• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Ronny Miftahul Anam Bab II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Ronny Miftahul Anam Bab II"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa air yang tercemar dapat meningkatkan resiko cemaran mikroba. Air sebagai bahan dasar pembuatan es lilin harus memenuhi persyaratan kualitas air minum, air yang aman digunakan bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif. Kualitas air yang tidak memenuhi standar, akan meningkatkan resiko terjadinya cemaran (PermenKes RI, 2010). Air yang tercemar mengandung bakteri coliform lebih dari 3,0 serta positif mengandung bakteri Salmonella sp.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sampel yang akan digunakan berdasarkan pengujian ALT, APM coliform, identifikasi bakteri Salmonella sp. dan pewarnaan gram. Seperti yang telah dilaporkan oleh Triantoro (2015), bahwa air yang tercemar dapat menunjukkan pencemaran bakteri coliform serta terdapat bakteri Salmonella sp.

B. Landasan Teori

1. Keamanan pangan

(2)

berkaitan, dimana pangan yang tidak aman akan mempengaruhi kesehatan manusia yang pada akhirnya menimbulkan masalah terhadap status gizi (Seto, 2011).

Keamanan pangan merupakan syarat penting yang harus melekat pada pangan yang hendak dikonsumsi oleh semua masyarakat. Pangan yang bermutu dan aman dapat dihasilkan dari dapur rumah tangga maupun dari industri pangan. Keamanan pangan diartikan sebagai terbebasnya makanan dari zat-zat atau bahan yang dapat membahayakan kesehatan tubuh tanpa membedakan apakah zat itu secara alami terdapat dalam bahan makanan yang digunakan atau tercampur secara sengaja atau tidak sengaja kedalam bahan makanan atau makanan jadi (Moehyi, 2000).

Sampai saat ini telah banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan sanitasi dan higienis makanan, khususnya melalui upaya peningkatan kualitas kesehatan tempat pengolahan makanan. Usaha-usaha tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan, karena pada hakekatnya makanan yang dikonsumsi oleh manusia mencakup jumlah dan jenis yang sangat banyak dan dihasilkan oleh tempat pengolahan makanan yang jumlahnya semakin meningkat. Kontaminasi makanan mempunyai peranan yang sangat besar dalam kejadian penyakit-penyakit bawaan makanan atau keracunan makanan. Penggunaan bahan-bahan kimia dalam produksi makanan, juga mempengaruhi resiko kontaminasi.

(3)

2. Bakteri Salmonella sp.

Salmonella adalah bakteri gram negatif dan terdiri dari famili

Enterobacteriaceae. Salmonella merupakan bakteri patogen enterik dan penyebab utama penyakit bawaan dari makanan (foodborne disease) (Klotcho, 2011).

Berikut klasifikasi dari bakteri Salmonella (Pratiwi, 2011): Kingdom : Proteobakteria

Kelas : Gamma proteobakteria Bangsa : Enterobakteriales Family : Enterobakteriaceae Marga : Salmonella

Jenis : Salmonella enterica Salmonella arizona

Salmonella typhi

Salmonella choleraesuis

Salmonella enteritidis

Panjang Salmonella bervariasi. Salmonella mempunyai flagel peritrika yang dapat memberikan sifat motil pada Salmonella tersebut. Flagel mengandung protein yang disebut flagellin yang memberi sebagai signal bahaya kepada system flagella yang berbeda yang disebut H: z66 (Baker, 2007)

(4)

manusia adalah sebagai berikut yaitu Salmonella paratiphi A, (serogroup A), Salmonella paratiphi B (serogroup B), Salmonella cholerasius (serogroup C1) dan Salmonella tiphi (serogroup D) (Brooks, 2007).

Spesies Salmonella dapat dibagi kepada dua yakni spesies tiphodial dan non tiphodial. Bagi kelompok tiphodial bisa menyebabkan demam tifoid dan untuk spesies non tiphodial bisa menyebabkan diare akut atau disebut enterokolitis dan juga infeksi metastase seperti oesteomielitis. Spesies tiphodial adalah bakteri S. iphi dan S. paratiphi dan bakteri S. enteriditis adalah spesies non-typhodial. Bakteri S. choleraesuis adalah spesies yang tersering menyebabkan infeksi metastase (Levinson, 2008).

