BAB II TINJAUAN PUSTAKA

17 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Botani Tanaman Lada

Lada (Piper ningrum L) merupakan tanaman yang berasal dari daerah Ghat Barat, India kemudian menyebar ke berbagai negara di Asia termasuk indonesia. Penyebaran lada di indonesia pertama kali dilakukan oleh koloni Hindu yang sedang melakukan perjalanan dalam misi penyebaran agama, setelah itu lada di indonesia menyebar keberbagai pulau. Provinsi di Indonesia yang memproduksi lada selain Lampung dan Bangka diantaranya yaitu Sumatra Utara, Sumara Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Aceh, Sumatra Barat dan Jawa Barat yang umumya merupakan usaha petani rakyat (Widiyastuti,2005).

Tanaman Lada Perdu menurut Cronquist (1981) diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio : Magnoliophyta Classis : Magnoliopsida Ordo : Piperales Familia : Piperaceae Genus : Piper

Species : Piper ningrum L

Lada perdu merupakan tumbuh-tumbuhan memanjat. Batang panjang 5 – 15 m. Daun berseling dan tersebar, bertangkai dengan daun penumpu

(2)

yang cepat rontok, dan meninggalkan bekas yang berbentuk cincin. Helaian daun bulat telur sampai memanjang dengan ujung meruncing 8 – 20 kali, 5 – 15 cm, bagian bawah terisi dengan kelenjar kecil, tenggelam dan rapat. Bulir berdiri sendiri, diujung, berhadapan dengan daun menggantung, Daun pelindung memanjang, panjang 4 – 5 mm.; tangkai 1 – 3,5 cm ; sumbu 3,5 – 22 cm. Tangkai sari panjang 1k 1 mm, kepala putik 2 – 5, kebanyakan 3 – 4. Buah buni 1k betuk bola.(Van Steenis, 1987).

2.2 Syarat Tumbuh

Terdapat tiga komponen syarat tumbuh tanaman lada yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, diantaranya yaitu :

2.2.1 Kondisi tanah

Tanah sebagai media tumbuh tanaman memiliki sifat dan karakteristik yang dapat dilihat dari sifat fisik, kimiawi, maupun biologisnya. Dimana ketiganya berintegrasi dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam pertumbuhan suatu tanaman. Berikut ini penjabaran masing – masing sifat dan karakterstik tanah baik dari sifat fisika, kimia, maupun biologi nya.

a. Sifat fisika

Secara fisik, tanah tersusun atas partikel mineral dan organik dalam berbagai ukuran. Partikel mineral dan organik menyusun kurang lebih 50 % dari voleme tanah, sisanya adalah berupa pori yang terisi oleh air dan udara. Tanah dikatakan basah jika hampir seluruh pori terisi oleh air, dan tanah dikatakan kering jika hampir seluruh pori terisi oleh udara.

(3)

Menurut Sartohadi dkk.(2012) tekstur tanah merupakan gambaran deskriptif komposisi ukuran butir partikel-partikel penyusun tanah yang digolongkan ke dalam tiga ukuran utama. Ukuran partikel tanah yang kasar adalah pasir, dengan diameter 2 – 0,05 mm. Ukuran partikel tanah yang halus adalah lempung, dengan diameter lebih kecil dari 0,002mm. Partikel tanah dengan ukuran diantara pasir dan lempung disebut debu. Berikut merupakan tabel klasifikasi partikel tanah menurut sistem USDA dan Sistem Internasional yang dipakai di Indonesia, khususnya untuk keperluan pemanfaatan pertanian.

