• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci: asam benzoat, natrium sakarin, kafein, KCKT, minuman ringan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kata kunci: asam benzoat, natrium sakarin, kafein, KCKT, minuman ringan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

79 PENENTUAN ASAM BENZOAT, NATRIUM SAKARIN, DAN

SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Determination of Benzoic Acid, Sodium Saccharin, And Caffeine By High Performance Liquid Chromatography

Arief Yandra Putra1, Fitri Mairizki1, Hamzar Suyani1, dan Safni1* Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Andalas

Kampus Limau Manis, Padang 25163 *e-mail: [email protected]

Diterima: 3 Agustus 2012, Revisi akhir: 29 September 2012 ABSTRAK

Penelitian tentang penentuan asam benzoat, natrium sakarin dan kafein telah dilakukan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Fasa Balik. Kondisi optimum analisis dari ketiga senyawa di atas adalah fasa gerak metanol-bufer fosfat (1:7) dengan pH 4,5, laju alir 1 mL/min, kolom C18 (150 x 4,6 mm i.d.) dengan temperatur 40oC dan pendeteksian dengan Spektrofotometer UV/Vis pada panjang gelombang 220 nm. Metoda ini diaplikasikan pada beberapa sampel minuman ringan. Kadar ketiga senyawa ini di dalam sampel tidak melebihi batas maksimum yang diizinkan yaitu berdasarkan SNI 01-0222-1995 untuk natrium sakarin dan asam benzoat serta SNI 01-6684-2002 untuk kafein. Standar Deviasi Relatif ketiga senyawa ini berdasarkan waktu retensi dan luas puncak secara berturut-turut adalah; asam benzoat 0,37% dan 0,59%, natrium sakarin 0,16% dan 0,21%, kafein 0,38% dan 0,60%. Hasil perolehan kembali dari ketiga senyawa ini adalah asam benzoat 100,82%, natrium sakarin 94,92%, kafein 90,32%. Standar Deviasi Relatif dan perolehan kembali ketiga senyawa ini memenuhi persyaratan metoda AOAC.

Kata kunci: asam benzoat, natrium sakarin, kafein, KCKT, minuman ringan ABSTRACT

Concentrations of benzoic acid, sodium saccharin and caffeine in soft drink samples were determined by using Reverse Phase High Performance Liquid Chromatography (HPLC). The optimum analytical conditions of those three samples was methanol-phosphate buffer (1:7) as mobile phases, with pH 4.5 and flow rate 1.0 mL/min, column C18 (150x4.6 mm i.d.) as stationary phases at 400C with UV-Vis Spectrophotometer detection at 220 nm. The concentration level of those compounds observed was not beyond the maximum limit of SNI 01-011101995 for sodium saccharin and benzoic acid and SNI 01-6684-2002 for caffeine. The relative standard deviation based on retention time and peak area, as 0.37% and 0.59% for benzoic acid, 0.16% and 0.21% for sodium saccharin, 0.38% and 0.6% for caffeine. Finally, the recovery for benzoic acid, sodium saccharin and caffeine was 100.82%, 94.92% and 90.32%, respectively. The relative standard deviation and recovery of all samples met AOAC method requirements.

Keywords: Benzoic acid, sodium saccharin,caffeine, HPLC, soft drink

PENDAHULUAN

Asam benzoat, natrium sakarin dan kafein merupakan bahan yang sering ditambahkan dalam makanan dan minuman, dimana penggunaannya harus

diperhatikan. Meskipun kandungan bahan tambahan ini umumnya tidak terlalu besar, akan tetapi jika dikonsumsi secara terus menerus akan memberikan efek terhadap gangguan kesehatan. Asam benzoat merupakan bahan pengawet yang

(2)

80

ditambahkan untuk mencegah atau menghambat terjadinya kerusakan atau pembusukan pada makanan atau minuman. Dengan penambahan pengawet pada produk minuman diharapkan dapat terpelihara kesegarannya (Winarno, 1997).

Natrium sakarin merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan sebagai pemanis dan digunakan untuk produk olahan pangan, industri, serta minuman dan makanan kesehatan. Kebutuhan Industri pangan dan minuman terhadap pemanis sintetis ini semakin meningkat dari tahun ke tahun (Cahyadi, 2008).