3. Penyakit akibat pangan

a. Mual dan muntah

Mual adalah perasaan tidak enak di dalam perut yang sering berakhir dengan muntah. Muntah adalah pengeluaran isi lambung melalui perut.

Mual dan muntah disebabkan oleh pengaktivan pusat muntah di otak. Muntah merupakan cara dramatis tubuh untuk mengeluarkan zat yang merugikan. Muntah dapat disebabkan makan atau menelan zat iritatif atau zat beracun atau makanan yang sudah rusak atau terkontaminasi oleh bakteri.

b. Diare akut

(5)

tanpa darah atau lender dalam tinja atau berubahnya tinja menjadi lembek atau encer (Sarbini, 2005).

Penyebab diare akut dibagi menjadi empat, yaitu infeksi (virus, bakteri, parasit), malabsorbsi, keracunan makanan, dan diare terkait penggunaan antibiotik (DTA/ADD). Virus yang dapat menyebabkan diare akut adalah Rotavirus, adenovirus,

Norwalk dan Norwalk Like Agent. Bakteri yang dapat menyebabkan diare akut adalah Shigella, Salmonella, E. coli,

Golongan Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium botulinum, Staphylococcud aureus, Champylobacter, dan Aeromonas. Parasit yang dapat menyebabkan diare akut adalah Protozoa, Entamoeba, histolytica, Giardia lambia, Balantidium coli,

Cryptosporidium, cacing perut, Ascaris, Trichiuris, Strongylodies, dan Balstissistis hominis.

Pada anak usia sekolah dan dewasa, penyebab diare berasal dari makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme. Diare yang disebabkan infeksi bakteri banyak disebabkan oleh bakteri patogen seperti E. coli, Salmonella,

dan Vibro cholera (Maradona, 2011). Selain itu, penyebab diare lainnya adalah tangan yang kotor karena terkena debu, dihinggapi binatang perantara pembawa penyakit seperti lalat dan lipas, makanan yang tidak dimasak secara sempurna, dan meminum air yang tidak bersih (Sukarni, 1994).

4. Mikroba patogen

(6)

menghasilkan racun yang jika termakan akan menimbulkan bahaya kesehatan bagi manusia. Di samping bakteri, kapang juga dapat menghasilkan racun seperti Aspergillus flavus yang menghasilkan racun aflatoksin. Kapang ini sering tumbuh pada biji-bijian seperti jagung, dan kacang-kacangan seperti kacang tanah, jika kondisi penyimpanannya buruk, yaitu hangat dan lembab (Makfoeld, 1993).

Mikroba tumbuh dengan baik pada bahan yang lingkungannya lembab dan hangat, mengandung zat gizi baik seperti pada bahan pangan, pada lingkungan yang kotor. Oleh karena itu, bahan pangan mudah sekali diserang mikroba jika berada pada lingkungan yang kotor. Cemaran mikroba patogen dan mikroba penghasil racun ini merupakan bahaya biologis dalam pangan (Rahayu, 2002).

Angka lempeng total (ALT) disebut juga dengan angka lempeng heterotropik (heterotropic plate count/HPC) merupakan indikator keberadaan mikroba heterotropik termasuk bakteri dan kapang yang sensitif terhadap proses desinfektan seperti bakteri coliform, mikroba resisten desinfektan seperti pembentuk spora dan mikroba yang dapat berkembang cepat pada air olahan tanpa residu desinfektan. Meski telah mengalami proses desinfeksi yang berbeda, umum bagi mikroba tumbuh selama perlakuan (treatment) dan distribusi dengan konsentrasi berkisar 104 – 105 sel/ml. Nilai ALT bervariasi tergantung berbgai faktor diantaranya kulitas sumber air, jenis perlakuan, konsentrasi, residu desinfektan, lokasi sampling, suhu air mentah, waktu pengujian, metode uji meliputi suhu dan waktu inkubasi (Martoyo et al, 2014). Pada pengujian ALT menggunakan media PCA (plate count agar) sebagai media padatnya. Digunakan pula pereaksi

Triphenyl Tetrazolium Chloride 0,5% (TTC) (BPOM, 2008).

