur !!!

PERSEMBAHAN:

Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orangtuaku terkasih Mordonius Sudarsono dan Fiantini Halianto,

(5)

v

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 24 Juli 2008 Penulis,

(6)

vi

ABSTRAK

TINGKAT PERILAKU SOSIAL SISWA KELAS X

SMA St. YOSEF PANGKALPINANG BANGKA

TAHUN AJARAN 2007/2008

Yohanes Astonursihwana Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2008

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survey. Populasi penelitian adalah populasi terbatas, yaitu seluruh siswa putra dan seluruh siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka tahun ajaran 2007/2008 yang berjumlah 179 siswa (83 siswa putra dan 96 siswi putri).

Masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah tingkat perilaku sosial para siswa putra kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka tahun ajaran 2007/2008? (2) Bagaimanakah tingkat perilaku sosial para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka tahun ajaran 2007/2008? (3) Apakah ada perbedaan tingkat perilaku sosial antara para siswa putra dan para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka tahun ajaran 2007/2008?

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa dengan jumlah pernyataan sebanyak 66 item. Instrumen penelitian ini disusun berdasarkan masalah penelitian, variabel penelitian, kajian teoritik, dan mengenai semua unsur perilaku sosial siswa.

(7)

vii

LEVEL OF THE STUDENT’S SOCIAL BEHAVIOR IN GRADE X

St. YOSEF SENIOR HIGH SCHOLL

PANGKALPINANG BANGKA IN 2007/2008

Yohanes Astonursihwana Sanata Dharma University

Yogyakarta 2008

This research was a descriptive research using survey method. The population of this research was limited population, they were all of the students both boys and girls in grade X of St. Yosef Senior High School Pangkalpinang Bangka that consisted of 179 students (boys = 83 and girls = 96).

The problems of this research were : (1) What is the social behavior level of the boys student in grade X St. Yosef Senior High Scholl Pangkalpinang Bangka in 2007/2008? (2) What is the social behavior level of the girls student in grade X St. Yosef Senior High Scholl Pangkapinang Bangka in 2007/2008? (3) Is there any difference in social behavior level among boys and girls in St. Yosef Senior High Scholl Pangkalpinang Bangka in 2007/2008?

The instrument of this research was questionnaire about social behavior level of students which consisted of 66 statements. The instrument in this research was based on the problems of research, the variable of research, theoretical review, and all about element of social behavior.

(8)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : YOHANES ASTO NURSIHWANA

Nomor Mahasiswa : 0011140070

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Uni-versitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

TINGKAT PERILAKU SOSIAL SISWA KELAS X SMA St. YOSEF

PANGKALPINANG BANGKA TAHUN AJARAN 2007/2008

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, me-ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 03 September 2008

Yang menyatakan

(9)

viii

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab atas rahmat dan penyertaanNya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di bidang Bimbingan dan Konseling. Penulis menyadari bahwa penyusunan dan penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Drs. Wens Tanlain M.Pd., Dosen pembimbing yang telah dengan sukarela menyisihkan waktu untuk memberikan tuntunan, petunjuk, bimbingan, perhatian, pendorong semangat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Dr. M.M. Sri Hastuti, M.Si. Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah menyetujui dan memberikan kesempatan bagi saya untuk menulis skripsi ini, serta memberikan ijin untuk melakukan penelitian.

3. SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka yang menerima penulis dan telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian.

4. Budi Gunawan S.Pd, S.Mn selaku kepala sekolah SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka.

(10)

ix

Retno, Ibu Maslichah, Pak Medi, Pak Wahana, Romo Sigit, Ibu Setyandari, dan Ibu Nina.

6. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar dan berkembang.

7. Perpustakaan Sanata Dharma dan segenap petugas serta pegawai perpustakaan yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi.

8. Kedua Orang tuaku tercinta, Bapak Mordonius Sudarsono dan Ibu Fiantini Halianto atas dukungan, perhatian, dorongan semangat, pengertian, biaya, dan cinta kasihnya terhadap penulis, serta adikku satu-satunya Elias Surya Hernowo. 9. Kepada Nadia Maharani pacarku, pendamping selama aku mengerjakan skripsi,

pemberi semangat, kasih sayang, kesetiaan, kepercayaan, dan bantuan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.

10. Segenap teman-teman angkatan 2000 kelas A dan B: Nancy, Ola, Titut, Mita, Nita, Coan, Boim, Ino, Wahyu, Charli, Ona, Agus, Andi, Budi, Indah, Ninda, Deby, Nit-Not, Ki-Ki, Lia, Yuli, dan lain- lain, segenap kakak tingkat, dan adik tingkat.

11. Seluruh teman-teman di UKM Sepakbola Sanata Dharma: Jimmy, Ndaru, Edi, Yosi, Setyo, Niko, Adwi, Cu-Cu, Eko, Ari (Yor), Bintang, Galih (Gaban), Bangkit, Singgih, Aga, Adi, Klemen, dan lainnya.

(11)

x

2007/2008 atas kontribusinya dalam pengisian Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-Siswi.

14. Segenap Guru di SMA St. Yosef yang telah mendukung penelitian penulis.

15. Segenap teman-teman angkatan 2000 Program Studi Sastra Inggris universitas Sanata Dharma: Jody, Greg, Ade, Dito, Imel, Amel, dan segenap teman-teman di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Akhirnya penulis berharap sksipsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. Terima kasih.

Yogyakarta, 15 Juli 2008

(12)

xi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………...……. i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……….... ii

HALAMAN PENGESAHAN……….. iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN………. iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……….… v

ABSTRAK……….… vi

ABSTRACT……….. vii

KATA PENGANTAR……….. viii

DAFTAR ISI………... xi

DAFTAR TABEL………. xv

DAFTAR LAMPIRAN……… xvii

BAB I. PENDAHULUAN……… 1

A. Latar Belakang Masalah………... 1

B. Rumusan Masalah ……… 5

C. Tujuan Penelitian………. 6

D. Manfaat Penelitian……….. 6

E. Batasan Variabel Penelitian………. 6

(13)

xii

BAB II. KAJIAN TEORITIS……….. 8

A. Pendidikan SMA……… 8

1. Pengertian Pendidikan Formal………. 8

2. Pendid ikan Sekolah Menengah Atas……… 9

3. Kurikulum SMA……… 9

a. Isi Kurikulum SMA………. 9

b. Struktur Kurikulum SMA……….... 10

B. Perkembangan Perilaku Sosial Siswa ………. 12

1. Pengertian perilaku Sosial………. 12

2. Aspek Perilaku Sosial……… 13

3. Pengajaran Kelas………... 14

4. Kegiatan Ekstrakurikuler………... 15

a. Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler……….. 15

b. Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler……… 16

1. Basket……… 16

2. Bola Voli………... 17

3. Sepakbola……….. 18

4. Futsal………. 19

5. Seni Tari……… 19

6. Paduan Suara (Koor)………. 19

c. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Sosial………... 21

(14)

xiii

2. Perilaku Permainan Kelompok………. 22

3. Perilaku Pergaulan dengan Teman Sebaya………... 22

C. Jenis Kelamin……….. 23

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……….. 26

A. Jenis Penelitian……… 26

B. Alat Pengumpul Data……….. 26

1. Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa ………. 26

2. Pemberian Skor-Skor……… 27

C. Teknik Analisis Data………... 28

1. Perhitungan Koefisien Korelasi……… 28

2. Perhitungan Koefisien Reliabilitas……… 28

3. Perhitungan Validitas Kuesioner……….. 29

4. Mean………. 30

5. Chi-Kuadrat……….. 31

D. Populasi Penelitian………. 32

E. Prosedur Pengambilan Data……… 32

1. Tahap Persiapan……… 32

2. Tahap Pelaksanaan……… 33

3. Perinc ian Proses Pengambilan Data………. 33

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……… 35

(15)

xiv

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 42

A. Kesimpulan………. 42

B. Saran………... 42

1. Proses pengajaran……… 42

2. Proses Kegiatan Ekstrakurikuler………. 43

3. Program Bimbingan dan Konseling………. 43

DAFTAR PUSTAKA……… 45

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X……… 10 Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Sosial Siswa-Siswi………. 27 Tabel 3. Koefisien Reliabilitas dan Validitas Kuesioner

Tingkat Perilaku Sosial Siswa Siswi kelas X

SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008……… 30 Tabel 4. Klasifikasi Koefisiean Korelasi Alat Ukur……… 30 Tabel 5. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswa Putra

Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

Tahun Ajaran 2007/2008………... 36 Tabel 6. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswi Putri

Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

Tahun Ajaran 2007/2008……… 36 Tabel 7. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswa Putra dan Para Siswi Putri

Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

(17)

xvi

Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

Tahun Ajaran 2007/2008……… 54 Tabel 9. Tabel Deviasi Skor Siswa-Siswi

Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-Siswi……… 47 Lampiran 2. Tabel 8.