Kafein merupakan salah satu derivat xantin yang mempunyai daya kerja sebagai pemberi efek stimulan sistem saraf pusat, stimulan otot jantung, relaksasi otot polos dan meningkatkan diuresis dengan tingkatan yang berbeda. Efek kafein dapat meningkat apabila berinteraksi dengan beberapa jenis obat antara lain: obat asma dan pil KB. Akibatnya mungkin terjadi kofeinisme disertai rasa gelisah, sakit kepala, pernafasan cepat, dan insomnia. Kafein dapat menghilangkan rasa letih, lapar dan mengantuk. Penggunaan kafein yang berlebihan dapat menimbulkan jantung yang berdebar, gangguan lambung, tangan gemetar, gelisah,daya ingat berkurang dan sukar tidur (Sianturi, 2011).

Pada penelitian ini akan dilakukan pengujian terhadap bahan tambahan yang terdapat dalam minuman ringan yaitu asam benzoat sebagai pengawet, natrium sakarin sebagai pemanis sintetis dan kafein sebagai pemberi efek stimulan.

METODOLOGI PENELITIAN Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan baku standar/pembanding asam benzoat, natrium sakarin, dan kafein, kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4), Natrium

hidroksida (NaOH), asam asetat glasial, amonium asetat p.a , Metanol HPLC grade,

aquades ultra pure (UP), dan sampel minuman ringan.

Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah seperangkat alat KCKT (Shidmadzu) dengan kolom C-18 (150 . 4,6 mm) dan detektor UV-Vis, pH meter, Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu), neraca analitik, pengaduk ultrasonik, saringan filter eluen (0,45 µm) dan sampel (0,2 µm) serta peralatan gelas yang biasa digunakan di laboratorium. Prosedur Kerja

Sebanyak 0,1000 g asam benzoat, natrium sakarin, dan kafein dilarutkan dalam 100 mL akuades UP untuk mendapatkan larutan induk 1000 mg/L. Ketiga larutan dengan konsentrasi masing-masing 10 mg/L diukur serapannya pada panjang gelombang 200-400 nm dan ditentukan panjang gelombang untuk analisis.

Campuran ketiga larutan diinjeksikan sebanyak 20 µL ke dalam kolom KCKT dengan laju alir 1 mL/menit menggunakan fasa gerak campuran dari metanol dan bufer fosfat pH 4,0 ; 4,5 ; 5,0 ; 5,5 ; 6,0 dengan komposisi metanol dan bufer fosfat (10:90) pada panjang gelombang analisis yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya ditentukan pH bufer fosfat yang menghasilkan pemisahan paling baik. Campuran larutan asam benzoat, natrium sakarin, dan kafein diinjeksikan sebanyak 20 µL ke dalam kolom KCKT dengan laju alir 1 mL/menit menggunakan komposisi fasa gerak metanol dan bufer fosfat 12,5:87,5 ; 15:85 dengan pH bufer fosfat yang telah ditentukan sebelumnya pada panjang gelombang analisis. Selanjutnya ditentukan komposisi fasa gerak yang menghasilkan pemisahan paling baik. Kurva kalibrasi dibuat dari sederetan larutan standar berdasarkan konsentrasi (mg/L) dan luas puncak. Kemudian ditentukan kadar ketiga senyawa tersebut dalam sampel minuman ringan.

Penentuan standar deviasi relatif dilakukan sebanyak 6 kali pengulangan menggunakan kondisi optimum analisis. Penentuan perolehan kembali dilakukan dengan menggunakan sampel yang telah diketahui konsentrasinya kemudian

(3)

81 dilakukan adisi standar dengan konsentrasi

tertentu.

