Makalah
“
Peran Kader HMI dalam mendorong perkembangan
Citizen
Journalism
di Indonesia sebagai penyeimbang media yang
terkontaminasi politik praktis
”
(Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Latihan Kader II (LK II) HMI
Cabang Bandung)
OLEH : MUSLIMIN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)
CABANG PADANG
KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadirat Allah Yang Maha Pemurah,
karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas tentang bagaimana peran kader
HMI dalam mengikuti perkembangan zaman khususnya dalam mendorong
berkembangnya Citizen Journalism di Indonesia. Dalam proses pendalaman
materi ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan dan saran, untuk itu rasa terima
kasih yang dalam-dalamnya kami anggota HMI komisariat ISIP UNAND dan
anggota HMI Cabang Padang umumnya serta rekan-rekan mahasiswa lainnya
yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Demikian makalah
ini kami buat semoga dapat bermanfaat.
Padang, 22 November 2014
DAFTAR ISI
Kata Pengantar I
Daftar Isi II
BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 4
1.3. Tujuan Penulisan 4
BAB II
ISI
2.1. Pengertian Citizen Journalism 5
2.2. Sejarah Perkembangan Citizen Journalism di Indonesia 6
2.3. Peran Kader HMI sebagai penyeimbang media yang terkontaminasi politik
praktis 8
2.4. Peran Kader HMI dalam mendorong Citizen Journalism 11
BAB III
Penutup
3.1. Kesimpulan 15
3.2. Saran 17
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejarah peradaban manusia menunjukkan jurnalistik dan teknologi selalu
tumbuh dan berkembang sejalan. Ketika teknologi menghadirkan mesin cetak
pada abad ke-15 di Eropa, jurnalistik juga tergiring untuk menggunakannya
sebagai sarana produksi dan diseminasi informasi. Orang mulai berpikir bahwa
informasi yang tersebar secara massif memiliki nilai dan kekuatan tertentu dalam
masyarakat. Teknologi pun terus mencari bentuk dan varian barunya hingga kini
guna menjadi bagian dari proses yang disebut kemajuan. Segala sendi kehidupan
era transformasi sebagai konsekuensi logis atas implementasi teknologi yang menjadi “teman hidup” peradaban manusia. Memasuki abad ke- 21, pertumbuhan teknologi khususnya di bidang komunikasi dan informasi makin cepat dan idak
terduga. Internet menjadi lokomotif dari transformasi peradaban masa kini.
Jurnalistik pun mendapatkan tantangan terbesarnya terutama sejak tahun 2000 dan
memuncak pada dua tahun terakhir seiring pesatnya kemajuan dunia cyber.
Tantangan itu berwujud sebuah konsep dan praktik yang disebut citizen
journalism.1
Di era Reformasi kebebasan pers benar-benar dijamin dan senantiasa
diperjuangkan untuk diwujudkan. Namun sejauh ini jika di lihat demokrasi dalam
kegiatan jurnalisme belum bisa dikatakan tercapai, ini dapat dilihat dari konstitusi
Indonesia yang tidak menjamin tegas kebebasan jurnalistik. Belum lagi
aturan-aturan yang bersumber dalam kelembagaan media itu sendiri, ada faktor-faktor
yang mempengaruhi kehidupan Media Massa dalam proses peliputan hingga
penyajian berita, seperti yang dipaparkan oleh Reese dan Shomaker dalam
lingkaran donat yang mereka buat. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor
1 Habibi, Zaki. 2007. “Citizen Journalism”: Ketika Berita Tidak Hanya Memiliki Satu Muka.
ideologi media, ekstra media, organisasi media, rutinitas media dan faktor
individu media.
Tentu saja hal-hal ini mengikat seorang wartawan yang bernaung dalam
sebuah lembaga media, Ia harus mengikuti aturan main yang ditetapkan di tempat
ia bekerja, yang akhirnya berdampak dalam kebebasannya untuk menyajikan
suatu berita kepada publik. Unsur kapitalisme dan politik pun tidak bisa di
hindari. Informasi yang bebas dari campur tangan pihak lain pun tidak bisa
disajikan, disinilah citizen journalism berperan, citizen journalism yang
merupakan corong jurnalisme online, yang bisa diakses melalui internet oleh siapa
saja, dimana saja dan kapan saja bisa menjadi model ekspresi yang sangat kuat
dan alat baru untuk mengimbangi pemerintah dan industri atau pihak-pihak besar
lainnya yang berperan dalam mempengaruhi media.2
Dalam sebuah negara demokrasi, partisipasi masyarakat untuk turut serta
dalam mengawasi dan mengontrol kerja pemerintah sangat diperlukan. Sebagai
manisfestasi dari bentuk partisipasi masyarakat tersebut citizen journalism
merupakan konsep yang sangat bagus dalam mengawasi dan melaporkan serta
menyebaran informasi terkait apa-apa saja yang terjadi pada saat pelaksanaan
kebijakan pemerintah dan beberapa fenomena lainnya yang terjadi
ditengah-tengah masyarakat.
