PERATURAN TENTANG
PEMBORONGAN
PEKERJAAN
(OUTSOURCING)
Nurjadin
Sumono
Mulyadi
&
Partners
Law Office
Jakarta, 12 April 2016
Mario Maurice Sinjal
Senior Associate
Dasar Hukum
1.
Undang-Undang No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan (“
UU
13/2003
”);
2.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 19 Tahun 2012 tentang
Syarat-Syarat
Penyerahan
Sebagian
Pelaksanaan
Pekerjaan
Kepada
Perusahaan Lain
(“Permenaker 19/2012
”)
;
3.
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No:
SE.04/MEN/VIII/2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 19 Tahun 2012 tentang Syarat-Syarat
Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain (“
SE
04/2013
”); dan
4.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia (“
KUHPerdata
”).
A. Pasal 1601 b KUHPerdata
“
Pemborongan pekerjaan adalah perjanjian dengan mana pihak
yang satu, si buruh,
mengikatkan dirinya untuk dibawah
perintah pihak yang lain si majikan, untuk
sesuatu waktu
tertentu, melakukan pekerjaan dengan menerima upah”.
B. Pasal 64 UU 13/2003
“Perusahaan
dapat
menyerahkan
sebagian
pelaksanaan
pekerjaan
kepada
perusahaan
lainnya
melalui
perjanjian
pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh
yang dibuat secara tertulis”.
Page 4
Definisi Pemborongan
Pekerjaan
Page 5
Definisi Pemborongan
Pekerjaan
C. Pasal 1 angka 4 Permenaker 19/2012
“
Perjanjian
pemborongan
pekerjaan
adalah
perjanjian antara perusahaan pemberi pekerjaan
dengan perusahaan penerima pemborongan yang
memuat hak dan kewajiban para pihak.”
Berdasarkan
ketentuan
tersebut,
perjanjian
pemborongan pekerjaan harus dilaksanakan secara
tertulis dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Jenis Outsourcing
(Berdasarkan Permenaker 19/2012)
A. Pemborongan Pekerjaan (
Business Activity
Outsourcing
); dan
B. Penyediaan Jasa Pekerja (
Manpower
Outsourcing
).
Berdasarkan KUHPerdata
Sesuai dalam Pasal 1601 KUHPerdata, kontrak
untuk melakukan pekerjaan, dapat dibagi
menjadi 3 jenis, antara lain:
Page 7
Perjanjian
Perburuhan
(upah)
Perjanjian Borongan
(harga)
Kontrak Kerja
Perjanjian Tertentu
Persyaratan Pemborongan Pekerjaan
(berdasarkan UU 13/2003)
A.
Pasal 65 ayat (2) UU 13/2003
1.
Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama;
2.
Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi
pekerjaan;
3.
Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan; dan
4.
Tidak menghambat proses produksi secara langsung.
Sebagaimana diuraikan lebih lanjut dalam Pasal 3 ayat (2) Permenaker 19/2012,
antara lain sebagai berikut:
Persyaratan Pemborongan Pekerjaan
(Berdasarkan Permenaker 19/2012)
B. Pasal 3 ayat (2) Permenaker 19/20121. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama baik manajemen maupun kegiatan pelaksanaan pekerjaan;
2. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan, dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang cara melaksanakan pekerjaan agar sesuai standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan;
3. Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan kegiatan utama sesuai alur kegitan proses pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan asosiasi sektor usaha yang dibentuk sesuai peraturan perundang-undangan; dan
4. Tidak menghambat proses produksi secara langsung, kegiatan tersebut merupakan kegiatan tambahan yang apabila tidak dilakukan perusahaan, proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Page 10
Persyaratan Pemborongan Pekerjaan
(Berdasarkan SE 04/2013)
C. SE 04/20131. Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama, baik manajemen maupun kegiatan pelaksanaan pekerjaan.
Manajemen terpisah: perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penerima pemborongan bukan merupakan satu kesatuan, melainkan badan hukum yang berbeda;
Pelaksanaan pekerjaan terpisah: tidak didasarkan pada terpisahnya lokasi.
2. Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari perusahaan pemberi pekerjaan. Agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan.
Perintah langsung bukan berarti status hubungan kerja antara pekerja dari perusahaan penerima pemborongan beralih kepada perusahaan pemberi pekerjaan.
Page 11
Persyaratan Pemborongan Pekerjaan
(Berdasarkan SE 04/2013)
3. Kegiatan
penunjang
perusahaan
pemberi
pekerjaan
secara
keseluruhan.
Kegiatan yang mendukung dan memperlancar kegiatan
utama
sesuai dengan alur proses yang ditetapkan oleh asosiasi
sektor usaha
4. Tidak menghambat proses produksi secara langsung
.
Merupakan kegiatan tambahan yang bila tidak dilakukan,
proses pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan sebagaimana
mestinya.
Page 12
Alur Pelaksanaan Perjanjian
Pemborongan Pekerjaan
1. Pembuatan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan oleh masing-masing pengusaha, yang dapat dilakukan bersamaan dengan pendirian asosiasi sektor usaha.
2. Penetapan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan oleh asosiasi.
3. Pelaporan jenis alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan oleh asosiasi kepada Dinas Tenaga Kerja setempat.
4. Instansi tenaga kerja setempat mengeluarkan bukti pelaporan. 5. Pembuatan perjanjian pemborongan pekerjaan.
6. Pendaftaran perjanjian pemborongan pekerjaan; dan
Page 13
Sanksi
Apabila pelaksanaan pemborongan pekerjaan tidak sesuai dengan
ketentuan-ketentuan
sebagaimana
disebutkan
sebelumnya,
maka
sanksinya adalah:
1. Pasal 65 ayat (7), (8), (9) UU 13/2003 (melanggar Perjanjian
Pemborongan Kerja)
Demi hukum,
status
hubungan kerja pekerja dengan perusahaan
penerima pemborongan beralih menjadi hubungan kerja pekerja
dengan perusahaan pemberi pekerjaan
, dengan status perjanjian
kerja waktu tidak tertentu atau pekerjaan waktu tertentu (sesuai
dengan ketentuan yang berlaku).
Definisi Penyediaan Jasa Pekerja
A. Pasal 66 ayat (1) UU 13/2003
“
Pekerja dari Perusahaan penyedia jasa pekerja
tidak boleh
digunakan
oleh pemberi kerja u
ntuk melaksanakan
kegiatan pokok atau
kegiatan
berhubungan
langsung
dengan
proses produksi, kecuali
untuk
kegiatan jasa
penunjang atau
kegiatan
tidak berhubungan langsung
dengan proses produksi
”.
B. Pasal 1 angka 3 Permen 19/2012:
“
perusahaan yang berbentuk badan hukum Perseroan
Terbatas (PT) yang memenuhi syarat untuk melaksanakan
kegiatan jasa penunjang perusahaan pemberi pekerjaan
”.
Page 15
Persyaratan Penyediaan Jasa Pekerja
Perjanjian penyediaan jasa Pekerja harus dilaksanakan secara tertulis
dan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut
:
A.
Pasal 66 ayat (2) UU 13/2003
1.
ada
hubungan kerja antara pekerja dan perusahaan
penyedia jasa pekerja
;
2.
Merupakan
perjanjian kerja untuk waktu tertentu sesuai
Pasal 59 dan/atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu
yang
dibuat secara tertulis
dan ditandatangani oleh kedua
belah pihak;
3.
Perlindungan upah dan kesejahteraan, syarat – syarat kerja,
serta perselisihan
yang timbul
menjadi tanggung jawab
perusahaan penyedia pekerja
; dan
4.
Perjanjian tertulis dan sesuai ketentuan Undang – Undang
antara perusahaan pengguna jasa pekerja dan perusahaan
penyediaan jasa pekerja.
Persyaratan Penyediaan Jasa Pekerja
Sebagaimana diuraikan lebih lanjut, yakni sebagai berikut:Pasal 17 Permen 19/2012
1) Perusahaan pemberi pekerjaan menyerahkan pekerjaan kepada perusahaan penyedia jasa pekerja melalui perjanjian tertulis.
2) Pekerjaan yang diserahkan kepada perusahaan penyedia jasa pekerja merupakan kegiatan jasa penunjang atau tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.
3) Kegiatan jasa penunjang, meliputi:
a. Usaha pelayanan kebersihan (cleaning service); b. Usaha penyediaan makanan bagi pekerja (catering); c. Usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan);
d. Usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan; dan e. Usaha penyediaan angkutan bagi pekerja/buruh.
Hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan sebagaimana dimaksud diatas.
NB: Perusahaan penyedia jasa pekerja dilarang menyerahkan pelaksanaan sebagian atau seluruh pekerjaan yang diperjanjikan kepada perusahaan penyedia jasa pekerja lain (Pasal 18 Permen 19/2012).
Persyaratan Penyediaan Jasa Pekerja
SE 04/20131. Perjanjian penyediaan jasa pekerja dibuat secara tertulis.
2. Pekerjaan yang diserahkan kepada perusahaan penyedia jasa pekerja harus merupakan kegiatan jasa penunjang atau tidak berhubungan langsung dengan proses produksi, meliputi:
a. Usaha pelayanan kebersihan (cleaning service); b. Usaha penyediaan makanan bagi pekerja (catering); c. Usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan);
d. Usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan; dan e. Usaha penyediaan angkutan bagi pekerja/buruh.
3. Perusahaan penyedia jasa pekerja dilarang menyerahkan pelaksanaan sebagian atau seluruh pekerjaan yang diperjanjikan kepada perusahaan penyedian jasa pekerja lain.
Persyaratan Penyediaan Jasa Pekerja
4. Memuat jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh pekerja dari
perusahaan penyedia jasa pekerja.
5. Menegaskan perusahaan penyedia jasa pekerja bersedia
menerima pekerja dari perusahaan penyedia jasa sebelumnya
untuk jenis pekerjaan yang terus-menerus ada di perusahaan
pemberi pekerjaan dalam hal terjadi penggantian perusahaan
penyedia jasa pekerja.
6. Menjelaskan hubungan kerja antara perusahaan penyedia jasa
pekerja – pekerja sesuai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu
(PKWT) atau Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT).
Persyaratan Perusahaan Penyediaan Jasa
Pekerja
Pasal 24 Permenaker 19/2012
a. Berbentuk badan hukum PT (Perseroan Terbatas);
b. Memiliki tanda daftar perusahaan;
c. Memiliki izin usaha;
d. Memiliki bukti wajib lapor ketenagakerjaan di perusahaan;
e. Memiliki izin operasional;
f. Memiliki kantor dan alamat tetap; dan
g. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama
perusahaan.
Page 22
PEKERJAAN TERTENTU DAN JANGKA WAKTU DALAM
PKWT
(BERDASARKAN UU NO. 13 TAHUN 2003 DAN KEP.100/MEN/VI/2004)
SYARAT/JANGKA WAKTU
Pekerjaan yang Sekali Selesai atau yang sementara sifatnya
Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang
tidak terlalu lama dan paling lama 3
(tiga) tahun
Pekerjaan yang bersifat musiman
Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru
PKWT Pertama PALING LAMA 3 TAHUN PALING LAMA 2 TAHUN 1 JENIS PEKERJAAN
UNTUK YANG TERGANTUNG CUACA/MUSIM atau PEKERJAAN TAMBAHAN UNTUK YANG TERGANTNG TARGET PESANAN
PALING LAMA 2 TAHUN
DIPERPANJANG Min. 7 Hari
sebelum berakhhir
X PALING LAMA 1 TAHUN PALING LAMA 1 TAHUN
DIPERBAHARUI Min. 7 Hari sebelum berakhir X X X AKIBAT: PKWTT SEJAK …
TIDAK TERPENUHINYA PKWT ADANYA HUBUNGAN
KERJA
ADANYA HUBUNGAN KERJA
DILAKUKAN PENYIMPANGAN