Skor-Skor Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial

Siswa-Siswi Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

Tahun Ajaran 2007/2008………... 54 Lampiran 3. Tabel 9.Tabel Deviasi Skor Siswa-Siswi Kelas X

SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka

Tahun Ajaran 2007/2008……… 60 Lampiran 4. Lembar Hitung Reliabilitas dan Validitas……….. 66 Lampiran 5. Surat Ijin Penelitian dari Program Studi

Bimbingan dan Konseling

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta……….. 67 Lampiran 6. Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian

(19)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Harian Pikiran Rakyat, 1 November 2007, memuat ulasan yang ditulis oleh Yesmil Anwar, salah seorang Dosen di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung, tetang awal mula munculnya geng motor, karakterisktik geng motor yang ada di daerah Bandung, rentang usia anggota geng motor, serta beberapa usaha untuk meredam dan mencegah munculnya geng motor.

Kompas 11 November 2007, memuat berita kekerasan yang dilakukan oleh beberapa siswa senior yang tergabung ke dalam geng gazper terhadap siswa junior di sekolah tersebut. Kekerasan yang menimpa Fadil, salah satu siswa disekolah tersebut mencuat ke permukaan setelah orang tua siswa yang bersangkutan melaporkan ke pihak kepolisian mengenai kekerasan yang menimpa anak mereka.

(20)

2

Harian Surabaya Raya, Sabtu, 17 November 2007 mengungkap fakta yang terjadi akhir-akhir ini yaitu perilaku kenakalan siswa sekolah yang tergabung dalam geng motor di daerah Bandung dan sekitarnya. Perilaku mereka meresahkan masyarakat dan termasuk ke dalam tindakan kriminal, yaitu pengerusakan bangunan, pembuat kericuhan, ugal- ugalan di jalan raya, bahkan sampai ke perampasan harta benda orang lain yang disertai dengan penganiayaan. Perilaku yang meresahkan ini ramai dibicarakan sejak beredarnya sebuah rekaman video yang mempertontonkan situasi perekrutan para calon anggota geng motor tersebut. Kekerasan geng motor tersebut menyebabkan tewasnya I Putu Ogik, salah satu korban yang ditusuk oleh beberapa anggota geng motor di daerah Gang Masjid, Kiaracondong, Bandung.

Perilaku di atas termasuk dalam kenakalan dan kekerasan siswa. Kenakalan siswa

(Juvenile Deliquency) adalah perilaku yang secara luas tidak dapat diterima, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (suka membuat ribut di sekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah) yang dilakukan siswa. (Santrock,1983: 22)

Menurut M. Gold dan J.Petronio, kenakalan anak (juvenile delinquency) adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya sempat diketahui oleh petugas hukum dirinya dapat dikenai hukuman (Sarwono, 1989: 205).

(21)

menyimpang, akan tetapi bila penyimpangan itu terjadi terhadap norma – norma hukum, barulah dapat dikatakan sebagai kenakalan (Santrock, 1989: 206).

Jensen secara mendalam berpendapat bahwa, kenakalan remaja adalah tindakan yang mengakibatkan adanya korban fisik (perkelahian, perampokan, dll), korban materi (pencurian, pemerasan, dll), kenakalan yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain (pelacuran, seks sebelum pernikahan, penyalahgunaan obat, dll), dan kenakalan yang melawan status sosial (membolos sekolah, melanggar aturan sekolah, membantah perintah orang tua dan guru) (Santrock, 1989: 209).

Perilaku para siswa di atas jelas menghambat perkembangan diri mereka dan tidak sesuai dengan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional yang telah tertuang dalam Undang – undang No.20 tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003.

Fungsi pendidikan nasional, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, sedangkan tujuannya yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab

(Undang Undang N0.20, tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003)

(22)

4

Lingkungan hidup, terutama lingkungan sosial siswa, teman di sekolah, keluarga, dan guru serta pegawai sekolah. Kegiatan pengembangan diri yang berkelanjutan, diharapkan mampu membantu siswa dalam memahami dirinya, dan juga lingkungan sosial. Kenakalan siswa pada dasarnya dipahami sebagai bentuk tingkah laku menyimpang atau tingkah laku salah suai dalam proses perkembangan diri.

Siswa belum memiliki kesadaran yang tinggi dan keberanian yang kuat untuk berperilaku yang dilandasi pemahaman terhadap perilaku sosial yang sesuai dengan norma sosial dan aturan sekolah. Menurut Camarena, tekanan dari teman-teman sekolah dalam berinteraksi membuat sebagian siswa sulit untuk secara mandiri berperilaku yang sesuai dengan norma dan aturan sekolah. Tekanan tersebut dapat digolongkan ke dalam jenis tekanan yang bersifat baik dan tekanan yang bersifat buruk. Tekanan yang bersifat buruk membentuk siswa yang cenderung menjadi pengekor perilaku teman – teman lainnya, yang pada umumnya termasuk dalam perilaku buruk seperti menggunakan bahasa jorok dan kasar, mencuri, merusak, dan mengolok-olok orangtua dan guru (Santrock, 1983: 44).

(23)

Kegiatan layanan bimbingan, merupakan usaha penyadaran akan tingkah laku yang benar. Kegiatan layanan bimbingan bertujuan supaya siswa mampu mengatur kehidupannya sendiri, memiliki pandangannya sendiri, mengambil sikap sendiri, dan berani menanggung akibat dan konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Layanan bimbingan klasikal adalah bimbingan yang diberikan kepada siswa dalam satuan kelas, dan bentuk yang dapat digunakan adalah kelompok diskusi (Winkel, 1997: 136).

Pemahaman sosial siswa mendasari perilaku sosial mereka. Apabila tingkat pemahaman sosial siswa ini tinggi, perilaku sosial yang ditunjukkan oleh siswa tersebut akan cenderung bersifat baik. Hal ini mendasari ketertarikan penelitian ini tentang sejauh mana pemahaman sosial siswa terhadap lingkungan sekolah. Penelitian ini dilakukan terhadap para siswa kelas I SMU St. Yosef . Mereka sedang melakukan penyesuaian diri dengan teman – teman di sekolah.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang diteliti adalah:

1. Bagaimana tingkat perilaku sosial para siswa putera kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008?

2. Bagaimana tingkat perilaku sosial para siswi puteri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang BangkaTahun Ajaran 2007/2008?

(24)

6

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingkat perilaku sosial para siswa putra kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Tahun Ajaran 2007/2008 dan gambaran tentang tingkat perilaku sosial para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008, serta memperoleh gambaran tentang perbedaan tingkat perilaku sosial antara para siswa putra dan para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh guru pembimbing atau konselor sekolah untuk mengembangkan kegiatan layanan bimbingan sosial dalam bentuk kegiatan kelompok yang dapat meningkatkan perilaku sosial para siswa.

E. Batasan Variabel Penelitian

1. Tingkat perilaku sosial siswa adalah kecenderungan tindakan siswa-siswi baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, terhadap teman sekelas, teman di luar kelas, teman laki- laki dan perempuan, dan dengan guru serta pegawai di sekolah yang diukur menggunakan Kuesioner dan ditunjukkan dengan skor-skor yang diperoleh dari siswa-siswi. Terdapat dua tingkat perilaku sosial yaitu tinggi dan rendah.