Sebagai pelaku intelektual, mahasiswa berkewajiban untuk mengarahkan
lingkungan sekitarnya agar menjadi cerdas dalam memilih dan menerima
informasi dari berbagai gempuran media. Dan, tidak hanya sekedar menerima,
tetapi juga bisa menghasilkan informasi, yang bebas dari kepentingan penguasa,
kepada khalayak luas. Mahasiswa yang memiliki fungsi sebagai Agent of Change,
Iron Stock dan Control social harus mampu mengemban fungsinya sebaik-baik
mungkin. Dalam hal pengembangan Citizen Jurnalism mahasiswa harus bisa
membangkitkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam menyajikan informasi
yang ada didaerahnya.
2
Kejayaan HMI adalah berkat kemampuan para kader mengakses dan
mengolah informasi, baik melalui silahturahmi sesama keluarga HMI maupun
dengan menggunakan teknologi. Kita saat ini hidup di abad digital, batas ruang
dan waktu tidak jadi masalah seperti dulu pada abad-abad sebelumnya. Fakta ini
perlu diperhatikan oleh HMI terutama menyangkut masalah perkaderan dan
kelangsungan HMI. Diharapkan HMI mampu menemukan format yang tepat
dimana kecanggihan informasi dapat dijadikan kekuatan bagi kepentingan
organisasi dan kader.3
Sebagai kader umat serta kader bangsa, kader HMI yang memiliki
tanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur, harus mampu
beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi serta tetap menjalankan fungsi dan
peranannya agar dapat mewujudkan masyarakat adil dan makmur tersebut. Dalam
suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ini maka tidak ada suatu
investasi yang lebih besar dan lebih berarti dari pada investasi manusia (human
investment). Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir tujuan, bahwa investasi manusia
kemudian akan dihasilkan HMI adalah manusia yang berkualitas ilmu dan iman
yang mampu melaksanakan tugas-tugas manusia yang akan menjamin adanya
suatu kehidupan yang sejahtera material, spiritual dan adil makmur serta bahagia.
Citizen Journalism adalah terobosan baru dan baik untuk kemajuan bangsa
serta masyarakat didalamnya, untuk itu sebagai seorang mahasiswa yang memiliki
tanggung jawab keummatan dan kebangsaan, kader HMI harus bisa mendorong
dan memberikan peluang yang besar untuk masyarakat untuk memberikan, serta
mengolah informasi yang mereka ketahui dan menyebar luaskannya kepada
masyarakat yang lain.
Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan informasi
menyeret kader HMI untuk lebih keras lagi menjalankan fungsi dan peranan yang
di embannya dan juga semakin banyaknya pemberitaan media yang melanggar
independensinya dalam penyampaian sebuah berita yang memanipulasi sebuah
kebenaran. Atas dasar itu penulis tertarik membahas tentang Citizen Jurnalism
3
dengan judul “Peran Kader HMI dalam mendorong perkembangan Citizen Journalism di Indonesia sebagai penyeimbang media yang terkontaminasi politik praktis”
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa itu CitizenJournalism?
2. Bagaimana Perkambangan Citizen Journalism di Indonesia?
3. Bagaimana perkembangan media massa di Indonesia.
4. Bagaimana Peran Kader HMI dalam mendukung Citizen Journalism di
Indonesia pada masa depan?
1.3. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui apa itu Citizen
Journalism, bagaimana sejarah dan perkembangannya saat ini di Indonesia serta
peran Kader HMI dalam mendorong dan mendukung Citizen Journalism
berkembang di tengah masyarakat Indonesia dan sebagai penyeimbang media
BAB II ISI
2.1.Pengertian Citizen Journalism
Istilah Citizen Journalism atau jurnalisme warga menjadi sebuah topik
yang sedang hangat diperbincangkan dan juga menjadi trend baru dalam dunia
jurnalisme modern. Tidak seperti jurnalisme tradisional yang menjadikan
wartawan sebagai satu-satunya pekerja profesional yang berhak dan bertugas
meliput serta menyiarkan informasi kepada publik, citizen journalism ini justru
menjadikan semua warga dapat bertugas sebagai reporter.
Citizen journalism sebenarnya bukanlah hal baru di dunia Internasional,
namun untuk di Indonesia baru beberapa tahun terakhir ini dikenal. Citizen
Journalism sendiri oleh Shayne Bowman dan Chris Willis didefinisikan sebagai
“the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting,
analyzing, and disseminating news and information”. Citizen Journalism dapat
diartikan sebagai kegiatan jurnalisme yang meliputi proses pencarian, pengolahan,
pelaporan, penganalisaan berita dan informasi oleh warga (non-jurnalis) dimana
warga memiliki peran yang aktif dalam kegiatan tersebut.
