1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan dengan laut yang sangat luas. Sumberdaya yang dikandung oleh laut Negara Kesatuan Republik Indonesia salah satunya adalah terumbu karang. Potensi terumbu karang yang tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan potensi pariwisata yang bila dikembangkan dan dilestarikan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Keberadaan terumbu karang menjadikan beberapa wilayah di Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki potensi wisata laut bahari seperti penyelaman ataupun hanya sekedar selam dangkal (snorkling).
Kepulauan Seribu merupakan salah satu kabupaten di Provinsi DKI Jakarta yang berupa kumpulan pulau yang memiliki potensi terumbu karang. Potensi ini menjadikan Kepulauan Seribu diberikan Program Wisata Bahari oleh Pemerintah berdasarkan Implementasi Rencana Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta pada PERDA no 1 tahun 2008 DKI Jakarta. Permasalahan pulau-pulau kecil di Indonesia umumnya adalah limbah sampah yang sulit untuk dikelola karena keterbatasan ruang berupa luas wilayah. Kepulauan Seribu yang berupa kumpulan pulau-pulau kecil, memiliki permasalahan yang serupa dengan pulau-pulau kecil lainnya. Hal ini ditambah sampah yang berasal dari daratan pulau besar juga yang menjadi penyumbang terbesar kematian biota laut disekitar pesisir pulau kecil (Rubrik Berita IPB, 2009).
Limbah sampah di Kepulauan Seribu mencemari lingkungan pesisir khususnya pantai. Pencemaran yang terjadi adalah rusaknya pemandangan, dapat juga mengalami kerusakan terumbu karang karena keberadaan sampah terkumpul di pantai. Ketua kelompok nelayan di Kepulaun Seribu menyatakan dengan adanya sampah di pantai Pulau Panggang akan merusak terumbu karang (www.travel.detik.com, 2012). Pencemaran sampah di pantai ini juga mempengaruhi memudarnya daya tarik wisatawan untuk berwisata ke Kepulauan
2 Seribu. Salah satu cara masyarakat lokal menghadapi masalah sampah adalah dengan menjadikannya bahan reklamasi pantai demi meluaskan wilayah pulau.
Fenomena sampah menjadi diperlukan pengkajian lebih lanjut terhadap ekosistem terumbu karang yang merupakan aset dan potensi Kepulauan Seribu sebagai daerah wisata bahari. Melalui penelitian ini diharapkan dapat mengetahui keadaan ekosistem terumbu karang akibat sampah yang menjadi penyebab berkurangnya daya tarik wisata. Faktor lain juga perlu dikaji bila memang ada hal lain penyebab kerusakan terumbu karang. Hal ini bisa dilakukan melalui monitoring terumbu karang.
1.2. Permasalahan Penelitian
Pulau panggang merupakan pulau permukiman terpadat di Kepulauan Seribu. Panyebab semakin padatnya penduduk pulau ini dikarenakan kekerabatan yang masih kuat dan menganggap perbedaan sosial budaya dan ekonomi dengan pulau lain ataupun daerah lain tidak sesuai dengan penduduk Pulau Panggang, sehingga bisa dikatakan perkembangan penduduk hanya berada di dalam Pulau Panggang. Dampak yang ditimbulkan akibat kepadatan dan persebaran yang tak merata adalah permasalalahan pengelolaan. Permasalahan pengelolaan menyebabkan degradasi lingkungan pesisir seperti pencemaran air laut akibat sampah, abrasi dan reklamasi sporadis yang kemudian akan merusak terumbu karang (www.jakarta.go.id, 2010). Hal ini bertentangan dengan kebijakan daerah dimana rencana tata ruang Kepulauan Seribu merupakan program wisata bahari.
Pencemaran pada air laut salah satunya dikarenakan sampah rumah tangga yang berupa sampah organik dan anorganik. Beberapa lokasi di pantai Pulau Panggang, terdapat keberadaan sampah-sampah menumpuk disepanjang pesisir pantai (Gambar 1.1. dan 2.1.). Sampah ini selain mengganggu pemandangan tentu saja mengganggu ekosistem pantai terutama terumbu karang yang merupakan aset wisata bahari.