HASIL DAN PEMBAHASAN Penentuan Panjang Gelombang Optimum Secara Spektrofotometri UV

Penentuan panjang gelombang optimum atau panjang gelombang kompromis dari ketiga senyawa ini digunakan untuk melihat pada panjang

gelombang berapakah senyawa asam benzoat, natrium sakarin dan kafein dapat memberikan penyerapan yang baik sehingga pemisahan dapat digunakan pada metoda KCKT. Dari hasil pengukuran didapatkan panjang gelombang optimum yang dapat digunakan untuk pemisahan dengan metoda KCKT yang terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Spektrum UV Optimum Pemisahan Asam Benzoat, Natrium Sakarin dan Kafein dengan konsentrasi masing-masing 10 mg/L, dengan λ 200-400 nm

Dari spektrum serapan asam Benzoat, natrium sakarin dan kafein di atas dapat dilihat bahwa pada panjang gelombang 220 nm, masing-masing komponen dapat menyerap dengan baik sehingga panjang gelombang 220 nm dapat dijadikan sebagai panjang gelombang optimum pemisahan. Jika panjang gelombang optimum yang digunakan untuk pemisahan berada di bawah 220 nm, maka serapan kafein akan menjadi kecil sedangkan jika panjang gelombang optimum pemisahan berada di atas 220 nm, maka serapan natrium

sakarin dan asam benzoat akan menjadi kecil.

Pengaruh pH Bufer Fosfat Sebagai Komponen Fasa Gerak

Penentuan kondisi optimum pemi-sahan senyawa asam benzoat, natrium sakarin dan kafein dilakukan pada pH 4 ; 4,5 ; 5 ; 5,5 dan 6 yang masing-masing dengan komposisi fasa gerak metanol : bufer fosfat adalah 10 : 90 dengan laju alir 1 mL/min, yang dilakukan pemisahan dengan metoda KCKT pada panjang

200 250 300 350 400 ppm 0.000 1.000 2.000 Abs Natrium Sakarin

(4)

82

gelombang 220 nm dengan kolom C18 (150 . 4,6 mm i.d) dengan volume injeksi

20 µL dan waktu retensi 30 menit. Hasil

pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1. Berdasarkan waktu retensi data pemisahan di atas didapatkan bahwa pH 4,0 dan 4,5 memberikan pemisahan yang baik ditandai dengan munculnya ketiga senyawa sedangkan pada pH 5,0 hanya muncul dua senyawa dan pada pH 5,5 dan 6,0 senyawa ini tidak muncul. Apabila dilihat berdasarkan waktu retensi, yang memberikan waktu retensi yang lebih cepat adalah pada pH 4,5. Oleh karena itu pH 4,5 dipilih sebagai pH yang baik untuk pemisahan.

Tabel 1. Pengaruh pH bufer fosfat sebagai campuran fasa gerak terhadap waktu pemisahan asam benzoat, natrium sakarin, dan kafein dengan komposisi 10 : 90 dengan laju alir 1 mL/min

pH Bufer fosfat

Waktu Retensi (menit) Natrium Sakarin Asam Benzoat Kafein 4,0 4,5 5,0 5,5 6,0 5,875 5,458 - - - 22,895 20,819 13, 189 - - 28,020 27,612 23,917 - - Penentuan Komposisi Fasa Gerak Optimum

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada komposisi fasa gerak metanol dengan bufer fosfat pH 4,5 (10 : 90) telah terjadi pemisahan yang baik. Akan tetapi ketiga senyawa ini masih mempunyai waktu retensi yang lama, maka untuk jumlah metanol yang lebih sedikit tidak perlu dilakukan pengukuran. Oleh karena itu jumlah metanol dinaikkan dan jumlah bufer dikurangi dengan komposisi fasa gerak 15 ; 85 ; 12,5 : 87,5 dengan panjang kolom (150 x 4,6 mm i.d) yang bertujuan untuk lebih menghemat waktu retensi dan didapatkan hasil pemisahan yang lebih baik dengan menggunakan metoda KCKT. Dari hasil pengukuran didapatkan kromatogram pemisahan optimum dengan komposisi 12,5 : 87,5 seperti Gambar 2.

