• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS VEGETASI STRATA TIANG DI BUKIT COGONG KABUPATEN MUSI RAWAS. Oleh ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS VEGETASI STRATA TIANG DI BUKIT COGONG KABUPATEN MUSI RAWAS. Oleh ABSTRAK"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS VEGETASI STRATA TIANG DI BUKIT COGONG KABUPATEN MUSI RAWAS

Oleh

Rahayu Astuti1, Merti Triyanti2, Ivoni Susanti3 1Mahasiswa STKIP-PGRI Lubuklinggau

2,3Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies vegetasi strata tiang yang memiliki peranan paling penting berdasarkan rerata INP nya, Indeks keanekaragaman spesies strata tiang, dan pengaruh lingkungan abiotik yang terukur. Pada penelitian ini digunakan tiga area kajian yaitu area kajian A, area kajian B, dan area kajian C. Metode yang digunakan adalah metode Point Centered Quarted (PCQ). Berdasarkan hasil penelitian di sepanjang di Hutan Lindung Bukit Cogong diperoleh 27 spesies vegetasi strata tiang. Vegetasi strata tiang yang memiliki rerata INP tertinggi pada area kajian A Hevea brasiliensis (85,66%), sedangkan terendah yaitu Baccaurea sp (1,33%). Vegetasi strata tiang yang memiliki rerata INP tertinggi pada area kajian B yaitu Hevea brasiliensis (74,27%), sedangkan terendah yaitu Pometia pinnata (2,60%). Pada area kajian C rerata INP tertinggi Shorea (47,93%), sedangkan rerata terendah adalah tumbuhan Parkia speciosa (2,03%). Rerata Indeks Keanekaragaman (Indeks Diversitas) pada area kajian A 1,95, area kajian B 1,70 dan area kajian C 1,82. Faktor lingkungan abiotik yang terukur di areal perlindungan hutan kemasyarakatan (HKm) Bukit Cogong tidak jauh berbeda antara area kajian A, B, dan C.

Kata Kunci: Analisis vegetasi, strata tiang, Bukit Cogong. PENDAHULUAN

Hutan adalah suatu ekosistem, yang terdiri dari komponen abiotik seperti udara, air, dan tanah, dan komponen biotik yang terdiri dari tumbuhan, hewan, jamur, dan mikroorganisme (Wiryono, 2012:5). Hutan dipandang

(2)

sebagai suatu ekosistem karena hubungan antara masyarakat tetumbuhan pembentuk hutan dengan binatang liar dan alam lingkungannya sangat erat (Indriyanto, 2012:3). Menurut Cahyono (2013:1) hutan dengan segala potensi yang terdapat di dalamnya merupakan kekayaan yang harus dilestarikan sehingga dapat berguna secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat tanpa merusak ekosistemnya. Sumber daya hutan, selain mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, juga nilai sosial dan yang tidak kalah penting adalah nilai ekologi.

Komunitas tumbuhan hutan memiliki dinamika atau perubahan, baik yang disebabkan oleh adanya aktivitas alam maupun manusia. Aktivitas manusia yang berkaitan dengan upaya memanfaatkan hutan sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan kondisi komunitas tumbuhan yang ada di dalamnya. Aktivitas manusia di dalam hutan dapat bersifat merusak juga bersifat memperbaiki kondisi komunitas tumbuhan hutan (Indriyanto, 2012:163). Ulah manusia yang bersifat merusak seperti pembakaran hutan dan penggundulan hutan yang menyebabkan perubahan pada ekosistem baik sebagian maupun keseluruhan yang diikuti perubahan jenis dan jumlah vegetasi pada daerah tersebut (Natalia dan Handayani, 2013:64).