(4)

Tabel 2.1 Klasifikasi ukuran butir fraksi tanah

SISTEM USDA SISTEM INTERNATIONAL

NAMA FRAKSI DIAMETER

(Ø) (mm)

NAMA FRAKSI

DIAMETER (Ø) (mm)

Lempung (clay) <0,002 Lempung <0,002

Debu (silt) 0,05 – 0,002 Debu 0,002 – 0,02

Pasir sangat halus (very fine sand)

0,05 – 0,10

Pasir halus (fine sand) 0,10 – 0,25 Pasir halus 0,02 – 2,0 Pasir sedang (medium sand) 0,25 – 0,5

Pasir kasar (coarse sand) 0,5 – 0,10 Pasir kasar 0,20 – 2,0 Pasir sangat kasar (very

coarse sand)

1,0 – 2,0

Kerikil (gravel) >2,0 Gravel >2,0

Sifat fisik tanah yang pertama kali diindra oleh penglihatan adalah warna. Warna tanah secara langsung mempengaruhi penyerapan sinar matahari dan merupakan salah satu penentu suhu tanah. Warna tanah di alam tidak selalu dalam kondisi seragam pada setiap horizon yang ada pada profil tanah. Ketidakseragaman warna tanah disebabkan karena adanya bercak yang mempunyai warna berbeda dengan warna matriks. Warna bercak tidak selalu dalam dalam kondisi berbeda tegas dengan warna matrik. Warna bercak dapat berupa lebih merah atau lebih hitam kelam dari warna matriksnya tergantung dari komposisi kimia bercak. Bercak di dalam profil tanah dideskripsi menurut kejelasan, jumlah, dan ukuran (sartohadi, dkk.2012).

b. Sifat kimia

Senyawa – senyawa kimia di dalam tanah merupakan hasil dari pelapukan bahan induk tanah dan pelapukan sisa organisme tanah.

(5)

Pelapukan bahan induk tanah menghasilkan mineral-mineral primer dan sekunder (Sartohadi, 2012).

Menurut hanafiah (2005) Reaksi tanah meunjukan sifat kemasaman atau alakinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukan banyaknya konsentrasi ion hydrogen (H+) di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semkin masam tanah tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan ion OH- di dalam tanah. Pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak dari H+. Bila kandungan ion H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH 7.

pH tanah penting untuk menentukan mudah tidaknya unsur – unsur hara diserap oleh tanaman, menunjukan adanya unsur – unsur beracun, dan mempengaruhi perkembangan mikroorganisme. Tanah juga memiliki unsur – unsur hara esensialyang diperlukan oleh tanaman dan fungsinya pada tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur lain, sehingga bila tidak terdapat dalam jumlah yang cukup di dalam tanah, tanaman tidak dapat tumbuh dengan optimal. Unsur – unsur hara ini berasal dari udara, air, atau tanah. Jumalh unsur hara esensial ada 17 diantaranya yaitu : 1) unsur makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. 2) unsur mikro : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl, dan Co. Unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan dalam jumlah banyak, sedangkan unsur hara mikro adalah unsur hara yang diperlukan dalam jumlah yang sedikit. (Anonymous, 2015)

(6)

c. Sifat biologi

Masa tanah tersusun atas fase padat, cair, dan gas. Fase padat terdiri atas partikel – partikel mineral dan bahan organik serta jazad hidup atau organisme tanah. Organisme tanah dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu golongan tumbuhan dan golongan hewan, dan berdasarkan ukurannya dikelompokan ke dalam jasad makro (kasat mata) dan jasad mikro. (Sartohadi, dkk. 2012)

2.2.2 Ketinggian

Tinggi rendahnya tempat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman lada. Untuk mencapai produktivitas optimal jika lada dibudidayakan didataran rendah, yaitu diwilayah dengan ketinggian 3 – 1.000 m dari permukaan laut (m.d.p.l). lada yang ditanam didataran menegah atau tinggi (lebih dari 1.000 m.d.p.l), pertumbuhan vegetatif dari tanaman tersebut yang berupa akar, batang dan daun lebih dominan dibandingkan degan kemampuannya menghasilkan buah (Sutarno dan Andoko, 2005). Tingkat kemiringan lahan yang digunakan untuk tanaman lada yaitu 15%. Berdasarka pemantauan dilapanan, tempat paling dominan untuk menanam lada yaitu di daerah dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 200 mdpl. Lada yang ditanamn ditempat ini akan menghasilkan pertumbuhan vegetatif yang tebaik dan dapat berbuah dengan sangat lebat. 2.2.3 Iklim

Untuk mencapai pertumbuhan yang baik dan hasil produksi yang memuaskan, sebaiknya lada ditanam didaerah beriklim tropis dengan

(7)

curah hujan rata-rata 1000-3000 mm per tahun. Sinar matahari 10 jam/hr, suhu udara 20 - 340C, dan kelembapan udara optimal 60 – 80 %. (Artanti, 2007).