3 Gambar 1.1. dan 1.2. Sampah di Pulau Panggang diambil pada bulan Mei 2013
(semestahijau.blog.dompetdhuafa.org, 2013)
1.3. Tujuan
Tujuan penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui sebaran sampah dan pengaruhnya pada terumbu karang 2. Mengetahui tingkat kerusakan terumbu karang
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian diharapkan dapat memberi sumbangan bagi ilmu pengetahuan terkait dampak aktivitas manusia terhadap terumbu karang, dalam hal ini fenomena sampah plastik yang mungkin mempengaruhi terumbu karang. Manfaat bagi pembangunan adalah sebagai bahan pertimbangan dan kajian bagi pengembangan wilayah Kepulauan Seribu yang digadang sebagai wilayah Program Wisata Bahari sehingga dapat lebih menjaga aset wisata baharinya yang berupa terumbu karang. Memberi manfaat juga sebagai referensi penelitian lain terkait hal terumbu karang.
1.5. Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai kerusakan terumbu karang sudah banyak dijumpai, namun penelitian yang sudah ada sering hanya mengkaitkan dengan kerusakan terumbu karang yang biasanya terjadi. Penelitian ini diadakan untuk mengetahui
4 seberapa besar salah satu faktor perusak terumbu karang yaitu keberadaan sampah. Keaslian penelitian dapat dilihat berdasarkan tabel 1.1 berikut :
Tabel 1.1. Keaslian Penelitian
No Judul
Peneliti dan Tahun Penelitian
Tujuan Metode Hasil
1 Kerusakan Terumbu Karang di Perairan Sepanjang Pantai Sumatera Barat Andreas Kunzman n dan Yempita Efendi (1994) Mengetahui kondisi terumbu karang di perairan pantai barat Sumatera Barat Transek Garis dan Mantatow 74,1% (20 lokasi) mengalami kerusakan berat, 22,2% (6 lokasi) mengalami kerusakan sedang dan 3,7% (1 lokasi) terumbu karangnya masih sangat baik, yaitu Pulau Pieh.
2 Strategi Pengelolaa n Sampah Di Kawasan Kepulauan Seribu Firman L. Sahwan (2004) Mengetahui pengelolaan sampah yang dilakukan di kawasan kepulauan seribu Survey Penerapan teknologi pengolahan sampah di kawasan Kepulauan Seribu sebaiknya merupakan kombinasi dari berbagai teknologi seperti daur ulang sampah anorganik, pengkomposan sampah organik, pembakaran (incenerator) dan sistem pembuangan akhir. 3 Kerusakan Terumbu Karang di Kepulauan Karimunja wa Riveral Hikmah (2009) Mengetahui sebaran terumbu karang di Kepulauan Karimunjaw a tahun 1997, 2006 dan 3009 serta mengetahui Survey dan Pengindra an Jauh Pola sebaran terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa umumnya memiliki pola linear mengikuti garis pantai sampai kedalaman 40 meter. Kerusakan terumbu karang lebih tinggi
5 pola kerusakan karang dan faktor fisik yang mempengar uhinya.
pada bagian barat Kepulauan
Karimunjawa. Pola kerusakan sebagian besar mengikuti aliran arus laut.