(7)

mikroba yang hidup dalam suspensi akan tumbuh menjadi 1 koloni setelah diinkubasikan dalam media biakan dengan lingkungan yang sesuai. Koloni bakteri adalah kumpulan dari bakteri-bakteri yang sejenis dan mengelompok membentuk suatu koloni. Setelah diinkubasi maka akan diamati dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroba dalam suspensi tertentu (Hadioetomo, 1993).

Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroba, ada beberapa mikroba tertentu yang cenderung mengelompok atau berantai. Bila ditumbuhkan pada media dan lingkungan yang sesuai, kelompok bakteri ini akan menghasilkan suatu koloni. Oleh karena itu, sering digunakan istilah Colony Forming Unit (CFU) untuk menghitung jumlah mikroba hidup. Sebaiknya hanya lempeng agar yang mengandung 1 x 104 koloni/g saja yang digunakan dalam perhitungan (SNI, 2009).

Pengenceran sangat penting untuk menghindari koloni bakteri atau kapang/khamir yang saling menumpuk karena konsentrasi sangat pekat, sehingga didapatkan koloni yang terpisah dan dapat dihitung dengan mudah. Pengenceran ini sangat membantu terutama untuk sampel yang memiliki cemaran sangat tinggi (BPOM, 2008).

5. Es lilin

Es adalah air yang membeku. Pembekuan ini terjadi bila air didinginkan di bawah 0 ºC pada tekanan atmosfer standar. Es dapat dibentuk pada suhu yang lebih tinggi dengan tekanan yang lebih tinggi juga, dan air akan tetap sebagai cairan atau gas sampai -30 ºC pada tekanan yang lebih rendah (Badan Standardisasi Nasional, 2007).

(8)

sehingga dapat memberikan kesegaran. Es lilin termasuk salah satu produk water ice, merupakan produk minuman tanpa lemak yang dibekukan hingga menjadi fase padatnya. Warna yang beranekaragam merupakan daya tarik lain dari es lilin. Rasa manis es lilin umumnya berasal dari sintesis sedangkan warna yang menarik berasal dari pewarnaan yang sering ditambahkan dalam pembuatan es lilin (Hartono, 2013).

Rasa dari es lilin dapat dihasilkan dari berbagai jenis buah bahkan dengan semakin banyaknya permintaan akan varian rasa dari es lilin tersebut maka produsen mencoba mengkombinasikan produk-produk olahan beku tersebut. Produsen es lilin sering sekali menggunakan bahan pemanis dan pewarna sintesis yang dapat menimbulkan bahaya bagi yang mengkonsumsinya (Hary, 2012).

6. Uji Mikrobiologi

Uji mikrobiologi yang dilakukan pada sediaan tetes mata yaitu melakukan uji sterilitas dengan melihat adanya mikroba pada sediaan tetes mata yang ditumbuhkan pada media agar, apabila terdapat mikroba dilakukan isolasi atau indentifikasi mikroba (Anonim, 1995).

Setelah melakukan uji sterilitas dilanjutkan menghitung jumlah mikroba dengan ALT yang merupakan salah satu analisis berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis. ALT yaitu perhitungan jumlah tidak berdasarkan atas jenis, tetapi secara kasar terhadap golongan atau kelompok besar mikroorganisme umum seperti bakteri, fungi, mikroalga ataupun terhadap kelompok bakteri tertentu (Suriawiria, 1993). Salah satu menghiung jumlah bakteri adalah dengan metode

(9)

menggunakan mikroskop. Metode hitungan cawan merupakan cara yang paling sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik (Fardiaz, 1992). Dalam metode hitungan cawan, bahan pangan yang diperkirakan mengandung lebih dari 300 sel jasa renik per ml atau per gram atau per cm (jika pengambilan contoh dilakukan pada permukaan), memerlukan perlakuan pengenceran sebelum ditumbuh kanpada medium agar di dalam cawan petri.

Setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaikadalah di antara 30 sampai 300 koloni (Fardiaz, 1992). Untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan carah hitung cawan digunakan suatu standart yang disebut Standard Plate Counts (SPC) sebagai berikut: cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 dan 300. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan satu kumpulan koloni yang besar di mana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni. Satu deretan rantai koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni (Fardiaz, 1992).