(25)

F. Hipotesis Penelitian :

(26)

8

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Pendidikan SMA

1. Pengertian Pendidikan Formal

Pengertian pendidikan ditegaskan dalam Undang – Undang N0.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1, adalah :

Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Jalur pendidikan di Indonesia dikenal dengan pendidikan formal, non formal, dan informal. Menurut Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 11, 12, 13 adalah :

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara tersrtuktur dan berjenjang, sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan

Jenjang pendidikan di Indonesia, sesuai dengan ketentuan umum Undang-undang N0. 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 8, adalah :

(27)

Jenjang Pendidikan formal di Indonesia dilandasi oleh Undang-undang N0.20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional Pasal 14 yaitu :

Jenjang pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

2. Pendidikan di Sekolah Menengah Atas

Pendidikan menengah termasuk jalur pendidikan formal berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat (Pasal 18, Undang- undang N0. 20 tentang Sitem Pendidikan Nasional tahun 2003). Jadi sekolah Menengah Atas termasuk ke dalam jalur pendidikan formal dan jenjang pendidikan menengah.

3. Kurikulum SMA a. Isi Kurikulum SMA

Berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 37 Ayat 1, Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah wajib memuat : a. Pendidikan Jasmani;

b. Pendidikan Kewarganegaraan; c. Bahasa;

d. Matematika;

e. Ilmu Pengetahuan Alam; f. Ilmu Pengetahuan Sosial; g. Seni dan Budaya;

h. Pendidikan Jasmani dan Olahraga; i. Ketrampilan/kejuruan; dan

(28)

10

b. Struktur Kurikulum SMA

Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah Atas, menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, No. 22 tahun 2006 sebagai berikut :

Tabel 1. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X

STRUKTUR KURIKULUM SMA/MA KELAS X

KOMPONEN ALOKASI WAKTU

Semester 1 Semester 2

A. Mata Pelajaran

1. Pendidikan Agama 2 2

2. Pendidikan Kewarganegaraan 2 2

3. Bahasa Indonesia 4 4

4. Bahasa Inggris 4 4

5. Matematika 4 4

6. Fisika 2 2

7. Biologi 2 2

8. Kimia 2 2

9. Sejarah 1 1

10. Geografi 1 1

11. Ekonomi 2 2

12. Sosiologi 2 2

13. Seni Budaya 2 2

14. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan

kesehatan 2 2

15. Tekonologi Informasi dan komunikasi 2 2

16. Ketrampilan/Bahasa Asing 2 2

B. Muatan Lokal 2 2

C. Pengembangan Diri 2* 2*

Jumlah 38 38

2*) Ekuivalen 2 jam pembelajaran

(29)

Muatan lokal adalah kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada sedangkan substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

Kegiatan pengembanga n diri dalam kurikulum bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap siswa sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri ini difasilitasi oleh konselor sekolah, guru atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler, pelayanan konseling, yang berkaitan dengan masalah pribadi, kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir siswa (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, No. 22 tahun 2006)

(30)

12

B. Perkembangan Perilaku Sosial Siswa

1. Pengertian perilaku Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat orang biasanya berkumpul dalam kelompok-kelompok keluarga, dan kelompok teman kerja. Keadaan ini juga terjadi di lingkungan pendidikan yaitu para siswa berkumpul secara berkelompok dan mengejakan kegiatan pendidikan secara berkelompok-kelompok. Perilaku masing- masing dipengaruhi oleh perilaku teman dan juga oleh aturan yang harus dipatuhi bersama. Oleh karena itu perilaku sosial dapat diartikan dari segi individu maupun dari segi aturan masyarakat/kelompok.

English and English, l970: 507, mengemukakan:” Social behavior is (i). behavior influenced by the presence and behavior of others persons;(ii) behavior controlled by organized society;(iii) behavior that is directed at or seeks to influence others”. Chaplin, l989: 469, mengemukakan bahwa:” Social behavior (tingkah laku sosial) adalah: (l) tingkah laku yang dipengaruhi oleh hadirnya orang lain;(2) tingkah laku kelompok;(3) tingkah laku yang ada di bawah kontrol masyarakat”.

(31)

Campbell dengan teori evolusi sosial menyebutkan bahwa ada tiga norma penting dalam perilaku sosial yaitu (1) tanggung jawab sosial (2) saling ketimbalbalikan dan (3) keadaan sosial (Sears, 1985: 50).

Oleh karena itu, perilaku sosial siswa merupakan kecenderungan bentuk-bentuk tindakan sosial siswa berdasarkan norma-norma sosial yang berlaku bagi kelompok siswa, misalnya norma lingkungan sekolah, norma keluarga, aturan di lingkungan kelompok siswa.

2. Aspek Perilaku Sosial

Davidoff, 1981: 316, mengemukakan bahwa ada dua aspek utama perilaku sosial yaitu konformitas dan ketaatan.

a. Konformitas

Konformitas atau keseragaman perilaku sosial terjadi sebagai akibat dari adanya tekanan (nyata atau tidak nyata). Konformitas ini dibagi menjadi 4 jenis yaitu (1) kerelaan (compliance) dan penerimaan (2) kerelaan tanpa penerimaan (3) penerimaan tanpa kerelaan (4) tanpa penerimaan maupun kerelaan.

b. Ketaatan

(32)

14

3. Pengajaran Kelas

Lingkungan sekolah merupakan sebuah sarana yang dapat digunakan siswa untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan mereka. Sekolah merupakan sarana pendidikan yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan akademis serta mengembangkan kemampuan perilaku sosial karena dalam lingkungan sekolah, interaksi antar siswa dan guru secara intensif terjadi.

Dalam situasi pengajaran di kelas, interaksi tercipta antara guru, dan antar siswa dalam kelas melalui komunikasi selama proses mengajar. Interaksi yang baik dapat memancing siswa menjadi aktif dalam proses pengajaran dalam kelas sehingga siswa menjadi bagian dalam proses pengajaran, bukan hanya sebagai pendengar pasif. Bentuk interaksi yang dapat dimunculkan adalah proses tanya jawab antara guru-siswa dan siswa- guru. Bentuk interaksi ini menyebabkan terjadinya proses komunikasi yang membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang sedang diajarkan dan memancing siswa untuk berperilaku aktif selama proses pembelajaran dalam kelas.

(33)

Siswa juga diberikan kesempatan untuk melakukan diskusi kelompok dalam mengeksplorasi bahan pelajaran melalui topik-topik diskusi yang berhubungan dengan pelajaran. Dinamika dalam diskusi kelompok ini akan membantu siswa dalam melatih perilaku kerjasama, menghargai pendapat teman diskusi, perilaku aktif dalam suatu kelompok diskusi, dan perilaku bertanggung jawab terhadap pendapat yang dikemukakan selama diskusi kelompok.

Pengajaran di kelas juga merupakan media pemberian perilaku tanggung jawab kepada para siswa. Siswa yang secara sadar berperilaku dengan baik dalam kelas akan berusaha melaksanakan kegiatan pengajaran dalam kelas sebaik-baiknya. Perilaku sosial siswa dipengaruhi oleh guru di sekolah, misalnya dengan perilaku yang bertanggung jawab, perilaku jujur, perilaku etos kerja yang tinggi, dan perilaku disiplin.

4. Kegiatan Ekstrakurikuler

a. Pengertian Kegiatan Ekstrakurikuler

(34)

16

Depdikbud (1993:15) menyebutkan pengertian kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut :

Kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler berupa kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler.

Depdikbud (1994: 7) menjelaskan pengertian kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut :

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan belajar yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah untuk lebih memperluas wawasan dan kemampuan, peningkatan dan penerapan nilai dari berbagai mata pelajaran.

Depdikbud, (1996: 4), kegiatan ekstrakurikuler diartikan sebagai berikut :

Kegiatan yang dilakukan diluar jam pelajaran di sekolah, yang diadakan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah dengan tujuan memperdalam dan memperluas pengetahuan siswa, menyalurkan bakat dan minat serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa di luar jam pelajaran, dapat berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan siswa untuk mengembangkan minat dan bakat.

b. Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler 1. Basket.