2.3 Stek Lada

Dalam usaha dan pengembangan tanaman, bibit merupakan salah satu faktor penentu bagi keberhasilan pertanian. Bibit yang unggul dan berkualitas baik, akan lebih menjamin usaha yang dilakukan. Tetapi perlu didukung juga oleh penguasaan dan penerapan tekhnik budidaya yang tepat, untuk mendapatkan hasil yang sescara kuantitas dan kualitas dapat dipertanggungjawabkan (Lawani,1995). Perkembangbiakan secara vegetativ (Stek) bertujuan untuk mendapatkan bibit secara cepat tanpa adanya perubahan sifat atau tanaman baru yang mempunyai sifat sama dengan induknya. Macam – macam stek yang biasa digunakan berupa stek batang, daun, akar, dan tunas. Stek batang yaitu stek yang didapatkan dari batang tanaman. Bila batang terlalu pendek kan cepat kering, cadangan makanan kurang sehingga peluang hidup kecil. Jika batang terlalu panjang pertumbuhan tunas dan akar lambat dan boros. Stek batang yang baik mempunyai mata tunas minimal 3 buah (Heddy, Nugroho, dan Kurniati 1994) Stek adalah perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian dari tanaman (akar, batang dan tunas) dengan tujuan agar bagian – bagian tersebut membentuk akar. Pada irisan miring, stek akan mempunai permukaan yang lebih luas bila dibandingkan dengan berpangkal datar sehingga jumlah akar yang tumbu lebih banyak karena pada pangkal stek ini terakumulasi zat

(8)

tumbuh (Artanti,2007). Perbanyakan tanaman lada dengan mengunakan stek dapat dilakukan dengan cara yaitu : mengguakan stek panjang (5-7 buku) yang akan ditumbuhkan terlebih dahulu, kemudian dapat langsung ditanam dikebun dan stek satu buku berdaun tunggal yang harus disemai terlebih dahulu dipersemaian.

Perbanyakan tanaman dengan stek pada lada dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu keberhasilan perumbuhan stek. Adapun faktor – faktor terebut terdiri dari faktor lingkunggan dan faktor dari dalam tanaman. 2.3.1 Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek yaitu: media perakaran, suhu, kelembaban, dan cahaya (Hartman, 2002).

Media perakaran berfungsi sebagai pendukung stek selama pembentukan akar, memberi kelembapan pada stek dan memudahkan penetrasi udara pada pangkal stek. Media perakaran yang baik adalah yang dapat memberikan aerasi dan kelembapan yang cukup, berdrainase baik, serta bebas dari patogen yang dapat merusak stek. Media perakaran stek yang biasa dipergunakan adalah tanah dan pasir.

Perakaran stek dapat tumbuh dengan optimal apabila suhunya berkisar antara 21oC samapi dengan 27oC pada pagi dan siang hari, serta 15oC pada malam hari. Suhu yang terlampaui tinggi dapat mendorong perkembangan perakaan dan dapat meningkatkan laju transpirasi (Hartman, 2002)

(9)

2.3.2 Faktor dari dalam tanaman

Kondisi fisiologis tanaman yang mempengaruhi penyetekan adalah umur bahan stek, jenis tanaman, adanya tunas dan daun muda pada stek, persediaan bahan makanan, dan zat pengatur tumbuh (Huik, 2004 ).

1. Umur bahan stek

Menurut Hartman (2002), stek yang berasal dari tanaman muda akan lebih mudah berakar dari pada yang berasal dari tanaman tua, hal ini disebabkan apabila umur tanaman semakin tua maka terjadi peningkatan produksi zat-zat penghambat perakaran dan penurunan senyawa fenolik yang berperan sebagai auksin kofaktor yang mendukung inisiasi akar pada stek.