4 Kajian Potensi Kerusakan Terumbu Karang dan Alternatif Pemecahan nya di Perairan Sanur Rahmadi Prasetyo dam I Gede Widhianta ra (2012) Mengetahui kondisi terkini kondisi terumbu karang di perairan Sanur serta mengkaji potensi kerusakan yang terjadi selama ini dengan membandin gkan hasil monitoring yang telah dilakukan pada beberapa tahun yang lalu di lokasi yang sama dengan metoda yang sama Metode LIT dan Visual Census Hasil monitoring menunjukan keadaan terumbu karang sedang hingga baik di Perairan Sanur 5 Strategi Pengelolaa n Lingkunga n Pantai Tanjung Pesona Kabupaten Bangka Untuk Pengemba Jimmy Margomg om Tambunan (2013) (1) menganalisi s kondisi kualitas lingkungan perairan Pantai Tanjung Pesona, (2) menganalisi s kesesuaian Survey Perairan Pantai Tanjung Pesona tidak berbau dan tidak dijumpai adanya lapisan minyak dan sampah yang terapung. Beberapa parameter fisika kimia yang diukur masih sesuai untuk kegiatan
6 ngan Wisata fisik pantai untuk kegiatan wisata pantai, (3) menganalisi s daya dukung kawasan pantai untuk kegiatan wisata pantai, dan (4) menganalisi s strategi pengelolaan lingkungan wisata pantai yang berkelanjuta n.
wisata bahari. Hasil analisis kesesuaian wisata masuk kedalam kategori rekreasi pantai dan berenang. 6 Analisis Kerusakan Pantai Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah dan Penentuan Konsep Penangana nnya Fadilah (2013) Mengidentif ikasi jenis kerusakan pantai di Kecamatan Pondok Kelapa, menganalisi s penyebab kerusakan pantai tersebut dan menentukan konsep penanganan nya. Deskriptif analitik melalui studi kasus Proses kerusakan pantai Kecamatan Pondok Kelapa terjadi akibat faktor alam berupa kondisi hidro-oseanografi lokasi dan faktor antropogenik berupa kegiatan masyarakat, maka perlu
dilakukan
penanganan yang tepat dan terbaik terhadap kerusakan pantai tersebut, baik secara alami melalui endors manusia dengan suplai sedimen (sand nourishment) dan penanaman kembali tanaman pelindung pantai, maupun secara buatan
7 dengan bangunan pelindung pantai tembok laut (sea wall), revetmen, dan jetty.
1.6. Tinjauan Pustaka 1.6.1. Oseanografi 1.6.1.1. Kecerahan
Kecerahan merupakan salah satu dari oseanografi fisika yang merupakan daya absorsi cahaya pada zat cair yang dipengaruhi oleh padatan terlarut maupun warna zat cair. Kemampuan air laut dalam merambatkan cahaya khususnya sinar matahari sangat penting karena sinar matahahari merupakan salah satu kebutuhan khususnya untuk melakukan fotosintesis untuk beberapa biota laut. Pada air laut jernih, sinar matahari dengan cepat terabsorsi hingga mencapai 100 meter namun saat keruh berkisar antara 30 meter hingga 10 meter, bahkan apabila sangat keruh sinar matahari hanya dapat terabsorsi <3 meter. Penetrasi sinar matahari dapat mempengaruhi tipe dan distribusi organisme di laut serta suhu laut (Bishop, 1983 dalam Mukhtasor, 2007)
1.6.1.2. Suhu Perairan
Sinar matahari yang dapat terabsorsi hingga 100 meter mempengaruhi suhu pada kedalaman batas absorsi sinar matahari. Perubahan suhu dapat juga karena hembusan angin. Suhu air merupakan salah satu parameter yang sering diukur karena terkait pada proses fisika, kimia dan biologi laut. Penyebaran suhu laut diakibatkan oleh arus dan turbulensi. Daerah yang tidak terkena sinar matahari dan tidak terpengaruh oleh arus karena hembusan angin akan lebih stabil. (Mukhtasor, 2007)
8 1.6.1.3. Salinitas
Rasa asin air laut disebabkan oleh terlarut bermacam-macam garam, terutama garam NaCl. Batas toleransi terumbu karang menghadapi factor salinitas berkisar antara 27-42‰ (per mil/ppm). Terumbu karang umumnya dapat bertahan pada salinitas laut normal berkisar 32-35 ‰. Kisaran salinitas tersebut merupakan salinitas optimal bagi terumbu karang untuk menghasilkan kalsium karbonat sebagai pembentuk terumbu. (Guntur, 2011)
1.6.2. Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem di dasar laut tropis dibangun terutama oleh biota penghasil kapur, khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya, seperti jenis jenis moluska, crustacea, echinodermata, polychaeta, porifera dan tinucata serta biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis ikan lainnya (gambar 1.3). Terumbu karang merupakan sumberdaya alam penting di Indonesia. Terumbu karang di Indonesia menempati luas hingga 7500 km² dari luas perairan Indonesia. Luasan ini termasuk di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) 7,1 juta Km². Luasan terumbu karang ini tersebut tercatat sekitar 71% yang sudah rusak, sedangkan yang masih baik berkisar 22,5%, dan sangat baik 6,5% (Supriharyono, 2007).