(35)

perilaku kerjasama antar teman dalam satu tim, melatih perilaku sportif dalam permainan, dan melatih perilaku disiplin terhadap peraturan-peraturan dalam permainan. Permainan basket adalah permainan yang menggunakan bola sebagai alat utama permainan, dimainkan oleh 5 orang dalam satu tim dengan menggunakan tangan. Wasit dalam permainan basket berjumlah 2 orang dan mereka adalah orang yang mempunyai hak untuk memberikan hukuman bagi pemain yang melanggar aturan, menjaga agar permainan berjalan adil dan sesuai dengan peraturan-peraturan permainan yang berlaku. Siswa yang sedang bermain basket diwajibkan mengikuti aturan-aturan permainan yang berlaku dan mematuhi semua perintah dari wasit sebagai pengadil di lapangan.

Proses ini membantu siswa untuk mematuhi segala peraturan dalam permainan yang merupakan salah bentuk latihan pembentukan perilaku sosial dalam hal kedisiplinan. Perilaku lain yang juga dibentuk dalam permainan ini adalah sportifitas dengan menghargai lawan dalam permainan, bermain dengan jujur, menerima keunggulan lawan, dan perilaku-perilaku lainnya.

2. Bola Voli.

(36)

18

untuk dapat melakukan kerja sama dalam permainan ini. Perilaku lainnya adalah perilaku sportifitas, yang ditunjukkan ke dalam sikap menghargai lawan, menerima hasil permainan, bermain dengan jujur, dan perilaku-perilaku lainnya.

3. Sepakbola.

Sepakbola adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang umum dilakukan di sekolah. Sepakbola adalah permainan yang dimainkan oleh 11 orang dalam satu kesebelasan, menggunakan bola dalam permainan, dan menggunakan kaki dalam bermain. Pengadil lapangan dalam permainan ini juga dinamakan wasit, berjumlah 3 orang yang masing-masing mempunyai tugas tersendiri. Wasit utama berada dalam lapangan permainan dan mempunyai hak mutlak untuk memberikan sangsi terhadap para pemain yang melakukan palanggaran dalam permainan. Wasit lainnya, dinamakan hakim garis dan berdiri di sisi luar lapangan, mempunyai tugas yang serupa dalam memberikan masukan- masukan berupa informasi seputar permainan sepakbola. Kontak fisik dalam permainan sepakbola kerap kali terjadi dan tidak dapat di hindari, sehingga perilaku sportifitas sangat diperlukan dalam permainan ini sehingga wasit menjadi instrument penting dalam permainan sepakbola.

(37)

pemain dalam satu tim merupakan perilaku mutlak yang diperlukan dalam permainan ini. Interaksi yang frekuensinya tinggi dalam permainan ini menuntut adanya tingkat pemahaman yang tinggi juga antar pemain.

Siswa yang sedang dalam proses perkembangan perilaku dapat mencontoh perilaku-perilaku yang sportif, kerja sama, patuh dan disiplin terhadap peraturan permainan, pemahaman antar sesama anggota tim, dan juga kedisiplinan dalam mengikuti peraturan permainan.

4. Futsal.

Penyederhanaan dari sepakbola dimainkan oleh 5 orang dalam satu tim, menggunakan lapangan yang berada dalam ruangan maupaun diluar ruangan dan ukuran lapangan yang lebih kecil dari lapangan sepakbola. Futsal juga memberikan kesempatan bagi kontak fisik secara intens, sehingga siswa di haruskan untuk melatih sikap sportif, kerjasama, serta pengertian antar anggota tim. Wasit dalam permainan futsal juga merupakan elemen penting, mereka berkewajiban memonitor situasi permainan, memberikan sangsi bagi pelanggar aturan, menjaga agar permainan berlangsung tertib, dan membantu para pemain bermain dengan baik. Perilaku yang dikembangkan dalam kegiatan ini adalah perilaku sportif, jujur, menghargai lawan dalam permainan, patuh terhadap peraturan, kerjasama, dan pengertian antar teman.

5. Seni Tari.

(38)

20

kegiatan seni tari, keselarasan gerak antar penari merupakan hal utama dalam suatu pentas tari. Untuk mendapatkan keselarasan gerak yang harmonis tersebut, siswa haruslah menunjukkan perilaku kerja sama, pengertian satu sama lain, serta kekompakkan dalam satu kelompok tari. Perilaku-perilaku tersebut dapat membantu siswa dalam mengembangkan perilakunya.

Salah satu jenis tari yang seringkali dibawakan adalah tarian tradisional, contohnya dalam tari Ramayana. Tari Ramayana dan tari-tari lainnya yang bernuansa tradisional selain juga dapat digunakan sebagai salah satu sarana pemeliharaan budaya, juga merupakan jenis tari yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam melatih setiap gerakan. Siswa di latih untuk sabar dan tekun dalam berlatih untuk mendapatkan hasil gerakan yang baik.

Guru/instruktur tari sebagai pendamping dalam kegiatan ini mempunyai tugas penting dalam memberikan contoh dan pemahaman model perilaku yang sesuai dengan proses perkembangan siswa. Guru/instruktur tari selain memberikan pengarahan dalam melakukan latihan gerak tari, mereka juga berkewajiban mendampingi siswa untuk berkembang sesuai dalam tahap perkembangan yang sesuai.

6. Paduan Suara (Koor).

(39)

untuk mendapatkan hasil nyanyian yang baik. Kerja sama ini tentu saja baik untuk perkembangan perilaku siswa, selain itu perilaku sosial lain yang ingin dikembangkan adalah perilaku saling menghargai antar teman.

Individu yang bertugas memberikan pendampingan dalam kegiatan paduan suara/koor ini adalah seorang dirigen. Tugas mereka membantu siswa dalam bernyanyi agar dapat selaras satu sama lain, mengatur tinggi rendah intonasi nada, dan memberikan pengarahan agar siswa dapat bernyanyi dengan baik.

Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler olahraga maupun kegiatan ekstrakurikuler seni tari dan seni suara yang dilakukan siswa menghasilkan perkembangan perilaku sosial siswa terutama perilku kerjasama, perilaku yang mentaati peraturan-peraturan dalam permainan, sportifitas/jujur, pengertian antar teman, dan menghargai teman. Perilaku-perilaku tersebut membantu siswa mencapai perkembangan sosial yang baik. Perilaku sosial siswa akan lebih berkembang apabila kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti merupakan kegiatan ekstrakurikuler kelompok.

c. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Sosial 1) Perilaku Belajar kelompok.

(40)

22

yang maksimal bagi siswa. Diskusi dalam bimbingan kelompok di lakukan agar siswa lebih memahami perilaku yang menunjang proses belajar, pemberian kerja kelompok dalam mengaktegorikan perilaku-perilaku yang menunjang proses belajar dan perilaku-perilaku yang tidak menunjang proses belajar, dan pemberian tugas kelompok untuk mempraktekkan perilaku-perilaku yang telah di latih dalam bimbingan ke dalam proses belajar kelompok serta melaporkan hasilnya.

2) Perilaku Permainan Kelompok

Perilaku permainan kelompok adalah contoh topik bimbingan lain yang dapat dilatihkan dalam kegiatan permainan kelompok sosial. Bimbingan diawali dengan permainan-permainan yang bersifat kelompok dan menuntut adanya perilaku kerja sama antar anggota bimbingan dalam mencapai tujuan akhir dari permainan, selanjutnya dilakukan kegiatan kerjasama kelompok dalam merefleksikan pengalaman-pengalaman yang dialami selama proses permainan, pemberian materi pemahaman perilaku kerja sama oleh kelompok, dan pada akhirnya pemberian tugas kelompok untuk mencoba melaksanakan perilaku yang telah dilatih ke dalam situasi-situasi di luar kegiatan bimbingan.

3) Perilaku Pergaulan dengan Teman Sebaya.

(41)

alasan-alasan mengapa perilaku tersebut muncul, menganalisa perilaku yang muncul apakah perilaku tersebut sudah sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat, dan pada akhirnya memberikan tugas kelompok untuk mencari contoh-contoh kasus lainnya yang berasal dari surat kabar, video, dan sumber-sumber lain yang kemudian dianalisis.

C. Jenis Kelamin

Dalam perilaku sosial jenis kelamin mempunyai pengaruh yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari fakta di masyarakat bahwa perilaku sosial seorang pria terkadang dikelompokkan secara umum berbeda dengan perilaku sosial seorang wanita. Pengelompokan semacam ini berdasarkan peran sosial yang diharapkan.