2. Jenis tanaman

Tidak semua jenis tanaman dapat dibiakkan dengan stek. Keberhasilan dengan cara stek bergantung pada kesanggupan jenis tersebut untuk berakar. Ada jenis yang mudah berakar dan ada yang sulit. Kandungan lignin yang tinggi dan kehadiran cincin sklerenkim yang kontinyu merupakan penghambat anatomi pada jenis sulit berakar, dengan cara menghalangi tempat munculnya adventif (Kramer, 1960

(10)

3. Adanya tunas dan daun pada stek

Adanya tunas dan daun pada stek berperan penting bagi perakaran. Bila seluruh tunas dihilangkan maka pembentukan akar tidak terjadi (Boulenne dan Went, 1933 dalam Hartman, 2002).

4. Persediaan bahan makanan 5. Zat pengatur tumbuh

2.4 Rootone-F

Rootone-f merupakan zat pengatur tumbuh (ZPT), dimana ZPT berfungsi sebagai pemacu dan penghambat pertumbuhan tanaman. Penggunaan ZPT yang tepat akan berpengaruh baik terhadap perumbuhn tanaman namun apabila dalam jumlah terlalu banyak justru akan merugikan tanaman karena akan meracuni tanaman tersebut. Sebaliknya, jika dalam jumlah yang sedikit maka akan kurang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tersebut (Ardana 2009).

ZPT pada tanaman merupakan sebuah senyawa organik yang bukan hara dimana dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat dan dapat mengubah proses fisisologis. Auksin adalah salah satu hormon tumbuhan yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Auksin mempunyai beberapa peranan dalam mendukung kehidupan tanaman diantaranya adalah menstimulasi terjadinya perpanjangan sel pada pucuk dan mendorong primodial akar (Artanti, 2007). Tanaman memerlukan konsentrasi auksin yang sesuai untuk pertumbuhannya. Konsentrasi yang tidak sesuai tidak akan memacu pertumbuhan, bahkan bisa menghambat. Namun

(11)

pengaruh penyerapan auksin tidak hanya dilihat dari konsentrasi auksin tetapi dari kepekaan jaringan penerima protein tanaman

Menurut Artanti (2007), penelitian tentang aspek fisiologis auksin telah banyak dilakukan sejak tahun 1930-an. Banyak bukti menyatakan bahwa auksin sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan batang, formasi akar, menghambat pertumbuhan cabang lateral serta mengaktifkan kerja lapisan kambium. Auksin mempengaruhi perkembangan dinding sel dan mengakibatkan tekanan dinding sel terhadap protoplas berkurang. Peran auksin sebagai zat perangsang perakaran tersebut saat ini telah diketahui oleh masyarakat dengan produk yang dijual dengan nama Biooton atau Rootone F.

Dari penelitian Rinekasane (2005) menyatakan bahwa auksin tidak mampu meningkatkan luas daun. Namun penggunaan Rootone F (auksin) berperan dalam meningkatkan jumlah akar. Auksin berperan mendorong pertumbuhan akar, karena auksin merupakan hormon yang berperan dalam merangsang pertumbuhan akar.

Pertumbuhan dan perkembangan (morfogenesis) tanaman yang diberi perlakuan ZPT dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi dari ZPT endogen dan eksogen. Auksin berperan mengaktifkan enzim-enzim yang berperan dalam pembuatan komponen sel sehingga begitu mulai terjadi pembelahan sel, maka auksin akan merangsang pembentukan sel-sel dengan cepat (Marlin, 2005)

Rootone-F sebagai salah satu hormon tumbuh akar yang banyak digunakan dalam bentuk tepung putih untuk mempercepat dan memperbanyak

(12)

akar. Rootone F mengandung bahan aktif berupa campuran beberapa hormon tumbuh yaitu IBA, NAA, dan IAA. Penggunaan sebagai hasil kombinasi dari ketiga jenis hormon tumbuh diatas lebih efektif merangsang perakaran dari pada penggunaan hanya satu jenis hormon secara tunggal pada konsentrasi sama. Cara pemberian hormon secara tunggal pada konsentrasi sama. Cara pemberian hormon pada stek batang dapat dilakukan dengan cara perendaman, pencelupan dan pengolesan (Huik,2004)

Hormon tumbuh akar Rootone F mengandung bahan aktif sebagai berikut :

a. 1 – Naphthaleneacematide (0,6%)

b. 2 – Methyl – 1 – Naphthaleneacetid Acid (0,033%) c. 3 – Methyl – 1 – Naphthaleneaematide (0,013%) d. Indole – 3 – Butiryc Acid

e. Thiram (Tetramethyl thiuram disulfida) (4,000%) (Huik, 2004).