Citizen Journalism yang sering diartikan sebagai berita yang dikirim untuk
media oleh warga biasa tanpa latar belakang jurnalisme. Menurut Pujanarko
definisi citizen journalism adalah praktik jurnalisme yang dilakukan oleh non
profesional jurnalis dalam hal ini oleh warga. Citizen journalism (atau sering
diartikan sebagai Jurnalisme Warga) adalah warga biasa yang menjalankan fungsi
selayaknya jurnalis profesional yang pada umumnya menggunakan channel media
baru yaitu internet untuk menyebarkan informasi dan berita yangmereka dapat.4
Citizen Journalism merupakan salah satu kegiatan yang terbantu dengan
kehadiran internet. Saat ini, hampir semua orang yang memiliki akses internet dan
4
terbiasa menggunakan fitur internet di gadget pribadi mereka dapat berpartisipasi
dalam kegiatan menyalurkan dan menyumbangkan berita. Keberadaan internet
dan smartphone menawarkan kesempatan pada orang-orang awam yang ingin
menulis, memberikan komentar serta melakukan reportase atas peristiwa tertentu.
Citizen journalism atau jurnalisme warga adalah istilah yang dipakai untuk
menjelaskan aktivitas pencarian, pemrosesan, sampai pada penyajian berita
kepada khalayak yang semuanya dilakukan oleh masyarakat awam atau non
wartawan. Berkembangnya jurnalisme warga membuat masyarakat mempunyai
banyak alternatif berita dan perspektif tentang sebuah hal atau informasi dari
berbagai pihak karena proses interaksi yang terjalin disini.
Adapun prinsip Citizen journalism, menurut David k. Perry diantaranya:
1. Mengusahakan situasi Koran dan para jurnalis sebagai partisipan aktif
dalam kehidupan kelompok karena akan lebih baik dan tidak memihak.
2. Membuat Koran, Forum untuk diskusi dari isu-isu yang ada dalam
kelompok.
3. Melayani isu ataupun kegiatan dan masalah-masalah penting bagi
masyarakat biasa.
4. Mempertimbangkan pendapat umum melalui proses diskusi dan debat
diantara anggota komunitas.
5. Mengusahakan untuk mengunakan jurnalisme untuk mempertinggi
keuntungan sosial.
2.2. Sejarah Perkembangan Citizen Journalism di Indonesia
Munculnya citizen journalism sendiri memang bukan berasal dari
karakteristik budaya lokal masyarakat Indonesia namun berasal dari luar, seiring
dengan perkembangan teknologi komunikasi, globalisasi informasi, dan
Munculnya citizen journalism di Indonesia ternyata juga mendapatkan
apresiasi yang cukup marak. Terbukti beberapa media di Indonesia telah
memberikan ruang kepada Citizen journalism untuk berkembang, di antaranya
SCTV dengan http://blog.liputan6.com/ dan Kompas dengan Kompasiana di
http://www.kompasiana.com/. Sebagai contoh isi citizen journalism dalam
http://citizen6.liputan6.com milik SCTV adalah berita tentang Warga Mangir
swadaya memperbaiki jalan yang dikirim beberapa waktu lalu oleh Aryo
Widiyanto. Isi berita yang diunggah adalah aktivitas warga Dusun Mangir RW
IV, Desa Nolokerto Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah yang berinisiatif
memperbaiki sendiri wahana transportasi di daerahnya dengan jalan bergotong
royong pada hari Minggu 22 April 2012.5
Perkembangan Citizen Journalism di Indonesia masih belum lama, yang
mengawali adalah Detik.com yang menampilkan berita-berita segar dan tidak
terkungkung. Tetapi situs ini dibuat oleh insitusi untuk banyak orang. Berbeda
dengan blog yang disiapkan oleh banyak orang untuk dibaca orang banyak pula.
Bisa dibilang, keberadaan blog di Indonesia saat ini sudah sangat banyak, salah
satu blog terbaik adalah perspektif.net sebagaimana masuk dalam 10 blog terbaik
pilihan Majalah Tempo.
Di Indonesia, jurnalisme warga juga bisa dibilang sudah mulai
berkembang dan kegunaannya dirasakan saat adanya peristiwa-peristiwa besar
seperti serangan teroris dan bencana alam. Namun jurnalisme warga juga dibentuk
dengan tujuan kelompok atau masyarakat tertentu yang mempunyai tujuan yang
sangat eksklusif. Sejak tahun 2002-an, citizen journalism telah berkembang pesat
yang mencoba mencari eksistensi di tengah atmosfer media tradisional. Dengan
adanya internet, citizen jurnalis mampu menyebarkan informasi dalam bentuk
teks, audio, video, foto, komentar dan analisis. Bahkan mampu menjalankan
fungsi pers seperti watchdog, filter informasi, pengecekan fakta bahkan
pengeditan.