Para ahli psikologi sosial lebih menekankan perbedaan biologis dasar, proses belajar, dan situasi sosial. Pada perbedaan biologis dasar, perbedaan-perbedaan fisik seperti tinggi badan, kemampuan melahirkan anak dan menyusui, serta pengaruh hormon-hormon seksualitas mempengaruhi perilaku sosial, bahkan ahli sosiobiologi mengatakan bahwa evolusi genetik memberikan pengaruh dalam perbedaan perilaku sosial. Hal itu tetap dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial yang dapat meningkatkan atau menurunkan pengaruh biologis dasar tersebut (Sears, dkk 1985: 208).

(42)

24

aturan-aturan budaya mengenai bagaimana seseorang dengan tipe tertentu harus berperilaku. Proses belajar peran sosial ini dilalui dengan cara penguatan dan peniruan dari berbagai sumber, misalnya orang tua, teman, guru, dan melalui media populer yang pada akhirnya menghasilkan perbedaan perilaku antara pria dan wanita. Proses belajar ini tentu saja berbeda satu sama lain, yang menyebabkan adanya perbedaan pengalaman proses belajar sehingga munculnya variasi perilaku yang didasarkan oleh perbedaan pengalaman belajar setiap individu (Sears, dkk 1985: 210).

Pengaruh selanjutnya adalah situasi sosial atau tatanan sosial yang memuat pula komponen jenis kelamin orang yang sedang berada bersama diri kita. Sebagai contoh, seorang pria akan cenderung berperilaku yang berbeda bila dirinya sedang berbicara dengan seorang wanita. Hal ini didasari keinginan untuk disukai oleh orang lain, sehingga muncul penyesuaian perilaku (Sears, dkk 1985: 210).

Eleanor Maccoby dan Carol Jacklin (1974) membahas perbedaan jenis kelamin yang mempengaruhi kemampuan verbal dan sifat agresif. Mereka menyimpulkan bahwa ada 4 jenis perbedaan kemampuan karena jenis kelamin, yaitu :

1. Wanita memperoleh nilai lebih tinggi daripada pria dalam kemampuan verbal seperti membaca dan kosa kata.

(43)

3. Pria mendapatkan nilai lebih tinggi daripada wanita dalam kemampuan visual-spasial.

4. Pria lebih agresif daripada wanita (Sears, dkk 1985: 212).

Kesimpulan yang didapat tersebut didasari oleh kemampuan intelektual individu, dan mereka lebih menekankan pada ketrampilan dan perilaku sosial. Maccoby dan Jacklin menemukan tiga perilaku yang mempunyai perbedaan yang paling konsisten, yaitu agresifitas, konformitas, dan komunikasi non verbal.

Perilaku agresifitas pria lebih tinggi daripada wanita, akan tetapi apabila perilaku agresif tersebut mendapatkan reward, maka pria dan wanita mempunyai tingkat yang sama dalam berperilaku agresif. Hal yang menyebabkan perbedaan tingkat perilaku agresif adalah tekanan-tekanan situasi sosial terhadap kaum wanita (Sears, dkk 1985: 213).

Dalam hal konformitas, baik jenis kelamin pria maupun wanita menunjukkan adanya respons yang hampir serupa dalam menanggapi usaha- usaha mempengaruhi diri mereka, sehingga pandangan umum bahwa kelompok wanita lebih mudah dipengaruhi tidak selalu benar (Sears, dkk 1985: 214).

(44)

26

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan metode survei. “Penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala saat penelitian dilakukan” (Furchan, 2005: 447). Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan Tingkat Perilaku Sosial siswa-siswi kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Tahun Ajaran 2007/2008.

B. Alat Pengumpul Data

1. Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa

Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial siswa-siswi kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Tahun Ajaran 2007/2008 dengan bentuk tertutup. “Kuesioner bentuk tertutup berisi pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut” (Furchan, 2005: 260). Kuesioner yang disusun mengenai aspek-aspek perilaku sosial siswa-siswi berupa perilaku kerjasama, kedisiplinan/kepatuhan terhadap peraturan di lingkungan sekolah, kejujuran, penghargaan terhadap teman, dan bertanggung jawab.

(45)

bab II, kisi-kisi kuesioner tingkat perilaku sosial siswa-siswi digambarkan pada tabel berikut ini :

Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Sosial Siswa-Siswi

NO. Aspek Perilaku Sosial Siswa-siswi No. Item 1. Berperilaku Kerjasama antar siswa dalam proses

pengajaran di kelas.

3,4,7-14

2. Berperilaku kerjasama antar siswa dalam proses kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

15-21

3. Berperilaku kerja sama antar siswa dan guru dalam proses pengajaran di kelas.

1,2,5,6

4. Berperilaku disiplin terhadap peraturan sekolah. 22-30 5. Berperilaku disiplin terhadap peraturan kegiatan

ekstrakurikuler tertentu.

3,32

6. Berperilaku jujur antar siswa. 33-37

7. Berperilaku jujur dalam kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

38,39.

8 Berperilaku menghargai antar siswa. 41-47. 9. Berperilaku menghargai antar siswa dan guru. 40,48. 10. Berperilaku bertanggung jawab antar siswa dalam

proses pengajaran kelas.

49,50,51,54-61

11. Berperilaku bertanggung jawab antar siswa dan guru. 52,63 12. Berperilaku bertanggung jawab siswa dalam kegiatan

ekstrakurikuler tertentu.

64-66

JUMLAH 66

2. Pemberian skor-skor

(46)

28 a. Jawaban selalu memiliki skor 4.

b. Jawaban banyak kali memiliki skor 3. c. Jawaban kadang-kadang memiliki skor 2. d. Jawaban tidak pernah memiliki skor 1.

C. Teknik Analisis Data

1. Perhitungan koefisien korelasi skor item gasal dan skor item genap menggunakan Product Moment dari Pearson dengan rumus deviasi :

{ }

{ }

= 2 2 y x xy rXY Keterangan: XY

r = korelasi skor-skor belahan gasal dan genap x = skor item belahan gasal

? = skor item belahan genap

xy = hasil perkalian antara skor x dan skor y

2. Perhitungan Reliabilitas Kuesioner

Teknik yang digunakan untuk memeriksa reliabilitas kuesioner adalah teknik belah dua gasal- genap (Split Half Method) dengan menggunakan rumus

Spearman-Brown :

(47)

Keterangan:

tt

r

= koefisien reliabilitas alat ukur.

gg

r

= koefisien korelasi item gasal- genap.

Reliabilitas diperlukan dalam penelitian untuk mengetahui keajegan suatu alat dalam mengukur apa yang hendak diukurnya. Reliabilitas menunjuk kepada “derajat keajegan alat tersebut dalam mengukur apa saja yang diukurnya” (Furchan, 2005: 310).

3. Perhitungan Validitas kuesioner

Koefisien validitas empiris dengan rumus (Guilford, 1965: 443):

tt

t

r

r

=

Keterangan:

t

r

= koefisien validitas

tt

r = koefisien reliabilitas

(48)

30

Koefisien validitas dan reliabilitas Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-siswi Kelas X SMA St. Yosesf Pangkalpinang Bangka adalah:

Tabel 3. Koefisien Reliabilitas dan Validitas Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa Siswi kelas X SMA St. Yo sef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

KOEFISIEN Hasil Penelitian

Reliabilitas 0,92

Validitas 0,95

Koefisien reliabilitas dan validitas diinterpretasikan dengan acuan dari pedoman yang dikemukakan oleh Garret (1967: 176) berikut ini :

Tabel 4. Klasifikasi Koefisiean Korelasi Alat Ukur

Koefisien Korelasi Klasifikasi

0,70 - ± 1,00 Tinggi – sangat tinggi.

0,40 - ± 0,70 Cukup.

0,20 - ± 0,40 Rendah.

0,00 - ± 0,20 Tidak ada – sangat rendah.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa koefisien reliabilitas dan validitas Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-siswi adalah tinggi.

4. Mean

(49)

tinggi apabila = mean, sedangkan skor rendah apabila < mean. Rumus yang digunakan untuk menghitung Mean adalah :

N X

M =

(Hadi, 2004 : 40)

M = Mean.