Gambar 2. Kromatogram pemisahan asam benzoat (17,745), natrium sakarin (5,138), dan kafein (20,150) yang dilakukan pada panjang gelombang 220 nm, komposisi fasa gerak metanol : bufer fosfat (12,5:87,5) pada pH 4,5, kolom C18(150 . 4,6 mm id)

Perbandingan waktu retensi dan luas puncak dari asam benzoat, natrium sakarin, dan kafein pada berbagai komposisi fasa gerak metanol : bufer fosfat 15 : 85 , 12,5 : 87,5 dan 10 : 90 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 menunjukkan bahwa waktu retensi yang lebih cepat adalah dengan komposisi campuran fasa gerak 15 : 85, tapi puncak yang dihasilkan ada dua puncak padahal sebenarnya campuran

(5)

83 senyawa didalamnya ada tiga. Hal ini

terjadi karena bersatunya puncak antara asam benzoat dengan kafein yang dapat dilihat pada luas puncak yang naik dua kali lipat. Komposisi fasa gerak 10 : 90 dengan 12,5 ; 87,5 ternyata yang memberikan waktu retensi yang lebih cepat dan pemisahan yang lebih baik adalah

komposisi campuran metanol dengan bufer fosfat adalah pada campuran 12,5 : 87,5. Oleh karena itu, komposisi fasa gerak 12,5:87,5 dipilih sebagai komposisi fasa gerak optimum untuk pemisahan asam benzoat, natrium sakarin dan kafein.

Tabel 2. Perbandingan waktu retensi dan luas puncak dari asam benzoat, natrium sakarin dan kafein pada berbagai komposisi fasa gerak metanol : bufer fosfat

Fasa Gerak ( Metanol : Bufer

Posfat pH 4,5)

Natrium Sakarin Asam Benzoat Kafein Waktu Retensi Luas Puncak Waktu Retensi Luas Puncak Waktu Retensi Luas Puncak 10 : 90 12,5 : 87,5 15 : 85 5,458 5,138 4,385 1.844.744 1.779.567 1.838.255 20,646 17,745 14.848 1.455.891 1.438.102 4.128.347 27,612 20,150 - 2.628.229 2.583.290 -

Pembuatan Kurva Kalibrasi Asam Benzoat, Natrium Sakarin dan Kafein Hasil pengukuran deretan larutan standar asam benzoat, natrium sakarin dan kafein

pada kondisi optimum pH 4,5 dengan campuran 12,5 : 87,5 dapat dilihat gambar kurva kalibrasi pada Gambar 3.

Gambar 3. Kurva kalibrasi (♦ asam benzoat, ▀ natrium sakarin, ▲kafein) Berdasarkan hasil pengukuran,

didapatkan persamaan regresi dari asam benzoat adalah Y = 18839,8 + 77563,205x dengan nilai koefisien determinasi (R2) = 0,9996. Persamaan regresi dari Natrium Sakarin adalah Y = 44046,6 + 100881,62x dengan nilai R2 adalah 0,9996. Persamaan regresi dari kafein adalah Y = 1340 + 69370,35x dengan nilai R2 adalah 0,9996. Menurut metoda AOAC nilai koefisien determinasi) yang didapatkan ini telah memenuhi standar yang ditetapkan, yaitu

0,9990. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa telah terjadi hubungan yang linier antara konsentrasi asam benzoat, natrium sakarin dan kafein dengan luas puncak pada kromatogram.

Penentuan Kadar Asam Benzoat, Natrium Sakarin dan Kafein dalam Sampel Minuman Ringan

Pada penentuan asam benzoat, natrium sakarin dan kafein di dalam sampel 0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 0 20 40 60 80 L ua s P u n c ak Konsentrasi (ppm) Natrium sakarin asam benzoat kafein

(6)

84

minuman ringan digunakan empat buah jenis sampel yang telah dilakukan perlakuan awal sebelum diukur dengan menggunakan metoda KCKT, dimana kondisi yang digunakan adalah kondisi optimum yang didapatkan yaitu dengan pH 4,5 dan komposisi fasa gerak 12,5 : 87,5 dimana sampel yang dipipet sebanyak 5 ml dan diencerkan sampai volume 10 ml. Kromatogram dari masing-masing sampel dapat dilihat pada Gambar 2.