5
Dari berbagai sumber baik dari wawancara dengan narasumber maupun
dari artikel di internet, peneliti mendapatkan data bahwa Citizen Journalism versi
online mulai muncul pada tahun 2006 yaitu dengan munculnya panyingkul.com di
Makassar. Namun dari hasil pelacakan peneliti di Internet, sebenarnya sebuah
situs Citizen Journalism sudah ada di Indonesia sejak tahun 2005 dengan nama
rumahkiri.net.6
Hingga saat ini perkembangan citizen jurnalism di Indonesia mengalami
peningkatan yang sangat tinggi, dengan adanya sebuah program dari beberapa
televisi serta media cetak swasta dalam memberikan dan menyebarkan informasi
dari masyarakat membuka peluang dan optimisme yang besar bagi
berkembangnya citizen jurnalism di Indonesia.
2.3. Peran Kader HMI sebagai penyeimbang media yang terkontaminasi politik praktis
Semakin berkembangnya zaman dari masa ke masa, menuntut kader HMI untuk lebih kuat lagi melakukan perjuangan untuk menjalankan fungsi dan peranannya sebagai kader umat dan kader bangsa. Dengan tujuan yang dicita-citakan serta misi yang diembannya mengharuskan setiap kader HMI untuk dinamis mengikuti perkembangan yang terjadi terlebih dalam konteks teknologi dan informasi.
6
Wijayana, Nurul Hasfi. Perkembangan citizen jurnalism di Indonesia. Jurnal. Hlm 36
Melihat realita yang terjadi, perkembangan politik di negeri ini juga menyeret media massa dalam kancah politik yang lebih dalam. Independensi media terganggu oleh kuatnya pengaruh dari perkembangan politik praktis. Media massa memanfaatkan posisinya sebagai mana dalam asumsi dasar teori
agenda-setting adalah bahwa jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka
media tersebut akan memperngaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi, apa yang dianggap penting bagi media, maka penting juga bagi masyarakat7
Kini konglomerasi media memiliki potensi kekuasaan yang absolute, melebihi kekuasaan Pemerintah. Mereka mampu membentuk opini publik untuk menjungkir balikkan fakta dan peristiwa realitas di masyarakat. Ekpose media televisi dan cetak komersial terhadap peristiwa ekonomi, dan proses politik dalam kasus tersebut banyak dipertanyakan. Bahkan banyak pihak melihat jurnalisme televisi dan cetak yang digunakan cenderung meninggalkan etika praduga tidak bersalah, maupun kode etik penyiaran. Hal tersebut akan terus berlanjut, sepanjang televisi komersial menganut ideology kapitalistik. Media televisi akan menjadi alat pencitraan bagi penguasa media, terlebih lagi ketika para pemilik media masuk ke dunia politik praktis maka media televisi bisa mereka jadikan sebagai alat propaganda yang paling ampuh. Realitasnya dalam dua dasa warsa suhu politik di tanah air konstelasinya sudah mulai menghangat, dan akan terus berkembang ke berbagai ranah yang lainnya.8
Paul Johnson seorang jurnalis berkebangsaan Inggris, sangat khawatir dengan kondisi media saat ini yang telah disusupi oleh kepentingan politik. Media punya dosa yang sangat besar, demikian ungkap Paul Johnson. Di antara dosa-dosa media itu adalah pertama, media melakukan distorsi informasi. Hal ini sering oleh awak media dengan menambah atau mengurangi informasi baik yang menyangkut pendapat maupun ilustrasi faktual yang tidak sesuai dengan sumber aslinya sehingga makna berubah.
Kedua, dramatisasi fakta palsu. Dramatisasi ini dilakukan melalui
pemberikan illustrasi secara verbal, audio, atau visual yang berlebihan tentang suatu objek. Pada media cetak, dramatisasi ini dilakukan dalam kalimat-kalimat atau penyajian foto/gambar tertentu dengan tujuan untuk membangun suatu citra negatif dan stereotip. Sedangkan pada media audio-visual seperti televisi, dramatisasi ini dilakukan dengan teknik pengambilan gambar dan pemberian sound-effects yang sesuai dengan tujuan penyampaian pesan.