? X = Jumlah total skor X. N = Jumlah siswa. Hasil yang didapat adalah :

179 35756

=

M

M = 199,75

M = 200

Siswa yang memperoleh skor = 200 termasuk kategori tinggi dalam perilaku sosial dan siswa yang memperoleh < 200 termasuk kategori rendah dalam perilaku sosial.

5. Chi-kuadrat

(50)

32 ) )( )( )( ( 2 ) ( 2 d b c a d c b a bc ad N + + + + − = χ Dimana :

?2 : Chi-kuadrat

N : Jumlah siswa

a : Jumlah pada kolom 1 baris 1

b : Jumlah pada kolom 2 baris 1

c : Jumlah pada kolom 1 baris 2

d : Jumlah pada kolom 2 baris 2

D. Populasi Penelitian

Populasi adalah “semua anggota sekelompok orang, kejadian, atau objek yang telah dirumuskan secara jelas” (Furchan, 2005: 193). Populasi penelitian ini adalah para siswa putera dan puteri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Tahun Ajaran 2007/2008 dengan jumlah 179 siswa, yang terdiri atas 83 orang siswa putra dan 96 orang siswi putri.

E. Prosedur Pengumpulan Data 1. Tahap Persiapan

a. Meminta ijin kepada Kepala Sekolah SMA St. Yosef Pangkalpinang untuk melakukan penelitian.

(51)

c. Menyerahkan surat pengantar penelitian dari Program Studi Bimbingan dan Konseling kepada Kepala Sekolah SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka.

d. Menemui Kepala Sekolah SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka dan koordinator bimbingan untuk meminta jadwal bimbingan klasikal untuk dijadikan jadwal penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Datang ke sekolah sesuai dengan jadwal penelitian yang telah diberikan oleh Kepala Sekolah SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka.

b. Masuk ke kelas dan memperkenalkan diri.

c. Pembagian Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-Siswi kepada para siswa-siswi.

d. Penjelasan kepada siswa mengenai tujuan dari pengisian kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-siswi.

e. Siswa-siswi mengisi Kuesioner dan peneliti menunggu di dalam kelas.

f. Pengumpulan kembali kuesioner yang telah diisi siswa.

3. Perincian proses pengambilan data : a. Jumat, 09 Mei 2008

(52)

34 b. Jumat, 09 Mei 2008

Pukul 08.00 – 09.00 WIB : Kelas X D c. Jumat, 09 Mei 2008

Pukul 09.30 – 10.30 WIB : Kelas X C e. Sabtu, 10 Mei 2008

Pukul 07.00 – 08.00 WIB : Kelas X B f. Sabtu, 10 Mei 2008

(53)

35

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian merupakan jawaban berdasarkan data terhadap tiga masalah penelitian yaitu (1) Bagaimana tingkat perilaku sosial para siswa putera kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008? (2) Bagaimana tingkat perilaku sosial para siswi puteri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008? (3) Apakah ada perbedaan tingkat perilaku sosial antara para siswa putera dan para siswi puteri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008? Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapat akan dilakukan pembahasan berkaitan dengan kajian teoritis.

Perilaku sosial siswa digolongkan ke dalam dua tingkat yaitu rendah dan tinggi. Patokan yang digunakan untuk menentukan skor yang termasuk kategori rendah dan skor yang termasuk kategori tinggi adalah Mean total. Mean total dari skor 179 siswa (83 siswa putra dan 96 siswi putri) adalah 200.

1. Tingkat perilaku sosial para siswa putra kelas X SMA St.Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

(54)

36

Tabel 5. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswa Putra Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008

Tingkat Perilaku Sosial Siswa Jumlah (%)

Tinggi 33(39,7%)

Rendah 50(60,2%)

Jumlah Siswa 83 (100%)

Dari tabel di atas disimpulkan bahwa jumlah para siswa putra yang memiliki tingkat perilaku sosial rendah (60,2%) lebih banyak daripada para siswa putra yang memiliki tingkat perilaku sosial tinggi (39,7%).

2. Tingkat perilaku sosial para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

Tabel 6. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswi Putri Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008

Tingkat Perilaku Sosial Siswi Jumlah (%)

Tinggi 62(64,7%)

Rendah 34(35,4%)

Jumlah Siswa 96 (100%)

(55)

3. Perbedaan tingkat perilaku sosial para siswa putra dan para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

a. Hipotesis penelitian

Ada perbedaan signifikan antara tingkat perilaku sosial para siswa putra dan para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

b. Hipotesis statistik

Terdapat perbedaan jumlah antara para siswa putra dengan jumlah para siswi putri dalam tingkat perilaku sosial.

c. Hipotesis nol.

Tidak ada perbedaan jumlah para siswa putra dan para siswi putri dalam tingkat perilaku sosial.

Uji hipotesis dengan menggunakan teknik Chi-kuadrat. Tabel signifikansi 5% dan derajat kebebasan 1. Perhitungan hasil Chi-Kuadrat dengan menggunakan data tabel 2 X 2 berikut ini:

Tabel 7. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswa Putra dan Para Siswi Putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

Jenis Kelamin Rendah Tinggi ?

Putra 50 33 83

Putri 34 62 96

(56)

38 ) )( )( )( ( 2 ) ( 2 d b c a d c b a bc ad N + + + + − = χ ) 62 33 )( 34 50 )( 62 34 )( 33 50 ( 2 ) 34 33 62 50 ( 179 2 + + + + × − × = χ 95 84 96 83 2 ) 1122 3100 ( 179 2 × × × − = χ 63584640 2 ) 1978 ( 179 2= χ 63584640 3912484 179

2= ×

χ 63584640 700334636 2= χ 014 , 11 2= χ

Nilai ?2 empiris (11,014) > ?2 tabel (3,841). Berarti hipotesis nol ditolak. Jadi, ada perbedaan signifikan antara tingkat perilaku sosial para siswa putra dan para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan hasil penelitian di bawah ini dilakukan dengan didasarkan pada kajian teoritis, yang menghasilkan pembahasan sebagai berikut:

(57)

(35,4%) (3) Terdapat perbedaan signifikan perilaku sosial antara kelompok para siswa putra dan kelompok para siswi putri.

Hasil penelitian terhadap para siswa putra menunjukkan bahwa kesadaran siswa untuk berperilaku sosial belum menunjukkan harapan yang diharapkan, dan memerlukan pendampingan yang lebih intensif untuk melatih bentuk-bentuk perilaku sosial yang baik. Tingkat keaktifan siswa putra perlu ditingkatkan dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di lingkungan pendidikan sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut berbentuk kegiatan ekstrakurikuler kelompok, kegiatan pengajaran di kelas, dan bimbingan klasikal. Siswa yang aktif mengikuti kegiatan di lingkungan pendidikan sekolah diharapkan dapat mempunyai perilaku sosial yang baik sedangkan dari hasil penelitian ternyata siswa putra belum menunjukkan harapan yang sebenarnya.

(58)

40

Kepada para siswa putra yang mempunya i tingkat sosial yang rendah, kegiatan bimbingan klasikal perlu diberikan. Kegiatan bimbingan klasikal ini bentuknya kegiatan bimbingan kelompok, diskusi kelompok, dan permainan kelompok.

Hasil penelitian terhadap siswi putri menunjukkan jumlah para siswi putri yang mempunyai tingkat perilaku sosial tinggi lebih banyak dari pada jumlah para siswi yang mempunyai tingkat perilaku sosial rendah hal ini membuktikan bahwa tingkat keaktifan siswi putri dalam kegiatan di lingkungan pendidikan sekolah lebih baik. Tingkat perilaku sosial ini seharusnya dipertahankan dan dapat ditingkatkan lagi, sehingga para siswi putri dapat memiliki perkembangan perilaku sosial baik. Para siswi putri lebih mudah bergaul dengan sesama siswi putri lainnya, atau dengan siswa putra.

Tingkat perilaku sosial siswa yang rendah dapat diperbaiki melalui kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh siswa putri secara berkelompok demikian juga bimbingan klasikal yang berbentuk kegiatan kelompok seperti diskusi kelompok dan permainan kelompok.