9 1.6.2.1. Tipe Terumbu Karang
Menurut letaknya, Supriharyono (2007) membedakan terumbu karang menjadi tiga tipe (gambar 1.4), yaitu:
1. Terumbu karang tepi (fringing reef) 2. Terumbu karang penghalang (barrier reef) 3. Terumbu Karang Cincin (Atoll)
Gambar 1.4. Tipe Dasar Geologis Terumbu Karang
Terumbu karang tepi (fringing reef) adalah terumbu yang tumbuh ke arah atas dan ke arah laut. Pertumbuhan terbaik terdapat di bagian yang cukup arus, sedangkan diantara pantai dan tepi luar terumbu mempunyai pertumbuhan yang kurang baik, bahkan banyak yang rusak lalu mati karena mengalami kekeringan dan banyak endapan yang datang dari darat. Terumbu ini berbatasan dengan dataran pulau besar atau umumnya terdapat pada pulau-pulau kecil. Perkembangan bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal.
10 Menurut tipe bentuk pertumbuhan karang (gambar 1.5) dan karakteristik dari masing-masing genera menurut Ellen Tjandra dan Yosua Ronaldo (2011), yaitu:
Gambar 1.5. Tipe Bentuk Terumbu Karang
a. Tipe daun (foliose); karang ini tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan melingkar.
b. Tipe padat (massive); karang ini berbentuk seperti bola, ukurannya bervariasi mulai dari sebesar telur sampai sebesar ukuran rumah. Jika pada beberapa bagian karang itu mati, karang ini akan berkembang menjadi tonjolan sedangkan bila berada di daerah dangkal di bagian atasnya akan berbentuk seperti cincin. Permukaan terumbu halus dan padat.
11 c. Tipe jamur (mushroom); karang ini berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit yang berlur dari tepi hingga kepusat mulut.
d. Tipe bercabang (branching); karang seperti ini memiliki cabang dengan ukuran cabang lebih panjang dibandingkan dengan ketebalan atau diameter yang dimilikinya.
e. Tipe meja (tabulate); karang ini berbentuk menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopang oleh sebuah batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.
f. Tipe kerak/merayap (encrusting); karang seperti ini tumbuh menutupi permukaan dasar terumbu. Karang ini memiliki permukaan kasar dan keras serta lubang- lubang kecil.
1.6.2.2. Syarat Hidup Terumbu Karang
Terumbu karang terdapat di lingkungan perairan yang agak dangkal, seperti Paparan Benua dan gugusan pulau-pulau di perairan tropis. Untuk mencapai pertumbuhan maksimum, terumbu karang memerlukan perairan yang jernih dengan suhu air perairan yang hangat (25-29°C), kedalaman kurang dari 25 meter, gerakan gelombang yang besar, dan sirkulasi air yang lancar serta terhindar dari proses sedimentasi, lalu juga salinitas berkisar pada nilai 34-36 ‰ (Supriharyono, 2007). Berdasarkan hal tersebut, ekosistem terumbu karang serta biota yang berasosiasi dengan terumbu karang tersebut sangat sensitif terhadap berbagai hal (Dahuri, 2001 dalam Hikmah, 2009) seperti:
1. Aliran air tawar yang berlebihan yang dapat menurunkan nilai salinitas perairan
2. Beban sedimen dapat menganggu biota yang mencari makan melalui proses penyaringan (filter feeder)
12 4. Polusi seperti biosida dari aktivitas pertanian yang masuk akal ke perairan
lokal
5. Kerusakan terumbu, seperti yang disebabkan oleh badai siklon dan jangkar perahu
6. Beban nutrien berlebihan yang menyebabkan berkembangnya alga secara berlebihan, sehingga dapat menutupi dan membunuh organisme koral atau timbulnya blooming fitoplankton yang dapat menghalangi penetrasi sinar matahari sehingga tingkat fotosintesis dari koral menurun.