7
Bungsin, Burhan.2007. Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hlm 281
8
Ketiga, mengganggu privacy. Media secara terang-terangan membongkar isu-isu pribadi objek berita, terutama yang diduga terlibat dalam suatu skandal. Berbagai cara dilakukan, seperti penyadapan telepon, penggunaan kamera dengan telelens, dan sering pula wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sangat pribadi, memaksa atau menjebak. Kesempatan wawancaranya juga diambil pada saat-saat yang tidak diinginkan oleh pihak yang diwawancarai.
Keempat, pembunuhan karakter (character assassination). Hal ini
umumnya dialami oleh individu atau kelompok yang diduga terlibat dalam perbuatan kejahatan. Amalan ini biasanya dilakukan dengan mengeksploitasi, menggambarkan, dan menonjolkan sisi “buruk” mereka saja. Padahal sebenarnya mereka memiliki segi baiknya.
Kelima, penyalahgunaan kekuasaan (abuse of the power). Media punya
kuasa untuk menyalahgunakan kekuasaan. Penyalahgunaan kekuasaan ini dilakukan oleh redaksi media terkhusus oleh pimpinan media itu sendiri.
Dosa-dosa media tersebut saat ini menjadi kelaziman dilakukan oleh awak media. Media semakin menjadi-jadi memberikan berita-berita yang tidak berimbang. Mengungkit keburukan kandidat lawan, namun menutupi kebobrokan kandidat sendiri. Media semakin terang-terangan menyatakan keberpihakannya kepada salah satu kandidat, sehingga nilai-nilai universal untuk berada di garis tak berpihak menjadi semakin ditinggalkan.
Dengan persoalan seperti itu kader HMI harus mampu menjadi penyimbang dalam penyampaian kebenaran yang ada. HMI sebagai organisasi yang independen menuntut kadernya untuk menjaga independensinya yang pada dasarnya berpihak kepada kebenaran.
Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis dan organisatoris merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud didalam bentuk pola pikir, pola sikap dan pola prilaku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksankan ”Hakekat dan Mission” organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi bermasyarakat berbangsa bernegara.9
Dengan seperti itu HMI harus berkambang dan menjadi organisasi yang berpengaruh untuk masyarakat dan menjaga independensinya. Dalam bidang jurnalistik, kader HMI harus memiliki kemampuan untuk melihat mana yang benar dan mana yang berbau politik pencitraan. Setiap kader HMI harus mampu
9
menyatu dengan elemen masyarakat melihat apa yang dibicarakan oleh masyarakat dan seperti apa reaksi masyarakat terhadap pemberitaan media.
Tugas HMI adalah menumbuhkan kesadaran umat untuk menjada apa yang oleh Hans Dieter Evers disebet sebagai strategic group, yang bertujuan mematahkan kekuatan the ruling class yang hendak mempengaruhi pemerintah dan kekuatan sosial politik dengan kepentingan kelasnya sendiri. Rasanya tidak mustahil HMI bisa melakukan tugas ini, karena sekarang makin banyak orang islam, khususnya alumni HMI memasuki jaringan pemerintah dan berbagai kelompok kepentingan dalam masyarakat.10
Melakukan audiensi dengan masyarakat, seminar dengan mahasiswa, melakukan pendidikan dini kepada pelajar adalah suatu langkah yang perlu untuk ditempuh. Sembari dari itu, pengembangan bidang yang menaungi jurnalistik dalam HMI perlu ditingkatkan seperti Lembagai Pers Mahasiswa Islam (LAPMI).
2.4. Peran Kader HMI dalam mendorong Citizen Journalism
Kader-kader HMI dituntut untuk memiliki pendidikan setinggi-tingginya, berwawasan luas, berpikir rasional, kritis dan objektif sekaligus bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Sehingga HMI tidak hanya sekedar “tidur” dan bersemedi di kantor-kantornya akan tetapi HMI bersama rakyat membangun peradaban yang kuat. Selanjutnya, para kader HMI harus senantiasa menginternalisasi dan mengoperasionalisasi spirit nilai ajaran Islam dalam segenap praktek berorganisasinya.
Menyaksikan kondisi ini, mau tidak mau HMI sebagai bagian dari anak Bangsa dituntut untuk membuktikan komitmennya terhadap perjuangan Ummat dan Bangsa, komitmennya terhadap perwujudan tatanan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Karena itu, Bangsa ini membutuhkan pembaharuan, pembaharuan kebijakan agar bangsa ini dapat keluar dari situasi keterbelakangan dan keterjajahan yang kita alami hari ini.