(59)
(60)

42

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Hasil Penelitian :

a. Jumlah para siswa putra yang memiliki tingkat perilaku sosial yang rendah lebih banyak (60,2%) daripada para siswa putra yang memiliki tingkat perilaku sosial tinggi (39,7%).

b. Jumlah para siswi putri yang memiliki tingkat perilaku sosial tinggi lebih banyak (64,7%) daripada para siswi putri yang tingkat perilaku sosial rendah (35,4 %).

c. Terdapat perbedaan signifikan antara tingkat perilaku sosial para siswa putra dan para siswi putri kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008.

B. Saran

Pemberian saran dilakukan berdasarkan fakta hasil penelitian dan manfaat dari pemberian saran. Pemberian saran ini dimaksudkan untuk membantu pengembangan program Bimbingan dan Konseling bagi siswa. Berdasarkan hasil penelitian dan manfaat dikemukakan tiga saran yaitu :

1. Proses Pengajaran kelas.

(61)

Kegiatan kelompok perlu diprioritaskan untuk meningkatkan peran siswa dan memberi kesempatan lebih besar bagi siswa untuk mengekspresikan diri.

Kegiatan pengajaran kelas menuntun siswa aktif dalam proses perkembangan perilaku sosial, sehingga pada akhirnya siswa berperilaku sosial yang baik.

2. Proses Kegiatan Ekstrakurikuler.

Kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat kelompok memberikan kesempatan lebih besar bagi siswa mengekspresikan diri, berinteraksi dengan sesama siswa, sehingga siswa melatih perilaku sosial mereka.

Kegiatan ekstrakurikuler secara berkelompok lebih efektif untuk membantu siswa melatih perilaku sosial, karena dalam kegiatan tersebut interaksi antar siswa akan terjadi. Interaksi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih memahami bentuk-bentuk perilaku sosial yang baik.

3. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

(62)

44

misalnya perilaku kerja sama dalam menyelesaikan permainan, kedispilinan dalam mengikuti peraturan permainan, kejujuran dalam proses permainan, dan perilaku sportif mengakui kemampuan kelompok lain yang bermain lebih baik.

(63)

45

Anwar , Y. 1 November 2007. Geng Motor dan Patologi Sosial. Pikiran Rakyat Azwar, S. 2005. Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chaplin, C. P. 1989. Terjemahan Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : CV. Rajawali Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003. Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Biro Hukum dan Organisasi Sekretariat Jendral Departemen pendidikan Nasional.

Davidoff, L. L. 1981. Terjemahan Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta : Erlangga.

English, A. B & English, A. C. 1970. A Comprehensive Dictionary of Psychological and Psychoanalytical Terms. London : Logman

Furchan, A. 2004. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Garret, H. E. 1967. Statistics in Psychology And Education. 6th. Ed. London: Lo gmans, Green and Co Lt.

Guilford, J. P. 1965. Fundamental Statistics in Psychology And Education. 4th. Ed. New York: McGraw-Hill Book Company, Inc.

Hadi, S. 2004. Statistik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Holland, J. G & Skinner, B. F. 1961. The Analysis of Behavior. New York: McGraw-Hill Book Company Inc.

(64)

46

11 November 2007. Geng Gazper SMA 34 Siksa Yunior. Jakarta: Kompas

Kartono, St. 16 November 2007. Ihwal Kekerasan di Sekolah. Jakarta: Kompas

Richard, A. K. 1973. The Psychology of Human Behavior. California: Brooks/Cole Publishing Company.

Santrock, J. W. 1983. Life Span Development. Texas: Time Mirror International Publisher Ltd.

Sears, D. O. dkk. 1985. Terjemahan Psikologi Sosial. 5th. Ed. Jakarta: Penerbit Erlangga. Surabaya Raya, 17 November 2007

Staub, E. 1978. Pro social Behavior. New York san Francisco London: Academic Press.

Watson, J. B. 1967. Behavior an Introduction to Comparative Psychology. London: Holt, Rinehart, & Wiston, Inc.

(65)
(66)

47

47

Lampiran 1

Kuesioner

A. Kata Pengantar.

Penelitian ini bermaksud mengetahui hal-hal yang berkait an dengan perilaku sosial Anda dalam lingkungan sekolah. Informasi yang Anda berikan dengan menjawab kuesioner ini, akan diolah dan hasilnya akan digunakan untuk mengembangkan program bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini bersifat rahasia dan tidak akan mengurangi hasil belajar Anda. Semua jawaban yang Anda pilih benar.

B. Identitas Diri :

Umur :

Jenis Kelamin :

Kelas :

C. Cara Menjawab Pernyataan.

1. Bacalah masing- masing pernyataan berikut ini dengan teliti.

Berilah tanda centang (v) pada alternatif jawaban berikut yang Anda pilih di tempat yang telah disediakan. Apabila Anda ingin mengganti jawaban Anda, maka lingkarilah jawaban tersebut, lalu berilah tanda centang (v) pada jawaban yang sesuai dengan pengalaman teman-teman.

Contoh :

NO. Pernyataan S BK KDG TP

1. Saya memukul teman yang mengejek diri saya v

2. Semua item pernyataan harus dijawab, dan teliti kembali sebelum dikumpulkan.

(67)

48 Alternatif jawaban sebagai berikut :

S : Selalu

BK : Banyak Kali

KDG : Kadang-kadang TP : Tidak Pernah

Terima kasih atas kesediaan dan kerjasama Anda untuk mengisi kuesioner ini.

Hormat Saya

(68)

49

49

NO. Pernyataan S BK KDG TP

1. Saya bertanya kepada guru ketika saya tidak mengerti penjelasan dari guru.

2. Saya menerima penjelasan dari guru.

3. Saya membantu teman-teman yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas individual dari guru

4. Saya menerima bantuan dari teman ketika saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas individual dari guru.

5. Saya mendengarkan pertanyaan dari guru dalam pengajaran kelas.

6. Saya menjawab pertanyaan dari guru dalam kelas. 7. Saya mengajak teman melakukan kegiatan belajar

kelompok untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian.

8. Saya menerima ajakan teman untuk melakukan kegiatan belajar kelompok guna mempersiapkan diri menghadapi ujian.

9. Saya memberikan pendapat kepada teman mengenai cara-cara menyelesaikan tugas kelompok dari guru. 10. Saya menerima pendapat dari teman mengenai

cara-cara menyelesaikan tugas kelompok dari guru.

11. Saya membagi tugas dengan teman-teman dalam menyelesaikan tugas kelompok dari guru.

12. Saya menerima tugas dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas kelompok dari guru.

13. Saya memberikan pendapat dalam kelompok ketika diskusi kelompok.

(69)

50 15. Saya menerima bantuan dari teman ketika melakukan

kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

16. Saya membantu teman ketika melakukan kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

17. Saya memberikan pendapat kepada teman ketika melakukan kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

18. Saya mendengarkan pendapat dari teman yang ketika melakukan kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

19. Saya membagi tugas dengan teman untuk mempersiapkan perlengkapan kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

20. Saya menerima tugas untuk mempersiapkan perlengkapan kegiatan ekstrakurikuler tertentu. 21. Saya melaksanakan tugas saya dalam kegiatan

ekstrakurikuler tertentu sampai selesai.

22. Saya hadir di sekolah sebelum jam pelajaran dimulai. 23. Saya hadir kembali di kelas sesudah jam istirahat

tepat waktu.

24. Saya menjaga ketenangan selama mengikuti kegiatan di kelas.

25. Saya membayar SPP tepat waktu.

26. Saya menggunakan seragam dan atribut-atributnya sesuai dengan aturan sekolah.

27. Saya membuang sampah pada tempatnya ketika berada di dalam lingkungan sekolah.

28. Saya tidak mencorat-coret meja di kelas. 29. Saya tidak mencorat-coret dinding sekolah.

(70)

51

51 31. Saya melakukan kegiatan ekskurikuler yang sesuai

dengan aturan kegiatan tersebut.

32. Saya melaksanakan perintah dari guru pendamping kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

33. Saya tidak mencontek pada waktu ujian.

34. Saya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

35. Saya menjawab ketika ditanya oleh teman-teman. 36. Saya tidak masuk sekolah karena alasan yang

penting.