Data pengukuran empat jenis sampel yang diukur sebanyak dua kali, berdasarkan luas puncak dan besarnya konsentrasi masing-masing standar di dalam sampel dapat dilihat pada Tabel 3. Dari data pengukuran dan perhitungan pada semua sampel tidak terdapat natrium sakarin sebagai pemanis buatan. Untuk sampel B dan D terdapat asam benzoat dimana kandungan yang paling tinggi terdapat pada sampel B yaitu 140 mg/L sedangkan pada sampel D kandungannnya adalah 102 mg/L. Untuk kafein sebagai pemberi efek stimulan bagi tubuh terdapat pada semua jenis sampel dimana kandungan yang paling tinggi terdapat pada sampel D yaitu 120 mg/L sedangkan kandungan yang paling rendah pada sampel B sebesar 92 mg/L. Kadar asam benzoat, natrium sakarin dan kafein yang ditemukan pada sampel semuanya tidak melebihi batas maksimum yang diizinkan yaitu berdasarkan SNI 01-0222-1995 untuk natrium sakarin dan asam benzoat serta SNI 01-6684-2002 untuk kafein.

Tabel 3. Konsentrasi natrium sakarin, asam benzoat dan kafein di dalam sampel minuman ringan.

Nama Sampel Konsentrasi (mg/L) Natrium Sakarin Asam Benzoa t Kafein Sampel A - - 93 Sampel B - 140 92 Sampel C - - 105 Sampel D - 102 120 Penentuan Nilai Standar Deviasi Relatif (SDR) dari masing-masing Senyawa

Penentuan standar deviasi relatif (SDR) bertujuan untuk melihat ketelitian suatu metoda pada kondisi operasi yang sama dalam interval waktu yang tidak lama. Penentuan nilai standar deviasi dari asam benzoat, natrium sakarin dan kafein dilakukan pada konsentrasi 40 mg/L dengan enam kali pengulangan. Metoda yang dijadikan acuan dalam penentuan nilai standar deviasi ini adalah metoda AOAC (Association of Official Analytical Chemists).dimana nilai standar deviasi untuk konsentrasi 40 mg/L yang berada dalam range 100 mg/L adalah kecil dari 5 % . Nilai standar deviasi relatif dari masing-masing senyawa ditentukan berdasarkan waktu retensi dan area seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Standar Deviasi Relatif Dari masing-masing senyawa Nama Senyawa Standar Deviasi Relatif (%) Waktu Retensi Luas Puncak Natrium Sakarin 0,16 0,21 Asam Benzoat 0,37 0,59 Kafein 0,38 0,60

Dari Tabel 4 di atas, dapat diketahui bahwa nilai standar deviasi relatif yang diperoleh untuk natrium sakarin adalah 0,16% berdasarkan waktu retensi dan 0,21% berdasarkan area. Nilai standar deviasi relatif asam benzoat adalah 0,37% berdasarkan waktu retensi dan 0,59% berdasarkan area. Nilai standar deviasi relatif kafein adalah 0,38% berdasarkan waktu retensi dan 0,60% berdasarkan area. Nilai standar deviasi relatif yang diperoleh memenuhi syarat dari metoda AOAC yaitu lebih kecil dari 5,3% sehingga dapat dikatakan bahwa metoda ini sudah cukup teliti.

Pengaruh Komposisi Fasa Gerak Terhadap Hasil Analisis

Pada penelitian ini juga dipelajari pengaruh komposisi fasa gerak terhadap hasil analisis Natrium Sakarin, Asam benzoat dan Kafein, dimana juga digunakan komposisi fasa gerak metanol :

(7)

85 bufer asetat dengan perbandingan 1 : 9,

dengan pH 5,5 dan panjang gelombang 230 nm. Berdasarkan hasil pengukuran, didapatkan nilai regresi natrium sakarin y = 30.796,8 + 45.826,44 x dengan nilai koefisien determinasi ( R2 ) 0,9996. Asam benzoate; y = 46.590,8 + 64.891,355 x dengan nilai R2 0,9994. Kafein; y = 66.513 + 30.971,87 x dengan nilai R2 0,9844. Nilai standar deviasi relatif yang diperoleh untuk natrium sakarin adalah 0,1485% berdasarkan waktu retensi dan 0,5663% berdasarkan luas puncak. Nilai standar deviasi relatif asam benzoat adalah 0,1142% berdasarkan waktu retensi dan 0,9563% berdasarkan luas puncak. Nilai standar deviasi relatif kafein adalah 0,0860% berdasarkan waktu retensi dan 0,9402% berdasarkan luas puncak.