HMI berperan sebagai organisasi perjuangan.11sebuah peran yang tertuang dalam AD HMI Pasal 9 menegaskan bahwa HMI merupakan organisasi perjuangan, organisasi yang berjuang agar terwujudnya masyarakat adil dan
10
Fauzi, muchriji. Myhammad, ade Komarudin. 1990. HMI menjawab tantangan zaman. Jakarta:Gunung Kulabu. Hlm 148
11
makmur yang diridhoi oleh Allah S.W.T. Berjuang untuk mengatasi persoalan, berjuang untuk mewujudkan harapan menuju masyarakat adil dan makmur. Selalu berjuang melakukan dan membentuk kader bangsa yang muslim, intelektual dan profesional dimana seluruh kader HMI ditunjukan untuk kepentingan bangsa secar keseluruhan, sehingga para insan kader HMI siap dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh golongan yang ada ditengah-tengah masyarakat selagi tujuannya tidak bertentangan dengan mission HMI.12
Dalam hal Citizen Journalism, sebuah harapan masyarakat akan sebuah konsep baru dalam mendapatkan informasi dimana masyarakat sendiri dapat berperan menjadi seorang jurnalis merupakan sebuah harapan yang mana seorang kader HMI harus mampu melanjutkan perjuangan atas apa yang telah menjadi harapan bagi masyarakat. Pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan pemahaman jurnalistik bagi kader HMI atas apa yang harus dilakukan dan yang jelas baik organisasi dan kode etik jurnalistik harus menjaga independensinya.
Pengembangan lembaga pers mahasiswa islam (LAPMI) benar-benar harus ditingkatkan. Kader HMI yang seorang mahasiswa yang menjadi bagian dari masyarakat, untuk mewujudkan citizen journalism dengan cara pengembangan dan peningkatan LAPMI merupakan langkah awal untuk mewujudkan konsep baru tersebut.
LAPMI merupakan badan khusus semi otonom HMI yang berfungsi untuk meningkatkan dan mengembangkan kreatifitas keilmuan, intelektualitas dan profesionalisme anggota HMI di bidang jurnalistik dalam rangka membentuk watak dan kepribadian anggota sesuai dengan tujuan HMI dan melaksanakan program kerja HMI melalui darma bakti kemasyarakatan yang berhubungan dengan Jurnalistik.
Dengan meningkatkan LAPMI secara tidak langsung akan meransang para kader HMI untuk ikut dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh LAPMI dalam bidang jurnalistik. Kegiatan yang terkait dengan Jurnalistik seperti pengambilan informasi, pengolahan dan penyebaran informasi mendorong kader HMI untuk dapat membangun Citizen Journalism. Dengan meningkatnya eksistensi LAPMI namun tanpa melupakan esensi dan Independensi akan meningkatkan semangat para kader HMI untuk mengembang potensinya dalam bidang jurnalistik.
Meningkatkan perkembangan LAPMI sebagai lembaga pers HMI tentu tidak terlepas dari spirit perjuangan yang tertanam dalam setiap kader HMI. Setiap kader HMI harus mampu menyadari bahwa dengan perkembangan teknologi dan
12
informasi yang sangat pesat pada zaman ini membuat posisi media maupun jurnalistik berada dalam posisi yang sangat penting. Dengan itu semua kader HMI harus bisa mengambil posisi dalam perkembangan tersebut tentunya dengan pemahaman jurnalistik dan ikut serta dalam pengambilan, pengolahan dan penyebaran informasi.
Dalam meningkatkan kemampuan dibidang jurnalistik, kader HMI dituntut untuk selalu peka terhadap peristiwa yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Dengan begitu akan terbiasa untuk mancari dan mengolah serta menyampaikan informasi terkait dengan kebenaran dari peristiwa tersebut. Tanggung jawab atas keumatan dan kebangsaan itu benar-benar dijalankan, dan mengindari sifat yang apatis terhadap suatu peristiwa. Dalam meningkatkan kemampuan dibidang jurnalistik tentu sikap apatis benar-benar dihindari agar kita tetap selalu ingin tahu akan suatu peristiwa yang terjadi.
Setelah mampu meningkatkan kualitas diri seorang kader HMI khusunya bidang jurnalistik. Kader HMI selanjutnya dapat menularkan kemampuannya kepada wilayah yang lebih luas, seperti mahasiswa lainya dan juga kepada masyarakat pada umumnya. Sebagai wadah pendidikan HMI berusaha dengan kesungguhan dan dengan totalitasnya membentuk mahasiswa yang dapat melakukan perbaikan masyarakat disegala medan perjuangan dan disegala waktu. Sebagai alat perubahan, HMI secara tekun dan istiqomah melakukan perbaikan-perbaikan kehidupan masyarakat dengan melibatkan diri secara langsung dalam proses amar ma’ruf nahi mukar pada sistem sosial masyarakat umum.13
Kewajiban yang melekat pada kaum mukmin dalam membentuk masyarakat dan sistem kemasyarakatan bukan hanya untuk menyelamatkan kaum itu sendiri namun juga untuk menyelamatkan diri-diri umat beriman itu sendiri. Tak ada kaum mukmin yang selamat dalam komunitas yang hancur. Karena kaum mukmin itu sendiri tidak mampu menyelamatkan komunitas tersebut. Kehancuran atas sebuah kaum adalah sebuah penyangkalan manusia atas takdir penciptaan dirinya sendiri yaitu takdir sebagai khalifah bagi dunianya. Takdir yang menyatakan bahwa manusia adalah pemelihara atas keberadaan dunianya.14
Atas dasar khittah perjuangan yang dimiliki HMI, kader HMI dengan kesungguhannya harus bisa mencerdaskan dan mengembangkan serta memberdayakan masyarakat yang ada. Kemampuan jurnalistik yang dimiliki kader HMI dengan senantiasa untuk ditularkan kepada masyarakat agar masyarakat juga memiliki kemampuan yang sama dalam bidang jurnalistik.