37. Saya mengembalikan barang teman yang saya pinjam.

38. Saya sungguh-sungguh ketika melakukan kegiatan ekstrakurikuler tertentu.

39. Saya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang telah saya pilih.

40. Saya mendengarkan guru yang sedang menerangkan materi pelajaran di kelas

41. Saya berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan latar belakang mereka.

42. Saya menerima saran dari teman tentang diri saya. 43. Saya memberikan saran kepada teman tentang

dirinya.

44. Saya menerima keputusan kelompok diskusi.

45. Saya membantu teman tanpa mempertimbangkan latar belakang dia.

46. Saya menerima bantuan dari teman tanpa mempertimbangkan latar belakang dia.

(71)

52 49. Saya menerima hukuman atas kesalahan karena

melanggar aturan sekolah.

50. Saya melaksanakan hukuman karena pelanggaran saya.

51. Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum melaksanakan ujian di sekolah.

52. Saya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

53. Saya mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh guru.

54. Saya menggunakan fasilitas sekolah sesuai dengan aturan-aturan pemakaiannya.

55. Saya mengembalikan buku yang telah saya pinjam dari perpustakaan sekolah.

56. Saya mengganti barang milik teman yang telah saya gunakan apabila barang tersebut rusak.

57. Saya menerima barang pengganti milik saya yang telah dirusakkan oleh teman saya.

58. Saya mengembalikan alat tulis milik teman yang telah saya pinjam.

59. Saya meminjamkan alat tulis ketika teman membutuhkannya.

60. Saya meminta maaf ketika melakukan kesalahan terhadap teman.

61. Saya menerima permintaan maaf dari teman lain yang telah berbuat salah terhadap diri saya.

62. Saya meminta maaf ketika saya melakukan kesalahan terhadap guru.

(72)

53

53 64. Saya mengganti perlengkapan kegiatan

ekstrakurikuler yang telah saya gunakan apabila perlengkapan tersebut rusak.

65. Saya menggunakan perlengkapan kegiatan ekskurikuler yang sesuai dengan aturan dan fungsinya.

66. Saya mengembalikan semua perlengkapan kegiatan ekskurikuler tertentu yang telah digunakan ke ruangannya.

(73)

Lampiran 2

Tabel 8.

Skor-Skor Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa-Siswi Kelas X SMA St. Yosef Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008 NO.SISWA JK X Y SKOR TOTAL SISWA T/R

1 L 115 118 233 T

2 L 117 125 242 T

3 L 101 98 199 R

4 L 92 94 186 R

5 L 95 99 194 R

6 L 96 95 191 R

7 L 120 112 232 T

8 L 114 116 230 T

9 L 102 108 210 T

10 L 104 93 197 R

11 L 106 103 209 T

12 L 89 90 179 R

13 L 113 113 226 T

14 L 97 100 197 R

15 L 97 101 198 R

16 L 89 91 180 R

17 L 107 112 219 T

18 L 85 95 180 R

19 L 95 94 189 R

20 L 109 107 216 T

21 L 104 103 207 T

22 L 102 104 206 T

23 L 94 103 197 R

24 L 75 85 160 R

25 L 86 90 176 R

26 L 98 98 196 R

27 L 93 94 187 R

28 L 95 106 201 T

29 L 99 103 202 T

30 L 90 105 195 R

31 L 95 85 180 R

32 L 111 119 230 T

(74)

55

34 L 85 93 178 R

35 L 90 93 183 R

36 L 112 108 220 T

37 L 100 98 198 R

38 L 99 109 208 T

39 L 96 105 201 T

40 L 91 93 184 R

41 L 110 117 227 T

42 L 109 105 214 T

43 L 98 102 200 T

44 L 74 87 161 R

45 L 103 97 200 T

46 L 94 98 192 R

47 L 107 101 208 T

48 L 85 98 183 R

49 L 77 78 155 R

50 L 97 103 200 T

51 L 107 116 223 T

52 L 102 105 207 T

53 L 84 100 184 R

54 L 97 104 201 T

55 L 104 108 212 T

56 L 77 79 156 R

57 L 105 101 206 T

58 L 102 112 214 T

59 L 72 81 153 R

60 L 95 97 192 R

61 L 108 102 210 T

62 L 94 98 192 R

63 L 98 104 202 T

64 L 92 98 190 R

65 L 89 91 180 R

66 L 87 86 173 R

67 L 92 98 190 R

68 L 96 91 187 R

69 L 116 118 234 T

70 L 76 82 158 R

(75)

72 L 89 89 178 R

73 L 74 80 154 R

74 L 89 102 191 R

75 L 106 108 214 T

76 L 82 91 173 R

77 L 82 99 181 R

78 L 90 83 173 R

79 L 96 95 191 R

80 L 101 98 199 R

81 L 89 96 185 R

82 L 84 95 179 R

83 L 88 95 183 R

84 P 123 124 247 T

85 P 125 115 240 T

86 P 118 107 225 T

87 P 106 101 207 T

88 P 91 93 184 R

89 P 99 103 202 T

90 P 103 106 209 T

91 P 96 94 190 R

92 P 110 118 228 T

93 P 110 112 222 T

94 P 105 115 220 T

95 P 106 114 220 T

96 P 113 108 221 T

97 P 102 113 215 T

98 P 105 110 215 T

99 P 111 112 223 T

100 P 105 102 207 T

101 P 93 89 182 R

102 P 90 90 180 R

103 P 111 115 226 T

104 P 101 110 211 T

105 P 94 91 185 R

106 P 102 109 211 T

107 P 104 107 211 T

108 P 111 106 217 T

(76)

57

110 P 100 116 216 T

111 P 85 89 174 R

112 P 93 108 201 T

113 P 90 84 174 R

114 P 96 101 197 R

115 P 94 107 201 T

116 P 102 108 210 T

117 P 97 113 210 T

118 P 87 90 177 R

119 P 86 90 176 R

120 P 83 87 170 R

121 P 104 110 214 T

122 P 90 103 193 R

123 P 87 95 182 R

124 P 93 97 190 R

125 P 120 118 238 T

126 P 110 126 236 T

127 P 98 95 193 R

128 P 86 97 183 R

129 P 115 112 227 T

130 P 93 109 202 T

131 P 99 108 207 T

132 P 93 100 193 R

133 P 110 120 230 T

134 P 104 104 208 T

135 P 108 111 219 T

136 P 112 113 225 T

137 P 112 113 225 T

138 P 121 123 244 T

139 P 107 110 217 T

Gambar

Tabel 1. Struktur Kurikulum SMA/MA Kelas X
Tabel 2. Kisi-kisi Kuesioner Perilaku Sosial Siswa-Siswi
Tabel 3. Koefisien Reliabilitas dan Validitas Kuesioner Tingkat Perilaku Sosial Siswa Siswi kelas X SMA St
Tabel 6. Tingkat Perilaku Sosial Para Siswi Putri Kelas X SMA St. Yosef   Pangkalpinang Bangka Tahun Ajaran 2007/2008
+3

Referensi

Dokumen terkait

Waktu itu ada sebuah punggungan gunung depan jalan dan ada lagi punggungan lain di sebelah kanan dari jalan yang di tempuh, maka dilakukan pembidikan yang

Tingginya aktivitas istirahat yang dilakukan oleh individu 2 dikandang habituasi sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Wirdateti dkk (2009), bahwa Lutung Jawa

Pengakhiran Pengakhiran stress adalah mengenai pemikiran mengenai masa depan mereka yang menyebabkan terjadinya stress adalah mengenai pemikiran mengenai masa depan mereka

Ada keadaan stres air tanaman akan membentuk pertumbuhan akar yang lebih besar dibandingkan dengan keadaan tanaman tidak mengalami kekeringan (12). Keadaan berlebih

Setelah melalui proses yang panjang serta bantuan dari banyak pihak, penyusun akhirnya dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “ANALISIS PENGARUH KUALITAS PELAYANAN

Pada tuturan penarik amal dalam peristiwa tutur penarikan dana masjid Nurul Jannah di Kampung Durenan Kabupaten Jember ditemukan empat jenis tindak tutur, yakni

B. Idealisasi Pengaturan Impeachment Presiden Dan Wakil Presiden Dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia Sebagai Negara Demokrasi. Indonesia sebagai negara yang

Dari beberapa pengertian yang dikemukakan dapat disimpulkan pengertian media pembelajaran secara umum adalah suatu alat bantu dalam menyampaikan tujuan