• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT. Keywords: male female sex, sexual networks, sexually transmitted infections, risk behaviors

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRACT. Keywords: male female sex, sexual networks, sexually transmitted infections, risk behaviors"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

LSL merupakan populasi kunci yang memiliki prevalensi kasus IMS dan HIV yang cukup tinggi dibandingkan kelompok populasi kunci lainnya (WPS, penasun dan waria). Penyebaran infeksi IMS dan HIV khususnya dikalangan LSL pada beberapa penelitian diketahui dari pola jaringan seksual dan perilaku seksual. Mengetahui pola jaringan seksual dan perilaku seksual berkaitan dengan upaya yang bisa dilakukan untuk menemukan cara efisien dalam mengurangi IMS dan HIV di komunitas.

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan metode cross sectional dengan mewawancarai pasien LSL yang melakukan pemeriksaan IMS serta HIV di Puskesmas II Denpasar Barat dan Klinik Bali Medika dari bulan Agustus – Oktober 2015. Variabel yang diteliti yaitu faktor sosiodemografi (umur, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, lama tinggal, status hubungan dengan pasangan seks), variabel perilaku seksual (peran seksual, penggunaan kondom dan pelicin, riwayat IMS), variabel jaringan seksual (kepadatan jaringan seksual, sentralitas antara, selective mixing dan pola hubungan seksual). Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode regresi logistik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi karakteristik perilaku seksual LSL diketahui bahwa sebagian besar LSL memiliki peran seks insertif dengan pasangan seks tetap sedangkan peran reseptif dan versatile ditemukan dengan pasangan seks tidak tetap sedangkan dari segi penggunaan kondom LSL lebih banyak ditemukan dengan pasangan seks tidak tetap. Pada variabel jaringan seksual, kepadatan jaringan seksual pada penelitian ini tergolong rendah (2-3 pasangan seks), variabel selective mixing berdasarkan umur yang cenderung tidak selective pada kelompok usia tua dan selective pada kelompok usia muda, pola hubungan seks LSL yang dominan secara conccurent. Dari hasil analisa multivariat berdasarkan status HIV diketahui tidak ada hubungan antara variabel status HIV dengan perilaku seksual dan jaringan seksual. Pada variabel IMS diketahui variabel yang berpengaruh dengan kejadian IMS adalah tingkat pendidikan rendah, selective mixing berdasarkan umur dan peran seks reseptif. Variabel pendidikan rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena IMS dibandingkan dengan responden yang memiliki pendidikan tinggi (OR=0,18; 95% CI=0,050-0,692; p=0,012). Pada selective mixing LSL berdasarkan umur diketahui bahwa LSL yang tidak selective dalam memilih pasangan seksualnya berdasarkan umur memiliki risiko lebih tinggi terkena IMS dibandingkan LSL yang selective dalam memilih pasangan seksualnya berdasarkan umur (OR=0,417, 95% CI=0,170-1,024). Berdasarkan peran seks, LSL yang memiliki peran seks reseptif memiliki risiko terkena IMS lebih tinggi yaitu 5,28 kali dibandingkan dengan LSL yang berperan seks insertif dan versatile (OR=5,28; 95% CI=1,537-18,187).

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui orang kunci yang memiliki jaringan seksual luas terutama populasi LSL muda untuk diberikan intervensi dalam untuk menurunkan perilaku berisiko dalam jaringan seksualnya.

(2)

ABSTRACT

MSM is a key populations have a high prevalence of STIs and HIV cases is considerably higher than other key population groups (FSWs, IDUs and transgender). The spread of STIs and HIV infection, especially among MSM in some studies note of patterns of sexual networking and sexual behavior. Knowing the patterns of sexual networking and sexual behavior that could be associated with the efforts made to find an efficient way to reduce STIs and HIV in the community.

This research is an analytic research with cross sectional method by interviewing patients MSM inspecting STI and HIV at the health center II and West Denpasar Bali Medika Clinic of months from August to October 2015. The variables studied were sociodemographic factors (age, education, occupation, marital status , length of stay, relationship status with sexual partners), sexual behavior variables (sex roles, the use of condoms and lubricants, history of STIs), sexual network variables (density of sexual networks, centrality between selective mixing and patterns of sexual intercourse). Data were analyzed by using logistic regression method.

The results showed that in terms of the characteristics of MSM sexual behavior known that most MSM has a role insertive sex with regular sex partners, while the role of receptive and versatile found with nonregular sex partners while in terms of condom use MSM to be more prevalent with nonregular sex partners. On the sexual network variables, the density of sexual networks in this study was low (2-3 sex partners), mixing selective variable based on age who tend not selective in older age groups and selective in the younger age groups, the pattern of the dominant sex in conccurent MSM. From the results of the multivariate analysis based on HIV status is known there is no relationship between the variables of HIV status to sexual behaviors and sexual networks. In IMS unknown variables influential variable with incidence of STIs is a low level of education, selective mixing based on age and sex roles receptive. Variable higher education have a lower risk of STIs compared to respondents who have a higher education (OR = 0.18; 95% CI = 0.050 to 0.692; p = 0.012). In selective mixing LSL based on age is known that MSM are not selective in choosing their sexual partners by age have a higher risk of STIs than MSM are selective in choosing their sexual partners by age (OR = 0.417, 95% CI = 0.170 to 1.024). Based sex roles, MSM has a receptive sex roles have higher STI risk is 5.28 times compared with the MSM plays and versatile insertive sex (OR = 5.28; 95% CI = 1.537 to 18.187).

The results of this study can be used to determine the key people who have extensive sexual network especially young MSM population to be given in the form of IEC interventions to reduce risky sexual behavior in MSM.

Keywords: male female sex, sexual networks, sexually transmitted infections, risk behaviors

(3)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... ii

PERSYARATAN GELAR ... iii

LEMBAR PERSEJUTUAN ... iv

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... v

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISM ... vi

UCAPAN TERIMA KASIH ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xiv

DAFTAR ISTILAH ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 5 1.3.1 Tujuan Umum ... 5 1.3.2 Tujuan Khusus ... 5

(4)

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 6

1.4.2 Manfaat Praktis ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

2.1 LSL (Laki-laki Seks Laki-Laki) dan Homoseksualitas ... 7

2.2 Perilaku Seksual LSL ……… ... 7

(5)

2.4 Kaitan IMS dan HIV dengan Perilaku Seksual dan Jaringan Seksual

Pada LSL ... 16

2.5 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual dan Jaringan Seksual LSL ... 17

BAB III. KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS ... 22

3.1. Kerangka Berpikir ... 22

3.2. Konsep Penelitian ... 23

3.3 Hipotesis Penelitian ... 24

BAB IV. METODE PENELITIAN ... 26

4.1 Rancangan Penelitian ... 26

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 26

4.2.1 Lokasi Penelitian ... 26

4.2.2 Waktu Penelitian ... 26

4.3 Penentuan Sumber Data ... 27

4.3.1 Populasi ... 27 4.3.2 Sampel Penelitian ... 27 4.4 Variabel Penelitian ... 31 4.5 Instrumen Penelitian ... 37 4.5.1 Data Primer ... 37 4.5.2 Data Sekunder ... 37 4.6 Analisis Data ... 38 4.6.1 Pengolahan Data ... 38 4.6.2 Analisa Data ... 38

(6)

BAB V HASIL PENELITIAN ... 43

5.1 Karakteristik Responden ... 43

5.2 Karakteristik Jaringan Seksual ... 44

5.2.1 Kepadatan Jaringan ... 45

5.2.2 Sentralitas Antara ... 47

5.2.3 Selective Mixing ... 47

5.2.4 Pola Hubungan Seksual ... 49

5.3 Karakteristik Perilaku Seksual ... 50

5.4 Analisis Bivariat Antara Karakteristik Demografis, Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan IMS dan HIV pada LSL ... 51

5.4.1 Analisis Bivariat Antara Karakteristik Demografis dengan kejadian IMS dan HIV pada LSL ... 51

5.4.2 Analisis Bivariat Antara Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan Kejadian IMS pada LSL ... 53

5.4.3 Analisis Bivariat Antara Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan Kejadian HIV pada LSL ... 55

5.5 Analisis Multivariat Hubungan Antara Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan Kejadian IMS pada LSL ... 57

5.6 Analisis Multivariat Hubungan Antara Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan Kejadian IMS pada LSL ... 58

BAB VI PEMBAHASAN ... 60

6.1 Karakteristik Sosiodemografi, Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual LSL ... 60

(7)

6.2 Hubungan Sosiodemografi dengan Kejadian IMS dan HIV pada LSL ... 62

6.3 Hubungan Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan Kejadian IMS pada LSL ... 64

6.4 Hubungan Antara Jaringan Seksual dan Perilaku Seksual dengan Kejadian HIV pada LSL ... 65

6.5 Keterbatasan Penelitian ... 67

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 69

7.1 Simpulan ... 69

7.2 Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR SINGKATAN

IMS : Infeksi Menular Seksual

WHO : World Health Organization

CDC : The Centre For Disease Control

STBP : Survei Terpadu Biologis dan Perilaku

WPSL : Wanita Pekerja Seks Langsung

LSL : Laki-laki Seks dengan laki-laki

WBP : Warga Binaan Pemasyarakatan

WPSTL : Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung Penasun : Pengguna Narkoba Suntik

(8)

HIV : Human Imunnodeficiency Syndrom

GSN : Geosocial Networking

KPA : Komisi Penanggulangan AIDS

YGD : Yayasan GAYa Dewata

LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat

PSL : Pekerja Seks Laki-laki

GO : Gonorea

KPAN : Komisi Penanggulangan AIDS Nasional GWL : Gay, Waria, Laki-laki seks laki-laki

API : Asian Pasific Islander

UNG : Uretritis Non Gonore

UG : Uretritis Gonore

SCP : Survei Cepat Perilaku

PCR : Polymerase Chain Reaction

CI : Confidence Interval

(9)

ix DAFTAR ISTILAH 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Selective Mixing Hubungan Seksual Kepadatan Jaringan Seksual Perilaku Seksual Perilaku Seksual berisiko Concurrent partnership Monogamy Partnership Sexual Mixing : : : : : : : :

kecenderungan pada LSL dalam memilih pasangan seks oleh kelompok dengan karakteristik tertentu terhadap kelompok lain yang memiliki karakteristik tersebut. koneksi atau hubungan yang terjadi antara LSL dengan pasangannya dalam bentuk kontak seksual

jumlah dan interaksi hubungan seks responden dengan pasangan seks selama 1 tahun terakhir.

Hal yang berkaitan dengan jenis kelamin yang mencakup orang-orang yang melakukan keintiman dengan orang lain maupun dirinya sendiri (autoseksual) untuk memperoleh kenikmatan erotis.

perilaku yang tidak aman pada hubungan seksual yang berisiko yang diketahui dari penggunaan kondom tidak konsisten

perilaku seks LSL dengan satu atau lebih pasangan/mitra seks dalam jangka/kurun waktu yang bersamaan

perilaku seks LSL dengan satu atau lebih pasangan /mitra seks dalam kurun waktu yang berbeda atau memiliki satu pasangan dalam jangka waktu panjang. Pola pencampuran hubungan seksual berdasarkan

(10)

x 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Jaringan seksual Jaringan sosial Assortative Mixing Dissasortative Mixing Age mixing Derajat sentralitas (degree of centrality) Sentralitas kedekatan (closeness of centrality) Sentralitas antara (betwenness of centrality) : : : : : : : :

karakteristik tertentu pada LSL

koneksi atau hubungan seksual yang terhubung antara seseorang dengan pasangan seksnya terdiri dari satu atau lebih pasangan seks dan digambarkan dalam bentuk jaringan

hubungan sosial orang-orang yang terkoneksi satu sama lain dan sewaktu-waktu bisa berubah

pola pencampuran hubungan seksual dengan latar belakang karakteristik yang sama (ras, warna kulit, pekerjaan, pendidikan, dll)

pola pencampuran hubungan seksual dengan latar belakang karakteristik yang berbeda (ras, warna kulit,pekerjaan, pendidikan, dll)

pola pencampuran hubungan seksual pada LSL berdasarkan umur

koneksi langsung yang terjadi antara anggota jaringan dengan sentral jaringan lainnya

koneksi yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung antara anggota didalam jaringan dan di luar dari jaringan tersebut.

jumlah titik/tanda yang kemungkinan sebagai

penghubung antar anggota jaringan yang satu dengan anggota jaringan yang lain

(11)
(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Sistem Jaringan Program Penanggulangan Merokok... 13

Gambar 2.2 Situasi HIV dan IMS di Daerah Jakarta, Bandung, Surabaya ... 16

Gambar 3.1 Konsep Penelitian ... 23

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Pengumpulan Data ... 79 Lampiran 2. Output Analisa Data ... 89

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Infeksi menular seksual (IMS) dan HIV merupakan masalah kesehatan global di dunia. Sebanyak satu juta orang dilaporkan mendapatkan infeksi baru IMS setiap tahunnya dan diperkirakan sebanyak 357 juta kasus baru IMS yang meliputi satu dari empat IMS utama yaitu: chlamydia, gonorrhoea, syphilis and trichomoniasis (WHO,2014). Sedangkan pada tahun 2015 diperkirakan sebanyak 36,7 juta orang di dunia telah terinfeksi IMS dan sebanyak 2,1 juta orang yang baru terinfeksi HIV (UNAIDS, 2016).

Epidemi kasus HIV di Indonesia masih tergolong pada epidemiologi terkonsentrasi dimana prevalensi HIV lebih dari 5% pada beberapa populasi kunci yaitu wanita pekerja seks(WPS), pengguna narkoba suntik (penasun), laki seks laki (LSL) dan waria (STBP, 2011). Hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) Tahun 2013 di beberapa kota besar di Indonesia menunjukkan prevalensi HIV pada populasi kunci tertentu mengalami penurunan dibandingkan hasil STBP 2011. Namun, angka prevalensi IMS mengalami peningkatan terutama pada hasil pemeriksaan gonore, sifilis dan klamidia di populasi kunci. Peningkatan prevalensi HIV dan IMS (sifilis) yang cukup signifikan terjadi di kelompok LSL yaitu meningkat sebanyak 2-3 kali dibandingkan STBP tahun 2011 dan 2007. Prevalensi HIV LSL tahun 2011 sebesar 8,48% sedangkan di tahun 2015 mencapai 25,80% (Kemenkes, 2015). Kondisi semacam ini juga terjadi di Provinsi Bali, dimana prevalesi IMS sifilis pada LSL meningkat dari 9,29% (2011) menjadi 15,71%

(15)

(2015), dan prevalensi HIV dari 8,48% (2011) menjadi 25,80% (2015) (Kemenkes, 2015).

Hasil surveilans generasi kedua di Indonesia memproyeksikan kecenderungan epidemi HIV sampai tahun 2025 akan terjadi peningkatan epidemi kasus HIV terutama pada kelompok pelanggan WPS dan LSL (KPAN, 2012). Keberadaan kelompok LSL juga menyerupai fenomena gunung es karena yang bisa dan telah dijangkau hanya sebagian kecil dan lainnya tersembunyi dan tidak mau mengungkapkan dirinya sebagai LSL sehingga tergolong sebagai hidden population (KPAN, 2011). Hal tersebut sejalan dengan estimasi jumlah populasi kunci LSL di Provinsi Bali, sebaran tertinggi adalah di Kota Denpasar (5.910 orang), Badung (4.890 orang) dan Buleleng (2.060 orang) (KPA Provinsi Bali, 2012). Tingginya jumlah LSL di Bali dikonfirmasi dengan data hasil penjangkauan Yayasan GAYa Dewata (YGD) sebagai salah satu LSM penjangkau LSL di Bali, dimana jumlah LSL yang dijangkau pada tahun 2010-2012 mencapai1.327 orang baru dan tahun 2014 mencapai 4.319 orang yang terdiri dari kelompok gay, pekerja seks laki-laki (PSL), kelompok biseksual maupun pelanggan PSL (YGD Bali, 2014).

Kelompok LSL merupakan kelompok populasi yang berisiko tertular IMS maupun HIV karena perilaku seksual berisiko seperti melakukan anal seks tanpa kondom dan pelicin serta berganti-ganti pasangan seksual (Mahendra, 2012). Hasil survei STBP menunjukkan penggunaan kondom konsisten pada LSL menurun dari 24% (2007) menjadi 19% (2011) (Kemenkes, 2011). Data STBP menunjukkan bahwa selama satu tahun terakhir sekitar 87% LSL melakukan seks kasual maupun seks

(16)

dengan membayar ataupun dibayar dengan pasangan pria, wanita dan waria (Kemenkes, 2007).

Dalam dekade terakhir, penelitian-penelitian menunjukkan jaringan seksual dan perilaku seksual merupakan determinan kunci dari penyebaran IMS dan HIV (Potterat, 2012). Penelitian mengenai perilaku seksual sebagai salah satu prediktor kejadian infeksi menular pada komunitas LSL dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan di Norwegia dengan metode survei melalui media internet menunjukkan 8% dari 2.430 LSL terinfeksi IMS dalam setahun terakhir, dengan rincian 0,7% sifilis, 1,4% gonore, 1,7% HIV dan 5,2% klamidia (Jacopanec, 2010). Penelitian sejenis di Hongkong menunjukkan bahwa 85 responden yang memiliki partner seksual LSL mengalami IMS sebesar 10,6%, dan indikasi yang sama terjadi juga pada 33,3% LSL yang melakukan hubungan seks anal dengan pasangan seks berbeda selama 6 bulan terakhir (Lau, 2002). Penelitian di USA menunjukkan bahwa LSL yang menggunakan aplikasi geosocial networking (GSN) untuk bertemu pasangan seksualnya memiliki risiko 1,25 kali positif terinfeksi gonore dan 1,37 kali berisiko terinfeksi klamidia dibandingkan dengan mereka yang bertemu langsung dengan pasangan seksualnya (Beymer, 2011).

Struktur jaringan seksual tertentu diasosiasikan dengan terjadinya penyebaran IMS sehingga diperlukan data dan analisa struktur jaringan seksual untuk menunjukkan indikator epidemi IMS yang lebih baik (Potterat, 2012). Jaringan seksual terdiri dari orang-orang yang secara seksual terhubung secara langsung dan tidak langsung. Jaringan ini dapat memberikan gambaran transmisi IMS atau HIV di

(17)

masyarakat melalui beberapa indikator yaitu jumlah orang yang terlibat di dalam jaringan, kepadatan jaringan, adanya orang yang terinfeksi dan dan menjadi sentral penyebaran infeksi dan pola pencarian pasangan seksual (Morris, 2007). Pemahaman pada pola jaringan di komunitas LSL dapat digunakan untuk menemukan cara efisien dalam mengurangi IMS dan HIV di komunitas (Wohlfeiler, 2005). Penelitian mengenai jaringan seksual pernah dilakukan pada etnis Afrika-Amerika dengan hasil rata-rata anggota jaringan seksual adalah 3,03 dengan concurrency hubungan seksual pada jaringan sosial mencapai 53% dan tingkat kepadatan rata-rata mencapai 0,42 yang berarti terdapat hubungan antara jaringan seksual maupun sosial antar anggota di dalam satu jaringan tersebut (Tobin, 2011).

Penelitian secara kuantitatif tentang jaringan seksual pada komunitas LSL di Indonesia telah dilaksanakan di Medan, Jakarta dan Bali. Hasilnya menunjukkan pola jaringan seksual yang berbeda-beda di masing-masing daerah. Hasil wawancara pada 1.329 responden yang dijumpai di hotspot atau bar di ketiga kota tersebut diketahui sebesar 45,3% LSL memiliki 1-5 pasangan seks dan dengan >10 pasangan seks sebesar 36%. Jumlah pasangan seks lebih dari 10 orang di masing-masing kota adalah Jakarta (38,4%), Bali (37,8%) dan Medan (33,7%) (Gierson, 2013). Khusus di Bali diketahui bahwa LSL yang sama berkunjung ke beberapa hotspot di Denpasar dan ke gay bar yang berlokasi di Badung. Hal ini berarti bahwa mobilitas pada kelompok LSL cukup tinggi (Gierson, 2013). Penelitian ini tidak mengaitkan jaringan seksual yang terjadi dengan jenis IMS tertentu serta perilaku pencarian layanan kesehatan LSL (Gierson, 2013).

(18)

Penelitian lain tentang jaringan seksual di Bali telah dilakukan sebelumnya tahun 2012 dengan metode FGD di 4 lokasi berbeda (Gianyar, Badung, Singaraja, dan Denpasar) di Bali. Penelitian tersebut melaporkan bahwa jumlah pasangan seks pada jaringan seks LSL dan waria berhubungan dengan profesi dan karakteristik pasangan seks. Adanya sexual mixing LSL dan Waria dengan laki-laki dan perempuan heteroseksual, dan perilaku concurrent partnership antara responden dengan pasangan seknya (Anaya, 2012). Kelemahan penelitian ini adalah tidak dijelaskan lebih jauh mengenai layanan kesehatan yang dikunjungi serta riwayat IMS yang dimiliki pasangan seksnya (Anaya, 2012).

Klinik Bali Medika merupakan layanan khusus komunitas LSL di Kabupaten Badung. Jumlah kunjungan pasien baru yang melakukan pemeriksaan pada bulan Oktober-Desember 2014 mencapai 202 orang dengan persentase IMS sebanyak 30% dari pasien yang berkunjung. Jenis IMS terbanyak adalah uretritis non GO (40%), proctitis (10%) dan sifilis (20%) (Klinik Bali Medika, 2014). Puskesmas II Denpasar Barat merupakan puskesmas dengan jumlah kunjungan LSL tertinggi dibandingkan puskesmas lainnya. Pada Bulan Oktober – Desember 2014, ditemukan 68 pasien LSL dengan jenis IMS yang paling banyak ditemukan adalah uretritis Non GO (5,8%), suspect gonorea (5,8%) dan kandidiasis (17,64%) (Puskesmas II Denpasar Barat, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

Tingginya kasus IMS dan HIV pada komunitas LSL menimbulkan pertanyaan terkait hubungan kejadian IMS dan HIV pada LSL dengan jaringan seksual dan

(19)

perilaku seksualnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini : “bagaimana hubungan antara jaringan seksual dan perilaku seksual dengan kejadian IMS dan HIV pada laki-laki seks laki-laki-laki-laki (LSL) di Denpasar dan Badung Tahun 2015?”

1.3 Tujuan Penelitan 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jaringan seksual dan perilaku seksual dengan kejadian IMS dan HIV pada pasien laki-laki seks laki-laki (LSL) di Denpasar dan Badung Tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui.

1. Karakteristik jaringan seksual (kepadatan jaringan, sentralitas antara, selective mixing, pola hubungan seksual (monogami dan concurrency) pada LSL.

2. Karakteristik perilaku seksual (peran seks insertif, reseptif dan versatile, penggunaan kondom, hubungan seks dengan pasangan seks, riwayat IMS pasangan seksual) pada LSL.

3. Hubungan jaringan seksual dengan kejadian IMS dan HIV pada LSL. 4. Hubungan perilaku seksual dengan kejadian IMS dan HIV pada LSL.

(20)

1.4 Maanfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan keilmuan di bidang kesehatan masyarakat terutama dalam isu jaringan seksual, perilaku seksual, IMS dan HIV dikalangan LSL untuk menurunkan insiden infeksi pada LSL.

1.4.2 Manfaat Praktis

Bagi instansi pemerintahan seperti Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan pihak LSM agar penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam menyusun strategi penanggulangan penularan infeksi IMS dan HIV serta secara tidak langsung bisa berdampak pada program yang menyasar kelompok LSL sehingga lebih tepat guna dan tepat sasaran. Untuk LSL muda, penelitian ini bisa menjadi bahan masukan untuk tidak berperilaku berisiko.

Referensi

Dokumen terkait

Proses pengerjaan administrasi secara manual yang telah dibahas pada sub bab sebelumnya, selanjutnya dibuat bentuk rancangan sistem baru yang akan menggunakan

(2) Pembayaran biaya jaminan persalinan pada pemberi pelayanan kesehatan/fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas dan jaringannya) dibayar dengan pola klaim

Bahasa ini banyak digunakan untuk mengembangkan aplikasi basis data ( database ). Salah satu contohnya adalah SQL.. Dalam melakukan suatukegiatan tentu saja kita

Lebih lanjut dapat diketahui bahwa masyarakat yang termasuk ke dalam kategori PBI atau pihak yang menerima bantuan jaminan kesehatan dari pemerintah terdiri

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi belakang. kepala melalui vagina, tanpa alat, pada usia genap 37minggu

1 Minggu Bahasa Arab - Hiwar - Penulisan khat - Kuiz - Imla’ - Buku skrap - Mewarna Meningkatkan tahap penguasaan terhadap subjek Bahasa Arab GPK Guru Subjek

13 , 80 % dari pen ,~ri!!lnan inforl!lasi yang diterima, oleh perusahaan- perusahaan golongan ekonomi lemah ini yang berasal dari pemerintah •.. Atau mcnduduki urutan

Sedangkan untuk memisahkan kulit padi dengan isinya (beras) menggunakan lesung dan alu. Padi ditumbuk hingga mengelupas kulitnya. Seringkali berasnya juga ikut