13
Khittah Perjuangan. Kongres Ke 26 HMI
14
Berbagai upaya harus dilakukan kader HMI untuk dapat mengembangkan potensi masyarakat.
Dalam bidang jurnalistik banyak cara yang dapat dilakukan oleh kader HMI untuk menularkan kemampuan yang dimilikinya. Seperti, melakukan pendidikan dasar jurnalistik kepada remaja dan pemuda. Dengan memberikan dasar jurnalistik kepada pelajar dan pemuda merupakan langkah untuk mendorong remaja dan pemuda tersebut untuk ikut dalam pengambilan, pengolahan dan penyampaian informasi terkait peristiwa yang terjadi disekitar mereka.
Disaat trend yang sudah mulai berubah dari mula masyarakat hanya menjadi konsumen dari sebuah pemberitaan sekarang bisa menjadi prosdusen dari berita itu sendiri. Itulah yang mesti didorong oleh kader HMI dengan melakukan pendidikan dasar jurnalistik agar mereka tahu bagaimana meliput berita. Karena kita juga harus menyadari Media massa saat memiliki potensi menyebar luaskan karya kreatif terbaik dari pikiran dan jiwa manusia, beberapa kritikus mengatakan bahwa media sangat obsesif terhadap subjek-subjek trendi, yang kadang menggelikan.15 Karena itu Kader HMI agar dapat mendorong masyarakat sendiri sebagai produsen sebuah pemberitaan yang lepas dari obsesi-obsesi tertentu.
Salah satu langkah selanjutnya, mengikut sertakan masyarakat dalam proses pencarian, pengolahan dan penyampaian informasi yang dilakukan oleh kader HMI dalam meliput sebuah peristiwa. Jika masyarakat diikut sertakan untuk meliput berita maka masyarakat akan terbiasa untuk melakukan kegiatan yang pernah dilakukan bersama kader HMI. Dengan begitu nantinya tanpa kader HMIpun masyarakat yang pertamanya merupakan orang yang diajak oleh kade HMI nanti akan melakukan proses pengambilan, pengolahan dan penyampaian informasi secara sendiri.
Untuk sesama mahasiswa yang perlu dilakukan adalah menanamkan arti penting kemampuan jurnalistik dengan melakukan seminar-seminar, lomba-lomba jurnalis yang diwadahi oleh kader HMI secara khusus dan organisasi HMI pada umumnya. Mahasiswa yang seorang aktor intelektual perlu ditanamkan kesadaran akan peran dan fungsinya sebagai mahasiswa dan harus dinamis dalam menghadapi perubahan zaman. Ketika Jurnalis warga sesuatu yang positif bagi perkembagan bangsa, maka mahasiswa juga harus mendukung untuk mewujudkan itu, disinilah peran kader HMI untuk menjadi promotor bagi mahasiswa lainnya dalam mewujudkan konsep baru dalam jurnalistik ini.
15
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan informasi semakin
pesat. Dalam dunia jurnalistik, dulu proses jurnalistik hanya dilakukan oleh
jurnalis profesional sekarang setiap orang bisa melakukan apa yang dilakukan
oleh jurnalis profesional dan itu lah yang disebut dengan Citizen Journalism.
Citizen Journalism adalah terobosan baru dan baik untuk kemajuan bangsa
serta masyarakat didalamnya, untuk itu sebagai seorang mahasiswa yang memiliki
tanggung jawab keummatan dan kebangsaan, kader HMI harus bisa mendorong
dan memberikan peluang yang besar untuk masyarakat untuk memberikan, serta
mengolah informasi yang mereka ketahui dan menyebar luaskannya kepada
masyarakat yang lain.
Pentingnya Citizen Journalism sebagai penyeimbang media massa yang
saat ini terpengaruh oleh kegiatan politik praktis yang mengakibatkan kebenaran
dari pemberitaan itu diragukan. Kecenderungan yang terjadi adalah pemberitaan
yang keluar itu lebih kepada pencitraan pemilik media atau kegolongan tertentu.
Sehingga pemberitaan itu di manipulasi, dan pada akhirnya masyarakat akan sulit
mendapakan kebenaran dari sebuah informasi.
Hadirnya konsep Citizen Journalism, menjadikan masyarakat sebagai
produsen sekaligus konsumen dari sebuah pemberitaan tentunya diiringi dengan
pemahaman kode etik jurnalisme. Dengan ini peran kader HMI sangat dituntut
pertama untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam menghadapi tantangan
zaman. Dalam bidang jurnalisme, kader HMI harus meningkatkan pemahaman
tentang pentingnya peran media saat ini dan kader HMI harus bisa memposisikan
Dalam mengembangkan Citizen Journalism, kader HMI harus
meningkatkan perkembangan lembaga yang dimiliki oleh HMI sendiri dalam
bidang jurnalistik. LAPMI sebagai lembaga pers HMI harus mampu
meningkatkan posisi tawarnya ditengah masyarakat dengan meningkatkan
pemberitaan yang dilakukan oleh kader HMI.
Dalam pengembangan Citizen Journalism kader HMI terus berupaya
untuk mendorong masyarakat untuk terus melanjutkan konsep tersebut.
Malakukan pendidikan dasar jurnalistik kepada remaja dan pemuda, mengikut
sertakan masyarakat dalam proses pengambilan, pengolah dan penyampaian berita
serta dengan mengajak dan mengembangkan potensi mahasiswa lainnya
merupakan suatu langkah yang harus diambil oleh kader HMI untuk mendorong
terwujudnya Citizen Journalism.
Hal ini merupakan perjuangan yang dilakukan oleh kader HMI yang
memaknaai organisasinya adalah organisasi perjuangan. Kader HMI harus sadar
akan tanggung jawabnya sebagai kader umat dan kader bangsa dalam
menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah S.W.T dengan
memberikan informasi yang benar yang menjaga indenpedensi serta memberikan
pemahaman kepada masyarakat akan arti pentingnya jurnalistik yang menjunjung
tinggi kebenaran informasi itu.
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang melakukan aktivitas
jurnalistik dengan menjunjung tinggi kebenaran dari pemberitaan yang
disampaikan maka akan semakin banyak orang yang akan mendapat informasi
yang benar dan tidak terpengaruh oleh keberpihakan media kepada suatu
golongan politik praktis. Jika Citizen Journalism Sudah mengalami
perkembangan yang tinggi maka akan semakin banyak orang yang akan
memperhatikan lingkungan masyarakatnya baik dalam kebijkan pemerintah
3.2. Saran
Dengan semakin majunya terknologi dan informasi, diharapkan kepada
kader HMI untuk lebih keras lagi dalam melakukan perjuangan. Dengan
kemajuan teknologi dan informasi kader HMI dapat memposisikan diri agar bisa
memanfaatkan keadaan untuk melanjutkan perjuangan organisasi dalam mencapai
tujuan yang telah dirumuskan oleh HMI. Sebagai seorang kader yang memiliki
tanggung jawab keumatan dan kebangsaan diharapkan kader HMI benar-benar
memenuhi atas apa yang telah menjadi tanggung jawabnya. Meningkatkan
kualitas diri adalah suatu yang paling penting sebelum terjun untuk memberikan
DAFTAR PUSTAKA
Bungsin, Burhan.2007. Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
Solichin, Drs. H. 2010. HMI Candradimuka Mahasiswa. Jakarta : Sinergi
Persadatama Foundation.
Fauzi, muchriji. Myhammad, ade Komarudin. 1990. HMI menjawab
tantangan zaman. Jakarta:Gunung Kulabu.
Vivian, John.2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta:Kencana Prenada
Media Group
Habibi, Zaki. 2007. “Citizen Journalism”: Ketika Berita Tidak Hanya
Memiliki Satu Muka. Jurnal.
Supriadi. 2002. Untuk sang master HMI. Padang: Himpunan Mahasiswa
Islam Cabang Padang.
Hasil kongres HMI XXVII. Tema: Sinergi HMI untuk Indonesia
bermartabat.
Rezki, Neisya. dkk. 2012. Strategi Pemanfaatan Citizen Journalism Pada
Program Wide Shot Metro Tv. Jurnal.
Istiyanto, S. Bekti. 2012. keberhasilan citizen journalism dalam
pembangunan berbasis kearifan lokal. Jurnal.
Wijayana, Nurul Hasfi. Perkembangan citizen jurnalism di Indonesia.
Jurnal.
Arifianto, S. 2012. kekuasaan dan in-konsistensi pemberitaan media
televisi komersial. Jurnal.