Isolasi mikroba adalah memisahkan satu mikroba degan mikroba lain yang berawal dari campuran berbagi mikroba. Cara mengisolasi mikroba umumnya dengan menumbuhkan mikroba dalam medium padat. Dalam mengisolasi mikroba ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni sifat spesies mikroba yang akan diisolasi, tempat hidup atau asal mikroba, medium pertumbuhan yang sesuai, cara mengisolasi mikroba tersebut, lama inkubasi mikroba, cara menguji bahwa mikroba yang diisolasi bikan murni (Waluyo, 2008). Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode mikrobiologis, antara lain digunakan untuk mengidentifikasi mikroba.

(10)

sifat morfologi koloni serta pengujian sifat-sifat fisiologi dan biokimianya. Bakteri dapat diidentifikasi dengan mengetahui reaksi biokimia dari bakteri tersebut. Sifat metabolisme bakteri dalam uji biokimia biasanya dilihat dari interaksi metabolit-metabolit yang dihasilkan dengan reagen-reagen kimia (Waluyo, 2008).

Ada 3 prosedur pewarnaan yaitu pewarnaan sederhana (simple starin), pewarnaan diferensial (diferential starin), dan pewarnaan khusus (special strain) (Pratiwi, 2008).

1. Pewarnaan Sederhana

Pewarnaan ini hanya digunakan satu macam pewarna dan bertujuan mewarnai seluruh sel mikroorganisme sehingga bentuk seluler dan struktur dasarnya terlihat. Biasanya suatu bahan kimia ditambahkan kedalam larutan pewarna untuk mengintensifkan warna dengan cara meningkatkan afinitas pewarna pada specimen biologi.

2. Pewarnaan Diferensial

Pewarnaan ini menggunakan lebih dari satu pewarna dan memiliki reaksi yang berbeda untuk setiap bakteri. Pewarnaan diferensial yang sering digunakan adalah pewarnaan Gram. Pewarnaan Gram ini mampu membedakan dua kelompok beasar bakteri yaitu Gram postif dan Gram negatif.

3. Pewarnaan khusus

(11)
(12)

C. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian uji cemaran mikroba dalam es lilin yang dijajakan di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Kerangka konsep penelitian Air sebagai bahan dasar pembuatan es lilin harus memenuhi persyaratan kualitas air minum, air yang

aman digunakan bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi dan radioaktif. Kualitas air yang tidak memenuhi standar,

akan meningkatkan resiko terjadinya cemaran

Uji cemaran mikroba mengikuti ketentuan SNI 7388 tahun 2009 tentang batas maksimum

cemaran mikroba dalam pangan

Sampel es lilin yang diperoleh dari pedagang di SD Negeri Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga memenuhi syarat/tidak memenuhi syarat dengan ketentuan SNI 7388 tahun 2009 tentang batas maksimum

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka konsep penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Dilakukan hal yang sama untuk sampel selanjutnya Diinkubasi selama 2x24 jam pada suhu 35 o C dengan keadaan cawan petri dibalik Diamati dan dihitung jumlah koloni bakteri..

Biomassa mikroba terbentuk per jumlah substrat sedikit lebih rendah untuk termofilik dibandingkan dengan mikroorganisme mesofilik yang dapat mengakibatkan jumlah

Agar dapat terlaksana dengan baik, maka diperlukan suatu bagan perkiraan yang memuat perkiraan-perkiraan yang diberi kode tertentu, sehingga setiap tingkatan manajemen

yang tumbuh pada media SPCA dihitung total koloni menggunakan colony counter dan dinyatakan sebagai angka total plate count yaitu ikan segar, jumlah

a) Metode Silinder yaitu dengan menggunakan silinder gelas yang steril diletakkan di atas agar yang berisi suspensi mikroba yang telah membeku. Kelebihan dari metode

Kosentrasi terendah obat pada biakan padat yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari obat terhadap bakteri uji (Pratiwi, 2008).

Menurut Syarief dan Halid (1993) bahwa dalam penyimpanan diperlukan suatu pengendalian agar tidak terkontaminasi mikroba yaitu dengan cara pengaturan kadar air (aktivitas air)

Bakteri endofit merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan tanaman pada periode tertentu dan mampu hidup dengan membentuk koloni dalam jaringan tanaman tanpa