Hasil yang diperoleh dari komposisi campuran metanol : bufer asetat ini juga telah memenuhi syarat dari metoda AOAC. Dari hasil nilai regresi dan standar deviasi dapat disimpulkan bahwa komposisi campuran fasa gerak metanol : bufer posfat lebih memberikan hasil nilai regresi dan standar deviasi dari komposisi campuran fasa gerak metanol : bufer asetat sehingga komposisi campuran fasa gerak metanol : bufer posfat dapat dikatakan memiliki ketelitian metoda yang baik dibandingkan komposisi campuran metanol : bufer asetat.

Penentuan Perolehan Kembali (Recovery)

Penentuan perolehan kembali dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat ketepatan metoda yang dilakukan dengan cara membandingkan konsentrasi sampel setelah adisi (penambahan) dengan sejumlah konsentrasi standar dan sampel. Nilai perolehan kembali menurut standar AOAC untuk konsentrasi yang berada didalam range 100 ppm adalah 90-107 % berarti menunjukkan tingkat kesesuaian dari rata-rata suatu pengukuran yang sebanding dengan nilai sebenarnya. Hasil perolehan kembali dan perhitungannya untuk asam benzoat, natrium sakarin dan kafein dapat dilihat pada Tabel 5.

Dari Tabel 5, didapatkan hasil pengukuran persen perolehan kembali

untuk standar asam benzoat adalah 100,82%, natrium sakarin adalah 94,92 % dan kafein adalah 90,32 %. Dari hasil persen perolehan kembali, nilai yang didapatkan memenuhi syarat metoda AOAC sehingga dapat dikatakan bahwa metoda ini memiliki ketepatan metoda yang cukup baik.

Tabel 5. Hasil Perolehan Kembali asam Benzoat, natrium sakarin dan kafein.

Jenis Standar Perolehan Kembali (%) Natrium Sakarin 94,92

Asam Benzoat 100,82

Kafein 90,32

KESIMPULAN

Kondisi optimum penentuan asam benzoat, natrium sakarin dan kafein yang didapatkan adalah dengan komposisi fasa gerak metanol : bufer fosfat (1 : 7), pada panjang gelombang 220 nm dengan pH 4,5. Jumlah asam benzoat, natrium sakarin dan kafein yang terkandung dalam masing-masing sampel, dimana natrium sakarin tidak terdapat pada semua sampel, asam benzoat tidak terdapat pada sampel A dan C dan pada sampel B dengan kadar tertinggi sebesar 140 mg/L. Kadar kafein terdapat pada semua sampel dengan kadar tertinggi terdapat pada sampel D sebesar 120 mg/L, dimana kadarnya tidak melebihi batas maksimum yang diizinkan menurut SNI 01-0222-1995 untuk natrium sakarin dan asam benzoat serta SNI 01-6684-2002 untuk kafein.

Nilai standar deviasi dari masing-masing standar berdasarkan waktu retensi dan area berturut–turut sebagai berikut: natrium sakarin 0,16% dan 0,21%, asam benzoat 0,37% dan 0,59%, serta kafein 0,38% dan 0,60%. Nilai perolehan kembali dari masing-masing standar yaitu asam benzoat 100,82%, natrium sakarin 94,92%, dan kafein 90,32%. Hasil % SDR dan perolehan kembali ketiga senyawa ini memenuhi persyaratan metoda AOAC,

(Association of Official Analytical Chemists).

(8)

86

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2002. AOAC Guidelines for Single Laboratory http://www.aoac.org/ Official_Methods/slv_guidelines.pdf), 19/12/2002. Diakses 02/07/2011. Braun, R.D., 1983. Introduction to

Instrumental Analysis, MC Graw Hill International, Lousiana.