2.5 Media Tanam

Media tanam merupakan salah satu komponen penting dalam bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam sehinga tanaman bisa tumbuh dengan baik. Secara umum media tanam harus bisa menjaga kelembaban daerah sekitar akar tanaman serta menyediakan cukup udara dan unsur hara. Ardana (2009) menyatakan bahwa tanaman akan tumbuh subur apabila nutrisi yang terkandung pada media dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

(13)

Media penyetekan yang baik adalah media yang mempunyai porositas cukup, airase baik, drainase baik, kapasitas mengikat air tinggi dan bebas patogen. Media dalam penyetekan ini berfungi sebagai penahan stek selama masa pertumbuhan akar, menjaga kelembapan dan memudahkan penetrasi udara. (Wuryaningsih, 1998). Pada tahap pembibitan media tumbuh diutamakan untuk mendapatkan tanaman muda yang sehat, dan mampu tumbuh baik setelah ditanam pada media produksi.

Terdapat bebrapa jenis media tanam yang biasa digunakan dalam penelitian diantaranya :

2.5.1 Tanah

Sebagai media tanam, tanah menyediakan faktor-faktor utama untuk pertumbuhan tanaman, yaitu unsur hara, air, dan udara dengan fungsinya sebagai media tunjangan mekanik akar dan suhu tanah. Semua faktor tersebut haruslah seimbang agar pertumbahan tanaman baik dan berkelanjutan. Unsur hara tanah yang diperlukan terdiri dari unsur makro (yang diperlukan dalam jumlah banyak) meliputi N, P, K, Ca, Mg, dan S, dan unsur mikro (yang diperlukan dalam jumlah sedikit) meliputi Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, dan Cl. Selain kandungan unsur makro dan mikro, tanah juga harus mengandung air. Daya simpan air pada jenis tanah tertentu akan berbeda, hal ini tergantung dari struktur tanahnya. Yang diperlukan dari media yang baik adalah jenis tanah yang dapat menyimpan air tetapi tidak berlebih, sesuai dengan kebutuhan tanaman dengan kondisi musim apapun. Selain itu, tanah juga memiliki pH (derajat keasaman). Faktor ketersediaan

(14)

air berpengaruh terhadap tingkat keasaman tanah. Kisaran pH tanah untuk daerah basah adalah 5-7 dan kisaran untuk daerah kering adalah 7-9. Hal ini berpengaruh juga terhadap pemilihan jenis tanaman. Untuk daerah basah (ph 5-7) pilihlah tanaman yang dapat tumbuh subur dikisaran pH seperti itu. Begitu juga halnya dengan pH yang lainnya. Hal yang juga penting adalah kandungan udara. Keberadaan udara pada tanah akan mempengaruhi kerapatan dan kepadatan struktur tanah. Perkembangan akar yang sehat serta proses pernafasan udara oleh akar menjadi tolak ukur dari baik atau tidaknya aerasi udara pada struktur tanah tertentu.

2.5.2 Pasir

Menurut Dole dan Gibson (2006), pasir dianggap memadai dan sesuai digunakan sebagai media penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Pasir yang bersifat cepat kering memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain serta bobot pasir yang cukup berat mempermudah tegaknya setek batang. Keunggulan media pengakaran dengan pasir adalah kemudahan penggunaannya serta dapat meningkatkan sistem aerasi dan drainase media tanam. Kelemahan penggunaan media pengakaran dengan pasir adalah adanya kadar garam, sehingga sebelum penggunaannya sebaiknya pasir tersebut dicuci terlebih dahulu untuk mengurangi partikel liat yang ada didalamnya.