Cara yang paling efektif untuk melestarikan keanekaragaman hayati di suatu ekosistem adalah melestarikan komunitas hayati secara utuh (Bakri,2009:16). Salah satu caranya adalah dilaksanakannya perlindungan dan pelestarian hutan antara lain dengan penunjukan tempat-tempat tertentu sebagai hutan lindung. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, pengendalian erosi, dan memelihara kesuburan tanah (Kelompok Tani Hutan, 2015:3). Salah satu hutan lindung yang ada di Kabupaten Musi Rawas adalah Hutan Lindung Bukit Cogong. Hutan Lindung Bukit Cogong Daerah Kabupaten Musi Rawas, merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai hutan lindung berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No:76/Menhut-II/2001 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Kelompok Hutan Lindung

(3)

Bukit Cogong (HLBC) terdiri atas tiga bukit yaitu, Bukit Cogong I atau Bukit Botak, Bukit Cogong II atau Bukit Besar, dan Bukit Cogong III atau Bukit Gatan. Bukit Cogong II merupakan salah satu bukit yang dijadikan sebagai tempat wisata dan sebagai objek penelitian. Salah satu upaya pelestarian Hutan Lindung Bukit Cogong yaitu dengan membentuk kelompok tani, Pemerintah Kabupaten Musi Rawas memberikan luas (±290 Ha) sebagai Hutan Kemasyarakatan (HKM) berdasarkan keputusan Bupati Musi Rawas No.389/KPTS/KEHUT/2015 tentang pemberian izin usaha pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (HKM). Hutan kemasyarakatan di Bukit Cogong dibagi menjadi 2 (dua) area, yaitu Hutan Pemanfaatan (±205 Ha) yang akan dikelola dan dimanfaatkan oleh kelompok tani setempat dan Hutan Perlindungan (±85 Ha).

Berdasarkan hasil observasi awal tanggal 27 November s.d 3 Desember 2016, di daerah hutan lindung Bukit Cogong ditumbuhi oleh berbagai jenis vegetasi tumbuhan mulai dari strata herba, semak, perdu, pohon dan permudaannya (tiang, pancang, dan semai). Berkaitan dengan kehadiran vegetasi, penting untuk menganalisa vegetasi dengan mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi yang meliputi mempelajari tegakan hutan yaitu tegakan tingkat pohon dan permudaannya (tingkat tiang, pancang, dan semai) dan mempelajari tegakan tumbuhan bawah yaitu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan selain permudaan pohon.

Berdasarkan pengamatan visual kawasan hutan Lindung Bukit Cogong memiliki keanekaragaman vegetasi strata pohon dan permudaannya yang tinggi. Salah satu vegetasi permudaan pohon yaitu vegetasi strata tiang. Menurut Zulfahmi dan Rosmaina (2013:5) tiang adalah pohon muda yang diameternya mulai 7 cm sampai diameter < 20 cm. Vegetasi permudaan pohon tingkat tiang berperan dalam pembentukan struktur tegakan hutan dimana mempunyai fungsi mereduksi polutan dan memproduksi oksigen, memperbaiki

(4)

kualitas iklim lokal serta pengontrol radiasi sinar matahari. Maka, perlu adanya data permudaan pohon tingkat tiang di Hutan Bukit Cogong yang belum terdata, sehingga perlu dilakukan penelitian “Analisis Vegetasi Strata Tiang di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas”.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatf. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2017 sampai bulan Juni 2017 di areal Hutan Perlindungan Bukit Cogong II (Bukit Besar) Kabupaten Musi Rawas. Alat-alat yang digunakan adalah kantong plastik, meteran, pasak, soil tester, thermometer, hygrometer, tabel pengamatan, alat tulis, kamera dan log book. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta Bukit Cogong, aquades, dan semua jenis vegetasi strata tiang yang ditemukan di seluruh transek penelitian.