1.6.2.3. Kerusakan Terumbu Karang
Kerusakan dapat terjadi karena gangguan dari aktivitas manusia baik di daratan maupun lautan. Dampak tersebut disebabkan dari serangkaian kegiatan (Guntur, 2011) diantaranya:
1. Pembangunan di wilayah pesisir untuk perumahan, hotel, industri, pelabuhan dan pembangunan marina seringkali menyebabkan terjadinya reklamasi daratan dan pengerukan tanah. Hal ini dapat meningkatkan sedimentasi (sehingga meningkatkan kerusakan karang yang juga berpengaruh terhadap jumlah ikan).
2. Pencemaran pada laut seperti pembuangan limbah industri dan rumah tangga yang dapat meningkatkan tingkat nutrisi dan racun di lingkungan terumbu karang. Pembuangan limbah yang tidak diolah terlebih dahulu ke laut menambah nutrisi dan pertambahan alga yang berlebihan. Limbah kaya nutrisi dari pembuangan atau sumber lain khususnya amat menganggu, karena mereka meningkatkan perubahan besar dari struktur terumbu karang secara perlahan dan teratur.
3. Kegiatan kapal dapat berdampak buruk bagi terumbu karang melalui tumpahan minyak dan pembuangan dari kapal. Kerusakan fisik secara langsung dapat terjadi karena kapal membuang jangkar di terumbu karang dan kapal berlabuh secara tidak di sengaja.
13 4. Kegiatan secara langsung yang dilakukan oleh manusia seperti penangkapan ikan secara berlebihan, menginjak karang untuk mengumpulkan kerang, para penyelam yang melintas di atas karang, pencurian karang secara ilegal dan sebagainya.
Kerusakan terumbu karang dapat juga dikarenakan bukan oleh manusia. Faktor alam yang dapat merusak terumbu karang menurut Yayasan TERANGI mengenai penyakit terumbu karang adalah sebagai berikut (gambar 1.6 dan 1.7) : ≈Coral Bleaching
Dimakan oleh ikan (ikan
kakaktua dan buntal)
Dimakan oleh COT (Crown Of Thorn)
Dimakan oleh Siput Drupella Tingginya suhu air laut yang
tidak normal
Tingginya tingkat sinar
ultraviolet
Kurangnya cahaya
Tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi air
Kadar garam yang tidak normal dan polusi
Pertumbuhan alga berlebih
≈Black Band Desease Bakteri
Gambar 1.6. Coral Bleaching (Terumbu karang berwarna putih)
Gambar 1.7. Black Band Desease (Terumbu karang bergaris hitam)
14 1.6.3.Sampah
Sampah merupakan suatu bahan yang terbuang atau di buang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi. Dalam Undang Undang No.18 tentang Pengelolaan Sampah menyatakan definisi sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau dari proses alam yang berbentuk padat. Berdasarkan sifatnya terdiri dari sampah organik (dapat terurai) dan sampah anorganik (tidak dapat terurai).