Cahyadi, W., 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, Bumi Aksara. Jakarta. Day, R.A. dan A.L. Underwood., 1989.

Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.

Direktorat Jenderal POM, 1995. Farmakope Indonesia. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Gitter, J.R., M. J. Bobbit, dan E. A. Schwarting, 1991. Kromatografi. [Terjemahan], K. Padmawinata, ITB, Bandung.

Harmita, 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metoda dan Cara Penghitungannya. Majalah llmu Kefarmasian, 1(3): 114 – 135.

Heftman, E., 1992. Chromatography, Part A Fundamental and Techniques, Elsevier. Amsterdam.

Jacobson, M., 2000. How Soft Drinks are Harming Americans Health. 25/12/2000. Diakses 15/01/2011. Khopkar, S.M., 2008. Konsep Dasar kimia

Analitik, Terjemahan A. Saptora-hardjo dan A. Nurhadi, UI Press. Jakarta..

Kroger, M., K. Meister, dan R. Kava, 2006. Low Calorie Sweeteners and Other Sugar Substitutes: A Review of Safety Issues, Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (CRFSFS), 5: 35-47.

Misra, D.H., B.K. Mehta, M. Soni dan D.C. Jain, 2008. Study of Extraction and HPTLC–UV Method for Estimation of Caffeine in Marketed Tea (Camellia sinensis) Granules. International Journal of Green Pharmacy, 3(1) : 47-51, (2008).

Mokhtar, H. dan N. Ahmed, 2000. Tea Polyphenols: Prevention of Cancer and Optimizing Health. American Journal Clinique Nutrition. Suppl, 71: 16985–17028.

Mulja, M., 1995. Analisis Instrumental. ITB. Bandung.

Mumin, A., F.A. Kazi, A. Zainal, dan H. Zakir, 2006. Determination and Characterization of Caffeine in Tea, Coffee, and Soft Drink by Solid Phase Extraction and High Performance Liquid Chromatography (SPE– HPLC). Malaysian Journal of Chemistry, 8 : 45-51.

Sianturi, 2001. Kafein dan Minuman Kesehatan, (http://www.gizi.net//), 03/12/2001. Diakses 13/01/2011. Widodo, R., 2008. Mengenal Minuman

Ringan Berkarbonasi (Soft Drink). http://www.untag-sby.ac.id//

03/06/2008, diakses 13/01/2011. Wilson dan Gisvold, 1982. Textbook of

Organic Medical and Pharmaceutical Chemistry. JB Lippincolt Company, Philadhelphia.

Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gambar

Gambar 1. Spektrum UV Optimum  Pemisahan Asam Benzoat, Natrium Sakarin dan  Kafein  dengan  konsentrasi  masing-masing  10  mg/L,  dengan  λ   200-400  nm
Tabel 1. Pengaruh pH bufer fosfat sebagai  campuran  fasa  gerak  terhadap  waktu  pemisahan  asam  benzoat,  natrium  sakarin,  dan  kafein  dengan komposisi 10 : 90 dengan  laju alir 1 mL/min
Gambar 3.  Kurva kalibrasi ( ♦  asam benzoat, ▀ natrium sakarin, ▲kafein)  Berdasarkan  hasil  pengukuran,
Tabel 3. Konsentrasi natrium sakarin, asam  benzoat  dan  kafein  di  dalam  sampel minuman ringan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data yang tertera pada Tabel 1, dapat dilihat dari data pengukuran titik leleh bahwa senyawa 5-(4'-klorobenzilidena)hidantoin (7) yang disintesis memiliki

Berdasarkan tabel 4.8 diatas, dapat dilihat bahwa nilai prob (F-static) adalah sebesar 0.000458 atau lebih kecil dari 5%, maka ditolak, berarti bahwa variabel

Berdasarkan tabel 2, 3, 4, dan 5 hasil pengukuran zona hambat BAL isolat cairan rumen terhadap bakteri Gram positif ( Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus ) dan Gram

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

Hasil pengujian kuat tekan mortar Berdasarkan hasil pengujian yang ditujukan di tabel 5 dan gambar 4 hubungan Berat Jenis mortar tehadap umur menunjukan bahwa semakin lama waktu