Pengambilan contoh vegetasi dalam penelitian ini menggunakan metode tanpa plot (Plotless) yang terpusat di titik (point centered quarter method) atau metode kuadran. Pada metode ini, empat jarak diukur tiap-tiap titik sampling. Setiap titik sampling dibuat 4 kuadran (quarter) dengan membuat garis saling tegak lurus. Jarak pohon terdekat ke titik sampling dari masing-masing kuadran diukur, kemudian dirata-rata (Wiryono, 2012:106). Keseluruhan luas area hutan perlindungan yaitu 85 ha atau 850.000 m2 di ambil 20% sebagai area penelitian (Irawati, 2014:11). Sehingga luas area penelitian yaitu 17 ha atau 170.000 m2. Area penelitian 170.000 m2 dibagi menjadi tiga area kajian sehingga luas masing-masing area kajian 56.666 m2.

Data pengukuran vegetasi strata tiang yang dikumpulkan ditabulasikan ke dalam tabel dan dianalisis untuk mendapatkan nilai Densitas Relatif (KR), Frekuansi Relatif (FR), Dominansi Relatif (DR), Indeks Nilai Penting (INP), dan Indeks Keanekaragaman (H’). Menurut Rasidi (2004:59) dan Fachrul (2012:51), rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Densitas

Densitas i = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑖

(5)

Densitas Mutlak (DT) = 𝑈𝑛𝑖𝑡 𝑎𝑟𝑒𝑎 (𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘)2 Rata-rata jarak = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 4𝑥𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑙𝑖𝑛𝑔 Densitas Relatif (KR) = 𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑖 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑥 100% 2. Frekuensi Frekuensi i = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑙𝑖𝑛𝑔 Frekuensi Relatif (FR) = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑖 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑥 100% 3. Dominasi Dominansi = 𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑎𝑠𝑎𝑙 𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑖 𝑋 𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑖 Dominansi Relatif (DR) = 𝐷𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑖 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑥 100% 4. INP INP = KR + FR + DR Keterangan:

INP = indeks nilai penting KR = kerapatan relatif FR = frekuensi relatif DR = dominasi relatif 5. Indeks Keanekaragaman

Perhitungan indeks keanekaragaman dapat dihitung menurut Shannon Wiener, yaitu: H’ = − ∑ {(𝑛𝑖 𝑁) 𝑙𝑛 ( 𝑛𝑖 𝑁)} Keterangan:

H’= indeks keanekaragaman Shannon ni = jumlah individu dari suatu spesies N = jumlah total individu

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Indeks Nilai Penting Spesies Pohon Pada Area Kajian A

Gambar 1. Grafik Rerata INP Strata Pohon di Area Kajian A

0 20 40 60 80

100

Rerata INP Area Kajian A

Spesies R er at a INP

(6)

Pada Area Kajian A merupakan daerah yang paling banyak jenis-jenis tumbuhan strata tiang, terdapat 24 jenis untuk strata tiang. Rerata Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada Area Kajian A adalah tumbuhan karet (Hevea brasiliensis) sebesar 85,66%. Menurut Damanik (2010:2) untuk pertumbuhan terbaiknya, tanaman Hevea brasiliensis memerlukan persyaratan iklim dan tanah yang sesuai. Suhu harian yang sesuai dengan Hevea brasiliensis adalah 25– 30oC dan derajat keasaman mendekati normal cocok untuk tanaman karet, yang paling cocok adalah pH 5-6. Batas toleransi pH tanah adalah 4-8. Dengan demikian area kajian A cocok untuk pertumbuhan Hevea brasiliensis, karena berdasarkan hasil pengukuran suhu udara yang terukur yaitu berkisaran 280C- 290C dan pH tanah dalam keadaan asam berkisar 6,3-6,7. INP terkecil pada Area Kajian A terdapat pada rambai (Baccaurea mutleana) yaitu sebesar 1,33%. Baccaurea mutleana hanya terdapat pada satu stand saja yaitu stand 7 dengan jumlah 1 individu, sehingga Baccaurea mutleana kemungkinan adalah tanaman yang tumbuh dikarenakan tidak sengaja terbawa arus sungai dan pada daerah sekelilingnya masih di dominasi dengan tumbuhan karet.

2. Indeks Nilai Penting Spesies Pohon Pada Area Kajian B

Gambar 1. Grafik Rerata INP Strata Pohon di Area Kajian B

Rerata Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada Area Kajian B diraih oleh tumbuhan yang sama pada Area Kajian A yaitu Hevea brasiliensis atau yang lebih dikenal dengan nama daerah karet merupakan strata tiang dengan Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada Area Kajian B sebesar 73,61%. Hevea brasiliensis merupakan tanaman yang sengaja ditanam untuk

0 20 40 60 80 Hev ea … Pt er os per m … C o ff ea s p L an siu m … Ar th oca rp us … Ar ch id en dr … Du rio … Fi cu s… Av er rh oa… T ec to na… C an an giu m … B ac ca u rea s p L its ea f ir m a Als to nia… E nd os per m … S h o rea sp T er m in al ia… Po m etia…

Rerata INP Area Kajian B

Spesies R er at a INP ( % )

(7)

dimanfaat oleh masyarakat sekitar. Selain itu, kemungkinan penyebaran Hevea brasiliensis melalui biji yang jatuh dan menemukan tempat sesuai untuk tumbuh. Menurut Damanik (2010:7) biji karet memiliki daya kecambah baik adalah biji yang masih dalam keadaan segar. Artinya, baru jatuh dari pohonnya atau paling lambat empat hari setelah jatuh. tanaman karet akan berproduksi maksimal pada pH tanah yang subur dengan pH antara 5-6 dan suhu udara 250C-300C. Dengan demikian area kajian B cocok untuk pertumbuhan Hevea brasiliensis, karena berdasarkan hasil pengukuran suhu udara yang terukur yaitu berkisaran 28,30C-300C dengan pH tanah dalam keadaan asam berkisar (6,3-6,7). INP terkecil pada area kajian B terdapat pada Pometia pinnata atau yang lebih dikenal dengan nama daerah matoa yaitu sebesar 2,60%. Indriyanto (2015:135) menyatakan Pometia pinnata pada umumnya tumbuh di tempat-tempat yang tidak digenangi air, meskipun kadang-kadang tumbuh di pinggir-pinggir sungai yang pada musim hujan terkena genangan sementara air tawar. Menurut Pratiwi (2014:55) Pometia pinnata dapat tumbuh pada suhu 180C-320C dan tekstur tanah ringan-berat dengan keadaan pH tanahnya asam (5,5)–netral (7). Dengan demikian areal perlindungan hutan kemasyarakatan (HKm) Bukit Cogong cocok untuk tumbuhnya Pometia pinnata dengan pH yang bersifat asam (6,3-6,7).

3. Indeks Nilai Penting Spesies Pohon Pada Area Kajian C

Gambar 1. Grafik Rerata INP Strata Pohon di Area Kajian C

Strata tiang yang terdapat di area kajian C terdapat 21 jenis. Rerata Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada Area Kajian C yaitu Shorea sp yang mempunyai nama daerah meranti yaitu sebesar 47,93%. Menurut

0 10 20 30 40 50 60 R ER A TA INP (% ) SPESIES

RERATA INP AREA

KAJIAN C

(8)

Pratiwi (2014:56) suhu udara yang cocok untuk tempat tumbuh Shorea sp adalah 180C-320C dan keadaan tanahnya asam (<7) sampai netral (7). Dengan demikian area kajian C cocok untuk pertumbuhan Shorea sp, karena berdasarkan hasil pengukuran suhu udara yang terukur yaitu berkisar 28,30C-300C dan pH tanah dalam keadaan asam (6,3-6,5). rerata INP terkecil pada area kajian C terdapat pada Parkia speciosa atau yang lebih dikenal dengan nama daerah petai yaitu sebesar 2,03%. Menurut Setiawan (2000:139) Jenis tanah yang cocok untuk tanaman petai adalah latosol dan mediteran. tanahnya bertekstur halus yang terdiri dari debu dan lempung yang tidak berpasir. Derajat keasaam yang cocok untuk tempat tumbuh Parkia speciosa adalah antara 5,5-6,5. Dengan demikian di area kajian C Parkia speciosa tetap dapat tumbuh dengan pH yang bersifat asam karena Parkia speciosa tetap bisa tumbuh dengan keadaan pH asam sampai netral.

4. Indeks Keanekaragaman (Indeks Diversitas) Tabel 1.

Rerata Indeks Keanekaragaman Masing-masing Area Kajian

Area Kajian Stand H’ Area Kajian Stand H’ Area Kajian Stand H’ A 1 1,28 B 1 1,80 C 1 1,83 2 1,67 2 1,21 2 1,89 3 1,97 3 2,05 3 1,24 4 2,21 4 1,90 4 1,69 5 1,97 5 1,56 5 1,52 6 1,67 6 1,24 6 1,69 7 2,45 7 1.49 7 2,02 8 1,86 8 1,56 8 2,16 9 2,34 9 2.04 9 2,02 10 2,10 10 2,14 10 2,16 Jumlah 19,52 16,99 18,22 Rerata H’ 1,95 1,70 1,82 Ket Sedang Melimpah Sedang Melimpah Sedang Melimpah

Ketiga area kajian penelitian memiliki Indeks Keanekaragaman yang sedang melimpah sesuai dengan kriteria menurut Shannon-Wiener dalam Fachrul (20012:51) jika nilai H’ > 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman

(9)

spesies pada daerah tersebut adalah melimpah tinggi, sedangkan jika H’ 1 ≤ H’ ≤ 3 menunjukkan bahwa keanekaragaman spesies pada suatu transek adalah sedang melimpah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada ketiga area kajian penelitian memiliki keanekaragaman spesies yang sedang melimpah. Indriyanto (2012:146), juga mengemukakan bahwa keanekaragaman jenis suatu komunitas tinggi jika komunitas itu disusun oleh banyak jenis, sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah jika komunitas itu disusun oleh sedikit jenis dan hanya sedikit jenis yang dominan.

5. Faktor Lingkungan Abiotik yang terukur Tabel 2.

Tabel Kondisi Lingkungan Abiotik yang Terukur pada Ketiga Area Kaji

Faktor lingkunagan abiotik di areal perlindungan hutan kemasyarakatan (HKm) Bukit Cogong sesuai untuk pertumbuhan sebagian besar tumbuhan yang ada di areal tersebut.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi strata tiang di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas adalah Nilai Penting (INP) tertinggi pada Area Kajian A adalah tumbuhan karet (Hevea brasiliensis) sebesar 85,66% dan INP terkecil adalah rambai (Baccaurea mutleana) sebesar 1,33%.

(10)

Sedangkan Area Kajian B yang memiliki INP tertinggi adalah Hevea brasiliensis sebesar 74,27% dan INP yang terendah adalah Pometia pinnata sebesar 2,60%. Sedangkan Area Kajian C yang memiliki INP tertinggi adalah Shorea sp 47,93% dan INP terendah adalah Parkia speciosa sebesar 2,03%.

2. Indeks Keanekaragaman (H’) vegetasi strata Tiang di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas adalah Area Kajian A memiliki rerata H’ sebesar 1,95 dan memiliki keanekaragaman sedang melimpah. Sedangkan pada Area Kajian B memiliki rerata H’ sebesar 1,70 dan memiliki keanekaragaman sedang melimpah. Sedangkan Area Kajian C memiliki rerata H’ sebesar 1,82 dan memiliki keanekaragaman sedang melimpah.

3. Faktor lingkungan abiotik pada areal perlindungan hutan kemasyarakatan di Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas dengan suhu tanah berkisar 27,30C-290C, suhu udara 28,80C-300C dengan kelembaban udara berkisar 86%-93%, kelembaban tanah 0,8-1,7 dan pH tanah berkisar 6,3-6,7.

DAFTAR PUSTAKA

Bakri. 2009. Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon Tersimpan Pada Pohon di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir. Tesis tidak diterbitkan. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara: Medan

Cahyono, E. 2013. Valuasi Ekonomi Hutan Lindung Bukit Cogong Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan. Tesis tidak diterbitkan. Bengkulu: Jurusan Pengelolaan dan Sumberdaya Alam Lingkungan, Fakultas Pertanian-Universitas Bengkulu.

Damanik, S. dkk. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Karet. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan: Bogor.

Fachrul, M. F. 2012. Metode Sampling Bioekolgi. PT Bumi Aksara: Jakarta.

(11)

. 2015. Dendrologi Teori dan Praktik Menyidik Pohon. Plantaxia: Yogyakarta

Irawati, H. 2014. Analisis Vegetasi Strata Pohon di Sepanjang Sempadan Sungai Code Yogyakarta.Jurnal Bioedukatika: Vol. 2 No 1:10-15.

Kelompok Tani Hutan. 2015. Rencana Umum Hutan Kemasyarakat Hutan Lindung Bukit Cogong. Musi Rawas.

Natalia, Dyna dan Trikinasih Handayani. 2013. Analisis Vegetasi Strata Semak Di Plawangan Taman Nasional Gunung Merapi Pasca Erupsi Merapi 2010. Jurnal Bioedukatika: Vol. 1 No. 1: 1-96.

Pratiwi. dkk. 2014. Atlas Jenis-Jenis Pohon Andalan Setempat untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Indonesia. Forda Press: Bogor. Rasidi, S. 2004. Ekologi Tumbuhan. Universitas Terbuka: Jakarta.

Setiawan, Ade Iwan. 2000. Penghijauan dengan Tanaman Potensial. Penebar Swadaya: Jakarta.

Wiryono. 2012. Ekologi Hutan. UNIB Press: Bengkulu.

Zulfahmi dan Rosmaina. 2013. Penuntun Praktikum Keanekaragaman Hayati. Fakultas Pertanian dan Peternakan. UIN Suskariau: Pekanbaru.

Gambar

Gambar 1. Grafik Rerata INP Strata Pohon di Area Kajian A 0
Gambar 1. Grafik Rerata INP Strata Pohon di Area Kajian B
Gambar 1. Grafik Rerata INP Strata Pohon di Area Kajian C
Tabel Kondisi Lingkungan Abiotik yang Terukur pada Ketiga Area Kaji

Referensi

Dokumen terkait

Objektif utama rangka kerja pengurusan risiko pendanaan adalah untuk memastikan sedia ada dana yang cukup pada kos munasabah untuk memenuhi semua komitmen kewangan apabila

Pengujian H2 ; Terdapat pengaruh positif dan signifikan Komitmen terhadap Kinerja Dosen Hasil perhitungan menunjukkan sign (0,028) &lt;  =0,05 dengan demikian Ho

– Jika jangkah dinamik ADC Contoh 1 lebih besar dari 70 dB dan akurasi digitalisasinya ½LSB, akan dicari bit minimum dan celah waktu maksimum yang diperbolehkan untuk frekuensi

Bank Islam dapat menyediakan sumber-sumber pembiayaannya yang luas kepada para peminjam &#34;dengan prinsip tanpa bunga dimana antara shahib al-ndl dan mudharib

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pewarna sintetis yang dijual di pasaran dan yang dipakai oleh pedagang kecil rninuman serta

Manfaat dari pembuatan aplikasi Sistem Komputerisasi Pendataan Prasarana Lalu Lintas Kota Surakarta ini adalah Mendapatkan hasil laporan dari survei pendataan prasarana lalu

Pembelajaran bahasa Arab adalah suatu proses menambah pengetahuan tentang alat komunikiasi bahasa Arab yang dilakukan oleh seorang pengajar kepada peserta didik

Dengan sendirinya posisi perempuan dalam unsur tuha peut sendiri bukanlah unsur dominan yang harus dirangkul dalam proses penyelenggaraan pembangunan gampong, namun