1.6.3.1. Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah dengan bahan yang dapat diuraikan. Penguraian dilakukan secara biologis oleh bakteri. Penguraian ini dibutuhkan oleh bakteri sebagai sumber molekul organik untuk fotosintesisnya. Bakteri pengurai terbagi dalam 2 golongan, yaitu bakteri aerob dan bakteri anaerob. Bakteri aerob memerlukan oksigen bebas untuk hidup dan melakukan penguraian, sedangkan bakteri anaerob sebaliknya. Bakteri anaerob dalam penguraian sering menghasilkan asam organik, alcohol, markaptan dan hydrogen sulfide. Senyawa ini berbau busuk dan beracun bagi organisme. (Mukhtasor, 2007)
1.6.3.2. Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah sampah dengan bahan selain unsur H, unsur O dan biasanya tidak dapat terurai atau terurai dalam waktu yang sangat lama. Sampah anorganik juga dapat berupa senyawa konservatif, yaitu senyawa yang dapat bertahan lama dalam suatu ekosistem sebelum akhirnya mengendap ataupun terabsorsi oleh adanya proses reaksi fisika dan kimia. Bahan anorganik seperti sianida, ammonia, asam alkali dan logam berat. (Mukhtasor, 2007)
15 1.7. Kerangka Pemikiran
Kepulauan Seribu merupakan daerah dengan pulau-pulau yang memiliki potensi berupa terumbu karang. Potensi inilah yang menjadikan Rencana Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta pada Kepulauan Seribu sebagai Program Wisata Bahari. Namun pada kenyataannya wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu terus menyusut khususnya di Pulau Panggang.
Kepulauan Seribu juga memiliki permasalahan seperti halnya pulau-pulau kecil lainnya seperti abrasi, kerusakan terumbu karang, reklamasi sporadis, pencemaran perairan laut, dan kepadatan penduduk yang semakin tinggi. Akibat kepadatan penduduk yang semakin tinggi mengakibatkan sulitnya pengelolaan seperti hal nya sampah dikarenakan terbatasnya ruang pembuangan sampah. Keterbatasan ruang menjadikan pantai sebagai tempat pembuangan sampah. Daerah pantai yang dijadikan tempat pembuangan sampah tentu merupakan salah satu penyebab terjadinya pencemaran perairan laut dan rusaknya terumbu karang. Kemungkinan jumlah wisatawan yang menyusut ke daerah Kepulauan Seribu dikarenakan hal tersebut. Alur Kerangka Pemikiran dapat dilihat di gambar 1.8 berikut.
16 1.8. Batasan Operasional
1. Terumbu Karang adalah struktur ekosistem di bawah laut yang dibangun dari kalsium karbonat (CaCO3). Kalsium karbonat ini dibentuk oleh hewan karang (Ellen Tjandra dan Yosua Ronaldo Siagian, 2011)
2. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau dari proses alam (Mukhtasor. 2007)
3. Sampah organik adalah sampah dengan bahan yang dapat diuraikan (Mukhtasor. 2007)
4. Sampah anorganik adalah sampah dengan bahan selain unsur H, unsur O dan biasanya tidak dapat terurai atau terurai dalam waktu yang sangat lama (Mukhtasor. 2007)
5. Pulau Panggang adalah sebuah pulau dan juga merupakan kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta (jakarta.go.id)
6. Wisata bahari yaitu tentang kepariwisataan adalah usaha yang menyelenggarakan wisata dan olahraga air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial diperairan laut, pantai, sungai, danau dan waduk. (UU No 10 tahun 2009)
7. Persentase karang mati adalah nilai rasio dari karang yang mati dengan jumlah total karang hidup dan mati. (Jos Hill, 2005)
8. Faktor fisik yang dimaksud merupakan faktor-faktor fisik lingkungan yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang. Faktor tersebut dibedakan menjadi oseanografi. (Supriharyono, 2007)
17 9. Faktor oseanografi dibedakan menjadi fisika dan kimia. Faktor fisika yang dimaksud berupa suhu air dan kecerahan air. Faktor kimia yang dimaksud adalah salinitas air. (Supriharyono. 2007)
10. Line Intercept Transect (LIT) adalah metode survei terumbu karang dengan garis disertai poin penggambaran Informasi pada jarak tertentu berupa penutupan dari komunitas benthik seperti karang keras, karang lunak, alga, batu, karang mati dan spons. (Terangi.or.id)
11. Kecerahan air adalah kemampuan air dalam merambatkan cahaya (Supriharyono. 2007)
12. Suhu air adalah temperatur perairan (Supriharyono. 2007)