(15)

2.5.3 Arang Sekam

Arang sekam atau sekam bakar banyak dimanfaatkan sebagai media tanam murni (tanpa campuran). Arang sekam digunakan sebagai media tanam hidroponik dan campuran media tanam berbasis tanah. Arang sekam merupakan media tanam yang baik karena memiliki kandungan SiO2 52 % dan unsur C 31 % serta komposisi lainya seperti Fe, K2O, CaO, MnO dan Cu dalam jumlah yang sangat sedikit. Unsur hara pada arang sekam antara lain nitrogen (N) 0,32 %, phpsphat (P) 0,15 %, kalium (K) 0,31 %, calsium (Ca) 0,96 %, Fe 180 ppm, Mn 80.4 ppm, Zn 14.10 ppm dan pH 8,5 – 9,0. Arang sekam atau sekam bakar memiliki karakteristik yang ringan (berat jenis 0,2 kh/l), kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, kemampuan menahan air tinggi, berwarna hitam sehingga dapat mengabsorbsi unsur matahari dengan baik. pH arang sekam cukup tinggi, yaitu antara 8,5 sampai 9,0 sehingga sangat baik digunakan untuk meningkatkan pH pada tanah asam. Sekam bakar atau arang sekam juga memiliki sifat porosits yang baik dan kemampuan menyerap air rendah.

Arang sekam mengadung silica (Si) yang cukup tinggi yakni sebesar 16,98 %. Silica (Si) merupakan unsur yang tidak penting untuk tanaman dan bukan unsur hara. Akan tetapi, keberadaan unsur silica (Si) diketahui dapat memperbaiki sifat fisik tanaman dan berpengaruh terhadap kelarutan P dalam tanah. Jika unsur silica (Si) dalam tanah kurang dari 5 %, maka tegak tanaman tidak kokoh (kuat) dan mudah roboh. Unsur silica (si) diperkirakan terdapat pada lapisan luar kulit padi sehingga permukaanya keras. Karena

(16)

itu, arang sekam memiliki kemampuan mempertahankan kelembapan dan tidak mudah rusak atau terurai (busuk).

Manfaat dan kegunaan arang sekam sebagai media tanam diantaranya yaitu: 1. Menjaga kondisi tanah tetap gembur, karena memiliki porositas tinggi

dan ringan

2. Memacu pertumbuhan (prolifeation) mikroorganisme yang berguna bagi tanaman.(Anonim)

2.5.4 Abu sekam

Menurut Darmawijaya (1990), abu sekam padi memiliki fungsi mengikat logam. Selain itu, abu sekam padi berfungsi untuk menggemburkan tanah, sehingga bisa mempermudah akar tanaman menyerap unsur hara.

2.6 Penelitian yang Relevan

Arinasa (2013) melakukan percobaan pengaruh konsentrasi Rootone-F dan panjang setek pada pertumbuhan Beonia tuberosa Lmk. Pada penelitian ini menggunakan beberapa konsentrasi Rootone-F yaitu (0,150,300 dan 450 mg/ml air) dan panjang stek pucuk (5, 7,5 dan 10 cm) Hasil penelitian menunjukan bahwa Konsentrasi Rootone-F optimum untuk pertumbuhan stek pucuk. B. tuberosa Lmk yaitu 300 mg/ml.

Ulfa,Maria dkk (2017) melakukan percobaan dengan Respon Pertumbuhan Stek Lada (Piper nigrum L.) akibat pemberian hormon auksin. Hasil penelitan menunjukan bahwa hormon auksin (ZPT Atonik) berpengaruh nyata terhadap panjang tunas dan jumlah daun pada umur 20 hari setelah tanam dan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang panjang tunas, jumlah

(17)

daun, jumlah akar dan panjang akar stek tanaman lada pada umur 40 dan 60 hari setelah tanam. Rata-rata perlakuan terbaik dijumpai pada pemberian hormon auksin dengan konsentrasi 1,5 ml/liter air (A3) dan 2ml/Liter air (A4)

dan perlakuan terendah dijumpai pada tanpa pemberian hormon auksin/kontrol (A0)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :